Anda di halaman 1dari 15

Metode Pemeriksaan ECLIA

(Electrochemiluminescence Immunoassay)
Mutiara Yohana Gultom [1511C1002]
Ikhrima Diah Ambarwati [1511C1014]
Gracilda Tuchika Goncalves [1511C1018]
Ester Laritembun [1511C1032]
Metode ECLIA

Chemiluminescence adalah emisi atau


pancaran cahaya oleh produk yang distimulus
oleh suatu reaksi kimia atau suatu kompleks
cahaya. Kompleks ikatan anti gen-antibodi
yang terjadi akan menempel pada
streptavidin-coated microparticle. ECLIA
menggunakan teknologi tinggi yang memberi
banyak keuntungan dibandingkan dengan
metode lain.
Prinsip Dasar ECLIA

Pada metode ECLIA mengunakan prinsip sandwich


dan kompetitif

prinsip kompetitif dipakai untuk menganalisis substrat yang


mempunyai berat molekul yang kecil seperti estradiol dan
progesteron.

prinsip sandwich digunakan untuk substrat dengan berat molekul


yang besar seperti prolaktin, LH, dan testosteron.
Prinsip ECLIA 1.Competitive principle (FT3)

Sampel dan anti-T3 Ab berlabel khusus dengan


rutenium kompleks Biotinylated-T3 dan microbead
magnetik yang dilapisi streptavidin ditambahkan =>
membentuk cmplx antibodi-hapten => seluruh cmplx
terikat pada mikrobead melalui rx dari biotin dan
streptavidin
Campuran Rx yang mengandung komplek imun yang
diangkut untuk mengukur sel => cmplx kekebalan
tersebut secara magnetis ditangkap pada elektroda =>
reagen tak terikat + sampel yang dihanyutkan oleh
Procell
Reaksi ECL terjadi ketika dirangsang secara elektrik,
dan cahaya yang dihasilkan secara tidak langsung
proporsional dengan [Ag] dalam pt.sampel.
Prinsip ECLIA
2. Sandwich Principle (HBsAg)
 Pt. sampel ditambahkan reagen yang mengandung antibodi
anti-HBsAg biotinylated dan campuran monoclonal /
poliklonal anti-HBsAg yang berlabel ruthenium kompleks.
 Mikropartikel yang dilapisi streptavidin ditambahkan ikatan
kompleks melalui interaksi biotin dan streptavidin.
 Campuran rx disedot ke dalam mengukur sel mikropartikel
yang secara magnetis terikat pada permukaan elektroda dan
pereaksi yang tidak terikat dicuci bersih oleh ProCell.
Aplikasi tegangan ke elektroda menstimulasi emisi cahaya
kemudian intensitas cahaya yang dipancarkan diukur oleh
photomultiplier. Cahaya yang dipancarkan berbanding lurus
dengan jumlah HBsAg dalam sampel
Prinsip ECLIA

