Anda di halaman 1dari 65

Amelia Arnis, M.

Nurs
Politeknik Kesehatan Kemenkes Jakarta I
2017/2018
 Pengkajian memegang peranan penting sebagai
parameter yang mendasari seluruh tindakan yang
akan dilakukan.
 Pengkajian termasuk dalam proses keperawatan
yang menduduki urutan pertama dari langkah –
langkah proses keperawatan
 Proses pengkajian dilaksanakan melalui interaksi
perawat dan klien, observasi dan pengukuran
 Mengkaji fungsi
 Mengenal secara dini adanya
gangguan nyata maupun yang
potensial
 Mengidentifikasi penyebab
gangguan
 Merencanakan cara mengatasi
permasalahan yang ada, serta
menghindari masalah yang mungkin
akan terjadi
 Pengkajian dapat dilakukan dengan cara :

Pemeriksaan Pemeriksaan
Wawancara
Fisik diagnostik
• Menanyakan ttg gangguan terpenting yang dirasakan klien

Keluhan utama sehingga ia perlu pertolongan


• Eg : sesak nafas, batuk lendir atau berdarah, nyeri dada, pingsan,
berdebar – debar, dsb

Riwayat penyakit • Menanyakan tentang perjalanan sejak timbul keluhan hingga klien
meminta pertolongan

sekarang • Eg : Sejak kapan keluhan dirasakan, berapa lama dan berapa kali
keluhan tersebut terjadi

Riwayat penyakit • Menanyakan tentang penyakit – penyakit yang pernah dialami


sebelumnya.

terdahulu • Eg: Apakah klien pernah dirawat sebelumnya, dengan penyakit


apa, apakah pernah mengalami sakit yang berat, dsb
• Menanyakan tentang penyakit yang pernah
Riwayat keluarga dialami oleh keluarga

• Menanyakan situasi tempat bekerja dan


Riwayat pekerjaan lingkungannya

Riwayat geografi • Menanyakan lingkungan tempat tinggalnya

• Menanyakan adanya alergi debu, makanan,


Riwayat alergi cuaca dan obat
Kebiasaan • Menanyakan kebiasaan pola hidup
sosial • Eg : minum alkohol atau obat tertentu

