Anda di halaman 1dari 24

Mata Kuliah PERENCANAAN WILAYAH

1. Teori Sewa Lahan 6. Teori Kutub Pembangunan


.................... Von Thunen yang Terlokalisasi
2. Teori Aglomerasi ....................... Boudeville
............................. Weber 7. Toeri Masukan Transpor
3. Teori Tempat Sentral .................... Walter Isard
........................ Christaller 8. Polarisasi dan Trickling
4. Perluasan Teori Tempat Down ............. Hirschman
Sentral .................. Losch 9. Teori Daerah Inti
5. Teori Kutub Pertumbuhan ........................ Friedman
........................... Perroux 10. Simpul Jasa Distribusi
................... Poernomosidi
Pengembangan teori David Ricardo
“Tanah yang subur akan menerima sewa tanah yang
lebih tinggi dibanding tanah yang tidak subur”
Hal-hal yang mempengaruhi sewa tanah:
a) Kualitas tanah yang disebabkan oleh kesuburan
tanah, pengairan, adanya fasilitas listrik, jalan dan
sarana lainnya;
b) Letaknya strategis untuk perusahaan/industri; dan
c) Banyaknya permintaan tanah yang ditujukan untuk
pabrik, bangunan rumah, perkebunan.
Menurut Von Thunen, tanah yang subur dan letaknya strategis
(mudah dijangkau atau dekat kota) memiliki sewa tanah yang
mahal, karena letak yang strategis memudahkan hasil
pertanian cepat diangkut ke tempat-tempat penjualan dengan
biaya murah
Teori Weber dikenal dengan teori “lokasi industri”, yang
berbasis pada 3 asumsi, antara lain :
1. Lokasi bahan baku ada di tempat tertentu saja
2. Situasi dan ukuran tempat konsumsi juga adalah
tertentu juga, sehingga terdapat sutau persaingan
sempurna
3. Ada beberapa tempat pekerja yang bersifat tak mudah
bergerak (immobile)
Weber menjelaskan bahwa gejala aglomerasi merupakan
pemusatan produksi di lokasi tertentu. Pemusatan produksi ini
dapat terjadi dalam satu perusahaan atau dalam berbagai
perusahaan yang mengusahakan berbagai produk. Gejala ini
menarik industri dari lokasi biaya angkutan minimum, karena
membawakan berbagai bentuk penghematan ekstern yang
disebut aglomeration economies.
Berat Bahan Baku = w (S1) ton yang akan ditawarkan di pasar M, w (S1) dan w
(S2) ton material yang berasal dari masing-masing S1 dan S2 yang diperlukan.
KESIMPULAN TEORI AGLOMERASI WEBER
Pada intinya, lokasi akan optimal apabila pabrik
berada di titik sentral, karena biaya transportasi
dari manapun akan rendah.
Biaya tersebut berkaitan pada dua hal,
yaitu :
1. transportasi bahan mentah yang di datangkan
dari luar.
2. hasil produksi yang menuju ke pasaran.
“Bunyi teori Christaller” adalah Jika persebaran penduduk
dan daya belinya sama baiknya dengan bentang alam,
sumber dayanya, dan fasilitas tranportasinya, semuanya
sama/seragam, lalu pusat-pusat pemukiman menyediakan
layanan yang sama, menunjukkan fungsi yang serupa, dan
melayani area yang sama besar, maka hal tersebut akan
membentuk kesamaan jarak antara satu pusat pemukiman
dengan pusat pemukiman lainnya.
Teori Christaller mampu menjelaskan bagaimana susunan
dari besaran kota, jumlah kota, dan distribusinya di dalam
satu wilayah.
Dalam mengembangkan modelnya Losch menggunakan
beberapa asumsi, yaitu sebagai berikut:
1. Tidak terdapat variasi dalam biaya dan tidak ada
perbedaan spasial dalam sumber daya, termasuk tenaga
kerja dan modal di seluruh wilayah (wilayah di anggap
homogin).
2. Penduduk tersebar merata, kepadatan dianggap
uniform, cita rasa konstan, dan perbedaan pendapatan
diabaikan.
3. Wilayah pasar dan permintaan terhadap barang-barang
hasil suatu perusahaan tidak di pengaruhi oleh lokasi
perusahaan-perusahaan saingannya.
