Anda di halaman 1dari 14

BUAH AEGLE

MARMELOS CORR
YANG BERKHASIAT
SEBAGAI ANTI CACAO
MOT PROGRAM STUDI MAGISTER
TEKNIK KIMIA
 Maja (Aegle marmelos corr) dari suku Rutacea merupakan tumbuhan tropik
yang sangat kuat. Jenis ini dapat tumbuh pada daerah yang
beranekaragam, dari yang basah maupun kering mampu menyesuaikan diri
pada tanah basa dan juga tidak mengalami kerusakan walaupun suhu
mencapai -70C (Roy & Singh, 1979).
 Tumbuhan ini tersebar diindia, srilangkah, pakistan, Banglades,Burma,
Munghtahai, dan negara-negara asia tenggara lainnya seperti indonesia.
Pembudidayaannya masih terbatas. Tumbuhan ini sebagian besar masih
terdapat liar dikebun-kebun biara (Roy & Singh; Burkill, 1966)
 Kulit buahnya tebal, daging buahnya berlendir dan bijinya banyak,
sehingga sukar dimakan segar dan juga tidak populer sebagai buah maja.
Walaupun begitu, buahnya cukup lezat, bergizi dan baik sebagai obat
tradisional, tetapi belum dikembangkan untuk diolah. Fahrurozi (1982)
menyatakan bahwa buah maja tumbuhan liar didaerah timor dan
sumbawa, dan belum banyak dimanfaatkan.
 Pemanfaatan maja, baik buahnya maupun bagian-bagian tanaman
lainnya sebagai bahan ramuan sudah luas dikenal. Pengolahan buahnya
tak banyak mengalami kesulitan, sehingga dapat dibuat berbagai produk
yang baik dan bergizi. ketimbang bijinya.
 Mengingat hal tersebut diatas, maka maja perlu mendapat perhatian untuk
dikembangkan baik pembudidayaannya maupun pengolahan buahnya.
Dymock et al(1972) menyatakan bahwa maja merupakan pohon
yang dikeramatkan oleh orang-orang hindu , karena daunnya
digunakan dalam pemujaan dewa siwa. Bila orang merusak
pohon maja dianggap mencemarkan tempat suci. Sejak zaman
sansekerta kuno maja selalu merupakan simbol dari kesuburan
dan diaartikan sebagai pemberian harapan baik atau
keselamatan.

Diindia maja sudah dikenal sejak zaman pra-sejarah. Dalam epos


ramayana telah dikenal juga buah maja katakan pohon dijumpai
dibukit chitrakuta dan pancawati. Dijumpai pada zaman vedik
sekitar tahun 800-200 sebelum masehi dan masa awal buda serta
pustaka jain tahun 800- 325 M dalam naskah kehutanan
sansekerta.Menurut Burkill(1966), Dalam pustaka sansekerta maja
digunakan sebagai obat serta bahan ramuan dalam upacara
agama sampai sekarang.

Kehadiran maja dijawa merupakan akibat dari


perkembangbiakan kerajaan Hindu, sekitar dari perkembangan
kerajaan Hindu, sekitar permulaan masa kristen. Nama-nama
daerah yang digunakan dijawa adalah maja, maja batu, maja
ingus, maja gelepung, naja gedang, maja lumut dan maja pait.
Nama yang terakhir ini yang sangat terkenal karena dipakai
sebagai nama kerajaan hindu yang sangat termasyur diindonesia.
Pohon maja berukuran kecil dan mudah luruh
daunnya, tinggi 10-15m, pangkal batangnya
Nama ilmiah : Aegle marmelos Correa. berdiameter 25-50cm. Cabang-cabang tuanya
Nama daerah : maja (Sunda); maja, maja berduri, durinya tunggal atau berpasangan,
galepung, maja gedang, maja pait, maos panjangnya 1-2cm. Daun berseling, beranak
(Jawa); bila, bila gedang, bila peak (Madura); daun tiga, tangkai daunnya 2-4 cm panjang,
wabiila (Sumba Timur); dilak(Timor); Bilah tangkai daun lenterra , berbintik-bintik kelenjar
(Sulawesi). kecil-kecil tetapi rapat.
Nama asing : beal fruit (Inggris). Buah Maja Buahnya berupa buah buni yang agak bulat,
mempunyai rasa manis, harum, dan tajam di diameternya 5-12,5cm,berbiji 6-10 butir
tenggorokan. bertempurung keras, berada didalam daging
buah yang jernih, lengket dan dapat dimakan. Biji
terbungkus oleh bulu-bulu seperti wol, berada
didalam kantung yang berlendir lengket yang
akan mengeras jika dikeringkan, kulit bijinya putih.
 Maja adalah pohon yang dapat tumbuh dalam kondisi lingkungan
yang keras baik musim dingin maupun musim kemarau.dan toleran
terhadap alkalinitas. Tananaman ini diperbanyak secara vegetatif

