Anda di halaman 1dari 38

PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA YANG

EFEKTIF DALAM BIDANG KEDOKTERAN


 Seorang dokter yang baik harus mampu memahami bagaimana cara
berkomunikasi yang baik/efektif antara dokter dan pasien, sebab
umumnya pasien itu mengalami beban psikologik atau ketegangan
jiwa, selain gangguan fisik.
 Karena gangguan fisik dan beban psikologik itu, sebagian besar
pasien akan sulit untuk melakukan komunikasi atau bekerja sama
dengan staf klinik, dokter, dan tenaga kesehatan lainnya. Hal
tersebut sangat mengganggu upaya pertolongan dalam prosedur
pengobatan, terutama pada kasus gawat darurat.
 Apabila dokter dapat berkomunikasi yang baik dengan pasien,
maka akan tercipta hubungan atau komunikasi yang positif yang
dapat mengurangi rasa cemas pasien.
 Cara petugas kesehatan menyampaikan informasi sangat
mempengaruhi hasil dan kejelasan informasi yang diterima oleh
pasien, sehingga pasien akan merasa nyaman selama dokter
melakukan tindakan.
 Dengan cara menjelaskan faktor-faktor yang mungkin menjadi
penyebab suatu komplikasi akan membuat pasien mengerti
mengapa petugas bertanya secara rinci.
 Kejelasan informasi yang disampaikan memudahkan pasien
memahami tindakan yang akan dilakukan apakah dengan terapi
atau dengan cara lainnya. Kelancaran komunikasi antara pasien
dan petugas kesehatan seperti ini sangat membantu pertukaran
informasi diantara kedua belah pihak sehingga tercipta hubungan
yang baik dan rasa saling percaya diantara keduanya.
 Gunakan bahasa sederhana kepada pasien sehingga
mereka mengerti pertanyaan yang diajukan dan informasi
yang telah diberikan. Petugas kesehatan harus menjelaskan
informasi khusus dan penting untuk pasien.
 Dialog yang disampaikan secara lembut dan menenangkan
dapat mengalihkan fokus perhatian pasien dan rasa kurang
nyaman yang sedang dialaminya. Peran dokter dan semua
petugas pelayan dalam menerapkan hal ini akan
memberikan hasil yang luar biasa.
Cara komunikasi yang baik antara dokter dan pasien misalnya:

