Anda di halaman 1dari 61

Aswin Dani Swara(0317012792)

Pendahuluan
 Ikan Cupang Merupakan ikan asli Asia Tenggara yang
cukup populer di masyarakat.
 Ikan cupang alam terbagi menjadi 13 kelompok spesies
ditinjau dari karakter morfologinya .
 Memiliki warna menarik, sisik yang indah dan bentuk
tubuh yang menawan.
 Pecinta ikan cupang dan pembudidaya ikan cupang
sering mengkawin silangkan ikan cupang demi
menghasilkan keturunan yang baik dan menarik.
Judul
 Keragaman Pertumbuhan Dan Warna Ikan Cupang (Betta sp.)
Dengan Rekayasa Inyensitas Cahaya Dan Warna Latar

 Pengaruh Ekstak Cabe Merah Terhadap Pigmentasi Kadar


Leukosit dan Pertumbuhan Ikan Cupang Pada Dosis Yang
Berbeda

 Pengaruh Perbedaan Jenis Pakan Aalami Daphnia , Jentik


Nyamuk dan Sacing Sutera Terhadap Pertumbuhan Ikan Cupang
Hias

 Maskulinisasi Ikan Cupang Dengan Ekstrak Tanaman


Purwocwng Melaluui Perendaman Artemia

 Maskulinisasi ikan cupang melalui perendaman embrio


dalam ekstrak purwoceng
Keragaman Pertumbuhan Dan Warna Ikan Cupang (Betta
sp.) Dengan Rekayasa Inyensitas Cahaya Dan Warna Latar
Riani Rahmawati 2016

