Anda di halaman 1dari 102

CASE REPORT SESSION

MOLA HIDATIDOSA

Presentan:
Reva Anggarina Japar
Muhammad Rizal Aulia

Preseptor:
dr. Nuniek Kharismawati,Sp.OG
IDENTITAS PASIEN

Nama Pasien : Ny. RN


Umur : 18 tahun
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT
Agama : Islam
Alamat : Kampung Cinagrek
Masuk RS : 10 Nov 2018
Pemeriksaan : 10 Nov 2018

Nama Suami : Tn I
Umur : 21 tahun
Pendidikan : SMA
Pekerjaan :Wirausahawan
Agama : Islam
ANAMNESIS
Keluhan Utama : Perdarahan
Anamnesis Tambahan :
Pasien G2P1A0 merasa hamil 3 bulan datang ke Poli Obstetrik
RSUD AL-IHSAN dengan keluhan perdarahan. Pasien mengatakan 4
hari SMRS terdapat flek darah pada celana dalam. 1 hari SMRS
darah keluar lebih banyak pasien mengatakan menggunakan 3
pembalut dalam sehari, namun tidak sampai penuh. Keluhan
disertai dengan mulas-mulas yang muncul kadang-kadang. mual
namun tidak muntah, pusing.
Pasien pernah melihat keluar nya gelembung bening seperti
mata ikan yang keluar dari jalan lahir pada pembalut. BAB normal,
dan BAK normal
Pasien menyangkal memiliki Darah Tinggi, Asma dan Alergi obat
Riwayat Pengobatan
Untuk keluhan saat ini pasien telah
berobat ke dr. Nuniek Kharismawati SpOG dan
di diagnosis Blighted Ovum atau Anembryonic
Gestational
Riwayat Penyakit Sebelumnya
Anemia, transfusi (-), di rawat di RS (-)
RIWAYAT KELUARGA
Ayah pasien menderita Asma
RIWAYAT MENSTRAUSI
• HPHT : 20 Agustus 2018
• Siklus haid : teratur
• Banyaknya darah : 2-3x ganti pembalut/hari
• Nyeri haid : tidak ada
• Lama haid : 7-8 hari
• Menarch : 11 tahun
RIWAYAT PERNIKAHAN
• Menikah : pertama kali
• Istri awal menikah : 15 tahun
• Suami awal menikah : 19 tahun
• Lama Menikah : 3 tahun
RIWAYAT KONTRASEPSI
• KB Suntik 3 bulan
• Sejak :
november 2016 – oktober 2017
• Alasan berhenti :
ingin memiliki anak lagi
RIWAYAT OBSTETRI

Kehamilan Tempat Penolong Persalinan BBL/ PB JK H/M / Tahun

1 BPM BIDAN Spontant/ 3,2 kg/ Pr H/ 2016


Pervaginam 49 cm

2 Hamil ini

9
PEMERIKSAAN FISIK
• Keadaan umum : Baik
• Kesadaran : Compos Mentis
• Tanda vital :
- Tekanan darah : 110/70 mmHg
- Nadi : 64 kali / menit
- Respirasi : 20 kali / menit,
- Suhu : 36,9O C
- Berat badan sebelum hamil : 48 kg
- Berat badan setelah hamil : 44 kg
- Tinggi Badan : 152 cm
- BMI : 19.0
PEMERIKSAAN FISIK
• KULIT : Kering (-), tidak tampak kusam (-), sianosis (-), ikterik (-),
ptechiae (-), ecchymosis (-)
• OTOT : Atrofi (-), hipertofi(-)
• TULANG : Deformitas (-)
• SENDI : Edema (-), Eritema (-),
• KEPALA :
Bentuk : Normocephalic, simetris.
Mata : Simetris, pupil bulat isokor, sklera tidak ikterik, konjungtiva
anemis, refleks cahaya (+/+), edema palpebral (-/-)
Hidung : Bentuk normal, simetris, deviasi septum (-/-)
Telinga : Bentuk dan letak normal, simetris, sekret (-/-)
PEMERIKSAAN FISIK
• MULUT:
Bibir : lembab
Gusi : Hiperemis (-), edema (-), darah (-)
Lidah : Typhoid tongue (-)
Faring : Hiperemis (-)
Tonsil : T1/T1, hiperemis (-)

• LEHER:
JVP : Tidak dilakukan
Kel. Tiroid : Tidak terdapat pembesaran kel. tiroid
KGB : Tidak terdapat pembesaran KGB
PEMERIKSAAN FISIK
THORAX ANTERIOR THORAX ANTERIOR
PARU-PARU JANTUNG

