Anda di halaman 1dari 42

LAPORAN KASUS

PEDICULOSIS KAPITIS et KORPORIS


Pembimbing
dr. Sri Adila Nurainiwati, Sp. KK
dr. Dwi Nurwulan Pravitasari, Sp. KK

Disusun Oleh :
Putri Dery Cahyani (201620401011123)

SMF ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2018
DEFINISI

Pedikulosis  infeksi kulit/rambut pada manusia


yang disebabkan oleh Pediculus (tergolong famili
Pediculidae).
KLASIFIKASI

Pediculus humanus var. capitis


 pedikulosis kapitis

Pediculus humanus var


corporis  pedikulosis
korporis

Phthirus pubis  pedikulosis


pubis
EPIDEMIOLOGI

• Anak-anak antara usia 3 dan 12 tahun.


• Amerika Serikat  10–12 juta anak
• Indonesia  15% anak usia belajar
• lingkungan hidup yang padat  asrama dan panti
asuhan.
FAKTOR RISIKO

Usia muda, terutama pada kelompok umur 3-11 tahun

Jenis kelamin

Menggunakan tempat tidur atau bantal bersama

Menggunakan sisir atau aksesoris rambut secara bersama

Bentuk dan Panjang rambut

Frekuensi cuci rambut yang jarang

Tingkat sosial ekonomi yang rendah


ETIOLOGI

Pediculus humanus var. Capitis


PATOGENESIS
DIAGNOSIS
KLINIS

• Gejala utama  Gatal.


• Garukan  erosi, ekskoriasi, dan infeksi sekunder (pus, krusta),
disertai dengan pembesaran kelenjar getah bening regional
(oksiput dan retroaurikular).

PEMERIKSAAN LOKALIS

• Tampak krusta yang melekat pada rambut, dan beberapa rambut


bergabung menjadi satu. Ditemukan tuma kepala dan telur-telur
yang melekat pada rambut

PEMERIKSAAN PENUNJANG

• Mencari tuma kepala dan telurnya


GAMBARAN KLINIS

Pediculosis kapitis
TATALAKSANA

Malathion 0,5% gamma benzene benzil benzoat


atau 1% heksaklorida 1% 25%,
TATALAKSANA

• Pada keadaan infeksi sekunder yang berat sebaiknya


rambut dicukur, infeksi sekunder diobati dulu dengan
antibiotika sistemik misalnya penisilin dan eritromisin dan
topikal, lalu disusul dengan obat diatas dalam bentuk
shampo. Higiene merupakan syarat supaya tidak terjadi
residif
PENCEGAHAN

Menghindari adanya kontak langsung rambut dengan rambut

Tidak menggunakan pakaian secara bersamaan

Mencuci dan menjemur pakaian, perlengkapan tempat tidur,


karpet, dan lain-lain

Melakukan desinfeksi sisir dan sikat dari orang yang terinfestasi


dengan direndam di air panas selama 5-10 menit.

Menyapu dan membersihkan lantai dan perabotan rumah tangga


lainnya
KOMPLIKASI

Pada beberapa orang akan berkembang menjadi suatu infeksi


sekunder akibat garukan. Adanya infeksi sekunder yang berat
menyebabkan terbentuknya pustul dan abses
PROGNOSIS

Prognosis baik bila higine diperhatikan. Kegagalan terapi


disebabkan oleh penggunaan shampo yang tidak benar dan
reinfestasi parasit
EPIDEMIOLOGI

Dewasa >>  hygiene yang buruk.


Kutu tidak melekat pada kulit, tetapi pada serat kapas di
sela-sela lipatan pakaian dan hanya transien ke kulit
untuk menghisap darah. Penyebaran penyakit ini
bersifat kosmopolit, lebih sering pada daerah beriklim
dingin karena orang memakai baju yang tebal serta
jarang dicuci
CARA PENULARAN

Melalui pakaian

Pada orang yang dadanya berambut kutu ini


dapat melekat pada rambut tersebut dan dapat
ditularkan melalui kontak langsung
ETIOLOGI

Pediculus humanus var. corporis


PATOGENESIS

Kelainan kulit yang timbul disebabkan oleh garukan untuk


menghilangkan rasa gatal. Rasa gatal ini disebabkan oleh
pengaruh liur dan ekskreta dari kutu pada waktu menghisap
darah
DIAGNOSIS

KLINIS

• Bekas-bekas garukan pada badan, karena gatal baru berkurang


dengan garukan yang lebih intensif. Kadang-kadang timbul infeksi
sekunder dengan pembesaran kelenjar getah bening regional
• makula pada daerah badan, terutama di daerah di mana pakaian
lebih ketat, seperti ikat pinggang, pada pantat dan paha.

