Anda di halaman 1dari 41

KEDUDUKAN HUKUM PAJAK

DALAM ILMU HUKUM

• 1. HUKUM PAJAK MATERIIL


• Merupakan serangkaian norma yang berisi :
• Perbuatan dan peristiwa yang harus dikenai pajak atau disebut dengan
Obyek Pajak
• Siapa yang dikenai pajak atau disebut dengan Subyek Pajak
• Besarnya pajak yang terutang atau disebut dengan Tarif Pajak
• UU PPH, PPN

2. HUKUM PAJAK FORMIL


• Merupakan serangkaian norma yang bertugas menjelmakan Hukum Pajak
Materiil menjadi suatu kenyataan.
• Bertujuan untuk memberikan jaminan bahwa hukum pajak materiil dapat
diselenggarakan dengan sebaik-baiknya.
• UU KUP (16/2000)
PEMBEDAAN PAJAK
1. Pembedaan berdasar kewenangan pemungutannya :
• Pajak Pusat
• Pajak Daerah
2. Pembedaan berdasar pemungutannya :
• Pajak Langsung
• Pajak Tidak Langsung
• - Administratif Yuridis
• - Ekonomis
3. Pembedaan menurut Sasarannya :
• Pajak yang bersifat pribadi
• Pajak yang bersifat kebendaan
4. Pembedaan menurut Sifatnya :
• Pajak Subyektif
• Pajak Obyekti
• Pajak Langsung :
Yaitu pajak yang bebannya harus dipikul sendiri oleh
wajib pajak dan tidak dapat dilimpahkan kepada
orang lain, sereta dikenakan secara berulang-lang
pada waktu-waktu tertentu (Mis. PPH)
• Pajak Langsung dari segi Ekonomis :
Adalah pajak yang pembayarannya tidak dapat
dilimpahkan kepada rang lain.
• Pajak Langsung dari segi Administratif Yuridis :
Adalah pajak yang dipungut secara periodik
(dipungut secara berulang-lang pada saat tertentu)
• Pajak Tidak Langsung :
Yaitu pajak yang bebannya dapat dilimpahkan
kepada orang lain, serta dikenakan pada hal-hal
tertentu atau pada waktu-waktu tertentu saja.(Mis.
PPN)
• Pajak Tidak Langsung dari segi Ekonomis :
Adalah pajak yang pembayarannya dapat
dilimpahkan kepada orang lain.
• Pajak Tidak Langsung dari segi Administratif Yuridis
: Adalah pajak yang dipungut secara Insidental,
yaitu pada saat terjadi taatbestand.
ASAS DAN DASAR PERPAJAKAN

PUNGUTAN, UNSUR - UNSUR SERTA SPESIESNYA


Pungutan :
• Pajak
• Retribusi

Unsur-unsur Pungutan:
• Pemerintah
• Masyarakat
• Undang-undang
• Kekeyaan yang beralih
• Kepentingan umum
CIRI-CIRI PAJAK :

• Pungutan
• Hubungan timbal balik tidak sempurna
• Paksaan yuridis
• Langsung / tidak langsung
• Pemerintah
• Dari penduduk / orang / badan
• Fungsi budgetair / regulerend
• Insidental / periodik
• Taatbestand
• Perikatan undang-undang
DEFINISI PAJAK

• Leroy Bearlier
Pajak merupakan pungutan baik yang bersifat
langsung maupun tidak langsung yang dipungut
oleh pemerintah dari penduduk atau barang
dan digunakan untuk menutup / membiayai
pengeluaran negara.
• Adolf Wagner
Pajak adalah suatu pungutan yang dapat
dipaksakan dari suatu masyarakat yang
sebagaian ditujukan untuk menutup
pengeluaran pemerintah yang bersifat umum
dan sebagaian lagi untuk menyesuaikan
perubahan pembagian pendapatan masyarakat.
• Prof. Dr. MJH. Smeeths
• Pajak adalah prestasi kepada pemerintah yang
terutang melalui norma-norma umum yang
ditetapkan dan dapat dipaksakan, tanpa adanya
kontra prestasi terhadapnya yang dapat ditujukan
dalam hal yang individual dan dimaksudkan untuk
menutup pengeluaran negara.

