Anda di halaman 1dari 29

ETIKA PENYUSUN DAN

PENILAI AMDAL

Dr. AL Sentot Sudarwanto S.H.,M.Hum


PPLH UNS
Kompetensi &
Integritas
Penilai/Komisi

Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup


Nomor 15 Tahun 2010 tentang TATA CARA
LISENSI LISENSI KOMISI PENILAI AMDAL

BERLAKU EFEKTIF 7 MEI 2011


BAGI PROVINSI & PUSAT 2

2
Saat ini berlaku Peraturan Menteri Negara
Kompetensi & Lingkungan Hidup Nomor 7 Tahun 2010 tentang
Integritas SERTIFIKASI KOMPETENSI PENYUSUN DOKUMEN
Penyusun ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN
HIDUP DAN PERSYARATAN LEMBAGA PELATIHAN
KOMPETENSI PENYUSUN DOKUMEN ANALISIS
MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP

3
BERLAKU EFEKTIF 3 OKTOBER 2010
3
KODE ETIK PRAKTISI AMDAL
1. Melaksanakan semua kewajiban dengan kejujuran, integritas
dan terbebas dari segala bentuk penyimpangan

2. Melakukan semua kewajiban hanya dibidang yang ilmunya


dikuasai baik melalui pendidikan, pelatihan dan pengalaman.
Ikut terlibat bersama para ahli di bidang lain yang kurang
dikuasai.

3. Selalu mengedepankan keseimbangan dan keutuhan dalam


upaya mengambil pendekatan yang holistik dalam
memprakirakan dampak.

4. Untuk memastikan bahwa kebijakan, rencana, aktivitas telah


sesuai dengan hukum, regulasi, kebijakan dan pedoman 4yang
berlaku.
KODE ETIK PRAKTISI AMDAL
5. Tidak menerima pekerjaan yang meminta kita untuk melakukan
menyimpangan atau menghilangkan atau merubah data pada saat
melakukan analisa.

6. Mengutamakan keterbukaan kepada pemberi kerja, klien dan pada setiap


laporan tertulis baik pribadi maupun finansial untuk menghindari terjadinya
konflik kepentingan.

7. Terus meningkatkan pengetahuan dan kemampuan profesional dan terus


mengikuti perkembangan dalam kajian dampak dan kompetensi
kemampuan yang relevan

8. Mencatumkan sumber yang digunakan dalam melakukan analisis dan


penyusunan laporan

9. Bersedia untuk dicopot dari keangotaan Asosiasi AMDAL International


5 jika
terbukti melakukan pelanggaran terhadap peraturan peraturan yang
berlaku.
Pasal 17
(1) Berdasarkan hasil pengawasan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 16, LSK Amdal berwenang
membekukan atau mencabut sertifikat kompetensi
penyusun dokumen Amdal apabila pemegang
sertifikat:
O melakukan penjiplakan dan/atau pemalsuan data dalam
penyusunan dokumen Amdal; atau
O tidak memenuhi kriteria pemeliharaan sertifikat kompetensi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (3).
(2) Pada kondisi pembekuan atau pencabutan
sertifikat kompetensi, penyusun dokumen Amdal
dilarang melakukan penyusunan dokumen Amdal.
6

PERMEN LH NO. 07/2010


Penyusun Amdal sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 26 Ayat (1) dan Pasal 27 wajib memiliki
sertifikat kompetensi penyusunAmdal

LARANGAN
PASAL 69 AYAT (1) HURUF I DAN J UU 32/2009

Dilarang :
i. Menyusun Amdal tanpa memiliki sertifikat
kompetensi penyusun amdal
j. Memberikan informasi palsu, menyesatkan,
menghilangkan informasi, merusak informasi, atau
memberikan keterangan yang tdk benar
Sanksi Pidana
Pidana Denda (rupiah)
Jenis Pelanggaran
Minimum Maksimum Minimum Maksimum
Memasukkan B3 5 tahun 15 tahun 5 miliar 15 miliar
Membakar lahan 3 tahun 10 tahun 3 miliar 10 miliar
Melakukan usaha
dan/atau kegiatan 1 tahun 3 tahun 1 miliar 3 miliar
tanpa izin
Menyusun AMDAL tanpa
memiliki sertifikat
kompetensi penyusun - 3 tahun - 3 miliar
AMDAL
Menerbitkan izin
lingkungan tanpa
dilengkapi AMDAL atau - 3 tahun - 3 miliar
UKL-UPL
Pasal 113
Setiap orang yang memberikan informasi palsu,
menyesatkan, menghilangkan informasi, merusak
informasi, atau memberikan keterangan yang tidak benar
yang diperlukan dalam kaitannya dengan pengawsaan dan
penegakkan hukum yang berkaitan dengan perlindungan
dan pengelolaan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud
dalam pasal 69 ayat (1) huruf j dipidana dengan pidana
penjara paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling
banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
UU No.32/2009
KASUS PEMINJAMAN SERTIFIKAT KOMPETENSI
Kasus Pemalsuan Sertifikat KompeTensi

Analisa Hukumnya :
1. Unsur melawan hukumnya : Psl 2 Permen LH
07/210, Psl 11 PP 27/2012, Psl 28 Ayat (1) dan Psl
69 Ayat (1) huruf i UU 32/2009: maka Sanksi pidana
Pasal 110 UU 32/2009 dan Pasal 263 KUHP

