Anda di halaman 1dari 63

PENINGKATAN MUTU GIZI PANGAN

(FOOD NUTRIFICATION)
Oleh :

Joko Susilo
Bismillahir Rahmaanir Rahiem

Rabbi Zidni ‘Ilman


“ Tuhanku Tambahkan Ilmu Kepadaku “
KOMPETENSI –
SUB KOMPETENSI / ELEMEN - KUK
Mengawasi 1. Melakukan analisis situasi
pengembangan klien /pasien/ kelompok klien
yang membutuhkan modifikasi
dan/atau modifikasi
resep/ formula
resep / formula
(Kes.Gz.02.24.01) 2. Melakukan modifikasi resep /
makanan formula untuk
mencapai kebutuhan gizi dan
S.Tr.Gz.  mengawasi diet khusus pada klien/pasien
atau kelompok klien
langkah-langkah :
3. Mendokumentasikan hasil
modifikasi resep / makanan
formula
KRITERIA UNJUK KERJA (KUK)  Mengawasi
No Elemen Kriteria Pencapaian Kompetensi
1. Melakukan analisis 1.1.Kondisi yang biasa ditemukan (kebutuhan gizi dan diet
situasi klien /pasien/ khusus) pada klien/pasien atau kelompok klien yang
kelompok klien yang membutuhkan modifikasi diet/formula
membutuhkan 1.2. Ketidak seimbangan gizi yang diakibatkan oleh gaya
modifikasi resep/ hidup yang berhubungan dengan penyakit-penyakit dan
formula kelainan-kelainan.
1.3.Pedoman diet yang ada
2 Melakukan modifikasi 2.1.Hasil analisis, tujuan modifikasi resep/ makanan formula
resep/makanan formula 2.2.Resep atau makanan formula yang akan dimodifikasi
untuk mencapai untuk klien/pasien atau kelompok klien
kebutuhan gizi dan diet 2.3.Rancangan hasil modifikasi resep/ makanan formula
khusus pada 2.4.Uji coba modifikasi resep/ makanan formula
klien/pasien atau 2.5.Formulir penilaian resep /makanan formula secara
kelompok klien organoleptik organoleptik
2.6.Perbaikan hasil modifikasi resep/ makanan formula
kemudian ditetapkan sebagai standar resep
2.7.Standar Resep / makanan formula hasil modifikasi
dihitung biayanya sesuai dengan alokasi dana
2.8.Perhitungan mutu protein hasil modifikasi/ makanan
formula (mis BMC dll)
3 Mendokumentasikan 3.1.Pencatatan sistematik proses modifikasi resep/ formula
hasil modifikasi 3.2. Isi/susunan dokumentasi dan laporan dalam bentuk
resep/makanan formula SOP standar resep/ formula yang dimodifikasi
TUJUAN
TEORI : INSTRUKSIONAL.
• Menjelaskan Pengertian Nutrifikasi Setelah mengikuti
• Menjelaskan Prinsip Nutrifikasi perkuliahan ini,
• Menjelaskan Syarat Nutrifikasi Mahasiswa mampu
• Menguraikan Cara Nutrifikasi
• Menguraikan Tujuan Nutrifikasi
• Menyebutkan Contoh hasil produk Nutrifikasi
• Menguraikan MEKANISME MODIFIKASI / FORMULASI :
 Melakukan analisis situasi klien /pasien/ kelompok klien yang
membutuhkan modifikasi resep/ formula
 Melakukan modifikasi resep/makanan formula untuk mencapai
kebutuhan gizi dan diet khusus pada klien/pasien / kelompok klien
 Mendokumentasikan hasil modifikasi resep/makanan formula

PRAKTIKUM (di Lab) :


 Melakukan analisis situasi sasaran
 Melakukan modifikasi resep / makanan formula
 Mendokumentasikan hasil modifikasi resep/makanan formula
TEORI : POKOK BAHASAN
• Pengertian Nutrifikasi
• Prinsip Nutrifikasi
• Syarat Nutrifikasi
• Cara Nutrifikasi
• Tujuan Nutrifikasi
• Contoh hasil produk Nutrifikasi
• MEKANISME MODIFIKASI / FORMULASI :
 Analisis situasi klien /pasien/ kelompok klien yang membutuhkan
modifikasi resep/ formula
 Modifikasi resep/makanan formula untuk mencapai kebutuhan gizi
dan diet khusus pada klien/pasien / kelompok klien
 Dokumentasikan hasil modifikasi resep/makanan formula

PRAKTIKUM (di Lab) :


 Analisis situasi sasaran
 Modifikasi resep / makanan formula
 Dokumentasikan hasil modifikasi resep/makanan formula
STUDI KASUS
PERMASALAHAN & PROGRAM
GIZI MASYARAKAT TERKAIT
NUTRIFIKASI
STUDI KASUS
...
Fenomena di Iklan Produk Pangan
&
Iklan Layanan Masyarakat
&
Pola konsumsi Suplemen Gizi di
Masy
& Program Gizi Masyarakat
(Kemenkes RI)
DEFISIENSI MIKRONUTRIEN MASIH
MENJADI MASALAH SERIUS

Anaemia tetap menjadi masalah kesehatan


masyarakat “moderate” (>20%)
Anemia pada bumil tetap tinggi: tidak ada
perubahan signifikan sejak 2001.

