Anda di halaman 1dari 14

KELOMPOK 3 :

Erni Situmorang
Melisa Pasaribu
Meli Gultom
Pebry Sihombing
Putri Aritonang
Susan Sitanggang
Swardi Silalahi

Dosen Pengampuh : Yulis Kartika.S.farm.,M.si.,Apt


1.Defenisi
Per oral merupakan pemberian obat melalui mulut yang paling lazim karena
penggunaannya yang sangat praktis, mudah dan aman (Tjay dan Rahardja, 2007).
Cara pemberian obat per oral paling banyak dipakai diluar lingkungan rumah sakit,
terutama untuk pengobatan sendiri. Pada penderita penyakit menahun dengan jangka
perawatan yang lama seperti obat antiepileptik, antidiabetik dan lain-lain, pemakaian
obat per oral merupakan cara yang uu dan nyaman. Pada anak-anak pemberian per
oral lebih dapat diterima karena umumnya sediaan mengandung sirop dengan aroma
yang enak dan cara pemberian yang mudah dan misalnya pemberian gerusan atau isi
kapsul dalam sendok yang dicampur selai atau susu (Shargel et all, 2005).
Penggunaa sediaan per oral dapat menjadi kemungkinan gangguann
pencernaan yang disebabkan oleh kekurangan enzim, adanya infeksi setempat seperti
infeksi usus, parasitosis tertentu serta untuk melindungi mukosa yang meradang atau
pada tukak saluran cerna. Sehingga pada pemberian per oral tidak dilihat
kemudahannya saja namun beberapa kemungkinan hal yang tidak diinginkan juga
harus dipertimbangkan pada pemberian per oral .
Pada pemberian obat per oral harus dipertimbangkan hal-hal yang merupakan
kontra indikasi, yaitu :
 Keadaan patofisiologik penderita, misalnya pada suatu sediaan antirematik yang
tidak dapat diberikan per oral tanpa risiko dimuntahkan sebelum obat bereaksi.
 Pada cairan lambung yang asam, zat aktif tertentu dapat dirusak oleh enzim
pencernaan seperti lipase atau terjadi pengikisan mukosa. Salah satu cara mengatasi
kelemahan ini dapat dibuat sediaan bersalut yang tahan terhadap cairan lambung.
Bahan aktif juga dapat dibuta dalam bentuk tak terbasahkan oleh cairan lambung
walau pelarutannya lambat.
 Enzim proteolitik yang ada pada saluran cerna dapat merusak zat aktif polipeptida
atau protein (insulin, hormon, polipeptida, serum)
 Enzim flora usus dapat berpengaruh pada sediaan oral.
 Interaksi antara zat aktif dan bahan cairanlambung yang akan membentuk senyawa
kompleks sehingga sulit untuk diserap.
 Apabila dibutuhkan zat aktif yang dapat segera mencapai kadar dalam darah yang
tinggi, maka penggunaan per oral dianggap kurang sesuai.
 Beberapa zat aktif yang dimetabolisme pada membran usus dapat rusak saat
memasuki aliran darah.
 Harus diperhatikan kemungkinan adanya “efek lintas pertama (first pass effect)”dan
klirens yang merupakan proses metabolisme yang mengubah zat aktif menjadi
bentuk yang tidak aktif sehingga obat kurang sesuai bila diberikan per oral.
(Shargel et all, 2005)
2. ANATOMI DAN FISIOLOGI
1.Mulut
a. Anatomi
Mulut terbuka kearah belakang menuju cavum pharyngis. Bagian atas dibatasi
olehpalatum, bagian bawah oleh dinding dasar mulut, bagian samping oleh pipi. Dasar
mulut bertumpu pada ligamen otot
b. Fisiologi
- Mukosa
Permukaan bagian dalam mulut lebih sempit, ditutupi oleh lapisan mukosa yang sangat
tipis, bening dan agak melekat : adanya ayaman kapiler “ tight junction” pada mukosa
yang tipis tersebut memudahkan penyerapan. Selanjutnya prinsip ini digunakan untuk
pemberian zat aktif per lingual.
- Pengeluaran air liur (saliva)
Air liur terutama mengandung enzim ptyalin yang merupakan suatu amylase dengan
pH aktivitas optimum 6,7. Proses hidrolisa ptyalin terhadap amilum akan berlanjut sekitar
30 menit didalam lambung, walaupun pH-nya menurun karena bercampur dengan cairan
lambung.
2.Lambung
a.Anatomi
Lambung merupakan sebuah kantong dengan panjang sekitar 25 cm dan 10 cm saat
kosong, volume 1 – 1,5 liter pada dewasa normal.
b. Fisiologi
Pengeluaran cairan lambung terjadi karena tiga proses yaitu : proses mekanik (kontak
makanan dengan dinding lambung), proses hormonal (sekresi lambung) dan persarafan.
4.EVALUASI BIOFARMASETIK
 Langkah pertama adalah mengetahui apakah sediaan dengan perlepasan zat aktif
yang terkendali telah terbukti.Dengan pengenalan sifat fisika-kimia zat aktif dapat
diperkirakan efek farmakologik dan farmakokinetiknya.
 Langkah kedua adalah mendapatkan parameter farmakokinetiknya yang diperlukan
untuk menghitung jumlah obat yang diberikan pada tahap awal dan pada tahap
perlepasan terkendali.
 Langkah ketiga adlah pemilihan bentuk sediaan yang sesuai dengan perlepasan
terkendali yang optimun. Setiap bentuk sediaan berbeda dan harus diuji perlepasan
zat aktif in vitro dan in vivo.
 Langkah keempat adalah menetapkan laju perlepasan zat aktif dari sediaan. Dengan
demikian perubahan pemakaian zat tambahan atau cara pembuatan sediaan akan
disesuaikan dengan skema perlepasan terhadap laju perlepasan yang dikehendaki.
 Langkah terakhir adalah melakukan uji klinik untuk membuktikan bentuk sediaan.
5. KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN PEMBERIAN OBAT MELALUI ORAL
1. Keuntungan
a. Harga relative lebih murah
b. Bisa di kerjakan sendiri boleh pasien
c. Tidak menimbulkan rasa nyeri
d. Bila terjadi keracunan, obat masih bias di keluarkan dari tubuh dengan cara
Reflek muntah dari faring dan Kumbah Lambung asalkan obat di minum belum
melebihi 4 jam artinya obat masih di dalam gaster .Tetapi bilamana lebih dari 4 jam tapi
belum melebihi 6 jam racun di dalam intestinum atau belum mengalami absorbsi.

