Anda di halaman 1dari 26

R E F E R AT R E T I N O PAT I D I A B E T I K

PEMBIMBING :
D R . P R A D N YA P R A M I TA , S P. M

A V I R I G A S E P TA 1610221071
A U L I A E K A P U RWA N I 1610221057
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
• Diabetik retinopati merupakan penyulit penyakit diabetes mellitus yang paling ditakuti. Karena
insidennya yang cukup tinggi dan prognosanya yang kurang baik bagi penglihatan.

• Masalah utama dalam penanganan retinopati diabetik adalah keterlambatan diagnosis karena
sebagian besar penderita pada tahap awal tidak mengalami gangguan penglihatan

• Dokter umum di pelayanan kesehatan primer memegang peranan penting dalam deteksi dini
retinopati diabetik, penatalaksanaan awal, menentukan kasus rujukan ke dokter spesialis mata

• Apabila peranan tersebut dilaksanakan dengan baik, maka risiko kebutaan akan menurun hingga
lebih dari 90%.
• Garg S, Davis RM. 2009. Diabetic retinopathy screening
update. USA: Clinical Diabetes; 27(4):140-5
BAB II
T I N J A U A N P U S TA K A
DEFINISI RETINOPATI DIABETIK

• Retinopati diabetik adalah suatu mikroangiopati progresif yang ditandai oleh kerusakan dan
sumbatan pembuluh-pembuluh halus, meliputi arteriol prekapiler retina, kapiler-kapiler dan
vena-vena retina.
EPIDEMIOLOGI
• Retinopati diabetik merupakan penyebab kebutaan yang paling sering di jumpai, terutama di
negara barat

• 1 dari 900 orang berusia 25 tahun mengidap diabetes

• 1 dari 25 orang berusia 60 tahun adalah penyandang diabetes

• Prevalensi retinopati diabetik proliferatif pada diabetes tipe 1 dengan lama penyakit 15 tahun
adalah 50%

• Retinopati diabetik jarang ditemukan pada anak-anak dibawah umur 10 tahun tanpa
memperhatikan lamanya diabetes. Resiko berkembangnya retinopati meningkat setelah
pubertas
FAKTOR RESIKO
• Lamanya menderita diabetes merupakan faktor resiko mayor pada retinopati diabetes.
– Setelah 5 tahun, sebanyak 25% pada diabetes tipe 1 menderita retinopati
– Setelah 10 tahun, hampir 60% orang menderita retinopati
– setelah 15 tahun sebanyak 80% orang menderita retinopati.
• Beratnya hiperglikemia  ↑HbA1c adalah faktor resiko kejadian peny. Proliferatif
• Peningkatan kadar lipid serum
• Hipertensi
• Nefropati
• Merokok, usia, jenis DM, inaktivasi fisik
ETIOLOGI

• Penyebab pasti retinopati diabetik belum diketahui.

• Diyakini : hiperglikemia kronis  perubahan fisiologi & biokimia  kerusakan endotel


pembuluh darah
PATOFISIOLOGI
GARG S, DAVIS RM. 2009. DIABETIC RETINOPATHY
SCREENING UPDATE. USA: CLINICAL DIABETES;
27(4):140-5.

WESTERFELD CB, MILLER JW. 2010.


NEOVASCULARIZATION IN DIABETIC RETINOPATHY.
USA: OCULAR DISEASE. PAGE 514-7.

BLOOMGARDEN ZT. 2007. SCREENING FOR AND


MANAGING DIABETIC RETINOPATHY: CURRENT
APPROACHES. AM J HEALTH-SYST
PHARM;64(SUPPL12):S8-14.
KLASIFIKASI RETINOPATI DIABETIK
• Retinopati Diabetik Non-Proliferatif
– Ringan : (+) mikro-aneurisma
– Sedang : (+) temuan patologis lain selain mikroaneurisma namun lebih ringan dibandingkan kriteria NPDR berat
– Berat : salah satu dari kriteria berikut, tanpa adanya tanda PDR
• (+) perdarahan intraretina berat & mikroaneurisma pd masing2 4 kwadran
• (+) bleeding vena pd ≥ 2 kwadran
• Intra Retinal Microvascular Abnormalities (IRMA) sedang pd ≥ 1 kwadran
– Sangat Berat : ≥ 2 kriteria berat
• Retinopati Diabetik Proliferatif
– (+) neovaskularisasi
– (+) perdarahan vitreous / perdarahan praretina
MANIFESTASI KLINIS

• Pada awalnya asimtomatis


• Kasus yg lebih berat  penyempitan lapang pandang, floater (bercak hitam pd lapang
pandang), penurunan tajam penglihatan
DIAGNOSIS

