Anda di halaman 1dari 38

Thalassemia

Definisi

Thalassemia adalah suatu kelompok


anemia hemolitik kongenital
herediter yang diturunkan secara
autosomal disebabkan oleh
kekurangan sintesis rantai
polipeptida yang menyusun molekul
globin dalam hemoglobin.
Klasifikasi
1) Thalassemia α, terdiri dari:
 Silent carrier
 Thalassemia α minor
 HbH disease
 Hydrops fetalis
2) Thalassemia β, terdiri dari:
 Thalassemia β minor
 Thalassemia β mayor
α-Thalassemia
Definisi
• Thalasemia yang disebabkan menurunnya sintesis
rantai alfa globin
• Terdiri dari:
a. Silent carrier state  gangguan pada 1 rantai globin
alfa
b. Thalasemia alfa trait  gangguan pada 2 rantai globin
alfa
c. Hemoglobin H disease  gangguan pada 3 rantai
globin alfa
d. Thalasemia Alfa mayor  gangguan pada 4 rantai
globin alfa
Epidemiologi
• Talasemia merupakan penyakit yang ditemui
hampir di seluruh penjuru dunia
• Akibat migrasi penduduk dan adanya
perkawinan campuran antara berbagai
kelompok etnis
• HbH, Hb contans spring dan homozigot- α
talasemia mempengaruhi sekitar 1 juta orang
di seluruh dunia
Etiologi
Hilangnya produksi gen α atau berkurangnya
produksi gen α karena mutasi gen globin α baik
berupa delesi gen maupun non-delesi (mutasi
titik)
Patofisiologi
• Manusia normal  terdapat 4 copy gen alfa
globin
• Thalasemia  mutasi pada gen alfa globin 
produksi rantai globin alfa kurang  eritrosit
mudah rusak/umurnya lebih pendek dari eritrosit
normal
• Hb tidak terbentuk sempurna  gangguan
pengangkutan oksigen  anemia
• Tingkat keparahan bergantung pada banyaknya
mutasi pada gen alfa
Manifestasi klinis
• Hidrops fetalis
• Anemia
• Pucat dan lesu
• Nafsu makan menurun
• Urin lebih pekat
• Pertumbuhan dan perkembangan terhambat
• Kulit berwarna kekuningan
• Pembesaran hepar dan spleen
• Masalah tulang (terutama tulang wajah)
Macam-Macam α-Thalassemia

Delesi 1 gen (silent carries)


• Kelainan Hb sangat minimal, asimtomatik. Hanya dapat dilihat dengan
pemeriksaan lab molekuler.

Delesi 2 gen (Thalassemia  trait)


• Gejala anemia ringan dan tanpa anemia

Delesi 3 gen (Penyakit Hb H)


• Bisa dideteksi setelah kelahiran, anemia berat dan splenomegali

Delesi 4 gen (hydrops fetalis)


• Bayi akan meninggal dalam kandungan atau setelah dilahirkan karena kadar
Hb normal tidak terbentuk
Diagnosis
Anamnesis
• Pucat, gangguan nafsu makan, gangguan tumbuh kembang
dan perut membesar karena adanya hepatosplenomegali

