Anda di halaman 1dari 56

LAPORAN KASUS

NEFROLITHIASIS SINISTRA

oleh

Evina Nurulita, S.Ked


Pembimbing:
dr. Vanda Yogapuspita, Sp.Rad

KEPANITERAAN KLINIK ILMU RADIOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MALAHAYATI
RS PERTAMINA BINTANG AMIN BANDAR LAMPUNG
2018
IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. S
Tanggal Lahir : 19- 08- 1969
Usia : 49 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : Guru SD
Suku Bangsa : Indonesia
Agama : Islam
No.RM : 11.63.05
Masuk RSPBA : 16/10/2018
ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara auto anamnesis dan
alloanamnesis.

.
Keluhan Utama
Nyeri pinggang kiri sejak 1 minggu SMRS dan memberat
sejak 3 hari SMRS.

Keluhan Tambahan
Nyeri saat berkemih, demam, tidak napsu
makan, mual
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Pasien datang ke RS dengan keluhan nyeri
pinggang kiri sejak 1 minggu, nyeri dirasakan
terus menerus pada saat posisi os duduk berdiri
maupun berbaring. Os tidak nafsu makan, mual
(+), muntah (-). Pasien juga mengeluh lemas, dan
lesu sampai Os tidak kuat menjalankan aktivitas
seperti biasanya. Demam (+), menggigil (-). BAK
kurang lampias dan terasa nyeri ketika BAK,
tidak ada darah. Os mengaku pernah ada
riwayat keluar batu sebesar biji pepaya saat
BAK sejak 2 bulan yang lalu. BAB lancar.
RIWAYAT PERJALANAN PENYAKIT
DANOsMETODE
mengeluhkan nyeri pinggang dan memang sudah
pernah seperti ini kurang lebih sekitar 2 bulan yang lalu.
Awalnya keluhan yang dirasakan os adalah nyeri pinggang
dan nyeri saat berkemih, lalu beberapa hari setelah itu os
mengaku mengalami kencing keluar batu sebesar biji
pepaya sebanyak 1 kali. Namun setelah keluar batu
tersebut BAK os jadi enak dan lancar. Lalu Kurang lebih 1
minggu SMRS os mulai mengeluh nyeri pinggang lagi dan
sering disertai demam yang hilang timbul. Keluhan semakin
parah sejak 3 hari SMRS nyeri dirasakan terus menerus
disertai mual, lemas dan nafsu makan berkurang sehingga
os tidak bisa melakukakn aktivitas seperti biasanya.
Sebelumnya os sudah pernah berobat ke bidan lalu di rawat
di puskesmas terdekat selama 1 malam namun tidak ada
perubahan.
Akhirnya oleh puskesmas tersebut os disarankan untuk
dirujuk ke Rumah Sakit tipe C lalu keluarga os membawa
os ke IGD RSPBA dikarenakan os mengeluh sangat
kesakitan. Oleh dokter jaga IGD, os di sarankan untuk
rawat inap agar mendapatkan terapi lebih lanjut.
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
Os sudah menderita penyakit batu ginjal sejak
kurang lebih 2 bulan yang lalu dan riwayat
Hipertensi sejak lama.

Riwayat Penyakit Keluarga


Bapak os juga menderita Hipertensi
ANAMNESIS SISTEM
Kepala – Tidak ada keluhan
Mata – Tidak ada keluhan
Telinga – Tidak ada keluhan
Hidung – Tidak ada keluhan
Mulut – Tidak ada keluhan
Tenggorok – Tidak ada keluhan
Leher – Tidak ada keluhan
Jantung – Tidak ada keluhan
Paru-Paru – Tidak ada keluhan
✓ Nafsu makan menurun
Gastrointestinal
✓ Nyeri perut

Nyeri BAK
Saluran Kemih
BAK tidak lampias
Alat Kelamin – Tidak ada keluhan
Neurologis – Tidak ada keluhan
Psikologis – Tidak ada keluhan
Kulit – Tidak ada keluhan
Endokrin – Tidak ada keluhan
Muskuloskeletal – Tidak ada keluhan
RIWAYAT MAKANAN &
MINUMAN RIWAYAT ALERGI
Frekuensi/hari : 2-3 x/ hari Os menyangkal
Jumlah/hari : Satu porsi alergi makanan
Variasi/hari : Tidak bervariasi dan obat
Nafsu makan : Menurun