2. Kerugian
Kelemahan dari pemberian obat per oral adalah :
 Pada aksinya yang lambat sehingga cara ini tidak dapat di pakai pada keadaan gawat.
Obat yang di berikan per oral biasanya membutuhkan waktu 30 sampai dengan 45 menit
sebelum di absorbsi dan efek puncaknya di capai setelah 1 sampai dengan 1 ½ jam. Rasa
dan bau obat yang tida enak sering mengganggu pasien.
 Cara per oral tidak dapat di pakai pada pasien yang mengalami mual-mual, muntah, semi
koma, pasien yang akan menjalani pangisapan cairan lambung serta pada pasien yang
mempunyai gangguan menelan.
6. . JENIS-JENIS OBAT PER ORAL
A. Pil
Yaitu satu atau lebih dari satu obat yang di campur dengan bahan kohesif dalam
bentuk lonjong, bulat atau lempengan.
B. Tablet
Yaitu obat bubuk yang dipadatkan dalam bentuk lonjong atau lempengan. Tablet
dapat di patahkan untuk mempermudah dalam menelan.
C. Bubuk
Yaitu obat yang di tumbuk halus.
D. Drase
Yaitu obat - obatan yang di bungkus oleh selaput tipis gula. Harus di telan secara
utuh karena dapat mengandung obat - obatan yang mempunyai kemampuan untuk
mengiritasi selaput lendir lambung pasien
E. Kapsul
Yaitu obat dalam bentuk cair, bubuk atau minyak dengan di bungkus gelatin yang
juga harus di telan secara utuh karena dapat menyebabkan muntah akibat iritasi
selaput lendir lambung pasien.
F. Sirup
Pemberiannya harus dilakukan dengan cara yang paling nyaman khususnya untuk
obat yang pahit atau rasanya tidak enak.
7. Fase Biofarmasetika Sediaan Per Oral
Fase biofarmasetika dapat diuraikan dalam tiga tahap utama, yaitu L.D.A yaitu :
a.Liberasi (Pelepasan)
Apabila seorang penderita menerima obat berarti ia mendapatkan zat aktif yang
diformula dalam bentuk sediaan dan dengan dosis tertentu. Obat pada mulanya
merupakan depot zat aktif yang jika mencapai tempat penyerapan akan segera
diserap (Drug delivery system dalam istilah anglo-sakson). Proses pelepasan zat aktif
dari bentuk sediaan cukup rumit dan tergantung pada jalur pemberian dan bentuk
sediaan, serta dapat terjadi secara cepat dan lengkap. Pelepasan zat aktif dipengruhi
oleh keadaaan lingkungan biologis dan mekanis pada tempat pemasukan obat,
misalnya gerak peristaltic usus, dan hal ini penting untuk bentuk sediaan yang keras
atau kenyal (tablet, suppositoria dll).
Sebagaimana diketahui, tahap pelepasan ini dapat dibagi dalam dua tahap yaitu tahap
pemecahan dan peluruhan misalnya untuk sebuah tablet. Dari tahap pertama ini
diperoleh suatu disperse halus padatan zat aktif dalam cairan di tempat obat masuk
ke dalam tubuh.
b.Disolusi (Pelarutan)
Setelah terjadi pelepasan yang bersifat setempat, maka tahap kedua adalah
pelarutan zat aktif yang terjadi secara progresif, yaitu pembentukan disperse
molekuler dalam air. Tahap kedua ini merupakan keharusan agar selanjutnya terjadi
penyerapan. Tahap ini juga diterapkan pada obat-obtan yang dibuat dalam bentuk
