Anda di halaman 1dari 27

• Aji Priyambodo F0315006

• Muhammad Andika F0315051


• Nicholas Maria A.S.P F0315060
• Perdana Wahyu H. F0315068
• Mendeskripsikan pentingnya analisis prospektif
• Menjelaskan proses dari proyeksi laporan laba rugi, neraca dan
laporan arus kas
• Mendiskusikan dan mengilustrasikan pentingnya analisis sensitifitas
• Mendeskripsikan implementasi dari proses proyeksi untuk
penilaian untuk sekuritas ekuitas
• Mendiskusikan konsep dari tren penggerak nilai dan peramalan
jangka pendek
Analisis prospektif dapat dilakukan hanya setelah laporan keuangan
historis disesuaikan untuk mencerminkan kinerja ekonomis perusahaan
secara akuratAnalisis prospektif berguna untuk
• Menilai Effek
• Ketepatan rencana strategi perusahaan
• Menilai kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban
1. Proyeksi Laporan Keuangan
Proses proyeksi dimulai dari laporan laba rugi, diikuti
neraca dan laporan arus kas.
a. Proyeksi Laporan Laba Rugi
Proses proyeksi dimulai dengan pertumbuhan penjualan
yang diharapkan.
Analisis lebih rinci melibatkan informasi eksternal seperti:
• Tingkat aktivitas ekonomi makro yang diharapkan
• Peta persaingan
• Bauran toko baru dan toko lama
1. Sales: $52,204 = $46,839 x 1.11455.
2. Gross profit: $17,157 = $52,204 x 32.866%.
3. Cost of goods sold: $35,047 = $52,204 - $17,157.
4. Selling, general, and administrative: $11,741 = $52,204 x 22.49%.
5. Depreciation and amortization: $1,410 =
$22,272 (beginning-period PP&E gross) x 6.333%.
6. Interest: $493 = $9,538 (beginning-period interest-bearing debt) x5.173%.
7. Income before tax: $3,513 = $17,157 - $11,741 - $1,410 - $493.
8. Tax expense: $1,328 =$3,513 x 37.809%.
9. Extraordinary and discontinued items: none.
10. Net income: $2,185 = $3,513 - $1,328.
Proyeksi Neraca
• Neraca perusahaan Tahun 2003 – 2005 berikut beberapa rasio disajikan proyeksi laporan laba rugi
perusahaan. Ramalan neraca tahun 2006 meliputi langkah – langkah berikut ini :
• Buatlah proyeksi aktiva lancar selain kas, dengan menggunakan proyeksi penjualan atau harga pokok
penjualan dan rasio perputaran yang relevan.
• Buatlah proyeksi kenaikan aktiva tetap dengan estimasi pengeluaran modal yang didasarkan pada tren
historis atau informasi dalam bagian MD&A di laporan tahunan.
• Buatlah proyeksi kewajiban lancar selain utang
• Hitunglah bagian lancar utang jangka panjang (bagian yang jatuh tempo) dari catatan utang jangka
panjang.
• Utang jangka pendek lainnya diasumsikan tidak berubah dari tahun-tahun sebelumnya.
• Saldo awal utang jangka panjang diasumsikan sama dengan utang jangka panjang tahun lalu dikurangi
bagian yang jatuh tempo dari butir (4) di atas.
• Kewajiban jangka panjang lainnya sama dengan saldo tahun lalu kecuali tampak jelas tren yang lain.
• Saham biasa awal diasumsikan sama dengan saldo tahun lalu.
• Laba ditahan diasumsikan sama dengan saldo tahun lalu ditambah (dikurangi) dengan laba (rugi) bersih dan
dikurang dividen yang diperkirakan.
• Pos ekuitas lainnya diasumsikan sama dengan saldo tahun lalu kecuali tampak tren yang nyata.
• Untuk memulai proyeksi piutang, persediaan, aktiva tetap, utang usaha, dan akrual beban menggunakan
proyeksi penjualan dan harga pokok penjualan serta tingkat perputarannya, rumusnya :

• Selanjutnya, proyeksi piutang usaha dihitung sebagai berikut :