Os mengatakan dirinya memang


kurang minum air putih, minum air putih saat
setelah makan saja dan ruang kerja os bukan
di tempat yang panas jadi os merasa tidak
haus sehingga lupa untuk minum.
PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan Umum
Keadaan umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Komposmentis
Tekanan darah : 160/80 mmHg
Nadi : 76 x/menit, regular, lemah
Suhu : 37,6 ⁰C
Pernapasan : 22 x/menit
BB : 68 kg
TB :-
Sianosis : Tidak sianosis
Aspek Kejiwaan
: Menurun
Tingkah laku : Wajar/Gelisah/Tenang/Hipoaktif/Hiperaktif
Alam perasaan : Biasa/Sedih/Gembira/Cemas/Takut/Marah
Proses pikir : Wajar/Cepat/Gangguan Waham/Fobia/Obsesi

Status Generalisata
Kulit
Warna : Sawo matang Efloresensi : Tidak ada
Jaringan parut : Tidak ada Pigmentasi : Tidak ada
Pertumbuhan rambut: Normal Suhu raba : Normal

Kepala
Ekspresi wajah : Normal
Simetris muka : Simetris
Rambut : Normal
Mata: Menurun
Eksolftalmus : Tidak ada Endoftalmus : Tidak ada
Kelopak : Tidak cekung Lensa : Normal
Konjungtiva : Normal Visus : Normal
Sklera : Normal Gerakan mata : Normal
Lap.penglihatan : Normal Tek. bola mata : Normal
Deviatio konjungtiva: Tidak ada Nistagmus : Tidak ada

Telinga
Tuli : Normal
Lubang : Normal Penyumbatan : Tidak ada
Serumen : Tidak diperiksa Perdarahan : Tidak ada

Hidung
Trauma : Tidak ada Nyeri : Tidak ada
Sekret : Tidak ada Pernafasan cuping hidung : Tidak ada
Mulut
Bibir : Sedikit kering
Tonsil : Normal
: Menurun
Langit-langit : Normal Bau nafas : Tidak berbau
Trismus : Normal Lidah : Normal
Faring : Normal

Leher
Tekanan vena jugularis : JVP 5-2 cm H2O
Kelenjar tiroid : Tidak teraba
Kelenjar limfe : Tidak teraba

Thorak
Bentuk : Simetris kiri = kanan
Sela iga : Normal
Paru Depan Belakang
Inspeksi : Bentuk normal, statis, dinamis dan simetris
Palpasi : Massa (-), krepitasi (-)
Perkusi : Sonor pada kedua lapang paru
Auskultasi : vesikular (+/+) normal, Rh (-/-), Wh (-/-),

Jantung
Inspeksi : Iktus cordis tidak tampak
Palpasi : Iktus cordis tidak teraba
Perkusi :
Batas jantung atas : ICS II linea parasternalis sinistra
Batas jantung kiri : ICS IV linea midclavicula sinistra
Batas jantung kanan ICS IV linea parasternalis dextra
Auskultasi : Bunyi jantung S1 dan S2 normal; Murmur (-);
Gallop (-)
Abdomen
Inspeksi : perut datar, distensi abdomen (-), asites (-)
Auskultasi : bising usus (+) normal,
Palpasi : nyeri tekan pada perut sebelah kiri.
perkusi : nyeri ketok costovertebrae angle sinistra (+)

Ekstremitas
Ekstremitas superior dextra dan sinistra :
Oedem (-), deformitas (-), sianosis (-), nyeri sendi (-), ptekie
(-),
eritem palmar (-), akral dingin (-), krepitasi (-)
Ekstremitas inferior dextra dan sinistra :
Oedem (-), deformitas (-), sianosis (-), nyeri sendi (-), ptekie
(-), eritem palmar (-), akral dingin (-), krepitasi (-)
PEMERIKSAAN PENUNJANG
LABORATORIUM
HEMATOLOGI (16 Oktober 2018)

No. Pemeriksaan Hasil Normal Satuan


1. Hemoglobin 11,8 LK 14–18 Wn 12–16 gr/dl
2. Leukosit 11.200 4.500–10.700 ul
3. Hit. Jenis Leukosit Basofil 0 0–1 %
4. Hit. Jenis Leukosit Eosinofil 0 0–3 %
5. Hit. Jenis Leukosit Batang 1 2–6 %
6. Hit. Jenis Leukosit Segmen 80 50–70 %
7. Hit. Jenis Leukosit Limfosit 10 20–40 %
8. Hit. Jenis Leukosit Monosit 9 2–8 %

