Anda di halaman 1dari 43

Hati dan Kandung Empedu

• Terbentuk pada pertengahan minggu ke tiga sebagai epitel


entoderm pada ujung distal fore gut.
• Pertumbuhan ini dikenal sebagi diverticulum hepatis (tunas
hati)
• Tunas hati terdiri atas berkas-berkas sel yang berproliferasi
dengan cepat dan menempus septum transversum yaitu
lempeng mesoderm.
• Sementara sel-sel hati menembus septum transversum,
hubungan tunas hati dan duodenum menyempit. Dengan
ini terbentuk saluran empedu.
• Dari saluran empedu, terbentuk tonjolan ke ventral yang
menghasilkan kandung empedu dan ductus cysticus.
Hati dan Kandung Empedu
• Selama perkembangan sel epitel hati bercampur
baur dengan v.vitelinae dan v.umbilicus untuk
membentuk sinusoid hati.
• Tali-tali hati berdiferensiasi menjadi jaringan
parenkim hati dan jaringan yang melapisi ductus
biliaris
• Sel-sel hemopoitik, sel-sel kuppfer dan sel-sel
jaringan penyambung berasal dari mesoderm
septum transfersum.
Hubungan hati dan peritonium
• Akibat pertumbuhan cepat yang terus berlangsung, hati
menjadi terlalu besar bagi septum transversum dan
berangsur-angsur menonjol kedalam rongga perut.
• Mesoderm septum transversum antara dinding ventral
perut dan hati menjadi teregang dan sangat tipis dan
membentuk ligamentum falciforme hepatis
• Mesoderm septum transversum antara hati dan fore gut
akan meregang dan membentuk selaput omentum
minus (ligamentum gastrohepaticum dan ligamentum
hepatoduodenale)
• Pada tepi bebas omentum minus terdapat :
– Saluran empedu
– Vena prota
– Arteri hepatica
Hubungan hati dan peritonium
• Mesoderm pada permukaan hati berdiferensiasi
menjadi peritonium viscerale, kecuali pada
permukaan atasnya. Pada daerah ini, hati tetap
berhubungan dengan sisa septum transversum.
• Bagian septum ini terdiri atas gumpalan
mesoderm yang padat dan membentuk pars
tendinosa diafragma.
• Permukaan hati yang berhubungan dengan
diafragma dan tidak pernah diliputi peritonium
dikenal dengan pars afixa hepatis atau bare area
of the liver
Fungsi Hati dalam Janin
• Pada minggu 10 berat hati ± 10% dari berat
badan seluruhnya. Hal ini disebabkan karena:
– Sejumlah besar Sinusoid
– Fungsi hemopoetik
• Diantara sel hati dan dinding pembuluh darah
ditemukan sarang-sarang sel yang menghasilkan
sel darah merah dan putih.
• Kegiatan ini berangsur-angsur berkurang dalam 2
bulan terakhir kehidupan dalam rahim.
• Pada saat lahir hanya pulau-pulau kecil pembentuk
darah yang tertinggal. Pada saat ini berat hati ±
5% dari berat badan seluruhnya
• Fungsi hati yang penting lainnya dimulai pada
minggu ke 12 yaitu dibentuknya empedu oleh sel-
sel hati.
Fungsi Hati dalam Janin
• Pada saat ini, kandung empedu dan ductus
cysticus telah berkembang. Ductus cysticus
bersatu dengan ductus hepaticus membentuk
ductus choledochus.
• Akibatnya empedu dapat memasuki saluran
pencernaan, sehingga isi saluran pencernaan
berwarna hijau gelap.
• Karena perubahan kedudukan duedenum, muara
ductus choledochus berangsur-angsur bergeser
dari depan ke belakang.
• Akibatnya ductus choledochus menghilang
dibelakang duodenum.
Kelainan Kongenital
1. Atresia kandung empedu
• Pada mulanya kandung empedu merupakan
alat yang berongga. Akibat proliferasi epitel
yang melapisinya, kandung ini menjadi
padat untuk sementara waktu. Kemudian
terjadi rekanalisasi epitel, sehingga rongga
tetapnya terbentuk. Bila rekanalisasi tidak
terjadi, kandung empedu tetap
Kelainan Kongenital
2. Atresia saluran empedu.
• Saluran didalam dan luar hati juga
mengalami perpadatan. Bila rekanalisasi tak
terjadi akan terbentuk atresia. Biasanya
hanya terbatas pada hanya sebagian kecil
ductus choledochus. Kandung empedu dan
ductus hepaticus proximal terhadap atresia
sangat melebar.
• Anak lahir akan tampak kuning yang tambah
lama tambah parah.
Kelainan Kongenital
3. Bentuk ganda vesica felea.
Kelainan Kongenital
4. Pembelahan sebagian vesica felea
5. Diverticula pada kandung empedu.
Pancreas
• Dibentuk oleh:
– Tunas pancreas dorsal
– Tunas pancreas ventral
Yang berasal dari epitel entoderm duodenum
• Tunas pancreas dorsal terletak didalam mesenterium
dorsale, sedang tunas pancreas dorsal berhubungan
erat dengan ductus choledochus.
• Ketika duodenum berputar ke kanan dan
membentuk huruf C, tunas pancreas ventral
bergeser ke dorsal seperti ductus choledochus
bergeser ke dorsal.
• Akhirnya tunas pancreas ventral berada tepat
dibawah dan dibelakang tunas pancreas dorsal.
Pancreas
• Kemudian parenkhim maupun saluran tunas
pancreas dorsal dan ventral bersatu.
• Tunas ventral membentuk processus uncinatus
dan bagian bawah caput pancreas.
• Bagian kelenjar lainnya berasal dari tunas dorsal.
• Ductus pancreaticus mayor (Wirsungi) terbentuk
dari bagian distal saluran pancreas dorsal dan
seluruh saluran pancreas ventral.
• Bagian proximal saluran pancreas dorsal menutup
atau sebagai saluran kecil:
– Ductus pancreaticus accesorius (santorini)
Pancreas
• Ductus pancreaticus mayor bersama-sama
dengan ductus choledochus bermuara di
papila duodeni mayor.
• Ductus pancreaticus accesorius bermuara
pada papila duodeni minor.
• 10 % dari kasus kedua saluran gagal
bersatu dan susunan ganda tetap
dipertahankan.
Pancreas
• Pulau-pulau langerhans.
• Berkembang dari jaringan parenchim
pancreas pada ketiga kehidupan janin.
• Tersebar diseluruh kelenjar.
• Sekresi insulin dimulai ± bulan ke-5.
• Kadar insulin janin tidak tergantung pada
kadar insulin ibunya.
METABOLISME PORFIRIN
dan PIGMEN EMPEDU
B’asal dr siklus asam
sitrat di mitokondria
Piridoksal fosfat u/ mengaktifkan
Suksinil KoA + Glisin
ALA Sintase