Kebiasaan • Menanyakan tentang kebiasaan


merokok, sudah berapa lama, berapa
merokok batang perhari dan jenis rokoknya

Biografi • Nama, umur, jenis kelamin, tempat


tinggal, suku dan agama
INSPEKSI PALPASI PERKUSI AUSKULTASI
1. Mampu melakukan inspeksi jantung
2. Mampu melakukan palpasi jantung, pemeriksaan ictus cordis dan
pemeriksaan getaran/thrill
3. Mampu melakukan perkusi jantung dan menentukan batas-batas
jantung
4. Mampu melakukan auskultasi jantung dan menetukan bunyi
jantung I dan II, serta bising jantung
5. Mampu melakukan palpasi nadi
6. Dapat menentukan frekuensi, tegangan, irama, macam denyut,
perbedaan arteri kanan dan kiri
Inspeksi jantung berarti mencari tanda-tanda yang mengungkapkan keadaan
jantung pada permukaan dada dengan cara melihat/mengamati. Tanda-tanda itu
adalah :
1. Bentuk prekordium
2. Denyut pada apeks jantung
3. Denyut nadi pada dada
4. Denyut vena
Bentuk prekordium pada umumnya kedua belah dada
adalah simetris. Prekordium yang cekung dapat terjadi
akibat perikarditis menahun, fibrosis atau atelektasis paru,
scoliosis atau kifoskoliosis dan juga akibat penekanan oleh
benda yang seringkali disandarkan pada dada dalam
melakukan pekerjaan (pemahat tukang kayu dsb).
prekordium yang gembung dapat terjadi akibat dari
pembesaran jantung, efusi epikardium, efusi pleura, tumor
paru, tumor mediastinum dan scoliosis atau kifoskoliosis.
Tempat iktus kordis belum tentu dapat dilihat terutama pada
orang gemuk. Dalam keadaan normal dengan sikap duduk, tidur
terlentang atau berdiri iktus terlihat didalam ruangan interkostal
V sisi kiri agak medial dari linea midclavicularis sinistra. Pada
anak anak iktus tampak pada ruang interkostal IV, pada wanita
hamil atau yang perutnya buncit iktus kordis dapat bergeser
kesamping kiri. Tempat iktus kordis sangat tergantung pada :
1. Sikap badan
2. Letak diafragma
3. Denyutan nadi pada dada
4. Denyutan pada vena
 Palpasi dilakukan untuk menguatkan hasil yang didapat dari
pemeriksaan inspeksi.
 Denyutan yang tidak tampak, juga dapat ditemukan dengan
palpasi.
 Palpasi mula-mula harus dilakukan dengan menekan secara
ringan dan kemudian dengan tekanan yang keras.
 Pemeriksaan berdiri di sebelah kanan pasien, sedang pasien
dalam sikap duduk dan kemudian berbaring terlentang.
Telapak tangan pemeriksa diletakkan pada prekordium
dengan ujung - ujung jari menuju ke samping kiri toraks. Hal ini
dilakukan untuk memeriksa denyutan apeks. Setelah itu tangan
kanan pemeriksa menekan lebih keras untuk menilai
kekuatan denyutan apeks. Jika denyut apeks sudah
ditemukan dengan palpasi menggunakan telapak tangan, kita
palpasi denyut apeks dengan memakai ujung-ujung jari
telunjuk dan tengah.
1. PEMERIKSAAN IKTUS CORDIS
Hal yang dinilai adalah teraba tidaknya iktus, dan apabila teraba dinilai kuat atau tidak.
Apabila denyut iktus tidak dapat dipalpasi, bisa diakibatkan karena dinding toraks yang tebal
misalnya pada orang gemuk atau adanya emfisema, tergantung pada hasil pemeriksaan
inspeksi dan perkusi. Denyut iktus cordis sangat kuat kalau pengeluaran darah dari jantung
(output) besar. Dalam keadaan itu denyut apeks memukul pada telapak tangan atau jari yang
melakukan palpasi. Hal ini dapat terjadi pada :
 Insufisiensi aorta dan insufisiensi mitralis.

