Anda di halaman 1dari 27

Angkatan XXI

Pembimbing :
Dr. drg. David Buntoro Kamadjaja, MDS., Sp.BM
KATETERISASI
 Pemasangan kateter diindikasikan
untuk pasien yang tidak dapat buang
air kecil menggunakan kamar mandi
maupun pispot dan apabila diperlukan
pengukuran hasil urin secara akurat.
 Kateter Urin adalah sebuah alat
berupa selang yang dimasukkan ke
dalam kandung kemih melalui uretra
yang memungkinkan penyaluran urin
ke luar.
Diagnostik
 Spesimen urin yang tidak terkontaminasi (wanita)
 Monitoring urin output
 Pencitraan traktus urinarius (sistouretrografi)
Terapi
 Obstruksi intra vesikal (prostat, koagulasi, striktur, inflamasi)
 Drainage buli pada bedah traktus urinarius bawah
 Kateterisasi buli intermiten pada pasien dengan neurogenic
bladder dysfunction
 Sebagai stent post op anastomosis
 Induksi persalinan (pematangan serviks)
 Cedera pada uretra :
pastikan dengan uretrografi retrograde
pada kasus trauma pelvis

 Kontraindikasi relatif lain:


striktur uretra,
riwayat operasi uretra atau buli-buli,
pasien tidak kooperatif.
 Skala French (Fr) (ukuran lingkaran dalam
millimeter).
 1 Fr = 0.33 mm dalam diameter.
 Kateter no 18 Fr diameternya adalah 6 mm.
Berdasarkan ukuran keliling luarnya, bukan
diameter lumen.
 Perlu diingat: ukuran diameter ≠ ukuran lumen
 Kateter tanpa balon (seperti Malecot) > kateter
dengan balon dengan ukuran diameter yang sama.
 Kateter two way > daripada kateter three way
dengan ukuran diameter yang sama
•Gambar A-C, biasanya disebut kateter
Robinson
•Kateter sekali pakai (straight catheterization).
•Tersedia lubang multiple,
•Untuk wanita tersedia kateter yang lebih
pendek
JENIS KATETER

•Coudé catheters, (gambar D),


•dibuat khusus untuk pembesaran prostat
(lengkung anatomis dan elevasi leher buli-
buli)
JENIS KATETER

•Self retaining (gambar E-G), kateter Pezzer dan


Malecot
• Setelah dipasang pada operasi terbuka, kateter
tetap terpasang karena berongga.
•Keuntungan : drainase dengan menggunakan
lumen tunggal (tanpa balon), sehingga cocok
untuk sistostomi atau nefrostomi.
JENIS KATETER

•Kateter foley (gambar H-I) untuk penggunakan jangka


panjang.
•Mekanisme balon pada ujung distalnya.
•Kateter two way (untuk balon dan lubang besar untuk
drainase urin).
•Kateter three way (untuk menggembungkan balon,
satu lubang untuk memasukkan cairan irigasi, dan
lubang besar untuk drainase urin)
Folley catheter
 Uretra pria relatif terfiksir
pada diafragma urogenital
 Traksi ke bawah pada penis
akan melipat uretra
 Uretra normal + 20 cm dari
OUE ke bladder neck
 Uretra posterior pars
prostatica sepanjang + 3,5
cm
 Diafragma urogenital
(external sphincter) – uretra
pars membranasea berada 4
cm dari bladder neck
 Jelaskan prosedur, keuntungan, resiko, komplikasi
dan alternatif kepada pasien atau keluarga pasien
 Pasien dalam posisi supine di tempat tidur dengan
daerah genitalia terbuka
 Buka peralatan dan tempatkan di atas duk steril
 Topical anestesi dengan penggunaan lidocaine gel
2%.
 Untuk memasukkan, pegang penis dan tarik,
tempatkan ujung sediaan pada meatus, dan secara
gentle berikan tekanan kontinyu pada sediaan
 Urin inisial maksimal dibuang 750 cc. Di klem,
tunggu 20-30 menit.(mencegah syok)
 Selang kateter jangan sampai terlipat di bawah
tungkai pasien
 Kateter difiksasi di daerah tungkai bawah, atau di
daerah perut.
 Kemungkinan penis ereksi, sisakan bbrp cm
sebelum difiksasi.
 Perawatan harian menggunakan air dan sabun
 Perawatan setelah buang air besar
PERAWATAN SELANJUTNYA
 Salep antibiotik tidak digunakan lagi
 Kantung urin dapat dibersihkan atau diganti.
Gunakan cairan klorin, atau cuka dan air (2:3).
Dikeringkan 20 menit.
 Perawatan kateter lurus. Gunakan larutan
atiseptik seperti betadin. Kateter Robinson (karet)
harus direbus tiap hari, atau dibersihkan dengan
larutan asam cuka.
Pada BPH
 hambatan kira-kira terjadi setelah kateter masuk 16-20 cm.

 Gunakan coude kateter atau kateter nomor besar (20-24 Fr)

 Kateter ukuran kecil mempunyai kecenderungan tertekuk.

 Pada pasien fimosis berat atau stenosis meatus, bila kateter


tidak dapat masuk diperlukan konsul urologis.

Resiko pemasangan kateter, hal-hal yang dapat terjadi:


 Balon bisa pecah, bila hal ini terjadi kateter harus diganti

 Balon tidak bisa mengembang

 Urin tidak mengalir. Periksa posisi kateter dan kantung urin,


kemungkinan obstruksi atau kink.
ISK
 Kateter meningkatkan morbiditas dan mortalitas

 Resiko tinggi adalah usia tua, diabetes mellitus,


gangguan ginjal, dan penyakit yang mengancam
nyawa.
 Pencegahan: menghindari pamasangan kateter
dan pelepasan secepat mungkin.
 Penggunaan antibiotic profilaksis tidak ada
gunanya dan meningkatkan pertumbuhan
resistensi kuman.
 Komplikasi lain termasik parafimosis dan trauma
buli-buli dan ureter
Terima Kasih