Anda di halaman 1dari 30

SEJARAH

ANALISIS MENGENAI
DAMPAK LINGKUNGAN
HIDUP (AMDAL)
Disusun oleh:
Tamsil A 221 16 106
PENGERTIAN
Yang dimaksud dengan Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan Hidup selanjutnya disebut
dengan AMDAL adalah kajian mengenai dampak
penting suatu usaha dan/ atau kegiatan yang
direncanakan pada lingkungan hidup yang
diperlukan bagi proses pengambilan keputusan
tentang penyelenggaraan usaha dan atau
kegiatan.
Yang dimaksud dampak penting adalah
perubahan lingkungan hidup yang sangat
mendasar yang diakibatkan oleh suatu usaha dan/
atau kegiatan
Dapat dijelaskan bahwa AMDAL merupakan salah
satu alat bagi pengambil keputusan untuk
mempertimbangkan akibat yang mungkin ditimbulkan
oleh suatu rencana usaha dan atau kegiatan terhadap
lingkungan hidup guna mempersiapkan langkah untuk
menanggulangi dampak negatif dan mengembangkan
dampak positif.
SEJARAH ATAU LAHIRNYA AMDAL (DUNIA)
Reaksi terhadap kerusakan lingkungan. Amerika
Serikat mengeluarkan Undang Undang Lingkungan
Hidup : National Environment Policy Act (NEPA) Tahun
1969 yang mulai diberlakukan pada bulan Januari 1970.
Inti dari regulasi tersebut adalah bahwa semua usulan
legislasi dan aktifitas Pemerintah Federal Amerika Serikat
yang diperkirakan dapat menimbulkan dampak penting
harus disertai dengan Laporan Environmental Impact
Assessment atau EIA.
 Konferensi PBB tentang Lingkungan Hidup Manusia (United Nation
Conference on Human Environment) diselenggarakan di Stockholm
Swedia pada tanggal 5-16 Juni 1972.
Hasil perumusan tersebut adalah:
1) Deklarasi tentang Lingkungan Hidup Manusia
2) Rencana Aksi Lingkungan Hidup Manusia, terdiri dari 109
rekomendasi
3) Rekomendasi tentang kelembagaan dan keuangan yang menunjang
pelaksanaan antara lain: i) Dewan Pengurus (UN Environmental
Program, UNEP) ii) Sekretariat iii) Dana Lingkungan Hidup iv) Badan
Koordinasi Lingkungan Hidup
4) Menetapkan tanggal 5 Juni sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia.
Perkembangan selanjutnya Komisi PBB membentuk World
Commission on Environmental and Development (WCED), yang
diketuai oleh Gro Harlem Brundtland, pada tahun 1983, dengan
anggota terdiri dari berberapa negara, termasuk Indonesia (Prof.
Dr. Emil Salim). Hasil kerja dari WCED yang tercacat sampai saat ini
dan digunakan sebagai tonggak dalam pengelolaan lingkungan
adalah Our Common Future (Hari Depan Kita Bersama).
Sejarah Perkembangan AMDAL di
Indonesia