Menurut Losch tidak ada alasan mengapa daerah
pasar dikaitkan dengan pusat – pusat produksi dan
bersifat kaku seperti yang diungkapkan christaller.
Dalam hal ini, pusat jaringan penting tetapi lebih
diharapkan pusat mampu melayani semua wilayah
pasar atau yang dinamakan metropolis. Metropolis
merupakan pusat dari seluruh jaringan dan
mempunyai order tertinggi. Selanjutnya jaringan
tersebut ditata sedemikian rupa sehingga dari titik
pusat (metropolis) tersebar banyak alternative sector.
Menurut Losch, pusat – pusat wilayah pasar dibagi
menjadi sector “kota kaya” (city rich) dan “kota
miskin” (city poor). Sektor kota kaya mempunyai
karakteristik :
1) Jaringan market area yang luas
2) Aktifitasnya banyak sehingga order lebih tinggi
Sedangkan, untuk kota miskin memiliki karakteristik :
1) Jaringan market area yang sempit
2) Aktifitasnya sedikit sehingga order lebih rendah
Pada intinya Kontribusi utama Losch adalah
memperkenalkan potensi permintaan (demand) sebagai
faktor penting dalam lokasi industri, Kedua, kritik
terhadap pendahulunya yang selalu berorientasi pada
biaya terkecil; padahal yang biasanya dilakukan oleh
industri adalah memaksimalkan keuntungan (profit–
revenue maximation) dengan berbagai asumsi, Losch
mengemukakan bagaimana economic landscape terjadi,
yang merupakan keseimbangan (equillibrium) antara
supply dan demand. Oleh karena itu Losch merupakan
pendahulu dalam mengatur kegiatan ekonomi secara
spasial dan pelopor dalam teori ekonomi regional
modern.
» Teori ini dikemukakan oleh Perroux pada tahun 1955. Perroux
mengakui kenyataan bahwa pembangunan tidak terjadi dimana-
mana secara serentak, tetapi muncul ditempat-tempat tertentu
dengan intensitas yang berbeda. Tempat-tampat itulah yang
dinamakan titik-titik dan kutub-kutub pertumbuhan.
» Dari titik-titik dan kutub-kutub pertumbuhan itulah
pembangunan akan menyebar melalui berbagai saluran dan
mempunyai akibat akhir yang berlainan pada perekonomian
secara keseluruhan.
» Dalam memusatkan usaha pada sejumlah sektor dan tempat
yang kecil diharapkan pembangunan akan menjalar pad sektor
lain pada seluruh wilayah, dengan demikian sumber-sumber
material dan manusiawi yang digunakan dapat dimanfaatkan
lebih baik dan lebih efisien. Jadi pada dasarnya teori kutub
pertumbuhan menerangkan akibat dari sekelompok kesatuan-
kesatuan yang memimpin atau karena polarisasi.
» Teori Boudeville berusaha menjelaskan mengenai impak
pembangunan dari adanya kutub-kutub pembangunan yang
terlokalisasikan pada tata ruang geografis, sedangkan teori lokasi
berusaha untuk menerangkan dimana kutub-kutub pembagunan
fungsional berada atau dimana kutub-kutub dilokalisasikan pada
waktu yang akan dating. Jadi untuk menjelaskan persoalan-
persoalan kutub pembangunan harus ditunjang oleh teori-teori
lokasi. Di antara teori lokasi, teori tempat sentral di anggap
sebagai teori global yang menjelaskan mengenai ketergantungan
di antara kegiatan-kegiatan jasa sebagai akibat dari adanya
pembagian kerja sacara spatial.
» Teori Boudeville merupakan alat yang ampuh untuk menjelaskan
tidak hanya mengenai pengelompokan geografis semata-mata,
akan tetapi juga mengenai peristiwa-peristiwa geografis dan
transmisi pembangunan di antara pengelompokan-
pengelompokan yang bersangkutan.
Implikasi penting dari hubungan antara teori Boudeville dan
teori tempat sentral dalam konteks perencanaan dan
pengawasan pembangunan yang dihadapi oleh banyak negara
dan dapat dikemukakan dua persoalan yang relevan yaitu:
» (1) bagaimana merintis proses pembangunan di wilayah-
wilayah yang terbelakang secara terus menerus,
» (2) bagaimana mengarahkan proses urbanisasi sedemikian
rupa dapat diciptakan distribusi pusat-pusat kota secara
geografis yang mampu mendorong pembangunan
selanjutnya
» Persoalan pertama merupakan salah satu usaha
mengarahkan pengaruh-pengaruh pembangunan dari
instalasi-instalasi yang didirikan pada unit-unit diwilayah
terbelakang tersebut ketempat tertentu disekitarnya.
