Anda di halaman 1dari 25

KELOMPOK 12 :

NAMA : ANDRIAN PUTRA (1701031026)


KELAS : II B LISTRIK REGULER
PRODI : DIII TEKNIK LISTRIK
1. Pengertian Istilah
Istilah adalah kata atau frasa yang dipakai
sebagai nama atau lambang yang dengan cermat
mengungkapkan makna konsep, proses, keadaan, atau
sifat yang khas dalam IPTEKS.

2. Jenis Istilah
a. Istilah Umum
Istilah umum adalah istilah yang berasal dari
bidang tertentu yang menjadi unsur kosakata umum.
Misalnya : daya beli, takwa.
• Contoh Kalimat :
• Meski awalnya ia menolak, akhirnya Dudi bersedia
untuk menjalani operasi untuk melakukan proses
amputasi pada kaki sebelah kanannya. (amputasi =
proses pemotongan bagian tubuh)
• Jawaban dari soal nomor 3 ulangan matematika
kemarin kita diminta untuk menggambarkan grafik
perbandingan. (grafik = gambaran pasang surutnya
suatu keadaan, data berupa garis)
• Pasokan beras masa panen sekarang ini sangat kurang
akibat banyaknya kasus hama wereng yang melanda
beberapa lokasi persawahan. (hama wereng = hama
yang berasal dari binatang penghisap cairan tumbuhan
padi)
• Saat besar nanti, aku ingin masuk ke sekolah seni dan
menempuh jalan untuk menggapai mimpiku menjadi
seorang pianis. (pianis = seorang pemain alat musik
piano)
• Kami mengumpulkan dan menjual kotoran ayam ternak
kami sebagai pupuk kandang kepada petani kampung
sebelah. (pupuk kandang = pupuk organik yang berasal
dari kotoran hewan)
• Pasokan beras masa panen sekarang ini
sangat kurang akibat banyaknya kasus hama
wereng yang melanda beberapa lokasi
persawahan. (hama wereng = hama yang berasal
dari binatang penghisap cairan tumbuhan padi)
• Saat besar nanti, aku ingin masuk ke
sekolah seni dan menempuh jalan untuk
menggapai mimpiku menjadi seorang pianis.
(pianis = seorang pemain alat musik piano)
• Kami mengumpulkan dan menjual kotoran
ayam ternak kami sebagai pupuk kandang kepada
petani kampung sebelah. (pupuk kandang = pupuk
organik yang berasal dari kotoran hewan)
b. Istilah khusus
Istilah khusus adalah istilah yang maknanya terbatas
pada bidang tertentu.
Misalnya : kurtosis, pleistosen.
• Contoh Kalimat :
• Jumlah tahanan Lapas Nusa Kambangan
diprediksikan masih akan bertambah, disusul dengan
semakin banyaknya para pengedar narkoba yang
tertangkap. (tahanan = orang yang ditahan)
• Dalam rangka mengisi masa libur semester ini,
pihak kampus mengadakan kegiatan wisata budaya ke
salah satu keajaiban dunia yaitu Candi Borobudur.
(wisata budaya = perjalanan wisata ke tempat budaya)
• Negara Indonesia memiliki begitu banyak tempat
dan barang-barang peninggalan sejarah yang harus
dijaga dan dilestarikan. (peninggalan sejarah = yang
telah ada dan menjadi bukti sejarah)
• Dengan adanya pendidikan dan pelatihan
ini, diharapkan para generasi muda harapan masa
depan bangsa Indonesia akan memiliki
kemandirian untuk menentukan jalan
kesuksesannya sendiri tanpa tergantung pada
pemerintah. (kemandirian = perilaku yang mampu
melakukan sesuatu tanpa bantuan orang lain)
• Para siswa sekolah terbaik umumnya
memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi
daripada siswa dari sekolah biasa lainnya.
(kecerdasan = perihal cerdas, kesempurnaan akal
budi manusia)
• Dalam penggunaannya secara umum suatu
istilah memiliki makna yang bersifat umum
namun jika digunakan pada bidang tertentu maka
kata tersebut memiliki makna tetap dan pasti.
3. Syarat Istilah Yang Baik
Syarat pembentukan istilah yang baik adalah
sebagai berikut :
a. Istilah yang dipilih adalah kata atau frasa yang
paling tepat untuk mengungkapkan konsep
termaksud dan tidak menyimpang dari makna itu.
b. Istilah yang dipilih adalah kata atau frasa yang
paling singkat diantara pilihan kata yang tersedia
yang mempunyai rujukan yang sama.
c. Istilah yang dipilih adalah kata atau frasa yang
berkonotasi baik.
d. Istilah yang dipilih adalah kata atau frasa yang
bentuknya seturut kaidah bahasa indonesia.
4. Aspek tata bahasa peristilahan
a. Istilah bentuk dasar
Istilah bentuk dasar dipilih di antara kelas
utama, seperti nomina, verba, adjektiva, dan
numeralia. Misalnya :
* Nomina : cahaya / light
* Verba : keluar / out
* Numeralia : satu – dua / one – two
b. Istilah bentuk berafiks
Istilah bentuk berafiks disusun dari bentuk
dasar dengan penambahan prefiks, infiks dan
konfiks seturut kaidah pembentukan kata
bahasa indonesia.
* Paradigma bentuk berafiks
Contoh : ber – tani bertani
* Paradigma bentuk berkonfiks
Contoh : ke – an kebahagiaan
* Paradigma bentuk berinfiks
Contoh : tunjuk telunjuk
c. Istilah bentuk ulang
Istilah bentuk ulang berupa ulangan bentuk
dasar seutuhnya atau sebagiannya. Dengan
atau tanpa pengimbuhan dan pengubahan
bunyi.
Contoh : langit-langit, lelaki dedaunan,sayur
mayur.
d. Istilah bentuk analogi
Istilah bentuk analogi bertolak dari pola
bentuk istilah yang sudah ada.
Contoh : pramuniaga, juru bicara

