Anda di halaman 1dari 47

DEFINISI

Cairan ketuban atau cairan amnion adalah cairan yang


memenuhi rahim.

Cairan ini ditampung di dalam kantung amnion yang


disebut kantung ketuban atau kantung janin.

Bertambah dengan produksi cairan janin, yaitu air seni


janin. Sejak usia kehamilan 12 minggu, janin mulai
minum air ketuban dan mengeluarkannya kembali
dalam bentuk air seni.
Anatomi dan Fisiologi Cairan Ketuban
Volume Cairan Ketuban
 Kehamilan 10 minggu  ± 30 ml
 Kehamilan 20 minggu  300 ml
 Kehamilan 30 minggu  600 ml

 Pada kehamilan 30 minggu, cairan amnion lebih


mendominasi dibandingkan dengan janin
sendiri.
 volume bertambah 10 ml per minggu pada minggu
ke-8 usia kehamilan dan meningkat menjadi 60 ml
per minggu pada usia kehamilan 21 minggu, yang
kemudian akan menurun secara bertahap sampai
volume yang tetap setelah usia kehamilan 33
minggu.
Keadaan Normal Cairan
Ketuban
 Pada usia kehamilan cukup bulan volume 1000-1500 cc

 Keadaan jernih agak keruh

 Steril

 Bau khas

 Terdiri dari 98-99% air, 1-2% garam-garam anorganik dan


bahan organic (protein terutama albumin), runtuhan
rambut lanugo, vernix caseosa dan sel-sel epitel

 sirkulasi sekitar 500 cc/jam


FUNGSI AIR KETUBAN

Kehamilan
Inpartu
Mobilisasi
Proteksi Menyebarkan kekuatan his
Homeostasis sehingga serviks dapat membuka
Mekanik Membersihkan jalan lahir karena
mempunyai kemampuan sebagai
desinfektan
Sebagai pelicin saat persalinan
Pengukuran Cairan
Ketuban
 Terdapat 3 cara yang sering dipakai untuk
mengetahui jumlah cairan amnion :

 dengan teknik single pocket.

 dengan memakai Indeks Cairan Amnion (ICA).

 secara subjektif pemeriksa.


Kelainan Cairan Ketuban
Oligohidramnion

 Air ketuban sedikit, dibawah 500 cc, umumnya


kental, keruh, berwarna kuning kehijauan

Hidramnion (polihidramnion)

 Air ketuban berlebihan, diatas 2000 cc.


Polihidramnion
Hidramnion merupakan keadaan dimana jumlah air
ketuban lebih banyak dari normal atau lebih dari dua
liter.
Etiologi

Pendapat ahli yang lain mengatakan hidromnion terjadi


karena:

 Ada kelainan pada janin yang menyebabkan cairan


ketuban menumpuk, yaitu hidrocefalus, atresia saluran
cerna kelainan ginjal dan saluran kencing kongenital.

 Ada sumbatan/penyempitan pada janin sehingga dia tidak


bisa mengelan air ketuban. Alhasil volume ketuban
meningkat drastis.

 Kehamilan kembar, karena adanya dua janin yang


menghasilkan air seni.
 Ada hambatan pertumbuhan atau kecacatan yang
menyangkut sistem syaraf pusat sehingga fungsi
gerakan menelan mengalami kelumpuhan.

 Ibu hamil mengalami diabetes yang tidak terkontrol.

 Ketidak cocokan inkompatibilitas rhesus.