Inspeksi : Bentuk dada normal, Palpasi : Ictus cordis teraba pada ICS
pergerakan dada simetris V midclavicular line sinistra, thrill (-)
Auskultasi : VBS +/+, wheezing -/-, Perkusi : Tidak dilakukan
ronchi -/- Auskultasi: S1 dan S2 murni, regular,
murmur (-), gallop (-)
PEMERIKSAAN FISIK
• V/V: EKSTRIMITAS :
Perdarahan Sedikit pada pembalut • Bentuk normal
• Tidak ada deformitas
• Pemeriksaan Inspekulo: • Akral hangat
Tidak dilakukan • CRT <2 detik

• Pemeriksaan Dalam:
Fungsi Motorik :

Tidak dilakukan 5/5/5/5


PEMERIKSAAN PENUNJANG
• USG
DIAGNOSIS PRA BEDAH
G2P1AO Blighted Ovum
TATALAKSANA
• Pro Dilatasi dan Kuretase
PROSEDUR KURETASE
• Dilakukan tindakan a dan antiseptik pada
daerah vulva dan sekitarnya
• Dipasang spekulum, portio dijepit dengan
tenakulum
• Dilakukan sonde uterus retrofleksi: 11 cm
• Dilakukan gismatur no 4 & 5
• Dilanjutkan kuretase secara sistematis dan
hati-hati dengan sendok kuret no 2 & 3
• Didapatkan jaringan gelembung-gelembung
mola dengan diameter 0,5 cm sebanyak ± 200
gr, terdapat kantong kehamilan. Fetus (-),
plasenta (-)
• Perdarahan ± 20 cc
• Jaringan di PA kan
HASIL JARINGAN YANG DIKELUARKAN
DIAGNOSIS POST KURETASE
Mola Hidatidosa Partial
10 November S: P1A1 mengeluhkan pusing, mual P:
2018 setelah dilakukan tindakan kuret. Cefixime 3 x 200mg
12:00 O: KU : terlihat sakit sedang As. Mefenamat 3 x 1
Kes : Somnolen BledStop 3 x 1
TD : 110/70 mmHg BLPL
Nadi : 89 x/menit Jaringan di PA kan
Respirasi: 20 x/menit
Suhu : 36,50C
Kepala: ca -/-, si-/-
Leher: KGB (-), Thyroid (-)
Thorax
Pulmo: VBS ka=ki, wh -/-, rh-/-
Cor: S1S2 reguler murni
Abdomen: datar, DM (-), PS (-),
PP (-), NT (-), TFU 1 jari diatas
simpisis
Ekstremitas: akral hangat, CRT <2
dtk.
A: Post kuret mola hidatidosa
parsial
05 This is a sample text.

EMBRIOLOGI
PLASENTA
MOLA
HIDATIDOSA

KURETASE
PROSES PEMBENTUKAN PLASENTA
◉ Setelah fertilisasi, terjadi
pembelahan mitosis sel dengan ◉ Pada akhir hari ke-3 ada 16

cepat pada zigot, disebut cleavage. sel. Sel yang makin lama

Pembelahan pertama pada zigot makin kecil (diproduksi

mulai 24 jam setelah fertilisasi. dengan pembelahan)

Hari kedua setelah fertilisasi, disebut blastomer.

pembelahan kedua dilengkapi dan Pembelahan berturut-turut

menghasilkan 4 sel. akhirnya menghasilkan bola


padat sel dinamakan morula.
• Morula masih dikelilingi zona pellusida dan
ukuran yang sama dengan zigot (tembus sinar,
translusen).
• Pada akhir hari ke-4, jumlah sel dalam morula
meningkat dan berlanjut bergerak melalui tuba
uterine ke arah rongga uterine ketika morula
memasuki rongga uterine pada hari ke 4 atau 5.

• Sekresi kaya glikogen dari kelenjar endometrium uterus melalui rongga uterine dan
memasuki morula melalui zona pellusida.
• Cairan ini dinamakan uterine milk (bersama-sama dengan nutrisi disimpan dalam
sitoplasma blastomer pada morula), menyediakan makanan untuk perkembangan
morula.
◉ Pada tingkat 32 sel, cairan memasuki
morula dan terkumpul antara
blastomer dan mereorganisasi.
Mereka mengelilingi sebuah rongga ◉ Penyusunan lebih lanjut dari
blastomer menghasilkan formasi
besar yang berisi cairan, dinamakan 2 struktur yang berbeda :
blastocyst cavity. Segera sesudah ◉ inner cell mass, terletak dalam
blastocyst cavity dibentuk, masa yang blastocyst dan jadi embrio
berkembang disebut blastocyst. ◉ tropoblast  lapisan superficial
luar dari sel-sel yang membentuk
Walaupun berisi ratusan sel, dinding blastocyst  plasenta
ukurannya masih seperti zigot awal. (pertukaran nutrisi dan
pembuangan ibu dengan anak)
◉ Hari ke-5 setelah fertilisasi,
blastocyst mencerna sebuah
lubang pada zona pellusida
dengan enzim, dan menekannya
melalui itu. Melepas zona
pellusida penting untuk tahap
selanjutnya, yaitu implantasi.