PEMERIKSAAN LOKALIS

• Papula-papula miliar disertai bekas garukan yang menyeluruh

PEMERIKSAAN PENUNJANG

• Mencari tuma dalam lipatan pakaian.


DIAGNOSIS BANDING

Diagnosis Banding
Pedikulosis.docx
TATALAKSANA

krim gameksan 1%
dioleskan tipis diseluruh tubuh
dan didiamkan 24 jam, setelah
itu penderita disuruh mandi.
Jika masih belum sembuh
diulangi 4 hari kemudian
BAB 2
LAPORAN KASUS
IDENTITAS PASIEN
• Nama : Ny. N
• Umur : 18 tahun
• Jenis Kelamin : Perempuan
• Agama : Islam
• Alamat : Diwek, Jombang
• Suku : Jawa
• Status : Sudah Menikah
• Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
• Pendidikan Terakhir : SD
• Tanggal Pemeriksaan : 19 Juli 2018
ANAMNESIS

Keluhan Utama
• Seluruh tubuh terasa gatal dan luka

Riwayat Penyakit Sekarang


• Pasien datang ke poli kulit RSUD jombang mengeluh seluruh tubuhnya
gatal dan menimbulkan luka sejak 3 bulan yang lalu. Awalnya gatal yang
dirasakan hilang timbul, 1 bulan terakhir gatal semakin memberat
akibatnya pasien sering menggaruk-garuk tubuhnya yang gatal, hingga
timbul luka akibat garukan dan beberapa luka bernanah dan
mengeluarkan darah, selain itu pasien juga merasa agak sulit untuk
menyisir rambutnya karena rambut pasien terasa kasar. Pasien mengaku
kalau menyisir rambutnya pasien sering menemukan kutu. Tidak ada
panas badan sebelumnya, Keluhan batuk pilek dan sakit menelan
disangkal. Tidak ada riwayat keluhan panas dan gatal setelah mencuci
pakaian.
ANAMNESIS

Riwayat Pengobatan
• Pasien tidak menggunakan / mengkonsumsi obat apapun

Riwayat Penyakit Dahulu


• Pasien tidak pernah menderita keluhan seperti ini sebelumnya.

Riwayat Penyakit Keluarga


• Pasien mengaku tidak ada anggota keluarga yang memiliki keluhan
yang sama seperti pasien
Riwayat Sosial
• Pasien mengaku jarang mencuci rambutnya, biasanya hanya
dilakukan 1 minggu sekali. Tidak ada hewan peliharaan.
• Selain itu pasien tinggal di daerah pondok pesantren.
PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum : Baik
Kesadaran/GCS : Compos mentis/ E4V5M6
Tekanan Darah : 110/70 mmHg
Nadi : 84x/ menit
RR : 20x/menit
Suhu : 36,0 oC

Status Generalis
Kepala : Normal
Leher : Pembesaran KGB -/-
Mata : Anemia -/-, ikterus -/-
THT : Dalam batas normal
Thorax : Cor: S1 S2 reguler, murmur (-)
Pulmo : Vesikuler +/+
Abdomen : Distensi (-)
Ekstremitas : Akral hangat, pitting edema (-/-)
STATUS DERMATOLOGI

• Terdapat krusta merah kehitaman bentuk bulat batas


tidak tegas disertai tuma et regio kapitis
• Terdapat nodul eritematosa bentuk tidak beraturan,
diameter 1-2 cm, meninggi dari permukaan kulit,
multiple disertai dengan adanya pustule, erosi,
ekskoriasi, dan krusta et regio brachii D/S, antebrachii
D/S, Manus D/S, Thorax Anterior et Posterior, Femur
D/S, Cruris D/S, Pedis D/S, Gluteus D/S.
FOTO KASUS
Pemeriksaan Penunjang
•Tidak dilakukan

