Anda di halaman 1dari 49

Oleh:

Martha Digna Olivia


1361050198

Pembimbing:
dr. Catharina Dian, SpA

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK


PERIODE 1 OKTOBER – 8 DESEMBER 2018
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA
2018
Tubuh
Manusia

Bagian Padat Bagian Cair

Cairan Cairan
Tulang
Intraselular Ekstraselular

Cairan
Plasma Darah
Kuku Interstitial
(5%)
(15%)

Otot

Jaringan lain
 Pertukaran cairan antara intraselular dan ekstraselular berlangsung melalui
membran
 Didalam kompartemen ekstrasel, pertukaran cairan antara interstisial dan
plasma (dalam vaskular) terjadi menembus endotel vaskular dan diatur oleh
perbedaan tekanan onkotik dan hidrostatik, sesuai dengan hukum Starling
 Tujuan utama resusitasi adalah mengantarkan oksigen ke organ-organ vital.
Jika terjadi kehilangan darah atau plasma secara signifikan, curah jantung dan
pengiriman oksigen akan berkurang
 Cairan interstisial dapat berfungsi sebagai cadangan saat cairan di dalam
plasma berkurang karena keduanya berada di dalam keseimbangan dan cairan
interstisial dapat berpindah secara cepat
 Prinsip utama terapi cairan adalah menjaga keseimbangan masukan dan
keluaran cairan, serta mengantisipasi kemungkinan kehilangan cairan yang
terus berlangsung
 Penggunaan cairan intravena dapat bertujuan untuk resusitasi, rumatan,
maupun penggantian dan redistribusi cairan
 Resusitasi cairan diperlukan apabila pasien kehilangan cairan yang cukup
untuk memicu mekanisme dekompensasi tubuh
 Tujuan resusitasi cairan untuk mengembalikan volume intravaskular sehingga
mengembalikan perfusi ke jaringan perifer
Cairan Tubuh

Cairan Cairan
Intraselular Ekstraselular

Kompartemen
Intravaskular
interstitial

Cairan Cairan
serebrospinal persendian

Cairan
peritoneum
Cairan
Cairan Koloid
Kristaloid
 Dapat pindah menembus membran  Kristaloid yang diberikan berlebihan
semipermeabel secara bebas --> edema otak, menurunkan kinerja
 Kandungannya adalah air dan berbagai jantung, mengurangi oksigenasi
elektrolit yang sifatnya isotonik dengan paru, menyebabkan translokasi
cairan ekstrasel bakteri pada saluran cerna, dan
 Kristaloid yang berbahan dasar salin menghambat penyembuhan luka
akan terdistribusi didalam rongga
ekstrasel, sesuai dengan lokasi  Jenis cairan kristaloid yang tersedia :
terdapatnya natrium  Natrium klorida (NaCl)0,9% (salin
 Hanya sepertiga cairan kristaloid yang normal), 0,45%, serta 0,18%
akan tinggal didalam pembuluh darah  Ringer
sementara sisanya akan masuk ke dalam
rongga interstisial  Glukosa 5%
 Normal NaCl 0,9% berisi natrium dan klorida pada konsistensi yang sama,
yang mana membuat isotonis sebagaimana cairan ekstraseluar
 Ada 3 jenis tonisitas kritaloid, diantaranya :
 Isotonis
 Hipertonis
 Hipotonis
ISOTONIS
 Ketika kristaloid berisi sama dengan jumlah elektrolit plasma, ia memiliki
konsentrasi yang sama dan disebut sebagai “isotonik” (iso, sama; tonik,
konsentrasi)
 Ketika memberikan kristaloid isotonis, tidak terjadi perpindahan yang
signifikan antara cairan di dalam intravascular dan sel.
 Dengan demikian, hampir tidak ada atau minimal osmosis
 Efek samping adalah terjadinya edema perifer dan edema paru pada jumlah
pemberian yang besar
 Contoh larutan kristaloid isotonis: Ringer Laktat, Normal Saline (NaCl 0.9%),
dan Dextrose 5% in ¼ NS
HIPERTONIS
 Jika kristaloid berisi lebih elektrolit dari plasma tubuh, itu lebih terkonsentrasi
dan disebut sebagai “hipertonik” (hiper, tinggi, tonik, konsentrasi)
 Administrasi dari kristaloid hipertonik menyebabkan cairan tersebut akan
menarik cairan dari sel ke ruang intravascular
 Efek larutan garam hipertonik lain adalah meningkatkan curah jantung bukan
hanya karena perbaikan preload, tetapi peningkatan curah jantung tersebut
mungkin sekunder karena efek inotropik positif pada miokard dan penurunan
afterload sekunder akibat efek vasodilatasi kapiler viseral
 Kedua keadaan ini dapat memperbaiki aliran darah ke organ-organ vital
 Contoh larutan kristaloid hipertonis: Dextrose 5% dalam ½ Normal Saline,
Dextrose 5% dalam Normal Saline, Saline 3%, Saline 5%, dan Dextrose 5%
dalam RL
HIPOTONIS
 Ketika kristaloid mengandung elektrolit lebih sedikit dari plasma dan kurang
terkonsentrasi, disebut sebagai “hipotonik” (hipo, rendah; tonik, konsentrasi)
 Ketika cairan hipotonis diberikan, cairan dengan cepat akan berpindah dari
intravascular ke sel
 Contoh larutan kristaloid hipotonis: Dextrose 5% dalam air, ½ Normal Saline.
 Tidak bercampur menjadi larutan sejati dan  Jenis cairan koloid yang tersedia
tidak dapat menembus membran
semipermeabel antara lain Gelofusine, Haemaccel,
 Cenderung menetap di dalam pembuluh dekstran, starch (HES), dan albumin
darah lebih lama dibanding kristaloid
karena tidak dapat disaring secara
langsung oleh ginjal
 Dapat meningkatkan tekanan osmotik dan
menarik cairan keluar dari rongga
interstisial ke dalam pembuluh darah
 Digunakan secara sementara untuk
mengganti komponen plasma karena
tinggal selama beberapa saat di dalam
sirkulasi
 Lama sebuah koloid tinggal dalam
pembuluh darah bergantung pada berat
dan ukuran molekul koloid
Sifat Kristaloid Koloid

