Anda di halaman 1dari 77

PERATURAN PENGENDALIAN

PENCEMARAN UDARA
SUMBER TIDAK BERGERAK

Sigit Sudaryanto
Pencemaran Udara

Pencemaran Udara adalah masuknya atau


dimasukkannya zat, energi, dan/atau
komponen lain ke dalam udara ambien oleh
kegiatan manusia sehingga kualitas udara
ambien turun sampai ke tingkat tertentu yang
menyebabkan udara ambien tidak dapat
berfungsi sesuai dengan peruntukkannya

Pengendalian Pencemaran Udara


Pengendalian pencemaran udara adalah upaya
pencegahan dan/atau penanggulangan
pencemaran udara serta pemulihannya.
Emisi
Emisi adalah zat, energi dan/atau komponen
lain yang dihasilkan dari suatu kegiatan yang
masuk dan/atau dimasukkannya kedalam
udara ambien yang mempunyai dan/atau
tidak mempunyai potensi sebagai unsur
pencemar.

Udara Ambien
adalah udara bebas dipermukaan bumi pada
lapisan troposfer yang berada di dalam
wilayah yurisdiksi Republik Indonesia yang
dibutuhkan dan mempengerahui kesehatan
manusia, mahluk hidup dan unsur
lingkungan hidup lainnya
Sumber Pencemaran Udara
• Sumber bergerak: sumber emisi (gas buang)
yang bergerak atau tidak tetap pada suatu
tempat
> Kendaraan bermotor
> Kereta api
> Kapal laut
> Pesawat terbang
• Sumber tidak bergerak: sumber emisi (gas
buang) yang tetap pada suatu tempat
> Industri
> Pembangkit tenaga (listrik, panas, dll)
> Rumah tangga
> Kebakaran hutan dan lahan
Sumber Pencemaran Udara

• Sumber gangguan: sumber pencemar udara


yang menggunakan media udara untuk
penyebarannya, yang berasal dari sumber
bergerak atau sumber tidak bergerak.
> kebisingan
> getaran
> kebauan
> gangguan lainnya
KONTRIBUSI PENCEMARAN UDARA DI KOTA BESAR SEKITAR 70% - 80% BERASAL DARI
SEKTOR TRANSPORTASI
Pencemaran udara dari kegiatan Industri
PENGAWASAN PENAATAN

Kegiatan yang dilaksanakan secara langsung


atau tidak langsung oleh PPLH dan PPLH
Daerah untuk mengetahui tingkat ketaatan
Penanggung Jawab Usuha dan atau Kegiatan
terhadap ketentuan PUUan
pengendalian pencemaran dan kerusakan LH
Kepmen LH 07/2001, Pasal 1 angka 1
TUJUAN DAN SASARAN

Tujuan pengawasan lingkungan hidup adalah


untuk memantau, mengevaluasi dan
menetapkan status ketaatan penanggung
jawab usaha dan atau kegiatan terhadap:

1. Kewajiban yang tercantum dalam peraturan


perundang-undangan di bidan
pengendalian pencemaran dan atau
kerusakan lingkungan hidup.
Kewajiban untuk melakukan pengelolaan
lingkungan dan pemantauan
lingkungan sebagaimana tercantum
dalam dokumen Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan (AMDAL) atau
Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL)
dan Upaya Pemantauan Lingkungan
(UPL) atau persyaratan lingkungan
yang tercantum dalam izin yang terkait.
TUJUAN DAN SASARAN

• Sasaran pengawasan lingkungan hidup


adalah untuk mendapatkan data dan
informasi secara umum berupa fakta-fakta
yang menggambarkan kinerja atau status
ketaatan suatu usaha atau kegiatan terhadap
peraturan perundang-undangan di bidang
pengendalian pencemaran lingkungan dan
atau kerusakan lingkungan, serta perizinan
yang terkait.

• Ruang lingkup pengawasan lingkungan


hidup mencakup aspek perundang-
undangan, aspek perizinan dan aspek
kesiagaan dan tanggap darurat.
KELOMPOK SASARAN (TARGET GROUP)

Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1999,


Pasal 44
(1) Menteri melakukan pengawasan terhadap penaatan
penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang
dapat menyebabkan terjadinya pencemaran udara”,
(2) Untuk melakukan pengawasan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), Menteri dapat menetapkan
pejabat yang berwenang melakukan pengawasan”.

Kelompok sasaran (target group) pengawasan penataan ,


atau sering diistilahkan dengan “target operasi”
(disingkat “TO”), adalah penanggung jawab dari
suatu usaha dan atau kegiatan.
TOLOK UKUR PENAATAN

Penentuan tolok ukur ketaatan mengacu


kepada ketentuan peraturan perundang-
undangan mengenai pengendalian
pencemaran.