Pemeriksaan fisis
• Pucat
• Bentuk muka mongoloid (facies Cooley)
• Dapat ditemukan ikterus
• Gangguan pertumbuhan
• Splenomegali dan hepatomegali yang menyebabkan perut
membesar
Pemeriksaan penunjang
1. Darah tepi :
• Hb rendah dapat sampai 2-3 g%
• Gambaran morfologi eritrosit : mikrositik hipokromik, sel
target, anisositosis berat dengan makroovalositosis,
mikrosferosit, polikromasi, basophilic stippling, benda Howell-
Jolly, poikilositosis dan sel target. Gambaran ini lebih kurang
khas
• Retikulosit meningkat
Variasi bentuk eritrosit
Gbr Darah Tepi : Adanya sel target
2. Pemeriksaan lain :
• Foto Ro tulang kepala : gambaran hair on end,
korteks menipis, diploe melebar dengan
trabekula tegak lurus pada korteks.
• Foto tulang pipih dan ujung tulang panjang :
perluasan sumsum tulang sehingga trabekula
tampak jelas
β-Thalassemia
Definisi
• β-Thalassemia terjadi bila 1 atau ke 2 gen
penyusun rantai beta-globin pada kromosom 11
dari hemoglobin berubah. Derajat keparahannya
tergantung berapa gen yang terlibat. Bila 1
gennya yang berubah, dapat terjadi β
thalassemia minor/trait. Bila ke2 gennya berubah,
dapat terjadi anemia sedang hingga berat.
• Thalassemia- β, terjadi akibat berkurangnya
rantai globin - β (thalassemia-β+) atau tidak
diproduksi sama sekali rantai globin- β
(thalassemia-β0).
Epidemiologi
• β-thalassemia sering ditemukan pada keturunan
Mediterranean, Timur tengah, African, South Asian(Indian,
Pakistani, etc.), Southeast Asian (Indonesia, thailand, etc.)
and Chinese.
• Di Indonesia lebih banyak ditemukan kasus thalassemia
beta. Insiden pembawa sifat Thalassemia di Indonesia
berkisar antara 6-10%, artinya dari setiap 100 orang 6-10
orang adalah pembawa sifat Thalassemia. Kalau sepasang
dari mereka menikah, kemungkinan untuk mempunyai anak
penderita talasemia berat adalah 25%, 50% menjadi
pembawa sifat (carrier) talasemia, dan 25% kemungkinan
bebas thalassemia. Sebagian besar penderita thalassemia
adalah anak-anak usia 0 hingga 18 tahun.
Faktor Resiko
• Anak dengan orang tua yang memiliki gen
thalassemia
• Anak dengan salah satu/kedua orang tua
thalassemia minor
• Anak dengan salah satu orang tua thalassemia
• Resiko laki-laki atau perempuan untuk terkena
sama
• Thalassemia Beta mengenai orang asli dari
Mediterania atau ancestry (Yunani, Italia,
Ketimuran Pertengahan) dan orang dari Asia dan
AfrikaPendaratan.
Etiologi
• Disebabkan adanya mutasi pada DNA sel yang
membuat Hb pada rantai beta.
• Mutasi ini berkaitan dengan faktor genetika yang
diturunkan oleh orangtua terhadap anaknya.
Mutasi gen, yakni dalam bentuk
1. Delesi gen globin-β  sebagian dari rantai gen
menghilang
2. Mutasi non delesi globin-β  proses transkripsi,
prosesing dan translasi.
Klasifikasi
1. β-Thalassemia minor
2. β-Thalassemia intermediate
3. β-Thalassemia major
Manifestasi klinis

• Thalassemia minor :
splenomegali, hepatomegali,
kerusakan tulang (-)
• Thalassemia intermediate :
splenomegali, hepatomegali,
deformitas pada tulang
• splenomegali, hepatomegali, Fecies cooley
ikterus, tulang ekspansi 
deformitas tulang nyata
Diagnosis
• Penderita pertama datang dengan keluhan anemia/pucat,
tidak nafsu makan dan perut membesar.

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Lab:
fisik: 1. Hb bisa sampai
1. bentuk muka 2. Morfologi eritrosit
mongoloid (facies
Cooley)
2. Ikterus
3. gangguan
pertumbuhan Pemeriksaan
4. splenomegali dan
hepatomegali
Khusus :
-Hb F
-elektroforesis Hb
Diagnosis
1. Thalassemia β minor (Trait)
a. Gambaran klinis : Tampilan klinis normal, hepatomegali dan splenomegali

b. Gambaran Lab : Hb (10-13 g%), darah tepi (anemi hemolitik mikrositik hipokrom,

poikilosistosis, sel target dan eliptosit, peningkatan eritrosit stippled), sumsum tulang

(hiperplasia eritroid, HbA2 tinggi (3,5-8 %), kadar Hb F (1-5%))