Berat Molekul Lebih kecil Lebih besar


Distribusi Lebih cepat: Lebih lama dalam sirkulasi (3-6 jam)
20-30 menit
Faal Hemostasis Tidak ada Mengganggu
pengaruh
Penggunaan Dehidrasi Perdarahan masif
Koreksi Diberikan 2- Sesuai jumlah perdarahan
perdarahan 3x jumlah
perdarahan
Gelatin Kanji HES Dekstran

Reaksi anafilaksis Tidak biasa Tidak biasa Parah

Efek Koagulasi Tidak Ya (tergantung dosis/BM) Ya

Toksik pada ginjal Tidak Ya (tergantung BM/dosis) Dosis tinggi

Keracunan hati Tidak Mungkin Tidak

Akumulasi jaringan Tidak Ya Tidak

Pembatasan Tidak Ya (kecuali HES 130 kD) Tidak


penggunaan pada
gagal ginjal
 Dextran merupakan sintetik koloid yang secara komersial dibuat dari sukrose
oleh mesenteroides leukonostok strain B 512 dengan menggunakan enzim
dekstran sukrose
 Koloid ini berasal dari molekul polimer glukosa dengan jumlah yang besar.
Dextran diproduksi untuk mengganti cairan karena peningkatan berat
molekulnya, sehingga memiliki durasi tindakan yang lebih lama di dalam
ruang intravaskular
 Tersedia dalam bentuk Dextran 40 (Rheomacrodex) dengan berat molekul
40.000 dan Dextran 70 (Macrodex) dengan berat molekul 60.000-70.000
 Dekstran 70 6 % digunakan pada syok hipovolemik dan untuk profilaksis
tromboembolisme dan mempunyai waktu paruh intravaskular sekitar 6 jam
 Pemakaian dekstran untuk mengganti volume darah atau plasma hendaknya
dibatasi sampai 1 liter (1,5 gr/kgBB) karena risiko terjadi perdarahan abnormal
 Batas dosis dekstran yaitu 20 ml/kgBB/hari
 Sekitar 70% dosis dekstran 40 yang diberikan akan dieksresikan ke dalam
urine dalam 24 jam
 Molekul- molekul yang lebih besar dieksresikan lewat usus atau dimakan oleh
sel-sel sistem retikoloendotelial
 Volume dekstran melebihi 1 L dapat mengganggu hemostasis
 Dekstran 40 hendaknya jangan dipakai pada syok hipovolemik karena dapat
menyumbat tubulus ginjal dan mengakibatkan gagal ginjal akut
 Gelatin adalah koloid dengan inti poligelin, bersifat iso-onkotik, mengandung ion
klorida yang rendah, dan memiliki pH fisiologis
 Larutan gelatin adalah urea atau modifikasi succinylated cross-linked dari kolagen
sapi
 Gelatin dengan ikatan urea-poligelin ( Haemaccel ) dengan pelarut NaCL isotonik
dengan Kalium 5,1 mmol/l dan Ca 6,25 mmol/ L
 Pemberian gelatin agaknya lebih sering menimbulkan reaksi alergik daripada koloid
yang lain
 Gelatin dapat diberikan pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal bahkan pada
pasien yang menjalani hemodialisis
 Indikasi gelatin : Penggantian volume primer pada hipovolemia, stabilisasi sirkulasi
perioperatif. Kontraindikasi adalah infark miokard yang masih baru terjadi, gagal
jantung kongestif dan syok normovolemik