• Kewajiban jangka panjang lainnya sama dengan saldo tahun lalu kecuali tampak jelas tren
yang lain.
• Saham biasa awal diasumsikan sama dengan saldo tahun lalu.
• Laba ditahan diasumsikan sama dengan saldo tahun lalu ditambah (dikurangi) dengan
laba (rugi) bersih dan dikurang dividen yang diperkirakan.
• Pos ekuitas lainnya diasumsikan sama dengan saldo tahun lalu kecuali tampak tren yang
nyata.
• Untuk memulai proyeksi piutang, persediaan, aktiva tetap, utang usaha, dan akrual beban
menggunakan proyeksi penjualan dan harga pokok penjualan serta tingkat perputarannya,
rumusnya :
Penjualan
Tingkat perputaran piutang usaha 
Saldo piutang usaha

• Selanjutnya, proyeksi piutang usaha dihitung sebagai berikut :


Proyeksi penjualan
Proyeksi piutang usaha 
Tingkat perputaran piutang usaha
1. Receivables: $5,650 = $52,204 (Sales)/9.24 (Receivable turnover).
2. Inventories: $6,001 = $35,047 (Cost of goods sold)/5.84 (Inventory turnover).
3. Other current assets: no change.
4. PP&E: $25,629 = $22,272 (Prior year’s balance) x $3,357 (Capital expenditure estimate:
estimated sales of $52,204 x 6.431% CAPEX/sales percentage).
5. Accumulated depreciation: $6,822 = $5,412 (Prior balance) $1,410 (Depreciation estimate).
6. Net PP&E: $18,807 = $25,629 - $6,822.
7. Other long-term assets: no change.
8. Accounts payable: $6,441 = $35,047 (Cost of goods sold)/5.441 (Payable turnover).
9. Current portion of long-term debt: amount reported in long-term debt footnote as the current
maturity for 2006.
10. Accrued expenses: $1,820 = $52,204 (Sales)/28.683 (Accrued expense turnover).
11. Taxes payable: $352 = $1,328 (Tax expense) x 26.527% (Tax payable/Tax expense).
12. Deferred income taxes and other liabilities: no change.
13. Long-term debt: $8,283 = $9,034 (Prior year’s long-term debt) - $751 (Scheduled
current maturities from step 9).
14. Common stock: no change.
15. Additional paid-in capital: no change.
16. Retained earnings: $13,054 = $11,145 (Prior year’s retained earnings) + $2,185
(Projected net income) - $276 (Estimated dividends of $0.31 per share x 891 million
shares).
17. Cash: amount needed to balance total liabilities and equity less steps (1)–(7)
• Pola arus kas penting untuk dipelajari sebelum menguji model
untuk analisis dan proyeksi arus kas. Kas dan setara kas
(selanjutnya disebut “kas”) merupakan aktiva yang paling
likuid. Hampir seluruh keputusan manajemen untuk melakukan
investasi aktiva atau membayar beban memerlukan kas.

Arus Kas Masuk Arus Kas Keluar


Kendala peramalan laba bergantung pada kualitas peramalan
penjualan. Peramalan penjualan meliputi analisis atas:
• Arah dan tren penjualan
• Pangsa pasar
• Kondisi industri dan ekonomi
• Kapasita produksi dan keuangan
• Faktor kompetisi
• Kewajaran dan kelayakan ramalan kas jangka pendek
biasanya diuji dengan laporan keuangan pro forma (pro forma
financial statement). Laporan keuangan pro forma digunakan
untuk menghitung rasio keuangan dan menyimpulkan hubungan
lainnya, dan dibandingkan dengan data histories untuk menguji
kelayakan. Perbandingan ini harus menyertakan penyesuaian
untuk hal-hal yang diperkirakan mempengaruhi selama periode
yang diramalkan.
• Laporan pro forma tersebut harus diuji secara kritis dan diuji
kelayakannya atas ramalan dan asumsi-asumsinya. Rasio dan
hubungan yang disimpulkan dalam laporan keuangan pro
forma harus dievaluasi dan dibandingkan dengan rasio historis
untuk menentukan kewajaran dan kelayakannya.
• Pialang Saham
Perbadaan antara ramalan arus kas dengan laba belum tentu
pelu dikhawatirkan. Banyak perusahaan yang sedang tumbuh
mengalami arus kas positif rendah atau tidak ada sama sekali
dalam waktu dekat. Arus kas jangka pendek yang rendah ini
tentu saja diharapkan menghasilkan arus kas di atas rata-rata
pada masa depan.
• Pemberi Pinjaman
Langkah awal dalam pemberian pinjaman adalah menerima atau
menolak penjelasan manajemen atas laporan penjualan. Jika
penjelasan menejemen tidak didukung dengan bukti yang
objektif, pemberi pinjaman harus menolak permohonan pinjaman.
Proyeksi Laporan Arus Kas Target Corporation