Kata Kunci:
Larang; wajib; syarat; izin dan/atau sanksi
yang berlaku bagi penanggung jawab usaha
dan/atau kegiatan.
Peraturan Perundangan
Pengendalian Pencemaran Udara
1. Peraturan Pemerintah Nomor 41 tahun 1999
tentang Pengendalian Pencemaran Udara.
2. Keputusan Menteri Negara LH No:KEP-
13/MENLH/1995 tentang Baku Mutu Emisi
Sumber Tidak Bergerak.
3. Peraturan Menteri Negara Lingkungan
Hidup Nomor 05 Tahun 2006 Tentang
Ambang Batas Emisi Gas Buang
Kendaraan Bermotor Lama
4. Keputusan Kepala BAPEDAL No.
205/1996 tentang Pedoman Teknis
Pengendalian Pencemaran Udara
Sumber Tidak Bergerak
5. Keputusan Menteri Negara LH No:KEP-
48/MENLH/11/1996 tentang Baku
Tingkat Kebisingan
6. Keputusan Menteri Negara LH No:KEP-
49/MENLH/11/1996 tentang Baku
Tingkat Getaran
7. Keputusan Menteri Negara LH NO: KEP-
50/MENLH/11/1996 tentang Baku
Tingkat Kebauan.
8. Keputusan Menteri Negara LH
No.129/2003 tentang Baku Mutu Emisi
Bagi Usaha dan/atau Kegiatan Minyak
dan gas Bumi. (diperbaharui)
10. Keputusan Menteri Negara LH No.
141/2003 tentang Ambang Batas Emisi
Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe
baru Dan Kendaraan Bermotor Yang
Sedang Diproduksi
11. Keputusan Menteri Negara LH
No.133/2004 tentang Baku Mutu Emisi
Bagi Usaha dan/atau Kegiatan Industri
Pupuk.
12. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup
Nomor 18 Tahun 2008 Tentang Baku Mutu
Emisi Sumber Tidak Bergerak Bagi Usaha
dan/atau Kegiatan Industri Keramik
13. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup
Nomor 19 Tahun 2008 Tentang Baku Mutu
Emisi Sumber Tidak Bergerak Bagi Usaha
dan/atau Kegiatan Industri Carbon Black
14. Peraturan Menteri Negara Lingkungan
Hidup Nomor 21 Tahun 2008 Tentang Baku
Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak Bagi
Usaha dan/atau Kegiatan Pembangkit
Tenaga Listrik Termal
15. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup
Nomor 13 Tahun 2009 Tentang Baku Mutu
Emisi Sumber Tidak Bergerak Bagi Usaha
dan/atau Kegiatan Minyak dan Gas Bumi
16. Peraturan Menteri Negara Lingkungan
Hidup Nomor 04 Tahun 2009 Tentang Ambang
Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor
Tipe Baru
17. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup
Nomor 07 Tahun 2009 Tentang Ambang Batas
Kebisingan Kendaraan Bermotor Tipe Baru
Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1999
Tentang Pengendalian Pencemaran Udara
Kewajiban Pemerintah
• Instansi yang bertanggung jawab di bidang
pengendalian dampak lingkungan (saat ini
MenLH) menetapkan:

– Baku mutu udara ambien nasional


ditetapkan sebagai batas maksimum
mutu udara ambien untuk mencegah
terjadinya pencemaran udara,
sebagaimana terlampir dalam Peraturan
Pemerintah ini. Pasal 4 ayat (1)
– Kepala instansi yang bertanggung jawab
menetapkan pedoman teknis penetapan
baku udara ambien daerah. Pasal 4 ayat
(5)
– Kepala instansi yang bertanggung jawab
menetapkan baku mutu emisi sumber tidak
bergerak dan ambang batas emisi gas buang
kendaraan bermotor tipe baru dan kendaraan
bermotor lama. Pasal 8 ayat (1)
– Kepala instansi yang bertanggung jawab
menetapkan pedoman teknis inventarisasi dan
pedoman teknis penetapan status mutu udara
ambien. Pasal 6 ayat (4)
– Kepala instansi yang bertanggung jawab
menetapkan pedoman teknis pengendalian
pencemaran udara sumber tidak bergerak dan
sumber bergerak. Pasal 9 ayat (2)
– Kepala instansi yang bertanggung jawab
menetapkan baku tingkat gangguan sumber
tidak bergerak dan ambang batas kebisingan
kendaraan bermotor. Pasal 10 ayat (1)
– Kepala instansi yang bertanggung jawab
menetapkan pedoman teknis pengendalian
pencemaran udara sumber gangguan dari sumber
tidak bergerak dan kebisingan dari sumber
bergerak. Pasal 11 ayat (2)
– Kepala instansi yang bertanggung jawab
menetapkan Indeks Standar Pencemar Udara
(ISPU). Pasal 12
– Penyusunan dan pelaksanaan kebijakan teknis
pengendalian pencemaran udara secara nasional
ditetapkan oleh Kepala instansi yang bertanggung
jawab. Pasal 17 ayat (1)
Kewajiban Daerah
• Gubernur menetapkan baku mutu udara
ambien daerah sebagaimana pada ayat (1)
berdasarkan baku mutu ambien nasional.
Pasal 5 ayat (2)

• Instansi yang bertanggung jawab di bidang


pengendalian dampak lingkungan daerah
melakukan kegiatan inventarisasi dan/atau
penelitian sebagaimana dimaksud pada
ayat (1). Pasal 6 ayat (2)