3. Bridging Principle (IgG/IgM)


Mirip dengan prinsip sandwich kecuali uji yang dirancang untuk
mendeteksi antibodi, bukan antigen. Ini dicapai dengan
memasukkan antigen yang diberi biotinylated dan ruthenium-label
dalam reagen yang Ab memiliki afinitas.
 Spesimen :
Kadar β-CTx pada wanita post menopause dan pra
menopause dari darah.
 Alat yang digunakan :
Cobas Elecsys 601 (Cobas e 601)
 Prosedur Kerja :
Contoh
Pemeriksaan Reagensia, kalibrator dan kontrol juga dibuat menjadi
suhu ruangan (20⁰C-25⁰C), dan disiapkan menjadi
larutan kerja sesuai petunjuk pada leaflet. Reagensia
diletakkan pada disk reagensia, kalibrator pada disk
sampel. Lakukan kalibrasi reagen. Letakkan kontrol
dan sampel pada disk sampel. Lakukan pemeriksaan
sampel.
 Tahapan pemeriksaan ECLIA adalah sebagai berikut :
1. Inkubasi pertama: antigen dari sampel (50µL), antibodi biotinilasi
poliklonal spesifik β-CrossLaps dan antibodi monoklonal spesifik
β-CrossLap yang telah dilabel dengan kompleks ruthenium
membentuk kompleks sandwich.
2. Inkubasi kedua: setelah penambahan mikropartikel yang dilapisi
oleh streptavadin terjadi kompleks antigen antibodi melalui
interaksi biotin dan streptavadin.
3. Gabungan reaksi ini diaspirasikan kedalam sel pengukur
Lanjutan elektrokimia dimana substansi yang tidak terikat dicuci dan
Pemeriksaan kemudian dipindahkan oleh buffrer procell. Sedangkan kompleks
imun yang terbentuk ditangkap secara magnetis. Aplikasi dari
voltase ke elektroda kemudian menginduksi emisi cahaya
chemiluminesence yang diukur dengan photomultiper.
4. Hasilnya ditentukan melalui kurva kalibrasi yang digenerasikan
secara spesifik dengan instrumen dengan cara kalibrasi 2 titik
terhadap kurva master yang tersedia melalui barcode reagensia.
5. Jumlah cahaya yang dihasilkan berbanding lurus dengan kadar
analit dalam sampel.
Interpretasi
Hasil
Contoh 1. PEMERIKSAAN T3
Pemeriksaan Pemeriksaan T3 dapat digunakan untuk monitoring pasien
ECLIA Lain hipertiroid yang sedang mendapatkan terapi maupun pasien yang
telah berhenti menggunakan obat anti tiroid, dan sangat bermanfaat
untuk membedakan pasien eutiroid dan hipertiroid
 Prinsip
Competitive principle (FT3)
Sampel dan anti-T3 Ab berlabel khusus dengan rutenium kompleks
Biotinylated-T3 dan microbead magnetik yang dilapisi streptavidin
ditambahkan => membentuk cmplx antibodi-hapten => seluruh
cmplx terikat pada mikrobead melalui rx dari biotin dan streptavidin
Campuran Rx yang mengandung komplek imun yang diangkut untuk
mengukur sel => cmplx kekebalan tersebut secara magnetis
ditangkap pada elektroda => reagen tak terikat + sampel yang
dihanyutkan oleh Procell
Reaksi ECL terjadi ketika dirangsang secara elektrik, dan cahaya
yang dihasilkan secara tidak langsung proporsional dengan [] Ag
dalam pt.sampel.
 Prosedur pemeriksaan
 I. Inkubasi pertama: 15 µl sampel, antibodi spesifik T3 dilabel dengan
komplek ruthenium
 II. Inkubasi kedua: setelah ditambahkan T3 berlabel biotin dan
mikropartikel yang dilapisi streptavidin, komplek yang terbentuk
berikatan dengan fase solid melalui interaksi biotin dengan
streptavidin.
 III. Campuran reaksi diaspirasi dalam cell pengukur dimana
Lanjutan mikropartikel secara magnetic ditangkap pada permukaan elektroda.
Pemeriksaan Substansi yang tidak berikatan dibuang melalui Procell. Aplikasi
voltase (tegangan) pada elektroda kemudian menginduksi emisi
T3 chemiluminescent yang diukur oleh photomultiplier.
 Hasil ditetapkan melalui kurva kalibrasi yang merupakan instrument
yang dihasilkan secara khusus oleh kalibrasi 2 titik dan master kurva
dihasilkan melalui reagen barcode. Sampel sebaiknya tidak diambil
pada pasien yang mendapatkan terapi biotin dosis tinggi ( > 5mg/
hari). Penggunaan amiodarone juga menyebabkan penurunan pada
hasil T3. 23 Rentang nilai untuk T3 adalah 1.3 – 3.1 nmol/L atau 0.8-
2.0 ng/mL. dengan batas deteksi terendah adalah 0.300 nmol/L atau
0.195ng/mL.
2. PEMERIKSAAN T4
L-Thyroxine (T4) merupakan hormon yang disintesis dan disimpan dalam
kelenjar tiroid. Proses pemecahan proteolisis Thyroglobulin akan
melepaskan T4 ke dalam aliran darah. Lebih dari 99% T4 terikat pada 3
protein plasma secara 27 reversibel, yaitu : Thyroxine binding globulin
(TBG) 70%, thyroxine binding pre albumin (TBPA) 20% dan albumin 10%.
Sekitar 0,03% T4 yang berada dalam keadaan tidak terikat
 Prinsip
Competitive principle
Sampel dan anti-T3 Ab berlabel khusus dengan rutenium kompleks
Biotinylated-T3 dan microbead magnetik yang dilapisi streptavidin
ditambahkan => membentuk cmplx antibodi-hapten => seluruh cmplx
terikat pada mikrobead melalui rx dari biotin dan streptavidin
Campuran Rx yang mengandung komplek imun yang diangkut untuk
mengukur sel => cmplx kekebalan tersebut secara magnetis ditangkap
pada elektroda => reagen tak terikat + sampel yang dihanyutkan oleh
Procell
Reaksi ECL terjadi ketika dirangsang secara elektrik, dan cahaya yang
dihasilkan secara tidak langsung proporsional dengan [] Ag dalam
pt.sampel.
 Prosedur pemeriksaan
I. Inkubasi pertama: 15 ul sampel, dan antibodi spesifik T4 yang
dilabel dengan komplek ruthenium
II. Inkubasi kedua: setelah ditambahkan biotin dan mikropartikel
yang dilapisi streptavidin, komplek yang terbentuk berikatan dengan
fase solid melalui interaksi biotin dengan streptavidin. 28
III. Campuran reaksi diaspirasi dalam cell pengukur dimana
Lanjutan mikropartikel secara magnetic ditangkap pada permukaan elektroda.
Pemeriksaan Substansi yang tidak berikatan dibuang melalui Procell. Aplikasi voltase
(tegangan) pada elektroda kemudian menginduksi emisi
T4 chemiluminescent yang diukur oleh photomultiplier.
 Hasil ditetapkan melalui kurva kalibrasi yang merupakan instrument
yang dihasilkan secara khusus oleh kalibrasi 2 titik dan master kurva
dihasilkan melalui reagen barcode. Sampel sebaiknya tidak diambil
pada pasien yang mendapatkan terapi biotin dosis tinggi ( > 5mg/
hari). Rentang nilai untuk T4 adalah 64 - 164 nmol/L atau 4.8-12.7
μg/mL. dengan batas deteksi terendah adalah 5.40 nmol/L atau 0.420
ng/mL.
Prinsipnya sama seperti ELISA, hanya saja reagen yang R1
nya adalah Biotinylayed yang melekat atau dilabelkan ke
antigen, R2 nya adalah R2 yang berisi anti IgE antibodi yang
mengkhaelasi (berikatan) dengan ion Rutherium dengan biloks
+3. R3 nya tetep berisi Streptavidin yang dilapisi micropartikel
yang bersifat akan menempel pada medan magnet.
Selanjutnya sama masuk measuring flow cell, melekat di
medan magnet, pencucian bereaksi dengan TPA, dan
menghasilkan pendaran cahaya.
Kesimpulan
Keuntungan dari ECLIA adalah:
1. Reagen lebih stabil
2. Waktu pengerjaan cepat
3. Tidak menggunakan label radiasi
(Roche Diagnostic, 2000)