2. Dok Amdal yg disusun batal demi hukum


KASUS Kualitas AMDAL TIDAK Baik
PENYUSUN AMDAL
Dituntut :
 Memelihara integritasnya dgn ber-
kiprah dlm kompetensinya
 Bersikap objektif
 Tidak berpihak
 Menghormati sesama penyusun
 Menjauhi plagiasi & penyimpangan
ilmiah yg lain
PENYUSUN AMDAL
Sebagai kelompok profesi yang terpelajar
berkewajiban untuk memajukan profesinya

Kemampuan
Kompetensi
Perkembangan mutakhir
Perhimpunan ilmiahnya
Berbagi gagasan dan informasi
Kemitraan
Bersinergi dengan sesamanya
Menjaga nama baik
Menjauhi persaingan yang tidak wajar
PENYUSUN

 Boleh salah  Tidak boleh bohong

 Boleh mengacu  Tidak boleh mengacu


dokumen asal dokumen tanpa
menulis sumbernya menulis sumbernya
(Plagiat)

 Boleh menyusun > 1  Tidak boleh


sekaligus meminjamkan nama

 Mengikuti Kaidah  Melanggar Kaidah


ilmiah Ilmiah

 Menjaga kerahasiaan  Membocorkan rahasia


Prinsip Tanggung Jawab Profesi
• Dalam melaksanakan tanggung-jawabnya sebagai profesional
setiap anggota harus senantiasa menggunakan pertimbangan
moral dan profesional dalam semua kegiatan yang
dilakukannya.

• Sebagai profesional, anggota mempunyai peran penting dalam


Pelestarian lingkungan

• Anggota mempunyai tanggung jawab kepada semua pemakai


jasa profesional mereka.

• Anggota juga harus selalu bertanggung jawab untuk bekerja


sama dengan sesama anggota untuk mengembangkan profesi
Pelanggaran Etika Profesi
1. Semua pelanggaran hukum di atas termasuk
pelanggran etika profesi
2. Sanksinya adalah pencabutan sertifikat
kompetsi tetapi tdk menghilangkan sanksi
pidananya
KOMISI PENILAI AMDAL
YANG PROFESIONAL
&
BERKAIDAH MORAL
Sidang
Tugas Pokok Sekretariat, Tim Teknis dan Komisi Penilai Amdal

Sekretariat Uji Administrasi Uji Administrasi Dokumen ANDAL &


Dokumen KA RKL-RPL
KPA
Uji Tahap Proyek
• Kesesuaian RTRW
Tim Teknis Uji Tahap Proyek • Kesesuian PUU
• Kesesuaian RTRW • Tahapan Kegiatan
• Kesesuian PUU
Catatan: • Tahapan Kegiatan
Uji Kualitas Dokumen
• Penilaian dokumen • Uji konsistensi
Amdal dan hasil Uji Kualitas Dokumen • Uji keharusan
perbaikannya • Uji konsistensi • Uji relevansi
dilakukan oleh Tim • Uji keharusan • Uji Kedalaman
Teknis. • Uji Kedalaman
• KPA fokus pada
Telaahan
penilaian kelayakan
lingkungan kelayakan/ketidaklayakan LH

• Penilaian atas kelayakan/


Komisi Penilai Surat Persetujuan KA ketidaklayakan LH
• Surat Rekomendasi
Amdal oleh Ketua KPA
Kelayalan/Ketidaklayakan LH oleh
Ketua KPA
Kode Etik Penilai AMDAL

O Kode etik penilai AMDAL dapat


diartikan sebagai pedoman etis
atau sebagai pedoman berperilaku
dalam melakukan proses penilaian
dokumen AMDAL pada komisi
penilai AMDAL.
Nilai-nilai moral yang harus dimiliki oleh Komisi Penilai
AMDAL (KPA):
O Konsekuen
O Profesional
O Efektif
O Sopan dan santun
O Memiliki legalitas
O Mempunyai komitmen
O Mengawasi diri sendiri
lingkungan
Menjaga harmoni
O Mengedepankan penyelamatan O
lingkungan O Punya integritas
O Arif dan bijaksana O Akuntablitas (Accountability)
O Disiplin O Kebersamaan dan Koordinasi
O Menghargai O Tanggung jawab
O Tegas
Sikap Tim KPA terhadap Konsultan yg tidak etis
 “memaksakan kehendak” atau dengan kata lain
“pokoknya”;

 berkata kurang sopan dengan kalimat –kalimat yang


seakan-akan pemrakarsa/konsultan seperti “pesakitan”;

 menyalahkan tanpa membaca dengan baik dokumen


yang dinilai;dan harus memberikan solusi yg ideal.

 tidak bersifat terbuka terhadap perkembangan teknologi,


sehingga ada dokumen dengan menggunakan metode
yang berbeda dengan yang biasa seorang penilai pahami
diarahkan untuk mengikuti dengan metode yang penilai
pahami.
Sebagai Contoh :
Aspek SOSIAL:

 TIM KPA harus memiliki Pemahaman bahwa:


Semua bidang mempunyai metode Sosial-Ekonomi dan
Sosial Budaya mempunyai metode tersendiri, bukan
berarti metode Tim KPA tidak bisa di generalisasi
sepanjang Tenaga Ahli bisa memberikan alasannya

KONFLIK SOSIAL:

 Perlu pengawasan, Bagaimana teknis cara mengurai


konflik ?

 Mulai identifikasi RKL-RPL, harus dikawal terus