Anda di halaman 1dari 315

Fungsi sistem respirasi

Respirasi adalah pertukaran gas, yaitu oksigen (O2) yang di butuhkan oleh
tubuh untuk metabolisme sel dan karbondioksida (CO2), yang di hasilkan dari
metabolisme tersebut di keluarkan dari tubuh melalui paru.

Berdasarkan tempat terjadinya pertukaran gas, pernafasan dapat di bedakan


menjadi 2 jenis, yaitu pernafaasan luar dan pernafasan dalam.
 Pernafasan eksternal adalah pertukaran udara yang terjadi antara udara
dalam alveolus dengan darah dalam kapiler.
Ada 3 tahapan respirasi eksternal :
1. Ventilasi
2. Pertukaran gas
3. Perfusi
 pernapasan internal adalah pernapasan yang terjadi antara darah
dalam kapiler dengan sel-sel tubuh
Fungsi sistem respirasi
Fungsi sistem pernapasan secara umum adalah :
1. Pertukaran gas (ventilasi)
2. Mengalirkan udara masuk dan keluar
3. Perlindungan permukaan saluran nafas
4. Pertahanan terhadap kuman
5. Komunikasi dengan menumbulkan suara pada
laring
6. Ikut berperan dalam pengaturan
tekanan/volume serta pH darah
Bagian sistem respirasi dan fungsinya
• Hidung
Udara yang di hirup melalui hidung akan mengalami 3 hal
yaitu :
1.Di saring
2. Di hangatkan
3. Di lembabkan
Selain menyediakan lorong untuk udara yang dihirup,
rongga hidung mengandung lendir dan rambut kecil
yang menyaring udara. Udara juga dibasahi dan
menghangatkan di dalam rongga hidung. Udara
mengalir lebih lanjut untuk faring, dari mana ia
mencapai laring.
• Faring
Faring merupakan percabangan 2 saluran, yaitu:
 Saluran pernafasan (nasofarings) pada bagian
depan
 Saluran pencernaan (orofarings) pada bagian
belakang
Dalam faring terdapat :
 Uvula, katup penutup rongga hidung
 Epiglotis, katup pengatur pergantian perjalanan
pernapasan dan makanan pada persimpangan 2
saluran tersebut.
Fungsi faring:
1. Menyediakan saluran bagi udara
2. Menyediakan ruang resonasi untuk bunyi
percakapan
3. Memberikan perlindungan dari mikroorganisme
Pada bagian belakang faring ini terdapat terdapat
laring yang mana tempat terletaknya pita suara.
Masuknya udara melalui faring akan
menyebabkan pita suara bergetar dan terdengar
sebagai suara.
• Laring
Ini adalah laring yang rumah pita suara - struktur yang
terutama terlibat dalam memproduksi suara untuk
berbicara, berbicara, dan bernyanyi. Ketika makanan
ditelan, struktur lain yang disebut epiglotis menutup
pembukaan laring. Hal ini untuk mencegah partikel
makanan dari memasuki tenggorokan. Bahkan jika
beberapa partikel makanan masuk ke laring, mereka
dikeluarkan melalui refleks muntah.
Fungsinya yaitu sebagai penghasil suara terbaik, laaluan
udara, dan penghalang masuknya benda asing ke
pernafasan bawah melalui lipatan-lipatan epiglotis
• Trakea
Dari laring, udara lolos ke trakea, struktur seperti
tabung yang masuk ke rongga dada. Atau dikenal
sebagai tenggorokan, trakea menghasilkan lendir
yang perangkap partikel asing di udara yang
dihirup. Lendir ini dapat keluar dari tubuh sebagai
dahak atau mendapatkan ditelan ke dalam perut.
Fungsinya yaitu sebagai tempat menyediakan laluan
bagi udara yg keluar-masuk.
• Bronkus
trakea ini terbagi menjadi dua cabang, yang disebut bronkus.
Sementara kiri bronkus memasuki paru-paru kiri, bronkus
kanan memasuki paru-paru kanan. Akan tetapi bronkus
kanan lebih pendek, lebar dan lebih dekat dengan trakea.

Tulang rawan bronkus bentuknya tidak teratur dan pada


bagian bronkus yang lebih besar cincin tulang rawannya
melingkari lumen dengan sempurna, cincin tulang rawan ini
fungsinya untuk menjaga agar saluran nafas tidak kolaps
atau kempis sehingga aliran udara lancar.
• Bronkiolus
Merupakan cabang dari bronkus, berdinding lebih tipis. Pada ujung
bronkiolus terdapat banyak gelembung kecil bernama alveolus.
Jumlah cabang bronkiolus yang menuju paru-paru kanan dan kiri tidak
sama.
Kana 3 cabang (lobus superior, medius, inferior)
Kiri 2 cabang (lobus superior dan inferior)
Ciri khas bronkiolus adalah tidak adanya tulang rawan dan kelenjar
pada mukosanya, pada bagian awal dari cabang bronkiolus hanya
tersebar sel globet dan sel epitel.
Fungsi dari bronkiolus adalah sebagai media yang menghubungkan
oksigen yang di hirup agar mencapai paru-paru.
• Alveoli
Bagian terakhir dari perjalanan udara adalah di alveoli. Disini terjadi
pertukaran oksigen dan karbondioksida dari pembuluh darah kapiler
dengan udara.
• Di dalam alveoli, oksigen di udara yang dihirup berdifusi ke dalam
darah kapiler. Oksigen akan melekat pada molekul hemoglobin
dalam darah. Darah beroksigen ini ke jantung, dari mana ia
dipompa ke berbagai bagian tubuh. Sel-sel dalam jaringan dan
organ menyerap oksigen dalam darah dan melepaskan karbon
dioksida. Darah yang membawa karbon dioksida, ke paru-paru.
Karbon dioksida diserap oleh alveoli, dan dikeluarkan melalui
pernafasan.

Fungsi dari alveoli ini adalah sebagai tempat pertukaran gas.


• Paru-paru terletak didalam rongga dada
bagian atas, di bagian samping di batasi oleh
otot dan rusuk serta di bagian bawah di batasi
oleh diafragma yang berotot kuat
Paru-paru ada 2 bagian yaitu:
• Paru-paru kanan (pulmo dekster) yang teridiri
atas 3 lobus
• Paru-paru kiri (pilmosinister) yang terbagi atas
2 lobus
MEKANISME PERTUKAN GAS

INSPIRASI
Adalah proses pemasukan udara ke dalam
paru-paru

 EKSPIRASI
Adalah proses pengeluaran udara dari paru-
paru
Mekanisme Pernapasan dibedakan atas dua macam :

1. Pernapasan Dada : melibatkan otot antar tulang rusuk


2. Pernapasan Perut : melibatkan otot-otot diafragma

Mekanisme pernapasan dada. Mekanisme pernapasan perut.


Proses Pernapasan

Pernapasan Dada

1. Inspirasi

otot antartulang
rongga volume tekanan udara
rusuk berkontraksi
( tulang-tulang
dada paru udara paru masuk
dada terangkat ke membesar membesar mengecil
atas )

2. Ekspirasi

otot antartulang
rongga volume tekanan
rusk berelaksasi
( tulang rusuk
dada paru udara paru udara
dan tulang dada mengecil mengecil membesar keluar
turun )
Pernapasan Perut

1. Inspirasi
Otot
diafragma rongga Tekanan udara di udara mengalir
Volume paru2
berkontraksi ( dada dalam ke dalam paru-
mengembang
diafragma membesar intrapulmonari paru
mendatar, menurun
rusuk naik )

2. Ekspirasi
Otot
diafragma rongga udara ke luar dari
Volume paru2 tekanan udara di
berelaksasi ( dada paru-paru
mengecil dalam
diafragma mengecil intrapulmonari
naik )
naik
VENTILASI
• Proses masuk dan keluarnya udara ke dan
dari paru, secara bergantian sehingga udara
alveolus lama yang telah ikut dalam
pertukaran O₂ dan CO₂ dengan darah kapiler
paru dapat ditukar dengan udara atmosfer
segar.
Tekanan yang penting pada ventilasi :
1. Tekanan atmosfer (barometik) : ditimbulkan
oleh berat udara di atmosfer pada benda di
permukaan bumi – 760mmHg.
2. Tekanan intra-alveolus/intraparu : terjadi di
dalam alveolus – 760 mmHg.
3. Tekanan intrapleura/intrathoraks : terjadi di
dalam kantung pleura – timbul di luar paru di
dalam rongga toraks – 756 mmHg.
VENTILASI PULMONAL
• Disebut ventilasi semenit, yaitu volume udara
yang masuk dan keluar dari dan ke dalam paru
selama satu menit.
Ventilasi paru = volume alun napas X kecepatan
pernapasaan

volume alun napas = 500 ml/napas


kecepatan pernapasan = 12 kali/menit
ventilasi paru adalah 6000 ml atau 6 liter udara yang dihirup dan dihembuskan
dalam waktu satu menit pada kondisi istirahat.
RUANG RUGI ANATOMIK
• Tidak semua udara yang masuk sampai ke
tempat pertukaran udara di alveolus, karena
sebagian menempati saluran napas
penghantar, di mana tidak terjadi pertukaran
udara.
• Volume saluran napas penghantar pada orang
dewasa rata2 adalah 150 ml.
VENTILASI ALVEOLUS
• Volume udara total yang dipertukarkan antara
atmosfer dan alveolus permenit.
• Ventilasi alveolus lebih penting daripada
ventilasi pulmonal.
Ventilasi alveolus = (volume alun napas – volume
ruang rugi) X kecepatan pernapasaan

volume alun napas = 500 ml/napas


volume ruang rugi = 150 ml
kecepatan pernapasan = 12 kali/menit
ventilasi alveolus adalah 4200 ml/menit.
Struktur yang Berperan dalam Pertukaran Gas
dan Mekanismenya

Pembuluh kapiler paru-paru

Alveolus

Jaringan-jaringan yang membutuhkan asupan O2

Udara atmosfer
Dalam pertukaran gas, gas mengalir menuruni gradien tekanan
parsial

Tekanan parsial (Pgas) merupakan tekanan dari masing-


masing gas yang timbul dalam suatu campuran gas

Gradien tekanan parsial merupakan perbedaan tekanan


parsial antara kapiler dan struktur sekitarnya
Udara atmosfer
Tekanan
Atmosfer
Total 760
mmHg

• Tekanan N2, 79% = 600 mmHg


• Tekanan O2, 21% = 160 mmHg
• Tekanan CO2, uap H2O, gas lainnya
hampir diabaikan
• Tekanan Co2 = 0,25 mmHg
Tekanan pada Alveolus
• PO2 = 100 mmHg
• PCo2 = 40 mmHg

PO2 lebih rendah dari PO2 di atmosfer karena adanya


pelembapan dan lemahnya pertukaran udara alveolus, hal ini
karena adanya campuran dari sejumlah udara lama, maka pada
akhir inspirasi kurang dari 15% udara segar yang dapat masuk ke
dalam alveolus

Tekanan O2 dan CO2 dalam alveolus relatif konstan sepanjang


siklus pernapasan
Tekanan Pada Kapiler Paru

• PO2 = 40 mmHg
• PCO2 = 46 mmHg

Darah yang membawa O2 dan CO2 ini berasal dari


darah vena sistemik yang kemudian ditransportasikan
menuju kapiler paru melalui arteri pulmonalis
Difusi O2
berlangsung sampai
Terjadi difusi O2 tidak ada gradien
PO2 pada alveolus
menuruni gradien diantaranya.
lebih tinggi dari
tekanan parsial dari Kemudian O2 yang
PO2 pada kapiler
alveolus menuju keluar dari kapiler
paru
kapiler paru paru akan memiliki
tekanan sebesar
100 mmHg
Difusi CO2 terjadi
dari kapiler paru Kemudian CO2 yang
PCO2 pada kapiler
menuju alveolus. meninggalkan
paru lebih tinggi
Difusi terjadi sampai kapiler paru
dari PCO2 pada
keadaan PCO2 memiliki tekanan
alveolus
dalam darah dan sebesar 40 mmHg
alveolus seimbang
Darah yang meninggalkan paru-paru memiliki
PO2 sebesar 100 mmHg dan PCO2 sebesar 40
mmHg.

Kemudian darah kembali masuk ke jantung


untuk kemudian disebar keseluruh jaringan
tubuh.
Mengapa darah yang kembali dari seluruh tubuh
masih mengandung O2?

Kandungan O2 dalam darah pada pembuluh balik ini


merupakan cadangan O2 yang dapat digunakan oleh
sel-sel jaringan apabila swaktu-waktu kebutuhan akan
O2-nya meningkat
1. Efek luas permukaan pada pertukaran gas
2. Efek ketebalan pada pertukaran gas
3. Efek koefisiensi difusi pada pertukaran gas
Pertukaran Gas pada Kondisi Patologis
Pusat Pengendalian Pernapasan di SSP

Respirasi/Pernapasan dikendalikan oleh dua


mekanisme saraf yang terpisah.

Sistem Volunteer, yaitu


Korteks Serebral

Sistem Involunteer, yaitu


Medula Oblongata dan
Batang Otak
Fisiologi darah dan sistem imun

Kelompok 6 - Fisioterapi A
Albumin
(53%)

Globulin
Protein
Air (43%)
(91%) Fibrinogen
Nutrien
Organik (4%)
(8%)
Nitrogen
Plasma darah
(55%)
Hormon

Elektrolit
Anorganik
(1%)
Gas
Darah
Eusinofil
(1-2%)
Basofil
Granulosit
Eritrosit (0,5-1%)
Netrofil
Sel darah
Leukosit (55%)
(45%)
Monosit
Trombosit (6%)
Agranulosit
Limfosit
(36%)
Plasma
• Dari separuh bagian dari darah merupakan cairan (plasma),
sebagian mengandung garam-garam terlarut dan protein.
• Plasma juga mengandung hormon, elektrolit, lemak, gula,
mineral, vitamin.

• Selain menyalurkan sel darah, plasma juga :


– Merupakan cadangan air tubuh
– Mencegah mengkerut dan tersumbatnya pembuluh darah
– Membantu mempertahankan tekanan darah dan sirkulasi
Plasma terdiri dari :
1. Air
Terdapat 91-92% air dalam plasma darah yang diabsorpsi dari intestinal.
Fungsi : sebagai media transport dan keseimbangan volume.

2. Organik
a. Protein
5% terbentuk di hati, terdiri dari: albumin 53%, globulin 43%, dan
fibrinogen 4%.

– Albumin berperan sebagai pengikat dan pengangkut protein; pengatur


tekanan osmotik.
– Globulin berperan sebagai pengangkut steroid dan hormon tiroid
dalam darah
– Fibrin berperan sebagai prekursor fibrin dalam hemostasis.
b. Nutrisi
Diserap dari makanan berupa asam lemak, monosakarida (glukosa),
asam amino, gliserol, dan vitamin.
Fungsi : sebagai makanan sel dan membantu metabolisme sel.

c. Nitrogen
Berasal dari hati, berupa urea dan ureum yang diekskresikan melalui
ginjal

d. Hormon
Berfungsi untuk metabolisme sel.
3. Anorganik
a. Elektrolit
Terdiri dari Na, K, P, Fe, dan I yang diserap dari intestinum.
Berperan mengatur tekanan osmotik CES & CIS, menyanggah perubahan
pH, tekanan darah, dan membantu metabolisme.

b. Gas (O2 & CO2)


O2 diperoleh dari paru-paru dan CO2 dari jaringan.
Sel Darah
Sel darah terdiri atas :
1. Eritrosit
Bentuk = cakram bikonkaf, tidak memiliki inti dan
ribossom, memiliki hemoglobin (Hb).
Jumlah normal = ± 5 jt/mm3
Umur = 120 hari
Fungsi = transport antara paru & jaringan,
mempertahankan pH.
Hb = molekul yang mengandung besi dan dapat
berikatan dengan O2 secara longgar dan
irreversibel. Hb dibentuk di sumsum tulang
belakang dengan bantuan eritropoietin yang
dibentuk di ginjal.
2. Leukosit
Memiliki inti dan ukuran yang lebih besar.
Jumlah normal = 5-10 ribu/mm3
Terbagi
a. Granulosit 60%
b. Agranulosit 40%

Karakteristik :
– Gerak amoeboid
– Dapat bermigrasi keluar dari pembuluh darah
– Dipengaruhi oleh stimulus kimia spesifik (positif kemotaksis)
– Neutrophils, eosinophils, dan monocytes memiliki peran fagositosis
a. Granulosit

1. Eusinofil
berfungsi dalam detoksikasi histamin yang
diproduksi sel mast dan jaringan yang cedera
saat inflamasi berlangsung.

2. Basofil
fungsinya menyerupai sel mast yang
mengandung histamin mungkin untuk
meningkatkan aliran darah ke jaringan yang
cedera dan juga antikoagulan heparin, mungkin
untuk membantu mencegah penggumpalan
darah intravaskuler.

