Anda di halaman 1dari 16

KROMATOGRAFI

OLEH KELOMPOK 2
Shinta Adinda Resty Apriliani
Fitri Dahlia Dian Sartika
Yulinda Rahmi Laila Hidayati
Outline :
• Resolusi
• Kolom
• Efisiensi kolom
• Kapasitas kolom
• Selektivitas kolom
Definisi
• Kromatografi adalah teknik pemisahan fisik suatu
campuran zat-zat kimia yang berdasar pada
perbedaan kecepatan migrasi dari masing-masing
komponen campuran yang terpisah pada fase
diam dibawah pengaruh pergerakan fase yang
bergerak.
• Kromatografi bertujuan untuk pemisahan
komponen dari matriks sampel dan tetap
dibiarkan dalam fase diam kemudian ditentukan
untuk analisis.
Resolusi
 Merupakan ukuran apakah suatu senywa
terpisah secara baik atau tidak dengan senyawa
lain.
• Tujuan kromatogarfi ialah memisahkan
komponen cuplikan dalam waktu dan menjadi
pita atau puncak ketika cuplikan itu bergerak
melalui kolom.
Pemisahan dua puncak dengan R ≥ 1,5 merupakan
harga resolusi ideal, dimana dua puncak terpisah
secara sempurna. Bila pada suatu analisis diperoleh
R<1,5 maka untuk meningkatkan harga R oleh fase
diam dapat dilakukan dengan menggunakan kolom
yang lebih panjang sehingga menambah jumlah pelat
teoritis.
Kolom
Merupakan tempat terjadinya proses pemisahan karena didalamnya
terdapat fase diam. Kolom merupakan komponen sentral pada
kromatografi gas.
Ada 2 macam fase kolom, yaitu kolom terpacking dan kolom kapiler.
1. Kolom Terpaket (Packed Column)
 Kolom ini terbuat dari gelas atau logam dengan diameter
sampai dengan 8 mm, dan panjangnya 0,5-5 m. kolom terpaket
yang sering digunakan memiliki perbandingan fase diam per fase
gerak (Vs/Vm) antara 15-20, dan terdiri dari 100-1000 plat teoritis
per kaki.
2. Kolom Kapiler (Capillary Column)
Kolom kapiler lebih menyerupai pipa dengan ruang yang sempit
serta memiliki diameter dalam sebesar 0,3-0,5 mm. Kolom kapiler
ini dibagi menjadi 2 bentuk dasar, yaitu tipe WCOT (Wall Coated
Open Tubular), dan tipe SCOT (Support Coated Open Tubular).
Kolom kapiler WCOT lebih efisien dibandingkan tipe SCOT, tetapi
memiliki kapasitas contoh yang lebih kecil.
Efisiensi Kolom Kromatografi

Efisiensi Kolom Kromatografi berhubungan


dengan melebarnya puncak pada waktu
komponen bergerak sepanjang kolom,
semakin efisien suatu kolom kromatografi
semakin sempit puncak yang dihasilkan.
Terdapat dua cara yang paling lazim
digunakan dalam memngukur efisiensi kolom
kromatografi yaitu jumlah pelat teori (N) dan
jarak setara pelat teori (JSPT).
Efisiensi kolom
1. Jumlah Pelat Teori (N)
• Jumlah pelat teori (N) adalah banyaknya distribusi
keseimbangan dinamis yang terjadi di dalam suatu kolom.
Jumlah pelat teori digunakan untuk mengetahui keefisienan
kolom.

W1/2 : lebar pada setengah tinggi puncak.