 Dengarkan keluhan dan ungkapan perasaan pasien, jangan


memotong pembicaraan.
 Beri kesan bahwa kita sedang mendengar dan mencoba
memahami apa yang diungkapkan pasien.
 Jawab setiap pertanyaan dengan sabar dan penuh perhatian.
 Berikan penjelasan secara singkat , lengkap, dan mudah
dimengerti. Ulangi informasi penting yang harus diketahui oleh
pasien.
 Gunakan istilah umum dan sederhana, jangan gunakan bahasa
medis yang tidak dimengerti oleh pasien.
 Tunjukkan isyarat atau komunikasi nonverbal, misalnya mendekat
atau tersenyum.
Umumnya petugas kesehatan dikatakan mampu berkomunikasi
positif secara efektif adalah bila yang bersangkutan :
 Mampu menciptakan suasana aman dan nyaman bagi pasien.
 Menimbulkan rasa saling percaya diantara pasien dan petugas
kesehatan.
 Mampu mengenali hambatan sosiokultural setempat.
 Mampu menyampaikan informasi objektif , lengkap, dan jelas.
 Mau mendengar aktif dan bertanya secara efektif dan sopan.
 Memahami dan mampu menjelaskan berbagai aspek kesehatan.
 Mampu mengenali keinginan pasien dan keterbatasan penolong.
 Membuat pasien bertanya , berbicara, dan mengeluarkan
pendapat.
 Menghormati hak pasien , membantu, dan memperhatikan .
Ada beberapa teknik yang dapat membantu petugas kesehatan
menjalin hubungan kepercayaan terhadap pasien:
 Beri salam dan perkenalkan diri Anda
 Panggil nama pasien atau nama keluarganya
 Lakukan kontak mata
 Jaga harkat dan martabat pasien
 Budayakan perilaku positif
 Gunakan teknik mendengar aktif, jangan menyela atau memotong
pembicaraan
 Beri penjelasan dengan bahasa yang mudah dimengerti dan
ringkas
 Jangan gunakan bahasa medis atau istilah yang sulit dipahami
 Tunjukkan perhatian dengan isyarat, mendekat, atau komunikasi
nonverbal lainnya
Komunikasi yang dilakukan dokter dengan pasien tersebut
disebut dengan komunikasi interpersonal (antarpribadi),
yakni komunikasi antara orang-orang secara tatap muka
yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi
orang lain, baik secara verbal maupun nonverbal.
 Komunikasi interpersonal yang terjadi antara dokter dan
pasien di rumah sakit sangat penting dilakukan untuk proses
perawatan, pengobatan, dan penyembuhan.
 Keterlibatan dokter selaku komunikator terhadap isi pesan,
penyampaian pesan bagi komunikan yang di sini adalah
pasien sangat mendominasi dalam proses berkomunikasi.
 Dalam proses interaksi antara individu yang satu
dengan yang lainnya terjadi komunikasi dalam rangka
penyampaian informasi.
 Arief Furchan mengemukakan bahwa “Komunikasi
ialah proses menyalurkan informasi, ide, penjelasan,
perasaan, pertanyaan dari orang ke orang lain atau
dari kelompok ke kelompok. Ia adalah proses interaksi
antara orang-orang atau kelompok-kelompok yang
ditujukan untuk mempengaruhi sikap dan perilaku
orang-orang dan kelompok – kelompok di dalam suatu
organisasi”.
 Agar komunikasi berjalan efektif, komunikator hendaknya
mampu menggunakan dan memilih kata-kata yang baku dan
umum sehingga komunikan mampu memahaminya.
Pembelajaran bahasa Indonesia di PT bertujuan agar
mahasiswa mampu berkomunikasi dengan menggunakan
bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Mempelajari bahasa Indonesia di tingkat universitas sama