3. Netrofil
berfungsi fagositik (menyerang dan
menghancurkan bakteri virus dan agen
penyebab cedera lainnya).
b. Agranulosit

1. Monosit
berfungsi sebagai histiosit jaringan atau
makrofag tetap.

2. Limfosit
– Limfosit T : membunuh sel secara
langsung (respon imun seluler)
– Limfosit B : menghasilkan imunoglobulin
(antibodi) bertanggung jawab atas respon
kekebalan humoral.
3. Trombosit / Platelet
Berdiameter 2-4m
Jumlah normal = 150– 450 ribu/ mm3
Umur = 9-12 hari
Fungsinya berkaitan dengan
pembekuan darah dan hemostasis
(menghentikan pendarahan).
Proses Pembentukan Darah (Hematopoiesis)

Hematopoiesis merupakan proses pembentukan komponen sel darah,


dimana terjadi Proliferasi, Maturasi dan Diferensiasi sel yang terjadi
secara serentak.
• Proliferasi sel menyebabkan peningkatan atau pelipat gandaan
jumlah sel, dari satu sel hematopoietik pluripotent menghasilkan
sejumlah sel darah.
• Maturasi merupakan proses pematangan sel darah.
• Diferensiasi menyebabkan beberapa sel darah yang terbentuk
memiliki sifat khusus yang berbeda-beda.
Hematopoiesis pada manusia terdiri atas beberapa periode :
1. Mesoblastik
Dari embrio umur 2 – 10 minggu. Terjadi di dalam yolk sac. Yang dihasilkan adalah
HbG1, HbG2, dan Hb Portland.

2. Hepatik
Dimulai sejak embrio umur 6 minggu terjadi di hati Sedangkan pada limpa terjadi pada
umur 12 minggu dengan produksi yang lebih sedikit dari hati. Disini menghasilkan Hb.

3. Mieloid
Dimulai pada usia kehamilan 20 minggu,terjadi di dalam sum-sum tulang
(hematopoiesis berlangsung seumur hidup terutama menghasilkan HbA,
granulosit.dan trombosit), kelenjar limfonidi (terutama sel-sel limfosit), dan timus
(limfosit, terutama limfosit T).
Hematopoiesis yang terjadi di:
1. Eritrosit dibentuk setiap hari di sumsum tulang
– Prenatal: Trimester I (Yolk Sac), Trimester II (hepar dan lien),
Trimester III (semua sumsum tulang).
– Setelah lahir samapi 5 tahun: semua sumsum tulang.
– Lebih dari 5 tahun: sumsum tulang panjang mulai tidak
berproduksi namun sumsum tulang pipih tetap berproduksi.
– Lebih dari 20 tahun: sumsum tulang panjang sudah tidak
berproduksi kecuali bagian humerus dan femus,sumsum tulang
pipih(costa,sternum,dan vertebrata) tetap berproduksi.
2. Leukosit dibentuk di dalam sumsum tulang merah.
3. Tromsbosit berasal dari megakayocyte dan sumsum tulang.
Tempat Hematopoiesis:
• Janin: 0-2 bulan ( Yalk Sac),2-7 bulan (hepar dan lien), 5-9 bulan (
sumsum tulang).
• Bayi: semua sumsum tulang.
• Dewasa: vertebrata, tulang iga, sternum, tulang tengkorak, sacrum,
pelvis, dan ujung proksimal teratur.
Hemostasis
• Hemostasis adalah proses pembentukan bekuan di dinding
pembuluh darah yang rusak dan pencegahan pengeluaran darah
sambil mempertahankan darah dalam keadaan cair di dalam sistem
vaskular. (Ganong : 2008)

• Mekanisme hemostasis:
– Fase Vaskular
– Fase Trombosit
– Fase Pembekuan
Faktor yang mempengaruhi proses pembentukan sel darah diantaranya
adalah:
• Asam amino,
• vitamin,
• mineral,
• hormon,
• ketersediaan oksigen,
• tranfusi darah,
• faktor-faktor perangsang hematopoietik.
• Fase Vaskular
Vasokonstriksi pembuluh darah.
Pembuluh darah yang terpotong atau robek segera berkonstriksi
akibat respon vaskuler inheren terhadap cedera dan vasokonstriksi
yang diinduksi oleh rangsang simpatis. Kontriksi ini akan
memperlambat aliran darah, sehingga pengeluaran darah dapat
diperkecil. Karena pemecahan endotel (bagian dalam) pembuluh
saling menekan satu sama lain akibat spasme sekunder awal ini,
endotel tersebut menjadi lengket dan melekat satu sama lain,
kemudian menutup pembuluh yang rusak.
• Fase Trombosit
Pembentukan sumbat trombosit.
Pada saat trombosit bersinggungan dengan pembuluh darah yang rusak,
trombosit akan berubah sifat secara drastis. Trombosit mulai
membengkak, bentuknya irreguler dengan tonjolan yang mencuat ke
permukaan. Trombosit menjadi lengket dan melekat pada serabut kolagen
dan mensekresi ADP. Enzimnya membentuk tromboksan A, sejenis
prostaglandin yang disekresikan kedalam darah oleh trombosit. ADP dan
tromboksan A kemudian mengaktifkan trombosit yang berdekatan
sehingga dapat melekat pada trombosit yang semula aktif. Dengan
demikian pada setiap lubang luka akan terbentuksiklus aktivasi trombosit
yang akan menjadi sumbat trombosit pada dinding pembuluh.
• Fase Pembekuan
Bila pembuluh darah rusak, aktivitas prokoagulan di daerah yang
rusak meningkat dan bekuan akan terbentuk. Pada dasarnya secara
umum proses pembekuan darah melalui tiga langkah utama yaitu
– pembentukan aktivator protombin sebagai reaksi terhadap pecahnya
pembuluh darah,
– perubahan protombin menjadi trombin yang dikatalisa oleh aktivator
protombin, dan
– perubahan fibrinogen menjadi benang fibrin oleh trombin yang akan
menyaring trombosit, sel darah, dan plasma sehingga terjadi bekuan darah.
Kelainan Patofisiologi Hemostasis dan
Pembekuan darah

• Perdarahan hebat akibat defisiensi vitamin K


• Hemofilia
• Trombositopenia.
• Keadaan Tromboembolik pada Manusia

• Organ-organ dalam sistem


Organ Sistem imun dibedakan menjadi
2 golongan berdasarkan
Imun fungsinya dlm sistem
imun :
• organ limfoid primer
(sentral)
• organ limfoid sekunder
(periferal).
Organ Limfoid Primer
• Jaringan limfoid primer berfungsi sebagai tempat diferensiasi
limfosit yang berasal dari jaringan myeloid.

• Terdapat dua jaringan limfoid primer , yaitu kelenjar thymus yang


merupakan diferensiasi limfosit T dan sumsum tulang yang
merupakan diferensiasi limfosit B.
Kelenjar Thymus (Limfosit T)

Seperti halnya limfosit B, limfosit T dibentuk di sumsum tulang. Akan tetapi,


proses pematangan limfosit terjadi di kelenjar timus, sehingga disebut
limfosit T ("T" berasal dari kata timus)

Jenis-jenis limfosit tersebut adalah sebagai berikut.


1) Limfosit T sitotoksit, berfungsi dalam menghancurkan sel yang telah
terinfeksi.
2) Limfosit T penolong, berfungsi mengaktifkan limfosit T dan limfosit B.
3) Limfosit T supresor, berfungsi mengurangi produksi antibodi yang
dihasilkan sel-sel plasma.
4) Limfosit T memori, berfungsi mengingat antigen yang pernah masuk ke
dalam tubuh. Dengan adanya limfosit T memori ini, antigen yang pernah
masuk akan mudah dikenali dan lebih cepat dihancurkan
• Setelah mengalami pematangan, limfosit T dan limfosit B akan
masuk ke dalam sistem perdaran limfatik. Oleh karena itu, sel-sel
limfosit akan banyak ditemui pada

– peredaran darah limfatik


– sumsum tulang
– kelenjar timus
– kelenjar limpa
– Amandel
– Darah
– Sistem pencernaan
Peran Limfosit T
Limfosit T dibagi menjadi sel pembunuh dan sel pembantu

• Peran utama dari sel T pembunuh adalah untuk menghancurkan


sel-sel yang telah terinfeksi oleh virus. Mereka juga dapat
menyerang sel-sel kanker dan sel-sel yang telah terinfeksi oleh
bakteri.

• Sel T pembantu memiliki apa mungkin adalah peran paling


penting dari limfosit dalam sistem kekebalan tubuh. Mereka
mengaktifkan sel-sel kekebalan tubuh lainnya, termasuk sel T
pembunuh dan sel B.
Sumsum Tulang (Limfosit B)
• Limfosit B dibentuk dan mengalami pematangan dalam sumsum
tulang (bone marrow) bahwa huruf "B" pada limfosit B berasal dari
"bone marrow" (sumsum tulang).

• Limfosit B yang berkembang dalam sumsum tulang mengalami


pembelahan atau diferensiasi menjadi sel plasma dan sel limfosit B
memori
• Sel plasma yang bertanggung jawab untuk produksi antibodi.
Mereka dapat dengan cepat memproduksi dan melepaskan ribuan
antibodi yang memasuki peredaran darah, siap untuk menempel
pada antigen.

• Sel memori, untuk mengingat antigen sehingga tubuh dapat


merespon lebih cepat jika mereka menyerang lagi.
Organ Limfoid Sekunder
• Organ yang berfungsi sebagai tempat berlangsungnya proses-
proses reaksi imun.

• Jaringan limfoid sekunder berfungsi sebagai tempat menampung


sel-sel limfosit yang telah mengalami diferensiasi dalam jaringan
sentral menjadi sel-sel yang imunokompeten yang berfungsi
sebagai komponen imunitas tubuh

• Jaringan limfoid yang terdapat dalam tubuh sebagian besar


tergolong dalam jaringan ini, seperti
– Limfa
– Tonsil
– Nodus Limfa.
• Limfa merupakan organ penyaring yang kompleks yaitu dengan
membersihkan darah terhadap bahan-bahan asing dan sel-sel
mati disamping sebagai pertahanan imunologis terhadap
antigen.
Limfa berfungsi pula untuk degradasi hemoglobin, metabolisme
Fe, tempat persediaan trombosit, dan tempat limfosit T dan B.

• Tonsil berfungsi mensekresikan kelenjar yang banyak


mengandung limfosit, sehingga tonsil dapat berfungsi untuk
membunuh bibit penyakit dan melawan infeksi pada saluran
pernapasan bagian atas dan faring.

• Nodus limfa adalah untuk menyaring mikroorganisme yang ada


di dalam limfa
Klasifikasi Sistem Imun
1. Sistem imun non spesifik (Innate Immunity system)
Merupakan pertahanan tubuh terdepan dalam menghadapi serangan
dari berbagai mikroorganisme. Sistem ini disebut non spesifik karena
tidak ditujukan terhadap mikroorganisme tertentu

2. Sistem imun spesifik (Adaptive Immunity System)


Sistem imun spesifik mempunyai kemampuan untuk mengenal
benda yang di anggap asing bagi dirinya. Benda asing yang pertama
kali timbul dalam badan yang segera dikenal sistem imun spesifik,
akan mensensitasi sel-sel imun tersebut. Sistem imun spesifik dapat
bekerja sendiri untuk menghancurkan benda asing yang berbahaya
bagi badan.
Sistem Imun non spesifik
Komponen-komponen sistem imun non spesifik terdiri atas :
a) Pertahanan fisis dan mekanis
Kulit, selaput lender, silia pada saluran pernapasan, batuk, dan bersin
dapat mencegah berbagai kuman patogen masuk ke dalam tubuh.
Kulit yang rusak misalnya oleh luka bakar dan selaput lender yang
rusak olek karena asap rokok akan meningkatkan resiko infeksi

b) Pertahanan biokimia
Asam hidroklorid dalam cairan lambung, lisozin dalam keringat, ludah,
air mata dan air susu dapat melindungi tubuh terhadap kuman gram
positif dengan jalan menghancurkan dinding kuman tersebut.
Sistem Imun non spesifik
c) Pertahanan humoral
1) Komplemen
Komplemen mengaktifkan fagosit dan membantu penghancuran
bakteri dengan jalan opsonisasi.

2) Interferon
Interferon adalah glikoprotein yang dihasilkan berbagai sel manusia
yang mengandung nukleus dan dilepas sebagai respon terhadap
infeksi virus. Interferon mempunyai sifat antivirus dengan cara
menginduksi sel-sel sekitar sel yang telah terserang virus tersebut. Di
samping itu interferon adapt juga mengaktifkan natural killer cell/sel
NK untuk membunuh virus
.
3) C Reactive Protein (CRP)
CRP dibentuk tubuh pada keadaan infeksi. Perannya ialah sebagai
opsonin dan dapat mengaktifkan komplemen.
Sistem Imun non spesifik
d) Pertahanan selular
1) Fagosit
Meskipun berbagai sel dalam tubuh dapat melakukan fagositosis, sel
utama yang berperan pada pertahanan non spesifik adalah sel mono
nuclear (monosit dan makrofag) serta sel polimorfonuklear seperti
neutrofil. Kedua golongan sel tersebut berasal dari sel hemopoietik yang
sama.
fagositosis dini yang efektif pada invasi kuman akan dapat mencegah
timbulnya penyakit. Proses fagositosis terjadi dalam beberapa tingkat
seperti kemotaksis, menangkap, membunuh, dan mencerna.

2) Natural Killer Cell


Sel NK adalah sel limfosit tanpa ciri-ciri limfoid sistem imun spesifik yang
ditemukan dalam sirkulasi. Oleh karena itu disebut juga sel non B non T
atau sel populasi ketiga atau null cell. Sel NK dapat menghancurkan sel
yang mengandung virus atau sel neoplasma. Interferon mempercepat
pematangan dan meningkatkan efek sitolitik sel NK.
Sistem Imun Spesifik
a. Sistem imun spesifik humoral
Yang berperan dalam sistem imun spesifik humoral adalah limfosit B
atau sel B. sel B tersebut berasal dari sel asam multipoten.

b. Sistem imun spesifik seluler


Yang berperan dalam sistem imun spesifik selular adalah limfosit T
atau sel T. sel tersebut juga berasal dari sel asam yang sama seperti sel
B, tetapi proliferasi dan diferensiasinya terjadi di dalam kelenjar timus.
Berbeda dengan sel B, sel T terdiri atas beberapa subset sel yang
mempunyai fungsi yang berlainan.
Fungsi sel T umumnya adalah :
1) Membantu sel B dalam memproduksi antibodi
2) Menegnal dan menghancurkan sel yang terinfeksi virus
3) Mengaktifkan makrofagdalam fagositosis
4) Mengontrol ambang dan kualitas sistem imun
Sistem Limfatik
Sistem limfatik adalah sebuah sistem sirkulasi sekunder yang berfungsi
mengalirkan limfa atau getah bening dalam tubuh yang berasal dari
cairan atau protein yang hilang, sistem ini dianggap juga sebagai sistem
pelengkap dari sisitem imunitas tubuh.
Fungsi Limfatik
1. Mengembalikan cairan dan protein dari jaringan ke dalam sirkulasi
darah.
2. Mengangkut limfosit dari kelenjar limfe ke sirkulasi darah.
3. Untuk membawa lemak yang sudah dibuat emulsi dari usus ke
sirkulasi darah. Saluran limfe yang melaksanakan fungsi ini ialah
saluran lakteal
4. Kelenjar limfe menyaring dan menghancurkan mikroorganisme
untuk menghindarkan penyebaran organism itu dari tempat
masuknya ke dalam jaringan, ke bagian lain tubuh.
5. Apabila ada infeksi, kelenjar limfe menghasilkan zat anti (antibodi)
untuk melindungi tubuh terhadap kelanjutan infeksi..
Cara Kerja Sistem Limfatik
 Membawa cairan dan protein yang hilang kembali ke darah,
dengan cara berdifusi ke dalam kapiler limfa kecil yang terjalin
di antara kapiler-kapiler sistem kardiovaskuler.
 Cairan yang masuk ke dalam sistem limfatik = cairan limfa/getah
bening
 Getah bening memiliki komposisi yang kira-kira sama dengan
komposisi cairan intertitial.
• Sistem limfatik mengalirkan isinya ke dalam sistem sirkulasi di dekat
persambungan vena cava dengan atrium kanan.
• Pembuluh limfa, seperti vena , mempunyai katup yang mencegah
aliran balik
cairan menuju kapiler.
• Kontraksi ritmik (berirama) dinding pembuluh tersebut
membantu mengalirkan cairan ke dalam kapiler limfatik. Seperti
vena, pembuluh
limfa juga sangat bergantung pada pergerakan otot rangka untuk
memeras cairan ke
arah jantung.
Sistem limfatik dan hubungannya dengan sistem
imunitas
• cairan limfa, yang awalnya berupa cairan intertisial yang terkumpul
dari sel-sel di seluruh tubuh.
• Limfa tidak dipompa
• Limfa mengalir ke jejaring kapiler kecil di sela-sela jaringan yang
kemudian menyatu dan membentuk pembuluh yang lebih besar
yang disebut limfatik (pembuluh limpa).
• Nodus limfa (kelenjar limfa) adalah daerah penyaring dan
penyimpan dalam sistem ini, dan tersebar di sepanjang jalur limfa.
• Limfa mengalir secara pasif saat pembuluh limfa ditekan oleh
kontraksi otot sekitar sewaktu bergerak.
• Cairan limfa masuk ke peredaran darah melalui vena subklavia kiri
dan kanan. Organ limfoid, meliputi timus dan limfa, dan jaringan
limfoid, seperti tonsil dan palak peyer, melengkapi seluruh
sistem. Organ limfoid mengandung sejumlah besar sel darah putih
khusus, terutama limfosit, yang melindungi tubuh dari benda asing
seperti serang mikroorganisme.
Sistem limfatik dan hubungannya dengan
pembuluh darah
• Sistem saluran limfe memiliki hubungan erat dengan sistem sirkulasi
darah. Darah meninggalkan jantung melalui arteri dan dikembalikan
melalui vena. Sebagian cairan yang meninggalkan sirkulasi dikembalikan
melalui saluran limfe, yang merembes dalam ruang-ruang jaringan.
• Hampir seluruh jaringan tubuh mempunyai saluran limfatik yang
mengalirkan kelebihan cairan secara langsung dari ruang interstisial.
Beberapa pengecualian antara lain bagian permukaan kulit, sistem saraf
pusat, bagian dalam dari saraf perifer, endomisium otot, dan tulang.
Sistem Gastrointestinal
Sistem Gastrointestinal