Outer cell mass yang telah menjadi trofoblas kemudian menipis dan membentuk
dinding epitel pada blastokista (pada minggu kedua trofoblas akan
berdiferensiasi menjadi sitotrofoblas dan sinsitiotrofoblas). Sekarang zona
pelusida menghilang dan implantasi dimulai.
Implantasi
• Implantasi adalah proses menempelnya blastocyst pada dinding endometrium.

• Tropoblas berdiferensiasi menjadi sitotropoblas yaitu sel yang tetap mengelilingi


embrio dan sinsitiotropoblas yaitusel yang bertugas menginvasi endometrium.
Sinsitiotropoblas menggantikan sel endometrium dengan cara apoptosis
endometrium, sel yang apoptosis kemudian menjadi tempat untuk embrio.

• Disekitar daerah implantasi sel-selnya menjadi besar-besar yang mengandung


banyak glikogen dan lipid (untuk nutrisi) disebut sel decidual. Ketika
sinsitiotropoblas apoptosis, nutrisi akan masuk ke embrio agar embrio dapat
berkembang.
Inner cell mass akan menjadi embrioblast, embrioblast akan timbul ruangan
yang disebut amniotic cavity. DIbagian amniotic cavity akan ada selapis sel yang
kemudian menjadi amnioblast. Bagian bawah dari amniotic cavity akan ada
epiblast dan hipoblast.

• Ruangan dalam blastocyst akan menjadi exocoelomic cavity, kemudian


exocoelomic cavity akan menjadi primary umbilical vesicle, dan kemudain menjadi
primitive yolk sac.

• Di sekitar embrio pembuluh darah membesar, kemudian di sinsitiotropoblas ada


tempat untuk pembuluh darah dan nutrisi disebut vakuola-vakuola yang kemudian
terlihat seperti danau yang disebut lakunar.
Pembesaran pembuluh darah akan
• Tempat masuknya embrio akan
membentuk sinusoid untuk sirkulasi
ditutup oleh fibrin coagulum.
antara uterus dan placenta.

• Sel sinsitiotropoblas juga akan


Antara sitotropoblas dan blastocyst
menghasilkan Beta-HCG, yaitu hormon
cavity terbentuk membran yang
yang akan memberi tanda bahwa
disebut exocoelomic membran.
sudah ada implantasi. Adanya Beta-
Ruangan yang dulunya blastocyst
HGG ini akan membuat dinding folikel
cavity akan menjadi exocoelomic
bekas ovulasi akan menghasilkan
cavity. Di dalam membran akan timbul
hormon progesteron yang akan
ruangan-ruangan kecil yang disebut
memberi tanda untuk penebalan
extra-embryoniccoelom.
dinding rahim. Jika tidak ada
sinsitiotropoblas dinding
endometrium akan meluruh karena
tidak adanya Beta-HCG yang kemudian
akan menyebabkan menstruasi.
Ruangan-ruangan kecil ini akan bergabung
dan saling berhubungan. Ketika Pada hari ke-14 atau <minggu kedua,
bergabung akan membagi dua membran sitotropoblas memperbanyak diri dan
exocoelomic, berdiferensiasi akan membentuk

1. Yang dekat dengan sitotropoblas tonjolan-tonjolan untuk mengambil

disebut EXTRA EMBRIONIC nutisi yang disebut vili Vili yang paling

SOMATOPLEURIC MESODERM awal terbentuk disebut primary vili


yang akan menjadi cikal bakal
2. Yang dekat dengan exocoelomic cavity
terbentukmnya PLACENTA.
disebut EXTRA EMBRIONIC
SPLANCHNOPLEURIC MESODERM

ADD A FOOTER 34
Pada minggu ke-3 terjadi percabangan
vili korion primitif yang disebut vili
korion korion sekunder yang Di dalam uterus, endometrium hamil
didalamnya mulai terbentuk pembuluh yang kemudian menjadi desidua,
darah. Pembuluh darah ini akhirnya sekarang mengalami diferensiasi
membentuk dua arteri umbilikalis dan menjadi tiga daerah yaitu DESIDUA
satu vena umbilikalis untuk janin. BASALIS, DESIDUA KAPSULARIS DAN
DESIDUA PARIETALIS.
Pada minggu-minggu pertama
perkembangan, vili meliputi seluruh SIMPLE
permukaan korion. Semakin tua PORTFOLIO
kehamilan, vili pada kutub
embrional terus tumbuh dan
PRESENTATION
meluas, sehingga membentuk
korion frondosum (korion bervili
lebat seperti semak-semak). Vili
pada kutub abembrional mengalami
degenarasi dan menjadi halus yang
disebut korion leave.