Status kurang yodium masih dalam tingkat


“adequate” tetapi masih ada wilayah dengan
status kurang yodium yang tinggi
Cakupan Gizi Mikro Belum Mencapai
Target Nasional

Suplementasi Vitamin A pada Balita 6-59 bulan

Suplemetasi TTD/Besi pada bumil (90 tablet)

Cakupan Garam Beryodium


Target pencapaian th 2019
Indikator Baseline Target (2019)
(2013) High Medium
investment investment
1. Prevalensi stunting pada balita 0-59 bl 37.2% <30% <32%
2. Prevalensi wasting pada balita 0-59 bl 12.1% <9% <10%
3. Prevalensi gizi lebih pada balita 0-59 bl 11.9% <10% <12%

4. Prosentase BBLR <2.5 kg 10.2% <8% <9%

5. Prosentase WUS dengan HB <12 21% <16% <18%

6. Prosentasi bayi <6 bulan menyusu 41.5% >80% >60%


secara eksklusif
7. Prevalensi balita gizi kurang 19.6% <15% <17%
8. Prosentasi Ibu hamil dengan Hb <11.5 37.1% <28% <32%
Evolusi program perbaikan
1970
UPGK
gizi 1980
POSYANDU
1990
JPS-BK
2000
KADARZI
2010
GERNAS
100HPK
PENANGGULANGAN PERCEPATAN PENCEGAHAN PERCEPATAN PENANGGULANGAN
GIZI KURANG PENURUNAN GIZI DAMPAK KRISIS PENCAPAIAN MDG STUNTING, GIZI
KURANG, AKI, AKB EKOKONOMI KURANG
Pendidikan Gizi Pendidikan Gizi Pendidikan Gizi Pendidikan Gizi Pendidikan Gizi – ASI;
MPASI
Suplementasi Gizi Suplementasi Gizi Suplementasi Gizi Suplementasi Gizi Suplementasi Gizi –
Taburia
Yankes dasar Yankes dasar Yankes dasar Yankes dasar
(Imunisasi, KIA, KB, (Imunisasi, KIA, KB, (Imunisasi, KIA, KB, (Imunisasi, KIA, KB,
Diare) Diare) Diare) Diare)
Makanan Tambahan Makanan Tambahan Makanan Tambahan
untuk Ibu dan Anak untuk Ibu dan Anak untuk Ibu dan Anak
Fortifikasi garam Fortifikasi garam Fortifikasi garam
Fortifikasi Tepung Fortifikasi Tepung
Intervensi spesifik-
sensitif
SPAG SPAG D1 Gizi D3 D3
Akademi Gizi D1 Gizi D3 Gizi D4 D4
Akademi Gizi D4 Gizi S1 Gizi S1
S1 Profesi
Intervensi Gizi Pada 1000 HPK
Remaja Putri dan Calon Ibu: Balita
 Suplementasi TTD atau tablet  Penimbangan rutin di posyandu setiap bulan untuk
mikronutrien baduta, dan pengukuran panjang badan 2 kali
setahun pada anak usia 6-36 bulan
Ibu Hamil  Promosi IMD, ASI Eksklusif selama 6 bulan
 Suplementasi TTD atau tablet diteruskan hingga usia dua tahun atau lebih
mikronutrien saat kehamilan dengan MP-ASI tepat setelah 6 bulan
 Suplementasi kalsium untuk  Pendidikan/Promosi/Konseling MP-ASI
bumil beresiko  Pemberian kapsul vitamin A 2 kali setahun
 Konseling gizi untuk bumil dan untuk anak usia 6-29 bulan
busui  Taburia untuk anak usia 6-23 bulan
 Suplemetasi Balanced protein-  Pemberian obat cacing untuk anak usia 12-59
energy/PMT untuk bumil KEK bulan
 Manajemen/Penangan balita gizi buruk dan
Ibu Nifas moderat (BB/TB <-2SD)
 TTD atau tablet mikronutrien  Suplementasi zinc untuk anak yang menderita
saat nifas selama 40 hari diare
 Suplementasi Vitamin A Bufas Masyarakat Umum
 Konseling gizi seimbang pada  Fortifikasi Makanan (garam, tepung terigu,
ibu menyusui minyak goring dll)
 Pendidikan untuk masyarakat umum terkait
perilaku bersih dan sehat
 Pendidikan untuk masyarakat terkait gizi seimbang,
berfokus pada anak seolah
JENIS INTERVENSI PENURUNAN
STUNTING YANG HARUS ADA DI DESA
Tablet Tambah Darah untuk
Remaja Putri, Calon
Pengantin, dan Ibu Hamil Suplementasi
Vitamin A STBM
Pemberian
Makanan
Suplementasi
Tambahan untuk multivitamin
dan mineral PAMSIMAS
Ibu Hamil Kurang
Energi Kronis (taburia)
(KEK) Pemberian
Kelambu dan Makanan SANIMAS
Obat Malaria Tambahan
(Endemis) untuk Balita
kurus
Promosi Kawasan
Pemberian Rumah Pangan
menyusui (ASI obat cacing Lestari
eksklusif)