 Kontraindikasi: overhidrasi, gagal jantung kongestif, syok normovolemik,
oliguria/anuria, serta pasien yang hipersensitif terhadap gelatin.
 Senyawa kanji hidroksietil starch ( HES ) merupakan suatu kelompok koloid
sintetik polidisperse yang mempunyai glikogen secara struktural
 Indikasi pemberian HES --> terapi dan profilaksis defisiensi volume
(hipovolemia) dan syok (terapi penggantian volume) berkaitan dengan
pembedahan (syok hemoragik), cedera (syok traumatik), infeksi (syok septik),
kombustio (syok kombustio)
 Kontraindikasi --> gagal jantung kongestif berat, gagal ginjal (kreatinin serum
>2 mg/dL dan >177 mikromol/L), gangguan koagulasi berat (kecuali
kedaruratan yang mengancam nyawa), hiperhidrasi dan dehidrasi, serta
perdarahan otak
 Dosis penggunaan HES adalah 20 ml/kgBB/hari
Defek Primer Pilihan Cairan

Dehidrasi IF RL/RA
ECV

Dehidrasi ICV ICV D5

Perdarahan IVV Koloid


baru

Perdarahan IVV + IF Koloid + RL


lama
 Diperlukan apabila pasien kehilangan cairan yang cukup untuk
memicu mekanisme dekompensasi tubuh
 Resusitasi
bertujuan untuk mengembalikan volume intravaskular
sehingga mengembalikan perfusi ke jaringan perifer
1.Tekanan darah sistolik <90 mmHg dan/atau mean arterial pressure (MAP) <60
mmHg
2.Pengisian kapiler > 2 detik dan akral dingin
3.Denyut nadi > 100 kali per menit
4.Napas > 20 kali per menit

Cairan resusitasi yang terpilih adalah kristaloid dengan kandungan natrium


diantara 130-154 mmol/L sebanyak 500 mL diberikan kurang dari 15 menit
 Meningkatkan pasokan oksigen (DO2) agar dapat memenuhi kebutuhan
konsumsi oksigen (VO2 )
 Pasokan oksigen merupakan fungsi curah jantung dikali kandungan oksigen
darah arteri
 Kandungan oksigen darah arteri terdiri dari oksigen yang terikat hemoglobin
dan oksigen yang terlarut
 Kandungan oksigen vena sentral adalah oksigen yang terikat hemoglobin
ditambah oksigen terlarut yang terukur di vena sentral
 Konsumsi oksigen adalah curah jantung dikali selisih kandungan oksigen
antara arteri dan vena
 Syok merupakan suatu keadaan yang ditandai oleh perfusi jaringan
tidakadekuat dan hipofungsi sel. Klasifikasi syok menurut etiologi adalah:
1.Syok hipovolemik: dehidrasi, kehilangan darah, luka bakar
2.Syok distributif: kehilangan tonus vaskular (anafilaktik, septik, syok toksik)
3.Syok kardiogenik: kegagalan pompa jantung
4.Syok obstruktif: hambatan terhadap sirkulasi oleh obstruksi intrinsik atau
ekstrinsik. Emboli paru, robekan aneurisma, dan tamponade perikard
1.Hipotensi. Penurunan diastolik ortostatik sebesar 10 sampai 20 mmHg atau
peningkatan nadi sebesar 15 detik/menit dianggap “bermakna”. Periksa tanda-
tanda vital ortostatik, berbaring, dan setelah berdiri selama 1 sampai 2 menit

