Anda di halaman 1dari 39

ABORTUS PROVOKATUS KRIMINALIS

Oleh :

A Nabilla R Putri Makbul C111 13556

Ajeng Dwi Riani C111 13566

Reza Anshari Darwis C111 13568

Residen pembimbing : Supervisor :


dr. Herri David Octavianus Mundung dr. Truly D. Dasril, Sp.PA(K), DFM, Sp.F
DISCLAIMER
Abortus Provokatus Kriminalis, Andhyka Tumimomor, Nik Mohd Fauzan, R
ahimie bin Hanafi dan Amelia Tandriyadi, Desember 2017. No. REG 117/X
II/12/2017.
KERANGKA KONSEP
ABORTUS

MEDIS HUKUM

SPONTAN PROVOKATUS
PROVOKATUS UU ETIKA

ASPEK MEDIKOLEGAL
MEDISINALISS KRIMINALIS
KRIMINALIS

DEFINISI ETIOLOGI KLASIFIKASI METODE PEMERIKSAAN KOMPLIKASI


Latar Belakang
Di dunia, setiap tahun:

175.000.000 kehamilan terjadi  75.000.000 kehamilan


tidak diinginkan

Negara-negara umumnya mengancam pengguguran ilegal dengan hukuman,


kecuali bila atas indikasi medis.

Iswanty, M. Pertanggungjawaban Medis Terhadap Terjadinya Abortus Provokatus Criminalis (Tinjauan Hukum Kesehatan dan Psikologi Hukum). Fakultas Hukum Univ
ersitas Hasanuddin. ISSN: 2087-2291.Volume 1 Nomor 3, Mei 2012. Hal 399-405.
• Di Indonesia, setiap tahun >15.000.000 gadis (15-19 tahun)
mengalami kehamilan di luar nikah.
• 5.000.000 diantaranya melakukan abortus
• Indonesia:
• Tindakan abortus menjadi suatu bentuk pidana, dikenal dengan
abortus provokatus kriminalis.
• Namun, dibenarkan apabila memiliki indikasi medis  abortus
provokatus medikalis.

Kedokteran Forensik FK UI. Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik FK UI, 1997. 159-164.
Iswanty, M. Pertanggungjawaban Medis Terhadap Terjadinya Abortus Provokatus Criminalis (Tinjauan Hukum Kesehatan dan Psikologi Hukum). Fakultas Hukum Uni
versitas Hasanuddin. ISSN: 2087-2291.Volume 1 Nomor 3, Mei 2012. Hal 399-405.
DEFINISI ABORTUS

Abortus (aborsi, abortion) adalah berhentinya kehamilan sebelum janin mampu hidup di luar kandungan (viable)
atau sebelum usia kehamilan 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram.

(Prawiroharjo,, 2008)

Namun, pada KUHP yang mengatur hukum mengenai abortus, hanya disebutkan gugur atau mati
kandungan, sehingga dalam hukum tidak terdapat batasan umur kehamilan dan berat fetus.

(Budiyanto, 1997)

Prawiroharjo, Sarwono. Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT. Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo. Edisi ke 4:2008, 460-473
Kedokteran Forensik FK UI. Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik FK UI, 1997. 159-164.
ETIOLOGI ABORTUS
Kelainan
Perkembangan Faktor Maternal
Zigot

Faktor Paternal

Hoediyanto. Abortus. In: Hoediyanto, Hariadi. Buku Ajar Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal. Ed 8. Surabaya : Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medi
kolegal Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga; 2012.p. 292-301.
Prawiroharjo, Sarwono. Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT. Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo. Edisi ke 4:2008, 460-473
Undang-Undang Republik Indonesia No.36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
KLASIFIKASI ABORTUS
Dibagi menjadi empat tipe, yaitu:
1.Abortus yang terjadi secara spontan atau natural,
2.Abortus yang terjadi akibat kecelakaan,
3.Abortus provokatus medisinalis atau abortus terapeutik,
4.Abortus provokatus kriminalis.