Sebagai tindak lanjutnya, berdasarkan


Keppres No. 16 Tahun 1972 Indonesia
membentuk panitia interdepartemental yang
disebut dengan Panitia Perumus dan Rencana
Kerja Bagi Pemerintah di Bidang Lingkungan
Hidup guna merumuskan dan mengembangkan
rencana kerja di bidang lingkungan hidup.
Terbentuknya GBHN (1973)
 Tumbuh dan berkembangnya analisis
mengenai dampak lingkungan di
Indonesia, menyertai berkembangnya
kesadaran lingkungan. Suatu tonggak
yang penting dalam sejarah
perkembangan kesadaran lingkungan di
Indonesia adalah masuknya pertimbangan
lingkungan dalam Garis-garis Besar
Haluan Negara (GBHN).
Isi GBHN
 “Dalam pelaksanaan pembangunan,
sumber-sumber alam Indonesia harus
digunakan secara rasional. Penggalian
sumber daya alam tersebut harus
diusahakan agar tidak merusak tata
lingkungan hidup manusia, dilaksanakan
dengan kebijaksanaan yang menyeluruh
dan dengan memperhitungkan kebutuhan
generasi-generasi yang akan datang.”
Tiga tahun kemudian, Presiden mengeluarkan
Keppres No. 27 Tahun 1975. Keppres ini merupakan dasar
pembentukan Panitia Inventarisasi dan Evaluasi Kekayaan
Alam dengan tugas pokoknya adalah menelaah secara
nasional pola-pola permintaan dan persediaan serta
perkembangan teknologi, baik di masa kini maupun di
masa mendatang serta implikasi sosial, ekonomi, ekologi
dan politis dari pola-pola tersebut.
Komitmen Politik Nasional (1978-
1983)
• Untuk melaksanakan amanat GBHN 1978, maka
berdasarkan Keppres No. 28 Tahun 1978.
Keppres No. 35 Tahun 1978, dalam Kabinet
Pembangunan III diangkat Menteri Negara
Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan
Hidup (Men-PPLH) dengan tugas pokok
mengkoordinasikan pengelolaan lingkungan
hidup di berbagai instansi pusat maupun daerah,
khususnya untuk mengembangkan segi-segi
lingkungan hidup dalam aspek pembangunan.
• Dengan mangacu pada NEPA, maka untuk pertama
kalinya pada tahun 1982 Indonesia mencetuskan UULH
No. 4 tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok
Pengelolaan Lingkungan Hidup. Undang-undang ini
merupakan langkah awal Indonesia untuk menjadikan
pembangunan berwawasan lingkungan. Pasal 16 UULH
No. 4 tahun 1982 menyatakan bahwa setiap rencana yang
diperkirakan mempunyai dampak penting terhadap
lingkungan hidup wajib dilengkapi dengan analisis
mengenai dampak lingkungan yang pelaksanaannya
diatur dengan peraturan pemerintah.
Pembentukan Kantor Menteri Negara
Kependudukan dan Lingkungan Hidup
(1983-1993)

• berdasarkan Keppres No. 25 Tahun


1983 tentang Kedudukan, Tugas
Pokok, Fungsi dan Tata Kerja Menteri
Negara Kependudukan dan
Lingkungan Hidup, maka dibentuklah
Kantor Menteri Negara
Kependudukan dan Lingkungan
Hidup.
Di Indonesia EIA oleh Kantor Menteri Negara
Pengawasan Pembangunan Lingkungan Hidup (PPLH) yang
kemudian menjadi Kantor Menteri Kependudukan dan
Lingkungan Hidup (KLH) ditetapkan terjemahannya
menjadi Analisis Dampak Lingkungan yang permulaannya
disingkat menjadi “ADL”, singkatan kemudian diubah
menjadi “Andal”. Analisis Dampak Lingkungan adalah
telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak
penting suatu kegiatan yang direncanakan, merupakan
salah satu bagian dari Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan. Sedangkan Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan yang disingkat “Amdal” adalah hasil studi
mengenai dampak suatu kegiatan yang direncanakan
terhadap lingkungan hidup, yang diperlukan bagi proses
pengambilan keputusan.
 Untuk menindaklanjuti operasionalnya,
dikeluarkanlah PP No. 29 Tahun 1986
tentang Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan dalam Lembaran Negara
Tahun 1986 No. 42 Tambahan Lembaran
Negara Nomor 3338. Isinya menyatakan
bahwa AMDAL dimaksudkan sebagai
bagian dari studi kelayakan pembangunan
suatu rencana usaha dan/atau kegiatan.
Bentuk hasil kajian AMDAL berupa dokumen AMDAL
terdiri dari lima dokumen, yaitu:
1. Dokumen Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan
Hidup (KAANDAL).
2. Dokumen Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL).
3. Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup
(RKL).
4. Dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup
(RPL).
5. Dokumen Ringkasan Eksekutif (RE)
1. Kerangka Acuan (KA)
• Adalah dokumen yang berisi uraian Deskripsi Proyek dan
Ruang Lingkup Kajian Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL).

• Kegunaan :

• Sebagai dokumen panduan untuk melaksanakan studi

• Membatasi atau memfokuskan kajian pada hal-hal penting


2. Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL)
Berisi uraian atau telaahan secara cermat dan
mendalam tentang dampak dari rencana kegiatan.

Kegunaan :
 Mengetahui komponen kegiatan yang menimbulkan
dampak
 Mengetahui komponen lingkungan yang terkena
dampak

 Sebagai dasar / arahan pengelolaan dan pemantauan


3. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL)
• Dokumen yang berisi uraian tentang upaya penanganan dan pengembangan
dampak yang diprakirakan akan timbul

• Kegunaan :

• Sebagai panduan untuk melaksanakan pencegahan, pengendalian, penanganan


dampak negatif dan pengembangan dampak positif

4. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL)


• Berisi uraian tentang upaya pemantauan komponen lingkungan yang terkena
dampak

• Kegunaan :