e. Istilah hasil metanalisis


Istilah hasil metanalisis terbentuk melalui
analisis unsur yang keliru.
Contoh : Kata mupakat (mufakat) menjadi mu
+ pakat : lalu ada kata sepakat
f. Istilah bentuk akronim
Istilah bentuk akronim adalah istilah
pemendekan bentuk majemuk yang berupa
gabungan huruf awal suku kata, gabungan
suku kata, ataupun gabungan huruf awal dan
suku kata dari deret kata yang diperlukan
sebagai kata.
Contoh : air susu Ibu disingkat asi

g. Lambang huruf
Lambang huruf adalah satu huruf atau
lebih yang melambangkan konsep dasar ilmiah
seperti kuantitas dan nama unsur. Lambang
huruf tidak diikuti tanda titik.
Contoh : N berarti nitrogen

h. Istilah bentuk singkatan


Istilah bentuk singkatan adalah istilah yang
bentuk penulisannya dipendekkan menurut tiga
cara sebagai berikut :
• Istilah yang bentuk tulisannya terdiri atas satu
huruf atau lebih yang dilaksanakan sesuai dengan
bentuk istilah lengkapnya.
Contoh : cm yang dilisankan senti meter
• Istilah yang bentuk tulisannya terdiri atas satu
huruf atau lebih yang lazim dilaksanakan huruf
demi huruf.
Contoh : tl (tube luminescent) yang dilisankan te-
el
• Istilah yang sebagian unsurnya di tanggalkan.
Contoh : info yang berasal dari informasi

I. Istilah bentuk majemuk


Istilah bentuk majemuk / kompositum
merupakan hasil penggabungan dua bentuk /
lebih yang menjadi satuan leksikal baru.
• Gabungan bentuk bebas
Istilah gabungan bentuk bebas merupakan
penggabungan dua unsur atau lebih yang unsur-
unsurnya dapat berdiri sendiri sebagai bentuk
bebas.
• Gabungan bentuk bebas dengan bentuk terikat
Contoh : adikuasa, antarkota, pascasarjana,
tunakarya
• Gabungan bentuk terikat dengan bentuk terikat
Unsur gabungan itu ditulis serangkai, tidak diberi
tanda hubung.
Contoh : dasawarsa, swatantra