 Hipertensi dan stenosis aorta, jika ventrikel kiri sudah melebar (dilatasi) dan mulai timbul
keadaan decomp cordis.
 Denyutan yang memukul pada daerah sebelah kiri sternum menandakan keadaan
abnormal yaitu ventrikel kanan yang hipertrofi dan melebar. Hal ini dapat terjadi pada
septum atrium yang berlubang, mungkin juga pada stenosis pulmonalis atau hipertensi
pulmonalis.
 Denyutan yang memukul akibat kelainan pada ventrikel kiri atau ventrikel kanan dapat
juga teraba di seluruh permukaan prekordium. Hal ini terjadi apabila penjalaran denyutan
menjadi sangat kuat karena jantung berada dekat sekali pada dada. Namun, harus tetap
ditentukan satu tempat dimana denyutan itu teraba paling keras.
2. PEMERIKSAAN THRILL/GETARAN
Adanya getaran seringkali menunjukkan adanya kelainan katup bawaan atau
penyakit jantung congenital. Disini harus diperhatikan :
 Lokalisasi dari getaran
 Terjadinya getaran : saat systole atau diastole
 Getaran yang lemah akan lebih mudah dipalpasi apabila orang tersebut
melakukan pekerjaan fisik karena frekuensi jantung dan darah akan mengalir
lebih cepat.
 Dengan terabanya getaran maka pada auskultasi nantinya akan terdengar bising
jantung.
3. PEMERIKSAAN GERAKAN TRACHEA
Pada pemeriksaan jantung, trachea harus juga diperhatikan karena anatomi
trachea berhubungan dengan arkus aorta. Pada aneurisma aorta denyutan aorta
menjalar ke trachea dan denyutan ini dapat teraba. Cara pemeriksaannya adalah
sebagai berikut :
Pemeriksa berdiri di belakang pasien dan kedua jari telunjuknya diletakkan
pada trachea sedikit di bawah krikoid. Kemudian laring dan trachea diangkat ke
atas oleh kedua jari telunjuk itu. Jika ada aneurisma aorta maka tiap kali jantung
berdenyut terasa oleh kedua jari telunjuk itu bahwa trachea dan laring tertarik ke
bawah.
1. Dilakukan terutama untuk menentukan besar dan bentuk
jantung secara kasar
2. Menetapkan batas-batas jantung.
3. Berdasarkan perbedaan bunyi yang dihasilkan dari perkusi area
prekordial, dapat ditentukan batas-batas ruang jantung, paru,
hepar dan lambung.
4. Perkusi bunyi area jantung bunyi didapatkan hasil pekak
5. Agak sulit dilakukan pada orang gemuk, untuk indikasi adanya
pembesaran jantung dilakukan pemberiksaan X-ray thoraks
untuk mengetahui (Cardio-Thorax Ratio).
1. Batas kiri jantung
Kita melakukan perkusi dari arah lateral ke medial. Perubahan antara bunyi sonor
dari paru-paru ke redup relatif kita tetapkan sebagai batas jantung kiri.
Dengan cara tersebut kita akan dapatkan tempat iktus, yaitu normal pada ruang
interkostale V kiri agak ke medial dari linea midklavikularis sinistra, dan agak di
atas batas paru-hepar. Ini merupakan batas kiri bawah dari jantung.
Batas jantung sebelah kiri yang terletak di sebelah cranial iktus, pada ruang
interkostal II letaknya lebih dekat ke sternum daripada letak iktus cordis ke sternum,
kurang lebih di linea parasternalis kiri. Tempat ini sering disebut dengan pinggang
jantung.
Sedangkan batas kiri atas dari jantung adalah ruang interkostal II kiri di linea
parasternalis kiri.
2. Batas kanan jantung.
Perkusi juga dilakukan dari arah lateral ke medial. Batas bawah kanan jantung
adalah di sekitar ruang interkostal III-IV kanan,di line parasternalis kanan. batas
atasnya di ruang interkostal II kanan linea parasternalis kanan.
Perkusi jantung mempunyai arti pada dua macam penyakit jantung yaitu efusi
pericardium dan aneurisma aorta.
pada emfisema daerah redup jantung mengecil, tapi pada aneurisma aorta daerah
redup jantung meluas sampai ke sebelah kanan sternum sekitar ruang interkostal II.
Bunyi jantung : Bunyi jantung I dan II
a. Bunyi Jantung I
Terjadi karena getaran menutupnya katup atrioventrikularis, yang terjadi pada
saat kontraksi isometris dari bilik pada permulaan systole. Daerah auskultasi
untuk BJ I :
 Pada iktus : katup mitralis terdengar baik disini.
 Pada ruang interkostal IV – V kanan. Pada tepi sternum : katup
trikuspidalis terdengar disini
 Pada ruang interkostal III kiri, pada tepi sternum, merupakan tempat yang
baik pula untuk mendengar katup mitral.
Intensitas BJ I akan bertambah pada apek jika ada:
 Stenosis mitral
 Interval PR (pada EKG) yang begitu pendek
 Pada kontraksi ventrikel yang kuat dan aliran darah yang cepat misalnya aktivitas
berat, emosi, anemi, demam.

Intensitas BJ I melemah pada apeks jika ada :


 Shock hebat
 Interval PR yang memanjang
 Decompensasi hebat.
b. Bunyi jantung II
Terjadi akibat getaran menutupnya katup aorta dan a. pulmonalis pada dinding
toraks. Ini terjadi kira-kira pada permulaan diastole. BJ II normal selalu lebih lemah
daripada BJ I.
Intensitas BJ II aorta akan bertambah pada :
 Hipertensi
 Arterisklerosis aorta yang sangat.

Intensitas BJ II pulmonal bertambah pada :


 Kenaikan desakan a. pulmonalis, misalnya pada : kelemahan bilik kiri, stenosis
mitralis, cor pulmonal kronik, kelainan cor congenital.
BJ II menjadi kembar pada penutupan yang tidak bersama-sama dari katup aorta
dan pulmonal. terdengar jelas pada basis jantung. BJ I dan II akan melemah pada :
 Orang yang gemuk
 Emfisema paru-paru
 Perikarditis eksudatif
 Penyakit-penyakit yang menyebabkan kelemahan otot jantung.
 Bising jantung / cardiac murmur
Bising jantung lebih lama daripada bunyi jantung. Hal-hal yang harus diperhatikan
pada auskultasi bising adalah :
a. Apakah bising terdapat antara BJ I dan BJ II (=bising systole), ataukah bising
terdapat antara BJ II dan BJ I (=bising diastole). Cara termudah untuk
menentukan bising systole atau diastole ialah dengan membandingkan
terdengarnya bising dengan saat terabanya iktus atau pulsasi a. carotis, maka
bising itu adalah bising systole.
b. Tentukan lokasi bising yang terkeras.
c. Tentukan arah dan sampai mana bising itu dijalarkan. Bising itu dijalarkan ke
semua arah tetapi tulang merupakan penjalar bising yang baik, dan bising yang
keras akan dijalarkan lebih dulu.
d. Perhatikan derajat intensitas bising tersebut.
e. Perhatikan kualitas dari bising, apakah kasar, halus, bising gesek, bising yang
meniup.
• Biasanya bising yang sistolik berupa bising yang fisiologis,
dan jarang patologis. Tetapi bising diastolic selalu
merupakan hal yang patologis.