» Persoalan kedua pada dasarnya merupakan usaha pemilihan
lokasi yang tepat atau cocok untuk pendirian perusahaan-
perusaan industri dan jasa. Lokasi-lokasi tersebut merupakan
bagian-bagian dari kurub-kutub pembangunan.
» Walter Isard (1956) mengembangkan logika teori dasar Weber
dengan menempatkan teori tersebut dalam konteks analisis
substitusi sehingga menjadi alat peramal yang tangguh (robust)
namun sederhana.
» Pendekatan Isard menggunakan asumsi bahwa lokasi dapat terjadi
di titik-titik sepanjang garis yang menghubungkan sumber bahan
baku dengan pasar, jika bahan baku setempat adalah murni.
Sehingga terdapat dua variabel yaitu jarak dari pasar dan jarak
sumber bahan baku.
» Satu variabel dibuat tetap, hanyalah untuk mempermudah
pembuatan grafik dua dimensi. Penyelesaian masalah dalam
penentuan lokasi dapat dilihat secara bertahap melalui pasangan-
pasangan dua sudut dari segitiga tersebut. Titik biaya terendah
diperoleh dengan mengidentifikasikan titik di mana jarak tempuh
total adalah terendah di setiap pasangan garis transformasi
sehingga jarak parsial dapat digunakan untuk menentukan
beberapa substitusi lokasi yang paling rendah.
» Hirscman (1958), menyadari bahwa fungsi-fungsi ekonomi berbeda
tingkat intensitasnya pada tempat yang berbeda. Pertumbuhan
ekonomi diutamakan pada titik originalnya sebelum disebarkan ke
berbagai tempat lainnya. Ia menggunakan istilah Titik
Pertumbuhan (Growing Point) atau Pusat Pertumbuhan (Growing
Centre).
» Hirschman optimis dan percaya bahwa pengaruh trikling-down
akan mengatasi pengaruh polarisasi. Misalnya bila daerah
perkotaan berspesialisasi pada industri dan daerah perdesaan
berspesialisasi pada produksi primer, maka meluasnya permintaan
daerah perkotaan harus mendorong perkembangan daerah
perdesaan, tetapi apa yang terjadi tidak seperti yang diharapkan.
Pada khususnya ada kemungkinan besar bahwa elastisitas
penawaran jangka pendek di daerah perdesaan adalah sedimikian
rendah sehingga dasar pertukaran akan berubah merugikan daerah
perkotaan. Dalam jangka panjang penghematan-penghematan
ekstrnal dan tersedianya komplementaritas di pusat-pusat akan
menjamin penyebaran pembangunan ke daerah-daerah
disekitarnya.
» Jika pengaruh polarisasi lebih kuat dari pengeruh
penyebaran pembangunan maka akan timbul
masyarakat dualistik, yaitu selain memiliki ciri-ciri
daerah perkotaan modern juga memiliki daerah
perdesaan terbelakang
» Jika komplementaritas kuat akan terjadi proses
penyebaran pembangunan kedaerah-daerah
belakang (trikling down) dan sebaliknya jika
komplementaritas lemah akan terjadi pengaruh
polarisasi
» Efek polaritas disebabkan oleh “effect trickling
down”, ekuivalen dengan efek penyebaran dari
Myrdal. Effect trickling down meliputi tujuan
komoditi North yang diproduksi di South dan
gerakan modal keselatan, disamping North dapat
menarik tenaga selatan yang cukup untuk
menjamin meningkatnya produktivitas tenaga kerja
marjinal dan tingkat konsomsi perkapirta South.
Hischman bersikeras bahwa effect trickling down
hanya bisa terjadi bila di North membutuhkan
South untuk ekspansinya sendiri.
» Pengembangan dipandang sebagai proses inovasi yang diskontinyu tetapi komulatif
yang berasal pada sejumlah kecil pusat-pusat perubahan, yang terletak pada titik-titik
interaksi yang mempunyai potensi interaksi tertinggi. Pembangunan inovatif
cenderung menyebar ke bawah dan keluar dari pusat-pusat tersebut ke daarah-daerah
yang mempunyai potensi interaksi yang lebih rendah.