• Anamnesis
• Pemeriksaan Oftalmologi
– Pemeriksaan visus
– Slit-lamp biomicroscopy
– Funduskopi direct / indirek
• Fundus Photography
• Optic Coherence Tomography (OCT) & Ocular Ultrasonography  bila perlu
ANAMNESIS
• Penglihatan buram/menurun? Sejak kapan?
– Mata berkabut?
– Penglihatan seperti teropong?
– Penglihatan terasa lebih gelap?
– Lihat wajah bagian tengah kurang jelas tapi bagian tepi jelas
– Penglihatan malam atau gelap lebih buruk?
• Mata merah?
• Rasa silau?
• Penglihatan berbayang?
• Sering nabrak benda sekitar?
• Melihat pelangi disekitar cahaya?
• Melihat bercak hitam terbang2?
• Penyempitan lapang pandang?
• Gejala khas dm (kencing banyak? makan banyak? Minum banyak?)
• Penyakit gula lama? 10-15th?
• Merokok? Aktfitas fisik kurang?
FUNDUSKOPI
• Pada funduskopi dapat ditemukan
– Mikroaneurisma / blood dot = titik-titik merah kecil
– Perdarahan Retina =
• Flame shaped  perdarahan serabut saraf retina
• Konfigurasi ‘dot/blot’ berwarna merah  perdarahan intra-retina
• Berbentuk bulat gelap  infark retina
– Eksudat = lesi berwarna kekuningan dgn batas tegas, dgn konfigurasi gumpalan / cincin pd kutub
posterior mengelilingi mikroaneurisma
– Edema makula diabetikum = penebalan retina yang paling baik dideteksi dengan slit-lamp dgn lensa
kontak. Edema macula yg bermakna secara klinis (CSME) sbb :
• Cotton wool spot
• Intra Retinal Microvascular Abnormalities (IRMA)
• Perubahan Arteri
• Cotton wool spot =
– lesi sup berukuran kecil
– Berwarna keputihan
– Gambaran mirip kapas yg dpt terlihat pd retina di belakang ekuator bola mata
– Perubahan vena : dilatasi & ↑ lekukan, looping, beading, & segmentasi mirip sosis
• Intra Retinal Microvascular Abnormalities (IRMA)
– Pirau arteri-vena yg bergerak dr arteriol retina menuju venula tanpa melewati
kapiler
KONTROL
Diabetes Pemeriksaan awal yang Pemeriksaan lanjutan yang
dianjurkan dianjurkan

Tipe 1 3-5 tahun setelah diagnosis Tiap tahun

Tipe 2 Saat setelah di diagnosis Tiap tahun

Kehamilan (tipe 1 atau tipe 2) Sebelum konsepsi dan pada - Tidak ada retinopati hingga
awal trimester 1 NDPR ringan – sedang: tiap
3 – 12 bulan
- NDPR berat: tiap 1 – 3
bulan
PENCEGAHAN

• Kontrol ketat gula darah


• DM + Hipertensi  kontrol TD
Beratnya retinopati Keberadaan edema macula
PENATALAKSANAAN
Follow UP (Bulan) Panretinal Photo Fluoresin Angiography Focal dan/atau grid laser
yang bermakna secara klinis Coagulation Laser

Normal / NPDR minimum Tidak ada 12 Tidak dikerjakan Tidak dikerjakan Tidak dikerjakan

NPDR Ringan-Sedang Tidak ada 6-12 Tidak dikerjakan Tidak dikerjakan Tidak dikerjakan

Ada 2-4 Tidak dikerjakan Biasanya Biasanya

NPDR Berat Tidak ada 2-4 Terkadang Jarang Tidak dikerjakan

Ada 2-4 Terkadang Biasanya Biasanya

PDR Resiko Rendah Tidak ada 2-4 Terkadang Jarang Tidak dikerjakan

Ada 2-4 Terkadang Biasanya Biasanya

PDR Resiko Tinggi Tidak ada 2-4 Biasanya Jarang Tidak dikerjakan

Ada 2-4 Biasanya Biasanya Biasanya

PDR Inaktif Tidak ada 6-12 Tidak dikerjakan Tidak dikerjakan Biasanya

Ada 2-4 Tidak dikerjakan Biasanya Biasanya


• Terapi dikerjakan oleh dokter spesialis mata
• Follow Up dikerjakan sesuai dgn indikasi sebagai berikut :
– NPDR Ringan : 6-12 bulan
– NPDR Sedang :
• Tanpa edema macula : setiap 4-6 bln tanpa px FFA / OCT
• Dengan edema macula : 2-4 bln, dgn FFA dan/atau OCT
– NPDR Berat :
• Tanpa edema macula : setiap 4 bln, px FFA diindikasikan
• Dengan edema macula : setiap 2-4 bln
– PDR dengan atau tanpa CSME : setiap 2-3 bulan
– Pada PDR dengan komplikasi yg tdk dapat ditangani dgn terapi laser, maka dikerjakan px setiap 6 bulan
EVALUASI

• Kriteria yg diharapkan :
– Perbaikan / stabilisasi dr fungsi penglihatan
– Perbaikan / stabilisasi dr penglihatan yg berhub. dgn kualitas hidup
– Kontrol yg optimal pd gula darah, TD & factor resiko lain dgn berkomunikasi dgn dokter layanan
primer
PROGNOSIS

• Edema macular & iskemik  memiliki prognosa yg lebih jelek dgn / tanpa terapi laser
BAB III
KESIMPUL AN
1. Retinopati merupakan salah satu komplikasi dari DM kronis  menyebabkan kebutaan
tersering
2. Retinopati diabetik dibagi 2 bagian
1. Retinopati diabetik proliferatif (PDR)
2. Retinopati diabetik non proliferative (NPDR)
3. Deteksi awal retinopati diabetik dengan melakukan pemeriksaan funduskopi
4. Pengobatan pada retinopati diabetik tergantung pada stadium yg diderita pasien
5. Pada mata yang mengalami edema makular dan iskemik memiliki prognosa yg lebih jelek
dengan / tanpa terapi laser
TERIMA KASIH 