5. SUMBER ISTILAH
* Istilah Indonesia
Kata atau istilah dalam bahasa indonesia dapat dijadikan
sumber istilah jika memenuhi salah satu atau lebih syarat-
syarat bahwa istilah yang dipilih adalah kata atau frasa:
(1) paling tepat unruk mengungkapkan konsep yang
dimaksudkan,
(2) paling singkat di antara pilihan yang tersedia,
(3) berkonotasi baik,
(4) sedap didengar, dan
(5) bentuknya seturut dengan kaidah bahasa Indonesia (Pusat
Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Pedoman
Pembentukan Istilah,
• Istilah Nusantara
Jika dalam bahasa Indonesia tidak ditemukan istilah
yang tepat yang dapat mengungkapkan makna konsep,
proses, keadaan, atau sifat yang dimaksudkan. Istilah
dapat diambil dan stilah Nusantara, baik yang lazim
maupun yang tidak lazim, asal memenuhi syarat,
misalnya: Garuda Pancasila bineka tunggal ika, wayang,
sawer, dan lain-lain. (Pusat Bahasa Departemen
Pendidikan Nasional, Pedoman Pembentukan Istilah,
2005: 4).
• Istilah Asing
Istilah baru dapat dilakukan dengan pemadanan
melalui penerjemahan atau penyerapan istilah asing.
Penerjemahan perlu memperhatikan kesamaan dan
kesepadanan makna konsepnya. misalnya: network —
jaringan kerja, jejaring, medical treatment berarti
pengobatan, brother-in -law berarti abang/adik ipar,
(begroorirg) post berarti mata anggaran.
Penyerapan istilah asing dilakukan jika dalam
istilah Indonesia dan istilah nusantara tidak
lagi dapat ditemukan. lstilah asing diserap jika
dapat :
(1) meningkatkan ketersalinan bahasa asing
dan bahasa Indonesia secara timbal balik.
(2) mempermudah pemahaman teks asing oleh
pembaca Indonesia,
(3) Iebih singkat dibandingkan dengan
terjemahan dalam bahasa Indonesia,
(4) mcmpermudah kesepakatan antar pakar
jika istilah Indonesia terlampau banyak
sinonimnya, atau
(5) lebih tepat karena tidak mengandung
konotasi buruk. P
Penyerapan istilah asing dapat dilakukan dengan:
(1) penyesuaian ejaan dan lafal. misalnya camera (kaemera) kamera
(kamera),
(2) penyesuaian ejaan tanpa penyesuaian lafal design, misalnya
(disain) desain (desain),
(3) tanpa penyesuaian ejaan, tetapi dengan peyesuaian lafal,
misalnya bias (baies) bias (bias),
(4) tanpa penyesuaian ejaan dan lafal, misalnya stutus quo, in vitro,
(5) tanpa penyesuaian ejaan dan lafal, misalnya golf, internet.

• Perekaciptaan
Para ahli dalam berbagai bidang keilmuan (ilmuwan,
budayawan, seniman) pencetus ide, konsep, sistem, dan lain-lain
yang tidak pernah ada sebelumnya dapat dikategorikan sebagai
perekacipta. Untuk menamai hasil pemikiran tersebut dapat
menciptakan istilah baru sesuai dengan lingkungan dan corak
keilmuannya, misalnya: pondasi cakar ayam, sasra bahu (dalam
bidang bangunan), dan agrowisara (wisata pertanian) (Pusat Bahasa
Departemen Pendidikan Nasional. Pedoman Pembentukan istilah
6.Kata Baku Dan Non Baku

Kalimat baku adalah kalimat yang memiliki keseuaian


dengan kaidah berbahasa Indonesia baik dalam hal
diksi (pilihan kata), stuktur kalimat, dan ejaannya.
Kalimat baku juga memiliki kesamaan dengan kalimat
efektif jika diperhatikan dari sisi bentuknya. Namun
terkadang kalimat efektif tidak perlu memperhatikan
sisi ideal dari kalimat baku. Kesimpulannya adalah
kalimat baku sudah pasti efektif, sedangkan kalimat
efektif belum tentu baku.
Sedangkan kalimat tidak baku adalah
kalimat yang tidak memenuhi syarat penggunaan
kaidah berbahasa Indonesia. Dalam beberapa
kasuistik, kalimat efektif juga masuk ke dalam
ranah kalimat tidak baku dengan hanya
memperhatikan efektivitas maksud dan tujuan
yang hendak disampaikan.

A. Ciri Kalimat Baku


Kalimat baku adalah kalimat yang
memenuhi syarat kaidah berbahasa Indonesia. Di
bawah ini adalah beberapa syarat yang harus
dipenuhi suatu kalimat agar menjadi kalimat
baku. Syarat ini juga merupakan ciri mutlak yang
harus ada pada kalimat baku. Penjabarannya
adalah sebagai berikut :
1. Logis
Kalimat baku haruslah dapat diterima dengan akal
sehat. Walaupun sebuah kalimat tersebut seringkali
digunakan dalam kehidupan sehari-hari, namun jika tidak
memenuhi syarat kelogisan kalimat baku, maka kalimat
tersebut bukanlah kalimat baku. Contoh :
– Bagi yang membawa rokok harap dibuang sekarang juga
sebelum ada yang memeriksa nanti!