Bising
• Sifat-sifat bising fisiologis adalah sbb :
• Biasanya bersifat meniup
• Tak pernah disertai getaran

fisiologis • Biasanya tidak begitu kerasa tetapi lebih dari derajat II


• Pada auskultasi terdengar baik pada sikap terlentanbg
dan pada waktu ekspirasi
• Dapat diauskultasi paling baik di ruang interkostal II –
III kiri pada tempat konus pulmonalis.

Bising
• Bising diastolic pasti patologis, sedang bising sistolik bisa
fisiologis, bisa patologis. Bising sistolik yang terdapat pada apeks
biasanya patologis. Sifatnya meniup, intensitasnya tak tentu,

patologis
lamanya juga tak tentu.
 VIDEO PANDUAN OSCE SEMESTER 2 - Pemeriksaan Cardiovaskular OSCE FK
Undip.mp4
 Complete Heart Sounds In 7 minutes - with Heart Sounds Audio.mp4
HOLTER
EKG Echocadiografi Treadmill
MONITOR

Kateterisasi MRCT Foto thoraks laboratorium


 Elektrokardiogram (EKG) adalah suatu grafik yang
menggambarkan rekaman listrik jantung. Alat
yang digunakan untuk merekamnya dinamakan
elektrokardiograf.

 Perekaman EKG dilakukan melalui elektroda-


elektroda yang diletakkan pada lengan dan
tungkai yang secara keseluruhan disebut lid
anggota gerak (limb lid), dan pada enam posisi
didinding dada yang disebut lid dada (chest lead)
 Pasien dengan dicurigai dengan sindrom koroner akut.
 Pasien dengan gangguan irama jantung atau aritmia.
 Pasien dengan gangguan konduksi jantung.
 Pasien dengan gangguan elektrolit, terutama kalium.
 Pasien dengan kecurigaan keracunan obat.
 Evaluasi pasien yang terpasang implan defibrillator dan pacu jantung
 Sebagai monitoring pada sindroma koroner akut, aritmia dan gangguan elektrolit
paska terapi.
Holter monitor merupakan alat yang dapat merekam keadaan jantung selama 24 sampai
72 jam. Alat yang ukurannya sebesar handphone ini dapat disimpan disaku baju, saku
celana atau diikatkan dipinggang dan kabelnya ditempelkan didada.

Holter monitor merupakan EKG kecil yang dapat dibawa kemana-mana oleh pasien selama
24 jam. Dengan menggunakan alat ini, kita dapat mengetahui apakah ada kelainan
denyut jantung, apakah terdapat gangguan aliran darah ke otot jantung (iskemi miokard)
atau aritmia yang dapat mengancam nyawa (transient VT/SVT), apakah keluhan berdebar
hingga nyeri dada ada hubungannya dengan jantung. Hal-hal tersebut dapat diketahui.
 Sindrom brugada
 Kardiomiopati
 Serebral iskemia
 Prolapse katup mitral
 Palpitasi
 Poliarteritis nodosa
 Syncope
 Evaluasi terapi pemasangan pacu jantung
Pasien diharapkan membuat catatan tentang aktivitas dan waktu aktivitas itu
dilakukan pada hari tersebut secara detail sebagai sumber informasi bagi dokter
dalam mendiagnosa adanya kelainan jantung.
Contoh :
 menaiki tangga
 berhubungan seks
 marah
 minum obat
 tidur
Membawa – bawa monitor

