Anda di halaman 1dari 28

RETENSI URINE

KELOMPOK 4
A. Pengertian
• Retensi urine adalah suatu keadaan penumpukan
urine di kandung kemih dan tidak mempunyai
kemampuan untuk mengosongkannya secara
sempurna. Retensio urine adalah kesulitan miksi
karena kegagalan urine dari fesika urinaria.
(Mansjoer, 2000).
• Retensio urine adalah ketidakmampuan untuk
melakukan urinasi meskipun terdapat keinginan
atau dorongan terhadap hal tersebut.(Brunner &
Suddarth).
B. Etiologi
• Adapun penyebab dari penyakit retensio urine adalah sebagai berikut:
1. Supra vesikal berupa kerusakan pada pusat miksi di medulla
spinallis S2 S4 setinggi T12L1.Kerusakan saraf simpatis dan
parasimpatis baik sebagian ataupun seluruhnya
2. Vesikal berupa kelemahan otot detrusor karena lama teregang,
3. Intravesikal berupa pembesaran prostate, kekakuan leher vesika,
striktur, batu kecil,tumor pada leher vesika, atau fimosis.
4. Dapat disebabkan oleh kecemasan, pembesaran porstat, kelainan
patologi urethra(infeksi, tumor, kalkulus), trauma, disfungsi
neurogenik kandung kemih.
5. Beberapa obat mencakup preparat antikolinergik antispasmotik
(atropine) preparat anti depressant antipsikotik (Fenotiazin),
preparat anti histamin (Pseudoefedrin hidroklorida= Sudafed),
preparat penyekat adrenergic (Propanolol), preparat anti
hipertensi (hidralasin)(Mansyoer Arif, dkk. 2001).
Etiologi dari retensi urin juga dapat di kelompokan berdasarkan bentuk-
bentuknya

No Bentuk-bentuk retensi Penyebab

1 Obstruksi Mekanis 1. Struktur uretha


2. Malformasi saluran kemih
3. Malformasi sum-sum belakang

2 Kongenital 1. Kalkulus Inflamasi


2. Trauma Tumor
3. Hyperplasia kehamilan

3 Yang di dapat 4. disfungsi neurologic


5. Refluks uretero versikalis
6. Berkurangnya aktifitas peristaltic ureter

4 Obstruksifungsional 1. Atrofiobat detrusor


2. Cemas, seperti takut nyeri setelah operasi
3. Obat-obatan, seperti anesthesia, narkotik asedatif, adananti,
histamin
C. Patofisiologi
• Patofisiologi penyebab retensi urin dapat dibedakan
berdasarkan sumber penyebabnya antara lain :

