Anda di halaman 1dari 20

Tablet sublingual

Pengertian

Tablet
• Dalam Farmakope Indonesia Edisi III, tablet
adalah sediaan padat kompak, dibuat secara
kempa cetak, dalam bentuk tabung pipih atau
sirkuler, kedua permukaannya rata atau cembung,
mengandung satu jenis obat atau lebih dengan
atau tanpa zat tambahan (Anonim, 1979).
• Dalam Farmakope Indonesia Edisi IV tablet adalah
sediaan padat mengandung bahan obat dengan
atau tanpa bahan pengisi (Anonim, 1995).
kriteria tablet berkualitas baik

• Kekerasan yang cukup dan tidak rapuh, sehingga


kondisinya tetap baik selama fabrikasi /
pengemasan dan pengangkutan hingga sampai
pada konsumen.
• Dapat melepaskan bahan obatnya sampai pada
ketersediaan hayatinya.
• Memenuhi persyaratan keseragaman bobot
tablet dan kandungan obatnya.
• Mempunyai penampilan yang menarik, baik pada
bentuk, warna, maupun rasanya.
Sifat bahan yang akan di kempa mejadi
tablet
• Mudah mengalir, artinya jumlah bahan yang akan
mengalir dalam corong alir ke dalam ruang cetakan
selalu sama setiap saat, dengan demikian bobot tablet
tidak akan memiliki variasi yang besar.
• Kompaktibel, artinya bahan mudah kompak jika
dikempa, sehingga dihasilkan tablet yang keras.
• Mudah lepas dari cetakan, hal ini dimaksudkan agar
tablet yang dihasilkan mudah lepas dan tak ada bagian
yang melekat pada cetakan, sehingga permukaan
tablet halus dan licin (Sheth, dkk, 1980).
Metode pembuatan tablet ada tiga
a. Kempa langsung
percetakan bahan obat dan bahan tambahan
yang berbentuk serbuk tanpa proses
pengolahan awal atau granulasi. Kempa
langsung membangkitkan gaya ikatan di antara
partikel sehingga tablet memiliki kekompakan
yang cukup (Voigt, 1984).
b. Granulasi kering
Pada metode ini, granul dibentuk oleh
penambahan bahan pengikat kering kedalam
campuran serbuk obat dengan cara
memadatkan massa yang jumlahnya besar dari
campuran serbuk, memecahkannya dan
menjadikan pecahan – pecahan menjadi granul,
penambahan bahan pelicin dan penghancur
kemudian dicetak menjadi tablet (Ansel, 1989).
c. Granulasi Basah
Metode ini meupakan metode pembuatan yang
paling banyak digunakan dalam memproduksi
tablet kompresi. Langkah-langkah yang diperlukan
dalam pembuatan tablet dengan metode ini dapat
dibagi sebagai berikut: menimbang dan mencampur
bahan-bahan, pembuatan granulasi basah,
pengayakan granul basah, pengeringan, pengayakan
granul kering, pencampuran bahan pelicin dan
bahan penghancur, pembuatan tablet dengan
kompresi (Ansel, 1989).
B. Tablet Sublingual

Tablet sublingual adalah tablet yang digunakan


dengan cara diletakkan di bawah lidah sehingga zat
aktif diserap secara langsung melalui mukosa
mulut, diberikan secara oral, atau jika diperlukan
ketersediaan obat yang cepat (Syamsuni, 2006).