Pendahuluan
 Kualitas ikan hias ditinjau dari segi warna dan juga
pertumbuhan yang baik.
 Perubahan warna biasanya terjadi hanya pada
kecerahan dan keburamannya saja yang disebabkan
adanya perubahan jumlah sel pigmen.
 Perubahan sel pigmen, terutama melanin,
dipengaruhi atau dikontrol oleh hormon pituitari dan
adrenalin (yang disekresikan dari otak)
Bahan & Metode
 ikan wild betta (Betta sp.) dengan panjang 2,4 ± 0,2 cm
dan bobot 0,29 ± 0,03 g.
 Ikan dipelihara dalam wadah kecil berukuran 20 cm x
10 cm x 20 cm yang diletakkan dalam akuarium besar
berukuran 80 cm x 50 cm x 50 cm
 Wadah dipasang air menggenang (water bath) untuk
menstabilkan suhu, dan dipasang heater dalam
wadah pemeliharaan pada suhu 28°C
 Wadah kecil berjumlah 27 buah yang ditempatkan
dalam tiga akuarium besar
Bahan & Metode
 setiap akuarium besar diisi wadah kecil sebanyak
sembilan buah
 Setiap wadah diisi tiga ekor ikan cupang sebagai
ulangan individu
 perlakuan yang diterapkan dengan perbedaan
intensitas cahaya dan warna latar
 Setiap kombinasi perlakuan diulang sebanyak tiga kali
 Pakan yang diberikan berupa larva nyamuk secara ad
libitum dengan frekuensi pemberian pakan dua kali
sehari
 Penilaian perubahan warna dihitung dengan cara
membandingkan warna badan ikan uji bagian lateral
dengan salah satu warna yang terdapat Toca Colour
Finder (TCF)
 Penelitian dilakukan selama 84 hari dan setiap tiga
minggu sekali dilakukan pengukuran panjang dan
bobot
 Parameter utama yang diamati dalam penelitian ini
adalah perubahan warna, pertumbuhan panjang, dan
bobot, serta sintasan
Perlakuan
Intensitas cahaya (Lux) Warna latar
100 Putih
100 Hitam
100 Bitu
800 Putih
800 Hitam
800 Biru
1500 Putih
1500 Hitam
1500 Biru
Hasil
Tabel Laju pertumbuhan panjang dan bobot serta sintasan pada setiap perlakuan
kombinasi
Hasil dan Pembahasan
 Perlakuan kombinasi antara intensitas cahaya dan warna
latar yang berbeda memberikan pengaruh yang nyata
terhadap laju pertumbuhan spesifik panjang dan bobot
 Namun tidak berpengaruh nyata terhadap sintasan
 Ikan yang diberikan perlakuan dengan latar putih dan
intensitas cahaya 100 lux menunjukkan pertumbuhan
panjang yang paling tinggi (0,48 ± 0,06%/hari) dari
pada perlakuan lainnya.
 Tingkat pertumbuhan ikan lebih tinggi pada tangki
putih daripada tangki hitam.
 Habitat ikan cupang di alam yaitu pada lahan gambut
dengan kondisi cahaya yang rendah.
 Pada kondisi intensitas cahaya cahaya rendah (100 lux)
ikan menjadi lebih tenang dan tidak stres.
 Dengan kombinasi warna latar putih akan membuat pakan
lebih jelas terlihat dalam kondisi cahaya rendah, sehingga
pakan lebih mudah tertangkap dan nafsu makan ikan lebih
baik dalam kondisi sesuai habitatnya (cahaya rendah)
 Sintasan yang diperoleh selama penelitian pada masing-
masing perlakuan sebesar 100%, hal ini menunjukkan
tingkat sintasan dan toleransi yang baik biota uji terhadap
perlakuan kombinasi intensitas cahaya dan warna latar.
 ikan yang diberikan perlakuan intensitas cahaya yang
lebih tinggi dan latar yang lebih terang akan membuat
ikan menjadi lebih pucat.
 Dalam kondisi cahaya dan warna latar yang sesuai,
maka warna badan ikan akan menjadi cerah (tidak
pucat) dengan warna badan yang tegas dan jelas.
 Cahaya yang terlalu kuat bisa menyebabkan stres atau
bahkan mematikan.
 Ikan cupang yang mendapatkan cahaya yang optimal
akan memunculkan warna yang lebih tegas, hal ini
diduga reaksi dari pigmen melanofor akan
menghasilkan warna yang lebih baik dalam kondisi
cahaya yang sesuai
Kesimpulan
 Ikan cupang yang dipelihara pada kondisi cahaya dan
warna latar yang tidak optimal membuat warna ikan
cenderung lebih pucat dan stres, sehingga
memperlambat pertumbuhannya.
 Pertumbuhan dan kualitas warna ikan cupang (Betta
sp.) terlihat lebih baik pada kondisi pemeliharaan
intensitas cahaya rendah (100 lux) dan warna latar
putih
Sutia Budi 2013
Pendahuluan
 Ikan Cupang adalah salah satu jenis hewan peliharaan yang
mempunyai daya tarik pada warna yang dimunculkan dari
tubuhnya.
 Berbagai warna-warni indah pada ikan pada dasarnya
dihasilkan oleh sel-sel pigmen (chromatophore) yang terletak
pada kulit ikan.
 sel pigmen memiliki kemampuan untuk menyesuaikan
dengan lingkungan dan aktifitas seksual
 jumlah dan letak pergerakan kromatofor mempengaruhi
tingkat kecerahan warna pada ikan
 Pengembangan budidaya ikan Cupang masih mengalami
kendala seperti tingkat pertumbuhan yang masih rendah,
kualitas warna dan serangan penyakit pada saat dibudidayakan
 Salah satu cara untuk meminimalisir penyebab stres pada
ikan dan meningkatkan sistem immunitas pada ikan,
dengan pemberian bahan-bahan aktif yang terkandung
dalam tanaman.
 Mafolimbo (2002) mengatakan bahwa ekstrak cabai
mengandung karotenoid yang berfungsi sebagai antioksida
yang tinggi dalam menghambat reaksi radikal bebas
 Mangku (2006)Cabai Merah memiliki kandungan pigmen
alami barupa anthosianin yang dapat di ekstrasi dan
dimanfaatkan sebagai bahan pewarna alami.
 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh
ekstrak kasar cabai merah terhadap pola pigmentasi pada
ikan cupang
Materi
 Ekstrak kasar cabai merah dan pakan komersil
 Ikan cupang (Betta splendens) berumur 1 bulan
dengan bobot rata-rata 0.029±0.012 g
 Wadah : toples plastic volume 5 L
 Volume air : 2,5 L
 Kepadatan ikan : 1 ekor./L
Metode
 Rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan dan masing–
masing 3 ulangan
 Perlakuan yang diujikan adalah perbedaan dosis ekstrak cabai
merah dalam pakan yang diberikan, yaitu :
 Perlakuan A (0%),
 Perlakuan B (5%),
 Perlakuan C (10%) dan
 Perlakuan D (15%).
 Pemberian pakan pada pagi hari dengan komposisi 3% dari
berat tubuh ikan
 Pergantian air dilakukan setiap 3 hari sekali dengan frekuensi
100%
Metode
 Pengukuran tingkat pertumbuhan ikan cupang
dilakukan dengan penimbangan berat tubuh ikan setiap
minggu
 Pengukuran parameter uji pigemntasi dan pertumbuhan
dilakukan setiap minggu
 Parameter uji leukosit darah dilakukan pada akhir
penelitian dengan mengambil darah pada jaringan ekor
sebanyak 1 cc per ikan
 Analisis tingkat kecerahan warna ikan cupang
menggunakan metode modifikasi Toca Colour Finder
yang telah diberi skor (1-9)
Hasil uji pigmentasi
• Pengaruh ekstrak cabai merah
hanya bertahan selama 2
minggu
• Pengaruh ekstrak cabai merah
mampu meningkatkan
kecerahan warna namun
mengalami penurunan pada
minggu ke tiga kemudian
meningkat kembali pada
minggu ke empat