Perekaman tidak utuh

Iritasi kulit ringan/ Alergi


 Echocardiography merupakan prosedur diagnostik pada pemeriksaan jantung
dengan menggunakan ultrasound (gelombang suara) frekuensi 2-6 MHz. untuk
mengamati struktur jantung dan pembuluh darah, serta menilai fungsi jantung
1. Menegakan diagnosis kelainan struktural pada jantung dan
pembuluh darah
2. Menetapkan derajat kelainan
3. Mengevaluasi fungsi kardiovaskuler
4. Mengevaluasi hasil pembedahan pada jantung
5. Mengevaluasi hasil terapi medis
6. Menilai keterlibatan kardiovaskuler pada penyakit lain.
1. Melihat fungsi ventrikel
2. Kelainan jantung kongenital
3. Penyakit katup jantung
4. Kardiomiopati, efusi perikardial, adanya massa (tumor)
5. Penyakit aorta proksimal.
1. Transthoracal Echocardiography (TTE) : Jenis ini merupakan echo yang sering dilakukan,
tidak terasa sakit dengan alat di letakkan dibeberapa tempat tertentu diatas dinding dada
dengan mengirimkan gelombang suara yang dikonversi oleh komputer menjadi gambar
yang telihat di monitor
2. Transsesophageal Echocardiography (TEE) : tranduser yang dimasukan dan didorong
melalui mulut sampai esofagus, digunakan untuk melihat secara teliti struktur yang lebih
dalam seperti aorta dan septum atrium atau katup-katup jantung pada saat operasi penutupan
ASD atau VSD
3. Stress Echocargraphy : pemeriksaan dilakukan dengan exercise atau makan obat untuk
meningkatkan fungsi dan denyut jantung. Beberapa kelainan atau pada pasien PJK lebih
mudah didiagnosis dengan teknik ini
4. Fetal Echocargraphy (janin) : pemeriksaan yang dilakukan pada ibu hamil yang mempunyai
janin dengan resiko atau dicurigai menderita penyakit jantung bawaan. Biasanya dilakukan
mulai kehamilan 18-22 minggu
 Pemeriksaan ini dapat memberikan informasi
apakah jantung memiliki asupan darah dan
oksigen dari sirkulasi saat terjadi stres
fisik yang mungkin tidak muncul pada EKG
saat istirahat. Pemeriksaan ini juga dapat
memberikan informasi penting apabila ada
kelainan dari irama jantung dan tekanan
darah.
 Untuk menegakkan diagnosa penyakit jantung koroner
 Untuk mengevaluasi keluhan : nyeri dada, sesak nafas, dll
 Untuk mengevaluasi kapasitas kemampuan fungsional
 Untuk mengevaluasi adanya distritmia
 Untuk mengevaluasi hasil pengobatan
 Untuk menentukan prognosa dari kelainan kardiovaskuler
 Infark miokard akut < 5 hari
 Unstable angina pectoris
 Hipertensi berat
 Aritmia
 Sesak
 Vertigo
 Kateterisasi jantung (cardiac cath atau heart cath) lebih umum dikenal kateter
jantung adalah prosedur untuk memeriksa seberapa baik fungsi jantung
bekerja.
 Sebuah alat tipis dan panjang berupa pipa hampa yang dikenal Kateter Jantung
dimasukkan ke dalam bilik atau pembuluh darah besar yang mengarah ke jantung
 Angiogram atau angiography, yaitu memasukkan zat
kedalam suatu rongga (ruang jantung/pembuluh darah)
untuk meyakinkan suatu anatomi / aliran darah.
 Penyadapan yaitu tindakan menyadap/ merekam tekanan,
kandungan oksigen, system listrik jantung, tanpa
menggunakan kontras.
indikasi kontraindikasi