Estimasi Tahun 2002 • Proyeksi laporan arus kas


Laba bersih
Penyesuaian laba menjadi arus kas:
$1,378
disajikan pada tabel di
bawah ini. Proyeksi arus kas
Penyusutan 1.263
Piutang usaha (310) bersih dari operasi sebesar
Persediaan
Utang usaha
(360)
336
$2,435 juta mendanai
Beban akrual
Pajak
127
1
sebagian dari pengeluaran
Arus kas bersih dari aktivitas operasi 2.435 modal sebesar $3.419 juta
Pengeluaran modal (3.419) dan dividen sebesar $204
Arus kas bersih dari aktivitas investasi (3.419)
juta. Kekurangannya ditutup
Utang jangka panjang
Tambahan modal disetor
1.295
20
dengan kenaikan utang
Dividen (204) jangka panjang sebesar
Arus kas bersih dari aktivitas 1.111
pendanaan $1.295 juta.
Perubahan bersih kas 127
Kas awal 499
Kas akhir $ 626
• Proyeksi laporan keuangan didasarkan
pada hubungan yang diharapkan antara
pos laporan laba rugi dengan pos neraca.
Dalam contoh ini, digunakan rasio yang
terakhir karena operasi perusahaan cukup
stabil dan diasumsikan tidak terdapat
perubahan besar dalam strategi operasi.
• Namun asumsi-asumsi tersebut dapat
divariasikan untuk menganalisis
dampaknya pada kebutuhan dana,
pengembalian aktiva dan ekuitas, dan
sebagainya. Sebagai contoh persentase
pengeluaran modal terhadap penjualan
perusahaan naik bertahap dari 5,69%
tiga tahun yang lalu menjadi 7,93% tahun
lalu.
• Jika diasumsikan kenaikan yang sama
di tahun 2002 menjadi 9%,
pengeluaran modal akan naik menjadi
$3,83 miliar, yang memerlukan dana
tambahan sebesar $500 juta. Kenaikan
yang sama juga dapat berasal dari
penurunan perputaran piutang dan
perputaran persediaan.
• Analis sering kali menyiapkan
beberapa proyeksi untuk menguji
skenario terbaik (terburuk) sebagai
tambahan atas skenario yang 'paling
mungkin' (most likely) terjadi. Analisis
sensitivitas ini menunjukkan asumsi mana
yang memiliki dampak paling besar
pada hasil keuangan dan, sebagai
konsekuensinya, membantu identifikasi
area yang memerlukan pemeriksaan
lebih lanjut.
• Model penilalan laba sisa menentukan nilai ekuitas pada saat t sebagai
jumlah nilai buku kini dan nilai sekarang laba sisa yang diperkirakan di masa
depan:

• Di mana BV, merupakan nilai buku pada akhir periode t, RIt+n sebagai laba
sisa di periode t + n, dan k sebagai biaya modal. Laba sisa (residual.
income) pada waktu t didefinisikan sebagai laba bersih komprehensif
dikurangi pembebanan pada nilai buku awal, yaitu, RIt = NIt - (k x BVt-1).
• Proses penilaian memerlukan estimasi laba bersih di masa depan dan nilai
buku ekuitas pemegang saham. Model penilaian memerlukan estimasi atas
enam parameter sebagai berikut:
1. Pertumbuhan penjualan
2. Margin laba bersih (Laba bersih/Penjualan).
3. Perputaran modal kerja bersih (Penjualan/Modal kerja bersih).
4. Perputaran aktiva tetap (Penjualan/Aktiva tetap).
5. Leverage keuangan (Aktiva operasi/Ekuitas).
6. Biaya modal ekuitas.
• Laba bersih diestimasi dengan menggunakan rumus :
Laba Bersih = Penjualan x Margin laba bersih.