Desidua di atas korion frondosom, desidua


basalis,terdiri atas sebuah lapisan kompak sel-
sel besar, sel desidua yang mengandung
banyak sekali lipid dan glikogen. Lapisan ini,
lempeng desidua, melekat erat dengan korion.
Lapisan kedua di kutub
abembrional disebut desidua
kapsularis. Dengan
bertambah besarnya
gelembung korion, lapisan
ini menjadi teregang dan
mengalami degenarasi.
Selanjutnya korion leave
bersentuhan dengan dinding
rahim (desidua parietalis)
pada rahim sisi yang lain
dan keduanya menyatu dan
dengan demikian menutup
rongga rahim. Oleh karena
itu, satu-satunya bagian
korion yang ikut serta dalam
proses pertukaran adalah
korion frondosum yang
bersama dengan desidua
basalis akan membentuk
plasenta.
STUKTUR PLASENTA
Plasenta berbentuk oval dengan diameter 15-20
cm dan berat 500-600 gram. Plasenta berbentuk
lengkap saat usia kehamilan 16 minggu (4 bulan),
ketika ruang amnion telah mengisi seluruh rongga
uterus.
Bagian-bagian plasenta meliputi :
1. Bagian fetal
vili korialis, ruang invertili. Darah dari ibu di ruang invertili
berasal dari arteri spinalis yang berasa di desidua basalis.
Pada sistol darah dipompa dengan tekanan 70-80 mmHg ke
ruang invertili sampai pada pangkal kotiledon, darah
membanjiri ke vili korialis dan kembali secara perlahan
melalui pembuluh balik (vena) dengan tekanan 8 mmHg.
2. Bagian permukaan janin
Merupakan bagian permukaan janin, tepatnya di uri yang
dilapisi selaput amnion.
3. Bagian maternal
Terdiri dari desidua kompakta yang terdiri dari beberapa
lobus dan kotiledon (15-20 lobus). Pertukaran uteroplasenta
terjadi melalui intervili tali pusat.
4. Letak Plasenta di Uterus 5. Tali Pusat (Funiculus
Umbilicalis)
FUNGSI PLASENTA
Plasenta harus memasok segala sesuatu yang dibutuhkan oleh
janin untuk tumbuh dan matang. Berbagai sistem yang kompleks
terdapat di dalam jaringan plasenta untuk memfasilitasi
perpindahan nutrien ke janin dan kemudian membuangnya.
Fungsi utama plasenta adalah :
1. Pertukaran Zat
Transport Pasif
a. Filtrasi : bekerja sebagai membran semi permeabel
b. Diffusi : molekul kecil melewati membran plasenta
c. Diapedes : seperti eritrosit