Juita, S. Ratna, B. Rini Heryani. Perlindungan Hukum Pidana pada Korban Perkosaan yang Melakukan Abortus Provokatus. Fakultas Hukum. 2010: Vo
METODE PELAKSANAAN
ABORTUS PROVOKATUS KRIMINALIS

1. Obat-obatan

a) Antiprogestin : melisiskan corpus lutheum


b) Methotraxate
c) Prostaglandin
d) Oksitosin

National Right to Life. Abortion Technique. February 2014. Avalaible from : www.nrlc.org.
Azhari. 2002. Masalah Abortus dan Kesehatan Reproduksi Perempuan. Seminar Kelahiran Tidak Diinginkan (Aborsi) dalam Kesejahteraan Reproduksi Remaja. FK UNSRI
2. Tindakan medik

– Dilatasi: membuka cervix uteri dengan laminaria atau


kateter,
– Kuretase: tajam dan hisap (suction),
– Operasi laparotomi.

1. National Right to Life. Abortion Technique. February 2014. Avalaible from : www.nrlc.org.
2. Azhari. 2002. Masalah Abortus dan Kesehatan Reproduksi Perempuan. Seminar Kelahiran Tidak Diinginkan (Aborsi) dalam Kesejahteraan Reproduksi Remaja. FK UNSRI
3. Metode Tradisional
– Melakukan kegiatan fisik yang berat/berlebihan seperti meloncat
atau mengangkat barang berat,

– Memasukkan daun atau batang tanaman tertentu ke dalam rahim,

– Minum obat-obatan tradisional seperti jamu,

– Melakukan pemijatan pada rahim.

National Right to Life. Abortion Technique. February 2014. Avalaible from : www.nrlc.org.
Azhari. 2002. Masalah Abortus dan Kesehatan Reproduksi Perempuan. Seminar Kelahiran Tidak Diinginkan (Aborsi) dalam Kesejahteraan Reproduksi Remaja. FK UNSRI
Metode Abortus yang Dilakukan Secara Medis (Berdasarkan usia kehamilan)

Trimester I (< 12 minggu)


– Metode suction
– Dilatasi & Kuretasi
– Pil RU 486
– Suntikan Methotrexate

1. National Right to Life. Abortion Technique. February 2014. Avalaible from : www.nrlc.org.
2. Azhari. 2002. Masalah Abortus dan Kesehatan Reproduksi Perempuan. Seminar Kelahiran Tidak Diinginkan (Aborsi) dalam Kesejahteraan Reproduksi Remaja. FK UNSRI
Trimester II
– Metode dilatasi & evakuasi
– Metode racun garam (saline)
– Urea
– Prostaglandin
– Partial Birth Abortion

Trismester III
– Sayatan di perut dan rahim.

National Right to Life. Abortion Technique. February 2014. Avalaible from : www.nrlc.org.
Azhari. 2002. Masalah Abortus dan Kesehatan Reproduksi Perempuan. Seminar Kelahiran Tidak Diinginkan (Aborsi) dalam Kesejahteraan Reproduksi Remaja. FK UNSRI
PEMERIKSAAN ABORTUS PROVOKATUS KRIMINALIS
Pemeriksaan Korban Hidup
A.Pemeriksaan Ibu
1. Keadaan Umum dan Tanda-tanda Vital
2. Pemeriksaan Tanda-tanda Kehamilan
3. Tanda partus dan keguguran
4. Pemeriksaan Tanda-tanda Kekerasan
5. Golongan darah
6. Pemeriksaan toksikologi
7. Pemeriksaan makroskopik dan histopatologi
8. Pemeriksaan DNA

Kedokteran Forensik FK UI. Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik FK UI, 1997. 159-164.
Hoediyanto. Abortus. In: Hoediyanto, Hariadi. Buku Ajar Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal. Ed 8. Surabaya : Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedo
kteran Universitas Airlangga; 2012.p. 292-301.
Prawiroharjo, Sarwono. Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT. Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo. Edisi ke 4:2008, 460-473
Shepherd R. Simpson’s Forensic Medicine, 2 ed. Arnold, a member of the Hodder Headline Group .2003. hal 135-40.
Pemeriksaan Korban Mati
• Pemeriksaan Luar
• Identifikasi
• TB/BB, umur, pakaian, tanda-tanda kontak dengan suatu cairan, terutama pada
pakaian dalam
• Kondisi umum jenazah
- Tanda kematian
- Tanda kehamilan untuk menentukan wanita tersebut dalam keadaan hamil atau tidak
- Tanda persalinan/abortus
- Tanda kekerasan