Promosi Kegiatan
Makanan Posyandu
Program
Pendamping-ASI Keluarga
Harapan
Pendidikan Anak
Bina Keluarga Usia Dini
Balita
Sumber: Kementerian PPN/Bappenas
Intervensi Gizi Spesifik Primer di 1000 HPK (di KP)
I. Intervensi dengan sasaran Ibu Hamil:
1. ANC Terpadu berkualitas, klas bumil, PHN bumil, P4K, MRMN, Rindu KIA
2. Pemanfaatan buku KIA
3. PMT pada ibu hamil KEK u/mengatasi kekurangan energi dan protein kronis.
4. Fe & asam folat. pada bumil
5. Menanggulangi kecacingan pada ibu hamil, bumil anemia cek kecacingan
6. Melindungi ibu hamil dari Malaria, dg kelambu
II. Intervensi dengan sasaran Ibu Menyusui dan Anak Usia 0-6 Bulan:
1. IMD (pemberian ASI jolong/colostrum).
2. Mendorong pemberian ASI Eksklusif.
3. Vit. A bufas
III. Intervensi dengan sasaran Ibu Menyusui dan Anak Usia 7-23 bulan:
1. Pemberian ASI hingga usia 23 bulan didampingi oleh PMBA
2. Menyediakan obat cacing.
3. Menyediakan suplementasi zink.
4. Memberikan perlindungan terhadap malaria.
5. Memberikan imunisasi lengkap.
6. Melakukan pencegahan dan pengobatan diare.
7. Pemberian vit. A
8. Pemantauan tumbuh kembang
PENCEGAHAN STUNTING SEKUNDER
KUALITAS REMAJA PUTRI INTERVENSI PENDIDIKAN :
INTERVENSI KESEHATAN :

1. Suplementasi Tablet 1.Pendidikan Kespro di


Tambah Darah pada Sekolah
Remaja Putri 2.Pemberian edukasi gizi
2. Pemberian obat cacing remaja
pada Remaja Putri 3.Pembentukan konselor
3. Promosi Gizi Seimbang sebaya untuk membahas
seputar perkembangan
4. Penyediaan akses PKPR remaja
(Pelayanan Kesehatan
Peduli Remaja) di
Puskesmas
PROGRAM PEMERINTAH >>>

tapi

PERMASALAHAN GIZI >>>

DIPERLUKAN UPAYA LAIN


a.l. NURTIFIKASI PANGAN
A.
PENGERTIAN NUTRIFIKASI
NUTRIFIKASI

suatu upaya atau segala cara


 yang ditujukan untuk
menambah nilai gizi suatu
makanan dengan jumlah yang
telah ditentukan
agar dapat memenuhi kebutuhan
tubuh akan zat gizi tersebut.
Meningkatkan nilai gizi (nutrisi) pangan
melalui teknik Fortifikasi, Suplementasi,
maupun Komplementasi,

yang mencakup :
- Nutrifikasi Protein,
- Nutrifikasi Lemak,
- Nutrifikasi Serat pangan,
- Nutrifikasi Vitamin
- Nutrifikasi Mineral.
B. Prinsip

• Peningkatan mutu gizi dilakukan dengan


cara fortifikasi dan suplementasi.