2. Thalassemia β mayor
a. Gambaran klinis : anak usian 6 bln-2 th dg anemia berat, hepatosplenomegali,

ikterus, perubahan tulang yg nyata karena tulang mengalami ekspansi

b. Gambaran Lab : Hb rendah (3-4 g%), eritrosit hipokrom, sgt poikilositosis, sel

teardrop, eliptosit, eritrosit stippled.

c. Gambaran radiologis : “hair on end”


3. Thalassemia β intermedia
a. Gambaran laboratoris : morfologi eritrosit
menyerupai thalassemia mayor.
Elektroforesis Hb menunjukkan Hb F 2-100%,
HbA2 sampai dengan 7%, HbA 0-80%
Penatalaksanaan α,β-Thalassemia
• Belum ada pengobatan yang menyembuhkan
secara total
• Pengobatan :
- Medikamentosa
- Transfusi darah  seumur hidup secara rutin
setiap bulannya
- Splenektomi
- Induksi sintesa rantai globin
- Transplantasi sumsum tulang
- Terapi gen
I. Medikamentosa
• Pemberian iron chelating agent (desferoxamine):
diberikan setelah kadar feritin serum sudah
mencapai 1000 mg/l atau saturasi transferin lebih
50%, atau sekitar 10-20 kali transfusi darah.
Desferoxamine, dosis 25-50 mg/kg berat badan/hari
subkutan melalui pompa infus dalam waktu 8-12 jam
dengan minimal selama 5 hari berturut setiap selesai
transfusi darah
• Vitamin C 100-250 mg/hari selama pemberian kelasi
besi, untuk meningkatkan efek kelasi besi
• Asam folat 2-5 mg/hari untuk memenuhi kebutuhan
yang meningkat.
• Vitamin E 200-400 IU setiap hari sebagai antioksidan
dapat memperpanjang umur sel darah merah.
II. Bedah → splenektomi, dengan indikasi:
– limpa yang terlalu besar, sehingga membatasi
gerak penderita, menimbulkan
peningkatan tekanan intraabdominal dan
bahaya terjadinya ruptur
– hipersplenisme ditandai dengan peningkatan
kebutuhan transfusi darah atau kebutuhan
suspensi eritrosit (PRC) melebihi 250 ml/kg
berat badan dalam satu tahun
III.Suportif
• Transfusi darah :
Hb penderita dipertahankan antara 8 g/dl sampai
9,5 g/dl → akan memberikan supresi sumsum
tulang yang adekuat, menurunkan tingkat
akumulasi besi dan dapat mempertahankan
pertumbuhan dan perkembangan penderita.
Pemberian darah dalam bentuk PRC (packed red
cell), 3 ml/kg BB untuk setiap kenaikan Hb 1 g/dl.
Pemantauan
I. Terapi
• Pemeriksaan kadar feritin setiap 1-3 bulan,
karena kecenderungan kelebihan besi sebagai
akibat absorbsi besi meningkat dan transfusi
darah berulang
• Efek samping kelasi besi yang dipantau:
demam, sakit perut, sakit kepala, gatal, sukar
bernapas. Bila hal ini terjadi kelasi besi
dihentikan.
II.Tumbuh Kembang
Anemia kronis memberikan dampak pada proses tumbuh
kembang, karenanya diperlukan perhatian dan pemantauan
tumbuh kembang penderita.

III. Gangguan jantung, hepar dan endokrin


Anemia kronis dan kelebihan zat besi dapat menimbulkan
gangguan fungsi jantung (gagal jantung), hepar (gagal hepar),
gangguan endokrin (diabetes melitus, hipoparatiroid) dan
fraktur patologis
KOMPLIKASI
• Hemosiderosis  penumpukan zat besi di organ-organ
• Hemokromatosis  gangguan fungsi hati akibat
penimbunan zat besidan saturasi transferin
• Hipersplenisme
• Patah tulang
• Payah Jantung
• Beresiko terinfeksi bakteri dan virus yang berasal dari
darah donor
PROGNOSIS
• β-thalassemia mayor  memiliki prognosis
yang kurang baik
• dapat menimbulkan penyakit jantung akibat
penimbunan Fe yang dapat menimbulkan
kematian.