2. Transport Aktif
Pertukaran nutrien dan elektrolit, seperti asam amino, asam
lemak bebas, karbohidrat dan vitamin berjalan cepat dan
meningkat bersamaan dengan meningkatnya usia kehamilan.
3. Pemindahan antibodi ibu
Antibodi ibu diambil oleh sinsitiotrofoblas dengan cara
pinositosis dan selanjutnya diangkut ke pembuluh kapiler
janin. Dengan cara ini, janin memperoleh antobodi ibu, yaitu
immunoglobulin G (IgG). AntIbodi ini membantu melawan
berbagai penyakit infeksi dan memperoleh kekebalan pasif
terhadap difteri, cacar, campak, dan lain-lainnya, tetapi
bukan terhadap cacar air dan batuk rejan (pertusis).
Imunisasi pasif penting karena janin hanya mempunyai
sedikit kemampuan untuk menghasilkan antibodi sendiri
sampai sesudah lahir.
Mola Hidatidosa
DEFINISI
• Merupakan bentuk tumor benign dari
Gestational trophoblastic disease. Secara
histologi terjadi abnormalitas pada villi
korionik dengan adanya proliferasi tropoblas
dan edema pada villous stroma. (William
Obstetric)
DEFINISI
• Kegagalan kehamilan normal yang disertai
dengan proliferasi sel trofoblas yang
berlebihan dan degenerasi hidrofik, yang
secara klinis tampak seperti gelembung-
gelembung. (Panduan Praktik Klinis)
KLASIFIKASI
Ada atau tidaknya komponen embrionik menjadi
ukuran pembagian Mola Hydatidiform.
• Complete Hydatidiform Mole
Tidak terdapat komponen embrionik (fetus &
amnion), ukuran bervariasi sampai beberapa
cm, dan sering membentuk cluster.
Bersifat diploid dari sisi paternal, insidensi
squele lebih tinggi (choriocarcinoma).
KLASIFIKASI
• Partial Hydatidiform Mole
Terdapat komponen jaringan fetus dan
perubahan hydatidiform tidak masif.
Perubahan berupa avascular chorionic villi,
edema stroma minimal.
Karakteristik kromosom triploid 69XXX, 69XXY (1
maternal, 2 paternal), lebih jarang berlanjut
menjadi choriocarcinoma
EPIDEMIOLOGI
• US dan Eropa 1 – 2 per 1000 kehamilan.
• Indonesia 1 : 51 – 141 kehamilan
FAKTOR RISIKO
• Usia
Wanita yang hamil pada usia remaja dan 36 – 40
tahun berisiko 2 kali lipat dan 10 kali lipat pada usia
>40 tahun.
• Prior Molar Pregnancy
Kehamilan mola memiliki kecenderungan untuk
berulang (1,3 – 1,5% per 5000 kehamilan mola)
• Faktor Lain
Penggunaan kontrasepsi oral, riwayat keguguran,
dan usia suami.
TANDA DAN GEJALA KLINIS
• Amenorrhea
• Gestosis berupa mual dan muntah yang berat
• Perdarahan (spotting – hemorrhage)
• Uterus lebih besar dari usia kehamilan (50%
kasus)
• Dapat terlihat gelembung mola yang keluar
dari uterus
PEMERIKSAAN FISIK
• Tidak ada Ballotement
• Tidak ada DJJ
• Inspekulo: darah dan gelembung
LABORATORIUM
• βhCG kuantitatif
PEMERIKSAAN PENUNJANG
• USG (tedapat gambaran Vesicular Ultrasonic
Pattern/ Snowflakes Appearence)
• βhCG yang tinggi
• Pemeriksaan PA
MANAGEMENT
Perbaiki keadaan umum:
• Transfusi darah
• Pengobatan gestosis
• Evakuasi dengan kuretase
• Kemoterapi profilaksis
• Histerektomi
• Pengawasan lanjut
EVAKUASI
Vakum kuretase
• Bila gelembung sudah keluar
1. Setelah keadaan umum diperbaiki langsung
dilakukan kuretase dan untuk pemeriksaan
PA dilakukan pengambilan jaringan dengan
kuret tajam.
2. Bila perdarahan banyak, lakukan perbaikan
KU dan evakuasi harus segera dilakukan.
• Bila gelembung belum keluar
1. Pasang laminaria, 12 jam kemudian lakukan
vakum kuretase tanpa pembiusan, kemudian
dilakukan kuretase tajam untuk mengambil
jaringan.
2. Pada pasien usia >35 tahun dengan jumlah
anak cukup, lakukan histerektomi totalis (bisa
mola in toto atau beberapa hari pasca kuret).
TERAPI PROFILAKSIS
• Kemoterapi
Diberikan pada pasien risiko tinggi, yaitu:
1. Hasil PA mencurigakan keganasan
2. Umur pasien >35 tahun menolak dilakukan
histerektomi
Obat yang diberikan adalah:
• Metotrexat (MTX): 20mg/hari IM selama 5 hari
(ditambah asam folat)
• Actinomisin D (ACTD): 1 vial (0,5 mg)/hari IV
selama 5 hari
• Histerektomi
Dilakukan terutama pada pasien yang berumur
≥35 tahun dengan jumlah anak cukup
PENGAWASAN LANJUT
• Bertujuan untuk mengetahui sedini mungkin
kearah keganasan.
Lama pengawasan: 1 tahun
Pasien dianjurkan jangan hamil dulu, dengan
menggunakan KB kondom, sistem kalender, atau pil
KB bila haid teratur. Tidak dianjurkan menggunakan
IUD dan KB suntik.
Akhir pengawasan:
Bila setelah pengawasan 1 tahun, kadar βhCG
dalam batas normal, atau saat hamil lagi.
Jadwal pengawasan:
• 3 bulan ke I : 2 minggu sekali
• 3 bulan ke II : 1 bulan sekali
• 6 bulan terakhir : 2 bulan sekali
Pemeriksaan yang dilakukan selama pengawasan
adalah,
• Pemeriksaan klinis dan βhCG setiap kali datang
• Foto Thorax pada bulan ke 6 dan 12 atau bila ada
keluhan.
βhCG Level
βhCG Level Table
Gestational trophoblastic disease
(GTD)
Penyakit trofoblas gestasional atau Gestational
trophoblastic disease (GTD) merupakan sebuah
spektrum tumor-tumor plasenta terkait kehamilan,
termasuk mola hidatidosa, mola invasif, placental-
site trophoblastic tumor dan koriokarsinoma

Menurut FIGO,2006 Penyakit trofoblas ganas (PTG)


menggantikan istilah istilah yang meliputi
chorioadenoma destruens, metastasizing mole,
mola invasif dan koriokarsinoma

Diagnosis PTG dapat ditegakkan berdasarkan


diagnosis klinik dengan atau tanpa histologi.
Diagnosis PTG ditetapkan dengan pemeriksaan
klinis dan pemeriksaan kadar β HCG
The International Federation of Gynecology and Oncology (FIGO) menetapkan
beberapa kriteria yang dapat digunakan untuk mendiagnosis PTG yaitu:

1. Menetapnya kadar Beta HCG pada empat kali penilaian dalam 3 minggu atau
lebih (misalnya hari 1,7, 14 dan 21)
2. Kadar Beta HGC meningkat >10% pada tiga pengukuran berturut-turut setiap
minggu atau lebih (misalnya hari 1,7 dan 14)
3. Tetap terdeteksinya kadar Beta HCG sampai 6 bulan atau lebih
4. Kriteria histologist untuk korioarsinoma
Secara histopatologis pembakuan istilah yang dianjurkan WHO adalah
sebagai berikut:

1. Mola hidatidosa : terbagi menjadi molahidatidosa komplit


dan parsial
2. Mola invasif : berupa gambaran hyperplasia trofoblas dan
gambaran yang menyerupai jaringan plasenta. Pada
pemeriksaan imnuhistokimia dapat diketahui bahwa
mayoritas adalah sel trofoblas intermediet. Mola invasif
dibedakan dari koriokarsinoma dari adanya gambaran vili.
3. Koriokarsinoma gestasional : Karsinoma yang berasal dari
jaringan trofoblas dengan elemen sitotrofoblas dan trofolas.
4. Placental site trophoblastic tumor (PSST) :Berasal dari
tempat melekatnya plasenta dan mayoritas adalah
sel tropoblas intermediet.
Stadium dan Skoring Prognosis

Stadium I Tumor trofoblastik gestasional terbatas pada korpus uteri

Stadium II Tumor trofoblastik gestasional meluas ke adneksa atau vagina, namun


terbatas pada struktur genitalia.

Stadium III Tumor trofoblastik gestasional bermetastasis ke paru, dengan atau tanpa
metastasis di genitalia interna.

Stadium IV Bermetastasis ke tempat lain


Skoring faktor risiko menurut FIGO (WHO) dengan staging FIGO

Skor faktor risiko menurut FIGO 0 1 2 4


(WHO) dengan staging FIGO

Usia < 40 >=40 - -


Kehamilan sebelumnya Mola Abortus Aterm -

Interval dengan kehamilan tersebut <4 4-6 7-12 >12


(bulan)
Kadar hCG sebelum terapi (mIU/mL) < 103 103-104 >104-105 >105

Ukuran tumor terbesar, termasuk - 3-4 > 5 cm -


uterus
Lokasi metastasis, termasuk uterus Paru-paru Limpa, ginjal Traktus Otak, hepar
gastrointestinal
Jumlah metastasis yang diidentifikasi - 1-4 5-8 >8

Kegagalan kemoterapi sebelumnya - - Agen tunggal Agen multiple

skor 0-6 dianggap sebagai pasien dengan resiko rendah,


skor >7 maka dianggap sebagai beresiko tinggi
Asia Tenggara dan Jepang menunjukkan insidensi mola
hidatidosa yang lebih besar yaitu 2,0 per 1000 kehamilan.
khoriokarsinoma mengenai 9,2 dan 3,3 per 40.000
kehamilan

Di Amerika Utara, Australia, Selandia Baru, dan Eropa


insidensi mola hidatidosa antara 0,57-1,1 per 1000
kehamilan.
Khoriokarsinoma mengenai 1 dari 40.000 kehamilan

Insidensi mola hidatidosa dan khoriokarsinoma menurun


dalam 30 tahun belakangan
Sinsitiotrofoblas
menginvasi stroma
endometrium dengan
Trofoblas normal implantasi dari
Kehamilan mola dan
tersusun dari
neoplasma trofoblastik blastokista dan
sitotrofoblas,
gestasional berasal dari merupakan sebuah tipe
sinsitiotrofoblas, dan
trofoblas plasenta sel yang memproduksi
trofoblas intermediet
human chorionic
gonadotropin (hCG)
Mola Hidatidosa

Mola hidatidosa mengacu pada kehamilan


abnormal yang ditandai dengan berbagai tingkat
proliferasi trofoblas (sitotrofoblas dan
sinsitiotrofoblas) dan pembengkakan vesikuler
dari vili plasenta yang berhubungan dengan
ketidakadaan atau abnormalitas fetus/embrio.
Gambar 3. Mola invasif Gambar 4. Koriokarsinoma

Koriokarsinoma terdiri dari


Mola invasive dengan ekstensi
sitotrofoblas dan sinsitiotrofoblas
langsung jaringan mola, termasuk
abnormal, dengan hyperplasia
hydropic vili, dan hiperplastik
dan anaplasia, tidak ada vili
trofoblas yang meliputi
korionik, pendarahan, dan
myometrium.
necrosis.
Gambar 5. Placental site trophoblastic tumor

Placental site trophoblastic tumor dengan lembaran


mononuclear intermediate trophoblast cells tanpa chorionic
villi yang menginfiltrasi diantara serat myometrial
Epithelioid trophoblastic tumor (ETT)