9. Eritrosit 4,1 Lk 4,6–6,2 Wn 4,2–6,4 ul


10. Hematokrit 33 Lk 40–54 Wn 38–47 %
11. Trombosit 60.000 159.000–400.000 ul
12. MCV 83 80–96 fl
13. MCH 29 27–31 pg
14. MCHC 35 32–36 gr/dl
URINE (16 Oktober 2018)

Pemeriksaan Urine
No. Pemeriksaan Hasil Normal Satuan

1. Warna Kuning Kuning


2. Kejernihan Agak keruh Jernih
3. Berat Jenis 1.015 1.005-1.030
4. PH 7 5-8
5. Leukosit 75 / (++) < 10 ( NEGATIF)
6. Nitrit Negatif Negatif
7. Protein 30 / (+) Negatif
8. Glukosa Negatif Negatif
9. Urobilinogen Negatif Negatif
10. Bilirubin Negatif Negatif

11. Darah Samar +++/250 Negatif (<10 ery/dl)


12. Sedimen leukosit 11-15 10/LPB
13. Sedimen Eritrosit 20-25 5/LPB
14. Sedimen Epitel Beberapa Negatif
15. Sedimen Bakteri Negatif Negatif
16. Sedimen Kristal Negatif Negatif
17. Sedimen Silinder Negatif Negatif
Kimia Darah (16 Oktober 2018)

No. Pemeriksaan Hasil Normal Satuan

1 Urea 44 10-50
2 Kreatinin 2,4 0,5-0,9
PEMERIKSAAN ULTRASONOGRAFI
GINJAL KANAN DAN GINJAL KIRI

Ginjal kanan :
Besar dan bentuk normal, kontur normal, parenkim normal, intensitas gema normal,
batas tekstur parenkim dengan central echo-complex normal, tidak tampak bayangan
hyperechoic dengan acustic shadow, diameter ± 0,81 cm, tidak tampak massa, sistem
pelvokalises tampak melebar.
Ginjal kiri :
Besar dan bentuk normal, kontur normal, parenkim normal, intensitas gema normal,
batas tekstur parenkim dengan central echo-complex normal, tampak bayangan
hyperechoic dengan acustic shadow, soliter, diameter ± 0,81 cm, tidak tampak massa,
sistem pelvokalises tampak melebar ringan.
VESIKA URINARIA

Besar dan bentuk normal, dinding tidak menebal, regular, tidak


tampak batu/massa.
PROSTAT

Besar dan bentuk normal, tekstur parenkim homogen halus,


tidak tampak massa, kalsifikasi (+).
KESAN
•Pelvokaliektasis ginjal ringan
•Pelvokaliektasis ringan disertai nephrolithiasis ginjal kiri
•Kalsifikasi prostat
•USG vesika urinaria saat ini masih dalam batas normal
RADIOGRAFI BNO
Pre- peritoneal fat normal
Psoas line normal
Kontur ginjal kanan dan kiri tidak jelas
Gambaran udara dalam gaster normal
Tidak tampak gambaran udara dalam usus
halus
Distribusi udara dalam kolon normal dengan
fecal material di dalamnya
Tampak kongkarmen opak oval soliter di
abdomen kiri setinggi corpus vertebra L2
Skletal : dalam batas normal

Kesan :
Nephrolitiasis kiri
Tidak tampak gambaran ileus
RESUME
Pasien datang ke RS dengan keluhan nyeri
pinggang kiri sudah 1 minggu. Nafsu makan pasien
berkurang, Nausea (+). Disuria (+), Hematuri (-). Os
mengeluh demam. Riwayat penyakit batu ginjal sejak
kurang lebih 2 bulan yang lalu.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan pasien
tampak sakit sedang dengan nyeri tekan dan
nyeri ketok costovertebrae angle abdomen kiri
bawah.
Pada pemeriksaan laboratorium darah rutin
ditemukan leukosit yang sedikit tinggi yaitu
11.200 serta penurunan trombosit yaitu 60.000.
Pada pemeriksaan BNO ditemukan tampak
kongkarmen opak oval soliter di abdomen kiri
setinggi corpus vertebrae L2. Pada pemeriksaan
USG ditemukan batu pada ginjal kiri.
DAFTAR MASALAH