o Kebutuhan ikan terhadap pigmentasi yang berasal dari cabai merah hanya
dibutuhkan dalam jumlah dan waktu yang sesuai dengan kebutuhan proses
metabolisme
o Mc Coy (1999), bahwa pembangkit warna astaxanthin hanya diperlukan dalam
jumlah seperlunya sesuai dengan kemampuan sel-sel pengatur warna pada ikan
karena pemberian astaxanthin secara berlebihan akan dibuang oleh ikan melalui
feses
 Ikan cupang yang diberikan perlakuan pakan yang
ditambahkan ekstrak cabai merah mengalami
perubahan warna biru lebih cepat
 Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak cabai merah
dapat diserap dan disintesis dengan baik oleh ikan
cupang.
 Dan cabai merah berpotensi sebagai sumber pakan
untuk ikan
Hasil uji leukosit (sel darah putih)

• Nilai Total Leukosit pada perlakuan ekstrak Cabai Merah menunjukkan nilai lebih
tinggi (B,C,D) dibandingkan perlakuan tanpa ekstrak Cabai Merah(A)

• Hasil analisis sidik ragam menunjukkan terdapat pengaruh dosis ekstrak cabai
merah terhadap nilai leukosit darah pada ikan cupang
 Parameter darah menjadi salah satu indicator adanya perubahan
kondisi kesehatan ikan baik akibat factor infeksi
(mikrooganisme) atau karena factor non infeksi (oleh
lingkungan, nutrisi, genetic)
 Leukosit merupakan sel darah putih yang diproduksi oleh
jaringan hemopoetik yang berfungsi untuk membantu tubuh
melawan berbagai penyakit infeksi sebagai bagian dari
kekebalan tubuh
 Moyle dan Cech (2004), Leukosit membantu membersihkan
tubuh dari benda asing, termasuk invasi patogen lewat sistem
tanggapkebal.
 Ikan yang sakit akan menghasilkan lebih banyak sel darah putih
untuk menghasilkan antibodi (limfosit) atau memfagosit bakteri
(heterofil dan monosit)
Hasil Pertumbuhan

• Hasil analisis sidik ragam pertumbuhan ikan cupang Betta splendens menunjukkan
bahwa perlakuan tidak memberikan pengaruh nyata
• Tingginya pertumbuhan ini disebabkan karena perlakuan mampu menghasilkan enzim
– enzim sehingga ikan dapat mencerna pakan dengan baik dan nutrisi yang diserap
lebih banyak
Kesimpulan
 Pemberian ekstrak Cabai Merah pada pakan ikan Cupang
yang mengandung zat aktif berperan memberikan
pengaruh yang baik terhadap pigmentasi, kadar leukosit
dan pertumbuhan.