Epithelioid trophoblastic tumor (ETT) adalah varian jarang dari PSTT yang
menstimulasi karsinoma. Sebagian besar ETT timbul beberapa tahun
setelah persalinan aterm
Neoplasia Trofoblas
Mola hidatidosa komplit Mola parsial
Gestasional
• perdarahan pervaginam • perdarahan pervaginam • pembesaran ireguler
• pembesaran uterus > • Pembesaran uterus uterus dan pembesaran
usia gestasi berlebihan, ovarium bilateral
• hiperemesis • hiperemesis, persisten
• hipertensi yang • hipertensi yang • Lesi metastasis ke
diinduksi kehamilan diinduksi kehamilan, vagina dapat terlihat
pada trimester pertama saat evakuasi,
• hipertiroidisme
dan kedua kerusakan lesi tersebut
• adanya kista teka lutein dapat menyebabkan
• kadar hCG sering > • Kadar hCG peevakuasi perdarahan yang tak
100.000 mIU/mL mola >100.000mIU/mL terkontrol
• detak jantung fetus
tidak ada
1. ULTRASONOGRAFI

Gambar 6. Ultrasonografi pelvis dari mola hidatidosa komplit


Ultrasonografi pelvis dari mola hidatidosa komplit dengan karakteristik gambaran
vesikuler dari echoes multiple, lubang pada massa plasenta, dan tidak ada fetus.
2. HUMAN CHORIONIC GONADOTROPIN (HCG)

Mola hidatidosa biasanya berhubungan dengan peningkatan kadar hCG


diatas kehamilan normal. Sekitar 50% pasien dengan mola komplit
mempunyai kadar hCG preevakuasi >100.000 mIU/mL.

Diagnosis klinis neoplasma trofoblas gestasional posmolar sering dibuat


dengan adanya peningkatan atau plateau kadar hCG setelah evakuasi
mola hidatidosa. Khoriokarsinoma biasanya didiagnosis dengan adanya
peningkatan kadar hCG, sering bersamaan dengan adanya metastasis
setelah ada kehamilan sebelumnya. PSTT dan ETT biasanya
berhubungan dengan sedikit peningkatan kadar hCG.
3. DIAGNOSIS PATOLOGI

Diagnosis patologi mola komplit dan parsial dibuat dengan pemeriksaan specimen
kuretase. Pengecatan imunohistologi untuk p57 dapat membedakan ketiadaan
immunostaining mola komplit dengan mola parsial, dan sitometri alir dapat
membedakan mola komplit diploid dari mola parsial triploid. Sebagai tambahan,

diagnosis patologi mola invasif, khoriokarsinoma, PSTT, ETT kadang dapat dibuat
dengan kuretase, biopsi lesi metastase, atau pemeriksaan specimen histerektomi atau
plasenta. Biopsi lesi vagina menunjukkan tumor trofoblas gestasional berbahaya
karena perdarahan masif yang mungkin dapat terjadi.
A. MOLA HIDATIDOSA

- Evakuasi hisap dan kuretase adalah metode terpilih untuk mengevakuasi mola
hidatidosa, tidak tergantung ukuran uterus, bagi pasien yang masih
mengharapkan fertilitasnya.
- Histerektomi adalah alternatif dari kuretase bila sudah tidak mau mempunyai
anak. Adneksa dapat ditinggalkan lengkap walau terdapat kista teka lutein
- Induksi medis persalinan dan histerektomi tidak direkomendasikan pada
evakuasi mola. Metode ini meningkatkan morbiditas maternal, seperti kehilangan
darah, evakuasi inkomplit membutuhkan dilatasi dan kuretase, dan membutuhan
persalinan cesaria pada kehamilan selanjutnya. Hal ini juga meningkatkan
penyebaran dan perkembangan neoplasia trofoblas gestasional postmola yang
membutuhkan kemoterapi.
B. GESTASIONAL
TROPHOBLALSTIC
NEOPLASIA/
GESTASIONAL
TROPHROBLASTIC
TUMOR

• 1. Kemoterapi
profilaksis
• 2. Hormonal
Follow-Up
• 3. GTT
TERAPI STADIUM GTT

1. Terapi Stadium 1: Terapi Sekunder Stadium I GTT


2. Terapi Stadium II dan III
3. Terapi Stadium IV

- Follow-up GTT
- Terapi pembedahan pada GTT
- Terapi Radiasi pada GTT
- Administrasi Kemoterapi
- Kemoterapi Kombinasi
KESIMPULAN

Penyakit trofoblastik gestasional (PTG) adalah suatu spektrum dari dua


kondisi premaligna yaitu; partial mola hidatidosa dan complete mola
hidatidosa, hingga tiga kondisi tumor ganas yaitu; invasive mola,
koriokarsinoma gestasional, dan placental site hrophoblastic tumor (PSTT)
yang nantinya ketiga keadaan ini lebih dikenal dengan neoplasia
trofoblastik gestasional.