• Anderson
• Pajak adalah pembayaran yang bersifat paksaan
kepada negara yang dibebankan pada pendapatan
kekayaan seseorang yang diutamakan untuk
membiayai pengeluaran pemerintah.
Adolf Wagner
fungsi mengatur pajak
5
4.5
4
3.5
3
2.5
2 PENGHASILAN
1.5 SETELAH
PAJAK
1
0.5
0
Amir Badu Cecep Danu
DASAR HUKUM DAN DASAR FALSAFAH PEMUNGUTAN
PAJAK
A. DASAR HUKUM PEMUNGUTAN PAJAK

• Pasal 23 ayat (2) UUD Tahun 1945

• Pasal 23 A UUD Negara RI Tahun 1945

B. DASAR FALSAFAH PEMUNGUTAN PAJAK


• Peralihan kekayaan dari sektor Swasta ke sektor Publik
harus dengan seijin pemilik

• Inggris : No Taxation without Representation


• USA : Taxation Without Representation Is Robbery
ASAS HUKUM PAJAK
1. ASAS RECHT FILOSOFI
2. ASAS PEMBAGIAN BEBAN PAJAK
3. ASAS PENGENAAN PAJAK
4. ASAS PELAKSANAAN PEMUNGUTAN
BERBAGAI AZAS PERPAJAKAN

1. Azas Recht Filosofi (pembenaran pemungutan pajak)


• Pertanyaan:
• Mengapa negara berhak memungut pajak?
• Apakah pungutan ini dapat dibenarkan?

JAWAB :
• Teori Asuransi
• Teori Kepentingan / Equivalentie
• Teori Bakti / Teori Kewajiban Pajak Mutlak
Teori Asuransi Menyamakan Tugas Tidak Tepat
Negara Dengan
Perusahaan Asuransi
Pajak disamakan dengan
Pembayaran Premi
Teori Kepentingan Besarnya Pajak Tidak Sesuai dengan
disesuaikan dengan kenyataan
Kepentingan Atas
Pekerjaan negara
Teori Bakti Pembayaran Pajak sebagai Sesuai
wujud tanda bakti Warga
Negara terhadap Negara
2. Asas Pembagian Beban Pajak

Pemajakan

Prinsip Keadilan

Daya Pikul

Prof. De Langen Mr. Ir. Cohen Stuart

PTKP
Daya Pikul
De Langen
Daya Pikul adalah Besarnya kekuatan seseorang untuk mencapai
pemuasan setinggi-tingginya, setelah penghasilannya dikurangi dengan
jumlah yang mutlak untuk memenuhi kebutuhan primernya.

Mr. Ir. Cohen Stuart


Daya pikul dapat diumpamakan sebagai Jembatan. Sebuah jembatan
pertama-tama harus memiliki kekuatan untuk menopang bobotnya
sendiri, setelah itu barulah menopang kendaraan atau orang yang lewat
diatasnya
PTKP ( PPH Ps. 7 )

Dasar SK.Menkeu. N0.361/KMK.04/1998 ( 27 Juli 1998)


• Rp. 2.880.000 Untuk diri WP
• Rp. 1.440.000 Tambahan untuk WP Nikah
• Rp. 2.880.000 penghs. Istri yg digabung
• Rp. 1.440.000 angg. Kel. Yg mjd. Tanggungan (maks.
3 org.)
TK/- = 2.880.000/th = 240.000/bl
TK/1 = 4.320.000/th = 360.000/bl
TK/2 = 5.760.000/th = 480.000/bl
TK/3 = 7.200.000/th = 600.000/bl

K/- = 4.320.000/th = 360.000/bl


K/1 = 5.760.000/th = 480.000/bl
K/2 = 7.200.000/th = 600.000/bl
K/3 = 8.640.000/th = 840.000/bl
Istri kerja= 11.520.000/th = 960.000/bl
PTKP TH. 2005
SK. Menkeu No.564/KMK.03/2004
Tangal : 29 Nopember 2004
Berlaku Mulai 1 Januari 2005

a) Rp. 12.000.000 Untuk diri WP


b) Rp. 1.200.000 Tambahan untuk WP Nikah
c) Rp. 12.000.000 penghs. Istri yg digabung
d) Rp. 1.200.000 angg. Kel. Yg mjd. Tanggungan (maks.
3 org.)
TK/- = 12.000.000/th = 1.000.000/bl
TK/1 = 13.200.000/th = 1.100.000/bl
TK/2 = 14.400.000/th = 1.200.000/bl
TK/3 = 15.600.000/th = 1.300.000/bl