Anamnesis :
Nyeri pinggang kiri
- Demam
- Nyeri saat BAK
- BAK tidak lampias
– Lemas
– Tidak Napsu Makan
– Mual
PEMERIKSAAN FISIK

Mulut : sedikit kering

Abdomen
Palpasi : Nyeri tekan pada abdomen kiri bawah
Perkusi : nyeri ketok costovertebrae angle sinistra
PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Laboratorium
Darah rutin :
Leukosit : 11.200

2. Urine
Leukosit (++) / 75
Protein +/ 30
Darah Samar +++/250
Sedimen leukosit 11-15
Sedimen Eritrosit 20-25
Sedimen Epitel Beberapa
Sedimen Silinder Sedikit
3. Kimia Darah
Kreatinin : 2,4
USG

Pelvokaliektasis ginjal kanan, pelvokaliektasis


ringan disertai nephrolithiasis ginjal kiri
DIAGNOSIS KERJA
Nefrolithiasis sinistra

DIAGNOSA BANDING
•Nefrolithiasis sinistra
•Nefrokalsinosis
•Ureterolithiasis
•Kolelithiasis
•Hidronefrosis
PENATALAKSANAAN
Non Farmakologi
Tirah baring

Farmakologi
IVFD RL XX gtt/menit
Inj. Ketorolac 3x1 amp / IV
Inj. Ranitidine 2x1 amp / IV
Pronalges supp
RENCANA PEMERIKSAAN

a. Laboratorium Darah Lengkap


b. Urine Lengkap
c. Ultrasonografi Lower Abdomen
d. Radiography Foto BNO

Prognosis
Quo ad vitam : dubia at bonam
Quo ad functionam : dubia at bonam
Quo ad sanationam : dubia at bonam
FOLLOW UP PASIEN
Tanggal : 16 Oktober 2018
S : Nyeri pinggang kiri disertai mual (+). Nafsu makan
berkurang. Nyeri BAK (+) .
O : TD : 160/80
A : Kolik Renal ec Nefrolithiasis sinistra
P :
IVFD RL XX gtt/menit
Inj. Ketorolac 3x1 amp / IV
Inj. Ranitidine 2x1 amp / IV
Pronalges supp
Tanggal : 17 Oktober 2018
S : Nyeri pinggang kiri disertai mual
O : TTV DBN
A : Susp Nefrolithiasis sinistra
P :
IVFD RL XX gtt/menit
Inj. Ketorolac 3x1 amp / IV
Inj. Ranitidine 2x1 amp / IV
Pronalges supp
Advice USG lower Abdomen + Foto BNO
USG : Pelvokaliektasis ringan disertai nephrolithiasis ginjal kiri
BNO : Nephrolitiasis kiri
Tanggal : 18 Oktober 2018
S : Nyeri pinggang kiri
O :
• TTV DBN
A : Nefrolithiasis sinistra
P :
• IVFD RL XX gtt/ menit
Inj. Ketorolac 3x1 amp / IV
Inj. Ranitidine 2x1 amp / IV
Pronalges supp
Renalof 3x1
bicnat 3x1
harnal ocas 1x1
Na. diclofenac 2x1
ceftriaxone 2x1gr
Tanggal : 19 Oktober 2018
S : Nyeri berkurang
O : TTV: DBN
A : Nefrolithiasis sinistra
P : Renalof 3x1, bicnat 3x1, harnal ocas 1x1, Na. diclofenac 2x1
BLPL
mengaku sudah mengalami
z keluhan sejak 2 bulan yang lalu.
Usia 30- 60 tahun adalah salah Pekerjaan
satu factor resiko terbentuknya Guru SD
Kebiasaan
Batu Saluran Kemih. dan jarang

ANALISA
kurang
minum air melakukan
putih olahraga

KASUS

Batu Saluran Kemih. Dalam kasus


Nefrolitiasis

Obstruksi pada
Gesekan pada Infeksi Saluran
saluran kemih
saluran kemih Kemih

Lesi pada
Nyeri saat
saluran kemih Stenosis Terdapat
Tekanan pada berkemih
Ureter batu dalam
ginjal meningkat
urin
karena terjadi
Hematuria ( penumpukan
Kadar
Terdapat darah urin Nyeri kolik Demam leukosit
samar dan eritrosit pada
darah
pada urin pasien) pinggang kiri
dan urin
tinggi