2.Takikardia. Biasanya ada tetapi mungkin tidak didapatkan bila ada iritasi
diafragma, yang menyebabkan stimulasi vagal

3.Hipoperfusi. Ditandai oleh berkurangnya jumlah urin, daya pikir menurun,


ekstremitas dingin, bercak-bercak, dll

4.Tujuan resusitasi adalah mempertahankan urin antara 30 dan 60 ml/jam.


Untuk mencegah komplikasi lanjut berupa kerusakan organ, tata
laksana syok harus dilakukan dengan cepat

Dalam 1 jam pertama harus dicapai waktu pengisian kapiler kurang


dari 2 detik, denyut nadi yang normal tanpa perbedaan kualitas
nadi perifer dan sentral, produksi urin lebih dari 1 mL/kgBB/jam,
kesadaran normal, tekanan darah normal sesuai usia, dan saturasi
oksigen lebih dari 95%
 Syok yang paling sering dijumpai pada anak, terjadi akibat
kehilangan cairan tubuh yang berlebihan
 Penyebab tersering pada anak--> muntah, diare, glikosuria,
kebocoran plasma (misalnya pada demam berdarah dengue),
sepsis, trauma, luka bakar, perdarahan saluran cerna, dan
perdarahan intrakranial
 Kehilangan 5-10% berat badan umumnya masih dapat dikompensasi
 Selain tanda kehilangan cairan, mekanisme kompensasi dapat dikenali
dengan dijumpainya produksi urin yang menurun, ujung ekstremitas
dingin, dan waktu pengisian kapiler yang sedikit memanjang. Mekanisme
kompensasi tidak akan memadai pada kehilangan 15% berat badan atau
lebih. Kesadaran akan menurun, produksi urin minimal atau tidak ada,
ujung ekstremitas dingin dan mottled, nadi perifer sangat lemah atau tidak
teraba, takikardia, tekanan darah menurun atau tidak terukur. Hipoksia
jaringan akan mengakibatkan asidosis dan takipnea. Dalam keadaan lanjut
akan terjadi pernapasan periodik atau apnu yang selanjutnya disusul
dengan henti jantung
 Klasifikasi perdarahan berdasarkan persentasi volume darah yang
hilang, yaitu:
1.Perdarahan Kelas I (kehilangan 0-15%). Bila tidak ada komplikasi,
hanya terlihat takikardia minimal. Biasanya tidak ada perubahan
dalam tekanan darah, frekuensi nadi, atau frekuensi napas.
2. Perdarahan Kelas II (kehilangan 15-30%). Gejala klinik mencakup
takikardia (> 100 detik/menit), takipnea, penurunan tekanan nadi,
kulit dingin dan lembab, pengisian kapiler terlambat, dan sedikit
cemas.
3.Perdarahan Kelas III (kehilangan 30-40%). Biasanya pasien sudah
takipnea dan takikardia mencolok, tekanan darah sistolik turun,
oliguria, perubahan status mental bermakna, misal bingung, atau
gaduh gelisah.
4.Perdarahan Kelas IV (kehilangan.40%). Gejala mencakup
takikardia dan penurunan tekanan darah sistolik mencolok, tekanan
nadi mengecil (atau tekanan diastolik tidak terukur), jumlah urin
sedikit atau tidak ada, status mental depresi (atau kehilangan
kesadaran), kulit dingin dan pucat. Jumlah perdarahan ini
mengancam jiwa.
Tiga tujuan tatalaksana pasien syok hipovolemik di Unit Gawat
Darurat (UGD) :
 memaksimalkan hantaran oksigen (dikerjakan dengan memastikan
kecukupan ventilasi
 meningkatkan saturasi oksigen darah
 memulihkan aliran darah), mengendalikan kehilangan darah lebih
lanjut, dan resusitasi caitran
Akses IV bisa dicapai melalui perkutan pada vena antecubiti, sayatan ke
vena saphena atau vena lengan, atau akses ke vena sentral dengan teknik
Seldinger technique