Patofisiologi
 Produksi air ketuban bertambah karena cairan lain
masuk kedalam ruangan amnion, misalnya :

 Pengaliran air ketuban terganggu

 Anak tidak menelan


Seperti pada atresia esophogei, anencephalus.
Anak anencephal tidak menelan dan pertukaran air
terganggu karena pusatnya kurang sempurna hingga
anak ini kencing berlebihan.
 Pada gemelli mungkin disebabkan karena salah satu
janin jantungnya lebih kuat dan oleh karena itu juga
menghasilkan banyak air kencing. Mungkin juga
karena luasnya amnion lebih besar pada kehamilan
kembar.
Gejala klinis
Polihidramnion
 Kasus ringan  tidak dapat menyebabkan tanda-tanda
 kasus berat  dapat menyebabkan gejala berikut:
 Kesulitan bernapas kecuali berdiri atau duduk dalam
posisi tegak
 Kesulitan naik tangga
 Produksi urin menurun
 Ukuran perut yang lebih besar untuk usia kehamilan
seseorang
 Pembengkakan pada dinding perut, vulva dan kaki
Diagnosis dan Kriteria
diagnostik
Anamnesis
 Perut lebih besar dan terasa lebih berat dari biasa.
 Pada yang ringan keluhan-keluhan subyektif tidak banyak
 Pada yang akut dan pada pembesaran uterus yang cepat
maka terdapat keluhan-keluhan yang disebabkan karena
tekanan pada organ terutama pada diafragma, seperti
sesak (dispnoe), nyeri ulu hati, dan sianosis.
 Nyeri perut karena tegangnya uterus, mual dan muntah.
 Edema pada tungkai, vulva, dinding perut.
Diagnosis dan Kriteria
diagnostik
Inspeksi

 Kelihatan perut sangat buncit dan tegang, kulit perut


berkilat retak-retak, kulit jelas dan sering kali
ditemukan umbilikus mendatar.

 Jika akut si ibu terlihat sesak (dispnoe) dan sionosis,


serta terlihat payah membawa kandungannya.
Diagnosis dan Kriteria
diagnostik
Palpasi
 Perut tegang dan nyeri tekan serta terjadi oedema pada
dinding perut valva dan tungkai.
 Fundus uteri lebih tinggi dari umur kehamilan
sesungguhnya
 Bagian-bagian janin sukar dikenali karena banyaknya
cairan.
 Kalau pada letak kepala, kepala janin bisa diraba, maka
ballotement jelas sekali. Karena bebasnya janin bergerak
dan kepala tidak terfiksir, maka dapat terjadi kesalahan-
kesalahan letak janin.
Diagnosis dan Kriteria
diagnostik
Auskultasi

 Denyut jantung janin tidak terdengar atau jika terdengar


sangat halus sekali.

Rontgen foto abdomen

 Nampak bayangan terselubung kabur karena banyaknya


cairan, kadang-kadang banyak janin tidak jelas.

 Foto rontgen pada hidromnion berguna untuk diagnosa


dan untuk menentukan etiologi, seperti anomali
kongenital (anensefali atau gemelli).
Diagnosis dan Kriteria
diagnostik
Pemeriksaan dalam

 selaput ketuban teraba dan menonjol diluar his.

 USG janin

 Sebuah USG rinci mungkin untuk memperkirakan


tingkat cairan ketuban dengan menilai kantong
terdalam di empat wilayah tertentu rahim.
Pengukuran ini kemudian digunakan untuk
menentukan AFI.
Penatalaksanaan
Polihidramnion
Terapi hidromnion dibagi dalam tiga fase:

Waktu hamil (di BKIA)

1. Hidramnion ringan jarang diberi terapi klinis, cukup


diobservasi dan berikan terapi simptomatis

2. Pada hidromnion yang berat dengan keluhan-


keluhan, harus dirawat dirumah sakit untuk
istirahat sempurna
Penatalaksanaan
Polihidramnion
 obat-obatan yang dipakai adalah sedativa dan obat
diuresis.