K/- = 13.200.000/th = 1.100.000/bl


K/1 = 14.400.000/th = 1.200.000/bl
K/2 = 15.600.000/th = 1.300.000/bl
K/3 = 16.800.000/th = 1.400.000/bl
K/3 (istri kerja) = 28.800.000/th = 2.400.000/bl
PTKP TH. 2006
SK. Menkeu No.137/KMK.03/2004
Tangal : 30 Desember 2005
Berlaku Mulai 1 Januari 2006

a) Rp. 13.200.000 Untuk diri WP


b) Rp. 1.200.000 Tambahan untuk WP Nikah
c) Rp. 13.200.000 penghs. Istri yg digabung
d) Rp. 1.200.000 angg. Kel. Yg mjd. Tanggungan (maks.
3 org.)
TK/- = 13.200.000/th = 1.100.000/bl
TK/1 = 14.400.000/th = 1.200.000/bl
TK/2 = 15.600.000/th = 1.300.000/bl
TK/3 = 16.800.000/th = 1.400.000/bl

K/- = 13.200.000/th = 1.100.000/bl


K/1 = 14.400.000/th = 1.200.000/bl
K/2 = 15.600.000/th = 1.300.000/bl
K/3 = 16.800.000/th = 1.400.000/bl
K/3 (istri kerja) = 31.200.000/th = 2.600.000/bl
3. Azas Pengenaan Pajak

• Pertanyaan:
Jika negara berhak memungut pajak

• Permasalahan :
- Negara mana yang berhak memungut pajak ?
- Siapa yang dikenai pajak ?
- Sasaran apa yang dikenai pajak ?

1. Azas Nasionalitas
2. Azas Domisili
3. Azas Sumber
1. Asas Nasionalitas

a) Negara yang berwenang memungut pajak adalah


negara tempat asal kebangsaan subyek pajak.
b) Siapa yang dikenai pajak yaitu setiap subyek pajak
yang berkewarganegaraan negara tersebut
dimanapun ia berada.
c) Sasaran yang dikenai pajak adalah seluruh
penghasilan yang diperoleh subyek pajak
dimanapun juga / darimanapun juga penghasilan
itu diperoleh (prinsip World Wide Income)
Asas Domisili :

a) Negara yang berwenang memungut pajak adalah


negara tempat subyek pajak itu berdomisili.
b) Siapa yang dikenai pajak yaitu setiap subyek pajak
yang berdomisili di negara tersebut apapun
kebangsaannya.
c) Sasaran yang dikenai pajak adalah seluruh
penghasilan yang diperoleh subyek pajak dimanapun
juga/dari manapun juga penghasilan itu diperoleh
(prinsip World Wide Income).
Asas Sumber :

a) Negara yang berwenang memungut pajak adalah


negara tempat sumber penghasilan itu terletak.
b) Yang dapat dikenai pajak adalah subyek pajak yang
memiliki penghasilan yang keluar dari sumber
penghasilan yang terletak di negara tersebut.
c) Sasaran pengenaan pajak yaitu hanya penghasilan
yang keluar dari sumber penghasilan di negara
tersebut.
• Dalam praktek bisa saja terjadi bahwa antara negara
yang satu dengan negara yang lain masing-masing
menganut asas yang berbeda. Jika hal itu terjadi
maka jelas akan terjadi :
- subyek pajak yang sama
- untuk penghasilan yang sama
- dikenai pajak yang sama oleh beberapa negara atau
yang disebut dengan Pajak Ganda Internasional.
Contoh :
Amir Seorang Pengusaha WN Malaysia, mempunyai Perusahaan di
Kuala Lumpur
Amir memperluas usahanya dengan membuka anak perusahaan di
Indonesia
Selain itu Amir membeli saham di Brunai.
Untuk memperlancar usahanya pada tahun 2016 Amir datang ke
Indonesia selama sebulan yaitu pada bulan Jan, Maret, Mei, Juli,
Sept, Okt dan Nop.
Pertanyaan :
A. Negara Mana, Siapa, Sasarannya Apa
Jika : 1. Dianut Asas nasionalitas
2. Dianut Asas Domisili
3. Dinaut Asas Sumber
Jawab : Induk Perush = M
1. Nas : Malay Anak Perush = I
Saham = B