Jika digunakan akses vena sentral, harus digunakan kateter monolumen
yang besar
Pada anak < 6 tahun, akses intraosea juga bisa digunakan
Segera setelah mendapat akses, resusitasi cairan dimulai dengan kristaloid
isotonik, misal Ringer laktat atau NaCl 0,9%. Bolus awal 20 mL/kgBB pada
pasien anak, dan respons pasien dinilai. Jika tanda-tanda vital kembali
normal, pasien harus dipantau untuk memastikan kestabilannya, dan
golongand arah harus diperiksa dan diuji silang.
Syok septik merupakan suatu keadaan khusus dengan patofisiologi
yang kompleks. Pada syok septik, warm shock, suatu syok distributif,
terjadi pada fase awal. Penggunaan stimulator alfa (seperti
noradrenalin) dilaporkan tidak banyak memperbaiki keadaan,
bahkan menurunkan produksi urin dan mengakibatkan asidosis
laktat. Pada fase lanjut, terjadi penurunan curah jantung dan
peningkatan resistensi vaskular sistemik akibat hipoksemia dan
asidosis
1. Berikan dukungan respirasi dan sirkulasi, pemberian oksigen,
ventilasi mekanik, dan infus. Tatalaksana sesudah tindakan ini
meliputi penggunaan kombinasi beberapa antibiotik parenteral,
pembuangan fokus infeksi, tatalaksana komplikasi, dan
penggunaan obat untuk mencegah respons hospes lebih lanjur
yang bersifat merugikan
2. Semua pasien sepsis membutuhkan cairan. Untuk pasien
hipotensif, harus diberikan kristaloid isotonik dalam bolus 10
ml/kgBB pada anak, dan penilaian klinis diulang setelah setiap
bolus. Bolus ulangan harus diberikan sampai tanda-tanda perfusi
yang adekuat tercapai. Bisa dibutuhkan total 4-6 L
3. Antibiotik harus diberikan yang berspektrum luas dan mencakup
gram-positif, gram-negatif, dan anaerob
4. Jika tidak ada respons terhadap beberapa liter kristaloid isotonik
(biasanya >4 L) atau jika ada bukti kelebihan volume, sistem
kardiovaskular yang tertekan bisa dirangsang dengan obat-obat
inotropik dan vasokonstriktor, yaitu Dopamin dengan kecepatan 5.0
- 10 mcg/kg/menit
5. Jika pasien tetap hipotensif, berikan norepinefrin dimulai dengan
dosis 1 mcg/menit dan kemudian dititrasi untuk menaikkan tekanan
darah sistolik sampai 90 mmHg
Syok anafilaktik merupakan reaksi alergi sistemik yang ditandai
dengan urtikaria, gatal, angioedema, sesak napas/batuk/mengi,
hipotensi/sinkop. Disebabkan oleh hipersensitivitas diperantarai
IgE. Penyebab umum berupa makanan, serangga (sengatan
Hymenoptera), obat-obat (aspirin dan penisilin), zat radiokontras
1. Epinefrin. Jika stabil : Epinefrin 0,01 ml/kgBB pada anak. Boleh diulang setiap 10-
15 menit x 3. Jika hipotensif/tidak stabil: Epinefrin 0,1 mg atau lebih IV sebagai
injeksi bolus atau bisa diinfus dengan kecepatan 0,1 ug/kgBB/menit pada anak
2. Difenhidramin 1-1,5 mg/kgBB/dosis pada anak setiap 6 jam. Difenhidramin
merupakan penyekat histamin
3. Simetidin 5-10 mg/kgBB IV setiap 6-12 jam pada anak, maksimum 300 mg/dosis,
atau ranitidin 0,33-0,66 mg/kgBB IV setiap 8 jam pada anak dengan dosis
maksimum 50 mg/dosis. Sebaiknya digunakan bersamaan dengan difenhidramin
4. Kortikosteroid. Steroid bertujuan untuk mencegah rekurensi dan dalam
menghambat reaktan fase lanjut. Berikan Hidrokortison suksinat 100 mg IV atau
Metilprednisolon 1-2 mg/kgBB IV pada anak.
 Syok kardiogenik terjadi akibat kegagalan pompa jantung yang dapat