1. Gangguan supravesikal adalah gangguan inervasi saraf


motorik dan sensorik. Misalnya DM berat
2. Gangguan vesikal adalah kondisi lokal seperti batu di
kandung kemih, obat antimuskarinik/antikolinergik
(tekanan kandung kemih yang rendah) menyebabkan
kelemahan pada otot detrusor.
3. Gangguan infravesikal adalah berupa pembesaran prostat
(kanker, prostatitis), tumor pada leher vesika, fimosis,
stenosis meatus uretra, tumor penis, striktur uretra, trauma
uretra, batu uretra, sklerosis leher kandung kemih (bladder
neck sclerosis).
Lanjut . . .
• Berdasarkan lokasi bisa dibagi menjadi:
supra vesikal berupa kerusakan pusat miksi di
medulla spinalsi menyebabkan kerusaan simpatis
dan parasimpatis sebagian atau seluruhnya
sehingga tidak terjadi koneksi dengan otot
detrusor yang mengakibatkan tidak adanya atau
menurunnya relaksasi otot spinkter internal,
vesikal berupa kelemahan otot detrusor karena
lama teregang, intravesikal berupa hipertrofi
prostate, tumor atau kekakuan leher vesika,
striktur, batu kecil menyebabkan obstruksi
urethra sehingga urine sisa meningkat dan terjadi
dilatasi bladder kemudian distensi abdomen.
D. Manifestasi Klinis
• Pada retensi urin akut di tandai dengan nyeri, sensasi
kandung kemih yang penuh dan distensi kandung
keimih yan ringan. Pada retensi kronik ditandai dengan
gejala iritasi kandung kemih (frkuensi,disuria,volume
sedikit) atau tanpa nyeri retensi yang nyata.
• Adapun tanda dan gejala dari pnyakit retensi urin ini
adalah :
1. Di awali dengan urin mengalir lambat
2. Terjadi poliuria yang makin lama makin parah karena
pengosongan kandung kemih tidak efisien.
3. Terjadi distensi abdomen akibat dilatasi kandung kemih
4. Terasa ada tekanan, kadang trasa nyeri dan kadang ingin
BAK
5. Pada retensi berat bisa mencapai 2000-3000 cc
Lanjut . . .
• Tanda klinis retensi:
1. Ketidak nyamanan daerah pubis
2. Distensi vesika urinia
3. Ketidak sanggupan untuk berkemih
4. Ketidakseimbangan jumlah urin yang di keluarkan
dengan asupannya
• Retensi urine dapat menimbulkan infeksi yang bisa
terjadi akibat distensi kandung kemih yang berlebihan
gangguan suplai darahpada dinding kandu kemih dan
proliferasi bakteri. Gangguan fungsi renal juga dapat
terjadi, khususnya bila terdapat obstruksi saluran
kemih (Smeltzer, Suzanne C. 2001).
E. Pemeriksaan Diagnostik
• Adapun pemeriksaan diagnostic yang dapat
dilakukan pada retensio urine adalah sebagai
berikut :
1. Pemeriksaan specimen urine.
2. Pengambilan: steril, random, midstream.
3. Penagmbilan umum: pH, BJ, Kultur, Protein,
Glukosa, Hb, KEton, Nitrit.
4. Sistoskopy, BNO IVP
F. Penatalaksanaan
• Bila diagnosis retensi urin sudah ditegakkan
secara benar, penatalaksanaan ditetapkan
berdasarkan masalah yang berkaitan dengan
penyebab retensi urinnya.
Pilihannya adalah :
1. Kateterisasi
2. Sistostomi suprapubik
3. Pungsi Buli-Buli
G. Konsep Asuhan Keperawatan
• 1. Pengkajian
a. Identitas klien.
b. Riwayat kesehatan umum
1). Riwayat kesehatan keluarga
2). Riwayat kesehatan klien.
– Bagaimana frekuensi miksinya,
– Adakah kelainan waktu miksi
– Apakah rasa sakit terdapat pada daerah setempat atau secara umum
– Apakah penyakit timbul setelah adanya penyakit lain
– Apakah terdapat mual mutah atau edema
– Bagaimana keadaan urinnya
– Adakah secret atau darah yang keluar
– Adakah hambatan seksual
– Bagaimana riwayat menstruasi
– Bagaimana riwayat kehamilan
– Adakah rasa nyeri
Lanjut . . .
c. Data fisik Inpeksi
1) Seluruh tubuh dan daerah genital Palpasi
2) Pada daerah abdomen Auskultasi : kuadran atas abdomen dilakukan untuk mendeteksi.
3) Tingkat kesadaran
4) Tinggi Badan
5) Berat Badan
6) Tanda-tanda Vital
Tanda-tanda dan gejala retensi urine mudah terlewatkan kecuali bila perawat melakukan
pengkajian secara sadar terhadap tanda dan gejala tersebut.Oleh karna itu ,pengkajian
keperawatan harus memperhatikan masalah berikut:
1) Kapan urinasi terakhir dilakukan dan berapa banyak urine yang dieliminasikan?
2) Apakah pasien mengeluarkan urine sedikit-sedikit dengan sering?
3) Apakah urine yang keluar itu menetes?
4) Apakah pasien mengeluh adanya rasa nyeri atau gangguan rasa nyaman pada abdomen bagian
bawah?
5) Apakah ada massa bulat yang muncul dari pelvis?
6) Apakah perkusi didaerah suprapubik menghasilkan suara yang pekak?
7) Adakah indicator lain yang menunjukan retensi kandung kemih seperti kegelisahan dan agitasi?
2. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri akut berhubungan dengan radang urethra,
distensi bladder.
b. Gangguan pola eliminasi urine berhubungan
infeksi bladder, gangguan neurology, hilangnya
tonus jaringan perianal, efek terapi.
c. Ansietas berhubungan dengan status kesehatan.
d. Resiko infeksi berhubungan dengan
terpasangnya kateter urethra.
3. Intervensi Keperawatan
Lanjut . . .
Lanjut . . .
Lanjut . . .
Lanjut . . .
Lanjut . . .
Lanjut . . .
Lanjut . . .
Lanjut . . .
Lanjut . . .
Lanjut . . .
Lanjut . . .
Lanjut . . .
4. Implementasi Keperawatan
• Implementasi dilakukan sesuai dengan
intervensi yang telah disusun.
5. Evaluasi Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan radang urethra, distensi bladder.
• Menyatakan nyeri hilang/ terkontrol
• Menunjukkan rileks, istirahat dan peningkatan aktivitasdengan
tepat
2. Gangguan pola eliminasi urine berhubungan infeksi bladder,
gangguan neurology, hilangnya tonus jaringan perianal, efek terapi.
• Berkemih dengan jumlah yang cukup
• Tidak teraba distensi kandung kemih
3. Ansietas berhubungan dengan status kesehatan.
• Mengakui dan mendiskusikan takut/masalah
• Menunjukkan rentang perasaan yang tepat dan penampilan wajah
tampak rileks/istirahat
• Menyatakan pemahaman proses penyakit.
• Berpartisipasi dalam program pengobatan.
4. Resiko infeksi berhubungan dengan terpasangnya kateter urethra.
• Mencapai waktu penyembuhan dan tidak mengalami tanda infeksi.