halnya seperti mempelajari mata pelajaran bahasa Indonesia
di SMA, namun pembahasan di universitas lebih spesifik dan
mendalam.
Pengajaran bahasa Indonesia di PT bertujuan sebagai
panduan untuk penyusunan dan penggunaan tata
bahasa yang baik dan benar dalam komunikasi ilmiah,
seperti: skripsi, tesis, disertasi, dll.
 Pengertian karya ilmiah adalah laporan tertulis dan
terpublikasi yang memaparkan hasil penelitian atau
pengkajian yang dilakukan oleh seseorang atau tim dengan
memenuhi kaidah dan etika keilmuan.
 Beberapa jenis karangan ilmiah, antara lain laporan
penelitian, makalah seminar atau simposium, artikel jurnal
yang pada dasarnya kesemuanya itu merupakan produk dari
kegiatan ilmuwan.
 Bahasa Indonesia adalah bahasa nasional negara Indonesia
yang merupakan bahasa pemersatu. Namun faktanya,
masih sedikit mahasiswa yang memiliki kemampuan
berbahasa Indonesia secara maksimal.
Sebagai mahasiswa:
 Dituntut menggunakan kosa kata bahasa yang benar dalam
menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
 Harus bisa membedakan antara ragam bahasa baku dan
ragam bahasa tidak baku, baik tulis maupun lisan.
 Dalam bahasa Indonesia terdapat aneka ragam bahasa yang timbul akibat
pengaruh dari berbagai hal yang berhubungan dengan penutur bahasa dan
sarana atau media yang digunakan.
1. Hal yang berhubungan dengan penutur dapat dibedakan seperti berikut:
a. Latar belakang daerah penutur.
Ragam bahasa Indonesia yang dipengaruhi oleh latar belakang daerah
penuturnya menimbulkan ragam daerah atau dialek. Dialek adalah cara
berbahasa Indonesia yang diwarnai oleh karakter bahasa daerah yang
masih melekat pada penuturnya.
Contoh: Bahasa Indonesia dengan dialek Betawi
 biasanya menggunakan fonem /e/ untuk melafalkan kata yang berakhir
dengan vokal /a/., misalnya apa menjadi ape, di mana menjadi di
mane, dan seterusnya. Begitu pula dengan logat Jawa untuk menyebutkan
kata berawalan konsonan /b/ akan terdengar bunyi konsonan /m/,
misalnya, Bandung menjadi mBandung, Bogor menjadi mBogor.
Contoh:
Bahasa Indonesia dengan dialek Betawi
 biasanya menggunakan fonem /e/ untuk melafalkan
kata yang berakhir dengan vokal /a/,
misalnya apa menjadi ape, di mana menjadi
di mane, dan seterusnya. Begitu pula dengan logat
Jawa untuk menyebutkan kata berawalan konsonan
/b/ akan terdengar bunyi konsonan /m/,
misalnya, Bandung menjadi mBandung,
Bogor menjadi mBogor.
b. Latar belakang pendidikan penutur.
Latar belakang pendidikan penutur, menimbulkan
ragam berlafal baku dan tidak baku, khususnya dalam
pengucapan kosa kata yang berasal dari unsur
serapan asing. Kaum berpendidikan umumnya
melafalkan sesuai dengan lafal baku. Namun, untuk
yang kurang atau tidak berpendidikan, pelafalan
diucapkan tidak tepat atau tidak baku.
Contoh pengucapan kata film, foto, fokus, fakultas
diucapkan pilm, poto, pokus, pakultas.
c. Situasi pemakaian, sikap, dan hubungan sosial
penutur
Berdasarkan hal ini, timbul ragam formal, semiformal, dan
nonformal.
Ragam formal digunakan pada situasi resmi atau formal,
seperti di kantor, dalam rapat, seminar, atau acara-acara
kenegaraan. Ragam formal menggunakan kosakata baku
dan kalimatnya terstruktur lengkap. Ragam formal juga
dipakai jika penutur berbicara pada orang yang disegani
atau dihormati, misalnya pimpinan perusahaan.
 Ragam semiformal dan nonformal dipakai pada situasi tidak
resmi seperti di warung, di kantin, di pasar, pada situasi santai dan
akrab.
* Ragam semiformal dan nonformal dibedakan oleh pemilihan katanya.
Ragam semiformal menggunakan kalimat yang tidak lengkap gramatikalnya
dan kosakata yang dipilih cenderung tidak baku, sedangkan ragam nonformal
relatif sama dengan ragam informal hanya pilihan katanya lebih luwes atau
bebas.
Kata-kata daerah atau gaul dapat digunakan sepanjang masing-masing
penuturnya memahami dan tak terganggu dengan penggunaan kata tersebut.

Contoh:
1. Kalau soal itu, saya nggak tau persis. (informal/semiformal)
2. Emangnya kamu nggak dikasih besuk. (semiformal)
3. Kalau soal itu, ogut nggak tau deh. (nonformal)
4. Emangnya situ nggak ngantor, Mas. (nonformal)
d. Ruang lingkup pemakaian atau pokok persoalan yang
dibicarakan di lingkungan kelompok penutur.
Banyak topik pembicaraan yang dihadapi dalam kehidupan
sehari-hari. Saat membicarakan topik tertentu, seseorang akan
menggunakan kosakata kajian atau khusus yang berhubungan
dengan topik pembicaraan tersebut.
Ragam bahasa yang digunakan untuk membahas suatu bidang
akan berbeda dengan bidang lainnya, misalnya pembicaraan yang
berhubungan dengan agama tentu menggunakan istilah yang
berhubungan dengan agama, begitu pula dengan bidang lainnya,
misalnya bidang hukum, kedokteran, dan ekonomi. Masing-
masing memiliki ciri khas kata atau ragam bahasa yang
digunakan. Termasuk penggunaan ungkapan atau gaya
bahasanya. Variasi ini disebut dengan laras bahasa.
Wacana tentang teknologi komunikasi:
Banyak situs internet menyediakan fasilitas ruang obrolan
(chatting
room). Salah satu yang cukup populer di Indonesia adalah
milik detik.com. Agar percakapan aman dari umum, chatter dapat
membuat web pribadi.