Walaupun kalimat di atas dinilai sangat


komunikatif, kalimat tersebut tidaklah logis. Dilihat dari
struktur penyampaiannya, maka dapat ditafsikan sebagai
perintah seseorang untuk membuang orang yang
membawa rokok. Kesalahan penafsiran ini mungkin saja
terjadi jika hal tersebut disampaikan diluar konteks.
Seharusnya kalimatnya menjadi seperti berikut ini :
– Bagi yang membawa rokok harap membuangnya
sekarang, sebelum ada petugas yang akan memeriksa
barang bawaan anda!
2 Hemat
Kalimat baku selalu menggunakan kata yang efektif dan tidak melakukan
pemborosan kata di dalamnya.
Contoh :
– Masakan ibumu sungguh enak sekali. (tidak efektif / tidak baku)
Kalimat di atas menggunakan kata yang berlebihan sehingga menjadikan kalimat tersebut
tidak efektif. Kalimat di atas akan menjadi hemat (efektif) jika hanya menggunakan salah
satu dari kata “sungguh” atau “sekali.” Perhatikan dua contoh kalimat berikut :

Masakanibumu sungguh enak. (efektif/baku)


Masakan ibumu enak sekali. (efektif / baku)
– Pemandangan di desa ini sangat indah sekali. (kalimat tidak baku)

Pemandangan di desa ini indah sekali. (kalimat baku)


Pemandangan di desa ini sangat indah. (kalimat baku)
3. Padu
Kalimat baku adalah kalimat yang memiliki kepaduan antar
unsur kalimatnya.
Contoh :
– Dari temuan yang didapatkan selanjutnya dapat disimpulkan bahwa
melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar akan berdampak
buruk bagi perekonomian Indonesia.
Kalimat di atas tidak memenuhi unsur penyusun kalimat secara utuh
yang ditunjukkan dengan tidak adanya unsur subyek di dalamnya.
Kalimat di atas akan menjadi baku jika diubah menjadi :
“nilai tukar rupiah terhadap dolar akan berdampak buruk bagi
perekonomian Indonesia.”
4. Kesesuaian Struktur
Kalimat baku memiliki kesesuaian struktur yang tidak menimbulkan
makna rancu.
Contoh :
– Ayah mebelikan tas adik.
Maksud dari kalimat di atas adalah ayah membelikan tas untuk
adik. Akan tetapi kaliamt di atas sangat rancu sehingga tak dapat
ditafsirkan demikian. Seharusnya kalimat di atas adalah sebagai
berikut :
“Ayah membelikan tas untuk adik.”
B. Ciri Kalimat Tidak Baku
Kalimat tidak baku memiliki beberapa ciri utama yang
membedakan dengan kalimat baku dalam penulisannya. Berikut
beberapa ciri yang terdapat dalam kalimat baku :

1. Penulisan Tanda Baca yang Tidak Tepat


Kalimat yang tidak memperhatikan ketepatan penulisan tanda baca
bukanlah tergolong kalimat baku. Sebaliknya kalimat tersebut
adalah kalimat yang tidak baku meskipun memenuhi syarat
kesesuian kaidah berbahasa Indonesia.
Contoh :
– Pak guru bertanya, “Memangnya kamu bisa pintar tanpa belajar!”
(kalimat tidak baku)
Kalimat langsung di atas seharusnya menggunakan tanda baca tanga (?)
di akhir kalimatnya. Seharusnya kalimat di atas adalah sebagai
berikut :
Pak guru bertanya, “Memangnya kamu bisa pintar tanpa belajar?”
(kalimat baku)
– Dani bersepeda di sore hari!
Kalimat di atas tidak menggunakan tanda baca yang tepat.
Seharusnya kalimat berita di atas pada akhir kalimatnya
menggunakan tanda baca titik (.). Maka kalimatnya yang benar
adalah: “Dani bersepeda di sore hari.”
2. Ketidaktepatan Penulisan Huruf Kapital
Kalimat menjadi tidak baku jika tidak tepat dalam menggunakan
huruf kapital.
Contoh :
– Susan dan ani pergi bersama menuju sekolah. (kalimat tidak baku)
Penulisan nama orang yakni “ani” dalam kalimat di atas seharusnya
menggunakan huruf kapital. Kalimat di atas seharusnya adalah
seperti contoh berikut :
Susan dan Ani pergi bersama menuju sekolah. (kalimat baku)

3. Ketidaktepatan Struktur dan Ketatabahasaan Kalimat


Kalimat yang tidak memenuhi syarat ketepatan struktur
ketatabahasaan pada kalimat termasuk ke dalam kalimat tidak baku.
Contoh :
– Dino ke Bandung (Tidak Baku)
Kalimat di atas tidak terdapat unsur kalimat predikat (Verba)
sehingga kalimat tersebut bukanlah kalimat baku. Seharusnya
kalimat tersebut dilengkapi dengan unsur predikat (V) “pergi.”
Sehingga kalimatnya menjadi :
Dino pergi ke Bandung. (baku)