Resume
•Ny. N, datang ke poli kulit RSUD jombang mengeluh seluruh
tubuhnya gatal dan menimbulkan luka sejak 3 bulan yang lalu.
Awalnya gatal yang dirasakan hilang timbul, 1 bulan terakhir gatal
semakin memberat akibatnya pasien sering menggaruk-garuk
tubuhnya yang gatal, hingga timbul luka akibat garukan dan
beberapa luka bernanah dan mengeluarkan darah, selain itu
pasien juga merasa agak sulit untuk menyisir rambutnya karena
rambut pasien terasa kasar. Pasien mengaku kalau menyisir
rambutnya pasien sering menemukan kutu. Pasien jarang
mencuci rambutnya, biasanya hanya dilakukan 1 minggu sekali.
Pasien tinggal di daerah pondok pesantren.
Diagnosis

•Pedikulosis Kapitis et Korporis

Diagnosis Banding

•Skabies
•Dermatitis Seboroik
•Impetigo Krustosa

Planning Pemeriksaan

•Mencari kutu kepala dan dalam lipatan pakaian


bersama telurnya
TATALAKSANA

• Cefadroxil 500 mg 2x1


• Loratadine 10 mg 2x1
• Fulladic Cream 2% ( pagi – malam)
EDUKASI

Menghindari adanya kontak langsung rambut dengan rambut

Tidak menggunakan pakaian secara bersamaan

Mencuci dan menjemur pakaian, perlengkapan tempat tidur,


karpet, dan lain-lain

Melakukan desinfeksi sisir dan sikat dari orang yang terinfestasi


dengan direndam di air panas selama 5-10 menit.

Menyapu dan membersihkan lantai dan perabotan rumah tangga


lainnya
PEMBAHASAN
IDENTITAS

Dari identitas pasien pada kasus ini berpengaruh terhadap kejadian


pedikulosis.
Hal ini sesuai dengan teori  kejadian pedikulosis hampir merata pada
semua umur.
Jenis kelamin perempuan lebih sering terkena.
Umur berhubungan erat dengan tingkat pengetahuan seseorang.
Tingginya kejadian pedikulosis  akibat pengaruh dari musim, status
sosio ekonomi, panjang rambut, lokasi tempat tinggal berada di desa atau
di kota, adanya edukasi dan kontrol sikap terhadap pedikulosis oleh
orang tua kebiasaan interaksi dengan hewan peliharaan juga dapat
menyebabkan pedikulosis.
ANAMNESIS

Seluruh tubuh terasa gatal dan Sesuai dengan literatur : anamnesis  gejala
menimbulkan luka sejak 3 bulan yang utama ialah rasa gatal.
lalu. Awalnya gatal yang dirasakan Rasa gatal  untuk menggaruk kepala.
Kebiasaan menggaruk  iritasi, luka, serta
hilang timbul, 1 bulan terakhir gatal
infeksi sekunder  erosi, ekskoriasi  pus dan
semakin memberat akibatnya pasien krusta.
sering menggaruk-garuk tubuhnya yang Gigitan dari tungau dapat menghasilkan kelainan
gatal, hingga timbul luka akibat garukan kulit berupa eritema, makula dan papula.
dan beberapa luka bernanah dan
mengeluarkan darah, selain itu merasa
agak sulit untuk menyisir rambutnya
karena rambut pasien terasa kasar.
Pasien mengaku kalau menyisir
rambutnya pasien sering menemukan
kutu
ANAMNESIS

Pasien merupakan seorang ibu


rumah tangga dan mengaku Sesuai dengan literatur  pedikulosis
jarang mencuci rambutnya, mempengaruhi semua lapisan masyarakat
biasanya hanya dilakukan 1 dan semua kelompok etnis.
Kondisi kebersihan yang tidak baik, tingkat
minggu sekali.
sosial ekonomi yang rendah merupakan
Pasien tinggal di daerah pondok risiko yang sering dikaitkan dengan
pesantren. terjadinya infestasi tungau, selain itu juga
Tidak ada hewan peliharaan. dikarenakan ketidakmampuan untuk
Pasien tidak menggunakan / mengobati infestasi secara efektif.
mengkonsumsi obat apapun.
STATUS DERMATOLOGIS

