Anda di halaman 1dari 39

LUKA DIABETES

Oleh: Bayu Brahmantia, Ns., M.Kep., CWCS.


Definisi

• Ulkus kaki diabetik adalah luka yang dialami oleh


penderita diabetes pada area kaki dengan kondisi
luka mulai dari luka superficial, nekrosis kulit, sampai
luka dengan ketebalan penuh (full thickness), yang
dapat meluas kejaringan lain seperti tendon, tulang
dan persendian, jika ulkus dibiarkan tanpa
penatalaksanaan yang baik akan mengakibatkan
infeksi atau gangrene. (Yotsu, et all, 2014)
Definisi ...
• Luka diabetes terjadi karena adanya kelainan pada saraf,
kelainan pembuluh darah dan kemudian adanya infeksi.
Bila infeksi tidak ditangani dengan manajemen yang baik,
hal itu akan berlanjut menjadi ulkus bahkan dapat
diamputasi (Prabowo, 2007 dalam Faisol, 2015).

• Luka diabetes merupakan luka yang terjadi pada pasien


DM, dimana terdapat gangguan vaskular pembuluh darah
dan gangguan saraf, pasien mengalami kondisi hilang
sensasi nyeri, bahkan pada beberapa kondisi, luka
menjadi kronis, sulit sembuh, dan mengakibatkan
kematian. (Suriadi, 2015; Kuswandi, 2015)
Sumber: dokumen Klinik Kitamura, 2015
Epidemiologi
• Di Wisconsin, Amerika Serikat, insidensi amputasi tungkai
bawah selama 4 tahun bervariasi dari 2,4% pada kondisi akut
dan 4,4% pada kasus kronis. (WHO, 2000)
• Dunia (International Diabetic Foot, 2012), memperkirakan:
2013 = 382 juta penderita (8,4%)
2035 = 592 juta penderita (55%)
• Pasien luka diabetik di Indonesia sekitar 15% dari prevalensi pasien
DM, angka amputasi 30%, angka mortalitas 32% dan luka diabetik
merupakan penyebab perawatan rumah sakit terbanyak 80% untuk
kasus DM. (Hastuti, 2008).
• Indonesia:
Peringkat 7 dunia; 2012 = terdapat 8,5 juta jiwa;
2006 = 14,7 juta jiwa
2030 = Perkiraan 21,3 juta jiwa Kasus tertinggi DM: Jawa
Tengah / Semarang
ETIOLOGI
• Ulkus kaki diabetik terjadi sebagai akibat dari berbagai faktor  kadar
glukosa darah yang tinggi dan tidak terkontrol, perubahan mekanis
dalam kelainan formasi tulang kaki, tekanan pada area kaki,
neuropati perifer, dan penyakit arteri perifer aterosklerotik, yang
semuanya terjadi dengan frekuensi dan intensitas yang tinggi.
• Gangguan neuropati dan vaskular  faktor utama yang
berkonstribusi terhadap kejadian luka diabetes, luka yang terjadi pada
pasien diabetes berkaitan dengan adanya pengaruh saraf yang
terdapat pada kaki yang dikenal dengan nuropati perifer, selain itu
pada pasien diabetes juga mengalami gangguan sirkulasi, gangguan
sirkulasi ini berhubungan dengan peripheral vascular diseases. Efek
dari sirkulasi inilah yang mengakibatkan kerusakan pada saraf-saraf
kaki.
(Kuswandi, 2013; Syabariah, 2015; Suriadi, 2015)
• Infeksi pada penderita DM terjadi karena kondisi
hiperglikemia merusak respon immunologi, hal ini
menyebabkan leukosit gagal melawan patogen yang
masuk, selain itu iskemia menyebabkan penurunan
suplai darah yang menyebabkan antibiotik juga tidak
efektif sampai pada luka. (Suriadi, 2015)
DUA PENYEBAB
1. NEUROPATI PERIFER

Neuropati Perifer : > 80% Semua Luka


(Pecocaro, 1998)

Menifestasi:

 Saraf Motorik: (Armstrong, 1999)

High Arched Food


Kalus Luka
Claw FooT Deformity

(Levy, 2008)
 Saraf Motorik:

Saraf Otonom:

Penurunan fungsi Kelenjar Keringat dan Minyak

Anhidrosis

Kulit Kering dan Fisura pada kulit

Mudah Invasi Bakteri


 Saraf Sensorik:

Saraf Otonom:

Penurunan /Hilangnya Respon Nyeri

Mudah Terjadi Luka


DUA PENYEBAB
2. ISKEMIK KARENA PENYAKIT VASKULER

 15-20 % dari semua luka


Penurunan aliran darah menyebabkan
penyembuhan luka menjadi lambat tapi
Jarang menyebabkan luka secara
langsung, menentukan outcome dari
luka
Luka biasanya diawali karena trauma,
pemilihan alas kaki yang kurang tepat.
Penyebab lain: ANGIOPATI
• Angiopati  penurunan aliran darah ke tungkai
akibat aterosklerosis dr pembuluh darah besar di
tungkai terutama di betis.
• Apabila sumbatan terjadi pada pembuluh darah yg
lebih besar  pasien akan menderita sakit pada
tungkai setelah berjalan pd jarak tertentu.
(Asep Kuswandi, 2013)
MANIFESTASI KLINIK
• Manifestasi ggn pembuluh darah dapat berupa:
- nyeri tungkai bawah saat istirahat
- pada perabaan terasa dingin
- kesemutan dan cepat lelah
- pulsasi pembuluh darah kurang kuat
- Kaki menjadi pucat bila ditinggikan.
- Adanya ulkus/gangren
• Adanya angiopati  penurunan asupan nutrisi,
oksigen serta antibiotika sehingga kaki sulit
sembuh (Syabariah, 2015)
Klasifikasi Luka Diabetes, Waggner-Meggitt (1970)

GRADE Deskripsi
0 Tidak terdapat luka, gejala hanya seperti
nyeri
1 Ulkus dangkal atau superficial
2 Ulkus dalam
3 Ulkus dalam sampai mengenai tulang
4 Gangren telapak kaki
5 Gangren seluruh kaki

Sumber: Suriadi
(2015)
Klasifikasi Luka Diabetes menurut University of Texas
Grade 0 Grade 1 Grade 2 Grade 3
Stage A Pre/post Luka Luka Luka
ulderasi, superfisial, menembus menembus
dengan tidak ke tendon ke tulang
jaringan melibatkan atau kapsul atau sendi
epitel yang tendon atau tulang
lengkap tulang

Stage B Infeksi Infeksi Infeksi Infeksi


Stage C Iskemia Iskemia Iskemia Iskemia
Stage D Infeksi dan Infeksi dan Infeksi dan Infeksi dan
iskemia iskemia iskemia iskemia

Sumber: James, 2008 dalam Faisol 2015


KEPARAHAN DIABETES
1. Keparahan dan Resiko untuk Amputasi
2. Amputasi Skor < 10

Sumber: Supriadi, Japan DFU, 2015


Sumber: doc. Klinik Kitamura, 2015
Sumber: doc.Klinik Kitamura, 2015
TEORI TERJADINYA KOMPLIKASI KRONIK DM

1. TEORI SORBITOL (Fruktosa):


Hiperglikemi

Penumpukkan kadar glukosa pada sel dan


jaringan tertentu dan dpt mentransport glukosa
tanpa insulin

Glukosa yg ber>> tidak akan termetabolisasi habis


secara normal melalui glikolisis
LANJUTAN TEORI SORBITOL…

Sebagian glukosa yg tersisa dgn perantaraan


enzim aldose reduktase akan diubah
menjadi sorbitol

Sorbitol akan tertumpuk dalam sel/jaringan


tersebut dan menyebabkan kerusakan dan
perubahan fungsi
LANJUTAN TEORI…
2. TEORI GLIKOSILASI
Hiperglikemi