1. Kedokteran Forensik FK UI. Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik FK UI, 1997. 159-164.
2. Hoediyanto. Abortus. In: Hoediyanto, Hariadi. Buku Ajar Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal. Ed 8. Surabaya : Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Ke
dokteran Universitas Airlangga; 2012.p. 292-301.
3. Prawiroharjo, Sarwono. Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT. Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo. Edisi ke 4:2008, 460-473
4. Shepherd R. Simpson’s Forensic Medicine, 2 ed. Arnold, a member of the Hodder Headline Group .2003. hal 135-40.
Pemeriksaan Dalam
1. Penentuan korban hamil atau tidak
2. Pemeriksaan organ secara keseluruhan
3. Pemeriksaan organ lokal
(genitalia interna)
• Tanda-tanda kekerasan yang
tidak wajar di genitalia interna.
A B

Gambar A. Septik endometritis setelah abortus ilegal. P


endarahan pada cervix menunjukkan dimana instrumen
t menembus saluran cervical.
Gambar B. Infeksi Clostridium perfringen (‘gas gangren
e’) pada abotus ilegal.

Kedokteran Forensik FK UI. Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik FK UI, 1997. 159-164.
Hoediyanto. Abortus. In: Hoediyanto, Hariadi. Buku Ajar Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal. Ed 8. Surabaya : Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedo
kteran Universitas Airlangga; 2012.p. 292-301.
Prawiroharjo, Sarwono. Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT. Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo. Edisi ke 4:2008, 460-473
Shepherd R. Simpson’s Forensic Medicine, 2 ed. Arnold, a member of the Hodder Headline Group .2003. hal 135-40.
Pemeriksaan Tambahan
– Golongan darah
– Mikrobiologi
– Emboli udara
– Histopatologi
– Toksikologi

Kedokteran Forensik FK UI. Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik FK UI, 1997. 159-164.
Hoediyanto. Abortus. In: Hoediyanto, Hariadi. Buku Ajar Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal. Ed 8. Surabaya : Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedo
kteran Universitas Airlangga; 2012.p. 292-301.
Prawiroharjo, Sarwono. Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT. Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo. Edisi ke 4:2008, 460-473
Shepherd R. Simpson’s Forensic Medicine, 2 ed. Arnold, a member of the Hodder Headline Group .2003. hal 135-40.
Umur
Panjang Badan (cm)
(bula
(Puncak kepala – tumit) PENENTUAN UMUR JANIN
n)
BERDASARKAN PANJANG BADA
1 1x1=1
N
2 2x2=4 (RUMUS HAASE)
3 3x3=9
4 4 x 4 = 16
5 5 x 5 = 25
6 6 x 5 = 30
7 7 x 5 = 35
8 8 x 5 = 40
9 9 x 5 = 45
10 10 x 5 = 50
Hoediyanto. Abortus. In: Hoediyanto, Hariadi. Buku Ajar Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal. Ed 8. Surabaya : Departemen Ilmu Kedokteran
Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga; 2012.p. 292-301.
Berdasarkan pertumbuhan bagian bagian tubuh.
Usia janin menurut pertumbuhan bagian tubuh

Umur
(Bula Ciri-ciri pertumbuhan
n)
Hidung, telinga, jari mulai terbentuk ( belum sempurna),kepala menempel ke
2
dada
Daun telinga jela, kelopak mata masih melekat,leher mulai terbentuk, belum
3
ada deferensiasi genetalia

4 Genetalia externa terbentuk dan dapat dikenali, kulit merah dan tipis sekali

5 Kulit lebih tebal, tumbuh bulu lanugo


6 Kelopak mata terpisah, terbentuk alis dan bulu mata, kulit keriput
7 Pertumbuhan lengkap dan sempurna
Hoediyanto. Abortus. In: Hoediyanto, Hariadi. Buku Ajar Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal. Ed 8. Surabaya : Departemen Ilmu Kedokteran
Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga; 2012.p. 292-301.
Berdasarkan inti penulangan
Calcaneus :  5- 6 bulan
Talus :  7 bulan
Femur :  8-9 bulan
Tibia :  9-10 bulan

1. Hoediyanto. Abortus. In: Hoediyanto, Hariadi. Buku Ajar Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal. Ed 8. Surabaya : Departemen Ilmu Kedokter
an Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga; 2012.p. 292-301.
Penilaian terhadap plasenta
Setelah bayi keluar akan terjadi proses pengeringan tali pusat baik dilahirkan
hidup maupun mati,
Tempat lekat akan terbentuk lingkaran merah setelah bayi hidup ± 36 jam,
Mengering menjadi seperti benang dalam waktu 6-8 hari,
Terjadi penyembuhan luka yang sempurna bila tidak terjadi infeksi dalam wa
ktu 15 hari.

