Anda di halaman 1dari 23

FARMAKOLOGI

KELOMPOK 1
Disusun Oleh :
KHARINA NURKHASANAH

INDRA RESSY .O

TYAS MORO .W

MUTIA RAHAYU

ANI RAHAYU

RESTIANY ARIKA

DIAN PERTIWI
ADME
(ABSORPSI, DISTRIBUSI, METABOLISME,
EKSKRESI)
 ADME adalah seluruh rangkaian perjalanan obat
didalam tubuh mencakup absorpsi, distribusi,
metabolisme, ekskresi.
ABSORPSI
 Absorpsi didefinisikan sebagai suatu proses
penyerapan obat dalam tubuh.
 penyerapan obat terjadi secara langsung dengan
mekanisme perlintasan membran. Fenomena ini bukan
satu-satunya faktor penentu masuknya zat aktif
kedalam tubuh, pentingnya juga memperhatikan
bentuk sediaan, perlunya zat aktif yang berada
dalam bentuk yang sesuai agar dapat menembus
membran dan pentingnya kelarutan atau keterlarutan
zat aktif padat.
ABSORPSI
 Absorpsi terjadi di tempat pemberian obat. Secara
local misalnya dalam lambung (obat oral), otot
(intramuscular), dalam kulit (topical), dinding
pembuluh darah kapiler di sekitar anus, atau
secara sistemik yaitu di lambung dan usus.
Kecepatan absorbsi dan jumlah obat
yang di absorbsi tergantung pada :

 Bentuk sediaan
 Ukuran partikel
 Rute dan cara pemberian obat
 Stress
Didalam absorpsi terdapat 2 rute
pemberian obat, enteral dan
parenteral.
DISTRIBUSI
 Distribusi obat adalah proses-proses yang
berhubungan dengan transfer senyawa obat dari
satu lokasi ke lokasi lain di dalam tubuh. Setelah
melalui proses absorpsi, senyawa obat akan
didistribusikan ke seluruh tubuh melalui sirkulasi
darah. Molekul obat dibawa oleh darah ke satu
target (reseptor) untuk aksi obat dan ke jaringan
lain (non-reseptor),
 Distribusi obat dipengaruhi oleh:
 Aliran darah
 Afinitas
 Ikatan obat dengan protein
 Perfusi darah melalui jaringan
 Partisi ke dalam lemak
DISTRIBUSI
 Setelah obat mengalami absorpsi, maka obat akan
berada di dalam darah. Obat dari tempat
absorpsinya akan di distribusi ke sirkulasi sistemik
(system sirkulasi darah di seluruh tubuh).
 Selain itu obat akan di ditribusi ke reseptor tempat
kerja obat (setiap obat memiliki reseptor tertentu
yang menyebabkan terjadinya efek farmakologi,
dapat berupa sel, jaringan, organ atau enzim).
METABOLISME
 metabolisme obat ialah proses perubahan struktur
kimia obat yang terjadi di dalam tubuh dan
dikatalis oleh enzim
 Organ-organ yang bertanggung jawab dalam
metabolisme obat adalah hati, paru, ginjal, mukosa
dan darah merah. Tabel di bawah ini menjelaskan
sel yang mengandung enzim metabolisme obat
pada berbagai organ
Organ dan sel yang mengandung
enzim metabolisme obat
METABOLISME
 Metabolisme obat utamanya terjadi di hati dan
ginjal.
 Faktor yang mempengaruhi metabolisme obat:
 1. fungsi hati
 2. usia

 3. factor genetic

 4. adanya pemakaian obat lain secara bersamaan


EKSKRESI
 Ekskresi merupakan proses pengeluaran zat sisa
metabolisme tubuh, seperti CO2, H2O, NH3, zat
warna empedu, dan asam urat. Zat hasil metabolisme
yang tidak diperlukan oleh tubuh akan dikeluarkan
melalui alat ekskresi. Sistem ekskresi merupakan
salah satu hal yang penting dalam homeostatis tubuh
karena selain berperan dalam pembuangan limbah
hasil metabolisme sistem ekskresi juga dapat
merespon terhadap ketidakseimbangan cairan tubuh
Organ yang bertanggung jawab pada
proses ekskresi
 Fungsi dari sistem ekskresi yaitu :
 a) Membuang limbah yang tidak bergunadari
dalam tubuh
 b) Mengatur konsentrasi dan volume cairan tubuh
(osmoregulasi)
 c) Mempertahankan temperatur tubuh dalam
kisaran normal (termoregulasi)
EKSKRESI
 Proses ekskresi obat terjadi melalui ginjal (urin), usus
besar (feses), kulit (keringat).
 Faktor yang mempengaruhi ekskresi obat:
 1. sifat fisikokimia
 Bobot molekul
 pKa
 Kelarutan
 Tekanan uap
 2. pH urine
 3. Kondisi patologis
 4. aliran darah
 5. usia
Contoh kasus interaksi obat
 interaksi obat pada penggunaan antibiotika
golongan fluorokuinolon dengan obat laindari
pasien dewasa dengan demam tifoid
 Pemberian antibiotika secara bersamaan dengan
obat lain dapat menimbulkan efek yang tidak
diharapkan. Efek dari interaksi yang dapat terjadi
cukup beragam mulai dari penurunan absorpsi obat
atau penundaan absorpsi sehingga meningkatkan
efek toksik obat lainnya
 Antibiotik golongan Fluorokuinolon memiliki interaksi
dengan beberapa obat seperti antasida, sukralfat,
zat besi oral, kortikosteroid sistemik
 Penggunaannya secara bersamaan dengan obat-obat
tersebut dapat menyebabkan penurunan absorpsi
fluorokuinolon
 Interaksi ciprofloxacin dengan antasida , Pada
demam tifoid, pemberian antasida yang merupakan
obat yang menekan asam lambung, digunakan untuk
mengatasi gangguan saluran pencernaan
 Antasida yang mengandung kation divalen atau
trivalen seperti Ca2+, Mg2+, atau Al3+, dapat
mengurangi absorpsi antibiotika fluorokuinolon yang
diberikan secara oral karena dapat membentuk
khelat dengan antibiotika fluorokuinolon
 Penurunan absorpsi fluorokuinolon akan
mempengaruhi konsentrasi maksimum(Cmax) dan
persentase bioavailabilitas, sehingga dapat
menurunkan efektivitas terapi antibiotika
 Interaksi levofloxacin dengan sucralfat
 Sukralfat merupakan cytoprotectiveagent, yang
pada susasana saluran pencernaan yang asam,
akan membentuk kompleks dengan protein yang
akan melapisi mukosa lambung (Sweetman, 2009).
Pemberian sukralfat bersamaan dengan antibiotika
fluorokuinolon, dapat menyebabkan penurunan
absorpsi antibiotika fluorokuinolon
Kesimpulan
 Potensi interaksi yang terjadi pada pemberian
fluorokuinolon bersama obat lain diantaranya
levofloksasin dengan antasida,siprofloksasin
dengan antasida, sparfloksasin dengan antasida,
dan levofloksasin dengan sukralfat. Interaksi ini
dapat diminimalkan dengan pemberian antibiotika
fluorokuinolon 2 jam sebelum atau 6 jam setelah
pemberian antasida dan sukralfat
TERIMAKASIH