Sistem Gastrointestinal terdiri dari saluran


alimentar yaitu tuba muskular panjang yang
merentang dari mulut sampai anus, dan organ-
organ pelengkap lainnya seperti gigi, lidah,
kelenjar saliva, hati, empedu dan pankreas.
Fungsi sistem Gastrointestinal
• Menerima makanan (lewat mulut)
• Mencernanya menjadi zat-zat gizi dan energi
(dengan peristaltik dilambung dan pencernaan
kimiawi denagn bantuan enzim-enzim)
• Menyerap zat-zat gizi ke dalam aliran darah
• Membuang bagian makanan yang tidak dapat
dicerna (lewat anus)
• Membuang sisa proses pencernaan dari tubuh
(lewat ginjal,anus)
Otot Polos
• Disebut otot polos karena mempunyai serabut kontraktil yang tidak
memantulkan cahaya berselang-seling, sehingga sarkoplasmanya
tampak polos dan homogen.
• Mempunyai persyarafan autonom, artinya bekerja tidak dibawah
kesadaran (involunter).
• Reaksi terhadap rangsangan lambat, cukup lama, dan tidak cepat
lelah.
• Otot polos terdapat pada organ dalam sehingga disebut juga otot
visera. Misalnya pada pembuluh darah, pembuluh limfa, saluran
pencernaan, kandung kemih, dan saluran pernapasan.
• Otot polos berfungsi memberi gerakan di luar kehendak, misalnya
gerakan zat sepanjang saluran pencernaan. Selain itu, berguna pula
untuk mengontrol diameter pembuluh darah dan gerakan pupil
mata.
Struktur Otot Polos
• Bentuk sel memanjang Otot polos
tersusun berlapis-
dengan unjung lapis. Pada otot
meruncing polos terdapat
• Berbentuk gelondong jaringan ikat yaitu:
 endomisium
• Berinti pipih satu yang  perimisium
terletak ditengah  epimisium
sarkoplasma
• Miofibril tidak berwarna
(polos)
Mekanisme otot polos
• Kontraksi otot polos spontan melalui saluran ion atau diinduksi oleh
pemancar kimia seperti hormon, neurotransmiter, obat-obatan.
• Dalam sistem pembuluh darah, sistem pencernaan dan saluran
kemih otot-ototnya berbentuk katup yang disebut sfingter yang
mengatur aliran cairan atau darah dalam sistem ini.
• Otot polos juga menunjukkan pola yang berbeda dari kontraksinya.
Salah satunya adalah kontraksi berirama dengan kontraksi cepat
dan relaksasi dan yang lainnya adalah gerakan tonik dimana
kontraksi lambat.
• Sistem reproduksi, sistem pencernaan, saluran kemih, menunjukkan
gerakan otot tonik. Pergerakan otot polos di arteri
mempertahankan diameter arteri dan dengan demikian memainkan
peran penting dalam pemeliharaan tekanan darah.
• Kontraksi otot dimulai dengan adanya pengantar implus
(pontensial aksi). Potensial aksi yang dihantarkan ke seluruh
fibril yang terdapat di dalam serabut otot melalui sistem T.
Hal ini dapat memicu pelepasan ion Ca2+ dari sisterna
terminalis, yaitu kantung lateral retikulum sarkoplasma
yang bersebelahan dengan sistem T.
• Ca2+ berperan dalam inisiasi kontraksi otot polos, seperti
halnya pada otot rangka. Akan tetapi, secara umum
reticulum sarkoplasmik otot polos visceral kurang
berkembang, dan peningkatan kadar Ca2+ intrasel yang
membangkitkan kontraksi disebabkan terutama oleh influx
Ca2+ dari CES melalui saluran Ca2+ yang memiliki bergerbang
voltasi.
• Ca2+ berikatan dengan kalmodulin, dan kompleks yang terbentuk
akan mengaktifkan kinase myosin rantai ringan yang bergantung
pada kalmodulin, yaitu enzim katalisator untuk proses fosforilasi
myosin rantai tipis yang terjadi pada serin di posisis 19.
• Di samping itu, myosin otot polos harus terfosforilasi untuk dapat
mengaktifkan myosin ATPase.
• Fosforilasi ini akan mengaktifkan ATPase myosin, dan aktin
kemudian bergeser pada myosin, menghasilkan kontraksi.
• Myosin mengalami defosforilasi oleh fosfatase myosin yang
terdapat dalam sel. Enzim ini dihambat oleh fosforilasi, dan
diaktifkan oleh defosforilasi. Defosforilasi fosfatase myosin terjadi
oleh rho-associated kinase yang diaktifkan oleh ligand, yang akan
menghambat kegiatan otot polos.
• Dalam proses mekanisme kontraksi otot terdapat
“jembatan pengunci” (latch bridge), yang
mempertahankan ikatan antara jembatan silang
(cross bridge) myosin dengan aktin untuk
beberapa saat setelah konsentrasi Ca2+ menurun.
Dengan demikian, kontraksi akan bertahan
dengan penggunaan energy yang kecil.
• Relaksasi otot terjadi bila proses disosiasi
kompleks Ca2+ -kalmodium telah berakhir, atau
bila terjadi mekanisme lain.
Aktin kemudian Terjdinya cross bridges
Adanya potensial aksi
bergeser kearah myosin antara aktin dan myosin

Menyebar keseluruh miofibril Mengaktifkan myosin


melalui tubulus T ATP - Ase

Aktin akan berikatan


dengan kepala myosin
Memicu terlepasnya ion Myosin akan yang mengandung ATP-
Ca terfosforilas Ase yang memecah ATP
menjadi ADP

Terbentuknya enzim
katalisator

Akan mengaktifkan
Ion Ca berikatan dengan
kinase myosin rantai Terjadinya kontraksi
kalmodulin
ringan
Mulut
Mulut berfungsi untuk
mengunyah (pemecahan
partikel besar menjadi kecil).
Bagian Mulut terdiri dari :
a) Bibir : Berfungsi menerima
makanan
b) Lidah : menggerakan
makanan saat mengunyah,
sebagai pengecap rasa
c) Kelenjar saliva : membasahi
& melumas partikel
makanan sebelum di telan
d) Gigi : alat pencernaan
mekanik
Faring dan Esofagus

• Faring : jalan untuk


masuknya material
makanan, cairan dan udara
menuju esofagus, proses
menelan
• Esofagus : menggerakan
makanan dari faring ke
lambung melalui gerak
peristaltis. Sfingter
kemudian berkontriksi
untuk mencegah regurgitasi
isi lambung ke esofagus.
Lambung
 Lambung menyimpan makanan dalam jumlah besar,
sampai makanan tersebut dapat di tampung pada
bagian bawah pencernaan.
 Mencampur makanan tersebut dengan secret lambung
sampai ia membentuk suatu campuran setengah padat
yang dinamakan kimus,
 Mengeluarkan makanan perlahan-lahan dari lambung
masuk ke usus halus dengan kecepatan yang sesuai
untuk pencernaan dan absorpsi oleh usus halus.
(Karbohidrat dapat masuk ke usus halus dengan cepat,
protein lebih lambat, dan lemak tetap dalam lambung
selama 3 sampai 6 jam)
Usus Halus

• Diameter ± 4 cm Didalam usus halus terdapat


beberapa enzim yaitu :
• Mulai dari lambung sampai usus
besar  Maltase
• Panjang 275 cm  sukrase
• 3 segmen : duodenum, jejenum,  laktase
ileum  lipase
• Mempunyai banyak lipatan/ vili
 peptidase
• Fungsi usus halus:
 Absorbsi bahan makanan
 Berlangsung terutama di duodenum
& jejenum
 Absorbsi cairan elektrolit
Pankreas
• Mensekresikan enzim tripsinogen yang diaktivasi menjadi
tripsin oleh enterokinase. Tripsin ini akan menguraikan
protein dan polipeptida besar menjadi polipeptida dan
peptide kecil.
• Enzim kimotripsin yang diaktivasi oleh kimotripsinogen
yang berfungsi untuk menguraikan protein dan polipeptida
besar menjadi polipeptida dan peptide kecil.
• Mensekresikan lipase lemak yang berfungsi untuk
mengubah lemak menjadi asam lemak dan gliserol.
• Enzim amilase pankreas berfungsi untuk menghidrolisis zat
tepung yang tidak dicerna oleh amilase saliva.
Hati
• Memproduksi empedu
• Hati menyimpan glukosa dalam
bentuk glikogen dan
mengubahnya kembali menjadi
glukosa jika dibutuhkan oleh
tubuh.
• Mengurai protein dari sel-sel
tubuh dan sel darah merah yang
rusak.
• Menyimpan mineral, seperti zat
besi dan vitamin larut lemak.
• Menyimpan darah untuk sekitar
30% curah jantung dan bersama
dengan limfa mengatur volume
darah yang diperlukan tubuh.
Usus Besar
• Usus besar mengabsorpsi 80% sampai
90% air dan elektrolit dari kimus yang
tersisa dan mengubah kimus dari cairan
menjadi massa yang semi padat.
• Di dalam kolon terdapat populasi bakteri
yang membantu proses pembusukan sisa
pencernaan. Bakteri ini juga mencerna
sejumlah kecil selulosa dan memproduksi
sedikit kalori nutrien bagi tubuh.
• Usus besar memproduksi mucus.
• Usus besar mensekresikan sisa
pencernaan dalam bentuk feses. Warna
feses berasal dari pigmen empedu dan
baunya bersal dri bakteri.
Kelenjar Mulut

Kelenjar Parotid

Kelenjar Submandibular

Kelenjar Sublingual
Kelenjar parotid

adalah sepasang kelenjar-liur yang terbesar.


Dikelilingi oleh ramus mandibula dan
menyekresikan air liur melalui Duktus Stensen
menuju kavum oral untuk membantu
mengunyah dan menelan.
25% menghasilkan air liur.
Kelenjar Submandibular

adalah sepasang kelenjar yang terletak di


rahang bawah, di atas otot digatrik. Produksi
sekresinya adalah campuran serous dan
mukous dan masuk ke mulut melalui duktus
Wharton.
Walaupun lebih kecil daripada kelenjar parotis,
sekitar 70% saliva di kavum oral diproduksi oleh
kelenjar ini.
Kelenjar Sublingual

adalah sepasang kelenjar yang terletak di


bawah lidah di dekat kelenjar submandibula.
Sekitar 5% air liur yang masuk ke kavum oral
keluar dari kelenjar ini.
Kelenjar Lambung

Kelenjar Jantung Lambung

Kelenjar Fundus

Kelenjar Pilorus
Kelenjar Jantung

pada lambung ditemukan pada di regia mulut


lambung, hanya mensekresi mukus
Kelenjar Fundus

Kelenjar Fundus, yang terdiri dari 3 jenis sel

 Sel Chief, yang berfungsi mensekresi pepsinogen, lipase,


dan renin lambung
 Sel Pariental, memiliki fungsi untuk mensekresi asam
klorida (HCL) dan faktor interistik
 Sel Leher Mukosa, ditemukan pada setiap leher kelenjar
jantung dan memiliki fungsi, yaitu menseresikan barier
mukus setebal 1 mm dan melindungi lapisan lambung
terhadap kerusakan oleh HCL dan autodigesti
Kelenjar Pilorus

Kelenjar Pilorus terletak pada regia antrum


pilorus. Kelenjar ini mensekresi mukus dan
gastrin, suatu hormon peptida yang
berpengaruh besar dalam proses sekresi
lambung
Kelenjar Usus

Kelenjar usus (Kripta


Lieberkuhn)

Kelenjar penghasil mukus


Kelenjar-kelenjar usus (Kripta
Lieberkuhn)
Kelenjar-kelenjar usus (Kripta Lieberkuhn) tertanam dalam mukosa
dan membuka diantara basis-basis vili. Kelenjar ini mensekresi
hormon dan enzim.

• Enzim yang dibentuk oleh sel epitelial dibutuhkan usus untuk


melengkap digesti.
• Hormon-hormon yang mempengaruhi sekresi dan motilitas saluran
pencernaan antara lain:
 Sekretin, CCK dan GIP berperan untuk menghalangi sekresi kelenjar
lambung
 Peptida Usus Vasoaktif memiliki efek vasodilator dan efek relaksasi otot
polos
 Subtansi P mempengaruhi aktivitas motorik otot polos
 Stomatostatin menghambat sekresi asam klorida dan gastrin seperti
hipotalamus yang melepas faktor pelepas hormon pertumbuhan
Kelenjar Penghasil Mukus
Kelenjar Penghasil Mukus
• Sel Golbet
Terletak di epitelium di sepanjang usus halus. Sel ini
memproduksi mukus pelindung
• Kelenjar Brunner
Terletak pada submukosa duodenum. Kelenjar ini
memproduksi mukus untuk melindungi mukosa
duodenum terhadap kimus asam dan cairan lambung
yang masuk ke pilorus melalui lambung
• Kelenjar Enteroeksokrin
menghasilkan hormon-hormon gastroinstetinal
Kelenjar Pankreas
Pankreas merupakan kelenjar eksokrin
sekaligus endokrin.
 kelenjar endokrin, pankreas berfungsi untuk
menghasilkan hormon seperti insulin dan
glukagon
 kelenjar eksokrin,pankreas berfungsi untuk
menghasilkan getah pankreas yang
mengandung enzim pencernaan yang
nantinya akan disekresikan ke usus halus.
Bagian Eksokrin
Kelenjar Aciner bercabang majemuk
Bagian Acini pankreas menghasilkan enzim:
• Trypsin, memecah protein
• Amylase, memecah karbohidrat
• Lypase, memecah lemak
Bagian Endokrin
Pulau langerhans adalah gumpalan massa sel endokrin yang terpulas pucat
dan terbenam dalam jaringan asinar eksokrin pankreas.

Ada lima tipe sel yang ditemukan di pulau Langerhans, masing-masing


memiliki kemampuan sekresi hormon yang berbeda-beda, yaitu:

1. Sel alpha, yaitu sel yang menghasilkan hormon glukagon. Sel ini
merupakan sel terbanyak kedua yang ditemukan di pulau Langerhans
setelah sel beta (20%).
2. Sel beta, yaitu sel yang meng hasil kan hormon insulin. Sel β terletak di
dalam pulau Langerhans dan memenuhi sekitar 80% dari volume pulau
Langerhans.
3. Sel delta, sel ini menghasilkan somatostatin.
4. Sel F, sel ini menghasilkan pancreatic polypeptide yangbelum diketahui
jelas fungsinya.
5. Sel Gamma
Kelenjar Hati

Hati merupakan kelenjar pencernaan makanan


terbesar yang berfungsi sebagai penghasil getah
empedu untuk memulsikan lemak, yaitu
menghancurkan partikel-partikel lemak menjadi
lebih halus supaya mudah diserap dinding usus
halus yang kemudian masuk ke jaringan darah
diedarkan ke seluruh tubuh.
Pigmen empedu memberi warna khas pada feses
Proses Pencernaan Dasar

Motilitas

Digesti

Absorpsi

Sekresi
Motilitas
• Motilitas adalah kontraksi otot yang mencampur dan
mendorong isi saluran pencernaan.
• Contoh: otot polos di dinding saluran pencernaan secara terus
menerus berkontraksi dengan kekuatan rendah yang disebut
dengan tonus.
• Fungsi tonus: mempertahankan agar tekanan pada isi saluran
pencernaan tetap, dan mencegah dinding saluran pencernaan
melebar secara permanen setelah mengalami
distensi/peregangan.
Terdapat 2 jenis dasar motilitas pencernaan:
• Gerakan propulsif (mendorong) yaitu gerakan memajukan isi
saluran pencernaan ke depan dengan kecepatan yang
berbeda-beda. Kecepatan propulsif bergantung pada fungsi
yang dilaksanakan oleh setiap organ pencernaan.