Hoediyanto. Abortus. In: Hoediyanto, Hariadi. Buku Ajar Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal. Ed 8. Surabaya : Departemen Ilmu Kedokteran
Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga; 2012.p. 292-301.
Pemeriksaan Mikroskopik :
– Reaksi inflamasi yang mulai timbul
setelah 24 jam: sebukan sel-sel lekos
it berinti banyak,
Partus presipitatus (keberojolan) : pusat akan terputus deka
t perlekatannya pada uri atau pusat bayi dengan ujung yang
tidak rata

Hoediyanto. Abortus. In: Hoediyanto, Hariadi. Buku Ajar Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal. Ed 8. Surabaya : Departemen Ilmu Kedokteran
Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga; 2012.p. 292-301.
KOMPLIKASI
1. Inhibisi vagus
2. Perdarahan
3. Perforasi uterus
4. Luka atau robek pada serviks uteri
5. Keracunan obat/zat aborticum, termasuk karena
anestesia
6. Syok (renjatan) akibat refleks vasovagal atau
nerogenik
7. Emboli udara dapat terjadi pada teknik
penyemprotan cairan ke dalam uterus
8. Infeksi dan sepsis

1. Kedokteran Forensik FK UI. Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik FK UI, 1997. 159-164.
2. Azhari. 2002. Masalah Abortus dan Kesehatan Reproduksi Perempuan. Seminar Kelahiran Tidak Diinginkan (Aborsi) dalam Kesejahteraan Reproduksi Remaja. FK UNSRI
ASPEK MEDIKOLEGAL
ABORTUS PROVOKATUS
KRIMINALIS
Abortus provokatus kriminalis sering terjadi pada:
1. Wanita hamil diluar pernikahan,
2. Kehamilan yang tidak dikehendaki.

Hoediyanto. Abortus. In: Hoediyanto, Hariadi. Buku Ajar Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal. Ed 8. Surabaya : Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikoleg
al Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga; 2012.p. 292-301.
Dasar Hukum Abortus di Indonesia
Di Indonesia, perihal mengenai abortus diatur dalam.Regulasi tentang
pengguguran kandungan yang disengaja (abortus provocatus) dalam
Kitab Undang- Undang Hukum Pidana (KUHP) diatur dalam Bab
XIX Pasal 346 sampai dengan Pasal 349, dan digolongkan ke dalam
kejahatan terhadap nyawa

Iswanty, M. Pertanggungjawaban Medis Terhadap Terjadinya Abortus Provokatus Criminalis (Tinjauan Hukum Kesehatan dan Psikologi Hukum). Fakultas Hukum Universitas
Hasanuddin. ISSN: 2087-2291.Volume 1 Nomor 3, Mei 2012. Hal 399-405.
Juita, S. Ratna, B. Rini Heryani. Perlindungan Hukum Pidana pada Korban Perkosaan yang Melakukan Abortus Provokatus. Fakultas Hukum. 2010: Vol. 12:142-58.
Undang-Undang Republik Indonesia No.36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
Kitab Undang-undang Hukum Pidana Indonesia, Buku II: Kejahatan
a. Pasal 346
Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan kandun
gannya atau menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana p
enjara paling lama empat tahun.

b. Pasal 347
Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandun
gan seorang wanita tanpa persetujuannya, diancam dengan pidana pe
njara paling lama dua belas tahun.
Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut diancam de
ngan pidana penjara paling lama lima belas tahun.

Iswanty, M. Pertanggungjawaban Medis Terhadap Terjadinya Abortus Provokatus Criminalis (Tinjauan Hukum Kesehatan dan Psikologi Hukum). Fakultas Hukum Universitas
Hasanuddin. ISSN: 2087-2291.Volume 1 Nomor 3, Mei 2012. Hal 399-405.
Juita, S. Ratna, B. Rini Heryani. Perlindungan Hukum Pidana pada Korban Perkosaan yang Melakukan Abortus Provokatus. Fakultas Hukum. 2010: Vol. 12:142-58.
Undang-Undang Republik Indonesia No.36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
Kitab Undang-undang Hukum Pidana Indonesia, Buku II: Kejahatan
c. Pasal 348
1)Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandu
ngan seorang wanita dengan persetujuannya, diancam dengan pidana
penjara paling lama lima tahun enam bulan.