Wacana yang berhubungan dengan persoalan kesehatan:


Penyakit chikungunya diakibatkan oleh virus yang ditularkan oleh
nyamuk Aedes aegypti. Virus ini membuat penderita mengalami
demam tinggi selama lima hari. Setelah mengalami masa inkubasi
selama tiga hari hingga dua belas hari, penderita akan jatuh sakit.
Selain demam, penderita juga akan mengalami rasa ngilu pada
otot, mual hingga muntah.
Wacana surat kabar:
Lima siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Bina Taruna,
Purwakarta, tewas akibat truk yang mereka tumpangi terguling di
kawasan Waduk Cirata, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Rabu
(9/5) sekitar pukul 13.30. Para siswa tersebut menumpang truk usai
berekreasi ke Waduk Cirata setelah merampungkan ujian.

Wacana bergaya sastra:


Grace mengambil payung dari bawah jok tempat duduk dan beranjak
keluar. Dari arah lapangan, murid-murid dengan baju olahraga enggan
berteduh. Pakaian mereka sudah sangat kuyup, tetapi semangat
mereka untuk bermain basket masih menyala dalam hujan. Beberapa
anak yang tidak bermain bersorak–sorai dan bertepuk tangan sembari
menyipratkan air yang berkubang di tanah dengan kaki mereka.
Berdasarkan sarana atau media yang digunakan, ragam bahasa dibedakan menjadi
ragam lisan dan tulisan.
Perbedaan ragam lisan dan tulisan:

Ragam lisan
1. Menghendaki adanya teman/mitra bicara.
2. Unsur gramatikal seperti subjek, predikat, objek tidak tampak.
Yang tampak adalah gerakan, mimik, dan ekspresi.
3. Terikat oleh situasi, kondisi, ruang, dan waktu.
4. Makna dipengaruhi oleh tekanan atau nada suara.

Ragam tulisan
1. Tidak harus ada teman bicara di hadapan
2. Fungsi gramatikal dinyatakan secara eksplisit.
3. Tidak terikat situasi, ruang, dan waktu.
4. Makna ditentukan oleh pemakaian tanda baca.
 Kriteria pemakaian bahasa yang baik adalah ketepatan memilih
ragam bahasa yang sesuai dengan kebutuhan komunikasi.
 Pemilihan ini bertalian dengan

- topik yang dibicarakan,


- tujuan pembicaraan,
- orang yang diajak berbicara (kalau lisan)
atau orang yang akan membaca (kalau tulis), dan
- tempat pembicaraan.
Selain itu, bahasa yang baik itu bernalar, dalam arti bahwa bahasa
yang kita gunakan logis dan sesuai dengan tata nilai masyarakat
kita.
 Kondisi pemakai bahasa Indonesia sekarang cukup
memprihatinkan, mengingat sering terlontar perkataan “cape
deh harus menggunakan bahasa Indonesia yang selalu
berpedoman kepada yang baik dan benar”
 “Yang penting apa yang ingin kita sampaikan orang mengerti
dan paham, mau pake bahasa campur aduk kek, saya mau pake
bahasa Indonesia campur bahasa Inggris kek,campur lagi
dengan bahasa daerah kek, toh yang baca juga paham. Cape
deh, please dong jangan diperbesar masalah-masalah kecil
kayak gini”.
 Benar dan pantaskah bila kita sebagai pemilik bahasa Indonesia
berasumsi demikian?
 Saat ini hampir semua istilah kesehatan dan
kedokteran diadaptasi dan dipinjamkan dari istilah-
istilah kedokteran atau istilah kesehatan dari bahasa
asing--khususnya dari bahasa Inggris.