• Gerakan mencampur. Memiliki fungsi ganda, yaitu:


1. mencampur makanan dengan getah pencernaan.
2. mempermudah penyerapan dengan memajankan semua
bagian isi usus ke permukaan penyerapan saluran pencernaan.
Digesti
• Merupakan proses penguraian makanan dari struktur yang
kompleks menjadi satuan-satuan yang lebih kecil sehingga
dapat diserap oleh enzim-enzim yang diproduksi di dalam
sistem pencernaan.
• Karbohidrat, protein dan lemak merupakan molekul-molekul
besar yang tidak dapat menembus membran plasma utuh
untuk diserap dari lumen saluran pencernaan ke dalam darah
atau limfe sehingga diperlukan proses pencernaan untuk
menguraikan molekul-molekul tersebut.
Absorpsi
• Proses penyerapan.
• Dilakukan di usus halus. Proses penyerapan memindahkan
molekul-molekul dan vitamin yang dihasilkan setelah proses
pencernaan berhenti dari lumen saluran pencernaan ke dalam
darah atau limfe.
Sekresi
• Getah pencernaan disekresikan ke dalam lumen saluran
pencernaan oleh kelenjar eksokrin.
• Setiap sekresi pencernaan terdiri dari air, elektrolit, dan
konstituen organik spesifik yang penting dalam proses
pencernaan (misalnya enzim, garam empedu, dan mukus).
• Sekresi tersebut dikeluarkan ke dalam lumen saluran
pencernaan karena adanya rangsangan saraf dan hormon.
Keseimbangan Energi
Energi dibutuhkan oleh setiap sel dalam tubuh
untuk mempertahankan kehidupannya dan
melaksanakan fungsinya dengan baik. Sumber
energi dihasilkan dari makanan yang dimakan,
diserap kemudian dioleh dalam tubuh.
Hukum pertama termodinamika menyatakan
bahwa “total energi didunia adalah konstan, energi
tidak dapat di ciptakan maupun dihancurkan.” Oleh
karena itu, setiap energi yang ikut andil dalam
hidup kita dapat dihitung dengan persamaan :
Energi tubuh = Energi masuk - Energi keluar
Energi masuk : energi dari makanan yang
dimakan. Energi ini dapat digunakan untuk
kerja biologis atau disimpan untuk kebutuhan
nanti.
Energi keluar : energi yang dikeluarkan oleh
tubuh yang merupakan kombinasi anatara
kerja dan panas yang dilepaskan ke
lingkungan. Persamaan untuk energi keluar
sebagai berikut :
Energi keluar = Kerja + Panas yang dikeluarkan.
Kerja dapat dibagi dua yaitu
Kerja eksternal : energi yang dikeluarkan saat otot
rangka berkontraksi untuk menggerakkan objek
eksternal atau menggerakkan tubuh terhadap
lingkungan.
Kerja internal : pengeluaran energi biologis yang
tidak berhubungan dengan kerja mekanik diluarr
tubuh. Mencakup 2 tipe aktivitas yaitu kerja otot
rangka selain kerja mekanik seperti postural dan
menggigil dan energi untuk mempertahankan
hidup seperti kerja jantung dan bernapas.
Tidak semua energi yang keluar dari tubuh
merupakan suatu kerja. Energi yang tidak
digunakan untuk kerja merupakan panas yang
dilepaskan atau energi termal. Dari total energi
yang masuk kedalam tubuh 75% nya di ubah
menjadi termal dan 25% nya di gunakan untuk
mendukung kerja dan mempertahankan
temperatur tubuh.
Ada 3 bentuk keseimbangan energi :
• Keseimbangan energi netral
Apabila energi yang masuk ke dalam tubuh jumlahnya sama seperti
energi yang dikeluarkan, pada kondisi ini berat badan akan tetap.
• Keseimbangan energi positif
Apabila energi yang masuk jumlahnya lebih banyak daripada energi
yang dikeluarkan, kelebihan energi ini akan disimpan biasanya pada
jaringan adiposa yang menyebabkan berat badan bertambah.
• Keseimbangan energi negatif
Apabila energi yang masuk ke dalam tubuh jumlahnya lebih kecil
daripada jumlah energi yang dikeluarkan, menyebabkan tubuh akan
menggunakan energi cadangan yang disimpan, mengakibatkan
berkurangnya berat badan.
Penggunaan energi
• Kerja eksternal: energi yang digunakan
sewaktu otot rangka berkontraksi untuk
menggerakkan tubuh dalam hubungannya
dengan lingkungan eksternal
• Kerja internal: Semua bentuk pengeluaran
energi biologis yang tidak menyelesaikan kerja
mekanis dalam tubuh
Metabolisme energi
• Metabolisme adalah jumlah dari semua reaksi kimia
di dalam tubuh
• Tujuan :
– mengambil energi dari zat gizi,
– menggunakan energi untuk bekerja, dan
– menyimpan kelebihan energi sehingga dapat digunakan
kemudian.
• Jalur metabolik yang mensintesis molekul besar
menjadi molekul kecil disebut jalur anabolik
• Sedang, yang memecah molekul besar ke molekul
kecil disebut jalur katabolik
Penggunaan dan penyimpanan energi
• Biomolekul yang kita telan ditakdirkan untuk
memenuhi salah satu dari tiga nasib:
• Energi.
Biomolekul dapat dimetabolisme secara langsung,
dengan energi yang dilepaskan dari ikatan kimia yang
pecah terperangkap dalam ATP, phosphocreatine, dan
senyawa energi tinggi lainnya. Energi ini kemudian
dapat digunakan untuk melakukan kerja mekanik.
• Sintesis.
Biomolekul yang memasuki sel dapat digunakan untuk
mensintesis komponen dasar yang diperlukan untuk
pertumbuhan dan pemeliharaan sel dan jaringan.
• Penyimpanan
Jika jumlah makanan tertelan melebihi
kebutuhan tubuh untuk energi dan sintesis,
kelebihan energi masuk ke penyimpanan di
obligasi glikogen dan lemak. Penyimpanan
membuat energi tersedia saat puasa.
Kolam Nutrisi & metabolisme
•Nasib dari sebuah biomolekul yang diserap
tergantung pada apakah itu adalah karbohidrat,
protein, atau lemak.
•Dari makanan biomolekul menjadi tiga kolam
nutrisi tubuh: kolam asam lemak bebas, kolam
glukosa, dan kolam asam amino.
•Asam lemak bebas membentuk kolam utama
lemak dalam darah. Dapat digunakan sebagai
sumber energi oleh banyak jaringan, tetapi juga
mudah disimpan sebagai lemak (trigliserida) di
jaringan adiposa.
• Karbohidrat diserap sebagian besar sebagai glukosa.
Konsentrasi glukosa plasma adalah yang paling dekat
untuk diregulasi dari tiga kolam gizi karena glukosa
adalah satu - satunya bahan bakar otak yang dapat
dimetabolisme, kecuali pada saat kelaparan.
• Jika kolam glukosa turun di bawah rata rata, hanya otak
yang memiliki akses ke glukosa.
• Ukuran konservasi ini memastikan bahwa otak memiliki
pasokan energi yang memadai. Sama seperti sistem
peredaran darah mengutamakan memasok oksigen ke
otak, metabolisme juga mengutamakan otak
• Jika kolam glukosa tubuh berada dalam kisaran
normal, sebagian besar jaringan menggunakan
glukosa sebagai sumber energi mereka.
• Kelebihan glukosa akan tersimpan sebagai
glikogen. Sintesis glikogen dari glukosa dikenal
sebagai glikogenesis.
• Penyimpanan glikogen sangat terbatas, dan bila
terdapat tambahan kelebihan glukosa maka akan
diubah menjadi lemak dengan lipogenesis.
• Jika konsentrasi glukosa plasma turun, tubuh
mengkonversi glikogen menjadi glukosa melalui
glikogenolisis.
• Tubuh mempertahankan konsentrasi glukosa
plasma dalam kisaran yang sempit dengan
menyeimbangkan metabolisme oksidatif,
glikogenesis, glikogenolisis, dan lipogenesis.
• Jika homeostasis gagal dan glukosa plasma
melebihi ambang ginjal untuk reabsorpsi, seperti
yang terjadi pada diabetes mellitus, kelebihan
glukosa diekskresikan dalam urin.
• Kolam asam amino digunakan terutama untuk
sintesis protein. Namun, jika asupan glukosa
rendah, asam amino dapat diubah menjadi
glukosa melalui jalur yang dikenal sebagai
glukoneogenesis
• Asam amino adalah sumber utama untuk glukosa
melalui jalur glukoneogenesis, tetapi gliserol dari
trigliserida juga dapat digunakan.
• Kedua glukoneogenesis dan glikogenolisis
merupakan sumber cadangan penting untuk
glukosa selama periode puasa.
Laju metabolisme (metabolic rate)
– Kecepatan penggunaan energi pada tubuh selama
kerja eksternal dan internal
– Metabolic rate (kcal/day) = L O2 consumed/day x
kcal/L O2
– 1 L O2 setara 4,825 Kalori
Laju metabolisme
• Cara pengukuran:
– Kalorimetri langsung: Pengukuran produksi panas
dengan kalorimeter
– Kalorimetri tidak langsung: Pengukuran konsumsi
O2
Makanan + O2 -> CO2 + H2O + Energi
Laju Metabolisme Basal (BMR)
• Tingkat metabolisme terendah individu dalam
keadaan istirahat di ruang bersuhu nyaman
dalam zona termonetral 12-14 jam setelah makan
• Rumus: Jumlah kalori yang digunakan/ jam/ luar
permukaan tubuh (kalori/jam/m2)
• Jumlah kalori = konsumsi O2/ jam
• Dipengaruhi oleh: umur dan jenis kelamin, Jumlah massa
otot, tingkat aktivitas, pola makan, hormon dan genetik
Bentuk keseimbangan energi
• Terdapat 3 kemungkinan bentuk keseimbangan
energi :
Keseimbangan energi netral.
jumlah energi dalam asupan makanan = jumlah
energi yang dikeluarkan oleh otot dalam
melakukan kerja eksternal ditambah basal
internal pengeluaran energi yang akan muncul
sebagai panas tubuh, maka energi masuk dan
energi keluar persis seimbang, pada kondisi ini
berat badan tetap konstan.
Keseimbangan energi positif
Bila jumlah energi yang masuk > jumlah energi
yang dikeluarkan dengan cara kerja eksternal
dan fungsi internal, energi ekstra yang diambil
tetapi tidak digunakan disimpan dalam tubuh,
terutama sebagai jaringan adiposa sehingga
meningkatkan berat badan.
Keseimbangan energi negatif
Sebaliknya, jika energi masuk yang berasal dari
asupan makanan < dari kebutuhan energi
tubuh, maka tubuh harus menggunakan
energi yang tersimpan untuk memasok
kebutuhan energinya, dan berat badan akan
berkurang.
Sumber Energi Dalam Tubuh
• Tubuh kita sepenuhnya tergantung pada energi yang
diperoleh dari makanan yang kita makan.
• Makanan mengalami banyak proses dan kemudian akhirnya
melepaskan ATP.
• ATP  Adenosine (adenine + ribose) + 3 Phosphat
• ATP  salah satu sumber energi yang paling penting dan
utama tubuh.
• ATP  senyawa fosfat berenergi tinggi yang menyimpan
energi untuk tubuh.
• ATP terbentuk dari nukleotida adenosin + 2 gugus fosfat.
• Molekul ATP terdiri dari :
Purin + Gula Pentosa + Gugus Fosfat
Produksi ATP
• ATP diproduksi di tingkat respirasi seluler. Hal
ini diproduksi dan dikonsumsi dalam respirasi
anaerobik serta aerobik.
• Produksi ATP terdiri dari tiga jalur utama yaitu:
– Glikolisis,
– Respirasi oksidatif atau siklus asam sitrat, dan
– Sistem elektron (transpor elektron) dan fosforilasi
oksidatif.
1. Glikolisis

• Proses pemecahan glukosa pada tingkat sel.


• Merupakan rangkaian reaksi yang mengubah
suatu glukosa menjadi dua molekul asam
piruvat dan menghasilka molekul-molekul
yang berenergi tinggi (ATP dan NADH) pada
saat perubahan-perubahan reaksinya.
• Berlangsung dalam sitoplasma sel dan secara
anaerob.
Tahap persiapan
• Memerlukan 2 molekul ATP
• Memecah gula heksosa menjadi molekul 2 triose fosfat

Tahap pengembalian / pay off


• 4 ATP
• 2 molekul piruvat
• 2 molekul NADH + H
Tahap 1.
• Fosforilasi glukosa
• Reaksi yang irreversibel
• Heksokinase : tranfer gugus fosfat pada molekul heksosa
• Memerlukan Mg
• Terdapat di semua jenis sel
• Sel hepatocyt mengandung glukokinase, sejenis heksosa tp lebih
spesifik untuk g
tahap ke 2:
Dikatalisis fosfoglukoisomerase
Perubahan isomer dari aldosa ke ketosa
Reaksi berlangsung dengan cepat krn standar energi bebas yang
kecil
Ensim memerlukan Mg, dan spesifik untuk substratnya
Tahap ke 3.
Dikatalisis oleh fosfofruktokinase (PFK), secara alosterik diatur
oleh: AMP ADP Citrate (off)
F2,6 BP ATP (off)
Merupakan titik regulasi glikolisis yang utama.
Pd kondisi in vivo  reaksi berlangsung irreversibel
Tahap ke 4
Menghasilkan 2 molekul tiga karbon : DHAP dan G3P
Dikatalisis oleh Fructose-1,6-Bisphosphate Aldolase. Tidak
memerlukan kation divalen
Meskipun energi bebas nya sangat positif, akan tetapi di dalam sel
 dapat diatur agar tetap cenderung ke arah pembentukan produk
dengan cara : konsentrasi produk dibuat sangat rendah
Tahap ke 5
Dikatalisis oleh Triose Phosphate Isomerase
Reaksi lebih cenderung ke arah kanan, dan dilakukan dengan
tetap menjaga konsentrasi G3P rendah
Tahap ke 6
Memerlukan NAD+  sehingga ratio NAD+/NADH+H di dalam sel
sangat penting untuk pengaturan laju dan arah reaks
Tahap ke 7
Merupakan reaksi fosforilasi tingkat substrat untuk ADP
menjadi 3PG dan ATP
Karena dihasilkan 2 molekul ATP untuk setiap 1 glukosa, maka
pada tahap ini, reaksi menjadi impas
Tahap ke 8
Reaksi pada kondisi standar cenderung lebih ke arah kiri untuk
membentuk 3PG
Di dalam sel, konsentrasi 3PG dijaga pada konsentrasi yg
selalu tinggi, sehingga reaksi cenderung ke arah kanan
Tahap ke 9
Merupakan reaksi dehidrasi sederhana dari 2PG menjadi PEP
Mempunyai efek naiknya energi hidrolisis ikatan fosfat
(dr -15.6 kJ/mol dalam 2PG menjadi -61.9 kJ/mol dalam PEP )
Energi bebas tersebut digunakan utk reaksi berikutnya 
fosforilasi tingkat substrat utk ADP menjadi ATP
Tahap ke 10
Reaksi ini penting, karena:
-Menghasilkan ATP dari reaksi fosforilasi tingkat subtrat ADP
-Reaksi ini secara energetik sangat bagus, sehingga berfungsi untuk
menarik dua reaksi sebelumnya
-Ensim yg mengkatalisis reaksi ini secara allosterik dinon aktifkan
oleh : ATP, alanine, and acetyl-CoA,
Dan secara allosterik diaktifkan oleh F1,6BP, and
2. Respirasi Oksidatif
• Siklus ini berlangsung dalam mitokondria sel dan merupakan serangkaian
proses dekarboksilasi (pelepasan karbon dioksida) dan reaksi redoks.