 Dosis terbaik tidak melewati 10%, karena setelah kisaran


dosis tersebut tidak memberikan pengaruh terhadap
peningkatan pigmentasi dan pertumbuhan.
Bisrul Nafi 2010
Pendahuluan
 Ikan cupang hias adalah salah satu jenis ikan hias yang
mempunyai nilai ekonomis tinggi dan populer d
masyarakat.
 Pertumbuhan ikan cupang hias yang relatif lambat
 Salah satu solusi meningkatkan pertumbuhan
diantaranya melalui pendekatan nutrisi pakan yang
sesuai dengan pertumbuhan ikan cupang
 Pakan alami sangat baik untuk ikan cupang karena
kandungan gizi yang terdapat di dalamnya lengkap,
meliputi protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan
mineral
Bahan
 ikan cupang hias jenis Halfmoon dengan ukuran panjang
tubuh 1-1,5 cm
 Padat tebar : 8 ekor ikan/akuarium
 Wadah : 9 akuarium( 30 x 25 x 25 cm)
 volume air : 16L
 Air yang digunakan : air sumur yang diberi daun ketapang
kering
 Pakan uji : Daphnia sp, Jentik Nyamuk (Culex sp) dan
Cacing Sutera (Tubifex sp)
 Jumlah pakan yang diberikan secara ad libitum dan
diberikan 3 kali sehari pada waktu pagi, siang dan sore hari
 Penelitian dilaksanakan selama 1 bulan (31 hari)
Metode
 Rancangan percobaan : RAL (Rancangan Acak Lengkap)
 3 perlakuan dan tiap perlakuan dilakukan pengulangan
sebanyak 3 kali
 Hal yang diamati dalam penelitian ini adalah
pertumbuhan biomassa ikan
 penimbangan tiap 1 minggu sekali
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel pertumbuhan biomasa ikan (gram)
Perlakuan
Ulangan
A B C
1 1,83 3,47 7,52
2 1,58 3,98 6,21
3 2,05 2,96 5,14
Total 5,46 10,41 18,87
Rerata 1,82 3,47 6,29

Keterangan :
A = Daphnia sp
B = Jentik Nyamuk (Culex sp)
C = Cacing Sutera (Tubifex sp)
 Rata-rata pertumbuhan biomassa ikan cupang hias
tertinggi dicapai pada perlakuan menggunakan cacing
sutera sebesar 6,29 g
 Hasil analisis ragam diketahui bahwa perbedaan jenis
pakan alami yang diberikan berpengaruh sangat nyata
terhadap pertumbuhan biomassa ikan cupang hias
 Kandungan nutrisi yang terdapat pada cacing sutera
(Tubifex sp) lebih tinggi dibandingkan kandungan
nutrisi yang terdapat pada jentik nyamuk dan Daphnia
sp.
 Jenis pakan yang mengandung nutrisi tinggi dan
sesuai dengan kebutuhan ikan akan menghasilkan
pertumbuhan yang tinggi pula, demikian pula
sebaliknya
• Perlakuan cacing sutera menghasilkan
pertumbuhan paling tinggi karena
kandungan protein dan lemaknya lebih
besar

• Atmadjaja & Sitanggang (2008)


menyatakan bahwaik an cupang sebagai
ikan karnivora membutuhkan lebih anyak
protein yakni sebesar 50% untuk
pertumbuhan badannya