• Gubernur menetapkan status mutu udara


ambien daerah berdasarkan hasil
inventarisasi sebagaimana dimaksud pada
ayat (2). Pasal 6 ayat (3)
• Apabila hasil inventarisasi dan/atau
penelitian sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 6 ayat (2) menunjukkan status mutu
udara ambien daerah berada diatas baku
mutu udara ambien nasional, Gubernur
menetapkan dan menyatakan status mutu
udara ambien daerah yang bersangkutan
sebagai udara tercemar. Pasal 7 ayat (1)

• Pelaksanaan operasional pengendalian


pencemaran udara di daerah dilakukan oleh
Bupati/Walikota. Pasal 18 ayat (1)

• Pelaksanaan koordinasi operasional


pengendalian pencemaran udara di daerah
dilakukan oleh Gubernur. Pasal 18 ayat (2)
Kewajiban Penanggung Jawab Usaha dan/atau
Kegiatan
• Setiap penanggung jawab usaha dan/atau
kegiatan dari sumber tidak bergerak yang
mengeluarkan emisi wajib menaati ketentuan
baku mutu udara ambien, baku mutu emisi,
dan baku tingkat gangguan. Pasal 30 ayat (1)

• Setiap penanggung jawab usaha dan/atau


kegiatan dari sumber tidak bergerak yang
mengeluarkan emisi wajib menaati ketentuan
persyaratan teknis sebagaimana dimaksud
Pasal 9 ayat (2). Pasal 30 ayat (2)
Pasal 9 ayat (2): Kepala instansi yang bertanggung
jawab menetapkan pedoman teknis
pengendalian pencemaran udara sumber tidak
bergerak dan sumber bergerak.
• Setiap orang yang melakukan usaha
dan/atau kegiatan yang mengeluarkan
emisi dan/atau baku tingkat gangguan ke
udara ambien wajib: Pasal 21
a. menaati baku mutu udara ambien, baku
mutu emisi, dan baku tingkat gangguan
yang ditetapkan untuk usaha dan/atau
kegiatan yang dilakukannya.
b.melakukan pencegahan dan / atau
penanggulangan pencemaran udara yang
diakibatkan oleh usaha dan/atau kegiatan
yang dilakukannya.
c. memberikan informasi yang benar dan
akurat kepada masyarakat dalam rangka
upaya pengendalian pencemaran udara
dalam lingkup usaha dan / atau
kegiatannya.
• Setiap orang yang melakukan usaha
dan/atau kegiatan sumber tidak bergerak
yang mengeluarkan emisi dan/atau
gangguan wajib memenuhi persyaratan mutu
emisi dan/atau gangguan yang ditetapkan
dalam izin melakukan usaha dan/atau
kegiatan. Pasal 22 ayat (1).

• Setiap penanggung jawab usaha dan/atau


kegiatan dari sumber tidak bergerak yang
mengeluarkan gangguan wajib menaati
ketentuan persyaratan teknis sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2). Pasal 39
ayat (2).
Kewajiban Penanggung Jawab Usaha dan/atau
Kegiatan

• Setiap penanggung jawab usaha dan/atau


kegiatan wajib:
a. mengizinkan pengawas memasuki
lingkungan kerjanya dan membantu
terlaksananya tugas pengawasan tersebut.

b. memberikan keterangan dengan benar


baik secara lisan maupun tertulis apabila hal
itu diminta pengawas.

c. memberikan dokumen dan/atau data yang


diperlukan oleh pengawas.
d. mengizin pengawas untuk melakukan
pengambilan contoh udara emisi dan/atau
contoh udara ambien dan/atau lainnya yang
diperlukan pengawas dan
e. mengizinkan pengawas untuk melaukan
pengambilan gambar dan/atau melakukan
pemotretan di lokasi kerjanya.
f. Setiap orang atau penanggung jawab usaha
dan/atau kegiatan wajib menyampaikan laporan
hasil pemantauan pengendalian pencemaran
udara yang telah dilakukan kepada instansi
yang bertanggung jawab di bidang pengendalian
dampak lingkungan, intansi teknis dan instansi
lain yang terkait.
KEPMEN LH NO. 13 TAHUN 1995 tentang Baku Mutu
Emisi Sumber Tidak Bergerak

Pasal 2
(1) Baku mutu emisi sumber tidak bergerak untuk
jenis kegiatan :
a. Industri besi dan baja sebagaimana tersebut
dalam Lampiran IA dan Lampiran IB;
b. Industri pulp and paper sebagaimana tersebut
dalam Lampiran IIA dan Lampiran IIB;
c. Pembangkit listrik tenaga uap berbahan bakar
batubara sebagaimana tersebut dalam Lampiran
IIIA dan Lampiran IIIB
d. Industri semen sebagaimana tersebut dalam
Lampiran IVA dan Lampiran IVB
Pasal 3
(2) Selama baku mutu emisi sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) belum
ditetapkan, maka jenis kegiatan di luar
jenis kegiatan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 2 ayat (1) berlaku baku
mutu emisi sebagaimana dimaksud
dalam Lampiran V Keputusan ini.
Pasal 5
(1) Apabila diperlukan, Gubernur dapat
menetapkan parameter tambahan diluar
parameter sebagaimana dimaksud dalam
lampiran keputusan ini dengan persetujuan
Menteri;