 Bila sesak hebat sekali disertai sianosis dan perut


tegang lakukan pungsi abdominal pada bawah
umbilikus. Dalam satu hari dikeluarkan 500 cc perjam
sampai keluhan berkurang
Penatalaksanaan
Polihidramnion
Waktu Partus
1. Bila keluhan hebat, seperti sesak dan sianosis maka
lakukan pungsi transvaginal melalui serviks bila
sudah ada pembukaan. Dengan memakai jarum
pungsi tusuklah ketuban pada beberapa tempat,
lalu air ketuban akan keluar pelan-pelan.
2. Bila sewaktu pemeriksaan dalam, ketuban tiba-tiba
pecah, maka untuk menghalangi air ketuban
mengalir keluar dengan deras masukan tinju
kedalam vagina sebagai tampon beberapa lama
supaya air ketuban keluar pelan- pelan
Penatalaksanaan
Polihidramnion
Post Partus

 Harus hati-hati akan terjadinya perdarahan post


partum, jadi sebaiknya lakukan pemeriksaan
golongan dan transfusi darah serta sediakan obat
uterotonika.

 Untuk berjaga-jaga pasanglah infus untuk


pertolongan perdarahan post partum.

 untuk menghindari infeksi berikan antibiotika yang


cukup.
Komplikasi

 Tekanan darah tinggi (kehamilan-induced)

 Infeksi saluran kemih pada kehamilan

 Prolaps tali pusat

 Ruptur prematur membran


LAPORAN KASUS

 Identitas Pasien

 Nama : Ny. SM

 Umur : 24 tahun

 Pekerjaan : Pedagang

 No MR : 123486

 Alamat : Sijunjung

 Tgl. Masuk : 5 Agustus 2016, pukul 17.56 WIB


Anamnesis
 Seorang pasien perempuan umur 24 tahun datang
ke Ponek Kebidanan RSUD Solok pada tanggal 5
Agustus 2016 pukul 17.56 WIB. Pasien Rujukan dari
Bidan dengan diagnosa G1P0A0H0 Gravid Preterm
33-34 Minggu + IUFD+Polihidramnion
Riwayat penyakit sekarang

 Nyeri pinggang menjalar ke ari-ari (+)

 Keluar lendir campur darah dari kemaluan (+)

 Keluar air-air yang banyak dari kemaluan (-)

 Keluar darah yang banyak dari kemaluan (-)

 Gerak anak mulai dirasakan sejak ± 5 bulan yang lalu

 HPHT : 15-12-2015 TP : 22-9-2016


 RHM : Mual (-), muntah (-), perdarahan (-)

 RHT : Mual (-), muntah (-), perdarahan (-)

 Riwayat Menstruasi : Menarche umur 14 th, siklus


haid teratur

 1 x 28 hari, lamanya 5-7 hari, banyaknya 2-3x ganti


duk/hari, nyeri (+)

 ANC : kontrol ke bidan desa 1 kali saat umur


kehamilan 1 bulan
 Riwayat penyakit dahulu : Tidak pernah menderita
penyakit jantung, paru, hati, ginjal, DM, hipertensi
dan gangguan jiwa.

 Riwayat penyakit keluarga : Tidak ada keluarga yang


menderita penyakit keturunan, menular dan
kejiwaan.
 Riwayat Perkawinan : 1 x tahun 2012

 Riwayat Kehamilan/Abortus/Persalinan : 1/0/0

 Riwayat Kontrasepsi : (-)

 Riwayat Imunisasi : Imunisasi TT tidak ada

 Riwayat pendidikan : SMA

 Riwayat pekerjaan : pedagang


Pemeriksaan Fisik
 Keadaan Umum : sedang

 Kesadaran : compos mentis

 Tekanan darah : 120/80 mmHg

 Frekuensi nadi : 85x/menit, isi cukup, reguler

 Frekuensi napas : 23x/menit, reguler


 Suhu : 36.5oC

 TB : 152 cm

 BB : 60kg

 Kepala : tidak ditemukan deformitas

 Mata : konjunctiva tidak anemis,


sclera tidak ikterik

 Leher : JVP 5-2 cmH20, kelenjar tiroid


tidak membesar
Thorak
Paru :