Persamaan ini membandingkan lebar
puncak dengan lamanya komponen
berada dalam kolom. Jadi kolom yang
efisien mencegah pelebaran pita dan
menghasilkan puncak yang sempit. Dalam
proses pemisahan diharapkan untuk
menghasilkan harga N yang sebesar-
besarnya.
2. Jarak Setara Pelat Teori (JSPT)
• JSPT disebut juga TSPT (Tiggi Setara Pelat Teori)
secara internasional dikenal sebagai HETP (High
Equivalent of Theoretical Plate) atau disingkat
dengan huruf H saja. JSPT adalah panjang kolom
kromatografi (mm) yang diperlukan sampai
terjadinya satu kali keseimbangan distribusi dinamis
molekul analit dalam fase gerak dan fase diam.
Harga H berkaitan dengan jumlah pelat teori
menurut persamaan :
Kolom untuk kromatografi
cair berkecepatan tinggi
biasanya mempunyai tinggi
pelat dalam rentang 0,01
sampai 1,0 mm.
Laju Migrasi Komponen
 Keefektifan proses kromatografi dalam memisahkan
campuran komponen tergantung pada laju migrasi
komponen, yang berhubungan erat dengan koefisien
distribusi komponen di antara kedua fasa.
Waktu Retensi
Waktu retensi merupakan waktu yang diperlukan
solute untuk keluar dari kolom dan mencapai detektor.
Semakin lama analit berinteraksi dengan fase diam –>
semakin lama ia keluar –> tR semakin besar.
Volume Retensi
Volume Retensi merupakan volume fasa gerak yang
diperlukan untuk mengelusi komponen sample keluar
kolom.
Parameter kinetika pemisahan

a. Faktor Selektifitas (α)


“Selektifitas merupakan kemampuan instrumen dalam
mengenali senyawa-senyawa dalam campuran”
• untuk mendapat selektifitas yang maksimum maka
harus dicari interaksi yang sesuai (apakah partisi,
adsorpsi, size exclusion, atau ion exchange). Faktor
selektifitas (α) dapat dicari dengan:
α = k2/k1 = (tR2-tm)/(tR1-tm)
• Apabila kedua senyawa memiliki nilai K yang sama / α =
1 maka kedua senyawa tidak dapat dipisahkan. karena
waktu retensinya identik.
b. Faktor Spesifisitas (Kd)
 Sifat spesifisitas dari kromatografi didasarkan
pada sifat dari senyawa yang spesifik. Senyawa
memiliki sifat spesifik karena memiliki Kd yang
spesifik.
c. Kapasitas Kolom (K’)
Menunjukkan kemampuan kolom menampung
analit. Semakin lama analit berada dalam kolom,
akan semakinb esar nilai kapasitasnya. Nilai K’
yang bagus antara 1-10. Jika k’ terlalu kecil,
kemungkinan pemisahannya belum sempurna
dan jika terlalu besar maka akan terjadi pelebaran
puncak.
d. Resolusi (Rs)
Untuk taraf kepercayaan 95%, harga Rs yang
baik adalah > 1,5. Jika kurang dari ini maka
puncak dari masing2 analit akan saling
tumpang tindih
e. Jumlah Lempeng Teoritis (Neff)
 Merupakan parameter yang menghitung
efisiensi kromatografi. Menyatakan jumlah
peristiwa partisi yang dialami oleh analit pada
setiap saat yang dibawa oleh fase gerak
selama elusi.
DAFTAR PUSTAKA
• Gritter, R., J., 1991, Pengantar Kromatografi, ITB
Press, Bandung
• Khopkar, S.M. 2008. Konsep Dasar Kimia Analitik.
Jakarta : Universitas Indonesia Press.
• Soebagio, Drs. 2000. Kimia Analitik II. Malang :
IMSTEP-JICA.
• Susanti, Meri dan Dachriyanus. 2017.
“Kromatografi Cair Kinerja Tinggi “. Lembaga
Pengembangan, Teknologi Informasi dan
Komunikasi : Universitas Andalas.
1. (ibuk)Perbedaan Efisiensi kolom, Kapasitas
kolom, Selektivitas kolom
2. (Indri) contoh kurva pada resolusi
3.