EKOLOGI MAJA
akan berbuah setelah berumur 5 tahun dan dapat berbuah lebat
sampai berumur 15 tahun. Buahnya akan matang pada musim
kering setelah sebagian besar daunnya rontok dalam
mengantisipasi munculnya bunga tidak ada laporan hama dan
penyakit yang berbahaya.
 Buah maja dipanen satu-satu, Hasil perpohon 200-400 butir buah.
Bijinya yang pecah mudah terserang jamur.
 Maja memperlihatkan banyak varitas kualitas buahnya, buahnya
berukuran besar, kulitnya yang tipis dan tekstur daging buahnya
yang halus serta rasanya yang enak. Terbukti bahwa potensi buah
ini hanya dapat dihargai setelah tipe unggul dicicipi.

 Tehnik pemrosesan baru dapat mengawetkan


kualitas daging buah dari buah yang mata,
digabungkan dengan kualitas kultivar unggul
dapat menambah prospek dengan memelihara
PROSPEK

maja sebagai buah untuk diproses. Kandungan


bagian padat yang dapat larut adalah 28-36%,
hampir 2x lipat dari kebanyakan buah lainnya. Hal
ini memungkinkan buah ini dapat dubuat
berbagai produk olahan.
No. Jenisnya Kamposisi kimia Kandungan
1. Secara Umum Minyak Atsiri , vitamin C, gula, -
pati, pectin, tannin
Daun  Rutasin, Aegelin, Minyak atsiri -
dan alkaloid
Kulit kayu Marmelosin (C13H12O3) dan
Fagarin -
Kulit Batang Aureptin, marmin dan lupeol
-
2. Secara kimia, dalam 100gr  Protein 1,8 gr
isi buah maja Kandungan air 61,7gr
Lemak 0,39 gr
Karbohidrat 31,8 gr
Abu 1,7 gr
Karoten 55 mg
Tiamin 0,13 mg
Ribovlafen 1,19 mg
Niasin 1,1 mg
Vitamin C 8 mg
Tannin (Kulit Buah) 20%
No. Peneliti/tahun Bagian maja Kegunaan
1. Roy & Singh (1979) Semua komponen buah Sebagai obat dari segala macam penyakit
maja (Yunani)
2. Dymock et al(1972) Daging buah Obat Penguat jantung, Obat kuat, Tonikum,
maja(Belanda) mencret Dan obat Pengelat.
3. Burkill (1966) Daun maja Sebagai rempah-rempah, Obat kemandulan dan
(Orang Jawa) keguguran pada wanita, obat gatal, penyaki
nyeri.
Daging maja Menyembuhkan penyakit kaki dan mulut.
(Madura)
Kulit buah maja (India) Pewarna batik dan penguning sutera.
4. Heyne (1987) Daun maja Minyak Marmelle, Minyak wangi untuk Rambut
(Belanda)
5. Ohasi (1994) Kulit buah maja(Flores) Mengobati Disentri, Penyakit jantung, Obat anti
Hamil.
6. Riyanto, dkk (2000) Buah maja Mengobati Diabetes
Kulit Buah Maja(Jawa- Menghambat tumbuh bakteri yang menyebabkan
indonesia) leukimia pada manusia., menghambat
pertumbuhan hama/bakteri pada cacao.
•Madu, Mengekstrak daging buah maja dengan penambahan air
(mengencerkan lendir), ph-nya diatur menjadi 4,3 dengan penambahan asam
nitrat dan memanaskannya (menghancurkan lendir) pada suhu 80 C selama 1
menit sebelum dimasukkan diekstraktor. Daging buah yang diperoleh hampir
Roy & sama konsistensi dan warna pada daging buah mangga. Bukan karotin seperti
singh,1979 mangga tapi mungkin flavanoid pingmen sehingga warna kuning –merah.

•Gula-gula maja umumnya lebih bergizi daripada gula-gula biasa karena daging
buah bergizi. Gula-gula maja telah berhasil dibuat dengan mencampurkan 40
bagian gula, 4,5 glukosa,10 bagian susu bubuk dan 6 bagian lemak yang
Roy & dihidrogenkan pada 100 bagian ekstrak daging buah. Kandungan air terakhir dari
gula-gula mencapai 8,5%
singh,1979

•Pengekstrakan daging buah maja dengan penambahan air yang sama


memberikan hasil 125% lebih kental dari daging buah mangga. Ini memberikan arti
ekonomi yang sangat penting mengingat tidak adanya buah lain yang memberikan
Roy & hasil setinggi pada daging buahnya yang siap untuk diproses, karena kandungan
kepadatan total dari buah maja hampir ganda daripada buah-buahan lainnya.
singh,1979
Ekstraksi