2)Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, diancam


dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.

Iswanty, M. Pertanggungjawaban Medis Terhadap Terjadinya Abortus Provokatus Criminalis (Tinjauan Hukum Kesehatan dan Psikologi Hukum). Fakultas Hukum Universitas
Hasanuddin. ISSN: 2087-2291.Volume 1 Nomor 3, Mei 2012. Hal 399-405.
Juita, S. Ratna, B. Rini Heryani. Perlindungan Hukum Pidana pada Korban Perkosaan yang Melakukan Abortus Provokatus. Fakultas Hukum. 2010: Vol. 12:142-58.
Undang-Undang Republik Indonesia No.36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
Kitab Undang-undang Hukum Pidana Indonesia, Buku II: Kejahatan
d. Pasal 349
Jika seorang dokter, bidan atau juru obat membantu melakukan kejah
atan berdasarkan pasal 346, ataupun melakukan atau membantu mel
akukan salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 347 dan 3
48, maka pidana yang ditentukan dalam pasal itu dapat ditambah den
gan sepertiga dan dapat dicabut hak untuk menjalankan pencarian da
lam mana kejahatan dilakukan.

Iswanty, M. Pertanggungjawaban Medis Terhadap Terjadinya Abortus Provokatus Criminalis (Tinjauan Hukum Kesehatan dan Psikologi Hukum). Fakultas Hukum Universitas
Hasanuddin. ISSN: 2087-2291.Volume 1 Nomor 3, Mei 2012. Hal 399-405.
Juita, S. Ratna, B. Rini Heryani. Perlindungan Hukum Pidana pada Korban Perkosaan yang Melakukan Abortus Provokatus. Fakultas Hukum. 2010: Vol. 12:142-58.
Undang-Undang Republik Indonesia No.36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
Kitab Undang-undang Hukum Pidana Indonesia, Buku II: Kejahatan
e. Pasal 283
1)Diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak sembilan ribu
rupiah, barang siapa menawarkan, memberikan untuk terus maupun untuk sementara waktu, menyerahkan a
tau memperlihatkan tulisan, gambaran atau benda yang melanggar kesusilaan, maupun alat untuk mencegah at
au menggugurkan kehamilan kepada seorang yang belum dewasa, dan yang diketahui atau sepatutnya harus di
duga bahwa umumya belum tujuh belas tahun, jika isi tulisan, gambaran, benda atau alat itu telah di
ketahuinya.

2)Diancam dengan pidana yang sama, barang siapa membacakan isi tulisan yang melanggar kesusilaan d
i muka orang yang belum dewasa sebagaimana dimaksud dalam ayat yang lalu, jika isi tadi telah diketahuinya.

3)Diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan atau pidana kurungan paling lama tiga bulan atau p
idana denda paling banyak sembilan ribu rupiah, barang siapa menawarkan, memberikan untuk terus maupun u
ntuk sementara waktu, menyerahkan atau memperlihatkan, tulis- an, gambaran atau benda yang melanggar kes
usilaan, maupun alat untuk mencegah atau menggugurkan kehamilan kepada seorang yang belum dewasa seb
agaimana dimaksud dalam ayat pertama, jika ada alasan kuat baginya untuk menduga, bahwa tulisan, gambara
n atau benda yang melanggar kesusilaan atau alat itu adalah alat untuk mencegah atau menggugurkan kehamil
an.

Iswanty, M. Pertanggungjawaban Medis Terhadap Terjadinya Abortus Provokatus Criminalis (Tinjauan Hukum Kesehatan dan Psikologi Hukum). Fakultas Hukum Universitas
Hasanuddin. ISSN: 2087-2291.Volume 1 Nomor 3, Mei 2012. Hal 399-405.
Juita, S. Ratna, B. Rini Heryani. Perlindungan Hukum Pidana pada Korban Perkosaan yang Melakukan Abortus Provokatus. Fakultas Hukum. 2010: Vol. 12:142-58.
Undang-Undang Republik Indonesia No.36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
Kitab Undang-undang Hukum Pidana Indonesia, Buku II: Kejahatan
f. Pasal 299

1)Barang siapa dengan sengaja mengobati seorang wanita atau menyuruh


supaya diobati, dengan diberitahukan atau ditimbulkan harapan bahwa
karena pengobatan itu hamilnya dapat digugurkan, diancam dengan pidana
penjara paling lama empat tahun atau pidana denda paling banyak empat
puluh lima ribu rupiah.