Tidak Nafsu Asam lambung Mual


ANALISA KASUS
Nefrolitiasis (batu ginjal) merupakan salah satu penyakit
ginjal, dimana ditemukannya batu yang mengandung
komponen kristal dan matriks organik yang merupakan
penyebab terbanyak kelainan saluran kemih (Hanley JM,
2012).
Lokasi batu ginjal khas dijumpai di kaliks, atau pelvis dan
bila keluar akan terhenti dan menyumbat pada daerah
ureter (batu ureter) dan kandung kemih (batu kandung
kemih). Batu ginjal dapat terbentuk dari kalsium, batu
oksalat, kalsium oksalat, atau kalsium fosfat. Namun yang
paling sering terjadi pada batu ginjal adalah batu
kalsium.
Diagnosis pasien pada kasus ialah nefrolithiasis

sinistra. Hal ini dipertimbangkan berdasarkan

dasar aspek klinis, hasil pemeriksaan radiologis,

dan hasil pemeriksaan laboratorium.

Faktor pada pasien ini ditemukan adanya

faktor intrinsik antara lain , umur (30-60 tahun)


Sedangkan faktor ekstrinsiknya antara lain,

•Riwayat kebiasaaan pasien Kurang meminum air putih),

•Pekerjaan, penyakit ini sering dijumpai pada orang yang

pekerjaannya banyak duduk atau kurang aktivitas (pekerjaan pasien

sebagai Guru SD dengan riwayat kebiasaan tidak suka berolahraga).


Secara umum, nyeri pada area pinggang maupun perut

sebelah kiri dapat bersumber dari gangguan pada sistem

digestif, sistem urinaria, dan sistem muskuloskeletal. Hal ini

karena nyeri pada pinggang kiri bukanlah gejala khas,

banyak sekali penyakit-penyakit yang ditandai dengan nyeri

pinggang

Pada pasien disangkalnya keluhan-keluhan yang

biasanya menyertai penyakit saluran cerna seperti kembung,

muntah, dan gangguan BAB


Tetapi hal ini tidak begitu saja menyingkirkan kemungkinan

penyakit saluran cerna dan masalah muskuloskeletal. Sehingga mutlak

perlu ditunjang oleh pemeriksaan pencitraan yang sesuai. Pemeriksaan

radiologi wajib dilakukan pada pasien yang dicurigai mempunyai batu.

Hampir semua batu saluran kemih (98%) merupakan batu radioopaque.

Hasil rontgen BNO :

• nephrolithiasis kiri

• Tidak tampak gambaran ileus


Kemudian pada pemeriksaan USG ditemukan
Pelvokaliektasis ginjal kanan
Pelvokaliektasis ringan disertai nephrolithiasis ginjal kiri

Vesika urinaria dalam batas normal.

Pada kasus ini dilakukan pemeriksaan pemeriksaan

darah lengkap dan urin lengkap. Hasilnya ditemukan

peningkatan kadar leukosit dalam darah.


Hasil pemeriksaan urin yaitu didapatkan
kadar leukosit, eritrosit, dan protein yang
tinggi dari pemeriksaan urin. Pada
pemeriksaan kimia darah juga didapatkan
kadar yang tinggi pada kreatinin dalam
darah. Hal ini mendukung diagnosa kerja
bahwa terdapat gangguan pada saluran
kemih terutama ginjal.
Pada kasus ini penatalaksanaan yang diberikan di rumah sakit

ialah terapi konservatif. Terapi konservatif yang diberikan berupa

rehidrasi cairan maintenance dengan infus ringer laktat 20 tetes

/menit, pengendalian nyeri pinggang dengan analgesik kuat (

ketorolac injeksi 2 x 1 ampul/hari), serta pecegahan terhadap naiknya

asam lambung dengan pemberian antagonis H2 reseptor (ranitidin

injeksi 2 x 1 ampul/hari).
Berdasarkan teori bahwa pengeluaran spontan batu bisa

diharapkan 80% pada pasien dengan ukuran batu dengan diameter

tidak lebih dari 4 mm. Untuk batu dengan diameter lebih dari 7 mm

untuk bisa keluar secara spontan sangat kecil sekali kemungkinannnya

sehingga perlu dilakukan pengeluaran batu aktif. Pengeluaran batu

secara aktif sangat dianjurkan pada pasien dengan kriteria nyeri

yang persisten meskipun dengan medikasi yang adekuat, obstruksi

persisten dengan risiko rusaknya fungsi renal, risiko pyonefrosis atau

urosepsis, dan obstruksi bilateral.