(2)Gubernur dapat menetapkan baku mutu emisi


untuk jenis jenis kegiatan di daerahnya lebih
ketat dari ketentuan sebagaimana tersebut
dalam pasal 2 ayat (1);

(3) Dalam menetapkan baku mutu emisi daerah


sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan (2),
Gubernur mengikutsertakan pihak-pihak yang
berkepentingan.
Pasal 7 ayat (1) :
Setiap penanggungjawab jenis kegiatan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1)
wajib memenuhi ketentuan sebagai berikut:
a. membuat cerobong emisi yang dilengkapi dengan
sarana pendukung dan alat pengaman;
b. memasang alat ukur pemantauan yang meliputi
kadar dan laju alir volume untuk setiap cerobong
emisi yang tersedia serta alat ukur arah dan
kecepatan angin;
c. melakukan pencatatan harian hasil emisi yang
dikeluarkan dari setiap cerobong emisi;
d. menyampaikan laporan hasil
pemeriksaan sebagaimana dimaksud
dalam huruf © kepada Gubernur
dengan tembusan kepada Kepala
badan sekurang-kurangnya sekali
dalam 3 (tiga) bulan;
e. melaporkan kepada Gubernur serta
Kepala Badan apabila ada kejadian
tidak normal dan/atau dalam keadaan
darurat yang mengakibatkan baku mutu
emisi dilampaui
BAKU MUTU EMISI UNTUK INDUSTRI BESI DAN BAJA
(berlaku efektif tahun 2000)
______________________________________________________________________
Sumber Parameter Batas Maksimum(mg/M3)
_______________________________________________________________________
1. Penanganan bahan baku Total Partikel 150
(Raw Material Handling)
2. Tanur oksigen basa Total Partikel 150
(Basic Oxygen furnace)
3. Tanur busur listrik Total Partikel 150
(Electric Arc Furnace)
4. Dapur pemanas Total Partikel 150
(Reheating Furnace)
5. Dapur proses pelunakan baja Total Partikel 150
(Annealing Furnace)
6. Proses celup lapis metal Total Partikel 150
(Acid Pickling & Regeneration) Hydrochloric Acid Fume (HCl) 5

7. Tenaga ketel uap Total Partikel 230


(Power Boiler) Sulfur Dioksida (SO2) 800
Nitrogen Oksida (NO2) 1000
8. Semua sumber Opasitas 20 %
___________________________________________________________________________________________
Catatan :
- Nitrogen Oksida ditentukan sebagai NO2
- Volume gas dalam keadaan standar (25 oC dan tekanan 1 atm)
- Untuk sumber pembakaran partikulat di koreksi sebesar 10 % oksigen
- Opasitas digunakan sebagai indikator praktis pemantauan dan dikembangkan untuk memperoleh hubungan korelasi
dengan pengamatan total partikel
- pemberlakuan BME untuk 95 % waktu operasi normal selama tiga bulan.
Lampiran V B
BAKU MUTU EMISI UNTUK JENIS KEGIATAN LAIN
(berlaku efektif tahun 2000)

Parameter Batas maksimum


(mg/M3)
Bukan Logam
1. Ammonia (NH3) 1
2. Gas Klorin (Cl2) 15
3. Hidrogen Klorida (HCl) 10
4. Hidrogen Fluorida (HF) 20
5. Nitrogen Oksida (NO2) 1700
6. Opsitas 40 %
7. Partikel 400
8. Sulfur Dioksida (SO2) 1500
9. Total Sulfur Tereduksi (H2S)
70
Logam
10. Air Raksa (Hg) 10
11. Arsen (AS 25
12. Antimon (Sb) 25
13. Kadmium (Cd) 15
14. Seng (Zn) 100
15. Timah Hitam (Pb) 25

Catatan :
- Volume Gas dalam keadaan standar (25 o C
dan tekanan 1 atm)
Kepmen No: 133 tahun 2004 tentang Baku
Mutu Emisi Bagi Kegiatan Industri Pupuk

Baku Mutu Emisi Bagi Kegiatan Industri Pupuk


meliputi :
1. Pupuk Amonium Sulfat (ZA);
2. Pupuk Urea
3. Pupuk Fosfat
4. Pupuk Asam Fosfat
5. Pupuk Majemuk - NPK
Kewajiban untuk Industri Pupuk

Setiap penanggungjawab usaha dan atau kegiatan industri


pupuk wajib :
a. Menyediakan sarana dan prasarana pengendalian pencemaran udara
meliputi : cerobong emisi yang dilengkapi dengan lubang sampling,
tangga, lantai kerja, dan aliran listrik serta alat pengendali
pencemaran udara sesuai KepKa Bapedal No: 205/1996;
b. memasang alat pemantau emisi secara terus menerus (CEM) pada
cerobong;
c. memantau sarana dan prasarana huruf a dan b;
d. melaporkan hasil pemantauan kepada Bupati/Walikota dengan
tembusan Gubernur dan Menteri sekali dalam 3 bulan untuk
peralatan otomatis dan 6 bulan sekali untuk peralatan manual;
e. mengambil tindakan penanggulangan yang diperlukan apabila
terjadi kondisi tidak normal dan atau keadaan darurat yang
mengakibatkan baku mutu emisi dilampaui
Baku Mutu Emisi untuk Pabrik Pupuk Amonium Sulfat (ZA)

