Anda di halaman 1dari 25

MIGRATION

• PRIMARY MIGRATION (EXPULSION)


• SECONDARY MIGRATION
MIGRATION
MIGRATION
Primary Migration

Expulsion from the Source Rock


Migration - Saturation Threshold Theory
Expulsion from the Source Rock
Mekanisme ekspulsi masih menjadi perdebatan.
Salah satu metode nya adalah penjenuhan porositas:
Selama proses pematangan, material organik berubah
menjadi minyak. Minyak yang tergenerasi mengisi pori
yang terbentuk dari pecahnya kerogen.
1. Minyak mengisi volume pori kemudian melemahkan
capillary resistance dan kemudian ekspulsi mulai
terjadi.
2. Overpressure terjadi akibat perubahan kerogen
menjadi minyak dan gas, yang kemudian menyebabkan
terjadi microfatures pada batuan, yang dilanjutkan
dengan proses fluida terekspulsi.
3. Pada batuan induk yang kurang baik, minyak yang
tergenerasi tidak cukup untuk memenuhi pori batuan.
Dengan berlanjutnya proses penguburan (burial),
minyak yang terperangkap ini kemungkinan
terpanaskan lanjut sehingga terurai menjadi gas.
Expulsion from the Source Rock

1. Dewasa ini, belum ada metode umum untuk mengetahui


dengan pasti jumlah bitumen yang sudah bermigrasi keluar
dari batuan induk.

2. Korelasi minyak – batuan induk merupakan indicator


langsung terjadinya migrasi.

3. Di asumsikan bahwa HC adalah faktor yang mengendalikan


proses migrasi.
 Membutuhkan jumlah minimum bitumen sebelum
ekspulsi dapat terjadi.
 Membutuhkan HC yang memenuhi/menjenuhi (saturate)
system pori batuan.
 Momper (1978) estimate on average requires 850 ppm
Expulsion from the Source Rock
Semakin kaya material organic dari suatu batuan
induk, akan semakin cepat juga memproduksi
jumlah HC yang besar dibandingkan dengan batuan
induk yang miskin, sehingga sangat mungkin akan
ekspulsi lebih cepat pula.
Faktor pengontrol yang lain adalah geometri dari
batuan induk.
Efisiensi ekspulsi semakin tinggi apabila suatu
batuan induk lebih tipis, karena HC memiliki jarak
yang lebih dekat untuk migrasi ke carrier beds.
Perselingan batupasir dan serpih akan memberikan
nilai efficiency ekspulsi yang lebih besar
dibandingkan dengan lapisan batupasir dan serpih
yang lebih tebal.
Expulsion from the Source Rock

Rocks that are brittle and overpressured are


likely to fracture
 which dramatically enhances
expulsion efficiency.
EXPULSION EFFICIENCY
Expulsion efficiency
Temperature 120-150 C sangat tergantung oleh kekayaan batuan
induk.

Saturasi minimum HC pada batuan induk (sekitar 40%) harus


terpenuhi sebelum expulsion efficiency dapat berlaku.

Rich source rocks > 5kg/ton, TOC>1.5 very efficient 60-90% of total
petroleum generated being expelled.

Lean source rocks <5kg/ton, TOC<1.5% expulsion efficiency is


much lower most of the generated oil remain in the source rocks.

Raising Temperature cracked to gas and expulsion can be very


efficient
(Cooles, Mackenzie and Qiugley 1986)
EXPULSION EFFICIENCY
Expulsion efficiency

Lean Initial Condition


rich

T=120-150 C
Oil window

T >150 C
Gas window
SECONDARY MIGRATION
TROUGH CARRIER BED TO TRAP

• SECONDARY MIGRATION CONCENTRATES SUBSURFACE


PETROLEUM INTO SPECIFIC SITES (TRAPS) WHERE IT MAY BE
COMMERCIALLY EXTRATED.

• THE MAIN DIFFERENCE BETWEEN PRIMARY MIGRATION (OUT OF THE


SORCE ROCK) AND SECONDARY MIGRATION (TROUGH CARRIER
BED) IS THE POROSITY, PERMEABILITY, PORE SIZE DISTRIBUTION
TROUGH WHICH MIGRATION TAKE PLACE.

• END POINT OF SECONDARY MIGRATION

TRAPS

SEEPAGES
SECONDARY MIGRATION
TROUGH CARRIER BED TO TRAP
SECONDARY MIGRATION
TROUGH CARRIER BED TO TRAP
BUYANCY AS DRIVING FORCE IN
SCONDARY MIGRATION .
BUOYANCY IS THE PRESSURE
DIFFERENCE BETWEEN A POINT IN
THE PETROLEUM COLOUMN AND
THE SURROUNDING PORE WATER.
IT IS A FUNCTION OF A PETROLEUM-
WATER DENSITY DIFFERENCE AND
THE HEIGHT OF THE PETROLEUM
COLOUMN.
A LARGE BUOYANCY PRESSURE
MAY DEVELOP AT THE TOPS OF
LARGE, LOW DENSITY (GAS)
PETROLEUM COLOUMNS.
PRESSURE MEASUREMENTS AT
POINT TROUGHOUT THE ETROLEUM
COLOUMN DEFINE A PETROLEUM
PRESSURE GRADIENT
THIS INTERSECT THE HYDROSTATIC
GRADIENT AT THE PETROLEUM-
WATER CONTACT.
SECONDARY MIGRATION
TROUGH CARRIER BED TO TRAP
SECONDARY MIGRATION
HYDROSTATIC CONDITION
 BUOYANCY IS THE ONLY DRIVING FORCE

HYDRODYNAMIC CONDITION
1. COULD INHIBIT OR ASSIST SECONDARY MIGRATION
2. AFFECTING THE DIRECTION AND RATE OF MIGRATION
3. INCREASING OR DECREASING THE DRIVING PRESSURES
AGAINST VERTICAL OR LATERAL SEALS
4. TILTING PETROLEUM WATER CONTACTS AND DISPLACING
PETROLEUM ACCUMULATION (OFF THE CREST OF STRUCTURAL
CLOSURE
BUOYANCY
FORCE

POTENSIAL PLANE

HYDRODYNAMIC
FORCE

HYDRODINAMIC
FLOW

HYDRODINAMIC TRAP
TILTING HC CONTACT
SECONDARY MIGRATION
TROUGH CARRIER BED TO TRAP
PORE SIZES ARE THE MOST IMPORTANT
ON SECONDARY MIGRATION AND
ENTRAPMENT
PORE SIZES CAN BE ESTIMATED
• THIN SECTION
• SEM
• DISPLACEMENT PRESSUREMICP
Idealized sandstone porosity system showing four basic pore types: intergranular,
microporosity, dissolution, and fracture.
SECONDARY MIGRATION
TROUGH CARRIER BED TO TRAP

Jalur Migrasi
 Gaya penggerak  BUOYANCY (Kemampuan suatu benda untuk
mengapung)
 Pergerakan HC dari daerah berenergi potensial tinggi ke energy
potensial rendah  ke arah zona lemah/permeabel
 Migrasi HC  kontur tercuram  HC cenderung bermigrasi dengan
jalur terpendek.
 HC bermigrasi secara lateral dan vertical tergantung pada kondisi
geologi yang dipengaruhi oleh konfigurasi struktur dan stratigrafi.
SECONDARY
MIGRATION
TROUGH
CARRIER BED
TO TRAP