» Sehubungan dengan peranan daerah inti dalam pembangunan spasial, Friedmann
mengemukakan lima buah preposisi utama, yaitu sebagai berikut (Hasen, N.M ; 1972) :
1. Daerah inti mengatur keterhubungan dan ketergantungan daerah-
daerah di sekitarnya melalui sistem suplai, pasar, dan daerah
administrasi.
2. Daerah inti meneruskan secara sistematis dorongan-dorongan inovasi
kedaerah-daerah di sekitarnya yang terletak dalam wilayah pengaruhnya.
3. Sampai pada suatu titik tertentu pertumbuhan daerah inti cenderung
mempunyai pengaruh positif dalam proses pembangunan sistem spasial,
akan tetapi mungkin pula mempunyai pengaruh negatif jika
penyebaran pembangunan wilayah inti kepada daerah-daerah di
sekitarnya tidakberhasil ditingkatkan, sehingga keterhubungan dan
ketergantungan daerahdaerah di sekitarnya terhadap daerah inti
menjadi berkurang.
4. Dalam suatu sistem spasial, hirarki daerah-daerah inti ditetapkan
berdasar pada kedudukan fungsionalnya masing-masing meliputi
karateristikkarateristiknya secara terperinci dan prestasinya.
5. Kemungkinan inovasi akan ditingkatkan ke seluruh daerah sistem
spasial dengan cara mengembangkan pertukaran informasi.
» Friedmann dikembangkan klasifikasi daerah inti dan
daerah-daerah pinggiran menjadi daerah metropolitan
(metropolitan region), poros pembangunan
(development axes), daerah perbatasan (frontier
region), dan daerah tertekan (depressed region).
» Menurut Friedmann, kunci bagi pembangunan kawasan
agropolitan yang berhasil ialah memperlakukan tiap-
tiap kawasan sebagai satuan tunggal dan terintegrasi.
Kawasan agropolitan merupakan suatu konsep yang
tepat untuk membuat suatu kebijakan pembangunan
tata ruang melalui desentralisasi perencanaan dan
pengambilan keputusan. Friedmann telah
mengembangkan teori kutub pertumbuhan dalam
sistem pembangunan yang diselenggarakan
berdasarkan atas desentraslisasi yang terkonsentrasikan
(concentrated decentralization) atau sistem
dekonsentrasi (Friedmann dan Douglass, 1976).
» Poernomosidi Hadjisaroso (2011) mengemukakan bahwa
pengembangan wilayah dimungkinkan oleh adanya pertumbuhan
modal, yang bertumpu pada pengembangan SDM dan SDA-nya.
Pengembangan kedua jenis sumber daya tersebut berlangsung
sedemikian rupa sehingga menimbulkan arus barang. Arus barang
dianggapnya sebagai salah satu gejala ekonomi yang paling
menonjol.
» Berkembangnya Wilayah ditandai oleh terjadinya Pertumbuhan
atau perkembangan sebagai akibat berlangsungnya berbagai
kegiatan usaha , baik sector Pemerintah maupun sector Swasta,
yang pada dasarnya bertujuan untuk menigkatkan pemenuhan
kebutuhan. Berlangsungnya kegiatan usaha tersebut ditunjang dari
segi modal.
» Kriteria untuk menyatakan tingkat pertumbuhan di daerah adalah
tingkat kemudahan bagi masyarakat untuk mendapatkan
kebutuhan-kebutuhannya, baik kebutuhan hidup maupun
kebutuhan melakukan kegiatan usaha. Adapun bentuk
kemudahannya berupa kemudahan-kemudahan jasa distribusi.
Sedangkan kota-kota yang merupakan pusat kegiatan usaha
distribusi, disebut “simpul jasa distribusi” atau disingkat dengan
simpul.
» Hierarki setiap simpul ditentukan oleh
kedudukannya dalam hubungan fungsional
antar simpul berdasarkan mekanisme arus
distribusi barang. Fungsi primer simpul adalah
sebagai pusat pelayanan jasa distribusi bagi
wilayah pengembangan (eksternal), sementara
fungsi sekunder adalah bagi kehidupan
masyarakat di dalam simpul (internal). Antara
simpul-simpul dari tingkatan orde distribusi
sama maupun berbeda terdapat keterhubungan
dan ketergantungan.
»TERIMA KASIH