No. Sumber Parameter Baku Mutu


(mg/Nm3)
1. Drier Scrubber Total partikel 250
Amoniak (NH3) 250
2. Saturator Amoniak (NH3) 300
3. Exhaust Gas Amoniak (NH3) 250
Scrubber
4. Unit Asam Sulfat Sulfur dioksida 1000
(SO2)
5. Gas Turbine/Waste Nitrogen dioksida 125
Heat Boiler (NO2)
6. Semua Opasitas 20 %
sumber
7. Tenaga Ketel Total Partikel 230
Uap (Power Sulfur 800
Boiler) dioksida 1000
(SO2) 20 %
Nitrogen
dioksida
(NO2)
Opasitas
Catatan:

• Nitrogen oksida ditentukan sebagai NO2;


• Volume gas dalam keadaan standar (25oC dan
tekanan 1 atam);
• Untuk pengukuran gas dikoreksi sebesar 7 %
oksigen;
• Opasitas digunakan sebagai indikator praktis
pemantauan dan dikembangkan untuk
memperoleh hubungan korektif dengan
pengamatan Total partikel;
• Bagi pabrik yang mengoperasikan CEM, wajib
memenuhi minimal 95 % waktu operasi normal
selama 3 (tiga) bulan.
Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 07
tahun 2007 tentang Baku Mutu Emisi Sumber
Tidak Bergerak Bagi Ketel Uap.
• Baku mutu emisi sumber tidak bergerak bagi ketel
uap yang diatur dalam Peraturan Menteri ini meliputi
ketel uap yang menggunakan bahan bakar:
– biomasaa berupa serabut dan/atau cangkang;
– biomassa berupa ampas dan/atau daun tebu
kering;
– biomassa selain yang disebut dalam huruf a dan
huruf b;
– batu bara;
– minyak;
– gas, dan;
– gabungan.
Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 07 tahun 2007
tentang Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak Bagi Ketel Uap.

• Pasal 6: “Penanggung jawab usaha dan/atau


kegiatan yang mengoperasikan ketel uap
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1)
wajib”:
a. membuang emisi gas melalui cerobong yang
dilengkapi dengan sarana pendukung dan alat
pengaman sesuai peraturan yang berlaku;
b.melakukan pengujian emisi yang dikeluarkan dari
setiap cerobong paling sedikit 2 (dua) kali selama
periode operasi setiap tahunnya bagi ketel uap
yang beroperasi selama 6 (enam) bulan atau
lebih;
c. melakukan pengujian emisi yang
dikeluarkan dari setiap cerobong paling
sedikit 1 (satu) kali selama periode operasi
setiap tahunnya bagi ketel uap yang
beroperasi kurang dari 6 (enam) bulan;
d. menggunakan laboratorium yang
terakreditasi dalam pengujian emisi
sebagaimana dimaksud dalam huruf b dan
huruf c;
e. melakukan pengujian emisi setelah
kondisi proses pembakaraan stabil;
f. menyampaikan laporan hasil analisis
pengujian emisi sebagaimana dimasud
dalam huruf b atau huruf c kepada
Bupati/Walikota dengan tembusan
Gubernur dan Menteri paling sedikit 1
(satu) kali dalam 6 (enam) bulan sesuai
format sebagaimana tercantum dalam
Lampiran VII Peraturan Menteri ini;
g. melaporkan kejadian tidak normal
dan/atau keadaan darurat yang
mengakibatkan baku mutu emisi
dilampaui serta rincian upaya
penanggulangannya kepada
Bupati/Walikota dengan tembusan
Gubernur dan Menteri.
Peraturan Menteri Negara LH NO. 21 Tahun 2008 Tentang Baku
Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak Bagi Usaha dan/atau Kegiatan
Pembangkit Tenaga Listrik Thermal

Pasal 2. Pembangkit tenaga listrik termal terdiri atas


PLTU, PLTG, PLTGU, PLTD dan PLTP

Pasal 4 ayat (1) Baku mutu emisi sumber tidak bergerak


bagi usaha dan/atau kegiatan pembangkit tenaga
listrik termal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3
terdiri atas:
a. baku mutu emisi sumber tidak bergerak bagi
usaha dan/atau kegiatan PLTU sebagaimana
tercantum dalam Lampiran I A dan Lampiran I
B;
b. baku mutu emisi sumber tidak bergerak bagi
usaha dan/atau kegiatan PLTG sebagaimana
tercantum dalam Lampiran II A dan Lampiran II
B;
c.baku mutu emisi sumber tidak bergerak bagi
usaha dan/atau kegiatan PLTGU sebagaimana
tercantum dalam Lampiran III A dan Lampiran
III B;
d.baku mutu emisi sumber tidak bergerak bagi
usaha dan/atau kegiatan PLTD sebagaimana
tercantum dalam Lampiran IV A dan Lampiran
IV B;
e.baku mutu emisi sumber tidak bergerak bagi
usaha dan/atau kegiatan PLTP sebagaimana
tercantum dalam Lampiran V; dan
f. baku mutu emisi sumber tidak bergerak bagi
usaha dan/ata kegiatan Pusat Listrik
berbahan bakar campuran adalah sebagaimana
tercantum dalam Lampiran VI A dan Lampiran
VI B.
Peraturan Menteri Negara LH NO. 21 Tahun 2008 Tentang Baku
Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak Bagi Usaha dan/atau Kegiatan
Pembangkit Tenaga Listrik Thermal