• Penentuan prognosis pada • hipertensi ,


pasien dengan penyakit • sensitif pada kontras media
arteri koroner
• Pasien gagal jantung dengan
etiologi yang tidak jelas
• Pasien dengan nyeri dada
tanpa etiologi yang jelas
• Gejala berulang pasca
coronary artery bypass graft
(CABG) atau percutaneus
coronary intervention (PCI
 Ukur TTV pasien, meminta pasien untuk berkemih terlebih dahulu,
melepaskan perhiasan dan gigi palsu yang dipakai pasien
 Puasa selama 6-8 jam
 Jelaskan pada dokter semua obat-obatan yang dikonsumsi, termasuk
herbal dan vitamin. Dokter mungkin meminta untuk menghentikan
konsumsi obat2an semua sampai proses kateterisasi selesai..
 Tanyakan apakah ada alergi terhadap sesuatu, terutama lateks atau
karet produk, obat-obatan seperti penisilin, atau pewarna sinar-X.
 Observasi keluhan
 Observasi tanda-tanda vital, setiap 15 menit selama satu
jam
 Observasi perdarahan: immobilisasi pada ekstremitas area
penusukan
 Observasi adanya alergi kontras
 Anjurkan minum 1,5 L dalam 2 jam
 Mengalami perdarahan pada area penusukan
 Mengalami memar-memar/ kebiruan
 Alergi terhadap zat kontras
MSCT adalah generasi terbaru dari CT Scan yang memiliki kemampuan untuk
menghasilkan informasi dan memberikan gambaran diagnostik yang lebih baik,
terutama pemeriksaan organ bergerak termasuk jantung, dengan kecepatan
pemeriksaan yang cukup singkat dan menghasilkan gambar dengan resolusi yang baik
dan lebih akurat. Pemeriksaan MSCT untuk memperlihatkan gambaran dari sistem
pembuluh darah jantung beserta cabang cabangnya dengan gambar penampang aksial,
sagital, dan koronal dalam bentuk MIP (Maksimum Intensity Projection) dan VRT (Volume
Rendering Technic).

Terdapat dua jenis CT scan pada pembuluh darah tergantung pada fokus pengambilan
gambarnya, yaitu:
 Angiography CT Scan Jantung: Scan yang dilakukan untuk mengetahui penyumbatan
yang mempengaruhi aliran darah dalam arteri menuju jantung atau untuk mengetahui
timbunan plak kalsium di arteri.
 Kombinasi Scan Aorta dan Arteri Pulmonalis: Scan yang difokuskan pada aorta dan
arteri pulmonalis untum melihat kelainan pada dua jaringan tersebut
MSCT dilakukan untuk mengetahui kondisi khusus seperti berikut:
 Kelainan jantung bawaan
 Penimbunan plak padat dalam arteri
 Kelainan pada keempat katup jantung
 Pembekuan darah dalam bilik jantung
 Tumor jantung
 Kebocoran katup jantung
 Evaluasi anatomi cardiac/pericardial adanya
massatrombus.
 Kasus-kasus chest pain, adanya resiko
penyakit jantung ringan atau sedang.
 Menilai kondisi pembuluh darah misalnya
pada penyakit jantung koroner, emboli paru,
aneurisma (pembesaran pembuluh darah ) &
berbagai kelainan pembuluh darah lainnya
 Evaluasi gerakan dinding jantung & Fungsi
Katup
 Menilai tumor atau Kanker misalnya metastase
(penyebaran Kanker), letak Kanker & Jenis
Kanker.
Secara umum tidak terdapat kontra indikasi pada pemeriksaan MSCT, kecuali
pemeriksaan yang memerlukan kontras media yaitu bila pasien mempunyai kondisi /
penyakit tertentu dibawah ini :
 Riwayat alergi
 Penyakit jantung berat
 Hipertensi pulmonal
 Epilepsy
 Alkoholik
 Ketergantungan obat
 Renal insufisiensi
 DM
 Hyperthyroidism
 Sedang dalam pengobatan biguanides (metformin)
 Foto rotgen thorax adalah suatu proyeksi
radiografi dari thorax untuk mendiagnosis
kondisi kondisi yang mempengaruhi thorax,
isi , dan struktur struktur di dekatnya.
 Foto thorax menggunakan radiasi terionisasi
dalam bentuk x-ray.
 Foto thorax merupakan metode yang
digunakan secara luas untuk mendeteksi
kardiomegali.
 Pada orang dewasa, batas atas dari CT-Rasio
adalah 0,5 pada posisi tegak lurus dan 0,55
pada posisi terlentang. Pada bayi, mungkin
lebih tinggi yaitu 0,6.
1. untuk melihat abnormalitas congenital (jantung, vaskuler)
2. untuk melihat adanya trauma (pneumothorax, haemothorax)
3. untuk melihat adanya infeksi (umumnya tuberculosis/TB)
4. untuk memeriksa keadaan jantung
5. untuk memeriksa keadaan paru-paru
1. Untuk menentukan ukuran jantung
2. Untuk menentukan pembesaran ruang
3. Untuk mengidentifikasi proses pengapuran dari jantung
4. Untuk mencatat karakter dari bidang-bidang di paru-paru,
mediatinum dan pembuluh darah besar
 Foto toraks PA
 CTR = A + B/ C
Keterangan :
A : Jarak Mid spinal point (MSP) dengan dinding
kanan terjauh jantung
B : Jarak MSP dengan dinding kiri terjauh jantung
C : Jarak titik terluar bayangan paru kanan dan kiri