Glikosilasi pada semua protein, terutama yg


mengandung senyawa lisin

Terjadinya proses glikosilasi pada protein


membran basal  komplikasi
baik makro/mikro vaskuler.
3. Teori stres oksidatif
Hiperglikemia menjadi penyakit kronik yang dapat
menyebabkan kematian sel. Kerusakan oksidatif pada DNA
 toleransi glukosa terganggu, terjadi resistensi individu,
lipid plasma meningkat pada pasien DM. (Faisol, 2015)
INFEKSI LUKA DIABETES
1. Proses trauma
2. Luka diabetes yang terjadi terlambat
ditangani.
3. Glukosa darah tidak turun, bahkan
cenderung meningkat. (normal 70 – 130
mg/dL)
4. INFILTRASI BAKTERI; Clostridium, E.
Coli, Staphylococcus aureus.
(Suriadi, 2015)
Fase Penyembuhan Luka
Fase Waktu Sel yang Fungsi atau
Penyembuhan Berperan Aktivitas
Luka
Hemostasis Segera Platelet Pembekuan darah
Inflamasi Hari 1 s.d 4 Neutrofil, Fagositosis
makrofag
Proliferasi Hari 4 s.d 21 Makrofag, limfosit, Membentuk
(granulasi dan angiosit, neutrosit, kembali sel yang
kontraksi) fibroblast, rusak,
keratinosit memperbaiki
kembali fungsi
kulit, penutupan
luka
Remodelling Hari 21 s.d Fibrosit Meningkatkan
(maturasi) 2 tahun kekuatan tensil
(tegangan)
jaringan

Sumber: Bailey, 2009; Faisol, 2015; Suriadi, 2015


Faktor – Faktor yang dapat mempengaruhi
penyembuhan luka diabetes:
1. Lingkungan luka yang lembab
2. Stres psikosomatis
3. Stress mekanik
4. Kurang tidur / kurang istirahat
5. Usia
6. Nutrisi
7. Sistem imun
8. Aktivitas
9. Penyakit kronis
10. Infeksi sistemik
11. Merokok
12. Radiasi
(Maryunani, 2013; Suriadi, 2015)
TES PENGKAJIAN KAKI
1. Tes untuk menguji neuropati

Tes dengan
Monofilament 5.07; 10g

Tes Reflek
Pergelangan Kaki
12 Titik Lokasi Monofilament Test
TES PENGKAJIAN KAKI
2. Tes untuk menguji gangguan vaskular karena iskemik

a. Nadi arteri dorsalis pedis & arteri tibial posterior.

b. Ankle-brachial pressure index (ABPI) dengan Doppler


ultrasonography untuk mengkaji insufisiensi arteri: ABPI = rasio
tekanan darah sistolik kaki (ankle) dengan tekanan darah
sistolik lengan (brachial).
Sumber: UKI, 2015
Interpretasi ABPI
INTERPRETASI ABPI
ABPI > 1,2 Arteri tidak dapat terkompresi,
Diabetes Mellitus, penyakit ginjal
atau kalsifikasi arteri berat
ABPI 1,2 – 0,8 Sirkulasi arteri normal
ABPI 0,7 – 0,5 Insufisiensi arteri ringan
ABPI 0,4 – 0,2 Insufisiensi arteri sedang
ABPI < 0,2 Insufisiensi berat

Sumber: Anitasari, 2015


Perawatan Luka Diabetes (Maryani, 2011; Syabariyah, 2015; Suriadi, 2015)
A. Assessment (Pengkajian)
1. Ukuran luka (Panjang x Lebar x Kedalaman), dengan
memperhatikan; ada tidaknya undermining/goa/rongga pada luka,
lokasi luka, stadium luka.
2. Warna dasar luka; merah (luka bersih dengan vaskularisasi),
kuning (luka terkontaminasi), hitam (jaringan nekrosis)
3. Eksudat; serosa (bening, cairan plasma), purulen (tebal, kuning,
hijau, cokelat kemerahan, atau cokelat), serosanguinosa
(campuran serosa dan sanguinosa), sanguinosa (merah terah,
mengindikasikan perdarahan aktif)
4. Bau pada luka; toksikasi bakteri (E. Coli, Staphylococcus aureus,
Clostridium)
5. Tepi luka; edema, nekrosis, callus, infeksi dan epibol (epitel yang
menutup)
6. Kulit sekitar luka (rasa gatal, maserasi, odema atau
hiperpigmentasi)
7. Nyeri pada luka
Mayusef Sukmana/Education Program Certified Wound
12/12/2018
Care Specialist
33