Pasal 5. Bagi usaha dan/atau kegiatan unit pembangkit


tenaga listrik termal sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 4 ayat (1) yang:
a. telah beroperasi sebelum ditetapkannya Peraturan
Menteri ini, berlaku baku mutu emisi sebagaimana
tercantum dalam Lampiran A;
b. perencanaannya disusun sebalum
ditetapkannya Peraturan Menteri ini dan
beroperasi setelah ditetapkannya Peraturan
Menteri ini, berlaku baku mut emisi
sebagaimana tercantum dalam Lampiran A
dan wajib memenuhi baku mutu emisi
sebagaimana tercantum dalam Lampiran B
paling lama tanggal 1 Januari 2015;
c. perencanaannya disusun dan beroperasi
setelah ditetapkannya Peraturan Menteri ini
berlaku baku mutu emisi sebagaimana
tercantum dalam Lampiran B
Peraturan Menteri Negara LH NO. 21 Tahun 2008 Tentang Baku
Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak Bagi Usaha dan/atau Kegiatan
Pembangkit Tenaga Listrik Thermal

• Pasal 9 ayat (1). Penanggung jawab usaha dan/atau


kegiatan pembangkit listrik tenaga termal kecuali
PLTP wajib:
a. membuang emisi gas melalui cerobong yang dilengkapi
dengan sarana pendukung pengambilan sampel dan alat
pengaman sesuai peraturan perundang-undangan;
b. melakukan pengelolaan emisi sehingga mutu emisi
yang di buang ke udara tidak melampaui baku mtu emisi
yang telah ditetapkan;
c. memasang alat Continuous Emission Monitoring System
(CEMS) pada cerobong dengan beban pencemaran
tinggi, yang dihitung pada tahap awalperencanaan
pemasangan, dan beroperasi secara terus-menerus,
untuk pembangkit berbahan bakar fosil dengan
kapasitas di atas 25 MW yang dibangun sebelum
diberlakukaannya Peraturan Menteri ini;
d. memasang alat Continuous Emission Monitoring System
(CEMS) pada pembangkit yang berbahan bakar fosil
dengan kapasitas diatas 25 MW atau kapasitas kurang
dari 25 MW dengan kandungan sulfur dalam bahan
bakar lebih dari 2 % dan beroperasi secara terus
menerus yang dibangun sesudah diberlakukannya
Peraturan Menteri ini;
e. mengukur parameter SO2, NOx, Opasitas, O2, CO dan
laju alir serta CO2 dan total partikulat bagi pengukuran
emisi dengan Continuous Emission Monitoring System
(CEMS);
f. melakukan pengukuran parameter SO2, NOx, total
partikulat, opasitas, laju alir dan O2 secara manual
bagi bagi cerobong lainnya yang tidak dipasang CEMS
oleh laboratorium terakreditasi paling sedikit 1 (satu)
kali dalam 6 (enam) bulan;
g. menghitung beban emisi parameter SO2, NOx, total
partikulat, dan CO2 setiap satuan produksi listrik yang
dihasilkan dan melaporkannya 1 (satu) kali dalam 1
(satu) tahun;
h. melaporkan hasil pemantauan dan pengukuran
sesuai format laporan sebagaimana tercantum dalam
Lampiran VII Peraturan Menteri ini setiap 6 (enam)
bulan sekali untuk pengukuran secara manual kepada
bupati / walikota dengan tembusan kepada gubernur
dan Menteri;
i. melaporkan hasil pemantauan dan pengukuran
sesuai format laporan sebagaimana tercantum dalam
Lampiran VIII Peraturan Menteri ini setiap 3 (tiga) bulan
sekali untuk pengukuran CEMS kepada bupati/walikota
dengantembusan kepada gubernur dan Menteri;
j. memiliki sistem jaminan mutu (Quality Assurance)
dan pengendalian mutu (Quality Control) untuk
pengoperasian CEMS dan perhitungan beban emisi
parameter SO2, NOx, total partikulat, dan CO2;
k. melaporkan terjadinya kondisi tidak normal atau
darurat dalam jangka waktu paling lama 7 x 24 jam
kepada Menteri dan instansi teknis terkait;

l. menangani kondisi tidak normal atau kondisi


darurat sebagaimana dimaksud pada huruf k
dengan menjalankan prosedur penanganan yang
telah ditetapkan, sehingga tidak membahayakan
keselamatan dan kesehatan manusia, serta tidak
menimbulkan pencemaran dan/atau perusakan
lingkungan.
• Pasal 9 ayat (2). Penanggung jawab usaha dan/atau
kegiatan PLTP wajib:
a. melakukan pengelolaan emisi sehingga mutu
emisi yang di buang ke udara tidak melampaui baku
mutu emisi yang telah ditetapkan;