• Jika lemak dalam pakan tidak mencukupi


kebutuhan ikan, maka energi untuk
beraktivitas diambil dari protein sehingga
pertumbuhan menjadi terhambat
(Mokoginta dkk, 2000)
 Pertumbuhan ikan dipengaruhi oleh beberapa faktor,
salah satunya adalah jumlah dan ukuran pakan
 Ditinjau dari segi ukurannya;
 cacing sutera (Tubifex sp) berukuran 1-2 cm,
 jentik nyamuk (Culex sp) berukuran 10 – 25 mm dan
 Daphnia sp berukuran 500 – 1000 µ
 Ukuran jenis pakan yang lebih kecil dari bukaan
mulut ikan akan berpengaruh terhadap jumlah
biomassa pakan yang dimakan.
 Ikan tidak kenyang bila dibandingkan dengan ukuran
jenis pakan yang sesuai dengan bukaan mulut ikan
dengan aktivitas makan yang sama
Kesimpulan
1. Perbedaan jenis pakan alami(Daphnia sp, jentik
nyamuk dan cacing sutera) berpengaruh sangat nyata
terhadap pertumbuhan ikan cupang hias
2. Pertumbuhan biomassa ikan cupang hias paling tinggi
pada perlakuan cacing sutera, kemudian perlakuan
jentik nyamuk dan paling rendah perlakuan Daphnia
sp.
3. Kisaran kualitas air media selama penelitian masih
berada pada kisaran yang layak untuk pertumbuhan
ikan cupang hias
DWI CAHYANI 2014
Pendahuluan
 Para pembudidaya ikan cupang berusaha
penghasilkan populasi jantan yang lebih tinggi
 Agresivitas ikan cupang, terutama jantan, menjadi
daya tarik tersendiri
 Ikan cupang jantan lebih banyak diminati dan
memiliki harga jual yang lebih tinggi dibandingkan
dengan betinanya
 Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan
populasi jantan ikan cupang adalah melalui sex
reversal dengan teknik maskulinisasi ikan
Pendahuluan
 Salah satu bahan alternatif yang dapat digunakan sebagai
hormon steroid untuk melakukan maskulinisasi pada ikan,
selain hormon 17α-methyltestosterone (MT) adalah purwoceng
(Putra 2011) yang merupakan bahan alami
 Purwoceng mengandung senyawa fitosteroid, berupa
stigmasterol sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan
maskulinisasi pada ikan.
 Maskulinisasi ikan dapat dilakukan melalui perendaman embrio
maupun secara oral yaitu melalui pakan.
 (+) Artemia : - sesuai bukaan mulut larva
- tidak mencemari lingkungan
- Mudah dicerna
- bersifat non selective filter feeder (penyaring
tidak selektif ) dalam mengambil makanan
Bahan
 Larva ikan cupang 30 ekor/ akuarium
 Akuarium (15 x 15 x 20 cm)
 Toples plastik bervolume 3,5 liter
 Toples plastik bervolume 350 mL
 Bubuk tanaman purwoceng
 Hormon 17α-methyletestosterone (MT)
 Artemia sp.
Metode
 Penelitian ini terdiri atas kontrol, satu kontrol positif
(MT), dan tiga perlakuan ekstrak tanaman purwoceng,
masing-masing dengan tiga kali ulangan
 Persiapan artemia
 7,5 gram artemia yang telah ditetaskan dengan air bersalinitas
35 g/l selama 24 jam telah siap dipanen.
 Dibagi dalam 5 wadah dgn vol air yg beda :
 volume 100 mL (kontrol)
 99 mL (MT dan P20)
 98 mL (P40)
 97 mL (P60)
 Perendaman Artemia dengan Ekstrak Tanaman
Purwoceng
 Pada P20 digunakan 1 mL ekstrak tanaman purwoceng dari
larutan stok
 Pada P40 digunakan 2 mL ekstrak tanaman purwoceng dari
larutan stok
 Pada P60 digunakan 3 mL ekstrak tanaman purwoceng dari
larutan stok
 Volume perendaman pada masing-masing perlakuan adalah
100 mL
 Selanjutnya diaerasi kuat selama 24 jam.

 Perendaman Artemia dengan Larutan Hormon MT


 Artemia hasil penetasan sebanyak 99 mL ditambah dengan 1
mL larutan hormon MT
 diaerasi kuat selama 24 jam.
 disaring dan diberikan sebagai pakan larva.

 Artemia hasil perendaman diberikan pada larva sejak


berumur 4 hari setelah menetas s/d 40 hari
Tahap perlakuan
 Larva dengan kepadatan 30 ekor per akuarium dipelihara hingga
berumur 17 hari
 Larva berumur 18 hari dilakukan penjarangan dengan
kepadatan larva berkisar 8 – 15 ekor per wadah untuk setiap
perlakuan
 Wadah toples plastik bervolume 3,5 liter
 Larva berumur 27 hari dilakukan penjarangan dengan
ditempatkan di wadah yang berbeda setiap ekornya
 Wadah berbeda berupa gelas-gelas plastik bervolume 350 ml
 Pemberian pakan dilakukan 3 – 4 kali sehari
 sebanyak 2,5 – 5 mL setiap pemberian
 Penyifonan dilakukan setiap 3 – 4 hari
 Pemeriksaan Gonad Ikan Uji
 Identifikasi jenis kelamin dilakukan secara sekunder
dan primer
 Identifikasi sekunder dilakukan secara langsung dengan
melihat perbedaan sirip, warna, dan bentuk badan pada
saat ikan berumur 2 – 3 bulan
 Identifikasi primer yaitu melalui pengamatan gonad
dengan sampel 10 ekor ikan jantan dan 10 ekor ikan
betina (berdasarkan data identifikasi sekunder) yang
diambil secara acak dari setiap perlakuan
Hasil Nisbah Kelamin
Keterangan :
• Kontrol : Artemia tanpa perendaman