 Jika nilai CTR > 50% dikatakan cardiomegali


 Pada dasarnya, enzim merupakan molekul protein yang kompleks
dan fungsinya sebagai katalisator. Katalisator adalah zat yang
berfungsi mempercepat proses sebuah reaksi.
1. CK/CPK (Creatin Posfo Kinase)  Nilai normal :
Enzim berkonsentrasi tinggi dalam  Dewasa pria : 5-35
jantung dan otot rangka, konsentrasi Ug/ml atau 30-180
rendah pada jaringan otak, berupa
senyawa nitrogen yang terfosforisasi IU/L
dan menjadi katalisastor dalam transfer  Wanita : 5-25 Ug/ml
posfat ke ADP (energy). Kadarnya
meningkat dalam serum 6 jam setelah atau 25-150 IU/L
infark dan mencapai puncak dalam 16-  Anak laki-laki : 0-70
24 jam, kembali normal setelah 72 jam.
IU/L
 Anak wanita : 0-50
Peningkatan CPK merupakan IU/L
indicator penting adanya kerusakan
miokardium  Bayi baru lahir : 65-
580 IU/L
2. CKMB (Creatinkinase label M
dan B)
Jenis enzim yang terdapat banyak pada
jaringan terutama otot, miokardium, dan otak.
Terdapat 3 jenis isoenzim kreatinase dan
diberu label M (muskulus) dan B (Brain),
Nilai normal
yaitu : kurang dari 10
U/L
 Isoenzim BB : banyak terdapat di otak
• Nilai > 10-13 U/L
 Isoenzim MM : banyak terdapat pada otot atau > 5% total CK
skeletal menunjukkan
adanya
 Isoenzim MB : banyak terdapat pada peningkatan
miokardium bersama MM aktivitas produksi
enzim.

Peningkatan kadar enzim dalam serum


menjadi indicator terpercaya adanya
kerusakan jaringan pada jantung.
Troponin T
 Merupakan kompleks protein otot globuler dari pita I yang menghambat kontraksi
dengan memblokade interaksi aktin dan myosin. Apabila bersenyawa dengan
Ca++ , akan mengubah posisi molekul tropomiosin sehingga terjadi interaksi
aktin-miosin. Protein regulator ini terletak didalam apparatus kontraktil miosit dan
mengandung 3 sub unit dengan tanda C, I, T.

 Peningkatan troponin menjadi pertanda positif adanya cedera


sel miokardium dan potensi terjadinya angina.

 Nilai Normal < 0,16 Ug/L


•  3 jam setelah infark
CK-MB • Puncaknya 12 – 14 jam
• Menghilang 48 – 72 jam setelah
infark

•  3 – 12 jam setelah iskemik


Troponin • Puncaknya 12 – 24 jam
T • Masih tinggi pada hari ke 8 -12
(troponin T)
SGOT (Serum glutamik
oksaloasetik transaminase)
• Adalah enzim transaminase sering
juga disebut juga AST (aspartat
amino transferase) katalisator-
katalisator perubahan asam amino Laki-laki 5
menjadi asam alfa ketoglutarat. s/d 37 U/L
• Enzim ini berada pada serum dan Nilai
jaringan terutama hati dan jantung. normal :
Pelepasan enzim yang tinggi Wanita 5
kedalam serum menunjukan s/d 31 U/L
adanya kerusakan terutama pada
jaringan jantung dan hati.
• Pada penderita infark jantung,
SGOT akan meningkat setelah 12
jam dan mencapai puncak setelah
24-36 jam kemudian, dan akan
kembali normal pada hari ke-3
sampai hari ke-5.
PT dan APTT. Keduanya merupakan bentuk tes untuk
mengukur kemampuan pembekuan darah. Tes ini
berfungsi untuk mendiagnosis berbagai peyakit
yang melibatkan gangguan pembekuan darah dan
juga berfungsi untuk memonitor pasien yang minum
obat-obat2an yang berhubungan dengan
pembekuan darah