krusta merah kehitaman bentuk bulat


batas tidak tegas disertai tuma et regio
kapitis dan terdapat nodul eritematosa Sesuai literatur bahwa tampak krusta
bentuk tidak beraturan, batas tidak yang melekat pada rambut, dan
tegas dengan diameter 1-2 cm, beberapa rambut menjadi satu.
meninggi dari permukaan kulit, Ditemukan tuma kepala dan telur-telur
multiple disertai dengan adanya yang melekat pada rambut. Terdapat
pustule, erosi, ekskoriasi, dan krusta et papula-papula miliar disertai bekas
regio brachii D/S, antebrachii D/S, garukan yang menyeluruh.
manus D/S, Femur D/S, Cruris D/S,
Pedis D/S, Gluteus D/S.
PEMERIKSAAN PENUNJANG

Teori  pemeriksaan penunjang yaitu mencari


tuma kepala dan telurnya. Penemuan tungau
dewasa merupakan tanda bahwa sedang
mengalami infeksi aktif, tetapi tungau dewasa
Pemeriksaan penunjang tidak sangat sulit ditemukan karena dapat bergerak
dilakukan pada pasien ini. sekitar 6-30 cm permenit dan bersifat
menghindari cahaya. Sisir tungau dapat
membantu menemukan tungau dewasa maupun
nimfa dan merupakan metode yang lebih efektif
dari pada inspeksi visual.
DIAGNOSIS

Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik dapat diambil


diagnosis berupa Pedikulosis Kapitis et Korporis
TATALAKSANA

Cefadroxil 500 mg 2x1


Fulladic cream 2% dioleskan
• Teori Malathion 0,5% atau 1% dalam bentuk
pagi dan malam losio atau spray atau gamma benzene
heksaklorida 1%.
• Infeksi sekunder yang berat  antibiotika
sistemik misalnya penisilin dan eritromisin dan
Loratadine 10 mg diberikan topikal
sebagai antihistamin 
keluhan simptomatik (gatal)
Pada kasus ini diagnosis pasien yaitu Pedikulosis Kapitis et Korporis. Diagnosis ditegakkan
berdasarkan anamnesis dengan keluhan seluruh tubuh terasa gatal dan menimbulkan luka sejak
3 bulan yang lalu. Awalnya gatal yang dirasakan hilang timbul, 1 bulan terakhir gatal semakin
memberat akibatnya pasien sering menggaruk-garuk tubuhnya yang gatal, hingga timbul luka
akibat garukan dan beberapa luka bernanah dan mengeluarkan darah, selain itu merasa agak sulit
untuk menyisir rambutnya karena rambut pasien terasa kasar. Pasien mengaku kalau menyisir
rambutnya pasien sering menemukan kutu.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan pasien dalam batas normal. Pada status lokalis didapatkan
efloresensi berupa krusta merah kehitaman bentuk bulat batas tidak tegas disertai tuma et regio
kapitis dan terdapat nodul eritematosa bentuk tidak beraturan, batas tidak tegas dengan diameter
1-2 cm, meninggi dari permukaan kulit, multiple disertai dengan adanya pustule, erosi,
ekskoriasi, dan krusta et regio brachii D/S, antebrachii D/S, manus D/S, Femur D/S, Cruris D/S,
Pedis D/S, Gluteus D/S.
Pada kasus ini mendapat terapi Cefadroxil 500 mg 2x1, Loratadine 10 mg 2x1 selama 7 hari,
Fulladic Cream 2% ( dioleskan pagi dan malam). Selain terapi medikamentosa, pasien diberikan
edukasi tentang menghindari adanya kontak langsung rambut dengan rambut, tidak
menggunakan pakaian secara bersamaan, tidak menggunakan sisir, sikat, handuk secara
bersamaan, melakukan desinfeksi sisir dan sikat dari orang yang terinfestasi dengan direndam di
air panas sekitar selama 5-10 menit, mencuci dan menjemur pakaian, perlengkapan tempat tidur,
karpet, menyapu dan membersihkan lantai dan perabotan rumah tangga lainnya.
Prognosis pada pasien ini adalah baik karena pada kasus ini tidak didapatkan komplikasi atau
faktor lain yang memperberat derajat penyakit.
TERIMA KASIH