• Berfungsi mengoksidasi hasil glikolisis mjd CO2 dan juga menyimpan


energi ke bentuk molekul berenergi tinggi spt ATP, NADH, FADH2

• Sentral dalam siklus oksidatif dlm respirasi dimana semua makromolekul


dikatabolis (Karbohidrat, Lipid dan Protein)

• Untuk kelangsungannya membutuhkan :


– NAD, FAD, ADP, Pyr dan OAA

• Menghasilkan senyawa intermedier yg penting :


– asetil Co A,  KG & OAA

• Merupakan prekursor untuk biosintesis makromolekul – makromolekul.


• Berfungsi dalam katabolisme dan juga anabolisme 
amfibolik

• Katabolisme  memproduksi molekul berenergi tinggi

• Anabolisme  memproduksi intermedier untuk


prekursor biosintesis makromolekul

• Berbagai daur mengambil senyawa antara dlm siklus


kreb  berkurang  hrs ada mekanisme utk
mengganti senyawa antara tadi  daur anaplerotik
Dalam setiap siklus:
– 1 gugus asetil ( molekul 2C) masuk dan keluar sebagai 2 molekul
CO2
– Dalam setiap siklus : OAA digunakan untuk membentuk sitrat 
setelah mengalami reaksi yang panjang  kembali diperoleh OAA
– Terdiri dari 8 reaksi : 4 mrpkn oksidasi  dimana energi 
digunakan utk mereduksi NAD dan FAD
– Dihasilkan:
• 2 ATP, 8 NADH, 2 FADH2
– Tidak diperlukan O2 pada TCA, tetapi digunakan pada Fosforilasi
oksidatif  untuk memberi pasokan NAD, shg piruvat dapat di
ubah menjadi Asetil Co A
Tahap-tahap reaksi Daur Krebs
I. enzim sitrat sintase mengkatalisis reaksi kondensasi antara asetil
koenzim-A dengan oksalo asetat menghasilkan sitrat
II. Pembentukan isositrat dari sitrat melalui Cis-akonit dikatalisis
secara reversibel oleh enzim akonitase
III. Oksidasi isositrat menjadi alfa ketoglutarat berlangsung
pembentukan senyawa antara oksalosuksinat yang berikatan
dengan enzim isositrat dehidrogenase dengan NAD sebagai
koenzim.
IV. Oksidasi alfa ketoglutarat menjadi suksinat melalui
pembentukan suksinil koenzim-A,merupakan reaksi yang
irreversibel dan dikatalisis oleh enzim alfa ketoglutarat
dehidrogenase. Suksisnil koenzim A adalah senyawa tioester
yang berenergi tinggi.
Tahap-tahap daur Krebs
• Selanjutnya suksinil koenzim-A melepaskan koenzim –A dengan
dirangkaikan dengan reaksi pembentuk energi GTP dari GDP. GTP yang
terbentuk dipakai untuk sintesis ATP dari ADP dengan enzim nukleosida
difosfat kinase.
• Pembentukan GTP dikaitkan dengan reaksi deasilasi suksinil koenzim-A ini
disebut “fosforilasi tingkat substrat”
V. Suksinat dioksidasi menjadi fumarat oleh enzim suksinat dehidrogenase
dengan FAD sebagai koenzim. FAD berperan sebagai gugus penerima
hidrogen
VI. Reaksi reversibel penambahan satu molekul H2O ke ikatan rangkap
fumarat, menghasilkan malat yg dikatalisis oleh fumarase
Tahap VII (akhir) L-malat dioksidasi menjadi oksalo asetat oleh enzim L-malat
dehidrogenase yg berikatan dengan NAD (reaksi endergonik) atau laju
reaksi berjalan ke kanan,karena reaksi berikut kondensasi oksaloasetat
denga asetil koenzim-A yaitu reaksi eksergonik yang irreversibel
3. Sistem Elektron (transpor hidrogen) dan
Fosforilasi Oksidatif
• Sistem transpor elektron terdiri dari satu
rantai akseptor elektron yg terletak di
membran dalam mitokondria.
• Transpor elektron berjalan bersamaan dengan
pembentukan (fosforilasi) ATP dari ADP yg
kemudian disebut sebagai fosforilasi oksidatif
Kompleks I (NADH dehidrogenase)
t.a. 43 rantai polipeptida
mempunyai FMN sebagai gugus
prostetik dan mengkatalis reaksi.
NADH + H+ + FMN <=> NAD+ +
FMNH2
Mempunyai 6 pusat besi-sulfur

Mempunyai pusat besi-sulfur yang mentransfer elektron dr


FMNH2 ke karier berikutnya yaitu Coenzim Q
Kompleks I juga disebut NADH-coenzyme Q reductase
karena elektron yg terlibat dlm reaksi ini digunakan utk
mereduksi koenzim Q
Penghambat : amytal, rotenone dan piericidin A
Kompleks II (Suksinat dehidrogenase)
Merupakan enzim TCA yang terikat pada membran
Merupakan titik masuknya FADH2 yg diproduksi oleh suksinat
dehidrogenase
Elektron dr FADH2 akan didonorkan ke ubiquinone
Mempunyai pusat Fe-S
Disebut juga sebagai enzim succinate-coenzyme Q reductase
Kompleks III
terdiri dari berbagai protein karier elektron yi:
sitokrom B, pusat Fe-S dan sitokrom C1
Proses transfer elektron terkait dengan transport proton dr
matriks ke ruang antar membran. Dijumpai dlm btk dimer, dgn
masing masing memiliki 11 subunit
Pergerakan elektron dr Cyt b  Fe-S dpt diblok oleh antimycin A
2,6-dichlorophenol-indophenol  diketahui mampu menerima
elektron yg berasal dr Fe-S Komplek III
Merupakan protein kecil dalam
sistem transport elektron dan satu
satunya protein yg tidak dlm bentuk
kompleks

Menerima elektron dari kompleks III dan mentransfernya ke


kompleks IV
Karier elektron artifisial spt  tetramethyl-p-phenylene diamine
dpt menerima elektron dari cyt C
Kompleks IV
Dikenal sbg sitokrom oksidase krn
mengambil elektron dari cyt C
Bertugas mentransfer elektron dr
cyt C ke O2

Terdiri dari 3 sub unit : sub unit I, II dan III


Sub unit I  mengandung gugus heme Cyt a dan Cyt a3 serta ion
tembaga. Cyt a3 dan Cu  menerima elektron dr Cyt a dan
mentranser ke O2 yg terikat pd Cyt a
Sub unit II  mengandung ion Pb yg terikat pd residu sistein
membtuk pusat berinti ganda yg disebut CuA
Sub unit III  secr rinci belum diketahui perannya
Dpt dihambat oleh cyanida, azide dan CO
Kompleks V (ATP synthase / F0F1
kompleks)

F1 kompleks mrpkn bagian dr kompleks


V yang akan menghasilkan ATP pada
saat proton masuk dr ruang
intermembran ke matriks

Antibiotik oligomicyn mampu terikat pada F0 kompleks dan


menghambat aliran proton.
Fosforilasi oksidatif
• suatu proses dimana ATP dibentuk pada waktu
elektron dipindahkan dr NADH atau FADH2 ke O2 oleh
suatu deretan senyawa pembawa elektron
• proses pembentukan ATP secara enzimatis dari ADP
dan fosfat anorganik dengan menggunakan energi yang
dikeluarkan selama proses transpot elektron
• Setiap pasang elektron yg melalui rantai respirasi dari
NADP  O2 menghasilkan
NADH + H+ + ½O2 + 3 Pi + 3 ADP  NAD + + 3 ATP + H2O

• Pasangan elektron yg dihidrogenasi oleh FAD


dehidrogenase  menghasilkan 2 ATP
Pengaturan Suhu Tubuh
• Suhu adalah besaran yang menyatakan derajat
panas dingin suatu benda dan alat yang
digunakan untuk mengukur suhu adalah
thermometer.
• Pengaturan suhu dilakukan dengan
keseimbangan antar produksi dan
pengeluaran panas yg merupakan produk
sampingan metabolisme.
• Selalu pertahankan suhu untuk metabolisme.
• Sudut pandang termoregulatorik, tubuh
terbagi dua:
– Inti (central core)  suhu tubuh
• Organ-organ abdomen, toraks, SSP
– Lapisan pembungkus (outer shell)
• Kulit dan jaringan subkutis
SUHU INTI (homeothermic core)
• Dipertahankan kestabilannya pada suhu 37oC
• Kisaran suhu 35,6oC – 40oC
• Variasi suhu yang berbeda antar bagian tubuh
– Esofagus setinggi jantung < 1oC dibandingkan rektum
– Ada perbedaan suhu di berbagai regio/bagian otak 
berkaitan dengan aktivitas neuronal
– Ada perbedaan suhu otak antara diatas dan dibawah sinus
cavernosus
SUHU KULIT (poikilothermic shell)
• Berfluktuasi sesuai kondisi lingkungan
• Berkisar 20oC – 40oC (tanpa mengalami
kerusakan)
• Berubah-ubah sebagai tindakan kontrol untuk
mempertahankan agar suhu inti konstan
• Ditentukan oleh panas yang sampai ke kulit
dari perfusi darah
Perubahan Keseimbangan
Perubahan internal heat ( metabolisme  )
 Olahraga, infeksi,
Perubahan suhu lingkungan

Antisipasi perubahan :
Core temperature   internal heat , heat loss 
Core temperature   heat loss , internal heat 
produksi panas badan dan kehilangan
panas
panas badan dihasilkan oleh :
1. proses metabolisme kasar
2. masukan makanan (kerja dinamik spesifik)
3. aktivitas otot
perpindahan panas
1. radiasi
2. konduksi
3. konveksi
4. evaporasi
radiasi
adalah pemindahan
panas melalui radiasi
elektromagnetik
inframerah dari suatu
benda yang lain dengan
suhu yang berbeda
tanpa mengalami
kontak ke dua benda
tersebut
konduksi
pemaparan panas dari
suatu objek yang
suhunya lebih tinggi ke
objek lain dengan jalan
kontak langsung.
perpindahan panas dari
permukaan tubuh ke
objek lain
konveksi
pergerakan udara dalam
jumlah kecil, konveksi
hampir selalu terjadi di
seluruh tubuh karena
kecenderungan udara
yang dekat dengan kulit
bergerak ke atas waktu
udara tersebut dipanasi
evaporasi
pengalihan panas dari
bentuk cair menjadi
uap. penguapan air
melalui kulit paru-paru
disebut penguapan
insisibel karena dapat
terkontrol
PENGATURAN SUHU TUBUH
• Suhu tubuh hampir diatur seluruhnyaa oleh
mekanisme persarafan umpan balik, dan
hampir semua mekanisme ini terjadi melalui
pusat pengaturan suhu yang terletak pada
hipotalamus
Perolehan umpan balik untuk
pengaturan temperatur tubuh
• Perolehan umpan balik merupakan suatu
pengukuran efektivitas sistem pengatur.
• Perolehan umpan balik sistem pengaturan
sistem tubuh sama dengan rasio perubahan
temperatur lingkungan terhadap perubahan
temperatur tubuh
• Temperatur tubuh manusia berubah sekitar
1⁰C untuk setiap perubahan temperatur
lingkungan 25⁰C sampai 30⁰C.
Lengkung refleks pada pengaturan
suhu tubuh
LENGKUNG REFLEKS (REFLEX ARCH)
• Reaksi tubuh terhadap suatu rangsang yg
melibatkan sistem saraf disebut REFLEKS
• Peristiwa refleks yang terbentuk melalui
mekanisme jalur tertentu di: reseptor, saraf
aferen, medula spinalis (SSP), saraf eferen,
efektor ⇒ LENGKUNG REFLEKS
Refleks pengaturan suhu
Perubahan suhu tubuh dideteksi oleh 2 jenis reseptor, yaitu oleh
1. termoreseptor di kulit (peripheral thermoreceptors)
termoreseptor periper berfungsi menghantar sinyal ke pusat
integrasi dingin di hipotalamus
2. termoreseptor sentral di hipotalamus (central
thermoreceptors). Termoreseptor sentral memiliki umpan balik
negatif esensial untuk mempertahankan suhu inti.

Hipotalamus melayani seluruh refleks integrasi suhu dan


mengirimkan sinyal kembali melalui saraf simpatis autonom ke
kelenjar keringat, pembuluh darah kulit, kelenjar adrenalis, dan
melalui neuron motoris pada otot skeletal.
PERANAN HIPOTALAMUS PADA
PENGATURAN SUHU TUBUH
• Hipotalamus adalah pusat integrasi utama
untuk memelihara keseimbangan energi dan
suhu tubuh. Hipotalamus berfungsi sebagai
termostat tubuh.
• Hipotalamus sangat peka. Hipotalamus
mampu berespon terhadap perubahan suhu
darah sekecil 0.01ºC.
Dihipotalamus diketahui terdapat 2 pusat
pengaturan suhu.
• Regio anterior (area preoptik)
Area preoptik hipotalamus anterior mengandung
sejumlah besar neuron yang sensitif terhadap
panas.
• Regio posterior
diaktifkan oleh suhu dingin dan kemudian memicu
refleks – refleks yang memperantarai produksi
panas dan konservasi panas.
Mekanisme Efektor Neural yang menurunkan
atau meningkatkan temperatur tubuh
Mekanisme penurunan Mekanisme peningkatan
temperatur bila tubuh temperatus saat tubuh
terlalu panas : terlalu dingin :
• Vasodilatasi • Vasokontriksi kulit
• Berkeringat • Piloereksi
• Penurunaan • Peningkatan
pembentukan panas pembentukan panas
Kosep “Set-Point” untuk pengaturan
temperatur
• Pada temperatur inti tubuh yang kritis, pada tingkat
hampir tepat 37,1⁰C, terjadi perubahan drastis pada
kecepatan kehilangan panas dan kecepatan
pembentukan panas, padda temperatur di bawah
tingkat ini, keccepatan pembentukan panas lebih besar
dari kecepatan kehilangan panas
• Tingkat temperatut kritis ini disebut “set-point”
• “set-point”, merupakan semua mekanisme pengaturan
temperatur yang terus menerus berupaya untuk
mengembalikan temperatur tubuh kembali ke tingkat
set-point
Organ Sistem Perkemihan dan
Fungsinya
Sistem Perkemihan
• Sistem perkemihan merupakan sistem
terjadinya proses penyaringan darah
sehingga darah bebas dari zat-zat yang tidak
dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-
zat yang masih dipergunakan oleh tubuh.

• Zat-zat yang tidak dipergunakan lagi oleh


tubuh larut dalam air dan dikeluarkan
berupa urin (air kemih).

• Sistem utama untuk mempertahankan


homeostasis (kekonstanan lingkungan
internal).
Sistem Perkemihan
1. Ginjal
2. Ureter
3. Kandung kemih
4. Uretra
Ginjal
• Sepasang organ berbentuk kacang
• Terletak di belakang rongga abdomen
• Lokasi: ke-2 sisi kolumna vertebralis setinggi T12-L3
• Dilindungi oleh 3 lapis jaringan ikat:
– Kapsul ginjal
– Kapsul adiposa
– Fascia ginjal
• Tiap ginjal dewasa berukuran: 10cm x 5,5cm x 3cm,
berat 150 gr
• Setiap ginjal mempunyai satu arteri renalis dan vena
renalis.
• Tempat masuknya arteri dan saraf, serta tempat
keluarnya vena dan ureter: Hilus
Struktur Ginjal

• Korteks Ginjal
• Medula Ginjal
– Kolumna Ginjal
– Piramid Ginjal
• Pelvis Ginjal
– Kaliks Mayor
– Kaliks Minor
Fungsi Ginjal
a. Mempertahankan keseimbangan H2O di tubuh.

b. Mempertahankan osmolaritas cairan tubuh.

c. Keseimbangan elektrolit.

d. Mempertahankan volume plasma.

e. Mempertahankan keseimbangan asam-basa.

f. Mengekskresikan produk-produk sisa metabolisme tubuh


(urea, asam urat, kreatinin, toksin).
g.Mengeluarkan senyawa asing (obat aditif,
makanan, pestisida, dan bahan eksogen non-
nutritif).

h.Sekresi hormon (renin, eritropoietin, kallikrein,


prostaglandin, tromboksan)

i. Fungsi metabolik (aktivasi vitamin D,


glukoneogenesis, inaktivasi beberapa hormon).
Nefron
• Nefron adalah unit fungsional ginjal.
• Setiap ginjal terdiri dari sekitar 1 juta unit
fungsional mikroskopik yang disatukan oleh
jaringan ikat.
• Setiap nefron terdiri dari:
 Komponen vaskular
 Komponen tubular
 Apparatus Jukstaglomerulus
Nefron

KOMPONEN
VASKULAR

Arteriol Arteriol Kapiler


Glomerulus
Aferen Eferen peritubulus
Nefron
Glomerulus  tempat filtrasi sebagian air
dan zat terlarut dari darah yang melewatinya.
Arteriol aferen  mengalirkan darah ke
glomerulus.
Arteriol eferen  mengalirkan darah dari
kapiler.
Kapiler peritubulus  memasok darah ke
jaringan ginjal dan pertukaran antara sistem
tubulus dan darah sewaktu perubahan cairan
filtrasi menjadi urin.
Nefron