larutan zat aktif dalam minyak, tetapi yang terjadi adalah proses ekstraksi
(penyarian). Setelah pemberian sediaan larutan, secara in situ dapat timul endapan
zat aktif yang biasanya berbentuk amorf sebagai akibat perubahan pH dan endapan
tersebut selanjutnya akan melarut lagi.
Laju disolusi obat mungkin tergantung posisi, karena variasi dalam kedekatannya
dengan kelenjar ludah utama dan kadar air saliva yang diproduksi. Rute sublingual
tidak cocok untuk produk yang mempunyai profil konsentrasi plasma-waktu
diperpanjang, absorpsi selesai cepat karena epitel di daerah ini sangat tipis (sekitar
100 μm). Absorpsi cepat yang menghasilkan konsentrasi plasma puncak tinggi dapat
diatasi dengan menghantarkan obat ke mukosa bukal lebih tebal yang dapat
memperlambat absorpsi. Aktivitas metabolik dari mukosa oral dan populasi bakteri
dapat mempengaruhi atau mendegradasi obat.
c. Absorpsi (Penyerapan)
Tahap ini merupakan bagian dari fase biofarmasetika dan awal fase
farmakokinetik, jadi tahap ini benar-benar merupakan masuknya zat aktif dalam
tubuh yang aturan-aturannya ditengarai oleh pemahaman ketersediaan hayati
(bioavabilitas).
Penyerapan zat aktif tergantung pada bagian parameter, terutama sifat fisika-kimia
molekul obat. Absorpsi ini tergantung juga pada tahap sebelumnya yairu saat zat
aktifnya berada dalam fase biofarmasetika.
Dengan demikian proses penyerapan zat aktif terjadi apabila sebelumnya sudah
dibebaskan dari sediaan dan sudah melarut dalam cairan biologi setempat.
Tahap pelepasan dan pelarutan zat aktif merupakan tahap penentu pada proses
penyerapan zat aktif, baik dalam hal jumlah yang diserap maupun laju
penyerapannya (Ansel, 1989).
Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan yang telah dijelaskan, dapat disimpulkan sebagai
berikut:
1. Sediaan per oral adalah pemberian obat melalui mulut yang paling lazim karena
penggunaannya yang sangat praktis, mudah dan aman. Sediaan dalam bentuk oral
paling banyak digunakan karena kepraktisan penggunaannya. Diharapkan sediaan
per oral ini dapat memberikan efek sistemik dari obat setelah proses penyerapan di
saluran cerna.
2. Organ-organ yang terlibat pada pemberian obat secara per oral yaitu mulut,
esofagus, lambung, usus halus (duodenum, jejenum dan ileum) dan usus besar.
Proses penyerapan obat terjadi pada usus halus.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian obat per oral yaitu faktor fisiologi dan
faktor patologi. Faktor fisiologi meliputi permukaan penyerap, umur, laju pelewatan
dan waktu tinggal dalam lambung, pH dan perubahan pH karena formulasi, tegangan
permukaan, kekentalan serta isi saluran cerna yang dapat mengubah aksi zat aktif.
Faktor patologi meliputi gangguan fungsi penggetahan, gangguan transit dan
gangguan penyerapan.
THANK YOU

Anda mungkin juga menyukai