Mereasi (Perendaman)

KLT
• Istilah mereasi berasal • Kromatografi lapisan
Ekstraksi dari nahasa latin tipis adalah suatu
Ekstraksi adalah macerare, yang teknik kromatigrafi
penarikan zat artinya merendam. yang sangat
pokok yang Merupakan proses sederhana untuk
diinginkan dari yang sangat memisahkan
bahan mentah sederhana dan komponen secara
dengan cepat yang
menggunakan paling tepat dimana
bahanyang sudah berdasarkan pada
bahan pelarut
yang dipilih halus memungkinkan prinsip adsorbsi dan
dimana zat yang untuk direndam partisi. Kromatografi ini
diinginkan larut. sampai meresap dan menggunakan
Hasil dari ekstraksi melunakan susunan lempeng kaca.
ini disebut ekstrak. sel, sehingga zat-zat
Tidak hanya
mengandung mudah larut akan
unsur satu unsur melarut.
saja tetapi
berbagai macam Kromotografi
unsur, tergantung Lapisan Tipis
pada bahan yang Metode (KLT)
digunakan dalam
kondisi dari Meserasi
ekstraksi. (Perendaman)
Penelitian diawali dengan cara mempersiapkan sampel buah
maja yang telah dibelah dan diambil isinya kurang lebig 50gr,
kemudian diblender dan diekstrak dengan pelarut Non-Polar
sebanyak 100ml selama 24 jam, setelah itu disaring dengan
mengunakan kertas saring. Filtrat yang diperoleh diuapkan
pelarutnya menggunakan Rotary Evaporator hingga diperoleh
ekstrak dari buah maja. Ekstrak yang diperoleh diuji pada
Kromatografi Lapisan tipis (KLT) dan sebagian ekstraknya lagi
diaplikasikan ditanaman cacao.
•Ekstrak yang diperoleh ini dilanjutkan
untuk isolasi dan identifikasi dengan
metode Kromatografi Lapisan tipis ANALISA/UJI LAPANGAN
(KLT). Ekstrak tersebut yang belum
diketahui komposisinya disebut
senya X, Senyawa X ini ditotolkan
1ml pada plat KLT, 2 cm dari
pinggiran bawah plat, setelah • Analisa lapangan dilakukan,
ditotolkan pada plat tersebut dimana sebagian hasil
dimasukkan kedalam chamber
yang telah berisi larutan pengelusi ± ekstrak tadi yang dinamakan
0,3 cm bagiian bawah plat KLT senyawa x, disemprotkan
tercelup dan biarkan ±180 menit. pada tanaman Cacao pagi
Plat ttersebut diangkat dan diangin- dan sore. Selama ± 6 – 7
anginkan, hingga kering. minggu, dengan tujuan untuk
Sealajutnya untuk mengamati noda mengamati perubahan
yang ada dapat diliat dibawah tahan demi tahap yang
lampu UV, dan menyemprotkan
dengan ninhidrin, amati dan ukur Rf terjadi pada cacao selama
yang dihasilkan. penggunaan insektisida ini.

ANALISA KLT
 Melihat dari potensi dan kandungan gizi
buah maja, maka perlu ditindak lanjuti
pengembangannya secara comersil agar
lebih bermanfaat dan mempunyai nilai
ekonomis tinggi.
 Atmodiwirjo, A. T. S. (1983). Maja (Aegle Marmoleus Corr...).
Kemugkinan pengembangan dan Pengelolahan buahnya.
Buletin Kebun Raya 6(2): 35-38
 Djayadi, A (1996), “ Pemeriksaan Farmakologi Nostik Dan Skrining
Fitokimia tanaman maja’. Skripsi jurusan Farmasi. Universitas
Hasanuddin
 Fachrurozi, Z. 1982, “ Menganalisa Tumbuhan, edisi II, Penerbit ITB
Bandung, 6-8: 13 – 15
 Heyne, K. 1987. “ Tumbuhan berguna indonesia “ Terjemahan
jilid II, depertemen kehutanan. Jakarta Pusat, 1085
 Http:// Search. Yahoo. Com, “ NCBI, Aegle Marmoleus
corr...,14/12/2013
 Kartasapoetra, G. A. Ir, 1987. Hama tanaman pangan dan
Perkebunan. Bumi Aksara, Jakarta
 Riyanto, M. Sukari, A. Rahmadi, M. M anaf, A. 2003. Majalah
Pharmacon, vol 4. No. 01 juni 2003, 6 – 10
 Tumpul H, S. Siregar, dkk, 1988. Budaya, Pengelolalahan dan
pemasaran Coklat, PT. Penebar Swadaya, Jakarta.