Pemeriksaan pada penyakit trofoblas gestasional meliputi pemeriksaan


USG, kadar hCG, dan diagnosis patologi. Penatalaksanaan dari penyakit
trofoblas gestasional meliputi terapi pembedahan, kemoterapi, dan
terkadang membutuhkan radioterapi pada penyakit trofoblastik neoplasia.
DILATASI DAN KURETASE
DEFINISI
Kuretase adalah serangkaian proses pelepasan jaringan
yang melekat pada dinding kavum uteri dengan melakukan
invasi dan manipulasi instrumen (sendok kuret) ke dalam
kavum uteri.
INDIKASI
• Perdarahan Uterus Abnormal
• Terdapat jaringan yang tertinggal di uterus
• Biopsi endometrium
KONTRAINDIKASI
• Obstruksi vagina
• Tidak terbukanya os cervix
• Cervical stenosis
• Acute pelvic infection
KOMPLIKASI
• Perdarahan
• Laserasi cervix
• Perforasi uterus
• Infeksi
Persiapan
a. Alat Kuretase
b. Kain Alas bokong PERSIAPAN PASIEN
c. Larutan Antiseptik a. Siapkan lingkungan
d. Oksigen dan Regulator b. Memberitahukan pasien dan
e. Celemek plastik, masker, kaca keluarga pasien tentang hal-
mata, sepatu/boot karet hal yg akan dilakukan
f. Sarung tangan DTT/ steril 4 c. Inform concern
pasang d. Kosongkan kandung kemih
g. 1 buah lampu sorot
h. Penampung darah dan Persiapan obat-obatan
jaringan a. Analgetik
i. Waskom air klorin 0,5% b. Sedative
j. Waskom air DTT c. Atropin Sulfat
d. Uterotonik
PROSEDUR
(REF: KEMENKES RI 2013)

• Persiapan (kaji ulang indikasi)


• Konseling dan persetujuan tindakan medis
• Persiapan alat dan pasien
• Petidin 1 – 2 mg/KgBB IM/IV sebelum mulai
prosedur
• 10 IU Oksitosin IM/ 0,2 mg Ergometrin IM agar
uterus kontraksi dan mengurangi risiko
perforasi
TINDAKAN
• Pemeriksaan bimanual untuk menentukan
bukaan cervix, arah, konsistensi uterus, dan
fornix
• Lakukan tindakan aseptik dan antiseptik pada
vagina dan sekitarnya
• Masukkan spekulum
• Periksa apakah ada robekan cervix atau hasil
konsepsi pada kanalis servikalis, jika ada
keluarkan dengan forsep ovum
• Jepit portio dengan tenakulum pada arah jam
11 atau 1.
• Jika menggunakan tenakulum, suntikkan
lognokain 0,5% 1 mL pada cervix
• Lakukan pemeriksaan kedalaman dan
lengkung uterus dengan sonde atau panera
kavum uteri
• Masukkan sendok kuret lewat kanalis
servikalis
• Lakukan kerokan dinding uterus secara sistematis
hingga bersih
Tanda uterus telah bersih:
1. Terasa seperti mengenai daerah bersabut
2. Keluar darah segar berbuih
• Lakukan bimanual untuk menilai besar dan
konsistensi uterus
• Hasil evakuasi diperiksa dan bila perlu dikirim
untuk lab PA
PERAWATAN PASCATINDAKAN
• Parasetamol 500 mg po bila perlu
• Segera mobilisasi
• Berikan antibiotik profilaksis
• Boleh pulang 1 – 2 jam pasca tindakan jika
tidak terdapat tanda-tanda komplikasi
DAFTAR PUSTAKA

1. Jewell E, Sonoda Y. Treatments for gestational trophoblastic disease. American


Society of Clinical Oncology. Diunduh dari :
http://www.medscape.com/article/219117 , .
2. Cunnigham F.G, Gant N.F, Leveno K.J, Gilstrap III L.C, Hauth J.C, Wenstrom KD.
Williams Obstetrics 23rd ed. 2010. USA : The McGraw-Hill Companies.
3. Anwar M, Baziad A, Prabowo P. Editor. Ilmu Kandungan Sarwono Prawirohardjo.
Edisi ke-3. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo;2011.
4. Hernandez E. Gestational trophoblastic neoplasia. American Association for
Cancer Research. Diunduh dari : http://emedicine.medscape.com/article/279116-
overview,.
5. Lurain JR. Gestational trophoblastic disease I: epidemiology, pathology, clinical
presentation and diagnosis of gestational trophoblastic disease, and management
of hydatidiform mole. American Journal Obstetricians and Gynecologi. Diunduh
dari: www.scribd.com,
6. Moore LE, Huh KW. Mola Hidatidiform. American College of Obstetricians and
Gynecologists. Diunduh dari : http://emedicine.medscape.com/article/254657 ,
TERIMA KASIH