Induk Perush = M
2. Dom : Ind Anak Perush = I
Saham = B

3. Sumber : Mal = Induk Perush


: Ind = Anak Perush
: Brn = Saham
Negara Mana, Siapa, Sasarannya Apa
Jika : 1. Malaysia menganut Asas nasionalitas
2. Indonesia menganut Asas Domisili
3. Brunai menganut Asas Sumber
Mal/N Ind/D Br/S

Induk Anak Saham


Pencegahan PGI
1. Secara Unilateral
2. Secara Bilateral
3. Secara Multilateral
• Selain cara pencegahan sebagaimana tersebut
diatas, masih ada cara lain yaitu melalui :
a. Tax Credit
b. Tax Deduction
c. Reduces Rate for Foreigner Income
d. Tax Exemption
- Pure Tritorial Principle
- Restricted Teritorial Principle
UNILATERAL :
Pencegahan secara sepihak dengan memasukan ke dalam
Peru UU an Pajak Nasional ketentuan yang bersifat
mencegah terjadinya Pajak ganda

= Ps. 3 PPH : tidak termasuk subjek pajak adalah:


• a. kantor perwakilan negara asing;
• b. pejabat-pejabat perwakilan diplomatik dan konsulat atau
pejabat-pejabat lain dari negara asing dan orang-orang
yang diperbantukan kepada mereka yang bekerja pada dan
bertempat tinggal bersama-sama mereka
dengan syarat bukan warga negara Indonesia dan di
Indonesia tidak menerima atau memperoleh penghasilan di
luar jabatan atau pekerjaannya tersebut serta negara
bersangkutan memberikan perlakuan timbal balik;
• Tax Credit :
Dengan cara mengurangi Pajak yang terutang di dalam neg dengan
Pajak yang telah di bayar di Luar Neg.

Ps. 24 PPh :
(1) Pajak yang dibayar atau terutang di luar negeri atas penghasilan
dari luar negeri yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak dalam
negeri boleh dikreditkan terhadap pajak yang terutang berdasarkan
Undang-undang ini dalam tahun pajak yang sama.
(2) Besarnya kredit pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah
sebesar pajak penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri
tetapi tidak boleh melebihi penghitungan pajak yang terutang
berdasarkan Undang-undang ini.
Tax Deduction : ( tdk di anut di Ind )
Pajak yang telah di bayar di luar negeri
dianggap sebagai biaya yang dapat
dikurangkan dari penghasilan di dalam negeri
Reduce rate For foreigner Income : ( X )
Pada sistem ini pajak untuk penghasilan di
luar negeri dikenakan pajak dalam negeri
tetapi dengan tarif yang lebih rendah
Tax Exemption = Pengecualian Pajak
Neg Domisili melepas hak nya untuk mengenakan
pajak atas penghasilan yg diperoleh di luar negeri
1. Pure Teritorial Principle
Hak untk memajaki sama sekali dihapus
2. Restricted Ter. Pr.
- Penghs LN dan DN digabung dan Hsl
penggabungan utnuk menentukan tarif
Tarif tsb hanya digunakan untuk di dlm Neg dan
pengs LN dianggap tdk ada
PERTANYAAN
Dari ketiga Asas tersebut Asas mana yang dianut
Indonesia :
1. Untuk WP DN
Indonesia menganut Asas Domisili PPh. Ps. 2
2. Untuk WP LN
Indonesia menganut Asas Sumber
• Penjels. Ps. 2 Ayat (4)
• Subyek Pajak luar negeri adalah Subyek Pajak yang
bertempat tinggal atau berkedudukandi luar Indonesia
yang dapat menerima atau memperoleh penghasilan
dari Indonesia.
4. Azas Pelaksanaan Pemungutan Pajak