• Sebagai panduan untuk melaksanakan kegiatan pemantauan

• Hasilnya berguna sebagai umpan balik untuk evaluasi dan perbaikan pengelolaan
5. Ringkasan Eksekutif
adalah dokumen yang meringkas secara singkat
dan jelas hasil kajian ANDAL. Hal-hal yang perlu
disampaikan dalam ringkasan eksekutif
biasanya adalah uraian secara singkat tentang
besaran dampak dan sifat penting dampak yang
dikaji di dalam ANDAL dan upaya-upaya
pengelolaan dan pemantuan lingkungan hidup
yang akan dilakukan untuk mengelola dampak-
dampak tersebut.
Pada bulan Juni 1990, Badan Pengendalian Dampak
Lingkungan (BAPEDAL) di Indonesia dibentuk.
Mandat BAPEDAL adalah untuk membantu Presiden
dalam mengelola dampak pencemaran. Pada saat
itu Emil Salim, Menteri Negara Kependudukan dan
Lingkungan Hidup menjabat Ketua BAPEDAL dan
bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Misi
BAPEDAL adalah untuk melaksanakan fungsi
pemerintah untuk mengendalikan dampak
lingkungan dengan menggunakan prinsip-prinsip
ekologi dalam pemanfaatan sumberdaya alam
sehingga dampak negatif pembangunan tidak
mengubah fungsi lingkungan
Kantor Menteri Negara
Lingkungan Hidup (1993-1998)

• Pembangunan Jangka Panjang Kedua


(1994/1995-2019/2020).
• Rakornas I Sasaran Repelita
Tahunan (SARLITA). SARLITA
merupakan penjabaran dari program
Repelita yang diharapkan dapat
menjadi acuan pokok dalam
penyusunan dan penilaian rencana
kegiatan pembangunan tahunan,
khususnya yang dibiayai oleh APBN.
Era Reformasi (1998-1999)
• Reformasi membawa perubahan secara dramatis
dalam sistem politik dan ketatanegaraan di
Indonesia, sejalan dengan itu, terjadi perubahan
dalam sistem kepemerintahan.
• Jumlah penduduk yang meningkat memberikan
tekanan yang lebih besar kepada sumber alam,
salah satu dampaknya adalah kondisi kritis sumber
daya air khususnya di pulau Jawa.Hutan semakin
menurun kualitas dan kuantitasnya akibat over
exploitation dan pembakaran.
Pasca Reformasi (1999-2004)
• Perbaikan Kantor Menteri Negara
Lingkungan Hidup (1999-2001)
• Kementrian Negara Lingkungan Hidup
(2001-2004)
• Kementrian Negara Lingkungan Hidup
(2004-Sekarang)
Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup (1999-
2001)
Menurut PP No. 27/1999 Pasal 3 ayat 1, usaha dan/atau
kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak
besar dan penting terhadap lingkungan hidup meliputi :
a. Pengubahan bentuk lahan dan bentang alam.
b. Eksploitasi sumber daya alam baik yang terbaharui maupun
yang tak terbaharu.
c. Proses dan kegiatan yang secara potensial dapat
menimbulkan pemborosan, pencemaran dan kerusakan
lingkungan hidup, serta kemerosotan sumber daya alam
dalam pemanfaatannya.
d. Proses dan kegiatan yang hasilnya dapat mempengaruhi
lingkungan alam, lingkungan buatan, serta lingkungan
sosial dan budaya.
Next...

e. Proses dan kegiatan yang hasilnya akan dapat


mempengaruhi pelestarian kawasan konservasi sumber
daya dan/atau perlindungan cagar budaya.
f. Introduksi jenis tumbuh-tumbuhan, jenis hewan, dan
jenis jasad renik.
Kementrian Negara Lingkungan Hidup
(2001-2004)
• peningkatan dan perluasan aliansi strategis dalam rangka
memperoleh dukungan dan kekuatan politik untuk pelestarian
lingkungan,
• pemberdayaan masyarakat sadar dan aktif berperan dalam proses
pengambilan keputusan,
• pengembangan prinsip “good governance” dalam pelestarian
lingkungan hidup di kalangan pemerintah kabupaten/kota,
• peningkatan penaatan melalui penggunaan instrumen hukum dan
instrumen lainnya, dan
• pengembangan kelembagaan dan peningkatan kapasitas.
Kementrian Negara Lingkungan
Hidup (2004-Sekarang)

• Pengelolaan lingkungan terfokus pada


daerah pemukiman
• Memperhatikan tingkat kemiskinan
• Program KB
MA, AK, CI