WOUND BED ASSESSMENT

Oedema Indurationn

Hyperpigmentation Erythema

Underminning Necrotic tissue slough

Maceration Undefined

Unattached

Granulation tissue

Red ring

Pus
Perawatan Luka Diabetes ...
B. Bandage / Dressing (penentuan Jenis Balutan)
Melindungi luka dari trauma dan infeksi. Kondisi lembab
dapat meningkatkan reepitelisasi 50% dibanding luka kering.
Prinsip pemilihan balutan:
1. Balutan yang dapat mempertahankan kondisi luka tetap
lembab
2. Balutan yang berdasarkan evaluasi klinis.
3. Balutan yang dapat mempertahankan kulit sekitar luka tetap
kering.
4. Balutan yang dapat mengontrol eksudat
5. Balutan yang mudah digunakan dan tidak perlu sering
diganti.
6. Balutan yang dapat mengisi tiap rongga dalam luka,
sehingga mencegah peningkatan invasi bakteri
7. Efektivitas biaya untuk balutan dalam perawatan luka
Perawatan Luka Diabetes.....
C. Care and Close (Perawatan dan Penutupan Luka)
Mengatasi perdarahan, mengeluarkan benda asing,
menyediakan temperatur, kelembaban, dan keasaman/pH dalam
proses penyembuhan luka.
1. Debridemen; sharp, mekanik, kimia, autolitik (Berman, 2008)
2. Pembersihan luka; mengeluarkan debris organik,
menghilangkan eksudat.
3. Pembalutan, tujuannya:
a. Melindungi luka dari trauma mekanik dan kontaminasi
bakteri.
b. Mempertahankan keadaan lembab
c. Menyerap drain dan debris luka
d. Mencegah hemoragi
e. Imobilisasi luka
Perawatan Luka Diabetes
D. Documentation (dokumentasi)
menggunakan format pengkajian luka yang sudah
ada, meliputi pencatatan hasil observasi, foto luka lengkap
tanggal dilakukan perawatan. Beberapa format pengkajian
luka:
1. Pengkajian luka Barbara Bates – Jensen (1990)
2. Pengkajian Luka SIGNTED (size, inflammation/infection,
granulation, necrotic tissue, tunneling, edge, dept), dirancang
oleh Suriadi (2015)
3. Pengkajian Luka MUNGS (maseration, undefined/unattached,
necrotic, granulation, size) SCORE, dikembangkan oleh Suriadi
(2015).
4. Pengkajian Luka LUMT (Leg Ulcer Measurement Tool), Miller
dan Sandison (2009)
Perawatan Luka Diabetes .....
E. Evaluation
Monitoring luka diabetes dilakukan secara konsisten
sehingga mendapatkan informasi tambahan untuk
dikumpulkan, dianalisa, dan digunakan bagi perkembangan
rencana perawatan luka selanjutnya, dengan pertimbangan
aspek lain misalnya faktor-faktor yang mempengaruhi
penyembuhan luka.
Penatalaksaan Luka Diabetes
1. Perawatan luka; debrimang kalus yang tebal dan
jaringan nekrotik
2. Kontrol gula darah
3. Kurangi tekanan pada kaki; istirahat total dari kaki
4. Olah raga/aktivitas yang sesuai
5. Kontrol edema
6. Pengobatan infeksi
7. Perbaiki pola hidup
(Suriadi, 2015; Kuswandi, 2013)
Mayusef Sukmana/Education Program Certified Wound
12/12/2018
Care Specialist
39

HATUR NUHUN