• Modal kerja bersih diestimasi dengan menggunakan rumus:


Penjualan
Modal kerja bersih 
Tingkat perputaran modal kerja bersih

• Modal aktiva tetap diestimasikan dengan menggunakan rumus :


Penjualan
Modal aktiva tetap 
Tingkat perputaran aktiva tetap

• Ekuitas diestimasi dengan menggunakan rumus :


Total aktiva operasi
Total ekuitas pemegang saham 
Leverage
Aktiva operasi = Modal kerja bersih + Aktiva tetap
• Laba sisa untuk tahun 2001 diestimasikan dengan menggunakan rumus :
Sisa laba = Laba bersih - (Ekuitas awal tahun x Biaya modal ekuitas)
$6.278 = $8.856 - ( $20.624 x 0,125 )

• Tahun-tahun setelahnya dalam horizon peramalan dihitung dengan cara yang sama. Setiap tahun
selama horizon peramalan selanjutnya didiskontokan pada biaya modal ekuitas (12,5%). Sebagai
contoh, faktor diskonto untuk tahun kedua dihitung sebagai berikut :
1
PVIF k,n 
(1  k) n

• Nilai sekarang untuk tiap-tiap tahun dalam horizon peramalan dijumlahkan untuk mendapatkan
nilai sekarang kumulatif sampai tahun 2005 sebesar $26.303. Proyeksi laba sisa di tahun 2006
diasumsikan tumbuh pada tingkat inflasi (3,5%). Nilai sekarang anuitas ini, didiskontokan ke tahun
2000 adalah: 1
PV  FVn
(k - inf.)(1  k) n

• Estimasi nilai saham Syminex Corp. pada tahun 2000 :


nilai buku ekuitas pemegang saham + nilai sekarang laba sisa
= ($20.624) + ($26.303 + $54.039) = $100.966.
• Dengan saham beredar sebanyak 1.737 lembar, nilai per lembar saham Syminex Corp. adalah
$58,13.
• Model laba sisa menentukan harga saham sebagai nilai buku
ekuitas pemegang saham ditambah nilai sekarang dari laba sisa
atau residual income yang diperkirakan. Dimana RIt – NIt – (k x
BVt-1)
• Laba sisa juga dapat dinyatakan dalam bentuk rasio, yaitu :
RI = (ROEt – k) x BVt-1
Tampilan diatas menyajikan kinerja ROE untuk perusahaan. Grafik tersebut
menyajikan nilai median tiap portofolio. Hasil pengamatan yang terlihat adalah :
1. ROE cenderung untuk kembali ke keseimbangan jangka panjang. Hal ini
mencerminkan tekanan kompetisi. Lebih lanjut tingkat pembalikan bagi
perusahaan yang paling tidak menguntungkan lebih besar daripada tingkat
pembalikan perusahaan yang paling menguntungkan.
2. Pembalikan tidak lengkap, yaitu tetap terdapat perbedaan sekitar 12% antara
perusahaan dengan ROE tertinggi dan perusahaan dengan ROE terendah
meskipun setelah 10 tahun.
Tampilan di atas ini menyajikan grafik tentang pembalikan
margin laba bersih untuk perusahaan. Grafik ini dibuat
dengan cara yang sama dengan pembuatan grafik ROE.
Tampak jelas tingkat pembalikan yang signifikan untuk
perusahaan dengan margin laba bersih (net profit margin—
NPM) tertinggi dan terendah. Selain itu, tingkat pembalikan
untuk perusahaan dengan laba terendah lebih besar
daripada tingkat pembalikan perusahaan yang paling
untung.
Perputaran total aktiva (total asset turnover—TAT)
merupakan komponen kedua dalam ROA. Dalam tampilan di
atas ini disajikan tingkat pembalikan perputaran total aktiva
yang dibuat dengan cara yang sama dengan grafik
terdahulu. Walaupun tampak adanya pembalikan,
tingkatnya lebih kecil dari tingkat pembalikan ukuran
profitabilitas. Selain itu, terdapat tingkat perputaran aktiva
yang bervariasi antara perusahaan dengan perputaran
tertinggi dan terendah. Hal ini mencerminkan tingkat
intensitas modal.