2)Jika yang bersalah berbuat demikian untuk mencari keu tungan, atau me
njadikan perbuatan tersebut sebagai pencarian atau kebiasaan, atau jika
dia seorang tabib, bidan atau juruobat, pidananya dapat ditambah sepertiga

3)Jika yang bersalah melakukan kejahatan tersebut dalam menjalankan


pencariannya, dapat dicabut haknya untuk menjalakukan pencarian itu.

Iswanty, M. Pertanggungjawaban Medis Terhadap Terjadinya Abortus Provokatus Criminalis (Tinjauan Hukum Kesehatan dan Psikologi Hukum). Fakultas Hukum Universitas
Hasanuddin. ISSN: 2087-2291.Volume 1 Nomor 3, Mei 2012. Hal 399-405.
Juita, S. Ratna, B. Rini Heryani. Perlindungan Hukum Pidana pada Korban Perkosaan yang Melakukan Abortus Provokatus. Fakultas Hukum. 2010: Vol. 12:142-58.
Undang-Undang Republik Indonesia No.36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
Kitab Undang-undang Hukum Pidana Indonesia, Buku II: Kejahatan
g. Pasal 535
Barang siapa secara terang-terangan mempertunjukan suatu sarana
untuk menggugurkan kandungan, maupun secara terang-terangan a
tau tanpa diminta menawarkan sarana atau pertolongan untuk meng
gugurkan kandungan, ataupun secara terang-terangan atau dengan
menyiarkan tulisan tanpa diminta, menyatakan bahwa sarana atau p
ertolongan yang demikian itu bisa didapat, diancam dengan pidana k
urungan paling lama tiga bulan atau pidana denda paling banyak em
pat ribu lima ratus rupiah.

Iswanty, M. Pertanggungjawaban Medis Terhadap Terjadinya Abortus Provokatus Criminalis (Tinjauan Hukum Kesehatan dan Psikologi Hukum). Fakultas Hukum Universitas
Hasanuddin. ISSN: 2087-2291.Volume 1 Nomor 3, Mei 2012. Hal 399-405.
Juita, S. Ratna, B. Rini Heryani. Perlindungan Hukum Pidana pada Korban Perkosaan yang Melakukan Abortus Provokatus. Fakultas Hukum. 2010: Vol. 12:142-58.
Undang-Undang Republik Indonesia No.36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
Kitab Undang-undang Hukum Pidana Indonesia, Buku II: Kejahatan
Sedangkan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan ya
ng menggantikan undang-undang kesehatan sebelumnya yaitu Undang-U
ndang Nomor 23 tahun 1992, melalui Pasal 75,76, dan Pasal 77 memberi
kan penegasan mengenai pengaturan pengguguran kandungan (abortus
provocatus).

Iswanty, M. Pertanggungjawaban Medis Terhadap Terjadinya Abortus Provokatus Criminalis (Tinjauan Hukum Kesehatan dan Psikologi Hukum). Fakultas Hukum Universitas
Hasanuddin. ISSN: 2087-2291.Volume 1 Nomor 3, Mei 2012. Hal 399-405.
Juita, S. Ratna, B. Rini Heryani. Perlindungan Hukum Pidana pada Korban Perkosaan yang Melakukan Abortus Provokatus. Fakultas Hukum. 2010: Vol. 12:142-58.
Undang-Undang Republik Indonesia No.36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
Kitab Undang-undang Hukum Pidana Indonesia, Buku II: Kejahatan
a. Pasal 75

1) Setiap orang dilarang melakukan aborsi.


2) Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikecualikan berdasarkan:
- indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan, baik yang me
ngancam nyawa ibu dan/atau janin, yang menderita penyakit genetik berat dan/at
au cacat bawaan, maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi
tersebut hidup di luar kandungan; atau
- kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi
korban perkosaan.
3) Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya dapat dilakukan setelah
melalui konseling dan/atau penasehatan pra tindakan dan diakhiri dengan konsel
ing pasca tindakan yang dilakukan oleh konselor yang kompeten dan berwenang
.
4) Ketentuan lebih lanjut mengenai indikasi kedaruratan medis dan perkosaan,
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan
Pemerintah.
Iswanty, M. Pertanggungjawaban Medis Terhadap Terjadinya Abortus Provokatus Criminalis (Tinjauan Hukum Kesehatan dan Psikologi Hukum). Fakultas Hukum Universitas
Hasanuddin. ISSN: 2087-2291.Volume 1 Nomor 3, Mei 2012. Hal 399-405.
Juita, S. Ratna, B. Rini Heryani. Perlindungan Hukum Pidana pada Korban Perkosaan yang Melakukan Abortus Provokatus. Fakultas Hukum. 2010: Vol. 12:142-58.
Undang-Undang Republik Indonesia No.36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
Kitab Undang-undang Hukum Pidana Indonesia, Buku II: Kejahatan
Pasal 76
•Aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 hanya dapat dilakukan:
a) sebelum kehamilan berumur 6 (enam) minggu dihitung dari hari
pertama haid terakhir, kecuali dalam hal kedaruratan medis;
b) oleh tenaga kesehatan yang memiliki keterampilan dan kewenangan
yang memiliki sertifikat yang ditetapkan oleh menteri;
c) dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan;
d) dengan izin suami, kecuali korban perkosaan; dan
e) penyedia layanan kesehatan yang memenuhi syarat yang ditetapkan
oleh Menteri.

Iswanty, M. Pertanggungjawaban Medis Terhadap Terjadinya Abortus Provokatus Criminalis (Tinjauan Hukum Kesehatan dan Psikologi Hukum). Fakultas Hukum Universitas
Hasanuddin. ISSN: 2087-2291.Volume 1 Nomor 3, Mei 2012. Hal 399-405.
Juita, S. Ratna, B. Rini Heryani. Perlindungan Hukum Pidana pada Korban Perkosaan yang Melakukan Abortus Provokatus. Fakultas Hukum. 2010: Vol. 12:142-58.
Undang-Undang Republik Indonesia No.36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
Kitab Undang-undang Hukum Pidana Indonesia, Buku II: Kejahatan
Pasal 77
Pemerintah wajib melindungi dan mencegah perempuan dari aborsi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) dan ayat (3) yang tid
ak bermutu, tidak aman, dan tidak bertanggung jawab serta bertentan
gan dengan norma agama dan ketentuan peraturan perundang - und
angan.

Iswanty, M. Pertanggungjawaban Medis Terhadap Terjadinya Abortus Provokatus Criminalis (Tinjauan Hukum Kesehatan dan Psikologi Hukum). Fakultas
Hukum Universitas Hasanuddin. ISSN: 2087-2291.Volume 1 Nomor 3, Mei 2012. Hal 399-405.
Juita, S. Ratna, B. Rini Heryani. Perlindungan Hukum Pidana pada Korban Perkosaan yang Melakukan Abortus Provokatus. Fakultas Hukum. 2010: Vol. 12
:142-58.
Undang-Undang Republik Indonesia No.36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
Kitab Undang-undang Hukum Pidana Indonesia, Buku II: Kejahatan
KESIMPULAN
Abortus Provokatus Kriminalis merupakan masalah yang ada namun susah terdeteksi k
arena laporan yang kadang tidak sampai ke aparat hukum untuk ditindak lebih lanjut, ka
dang abortus telah terjadi dan masalah itu dianggap selesai, kecuali pelaku abortus ters
ebut meninggal dunia barulah kadang ada laporan dari pihak rumah sakit atau klinik tem
pat kejadian.
Sanksi hukum yang dijatuhkan untuk pelaku abortus, yang ikut membantu melakukan da
n yang berhubungan dengan abortus tersebut sudah diatur dan telah diterapkan oleh p
ara penegak hukum, sesuai KUHP dan UU Kesehatan
SARAN
1. Petugas kesehatan yang tersebar di seluruh pelosok, lebih
memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang bahaya
tindakan abortus, bahkan bisa menyebabkan kematian.
2. Petugas kesehatan juga diberikan pengetahuan hukum tentang
sanksi yang akan diberikan kepada pelaku, dan membantu
melakukan abortus.
TERIMA KASIH