• MT : hormon MT 500 μg/L


• P20 : ekstrak purwoceng 20 mg/L
• P40 : ekstrak purwoceng 40 mg/L
• P60 : ekstrak purwoceng 60 mg/L
Hasil Kelangsungan hidup
Pembahsasan
 P60, P40 tingkat kelang sungan hidup : 75,5 % - 77,7%
 P20 tingkat kelang sungan hidup tertinggi : 86,7%
 Tingginya kelangsungan hidup pada perlakuan ekstrak
tanaman purwoceng diduga karena adanya senyawa
limonena, γ-himachalene, dan pristine dalam purwoceng
yang berperan menambah daya tahan tubuh.
 MT tingkat kelang sungan hidup terendah : 46,7%
 Hal tersebut diduga sebagai efek negatif dari penggunaan
hormon MT
 Penelitian Kirankumar dan Pandian (2002) juga
menyebutkan bahwa kenaikan dosis penggunaan hormon
MT menyebabkan kecacatan benih dan kematian setelah 2
– 3 hari perlakuan.
Pembahasan
 Nisbah kelamin jantan hasil identifikasi sekunder
tertinggi pd perlakuan MT (71,4%)
 Nisbah kelamin jantan hasil identifikasi primer
tertinggi pd perlakuan P20(75%)
 Peningkatan nisbah kelamin tersebut diduga karena
adanya pengaruh bahan aktif berupa senyawa
fitoandrogen pada ekstrak tanaman purwoceng berupa
stigmasterol
 Stigmasterol mempunyai sifat yang sama dengan
hormon androgen yang juga mempengaruhi nisbah
kelamin jantan ikan nila menjadi lebih tinggi bila
dibandingkan dengan kontrol (putra , 2011)
 Penggunaan dosis yang tidak tepat dapat memberikan
hasil yang berkebalikan.
 Peningkatan dosis ekstrak tanaman purwoceng dalam
maskulinisasi ikan cupang berbanding terbalik dengan
nisbah kelamin jantan yang dihasilkan.
 Penurunan nisbah kelamin jantan seiring dengan
pertambahan dosis menunjukkan fenomena
penyimpangan (paradoksial) yaitu pemberian androgen
justru menghasilkan populasi betina lebih banyak
(Zairin 2002)
Kesimpulan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak tanaman
purwoceng dapat digunakan untuk maskulinisasi ikan
cupang melalui perendaman artemia dengan dosis
terbaik adalah 20 mg/L yang membuat nisbah jantan
lebih tinggi bila dibandingkan dengan kontrol.
Harton Arfah 2013
PENDAHULUAN
 Ikan cupang Betta splendens jantan memiliki keunggulan antara
lain harganya lebih tinggi dibandingkan dengan betina.
 keunggulan yang dimiliki oleh ikan jantan baik dari morfologi
atau warna yang menjadi nilai estetikanya
 Penggunaan hormon sintetik 17α-metiltestosteron sudah
dilarang dalam kegiatan akuakultur karena sulit terdegradasi
secara alami sehingga berpotensi mencemari lingkungan.
 Purwoceng mengandung bahan aktif stigmasterol yang bersifat
afrodisiak.
 Ekstrak purwoceng telah terbukti dapat meningkatkan kadar
testosteron darah pada hewan percobaan tikus jantan
Bahan
 ikan cupang (halfmoon ) pada fase embrio
 Akuarium
 stoples bervolume 1,5 L
 ekstrak purwoceng
 etanol 95%
 Aerasi
 Termostat
Metode
 Motode RAL
 3 perlakuan dan 2 ulangan, serta 1 perlakuan kontrol
 Perlakuan : > dosis ekstrak purwoceng yang diberikan
melalui perendaman embrio, yaitu 10,20 dan 30 µL/L
 Dan kontrol tanpa perlakuan.
 Prosedur penelitian ini terbagi ke dalam beberapa tahapan
:
 Pembuatan ekstrak purwoceng,
 Pemijahan induk,
 Perendaman embrio dalam ekstrak purwocen
 Pemeliharaan ikan uji pascaperlakuan, dan
 Pengamatan kelamin sekunder ikan secara visual
 Perendaman embrio dalam ekstrak purwoceng
 Perendaman dilakukan pada embrio saat fase bintik mata
atau sekitar jam ke-28 setelah pemijahan
 Embrio direndam dalam ekstrak tanaman purwoceng
masing-masing dengan dosis 0, 10, 20, dan 30 µL/L
 Selama 8 jam dalam stoples yang berisi air sebanyak
1L
 Jumlah embrio yang digunakan pada setiap perlakuan adalah
35 embrio
 Agar lebih mudah larut dalam air, ekstrak purwoceng
ditambah etanol 95% sebanyak 0,5 mL per dosis sebelum
dilarutkan dalam air
 Pascaperlakuan, embrio dipindahkan ke dalam wadah
pemeliharaan
 Pemeliharaan
 Embrio dipelihara dalam stoples bervolume 1,5 L dan diisi air
1 L untuk pemeliharaan sampai menetas dan berumur 1,5
bulan.
 Dilakukan pergantian air lima sampai tujuh hari sekali
 larva umur 1,5 bulan dipindahkan ke dalam akuarium
berukuran 40×40×40 cm3
 Setelah kuning telur habis pada hari ke-3, ikan mulai diberi
pakan air hijau S/d hari k-6
 Hari ke-7 S/d hari ke-13 adalah pakan alami Artemia
 Hari ke-13 S/d hari ke-17 : campuran artemia dan Daphnia.
 Pemberian pakan Daphnia smpai hari k-87
 Pemberian pakan dilakukan dua kali sehari pada pagi dan
sore hari
Hasil
Tabel . Parameter-parameter hasil pengamatan