KOMPONEN
TUBULAR

Kapsul Bowman Tubulus Ginjal


Kapsul Bowman  suatu invaginasi
berdinding rangkap yang melingkupi
glomerulus untuk mengumpulkan cairan dari
kapiler glomerulus.
Tubulus Ginjal
 Tubulus Proksimal  reabsorpsi
 Ansa Henle  membentuk gradien osmotik di
medulla ginjal untuk menghasilkan urin dengan
konsentrasi beragam
– Ansa Henle asendens  berjalan balik ke
korteks
– Ansa Henle desendens  masuk dari korteks
ke dalam medulla
 Tubulus Distal  reabsoprsi Na+ dan H₂O serta
sekresi K+ dan H+
 Tubulus Koligentes  berjalan ke dalam medulla
untuk mengosongkan cairan isinya ke dalam pelvis
ginjal
Nefron

Apparatus
Jukstaglomerulus

Sel
Makula densa jukstagromerulus/
sel granular
Nefron
Berdasarkan letak dan panjang dari sebagian
strukturnya:
1. Nefron Korteks
 Glomerulus pada nefron korteks terletak di
lapisan luar korteks.
 Ansa henle di nefron korteks sedikit masuk
ke medulla
 Kapiler peritubulus tidak membentuk vasa
rekta tetapi melingkari lengkung pendek
henle nefron
2. Nefron Jukstamedulla
 Glomerulus pada Nefron jukstamedulla
terletak di lapisan dalam korteks, di
samping medulla
 Ansa henle di nefron jukstamedulla
masuk ke seluruh bagian medulla
 Kapiler peritubulus nefron
jukstamedulla membentuk lengkung
vaskular (vasa rekta) yang berjalan
merapat ke lengkung panjang
henle.
Ureter

• Fungsi ureter adalah


mengangkut urin dari
ginjal ke kandung kemih.
• Terdiri dari lapisan
mukosa, muskularis dan
adventisia
Kandung Kemih

• Tempat urin dikumpulkan


• Seperti buah pear
• Letak : di belakang simfisis
pubis di dalam rongga
panggul.
• Vesika urinaria dapat
mengembang dan
mengempis seperti balon
karet.
Uretra
• Urin dikeluarkan dari
vesika urinaria
• Wanita : 4 cm, pria : 15-20
cm
• Pada pria, juga
merupakan jalur yang
dilalui semen 3 bagian :
Pars prostatika
Pars membranasea
Pars karvenosa
1 Filtrasi
Glomerulus 2 Reabsorpsi
Tubulus 3 Sekresi
Tubulus
Filtrasi Glomerulus
Proses penyaringan plasma (bebas protein)
dari kapiler glomerulus ke dalam kapsula
bowman

Proses penyaringan darah yang kurang selektif.


Darah dari kapiler glomerulus dipisahkan dari
cairan filtrat glomerulus dalam kapsula bowman
oleh filter yang terdiri dari 3 lapisan, yaitu:
(1) Capillary endothelium,
(2) Dense layer,
(3) Filtration slits
Lapisan-lapisan tersebut berfungsi sebagai
saringan molekuler halus yang menahan sel
darah dan protein plasma, tapi
membolehkan H2O dan zat terlarut dengan
ukuran molekul kecil untuk melewatinya.
Air, ion, dan zat makanan serta zat terlarut
dikeluarkan dari darah ke tubulus proksimal.
Terbentuk filtrat primer di tubulus
proksimal.
Aliran darah ginjal (RBF = Renal Blood Flow)
25% dari curah jantung (1200 ml/menit)
Proses filtrasi glomerulus terjadi karena
adanya:
• Tekanan Hidrostatik darah di kapiler
glomerulus (PH)
• Tekanan Hidrostatik dalam kapsula bowman
(Pfluid)
• Tekanan Kolloid osmotik protein plasma (ᴨ)
Laju Filtrasi Glomerulus
Jumlah filtrat yang disaring dari plasma dalam
satu menit.
Pria, 180 ml/hari filtrat glomerulus pada LFG
rerata 125 ml/menit.
Wanita, 160 ml/hari pada LFG rerata 115
ml/menit.

LFG = Kf x Net Filtration Pressure


Reabsorpsi Tubulus
Proses pengembalian bahan essensial yang ada
pada filtrat glomerulus menuju kapiler peritubulus
melalui transpor transepitel

Urin primer yang terbentuk di tubulus proksimal


terdiri dari :
• Sebagian besar air
• Glukosa dan Asam Amino
• Ion
• Zat lainnya (Urea, Asam Uric, Kreatinin, dll)
Kemudian zat tersebut diserap oleh kapiler
peritubuler.
Tahap Transpor Transepitel
Reabsorpsi Natrium
• Ion-ion natrium ditransport secara pasif
melalui difusi terfasilitasi dari lumen
tubulus proksimal ke dalam sel-sel epitel
tubulus yang konsentrasi ion natriumnya
lebih rendah.
• Ion-ion natrium yang ditransport secara
aktif dengan pompa natrium-kalium, akan
keluar dari sel-sel epitel untuk masuk ke
cairan interstitial di dekat kapiler
peritubular.
Reabsorpsi Klorida
• Karena ion natrium positif bergerak secara pasif
dari cairan tubulus ke sel dan secara aktif dari sel
ke cairan interstitial peritubuluar, akan terbentuk
ketidakseimbangan listrik yang justru membantu
pergerakan pasif ion-ion negatif.
• Dengan demikian, ion klor negatif secara pasif
berdifusi ke dalam sel-sel epitel dari lumen dan
mengikuti pergerakan natrium yang keluar menuju
cairan peritubular dan kapiler tubular.
Reabsorpsi Air
• Air direabsorpsi secara pasif di sepanjang tubulus
karena H2O secara osmotis mengikuti Na+ yang
direabsorpsi secara aktif.
• Gaya utama yang mendorong reabsorpsi H2O di
tubulus proksimal adalah kompartemen
hiprtonitas di ruang-ruang lateral antar sel-sel
tubulus yang tercipta oleh pompa basolateral yang
secara aktif mengeluarkan Na+.
Reabsorpsi Urea
• Reabsorpsi H2O yang berlangsung secara
osmotis di tubulus proksimal sekunder
trhadap reabsorpsi aktif Na+ menghasilkan
gradien konsentrasi untuk urea yang
mendorong reabsorpsi pasif bahan sisa
berikut.
• Sekitar 50% urea secara pasif direabsorpsi
akibat gradien difusi yang terbetuk saat air
direabsorpsi. Dengan demikian, 50% urea
yang difiltrasi akan diekskresikan dalam
urin.
Sekresi Tubulus
Proses aktif yang memindahkan zat keluar
dari darah dalam kapilar peritubular yang
melewati sel-sel tubular menuju cairan
tubular untuk dikeluarkan dalam urin.

Bahan-bahan yang disekresikan:


• Ion H+
• Ion K+
• Anion organik
• Kation organik
Sekresi Ion H+
 Disekresikan oleh tubulus proksimal, distal,
koligentes
 Ketika cairan tubuh terlalu asam, maka
sekresi H+ akan meningkat
Sekresi Ion K+
• Dikontrol oleh aldosteron (meningkatkan absorpsi
aktif ion Na dan sekresi aktif ion K)
Peran Ginjal dalam Menjaga
Keseimbangan Cairan Tubuh
(Volume dan Osmolaritas)
Fungsi Ginjal Dalam Homeostasis
• Fungsi ginjal terpenting adalah mengontrol
volume dan komposisi cairan tubuh.
• Keseimbangan antara input (konsumsi/produksi
metabolik) dan output (ekskresi/konsumsi
metabolik) air dan hampir semua cairan elektrolit
dalam tubuh, dipertahankan sebagian besar oleh
ginjal.
• Fungsi regulasi ginjal mempertahankan lingkungan
sel-sel yang stabil untuk melakukan berbagai
aktivitas.
Ginjal mempertahankan konsentrasi darah normal
yang mengandung ion dan air dengan
menyeimbangkan asupan zat, ekskresi dalam bentuk
urin, dan mematuhi prinsip keseimbangan massa.
Fungsi ginjal antara lain:
1. Regulasi volume cairan ekstraseluler dan tekanan
darah. Ketika volume cairan ekstraseluler
berkurang, tekanan darah juga menurun. Jika
Volume dan tekanan darah turun terlalu rendah,
tubuh tidak dapat mempertahankan aliran darah ke
otak dan organ penting lainnya. Ginjal bekerja sama
dengan sistem kardiovaskular untuk memastikan
bahwa tekanan darah dan perfusi jaringan tetap
dalam rentang yang dapat diterima.
2. Osmolaritas.
Tubuh mengintegrasikan fungsi ginjal
dengan perilaku sehari-hari.
3. Memelihara keseimbangan ion.
4. Menjaga homeostasis tubuh, berkaitan
dengan pH.
5. Ekskresi
6. Produksi hormon
Ekskresi Ginjal
• Ginjal normal memiliki kemampuan untuk
memvariasikan proporsi relatif zat terlarut dan
air dalam urin dalam menanggapi berbagai
keadaan.
• Ketika kelebihan air dalam tubuh dan cairan
osmolaritas tubuh berkurang, ginjal dapat
mengekskresikan urin dengan osmolaritas
rendah yaitu 50 mOsm/L, konsentrasi yang
hanya sekitar seperenam osmolaritas cairan
ekstraseluler normal.
• Sebaliknya, ketika ada defisit air dan
osmolaritas cairan ekstraseluler tinggi, ginjal
dapat mengekskresikan urin dengan
konsentrasi 1200-1400 mOsm/L.
Kadar Air dan Elektrolit
 Ekskresi air dan elektrolit harus sesuai
dengan asupan.
 Asupan air dan elektrolit dalam jumlah
besar dipengaruhi oleh kebiasaan makan
dan minum seseorang.
 Ginjal akan bekerja untuk mengekskresikan
asupan zat yang sudah tidak bermanfaat.
Regulasi Tekanan Arteri
Ginjal berperan dalam regulasi tekanan arteri
jangka panjang dengan mengeluarkan
natrium dan air. Ginjal juga berkontribusi pada
regulasi tekanan arteri jangka pendek dengan
mengeluarkan faktor vasoaktif (zat), seperti
renin, yang mengarah pada pembentukan
produk vasoaktif (misalnya, angiotensin II).
Regulasi Keseimbangan Asam Basa
• Ginjal berkontribusi dalam regulasi asam
basa, bekerja sama dengan paru-paru dan
sistem buffer tubuh, dengan mengeluarkan
asam dan dengan mengatur cairan
penyangga tubuh.
• Ginjal adalah satu-satunya organ yang dapat
mengekskresikan beberapa jenis asam yang
ada dalam tubuh (asam fosfat dan asam
sulfat), yang merupakan hasil proses
metabolisme protein.
Pengendalian Osmolaritas Cairan
Ekstraseluler dan Konsentrasi Natrium
• Regulasi osmolaritas cairan ekstraseluler dan
konsentrasi natrium sangat berkaitan karena
natrium adalah ion yang paling melimpah di bagian
ekstraseluler.
• Konsentrasi natrium plasma normal sekitar 140-145
mEq/L, dengan konsentrasi rata-rata sekitar 142
mEq/L.
• Rata-rata osmolaritas sekitar 300 mOsm/L dan
perubahan jarang terjadi lebih dari ± 2-3%.
• Osmolaritas cairan ekstraseluler dan konsentrasi
natrium menentukan distribusi cairan antara bagian
intraseluler dan ekstraseluler.
Osmolaritas Plasma dan Konsentrasi
Plasma Natrium
Natrium dan beberapa anion mencapai sekitar
94% dari zat terlarut dalam kompartemen
ekstraseluler, plasma osmolaritas (POSM) secara
kasar dapat diperkirakan berikut:
POSM = 2,1 x konsentrasi natrium plasma

Misalnya, konsentrasi natrium plasma dari 142


mEq/L, osmolaritas plasma (dari rumus di atas)
menjadi sekitar 298 mOsm/L. Untuk lebih
tepatnya, terutama dalam kondisi yang
berhubungan dengan penyakit ginjal, kontribusi
dua zat terlarut yaitu glukosa dan urea harus
dilibatkan.
• Ion natrium dan anion terkait (bikarbonat
dan klorida) mewakili sekitar 94% dari
osmolaritas ekstraseluler, dengan glukosa
dan urea memberikan kontribusi sekitar 3-
5% dari total osmolaritas.
• Urea mudah menembus membran sel,
terdapat sedikit tekanan osmotik efektif
dalam kondisi steady-state.
• Ion natrium dalam cairan ekstraseluler dan
anion adalah penentu utama pergerakan
fluida yang melintasi membran sel.
Kontrol Cairan Ekstraseluler dan Volume
• Kontrol volume cairan ekstraselular normal dan
konsentrasi natrium memerlukan keseimbangan
antara ekskresi natrium dan asupan natrium.
• Dalam kehidupan modern, asupan natrium hampir
selalu lebih besar dari yang diperlukan untuk
homeostasis.
• Asupan natrium rata-rata untuk individu dalam
budaya industri makanan berkisar antara 100-200
mEq/hari, meskipun manusia dapat bertahan hidup
dan berfungsi normal cukup dalam 10-20 mEq/hari.
• Asupan natrium yang tinggi dapat menyebabkan
gangguan kardiovaskular seperti hipertensi.
Pertanyaan :
1. Apa yang dimaksud dengan sistem endokrin dan organ-organ
apa saja yang terlibat dalam sistem ini? Sebutkan hormon
yang dilepaskan oleh organ-organ tersebut (kecuali kelenjar
endokrin reproduksi) dan jelaskan secara singkat fungsinya
2. Jelaskan peran sistem endokrin dalam homeostasis
3. Bagaimana sistem endokrin bekerja sama dengan sistem
saraf dalam homeostasis?
4. Apa definisi hormon? Sebutkan klasifikasinya dan jelaskan
secara singkat perbedaannya
5. Jelaskan secara singkat pengendalian sekresi hormon melalui
mekanisme umpan balik, berikan contohnya
SISTEM ENDOKRIN
• Sistem endokrin adalah sekumpulan kelenjar dan organ
yang memproduksi dan mengatur hormon dalam aliran
darah untuk mengontrol banyak fungsi tubuh. Sistem
ini tumpang tindih dengan sistem saraf dan eksokrin
dan tanggung jawabnya meliputi metabolisme,
pertumbuhan, dan perkembangan seksual.
• Kelenjar utama dari sistem endokrin adalah pituitari,
hipotalamus, dan pineal yang terletak di otak, tiroid
dan paratiroid di leher, adrenal dan pankreas di perut,
dan gonad, indung telur atau testis di perut bagian
bawah.
Macam macam kelenjar endokrin
• Kelenjar Hipofisis (pituitary)
• Kelenjar Pineal
• Kelenjar Tiroid
• Kelenjar Paratiroid
• Kelenjar Adrenal
• Kelenjar Pankreas
• Gonad
Kelenjar Hipofisis
• Kelenjar Hipofisis (pituitary) disebut
juga master of gland atau kelenjar pengendali
karena menghasilkan bermacam-macam
hormon yang mengatur kegiatan kelenjar
lainnya.
• Terletak di otak.
• Fungsi kelenjar ini terdiri dari dua bagian
kerja: hipofisis anterior, dan hipofisis posterior.
Hipofisis Anterior (Adenohipofisis)
Menghasilkan hormon :
• Hormon pertumbuhan (Growth Hormone) :
menyebabkan pertumbuhan hampir di seluruh
sel dan jaringan tubuh.
• Adrenokortikotropin : menyebabkan korteks
adrenal mensekresi hormon-hormon
adrenokortikal.
• Hormon perangsang tiroid (Thyroid-stimulating
Hormone) : menyebabkan kelenjar tiroid
mensekresi tiroksin dan tri-iodotironin.
• Hormon perangsang folikel (Follicle-stimulating
Hormone) : menyebabkan pertumbuhan folikel
dalam ovarium sebelum ovulasi, meningkatkan
pembentukan sperma di dalam testis.
• Hormon Lutein : memainkan peranan penting
dalam menimbulkan proses ovulasi; juga
menimbulkan sekresi hormon kelamin wanita
oleh ovarium dan testosteron oleh testis.
• Prolaktin : meningkatkan pertumbuhan
payudara dan sekresi air susu.
Hipofisis Posterior (Neurohipofisis)
Menghasilkan hormon :
• Antidiuretik (vasopresin) :
menyebabkan ginjal menahan air,
sehingga meningkatkan jumlah air
dalam tubuh; juga, pada konsentrasi
yang tinggi, akan menyebabkan
penyempitan pembuluh darah di
seluruh tubuh dan menaikkan
tekanan darah.
• Oksitosin : membuat uterus
berkontraksi selama proses
persalinan, juga membantu
pengeluaran bayi; juga membuat sel-
sel mioepitelial dalam payudara
berkontraksi, sehingga
mengeluuarkan air susu dari
payudara sewaktu bayi menghisap.
Kelenjar Pineal
• Kelenjar pineal adalah
kelenjar endokrin kecil
yang terletak di pusat
otak antara dua
belahan. Dengan
mengeluarkan
melatonin, kelenjar ini
membantu mengatur
pola bangun / tidur.
Kelenjar Tiroid
• terletak di leher di bagian
depan tenggorokan.
Menghasilkan hormon :
• Tiroksin dan tri-iodotironin :
meningkatkan kecepatan
reaksi kimia dalam hampir
semua sel tubuh, jadi
meningkatkan tingkat
metabolisme tubuh secara
umum.
• Kalsitonin : memacu
pengendapan kalsium didalam
tulang sehingga menurunkan
konsentrasi dalam cairan
ekstraselular.
Kelenjar Paratiroid
• Terletak dibelakangkelenjar
tiroid. Menghasilkan
hormon Parathormon yang
berfungsi mengatur
konsentrasi kalsium dalam
cairan intraselular dengan
cara mengatur :
• Absorpsi kalsium dari usus.
• Ekskresi kalsium oleh ginjal.
• Pelepasan kalsium dari
tulang.
Kelenjar Adrenal
• Kelenjar adrenal terletak
di atas ginjal yang terdiri
atas dua bagian yaitu
medula dan korteks.
• Medula menghasilkan
epinefrin (adrenalin),
Adrenalin adalah contoh
hormon yang berada di
bawah kendali sistem
saraf.
• Korteks menghasilkan
hormon kortisol dan
aldosteron.
Kelenjar Pankreas (Pulau Langerhans)
• Terletak di pankreas (organ
pencernaan yang ada di
dalam perut). Menghasilkan
hormon :
• Insulin : memicu masuknya
glukosa ke dalam seluruh
sel tubuh, dimana cara ini
mengatur kecepatan
metabolisme dari hampir
semua karbohidrat.
• Glukagon : meningkatkan
sintesis dan pelepasan
glukosa dari hati masuk ke
sirkulasi cairan tubuh.
Gonad
• Kelenjar kelamin (kelenjar gonad) adalahkelenjar endokrin yang
memproduksi dan mengeluarkan steroid yangmengatur pembangunan
tubuh dan mengendalikan karakteristik seksual sekunder. Gonad adalah
organ yang memproduksi sel kelamin. Pada pria, gonadnya adalah
testes, dan pada wanita gonadnyaadalah ovarium.
Peran sistem endokrin
• Sistem endokrin mengeluarkan hormon yang
bekerja pada sel sasaran untuk melaksanakan
aktivitas homeostatik yang antara lain berupa,
– mengatur konsentrasi molekul nutrien, air, garam dan
elektrolit lain.
– Hormon juga berperan besar dalam mengontrol
pertumbuhan dan reproduksi serta dalam adaptasi
stress.
• Sistem endokrin, dalam kaitannya dengan sistem
saraf: mengontrol dan memadukan fungsi tubuh.
• Sistem endokrin dan saraf bekerjasama untuk
mengontrol sistem sirkulasi dan pencernaan.
• Fungsi mereka satu sama lain saling berhubungan,
namun dapat dibedakan dengan karakteristik
tertentu.
– Bila sistem endokrin umumnya bekerja melalui
hormon, maka sistem saraf bekerja melalui
neurotransmiter yang dihasilkan oleh ujung-ujung
saraf.
• Sistem endokrin umumnya mengatur aktivitas
yang lebih memerlukan durasi dibandingkan
kecepatan.
• Sebagian besar aktivitas ini ditujukan untuk
mempertahankan homeostasis.
• Kontribusi spesifik organ endokrin sentral
pada homeostasis adalah sebagai berikut :
• Unit hipotalamus-hipofisis anterior
mengeluarkan vasopresin, yang bekerja pada
ginjal selama pembentukkan urin untuk
membantu memepertahankan keseimbangan
H2O.
• Kelenjar pineal mengeluarkan melatonin, yang
membantu menyamakan irama sikadian tubuh
dengan siklus terang dan gelap lingkungan.
• Hormon membantu mempertahankan
konsentrasi nutrien di lingkungan internal
dengan mengarahkan reaksi-reaksi kimia yang
berperan dalam
– penyerapan,
– Penyimpanan, dan
– pengeluaran molekul-molekul oleh sel.
• Keseimbangan garam, penting untuk
mempertahankan volume CES dan tekanan
darah arteri yang sesuai, dicapai dengan
penyesuaian reabsorpsi garam oleh ginjal
selama pembentukan urin dibawah kontrol
hormon.
• Hormon bekerja pada berbagai sel sasaran
untuk mempertahankan konsentrasi kalsium
dan elektrolit lain dalam plasma.
Sistem endokrin & sistem saraf