αAmino βketoadipat ALA Sintase δaminolevulinat (ALA)

ALA Sintase
2 molekul ALA Porfobilinogen
4 molekul Porfobilinogen
Uroporfirinogen I sintase
Hidroksimetilbilana (tetrapirol linear)

Siklisasi spontan Uroporfirinogen III sintase Uroporfirin III

Uroporfirinogen tipe I Uroporfirinogen tipe III Koproporfirin III

Uroporfirin I *Koproporfirinogen tipe III


Uroporfirinogen
Uroporfirinogen dekarboksilase koproporfirinogen oksidase
dekarboksilase
Koproporfirinogen tipe I
Protoporfirinogen tipe III
Protoporfirinogen oksidase
Koproporfirin I
Protoporfirin tipe III
Fe 2+ Ferokelatase
*Heme
Bilirubin IX - α
Biliverdin reductase protein (hemoprotein)
Biliverdin IX - α
* * di mitokondria
RES: Hb  Bilirubin + Fe + Globin

DARAH : Bilirubin – Albumin

HATI : Bilirubin + 2 UDP Glukuronat GINJAL


Glukuronil Transferase ±1%
Bilirubin Diglukuronida URIN

SALURAN EMPEDU: Bilirubin Diglukuronida


VENA
USUS: Bililirubin Diglukuronida PORTA

Bakteri Usus
Urobilinogen
90%
FESES: Stercobilinogen & Stercobilin
Empedu =
•Organik (garam empedu,
kolestrol, lesitin, bilirubin)  dari
hepatosit
•anorganik (air, NaHCO3, garam
anorganik)  dari sel duktus

Siklus Enterohepatik =
Setelah selesai  abs dg mek.
Transportasi aktif khusus pada
ileum terminal  v. porta hepatika
 hati  re-sekresi

5% empedu lolos  tinja

Kandung Empedu =
• Sekresi empedu terus menerus
 disimpan  transportasi aktif
garam  diikuti air  pekat 5-10x
lipat
• CCK  kontraksi v.felea &
relaksasi sphincter oddi
Ikterus fisiologi & patologi
LO 2
Definisi
• Ikterus: deskolorasi kuning pada kulit,
membran mukosa, dan sklera akibat
peningkatan kadar bilirubin dalam darah
• Ikterus pada neonatus  bilirubin >5mg/dl
Mekanisme Pembentukan
Bilirubin
SUMBER HB : - Penghancuran/pemecahan sel darah
merah
- Proses eritropoesis tidak efektif
- Protein Heme (mis: Sitokrom P450) HEPAR
Berikatan dgn protein sitosol (ligandin & Protein Y)
RETIKULOENDOTELIA

untuk
Hemoglobin
- tetap larut sebelum dikonjugasi
- mencegah aliran balik ke darah
Heme
Konjugasi : Donor glukoronat : UDP glukosa
SISTEM