 Derajat penetasan telur pada embrio cupang cenderung menurun seiring dengan
meningkatnya dosis ekstrak purwoceng yang digunakan .
 Selain kontrol, nilai kelangsungan hidup cenderung meningkat seiring dengan
meningkatnya dosis ekstrak purwoceng yang digunakan
 Persentase ikan jantan tertinggi ada pada perlakuan 10 dan 20 µL/L
 Bobot rata-rata akhir pada semua perlakuan memiliki nilai yang tidak seragam
Pembahasan
 Kenaikan persentase ikan jantan pada perlakuan 10 dan 20
µL/L diduga dipengaruhi oleh bahan aktif yang terdapat
dalam ekstrak purwoceng.
 Hal ini diduga karena di dalam tanaman purwoceng
terdapat senyawa ftoandrogen berupa stigmasterol
sebanyak 5,38% yang merupakan bahan baku pembuatan
hormon steroid (Rahardjo et al., 2006)
 Dosis perendaman 10 dan 20 µL/L dinilai lebih baik
dibandingkan dengan dosis yang lebih tinggi
 Semakin tinggi dosis perendaman dalam kegiatan
maskulinisasi ikan tidak selalu diikuti dengan peningkatan
persentase populasi jantannya
 Keberhasilan pada pengarahan kelamin juga
dipengaruhi oleh lama perlakuan dan fase ikan uji saat
dilakukan perendaman
 Perendaman pada saat embrio sampai fase bintik mata
diduga merupakan fase paling efektif,
 Pd fase bintik mata embrio dianggap telah kuat untuk
menerima perlakuan, sehingga dapat mengurangi resiko
gagal menetas
 Peningkatan persentase populasi ikan jantan pada
perendaman dengan dosis 10 dan 20 µL/L diduga karena
bahan aktif dari purwoceng yang memengaruhi
diferensiasi gonad
 Perubahan lingkungan yang diakibatkan perendaman
ekstrak purwoceng menyebabkan rangsangan pada
sistem saraf ikan dan memacu pelepasan hormon
gonadotropin untuk pembentukan gonad jantan
 Bobot rata-rata setiap perlakuan hampir seragam
 Hal ini menunjukkan bahwa perendaman embrio
menggunakan ekstrak purwoceng tidak menghambat
pertumbuhan ikan cupang
KESIMPULAN
 Penggunaan ekstrak purwoceng dalam maskulinisasi
ikan cupang hias pada dosis 20 µL/L dapat
meningkatkan persentase ikan cupang jantan hingga
62,66%, lebih tinggi daripada kontrol (45,91%).

 Pada dosis yang lebih tinggi persentase populasi ikan


jantan menjadi menurun