• Sistem endokrin bekerja sama dengan sistem


saraf memproduksi hormon yang berfungsi untuk
mempertahankan homeostasis
• Banyak organ dan jaringan endokrin memiliki sel-
sel saraf khusus yang disebut sel neurosekresi.
• Pelepasan hormon dari kelenjar endokrin di
stimulasi oleh impuls saraf yang menjalar di
sepanjang serabut saraf dan langsung berakhir
pada sel kelenjar.
• Sistem saraf dan sistem endokrin saling
tumpang tindih dalam struktur dan fungsi.
• Rangsangan yang terintegrasi dari SSP melalui
neuron eferen, mempengaruhi pelepasan
banyak hormon.
• Grup tertentu pada neuron mensekresi
neurohormon, dan dua struktur endokrin yang
tergabung dalam anatomi otak:
– Kelenjar pineal dan
– kelenjar pituitari (hipofisis)
• Salah satu hubungan yang paling menarik
antara otak dan sistem endokrin adalah
pengaruh emosional pada sekresi hormon.
– Waktu periode menstruasi dapat diubah oleh
stres.
– Kondisi yang dikenal sebagai "gagal tumbuh" pada
bayi sering dapat dikaitkan dengan stres
lingkungan atau emosional yang
• ↑sekresi hormon hipofisis dan
• ↓produksi hormon lain.
Neurohormon
• Neurohormon (sinyal kimia) disekresikan ke
dalam darah oleh Neuron
• Sistem saraf manusia memproduksi tiga
kelompok utama neurohormon:
– katekolamin, dibuat dengan memodifikasi neuron di
medula adrenal,
– neurohormon hipotalamus, dikeluarkan dari hipofisis
posterior, dan
– neurohormon hipotalamus yang mengontrol
pelepasan hormon dari hipofisis anterior.
Kelenjar hipofisis
• Merupakan dua kelenjar yang saling menyatu
• Penelitian pertama dari fungsi kelenjar hipofisis
berasal dari Richard Lower, ia berteori bahwa:
– zat yang diproduksi di otak → ke kelenjar →
kemudian ke dalam darah.
– Lower tidak menyadari bahwa kelenjar hipofisis
sebenarnya adalah dua jenis jaringan embrional yang
berbeda yang bergabung selama perkembangan.
Hipofisis posterior
• Hipofisis posterior, atau neurohypophysis,
merupakan perpanjangan dari jaringan saraf
otak.
• Mensekresi neurohormon yang dibuat di
hipotalamus
• Merupakan tempat penyimpanan dan
pelepasan untuk dua neurohormon:
– Oksitosin, dan
– Vasopressin
• Neuron yang memproduksi oksitosin dan vasopressin
berkumpul bersama di daerah hipotalamus yang
dikenal sebagai paraventrikular dan inti supraoptik.
4. Ketika stimulus
mencapai
3. Setelah vesikel hipotalamus, sinyal
mencapai terminal listrik melewati
akson, mereka badan sel neuron di
2. vesikel disimpan, menunggu hipotalamus ke
diangkut ke pelepasan sinyal. ujung distal sel di
hipofisis hipofisis posterior
posterior melalui
akson.
1.
Neurohormon
dikemas dalam
vesikel
sekretorik,
Depolarisasi akson terminal
membuka saluran Ca2+ dan Ca2+
memasuki sel.

memicu eksositosis dan isi vesikel


dilepaskan ke dalam sirkulasi.

Setelah ke dalam darah,


neurohormon berjalan ke target
mereka.
Vasopresin
• Vasopresin, dikenal sebagai ADH (hormon
antidiuretik), bekerja pada ginjal untuk
mengatur keseimbangan air dalam tubuh.
Oksitosin
• Beberapa neuron melepaskan oksitosin sebagai
neurotransmitter atau neuromodulator ke
neuron lain di otak.
• Sejumlah percobaan menunjukkan oksitosin
berperan dalam perilaku sosial, seksual, dan
materrnal behaviors.
• Pada wanita, oksitosin dilepaskan dari hipofisis
posterior mengontrol ejeksi susu selama
menyusui dan kontraksi rahim selama persalinan.
Hipofisis anterior
• Hipofisis anterior adalah kelenjar endokrin
utama & sebenarnya, yang ada pada epitel
asal,
• Sering disebut adenohypophysis
{adeno=kelenjar, hipo=di bawah, phyein=
tumbuh}, dan hormonnya sekresi
adenohypophyseal.
• Mengeluarkan enam hormon fisiologis
signifikan:
– prolaktin (PRL),
– thyrotropin (TSH),
– adrenocorticotropin (ACTH),
– hormon pertumbuhan (GH),
– follicle-stimulating hormone (FSH),
– luteinizing hormone (LH)
• Semua sekresi hormon hipofisis anterior
dikendalikan oleh neurohormon hipotalamus.
• Semua hormon hipofisis anterior memiliki
kelenjar endokrin lain atau sel sebagai salah
satu target mereka kecuali prolaktin .
• Sebuah hormon yang mengontrol sekresi
hormon lain dikenal sebagai hormon trofik.
• Hormon trofik sering memiliki nama yang
diakhiri dengan akhiran -tropin, seperti pada
gonadotropin. Gonadotropin adalah hormon
yang trofik pada gonad.
Sistem Portal
• Sistem portal adalah daerah sirkulasi khusus
terdiri dari dua set kapiler yang dihubungkan
secara seri dengan satu set pembuluh darah
yang lebih besar.
• Ada tiga sistem Portal dalam tubuh: ginjal,
sistem pencernaan, dan di otak.
• Fungsi: menghantarkan hormon dari
hipotalamus ke hipofisis anterior
• Sinyal yang mengatur sekresi hormon hipofisis
anterior berasal dari otak dalam bentuk
neurohormon.
• Hipotalamus ini melepaskan hormon dan
menghambat hormon yang disekresikan ke dalam
sirkulasi di hipotalamus.
• Dari hipotalamus mereka langsung menuju ke
hipofisis melalui satu set khusus pembuluh darah
yang dikenal sebagai sistem portal hipotalamus-
hypophyseal
• Hormon yang disekresikan ke dalam sistem portal
memiliki keuntungan yang berbeda dari hormon yang
disekresi ke dalam sirkulasi umum karena,
– dengan sistem portal, sejumlah hormon yang jauh lebih
kecil dapat disekresikan untuk memperoleh tingkat respon
tertentu.
• Dosis hormon yang disekresikan ke dalam sirkulasi
umum, cepat diencerkan dengan total volume darah.
Dosis yang sama disekresi ke dalam volume darah kecil
yang mengalir melalui sistem portal masih
terkonsentrasi dan langsung menuju target .
• Dengan cara ini, sejumlah kecil neuron neurosecretory
di hipotalamus dapat secara efektif mengontrol
hipofisis anterior.
• Hormon hipofisis anterior mengontrol begitu
banyak fungsi penting sehingga hipofisis
sering disebut "master gland of body".
• Secara umum, kita dapat mengatakan bahwa
hormon hipofisis anterior mengontrol
metabolisme, pertumbuhan, dan reproduksi,
semua proses yang sangat kompleks.
• Salah satu hormon hipofisis anterior,
– prolaktin (PRL),
mengontrol produksi susu di payudara wanita,
Dalam kedua jenis kelamin, prolaktin memainkan
peran dalam regulasi sistem kekebalan tubuh.
– Hormon pertumbuhan (GH, juga disebut
somatotropin)
mempengaruhi metabolisme banyak jaringan, dan
menstimulasi produksi hormon oleh hati
• Prolaktin dan GH adalah dua hormon hipofisis
anterior yang sekresinya dikendalikan dengan
melepaskan dan menghambat hormon.
• Follicle Stimulating Hormone & Luteinizing Hormone
yang dikenal secara kolektif sebagai gonadotropin, efek
mereka pada ovarium, namun kedua hormon trofik
pada testis juga.
• Thyroid-stimulating hormone (TSH atau thyrotropin)
mengontrol sintesis hormon dan sekresi pada kelenjar
tiroid.
• Hormon adrenocorticotrophic (ACTH atau
adrenocorticotropin)
bekerja pada sel-sel tertentu dari korteks adrenal untuk
mengontrol sintesis dan pelepasan hormon kortisol
steroid.
Hormon
• Hormon  Pembawa pesan kimiawi jarak
jauh yg dikeluarkan oleh kelenjar endokrin
tanpa duktus ke dalam darah, yg mengangkut
hormon ke sasaran spesifik tempat hormon
mengontrol fungsi tertentu dengan mengubah
aktivitas protein di dalam sel sasaran
Klasifikasi Hormon

Peptida Amin Steroid

Katekolamin Tiroid
Hormon Peptida
• Adalah rantai-rantai asam amino dengan panjang yg
beragam.

• Water-soluble (larut dalam air), tidak menembus


membran sel, menggunakan reseptor membran.

• Kisaran ukuran : peptida kecil  protein kecil

• Hormon-hormon hipotalamus, hormon-hormon


hipofisis, PTH, insulin, glukagon, growth factors.
Mekanisme kerja Hormon Peptida
• Hormon peptida akan menempel pada
reseptornya yang ada pada dinding sel target.
• Gabungan antara hormon dan reseptor ini akan
mengaktipkan enzim adenylate cyclase pada
membran untuk merubah ATP menjadi c-AMP.
• Selanjutnya c-AMP bergabung dengan enzim
protein kinase yang tidak aktip sehingga menjadi
enzim protein kinase yang aktip sebagai enzim
phosporilase
Hormon Amina
• Water-soluble, tidak menembus membran sel,
reseptor membran, second messenger system
– (katekolamin: epinefrin dan norepinefrin)
• Water-insoluble, terikat pada protein plasma,
menembus membran sel, reseptor sitoplasmik
– (tri-iodotironin/T3 dan tetra-iodotironin/
T4/tiroksin)
• Derivat asam amino tirosin
Katekolamin

• Dihasilkan oleh medula adrenal


• Berasal dari asam amino tirosin
Biosintesis Katekolamin

Fenilalanin Tirosin Dopa


(dihidroksifenilalanin)

Epinefrin Norepinefrin Dopamin

feniletanolamin-N-
metiltransferase
(PNMT)
Hormon Tiroid

• Adalah suatu turunan tirosin beriodium.


• Hanya diproduksi oleh kelenjar tiroid.
Biosintesis Hormon Tiroid
Tirosin
Iodin

Mono-iodotirosin (MIT) Di-iodotirosin (DIT)

Tri-iodotironin (T3) Tetra-iodotironin (T4)


(Tiroksin)
Hormon Steroid
• Adalah lemak netral yg berasal dari kolesterol.
• Fat-soluble, menembus membran sel, reseptor inti
sel.
• Water-insoluble, terikat pada protein plasma
(persentase kecil dalam bentuk bebas)
• Derivat kolesterol
• Sintesis di korteks adrenal, gonad (dan plasenta)
– Glukokortikoid (terutama kortisol),
– Mineralokortikoid (terutama aldosteron),
– Hormon seks (estrogen, progesteron, testosteron),
Kalsitriol.
Mekanisme Kerja Hormon Steroid
• Hormon steroid akan berikatan dengan reseptornya
yang ada di dalam sitoplasma membentuk komplek
reseptor steroid.
• Komplek reseptor steroid ini bergerak menuju inti sel
(nukleus) dimana akan berikatan dengan spesifik protein
kromoson (khromatin) untuk memulai sintesis protein.
• Gabungan antara komplek reseptor steroid dengan
khromatin menghasilkan perubahan pada rantai DNA
dan menghasilkan m-RNA (m=messenger).
• Selanjutnya, m-RNA menyampaikan kode untuk sintesis
spesifik protein sesuai dengan tipe selnya.
• Setiap hormon steroid mempunyai reseptornya sendiri
Pengendalian sekresi hormon
1. Umpan balik negatif
2. Umpan balik positif
3. Refleks neuro endokrin
4. Irama diurnal (sirkadian)
Umpan balik negatif
• Hormon memiliki efek umpan balik negatif
untuk mencegah sekresi hormon berlebih atau
aktivitas yang berlebihan di target jaringan.