disebabkan oleh preload, afterload atau kontraktilitas miokardium
 Curah jantung juga menurun pada disritmia
 Gangguan preload dapat terjadi akibat pneumotoraks, efusi perikardium,
hemoperikardium atau pneumoperikardium
 Gangguan afterload dapat terjadi akibat kelainan obstruktif kongenital,
emboli, peningkatan resistensi vaskular sistemik (misalnya pada
feokromositoma)
 Gangguan kontraktilitas miokardium dapat diakibatkan oleh infeksi virus,
gangguan metabolik (seperti asidosis, hipoglikemia, hipokalsemia),
penyakit kolagen, dan lain-lain.
 Pada anak dengan gizi buruk, volume dan kecepatan pemberian
cairan berbeda, oleh karena itu cek apakah anak tidak dalam
keadaan gizi buruk
 Pasang infus (dan ambil darah untuk pemeriksaan laboratorium
gawat darurat)
 Masukkan larutan Ringer Laktat/Garam Normal — pastikan aliran
infus berjalan lancar dan alirkan cairan infus 20 ml/kgBB secepat
mungkin
 Nilai kembali setelah volume cairan infus yang sesuai telah diberikan
- Jika tidak ada perbaikan, ulangi 20 ml/kgBB aliran secepat mungkin
 Nilai kembali setelah pemberian kedua
- Jika tidak ada perbaikan, ulangi 20 ml/kgBB aliran secepat mungkin
 Nilai kembali setelah pemberian ketiga
- Jika tidak ada perbaikan, periksa apakah ada perdarahan nyata yang berarti:
 Bila ada perdarahan, berikan transfusi darah 20 ml/kgBB aliran secepat mungkin (bila
ada fasilitas)
 Bila tidak ada perdarahan, pertimbangkan penyebab lain selain hipovolemik. Bila sudah
stabil rujuk ke rumah sakit rujukan dengan kemampuan lebih tinggi yang terdekat
setelah pasien stabil
 Bila telah terjadi perbaikan kondisi
anak (denyut nadi melambat, capillary
refill < 2 detik): Berikan 70 ml/kgBB
Larutan Ringer Laktat/Garam Normal
selama 5 jam pada bayi (umur < 12
bulan) dan selama 2 ½ jam pada anak
(umur 12 bulan hingga 5 tahun)
 Nilai kembali anak setiap 1–2 jam; jika
status hidrasi tidak mengalami
perbaikan, berikan tetesan infus lebih
cepat. Berikan juga larutan oralit
(sekitar 5 ml/kgBB/jam) segera setelah
anak dapat minum; pemberian ini
umumnya dilakukan setelah 3–4 jam
(pada bayi) atau 1–2 jam (pada anak)
 Lakukan penilaian kembali setelah 6
jam (bayi) dan setelah 3 jam (anak).
Klasifikasikan derajat dehidrasinya,
kemudian pilih rencana terapi yang
sesuai (A, B, atau C) untuk melanjutkan
pengobatan. Jika memungkinkan,
observasi anak sedikitnya 6 jam setelah
rehidrasi untuk memastikan ibunya
dapat meneruskan hidrasi dengan
memberikan anak larutan oralit melalui
mulut
 Lakukan penanganan ini hanya jika ada tanda syok dan anak letargis atau tidak sadar.
Pastikan anak menderita gizi buruk dan benar-benar menunjukkan tanda syok
Timbang anak untuk menghitung volume cairan yang harus diberikan
Pasang infus (dan ambil darah untuk pemeriksaan laboratorium gawat darurat)
Masukkan larutan Ringer Laktat dengan dekstrosa 5% (RLD 5%) atau Ringer Laktat
atau Garam Normal — pastikan aliran infus berjalan lancar. Bila gula darah tinggi maka
berikan Ringer Laktat (tanpa dekstrosa) atau Garam Normal.
Alirkan cairan infus 10 ml/kg selama 30 menit
Hitung denyut nadi dan frekuensi napas anak  Jika tidak ada perbaikan, lanjutkan
mulai dari pertama kali pemberian cairan dan dengan pemberian cairan rumatan 4