Simpulan , telah ditegakkan diagnosis Nefrolithiasis

sinistra pada pasien Tn. S, 49 tahun , atas dasar

pertimbangan aspek klinis (anamnesis dan pemeriksaan

fisik), radiologi, dan laboratorium. Klinis dan radiologi

menunjukan keadaan nefrolithiasis kiri. Pasien

mendapatkan terapi konservatif.


ANATOMI GINJAL
LETAK ANATOMI GINJAL
Ginjal merupakan organ berbentuk seperti kacang yang terletak di kedua sisi columna
vertebralis. Kedua ginjal terletak retroperitoneal pada dinding abdomen, masing–
masing di sisi kanan dan sisi kiri columna vertebralis setinggi vertebra T12 sampai
vertebra L3. Ginjal kanan terletak sedikit lebih rendah daripada ginjal kiri karena
besarnya lobus hepatis dekstra. Masing–masing ginjal memiliki facies anterior dan
facies posterior, margo medialis dan margo lateralis, ekstremitas superior dan
ekstremitas inferior.

Ginjal dibungkus oleh jaringan fibrosa tipis dan mengkilat yang disebut kapsula fibrosa
ginjal dan di luar kapsul ini terdapat jaringan lemak perineal. Di sebelah kranial ginjal
terdapat kelenjar anak ginjal atau glandula adrenal/suprarenal yang berwarna kuning.
Kelenjar adrenal bersama ginjal dan jaringan lemak perineal dibungkus oleh fascia
gerota. Di luar fascia gerota terdapat jaringan lemak retroperitoneal atau disebut
jaringan lemak pararenal. Di bagian posterior, ginjal dilindungi oleh otot–otot punggung
yang tebal serta costae ke XI dan XII, sedangkan di bagian anterior dilindungi oleh
organ–organ intraperitoneal (Purnomo, 2003).
Secara anatomis ginjal terbagi menjadi 2 bagian korteks dan medulla ginjal. Di dalam
korteks terdapat berjuta–juta nefron sedangkan di dalam medula banyak terdapat
duktuli ginjal. Nefron adalah unit fungsional terkecil dari ginjal yang terdirI atas tubulus
kontortus proksimal, tubulus kontortus distal, dan tubulus koligentes.

Setiap ginjal memiliki sisi medial cekung, yaitu hilus tempat masuknya syaraf, masuk dan
keluarnya pembuluh darah dan pembuluh limfe, serta keluarnya ureter dan memiliki
permukaan lateral yang cembung. Sistem pelvikalises ginjal terdiri atas kaliks minor,
infundibulum, kaliks major, dan pielum/pelvis renalis.
Ginjal mendapatkan aliran darah dari arteri renalis yang merupakan cabang langsung
dari aorta abdominalis, sedangkan darah vena dialirkan melalui vena renalis yang
bermuara ke dalam vena kava inferior.

Arteri renalis memasuki ginjal melalui hilum dan kemudian bercabang-cabang secara
progresif membentuk arteri interlobaris, arteri arkuarta, arteri interlobularis, dan
arteriol aferen yang menuju ke kapiler glomerulus tempat sejumlah besar cairan dan zat
terlarut difiltrasi untuk pembentukan urin. Ujung distal kapiler pada setiap glomerulus
bergabung untuk membentuk arteriol eferen, yang menuju jaringan kapiler kedua, yaitu
kapiler peritubulus yang mengelilingi tubulus ginjal. Kapiler peritubulus mengosongkan
isinya ke dalam pembuluh sistem vena, yang berjalan secara paralel dengan pembuluh
arteriol secara progesif untuk membentuk vena interlobularis, vena arkuarta, vena
interlobaris, dan vena renalis, yang meninggalkan ginjal di samping arteri renalis dan
ureter.
SISTEM PERDARAHAN GINJAL MANUSIA
TERIMA KASIH