 Inspeksi : gerakan normal simetris kiri dengan kanan

 Palpasi : Fremitus sama kiri dengan kanan

 Perkusi : sonor paru kiri dan kanan

 Auskultasi : vesikuler normal, rhonki (-), wheezing(-)


Jantung :

 Inspeksi : ictus cordis tidak terlihat

 Palpasi : ictus cordis tidak teraba

 Perkusi : batas jantung dalam batas normal

 Auskultasi : Bunyi jantung murni, teratur, bising (-)


 Kulit : turgor baik, ikterus (-)

 Kepala : tidak ditemukan


deformitas,normochepal.

 Abdomen : status obtetrikus

 Genitalia : status obstetrikus

 Ekstremitas : akral dingin, edema tungkai


bawah +/+, sianosis (-).
Status Obstetrikus

Muka : chloasma gravidarum (-)

Mammae : membesar, aerola dan papila mammae


hiperpigmentasi,colostrum(-)

Abdomen

 Inspeksi : Tampak membuncit lebih besar dari


usia kehamilan, tampak lebih tegang.
 Linea mediana hiperpigmentasi, striae (+), sikitrik (-)

 Palpasi : Letak anak sulit dinilai. TFU = 42cm

 TBJ : tidak dapat ditentukan His: 3-4/40/K

 Perkusi : Timpani

 Auskultasi : BU (+) N, DJJ/BJA :-

 Genitalia : Inspeksi : vulva/uretra tenang, PPV (-)

 Palpasi : tidak ada pembesaran kelenjar bartholine


VT :Pembukaan : -

Effacement : 0%

Konsistensi : sedang

Arah : posterior

Turun kepala : floating

Kesan 1 : Belum dalam persalinan, Bishop Skor 1.


 Promontorium tidak teraba
 Linea inominata teraba 1/3-1/3
Os sakrum cekung
Spina ischiadika tidak menonjol
Os coccygeus mudah digerakkan
Arcus Pubis > 90˚
Dapat dilalui oleh satu tinju orang dewasa >10,5 cm (DIT-
distensia
intertuberum) ukuran panggul dalam dan luar (DIT)
Kesan : Panggul luas
Diagnosa

 G1P0A0H0 Gravid Preterm 33-34 Minggu +IUFD+


Polihidramnion
Rencana Penatatalaksanaan

 Sikap : kontrol KU, VS, PPV

 Observasi tanda- tanda persalinan

 Rencana:

 Partus pervaginam
Analisa Kasus
 Seorang pasien Ny.SM usia 24 tahun masuk ke
Ruang PONEK Kebidanan RSUD Solok tanggal 5
Agustus 2016 pukul 17.56 WIB. Atas Rujukan dari
RSUD Sijunjung dengan hamil anak pertama, usia
kehamilan 33-34 minggu+IUFD+ polihidramnion.
 Kasus ini didiagnosa kehamilan preterm ditegakkan
berdasarkan HPHT yaitu tanggal 15-12-15, dengan
siklus menstruasi teratur setiap bulannya (setiap 28
hari, selama 4-5 hari). Taksiran partusnya ialah
tanggal 22-9-2016. Tinggi fundus uterinya ialah 42 cm
dan tidak dirasakan adanya HIS.
 Pada kasus ini Pasien diagnosa dengan
polihidramnion oleh karena berdasarkan anamnesis,
pasien mengeluhkan perutnya terasa sangat berat
dan besar. Pasien mengatakan lebih nyaman dalam
posisi duduk dari pada berbaring. Dari Inspeksi perut
kelihatan lebih buncit dan tegang, kulit perut agak
berkilat. Dari palpasi Fundus uteri lebih tinggi dari
usia kehamilan, bagian- bagian janin sukar
ditentukan dan dari Auskultasi denyut jantung janin
susah terdengar . Serta ditunjang
dengan hasil USG menunjukkan adanya
polihidramnion.
TERIMA KASIH