Anda di halaman 1dari 21

SISTEM PELAYANAN KESEHATAN &

KEBIJAKAN ERA OTONOMI DAERAH

Dr.IRSYAD HERMINOFA
2018
 Isu Desentralisasi di Indonesia dimulai pasca reformasi sekitar
tahun 1999-2000. Hal itu ditandai dengan lahirnya UU No. 32
Tahun 2004.
 Lahirnya UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
membawa angin baru bagi pemerintahan di Indonesia dari
sentralistik menjadi desentralisasi.
 Dengan Des-Kes pemerintah daerah diberikan wewenang
untuk mengatur sektor sistem kesehatan di daerah.
 Dalam prosesnya, pemerintah daerah sangat tergantung pada
beberapa faktor, yaitu dukungan pembiayaan, kerja sama
lintas sektor, dll dalam menyukseskan sistem kesehatan di
daerahnya.
DESENTRALISASI DALAM
SISTEM KESEHATAN
Dukungan dana
Undang-undang khusus Dukungan SDM

PROGRAM PEMERINTAH DAERAH


(SISTEM KESEHATAAN DAERAH)

Dukungan DPRD Kerjasama Lintas Sektor


DEFINISI

Secara umum : sebagai pemindahan kewenangan atau


pembagian kekuasaan dalam perencanaan pemerintahan,
manajemen, dan pengambilan keputusan dari tingkat nasional
ke tingkat daerah (Rondinelli, “Decentralization in Developing
Countries”, 1983)
PERUBAHAN PARADIGMA PEMBANGUNAN
KESEHATAN DALAM KERANGKA
DESENTRALISASI (SIAGIAN, 2002)
Paradigma Lama Paradigma Baru

 Program dan Kebijakan Bottom-up


yang top down
 Mentalitas nrimo Mentalitas proaktif
 Meninabobokan potensi Pemberdayaan sumber daya
lokal lokal
 Pembangunan Kesehatan Pembangunan Kesehatan
berbasis Pemerintah berbasis Masyarakat
 Sistem purnabayar Sistem prabayar pelayanan
pelayanan kesehatan kesehatan
 Pembangunan Kesehatan Pembangunan Kesehatan
Sektoral Multisektor
EMPAT BENTUK DESENTRALISASI (MILLS
DKK, 1990)

Dekonsentrasi : pemindahan sebagian kewenangan dari pemerintah


pusat ke kantor-kantor daerah secara administratif. Kantor-kantor
daerah tersebut mempunyai tugas-tugas administratif yang jelas dan
derajat kewenangan tersendiri, tetapi mereka mempunyai tanggung
jawab utama ke pemerintah pusat.
Devolusi : kebijakan untuk membentuk atau memperkuat pemerintah
daerah yang dalam beberapa fungsi benar-benar independen dari
pemerintah pusat, misal pencarian sumber daya.
LANJUTAN...
Delegasi : pemindahan tanggung jawab manajerial untuk tugas-tugas
tertentu ke organisasi-organisasi yang berada di luar struktur
pemerintah pusat dan pelaksanaannya secara tidak langsung dikontrol
oleh pemerintah pusat, misal pengadaan dokter PTT yang merupakan
kebijakan pemerintah pusat (termasuk penggajian), sedangkan
pengelolaannya/penugasan merupakan wewenang Pemda melalui
Dinas Kesehatan.
Privatisasi : pemindahan tugas-tugas pengelolaan atau fungsi
kepemerintahan ke organisasi-organisasi sukarelawan atau perusahaan
swasta for profit maupun nonprofit.
DELAPAN KEBIJAKAN DESENTRALISASI
BIDANG KESEHATAN
 Dilaksanakan dengan memperhatikan aspek demokrasi,
pemerataan, potensi dan keanekaragaman daerah.
 Didasarkan : otonomi luas, nyata, bertanggung jawab
 Des-Kes luas dan utuh di Kabupaten dan Kota
 Pelaksanaannya sesuai dengan konstitusi negara, sehingga
tetap terjamin hub serasi antara pusat dan daerah serta antar
daerah
 Des-Kes : meningkatkan kemandirian daerah otonom.
Pemerintah pusat memfasilitasi.
 Meningkatkan peran dan fungsi badan legislatif daerah. Dalam
hal fungsi legislasi, pengawasan, anggaran
 Dekonsentrasi kesehatan diletakkan di provinsi sebagai
pelengkap Des-Kes
 Pendukung Des-Kes melaksanakan tugas pembantuan,
khususnya penanggulangan KLB, bencana, masalah kegawat
daruratan kesehatan lainnya
Kebijakan
Harapan 15 tahun yang lalu
Desentralisasi
Dalam bentuk
berbagai peraturan Menghasilkan
hukum peningkatan

Status Kesehatan
Input Lembaga Masyarakat

Pemerintah
Masyarakat dan
Swasta

Faktor-faktor lain
APA KENYATAANNYA?

 Kematian ibu dan bayi serta penyakit AIDS tidak


mendapat manfaat dari kebijakan desentralisasi
 Pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional ada
kemungkinan memperburuk ketidak adilan
geografis.