setiap 5 – 10 menit. Jika ada perbaikan tetapi ml/kg/jam dan pertimbangkan
belum adekuat (denyut nadi melambat, frekuensi penyebab lain selain hipovolemik
napas anak melambat, dan capillary refill > 3
detik): o Transfusi darah 10 ml/kgBB selama 1
jam (bila ada perdarahan nyata yang
o Berikan lagi cairan di atas 10 ml/kgBB selama 30 signifkan dan darah tersedia).
menit
o Bila kondisi stabil rujuk ke rumah sakit
o Nilai kembali setelah volume cairan infus yang dengan kemampuan lebih tinggi.
sesuai telah diberikan
Jika kondisi anak menurun selama
Jika ada perbaikan dan sudah adekuat (denyut diberikan cairan infus (napas anak
nadi melambat, frekuensi napas anak melambat, meningkat 5 kali/menit atau denyut nadi
dan capillary refill < 2 detik): 15 kali/menit), hentikan infus karena
cairan infus dapat memperburuk kondisi
o Alihkan ke terapi oral atau menggunakan NGT anak. Alihkan ke terapi oral atau
dengan ReSoMal, 10 ml/kg/jam hingga 10 jam; menggunakan pipa nasogastrik dengan
o Mulai berikan anak makanan dengan F-75 ReSoMal, 10 ml/kgBB/jam hingga 10 jam.
 Cairan ekstraseluler dibagi menjadi plasma darah sebanyak 5% dan cairan
interstitial sebanyak 15%
 Elektrolit utama dalam cairan ekstraseluler : natrium dan klorida. Elektrolit utama
dalam cairan intraseluler adalah kalium, magnesium, kalsium, dan fosfat
 Prinsip utama terapi cairan --> menjaga keseimbangan masukan dan keluaran
cairan, serta mengantisipasi kemungkinan kehilangan cairan yang terus
berlangsung
 Resusitasi cairan --> bagian dari tata laksana hemodinamik yang bertujuan untuk
mencukupi kebutuhan oksigen
 Keberhasilan resusitasi cairan amat tergantung pada kinerja jantung
 Resusitasi cairan diperlukan apabila pasien kehilangan cairan yang cukup untuk
memicu mekanisme dekompensasi tubuh
 Resusitasi ini bertujuan untuk mengembalikan volume intravaskular sehingga
mengembalikan perfusi ke jaringan perifer
1. Hall, J. E., 2006. Guyton's Textbook of Medical Physiology. 11 ed. Philadelpia: Elsevier. Chow JL, B. K. a. B. L.,
2004. Critical Care Handbook of the Massachusetts General Hospital. 3rd ed. US: Lippincott Williams &
Wilkins.
2. Stoelting RK, Rathmell JP, Flood P, Shafer S. Intravenous Fluids and Electrolytes. Dalam Handbook of
Pharmacology and Physiology in Anesthetic Practice 3rd ed. Philadelphia: Wolters Kluwer Health. 2015; 17 :
h. 341 – 49.
3. Tanto C, Liwang F, Hanifati S. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta:Media Aesculapius, 2014.
4. Graber, MA. Terapi Cairan, Elektrolit, dan Metabolik. Edisi 2. Jakarta: Farmedia. 2003.
5. Pudjiadi AH, Latief A, Budiwardhana N. Unit Kerja Pediatri Gawat Darurat: IDAI, 2011.
6. Butterworth JF, Mackey DC, Wasnick JD. Management of Patients with Fluid and Electrolyte Disturbances.
Dalam Morgan & Mikhail’s Clinical Anesthesiology 5th ed. New York: Mc-Graw Hill. 2013; 4 (49): h. 1107 – 40.
7. Pudjiadi AH. Resusitasi Cairan: dari Dasar Fisiologis hingga Aplikasi Klinis. Diakses dari :
https://saripediatri.org/index.php/sari-pediatri/article/viewFile/262/pdf (21 Oktober 2018)
8. World Health Organization. Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Jakarta: World Health Organization,
2009.