Untuk mempertahankan homeostasis


contoh..
mempertahankan tingkat glukosa darah
normal dan mencegah perubahan ekstrim.
umpan balik positif
• Efek hormon memberitahu kelenjar hormon
untuk membuat hormon bahkan lebih.

contoh...
hormon oksitosin dalam menstimulasi
kontraksi uterus/rahim pada saat proses
kelahiran yang sudah waktunya
• Hormon ini dibuat oleh kelenjar hipofisis .
• Ketika bayi mulai keluar, ada peregangkan otot di leher
rahim
• Saraf di leher rahim mengirim pesan ke hipofisis. Pesan
ini membuat hipofisis menghasilkan oksitosin lebih.
• Oksitosin kemudian menyebabkan otot-otot rahim
berkontraksi, atau menekan.
• Hal ini menyebabkan peregangan di leher rahim.
• Peregangan ini memberitahu hipofisis untuk membuat
oksitosin bahkan lebih. Jadi tingkat oksitosin terus
meningkat sampai kontraksi rahim/ meremas sampai
bayi keluar.
Refleks neuro endokrin
• Tujuan : menghasilkan peningkatan secara mendadak
sekresi hormon sebagai respons terhadap
rangsangan tertentu,
• sering berupa rangsangan eksternal terhadap tubuh.
• Pada beberapa hal, input saraf ke kelenjar endokrin
menjadi satu-satunya faktor yang mengatur sekresi
hormon
Irama diurnal (sirkadian)
• Irama endokrin yang paling umum adalah irama diurnal atau
sirkadian yang ditandai dengan osilasi berulang kadar hormon yang
sangat teratur dan bersiklus 1x24 jam.
• Irama ini disebabkan oleh osilator endogen yang serupa dengan
neuron pemacu pernapasan di batang otak yang mengontrol
pergerakan nafas berirama, kecuali bahwa osilator ini bersiklus
jauh lebih lama.
• Selain itu, tidak seperti irama napas, irama endokrin terkunci atau
sinkron dengan fenomena ritmis sinyal eksternal misalnya siklus
terang gelap.
Fisiologi Sistem Reproduksi
Pertanyaan
• Sebutkan organ-organ reproduksi pada laki-laki dan
perempuan dan jelaskan secara singkat fungsi organ-
organ tesebut
• Sebutkan kelenjar-kelenjar endokrin yang berperan
dalam reproduksi laki-laki dan perempuan dan jelaskan
secara singkat hormon yang disekresi dan fungsinya
• Sebutkan fase-fase pada siklus menstruasi dan jelaskan
dengan skema rentang waktu terjadinya fase-fase
tersebut
• Jelaskan secara singkat proses terjadinya fertilisasi dan
implantasi
Organ-organ reproduksi
pada laki-laki
 Penis, berfungsi sebagai alat senggama dan sebagai saluran untuk
menyalurkan sperma dan air seni.
 Glans, adalah bagian depan atau kepala penis. Glans banyak mengandung
pembuluh darah dan syaraf.
 Foreskin (preputium), adalah kulit yang menutupi bagian glans.
 Uretra (saluran kencing), yaitu saluran untuk mengeluarkan air seni dan air
mani.
 Kelenjar Prostat, yaitu kelenjar yang menghasilkan cairan yang berisi zat
makanan untuk menghidupi sperma.
 Vesikula Seminalis, fungsinya adalah menampung sperma yang telah
matang.
 Vas Deferens (saluran sperma), yaitu saluran yang
menyalurkan sperma dari testis menuju vesicle seminalis.
Panjang Vas deferens sekitar 45 cm dengan diameter
sekitar 2,5 mm.
 Epidydimis, yaitu saluran-saluran yang lebih besar dan
berkelok-kelok yang membentuk bangunan seperti topi.
Sperma yang dihasilkan oleh oleh saluran-saluran testis
yang kecil akan berkumpul di Epidydimis.
 Testis (pelir), berjumlah dua buah untuk mereproduksi
sperma setiap hari dengan bantuan
testosteron. Testis berada di luar tubuh karena
pertumbuhan sperma membutuhkan suhu yang lebih
rendah daripada suhu tubuh.
 Scrotum, adalah kantung kulit yang melindungi testis, berwarna gelap dan
berlipat-lipat. Scrotum adalah tempat
bergantungnya testis. Scrotum mengandung otot-otot polos yang
mengatur jarak jauh testis ke dinding perut dengan maksud mengatur
suhu testis agar relatif tetap.
 Tulang kemaluan, terletak di depan kandung kencing.
Organ reproduksi wanita (dalam)

• Organ reproduksi bagian dalam terdiri dari ovarium dan


saluran reproduksi
– Ovarium
Ovarium (indung telur) berjumlah sepasang, berbentuk oval
dengan panjang 3 – 4 cm. Ovarium berada di dalam rongga
badan, di daerah pinggang. Umumnya setiap ovarium
menghasilkan ovum setiap 28 hari. Ovum yang dihasilkan
ovarium akan bergerak ke saluran reproduksi.
Fungsi ovarium yakni menghasilkan ovum (sel telur) serta
hormon estrogen dan progesteron
• Saluran reproduksi
– Oviduk
Oviduk (tuba falopii) atau saluran telur berjumlah sepasang (di kanan dan kiri
ovarium) dengan panjang sekitar 10 cm. Bagian pangkal oviduk berbentuk
corong yang disebut infundibulum. Pada infundibulum terdapat jumbai-
jumbai (fimbrae). Fimbrae berfungsi menangkap ovum yang dilepaskan oleh
ovarium. Ovum yang ditangkap oleh infundibulum akan masuk ke oviduk.
Oviduk berfungsi untuk menyalurkan ovum dari ovarium menuju uterus.
– Uterus
Uterus (kantung peranakan) atau rahim merupakan rongga pertemuan oviduk
kanan dan kiri yang berbentuk seperti buah pir dan bagian bawahnya
mengecil yang disebut serviks (leher rahim). Uterus manusia berfungsi sebagai
tempat perkembangan zigot apabila terjadi fertilisasi. Uterus terdiri dari
dinding berupa lapisan jaringan yang tersusun dari beberapa lapis otot polos
dan lapisan endometrium. Lapisan endometrium (dinding rahim) tersusun dari
sel-sel epitel dan membatasi uterus. Lapisan endometrium menghasilkan
banyak lendir dan pembuluh darah. Lapisan endometrium akan menebal pada
saat ovulasi (pelepasan ovum dari ovarium) dan akan meluruh pada saat
menstruasi.
– Leher Rahim (Serviks)
Leher rahim (serviks) adalah bagian dari Anatomi Organ
Reproduksi Wanita yang terletak di bagian bawah rahim.
Fungsi Leher Rahim (Serviks) adalah membantu perjalanan
sperma dari vagina menuju ke rahim. Leher rahim juga
mengeluarkan beberapa jenis lendir dengan tugas yang
berbeda-beda dan berada di daerah yang berbeda-beda
– Vagina
Vagina merupakan saluran akhir dari saluran reproduksi bagian
dalam pada wanita. Vagina bermuara pada vulva. Vagina
memiliki dinding yang berlipat-lipat dengan bagian terluar
berupa selaput berlendir, bagian tengah berupa lapisan otot
dan bagian terdalam berupa jaringan ikat berserat. Selaput
berlendir (membran mukosa) menghasilkan lendir pada saat
terjadi rangsangan seksual. Lendir tersebut dihasilkan oleh
kelenjar Bartholin. Jaringan otot dan jaringan ikat berserat
bersifat elastis yang berperan untuk melebarkan uterus saat
janin akan dilahirkan dan akan kembali ke kondisi semula
setelah janin dikeluarkan.
Organ reproduksi wanita (luar)
• Organ reproduksi luar
Organ reproduksi luar pada wanita berupa vulva. Vulva merupakan
celah paling luar dari organ kelamin wanita. Vulva terdiri dari mons
pubis. Mons pubis (mons veneris) merupakan daerah atas dan
terluar dari vulva yang banyak menandung jaringan lemak. Pada
masa pubertas daerah ini mulai ditumbuhi oleh rambut. Di bawah
mons pubis terdapat lipatan labium mayor (bibir besar) yang
berjumlah sepasang. Di dalam labium mayor terdapat lipatan
labium minor (bibir kecil) yang juga berjumlah sepasang. Labium
mayor dan labium minor berfungsi untuk melindungi vagina.
Gabungan labium mayor dan labium minor pada bagian atas labium
membentuk tonjolan kecil yang disebut klitoris.
Klitoris merupakan organ erektil yang dapat
disamakan dengan penis pada pria. Meskipun
klitoris secara struktural tidak sama persis dengan
penis, namun klitoris juga mengandung korpus
kavernosa. Pada klitoris terdapat banyak pembuluh
darah dan ujung-ujung saraf perasa.
Pada vulva bermuara dua saluran, yaitu saluran
uretra (saluran kencing) dan saluran kelamin
(vagina). Pada daerah dekat saluran ujung vagina
terdapat himen atau selaput dara. Himen
merupakan selaput mukosa yang banyak
mengandung pembuluh darah.
Kelenjar Endokrin
Reproduksi
Laki-Laki
Kelenjar Hormon Fungsi

Testis Anti Mellerian Menghilangkan duktus mulleri (Wanita:


berkembang jd tuba fallopi, uterus, serviks, ½
bagian atasvagina, Pria : beregresi)
Testosteron Mengkonversi duktus wolfii menjadi vesikula
seminalis, vas deferens dan epididimis.
DHT Diferensiasi genitalia eksterna dan kelenjar
(Dihidrotesteoster prostat
on)
Hipofisis FSH -Merangsang sintesis sel sertoli untuk
Anterior menghasilkan molekul parakrin yang
dibutuhkan untuk mitosis spermatogonia dan
spermatogenesis
-Memicu dan mempertahankan gametogenesis
Kelenjar Hormon Fungsi
Hipofisis LH Merangsang sel-sel leydig untuk menghasilkan
Anterior testosteron

Vesikula Prostaglandin Mempengaruhi motilitas transpor sperma di


Seminalis saluran reproduksi laki-laki dan perempuan
Sel-sel sertoli estrogen Pematangan sperma
Kelenjar Endokrin Dalam
Reproduksi Perempuan
Kelenjar Hormon Fungsi Utama
Endokrin
Hipotalamus GnRH dan LHRH Mengontrol pengeluaran hormon-
hormon hipofisis anterior
Hipofisis Folicle-stimulating Mendorong pertumbuhan dan
Anterior hormone (FSH) perkembangan folikel, sekresi
estrogen
Luteinizing hormone Merangsang ovulasi, perkembangan
(LH) (interstitial cell- korpus luteum
stimulating hormone,
ICSH)
Prolaktin Mendorong perkembangan
payudara, merangsang sekresi susu
Kelenjar Endokrin Hormon Fungsi Utama
Korteks Adrenal Androgen Berperan dalam lonjakan
Zona fasikulata dan (dehidroepiandrost pertumbuhan masa pubrtas dan
retikularis eron) dorongan seks pada wanita

Ovarium Estrogen 1. Pematangan organ reproduksi.


2. Perkembangan seks
sekunder/feminisasi.
3. Perkembanagan saluran
kelenjar susu
4. Regulasi siklus menstruasi.
5. Regenerasi endometrium
setelah menstruasi.
6. Cairan serviks encer.
Kelenjar Endokrin Hormon Fungsi Utama
7. Mempertahankan endometrium
selama hamil dan laktasi.
8. Efek metabolik: tulang, hati,
pembuluh darah, SSP, ginjal, kulit.
9. Masa reproduktif: mempertahankan
kepadatan tulang.
Progesteron 1. Mempertahankan endometrium
2. Cegah kontraksi miometrium.
3. Penebalan miometrium pada
kehamilan.
4. Cegah laktasi sampai
melahirkan.
Fase-Fase pada
Siklus Menstruasi
Siklus haid
Siklus haid dapat diterangkan dengan
memperhatikan berbagai perubahan yang
terjadi:
• Folikel ovarium
• Siklus ovarium
• Siklus uterin
Fase Ovarium Sebelum rangsangan Fase folikular awal Fase folikular lanjut Fase luteal Fase pasca-luteal
FSH
Tahap folikel Folikel primer Folikel sekunder Folikel tersier Korpus luteum Korpus albikans

Ovum Oosit primer Oosit primer Menjadi oosit Tidak ada Tidak ada
sekunder dan
pembelahan berhenti

Zona pelusida Minimal Bertambah lebar Ada Tidak ada Tidak ada

Sel granulosa Lapisan tunggal 2-6 lapis sel 3-4 lapis sel Berubah menjadi sel- Sel-sel berdegenerasi
sel luteal
Antrum Tidak ada Tidak ada Berkembang dalam Berisi sel-sel yang Tidak ada
lapisan granulosa dan bermigrasi
berisi cairan;
diameter menjadi 15-
20 mm

Lamina basalis Memisahkan Ada Ada Menghilang Tidak ada


granulosa dan teka
Teka Lapisan sel tunggal Lapisan sel tunggal Lapisan dalam: Berubah menjadi sel- Sel-sel berdegenerasi
plus pembuluh darah sekretorius dan sel luteal
pembuluh darah kecil
Lapisan luar: jaringan
penghubun, sel-sel
otot polos,
pembuluh-pembuluh
darah besar.

*Zona pelusida merupakan lapisan glikoprotein yang melindungi ovum


Siklus Ovarium
1. Fase folikular:
– Periode pertumbuhan folikel dalam ovarium
2. Ovulasi:
– Setelah satu atau lebih folikel matang, ovarium
melepaskan oosit ketika ovulasi
3. Fase luteal:
– Fase perubahan folikel yang pecah menjadi korpus
luteum
– Korpus luteum menyekresi hormon untuk
persiapan kehamilan
– Bila tidak terjadi kehamilan, korpus luteum
berhenti berfungsi setelah 2 minggu
– Siklus ovarium dimulai kembali
Siklus Uterin
1. Haid
Awal fase folikular dalam ovarium bertepatan
dengan perdarahan haid dari uterus
2. Fase proliferasi
Bagian akhir fase folikular ovarium, endometrium
menambah suatu lapisan baru untuk mengantisipasi
kehamilan
3. Fase sekretorik
Setelah ovulasi, hormon dari korpus luteum
mengubah endometrium yang menebal menjadi
struktur sekretorik.
Ini berarti fase luteal siklus ovarium bersamaan
dengan fase sekretorik siklus uterin. Bila tidak terjadi
kehamilan, lapisan superfisial endometrium terlepas
saat haid dan siklus uterin berulang kembali
Rentang waktu terjadinya
fase-fase menstruasi
Proses fertilisasi
• Sperma harus mengalami kapasitasi sebelum
dapat membuahi sel telur
• Fertilisasi umunya terjadi di dalam tuba falopi
bagian distal
• Sel telur hanya dapat dibuahi dalam waktu 12-
24 jam setelah ovulasi. Sperma dalam saluran
reproduksi wanita dapat tetap hidup selama
5-6 hari.
• Untuk membuahi sel telur, sperma harus melewati :
– Korona radiata
– Zona pellusida
• Untuk melewati sawar-sawar tersebut sperma akan
mengeluarkan enzim akrosomal => reaksi akrosomal
• Sperma pertama yang mencapai sel telur akan
menyatukan membrannya dengan membran sel telur
kemudian membuka dan inti sel sperma akan
menyelam masuk kedalam sel telur
• Penyatuan membran ini memberi sinyal kepada sel telur
untuk melanjutkan meiosis yang kedua.
• 23 kromosom sperma dan 23 kromosom sel telur
bergabung membentuk zigot
• Penyatuan membran sperma dan oosit memicu reaksi
kimia => reaksi kortikal
• Reaksi ini mencegah terjadinya polispermi
• Setelah menjadi zigot mitosis dimulai zambil zigot bergerak
menuju uterus, tempat zigot akan menetap selama gestasi
Proses Implantasi
• Embrio yang sedang membelah memerlukan
waktu 4-5 hari untuk sampai ke uterus.
• Pada saat embrio mencapai uterus, embrio telah
berbentuk blastokista.
• Sebagian sel bagian luar blastokista akan menjadi
korion (suatu membran ekstraembrionik yang
akan membungkus embrio dan menjadi plasenta.
• Membran ekstraembrionik mencakup :
– Amnion
– Alantois
– Kantong yolk
• Implantasi blastokista ke dalam uterus berlangsung selama
7 hari
• Ketika blastokista terus membelah dan menjadi embrio sel-
sel yang akan menjadi plasenta membentuk villi korionik.
Villi ini akan menembus kedalam endometrium ibu.
• Enzim dari villi merusak dinding pembuluh darah ibu
sehingga villi tersebut akan terbenam dalam genangan
darah ibu.
• Darah embrio dan darah ibu tidak bercampur tetapi zat
makanan, gas-gas, dan air bertukar melalui membran villi