 Mengapa?
15 tahun desentralisasi tidak berhasil
menyeimbangkan fasilitas kesehatan dan sumber
daya kesehatan antar propinsi/kabupaten
Sumber: Kemendagri (2015)
Lingkungan Lingkungan Sosial- Lingkungan
Ekonomi Agama-Budaya Politik & Hukum

Kepemimpinan
& Kebijakan
Kesehatan

Upaya
SDM
Kesehatan
Kesehatan
Manajemen
Penelitian
& Informasi
Pengembangan
Sediaan Kesehatan
Farmasi,
Alat Kesehatan Pemberdayaan
dan Makanan Masyarakat
Pembiayaan
Kesehatan

Lingkungan Lingkungan
Fisik - Biologi IPTEKKES
Empat urusan kesehatan yang diserahkan kepada daerah:
1. Upaya Kesehatan:
a. Pengelolaan UKP Daerah Kab/Kota dan rujukan tingkat Daerah Kab/Kota
b. Pengelolaan UKM Daerah Kab/Kota dan rujukan tingkat Daerah Kab/Kota
c. Penerbitan izin RS Kelas C dan D dan fasilitas kesehatan tingkat daerah
2. Sumberdaya Manusia Kesehatan:
a. Penerbitan izin praktik dan izin kerja tenaga kesehatan
b. Perencanaan dan pengembangan SDM kesehatan untuk UKM dan UKP daerah
3. Sediaan farmasi, alkes dan makanan minuman
a. Penerbitan izin apotek, toko obat, toko alat kesehatan dan optikal
b. Penerbitan izin usaha mikro obat tradisional (UMOT)
c. Penerbitan sertifikat produksi alat kesehatan kelas 1 (satu) tertentu dan PKRT
kelas 1 (satu) tertentu perusahaan rumah tangga
d. Penerbitan izin produksi makanan dan minuman pada industry rumah tangga
e. Pengawan post market produk makanan minuman industri rumah tangga
4. Pemberdayaan masyarakat
Pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan melalui tokoh kabupaten/kota,
kelompok masyarakat, organisasi swadaya masyarakat dan dunia usaha tingkat
kabupaten/kota
Sebagai pemberi dana
Pemerintah dan pelaksana.
MASYARAKAT
Sebagai regulator,
pemberi dana dan
pelaksana.
Usaha

Profit dan Non-profit. Milik Pemerintah-Swasta


Sebagai pelaksana.

15
Beberapa Implikasi Penting UU No. 23 Tahun 2014 dan PP No. 18
Tahun 2016 dalam Tata Kelola Sektor Kesehatan
• TERHADAP RS:
• Pasal 209 UU No. 23 Tahun 2014: tak ada lagi nomenklatur RS
• Pasal 21 (Provinsi) & Pasal 43 (Kab/Kota) PP No. 18 Tahun 2016 : RS
sebagai UPT Dinas Kesehatan

• HUBUNGAN PUSAT DAN KABUPATEN


• Mempengaruhi Sistem Kesehatan Kabupaten
• Mempengaruhi Rencana Strategis: sejak dari misi sampai program.
LAMPIRAN UU NO. 23 TAHUN 2014

Menempatkan DInas Kesehatan


sebagai pemberi ijin dan
pengawas  RSD sebagai unit
Menempatkan berbagai lembaga pelaksana teknis
pemerintah sebagai unit
pelayanan:

Fungsi “Pembuat” Regulasi tidak dikonkurenkan


(berada di pusat)
 Dinkes: “pelaksana” regulasi; bukan “pembuat”
regulasi 18
ASPEK FILOSOFI DAN
SOSIOLOGIS
Filosofi: Mengapa?
sektor kesehatan membutuhkan  karena adanya kemungkinan
penetap kebijakan/regulator yang lembaga pelayanan
kuat kesehatan (operator) tidak
baik mutunya dan tidak safe.
 Masyarakat harus dilindungi
oleh sistem regulasi yang
kuat
FUNGSI MELINDUNGI MASYARAKAT DI
SEKTOR KESEHATAN:
 Lembaga pelayanan kesehatan yang bermutu rendah;
Dari apa?
 Tenaga Kedokteran dan Kesehatan yang tidak kompeten;
 Pelayanan kesehatan tradisional dan alternatif yang
tidak dapat dipertanggung-jawabkan;
 Jaminan kesehatan yang tidak bermutu dan banyak
fraud;
 Bisnis obat yang buruk;
 Salon kecantikan dan pelangsingan tubuh yang tidak
jelas manfaatnya
 Penjualan makanan dan minuman yang buruk;
Dalam Konteks Rumah
sakit
Pemerintah
MASYARAKAT
Sebagai yang dilayani.
Dinas Kesehatan sebagai
perumpunan Dinas yang
berfungsi sebagai regulator
(pemberi perijinan), pemberi Usaha
dana dan pelaksana.

RS Daerah sebagai UPT Dinas, menggunakan sistem


keuangan BLU. Harus punya ijin
Sebagai pelaksana.
21

Anda mungkin juga menyukai