b. menghitung beban emisi parameter H2S, NH3 dan


CO2 setiap satuan produksi listrik yang dihasilkan
dan melaporkannya setiap 1 (satu) tahun sekali;

c. memiliki sistem jaminan mutu (Quality Assurance)


dan pengendalian mutu (Quality Control) untuk
perhitungan beban emisi parameter H2S, NH3 dan
CO2;
d . melakukan pengukuran emisi parameter H2S dan
NH3 secara manual di seluruh menara pendingin
oleh laboratorium terakreditasi paling sedikit 1
(satu) kali dalam 6 (enam) bulan;

e. menyampaikan laporan hasil pemantauan dan


pengukuran emisi sesuai format laporan
sebagaimana tercantum dalam Lampiran IX yang
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
Peraturan Menteri ini kepada bupati/walikota dengan
tembusan kepada gubernur dan Menteri setiap 6
(enam) bulan sekali;
f. melaporkan terjadinya kondisi tidak normal
atau darurat dalam jangka waktu paling
lama 7 x 24 jam kepada Menteri dan
instansi teknis terkait;
g. menangani kondisi tidak normal atau
kondisi darurat sebagaimana dimaksud
pada huruf f dengan menjalankan prosedur
penanganan yang telah ditetapkan,
sehingga tidak membahayakan
keselamatan dan kesehatan manusia, serta
tidak menimbulkan pencemaran dan/atau
perusakan lingkungan.
KEPUTUSAN KEPALA BAPEDAL NOMOR 205 TAHUN 1996
TENTANG PEDOMAN TEKNIS PENGENDALIAN
PENCEMARAN UDARA SUMBER TIDAK BERGERAK
Dasar penetapan:
• Sebagai
pelaksanaan
Keputusan Menteri
Negara Lingkungan
Hidup Nomor: KEP-
13/MENLH/1995
Tentang Baku Mutu
Emisi Sumber Tidak
Bergerak.
Pasal 1
(1)Pedoman Teknis Pengendalian Pencemaran
Udara Sumber Tidak Bergerak ini diperlukan
sebagai pedoman teknis dalam upaya
pengendalian pencemaran udara bagi:
a. Instansi terkait;
b. Gubernur dan Bupati/Walikota
c. Penanggung jawab kegiatan dari sumber
tidak bergerak
(2) Pedoman teknis pengendalian pencemaran
udara sumber tidak bergerak sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) untuk:

a. Pelaksanaan pemantauan kualitas udara


sebagaimana tersebut dalam Lampiran I
yang meliputi :
1. Mekanisme kunjungan pendahuluan;
2. Periode pemantauan;
3. Penetapan lokasi pemantauan emisi
dan udara ambien;
4. Pemasangan alat pemantauan kualitas
udara;
5. Pelaporan
b. Pengambilan contoh uji dan analisis
sebagaimana tersebut dalam Lampiran II
c. Persyaratan cerobong sebagaimana
tersebut dalam Lampiran III yang meliputi:
1. Pengaturan cerobong.
2. Lubang sampling.
3. Sarana pendukung.
d. Unit pengendalian pencemaran udara
sebagaimana tersebut dalam
Lampiran IV yang antara lain:
1. Electrostatic Precipitator.
2. Siklon
3. Pengumpul proses basah
(Wet Process Collector).
4. Cartridge Collector.
5. Baghouse filter
KEPUTUSAN KEPALA BAPEDAL NOMOR 205 TAHUN 1996 TENTANG PEDOMAN
TEKNIS PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA SUMBER TIDAK BERGERAK

1.2 Periode Pemantauan


Pemantauan kualitas udara emisi oleh pihak industri
harus dilakukan secara terus menerus untuk
parameter yang mempunyai fasilitas pengukuran
secara otomatis dan periode 6 bulan untuk peralatan
manual dan dilaporkan kepada Gubernur/Pemerintah
Daerah setempat dengan tembusan kepada
BAPEDAL. Jika terjadi kasus kualitas udara
mendekati/melewati baku mutu, maka frekuensi
pemantauan dapat ditingkatkan atau periode
pemantauan menjadi lebih pendek yang dapat
dilakukan oleh Pemerintah Daerah / Bapedal dalam
upaya untuk penaatan baku mutu.
a. Pemantauan rutin yang dilakukan oleh
penanggungjawab kegiatan berupa:
- Pemantauan secara terus menerus
menggunakan fasilitas peralatan secara
otomatis.
- Setiap periode 6 bulan dengan
menggunakan peralatan manual.

b. Pemantauan dalam rangka penaatan


/pengawasan terhadap ketentuan baku
mutu emisi yang dilakukan oleh
Pemerintah Daerah/Bapedal
minimal tiap periode 6 bulan sekali.
KEPUTUSAN KEPALA BAPEDAL NOMOR 205 TAHUN 1996 TENTANG PEDOMAN
TEKNIS PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA SUMBER TIDAK BERGERAK

• Pemilihan lokasi pengukuran dilakukan dilaksanakan


pada suatu tempat paling sedkit 8 kali diameter dari
aliran bawah (hulu) dan 2 kali diameter dari aliran
atas (hilir) dan bebas dari sembarang gangguan
aliran seperti bengkokan, ekspansi, atau pengecilan
aliran didalam cerobong.