1. Azas Yuridis

Fiscus : Ps 29, 38- 39 UU No. 6 / 1983


Adil
Wajib Pajak: Ps 16, 25-27, 34 UU No. 6 /1983

2. Azas Ekonomis ( dampak pemungutan )


3. Azas Finansiil (biaya pemungutan dan hasil)
STELSEL PEMUNGUTAN PAJAK DAN
SAAT PEMUNGUTAN PAJAK

• a. Stelsel Fiktif ( anggapan )


Kas Negara tidak kosong

• b. Stelsel Riil ( kenyataan )


Keadilan
Kas Negara kosong

Semi Self Assesment


Pajak tahun berjalan

• c. Stelsel Campuran
kerja dobel
biaya besar
HAPUSNYA HUTANG PAJAK

• Hapusnya perikatan : Ps 1381 BW

1. Pembayaran (Ps 1382 BW)


2. Penawaran pembayaran diikuti dengan penitipan (Ps 1404 BW)
3. Pembaharuan utang (Ps 1413 BW)
4. Kompensasi (Ps 1425 BW)
5. Percampuran utang (Ps 1436 BW)
6. Pembebasan utang (Ps 1438 BW)
7. Musnahnya barang yang terutang (Ps 1444 BW)
8. Pembatalan (Ps 1446 BW)
9. Syarat batal (Ps 1265 BW)
10. Daluwarsa (Ps 1946 BW)
TAX REFORM

1. PENYEBAB
• Banyaknya perundang-undangan pajak yang membingungkan rakyat
• Sangat membebani rakyat karena banyaknya macam pungutan pajak
• Sering terjadi pajak ganda
• Pajak produk HB menggunakan falsafah pajak yang berbeda dengan Pancasila

2. TUJUAN
• Menegakkan kemandirian
• Menyempurnakan aparatur perpajakan
• Intensivikasi dan Ekstensivikasi pemungutan pajak
• Persiapan sistem Self Assesment
Mendaftar
• Mengisi
• Membayar
HASIL

1. UU No. 6 Tahun !983 - KUP


2. UU No. 7 Tahun 1983 - PPH
3. UU No. 8 Tahun 1983 - PPN BM
4. UU No. 12 Tahun 1985 - PBB
5. UU No. 13 Tahun 1985 - Bea Meterai

 UU No. 6 Tahun 1983 - KUP menghapus:


Ord. PPS 1925
Ord. PPd 1944
UU No. 8 / 1967 - MPS / MPO
UU No. 10 / 1970 - P atas bunga deviden dan royalty
UU No. 7 / 1983 - PPH menghapus:
Ps 15 / 16 UU No. 1 / 1967 - PMA
Ps 9,12,13 UU No. 6 / 1968 – PMDN
• UU No. 8 / 1983 - PPN BM menghapus UU PPN / 1951

• UU No. 12 / 1985 menghapus :


Ord. PRT 1958
Ord. Verponding Indonesia 1923
Ord. Verponding 1928
Ord. Pajak kekayaan 1932
Ord. Pajak jalan 1942
Perpu No. 11 / 1959 - Pajak Hasil Bumi

• UU No. 13 / 1985 - Bea Meterai menghapus aturan Bea Meterai 1921


TAX REFORM I (1983) :
• Reformasi hukum
• Reformasi organisasi
• Reformasi sistem pemungutan
• Reformasi tata kerja

TAX REFORM II (1994) :


• UU No. 9 / 1994 UU No. 6 / 1983 - KUP
• UU No. 10 / 1994 UU No. 7 / 1991
• UU No. 7 / 1983 - PPH
• UU No. 11 / 1994 UU No. 8 / 1983 - PPN BM
• UU No. 12 / 1994 UU No. 12 / 1983 - P
TAX REFORM III ( 1997)
• Tujuan :
Penyederhanaan
Landasan
Pemenuhan hak dan kewajiban
Tertib anggaran

REFORMASI IV (2000)
• Ekstensifikasi dan Intensifikasi
Terima Kasih

Selamat Menempuh Ujian Utama


Semoga Sukses