L SEL

heme
UDP-glukosa
oxygenase
dehidrogenas
Biliverdin (1) UDP glukosa e UDP-as. Glukoronat
biliverdin UDP-
reduktas glukoronosil
transferase
(2) UDP-as glukoronat Bilirubin monoglukoronida
e
Bilirubin +Bilirubin UDP- +UDP
glukoronosil
DARA (3) UDP-as.glukoronattransferase Bilirubin diglukorida
Bilirubin + +Bilirubin monoglukorida +UDP
H
Albumin Sekresi : transport

BLADD
GALL
Feses Urobilinogen Bilirubin aktif

ER
(90%) Protein (MRP2 atau
diglukorida INTESTIN MOAT)
Patogenesis Jaundice

Kegagalan Hati, Produksi


Pembentukan Bilirubin >>, bilirubin N
kemampuan hati N Obstruksi saluran eksresi
hati (hambat eksresi bilier)

Bilirubin >> dalam darah

Difusi ke jaringan

JAUNDICE
IKTERUS NEONATORUM
IKTERUS FISIOLOGIS :
Mekanisme Penyebab
Peningkatan bilirubin :
peningkatan produksi bilirubin Peningkatan jumlah eritrosit
Penurunan umur hidup eritrosit
Peningkatan early bilirubin

peningkatan sirkulasi Proses konjugasi yg inefektif


enterohepatik Flora normal usus yg sedikit
Gangguan motilitas usus

Penurunan bersihan bilirubin : Defisiensi protein karier


penurunan bersihan dari
plasma Penurunan aktivitas Glukoronil-
transferase
penurunan metabolisme hepatik
PEMILIHAN TERAPI BERDASARKAN
KADAR BILIRUBIN
KLASIFIKASI
• Ikterus prahepatik
Hemolisis sel darah merah berlebihan 
kapasitas sel hati melakukan konjugasi
terbatas  bilirubin indirect meningkat 
bilirubin direct juga meningkat dan segera
diekskresikan dalam saluran pencernaan
 kadar urobilinogen di tinja tinggi

E/ : kelainan eritrosit, infeksi, toksin (obat)


• Ikterus hepatik
Kerusakan sel hati menyebabkan konjugasi
bilirubin terganggu
• Ikterus pascahepatik
Obstruksi di saluran empedu menyebabkan
peninggian bilirubin konjugasi  bilirubin
mengalami regurgitasi ke sel hati  ke darah 
masuk ke ginjal  diekskresi oleh ginjal 
bilirubin dalam urin.
Obstruksi  pengeluaran ke saluran pencernaan
berkurang  tinja berwarna dempul.
Penimbunan bilirubin direct  kulit dan sklera
berwarna kuning kehijauan, terasa gatal.
Ikterus fisiologis
Epidemiologi :
• timbul pada hari ke 2-3
• Bayi yang prematur : durasi lebih lama

Patofisiologi :
• Peningkatan hematokrit dan penurunan umur
RBC
• Sistem enzim glucuronyl transferase yang
immature (konjugasi bilirubin yang lambat)
• Peningkatan sirkulasi enterohepatik
• Breastfeeding jaundice
– Karena kurangnya produksi ASI

• Breast milk jaundice


– Ditemukannya inhibitor glucuronyl transferase
dalam ASI
– Onset pada hari ke7, puncaknya pada minggu ke2-
3
Ikterus patologik
• Ikterus terjadi < 24 jam pertama setelah lahir
• Peningkatan kadar bilirubin serum sebanyak 5
mg % atau lebih setiap 24 jam
• Ikterus persisten setelah bayi berusia kurang
dari 8 hari atau 14 hari
Pemeriksaan
Unconjugated hyperbilirubinemia :
• Hemolytic work-up : CBC, reticulocyte
count, blood group (mother and infant),
peripheral blood smear, Coombs test,
bilirubin (conjugated, unconjugated)
• If baby is unwell or has fever : septic work-
up (CBC and differential, blood and urine
cultures)
• Other : G6PD screen, TSH
Conjugated hyperbilirubinemia :
• Consider liver enzymes (AST, ALT), coagulation
studies (PT, PTT), serum albumin, ammonia,
TSH, TORCH screen, septic work-up,
galactosemia screen (erythrocyte galactose-1-
phosphate uridyltransferase levels), metabolic
screen, abdominal U/S, HIDA scan, sweat
chloride