• Jika perlu lokasi alternatif dapat dipilih pada posisi


paling tidak 2 D aliran bawah dan 0,5 D aliran atas,
bebas dari sembarang aliran.
Penentuan lokasi lubang sampling

2D

8D
Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak
Lingkungan Nomor: KEP-205/BAPEDAL/1996 tentang
Pengendalian Pencemaran Udara Sumber Tidak Bergerak
Diameter Ekivalen
• Cerobong dengan diamater berbeda

De = 2 x d x D / ( D + d )
De : diameter ekivalen
D : diameter bagian bawah
d : diameter bagian atas

• Cerobong berbentuk persegi panjang


De = 2 LW / (L + W)
De : diameter ekivalen
L : panjang cerobong
W : lebar cerobong
KEPMEN LH No: KEP-48/MENLH/XI/1996
Tentang Baku Tingkat Kebisingan
• Kebisingan adalah bunyi yang tidak
diinginkan dari usaha atau kegiatan
dalam tingkat dan waktu tertentu yang
dapat menimbulkan gangguan kesehatan
manusia dan kenyamanan lingkungan
• Tingkat kebisingan adalah ukuran energi
bunyi yang dinyatakan dalam satuan
Desibel disingkat dB
• Baku tingkat kebisingan adalah batas
maksimal tingkat kebisingan yang
diperbolehkan dibuang ke lingkungan
dari usaha atau kegiatan sehingga tidak
menimbulkan gangguan kesehatan
manusia dan kenyamanan lingkungan.
Setiap penanggung jawab usaha atau kegiatan
wajib:
1. Mentaati baku tingkat kebisingan yang
telah dipersyaratkan;
2. Memasang alat pencegahan terjadinya
kebisingan;
3. Menyampaikan laporan hasil pemantauan
tingkat kebisingansekurang-kurangnya 3
(tiga) bulan sekali kepada Gubernur,
Menteri, Instansi yang bertanggung jawab
di bidang pengendalian dampak
lingkungandan instansi teknis yang
membidangi kegiatan yang bersangkutan
serta instansi lain yang dipandang perlu.
KEPMEN LH No: KEP-48/MENLH/XI/1996 Tentang Baku
Tingkat Kebisingan

Peruntukan Kawasan/Lingkungan kegiatan Tingkat Kebisingan


dB (A)
a. Peruntukan Kawasan
1. Perumahan dan Pemukiman 55
2. Perdagangan dan Jasa 70
3. Perkantoran dan Perdagangan 65
4. Ruang Terbuka Hijau 50
5. Industri 70
6. Pemerintahan dan Fasilitas Umum 60
7. Rekreasi 70
8. Khusus:
- Bandar udara *)
- Stasiun kereta Api *)
- Pelabuhan laut 70
- Cagar Alam 60

b. Lingkungan kegiatan
1. Rumah Sakit atau sejenisnya 55
2. Sekolah atau sejenisnya 55
3. Tempat ibadah atau sejenisnya 55
KEPMEN LH No: KEP-50/MENLH/XI/1996 Tentang Baku
Tingkat Kebauan

• Bau adalah suatu rangsangan dari zat yang diterima


oleh indera penciuman;
• Kebauan adalah yang tidak diinginkan dalam kadar
dan waktu tertentu yang dapat mengganggu
kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan.
• Baku Tingkat Kebauan adalah batas maksimal bau
dalam udara yang diperbolehkan yang tidak
menggangu kesehatan manusia dan kenyamanan
lingkungan;
• Sumber bau atau zat odoran adalah setiap zat yang
dapat menimbulkan rangsangan bau pada keadaan
tertentu;
• Zat odoran adalah zat yang dapat berupa zat
tunggal maupun campuran berbagai macam
Baku tingkat Kebauan
NA. Bau
Parameter Satu Nil
dari odoran Tunggal
Metode Peralatan
o. an ai Pengukuran
Bat
as
1. Amoniak ppm 2,0 Indophenol Spektrofot
(NH3) ometer
2. Metil ppm 0,0 Absorpsi gas Gas
Merkaptan 02 kromatogr
(CH3SH) afi
3. Hidrogen ppm 0,0 a. Merkuri Spektrofot
Sulfida 2 thiosianat ometer
(H2S) b. Absorpsi Gas
gas kromatogr
afi
4. Metil ppm 0,01 Absorp Gas
Sulfida si gas kromat
(CH3)2) ografi
S

5. Stirena ppm 0,1 Absorp Gas


(C6H5C si gas kromat
HCH2) ografi

B. Bau dari Odoran Campuran


Tingkat kebauan yang dihasilkan oleh campuran
odoran dinyatakan sebagai ambang bau yang dapat
dideteksi secara sensorik oleh lebih dari 50 % anggota
penguji yang berjumlah minimal 8 (delapan) orang.