 Jika Anda menemukan kata/istilah kesehatan dan


kedokteran dalam bahasa Inggris, sebaiknya kamus
yang pertama kali dibuka adalah kamus kesehatan dan
kedokteran, bukan kamus bahasa Inggris yang biasa
dipakai untuk sehari-hari.
Konsep Dasar Struktur Istilah Medis
 Sebagian besar istilah berasal dari bahasa Yunani Kuno (G) dan
Latin (L).
 Untuk istilah organ tubuh bahasa yang digunakan berasal dari
bahasa Latin, sedangkan untuk istilah penyakit menggunakan
bahasa dari Yunani.
Contoh :
1. Marrow (L) = istilah untuk sumsum tulang
Myelitis (G) = istilah penyakit untuk radang sumsum tulang
2. Pulmo (L) = istilah untuk organ tubuh paru-paru
Pneumonia (G) = istilah penyakit untuk radang paru-paru
Diksi:
Denotatif
Ketetapan Konotatif
 Makna Umum
 Logika Khusus
Jargon
 Sama Maksud
Slang
 Kesesuaian Populer
 Cocok dengan Ilmiah
Konteks sosial
 Penggunaan kata dalam berbagai kesempatan
harus sudah diperhitungkan ketepatan serta
kesesuaiannya.
 Ketepatan ialah hal yang menyangkut makna,
logika, kesamaan maksud.
 Kesesuaian yaitu kecocokan dengan konteks
sosial; apakahkata-kata yang dipilih atau dipakai
dapat diterima oleh masyarakat, pendengar atau
pembaca. Terutama yang lebih penting adalah
apakah pilihan kata yang kita pakai sudah
merupakan pilihan kata yang baku.
BAHASA LISAN BAHASA TULIS

PEMBICARA PENULIS

PENDENGAR PEMBACA

34
Beberapa penyebab ketidakefektifan suatu kalimat,
antara lain:
1. Kontaminasi
2. Pleonasme
3. Ambiguitas
4. Tidak jelas unsur subyek
5. Kemubaziran preposisi
6. Kesalahan logika
7. Ketidaktepatan bentuk kata
8. Ketidaktepatan makna kata
9. Pengaruh bahasa daerah
10. Pengaruh bahasa asing

35
1. Mereka sedang memperlebarkan Mereka sedang melebarkan
jalan. jalan
Mereka sedang memperlebar
jalan.

2. Banyak anak-anak putus Banyak anak putus sekolah


sekolah di desa itu. di desa itu.

3. Datanglah pada ulang tahun Datanglah pada ulang


anakku yang kedua tahun yg kedua anakku

4. Kepada para mahasiswa diharap Para mahasiswa diharap


tenang tenang

36
5. Anak dari Pak Rusli menjadi dokter Anak Pak Rusli menjadi Dokter
6. Adanya penyakit TB paru menyebabkan Penyakit TB paru menyebabkan
penurunan berat badan penurunan berat badan
7. Kita harus memahami mengapa sel normal Kita harus memahami penyebab sel
bisa menjadi sel tumor ganas normal bisa menjadi sel tumor ganas
8. Dalam pengobatan pneumonia,
pemberian antibiotik empiris sebaiknya ....
9. Kanker paru membutuhkan biaya besar Kanker paru membutuhkan biaya jutaan
di mana biaya pemeriksaan, bronkoskopi, rupiah yang mencakup biaya pemeriksa-
kemoterapi dan radioterapi bisa an dst.
menghabiskan jutaan rupiah"
10. Adanya penyakit TB paru menyebabkan Penyakit TB paru
menyebabkan
penurunan berat badan penurunan berat badan

37
1. Sepadan
2. Sejajar/paralel
3. Tegas
4. Hemat
5. Cermat
6. Padu
7. Logis

38