umumnya berbentuk kecil, pipih, dan oval yang


dimaksudkan untuk pemberian pada daerah bukal
atau bawah lidah yang melarut atau tererosi
perlahan, oleh karena itu, diformulasi dan dikopresi
dengan tekanan yang cukup untuk menghasilkan
tablet yang keras (Rudnic and Schwartz, 1990).
Setelah obat dilepaskan dari tablet, bahan aktif
diabsorpsi tanpa melewati saluran
gastrointestinal. Ini rute yang menguntungkan
untuk obat yang bisa dihancurkan oleh saluran
gastrointestinal. Pemberiannya hanya terbatas
pada gliseril trinitrat dan hormon-hormon
steroid (Parrot, 1980). dimaksudkan untuk
diserap langsung oleh selaput lender mulut.
Obat-obatan yang diberikan dengan cara ini
dimaksudkan agar memberikan efek sistemik,
dan karena itu harus dapat diserap dengan baik
oleh selaput lendir mulut.
• Tablet sublingual hendaklah diracik dengan
bahan pengisi yang lunak, yang tidak
merangsang keluarnya air liur. Ini mengurangi
bagian obat yang tertelan dan lolos dari
penyeraapan oleh selaput lender mulut. Di
samping itu, kedua tablet ini hendaklah
dirancang untuk tidak pecah, tetapi larut
secara lambat, biasanya dalam jangka waktu
15-30 menit, agar penyerapan berlangsung
dengan baik (Lachman, dkk, 2008).
Keuntungan tablet sublingual
• Cocok untuk jenis obat yang dapat dirusak
oleh cairan lambung atau sedikit sekali diserap
oleh saluran pencernaan.
• Bebas First Pass Metabolism.
• Proses absorpsinya cepat karena langsung
diabsorpsi melalui mukosa mulut, sehingga
diharapkan dapat memberikan efek yang
cepat juga.
kerugian tablet sublingual
• Hanya sebagian obat yang dapat dibuat
menjadi tablet sublingual dan bukal karena
obat yang dapat diabsorpsi melalui mukosa
mulut jumlahnya sangat sedikit.
• Untuk obat yang mengandung nistrogliserin
pengemasan dan penyimpanan obat
memerlukan cara khusus karena bahan ini
mudah menguap.
Contoh Tablet Sublingual
1.Nitrogliserin
• Sediaan nitrogliserin sublingual dan bukal dapat
mengurangi serangan anginal pada penderita iskemia
jantung. Pemberian 0,3 – 0,4 mg melepaskan rasa sakit
sekitar 75% dalam 3 menit, 15% lainnya lepas dari sakit
dalam waktu 5 – 15 menit. Apabila rasa sakit bertahan
melebihi 20 – 30 menit setelah penggunaan dua atau tiga
tablet nitrogliserin berarti terjadi gejala koroner akut dan
pasien diminta untuk mencari bantuan darurat (Sukandar,
dkk, 2008).
• Efek samping mencakup hipotensi postural yang
berhubungan dengan gejala sistem saraf pusat, refleks
takikardi, sakit kepala, dan wajah memerah, dan mual pada
waktu tertentu (Sukandar, dkk, 2008).
Penyimpanan tablet nitrogliserin
• Di kemas dalam wadah gelas dan tutup logam
yang sesuai dan harus di putar
• Harus di salurkan pada wadah aslinya dan pada
labelnya ada tanda peringatan “ untuk mencegah
hilangnya potensi, jagalah tablet ini dalam wadah
asli dan segera tutup kembali wadahnya setelah
di pakai “
• Harus disimpan dalam ruangan dengan
temperatur yang diatur antara 59 derajat- 86
derajat F(ansel,1989)
2. Hormon – Hormon Steroid
a. Estrogen
Estrogen yang diberikan oral menstimulasi sintesis protein
hepatik dan meningkatkan konsentrasi sirkulasi glogulin
terikat hormn seks, yang dapat menjamin bioavailabilitas
androgen dan astrogen. Estradiol merupakan bentuk kuat dan
paling aktif dari estrogen endogen saata diberikan oral dia
termetabolisme dan hanya 10% mencapai sirkulasi sebagai
estradiol bebas. Absorbsi estrogen secara sistemik ppada
tablet lebih rendah dibanding krim vaginal. Penemuan baru
menunjukkan estrogen pada dosis yang lebih rendah efektif
dalam mengontrol simptom pasca menopause dan
mengurangi kehilangan masa tulang (Sukandar, dkk, 2008).
Contoh obat yang beredar di pasaran adalah angeliq, cliane,
climmen, cyclo progynova, diane, dan lain-lain (Anonim,
2010).
b. Progestogen
Progestogen umumnya diberikan pada wanita yang
belum pernah menjalani histerektomi. Progestin
sebaiknya ditambahkan karena estrogen tunggal
berkaitan dengan hiperplasia dan kanker endometrium.
Terapi hormon dosis rendah(estrogen terkonjugaasi ekuin
0,45 mg dan medroksiprogesteron asetat 1,5 mg/hari
menunjukkan kesamaan dalam peredaran simptom dan
pertahanan densitas tulang tanpa peningkatan
hiperplasia endometrium.
Progestogen oral yang paling umum digunakan adalah
medroksiprogesteron asetat misalnya Dilena;
Noretisteron asetat, misalnya Anore, Cliane, Kliogest,
Norelut, Primolut N, dan Regumen.
Pembuatan Tablet sublingual
1. Persyaratan Tablet
• Sifat dan Kualitas
• Berat Tablet
• Kekerasan Tablet
• Daya Hancur Tablet
• Disolusi Tablet
Metode Pembuatan
Sebagian besar tablet kompresi dibuat dengan
matode granulasi basah mengingat caranya yang
relatif mudah. Begitu pula dengan tablet
sublingual
Langkah pembuatan tablet sublingual
• Menimbang dan mencampur bahan-bahan
Pembuatan granulasi basah
• Mengayakan adonan lembab menjadipelet atau
granul
• Pengeringan
• Pengayakan kering
• Pencampuran bahan pelincir
• Pembuatan tablet dengan kompresi (Ansel,
1989).
Pengemasan dan Penyimpanan
Pada umumnya tablet sangat baik disimpan dalam
wadah yang tertutup rapat di tempat dengan
kelembaban nisbi yang rendah, serta terlindung dari
temperatur tinggi.
Tablet khusus yang cenderung hancur bila kena
lembab dapat disertai pengering dalam
kemasannya.
Tablet yang dirusak oleh cahaya disimpan dalam
wadah yang dapat menahan masuknya cahaya
(Ansel, 1989).