• Tidak ada satu jenis bahan makanan


yang mengandung semua zat gizi secara
lengkap kecuali ASI.
B. Prinsip
C. Syarat Tehnis

 Metode (cepat),

 Beaya (ekonomis),

 Fleksibel,

 Penerimaan (sosial)
D. CARA

• FORTIFIKASI

• SUPLEMENTASI
D. FORTIFIKASI

• Cara peningkatan mutu gizi


dengan menambahkan zat gizi
dalam jumlah yang telah
diperhitungkan untuk maksud
tertentu.
D. SUPLEMENTASI
• Suplemen = Pelengkap
• Cara peningkatan mutu gizi dengan
cara mencampurkan dua atau
beberapa Zat Gizi (atau bahan
makanan)
• sehingga diperoleh suatu produk
pangan (atau campuran) yang kadar
zat gizinya lebih baik daripada kadar
zat gizi dalam masing-masing bahan
makanan yang dicampurkan
(asalnya).
D. SUPLEMENTASI
Contoh:
- Suplementasi melalui kelengkapan BM  Pembuatan
BMC,

- Suplementasi melalui penambahan zat gizi


Suplm Fe (pil)  ibu hamil
Suplm Vit A (kapsul)  anak balita, ibu nifas
Suplm Yodium (kapsul)  GAKY
Suplm Vitamin (C)  Tablet / kaplet
Supml Mineral (a.l. Zink) 
Suplm zat gizi lain  sesuai kebutuhan
Suplm Energi  Energi drink,
Mkn/minuman sereal
100.000 IU 200.000 IU

200 mg Ferro Sulfat


≈ 60 mg Fe Elemen
D. SUPLEMENTASI
SUPLEMENTASI Bahan Makanan

PELAJARI MATERI “BMC” :

A. Pengertian BMC
B. Prinsip BMC
C. Syarat BMC
D. Jenis BMC
E. Komposisi / susunan BMC
F. Perhitungan formulasi BMC
G. Susunan BMC dengan bahan baku lokal
H. Rancangan produk makanan dari tepung BMC
E. TUJUAN FORTIFIKASI
1. Restorasi
2. Dosis tinggi
3. Utk membuat makanan bergizi lengkap
4. Utk meningkatkan kesehatan masyarakat
5. Utk memperkaya (Enrichment)
6. Utk tujuan teknologi
E. TUJUAN FORTIFIKASI
Restorasi
• Fortifikasi dg menambahkan zat gizi utk
mengganti yg hilang atau rusak selama
pengolahan.

Dosis tinggi
• Fortifikasi dg penambahan zat gizi ke dalam
makanan tertentu dlm jumlah banyak agar jumlah
yang dimakan bersama makanan tersebut dapat
memenuhi kebutuhan tubuh sehari.
E. TUJUAN FORTIFIKASI
Fortifikasi untuk membuat makanan bergizi lengkap
• Contoh, Penambahan thiamin pada makanan
yg mengandung banyak gula utk metabolisme
karbohidrat.

Fortifikasi untuk meningkatkan kesht masyarakat


• Fortifikasi dg penambahan zat gizi ke dlm suatu
bahan makanan yang berfungsi sbg pembawa.
E. TUJUAN FORTIFIKASI
Fortifikasi untuk memperkaya
• Fortifikasi dg penambahan zat gizi ke dalam
makanan agar kadar zat gizi itu setara dg kadar
zat gizi sejenis dlm makanan lain yang serupa.
• Contoh: penambahan vitamin A pada margarin
agar menyamai kadar vitamin dalam mentega.

Fortifikasi untuk tujuan teknologi


• Contoh: penambahan vitamin E ke dalam
makanan berlemak untuk mencegah oksidasi.
F. SYARAT FORTIFIKASI
• SYARAT MAKANAN (PEMBAWA)

• SYARAT ZAT GIZI

Syarat Tehnis :
 Metode (cepat),
 Beaya (ekonomis),
 Fleksibel,
 Penerimaan (sosial)
F. SYARAT - MAKANAN
Syarat makanan yang akan difortifikasi :
1. Tidak bereaksi dg zat gizi yg ditambahkan shg
tidak mengurangi penyerapan dalam tubuh.
2. Tidak terjadi perubahan warna, aroma, rupa, dan
sifat selama penyimpanan dan distribusi setelah
difortifikasi.
3. Harga tidak menjadi mahal setelah difortifikasi.
4. Dikonsumsi oleh golongan sasaran setiap hari
dalam jumlah relatif konstan.
5. Diproduksi untuk sejumlah kecil produsen shg
memudahkan pengawasan pelaksanaan
fortifikasi.
F. SYARAT – ZAT GIZI
Syarat zat gizi yang akan ditambahkan :
1. Zat gizi itu stabil selama penyimpanan dan
pada waktu bahan makanan digunakan.

2. Zat gizi itu dapat dimanfaatkan oleh tubuh.

3. Penambahan zat gizi tidak mengakibatkan


ketidakseimbangan konsumsi zat gizi.
G. HASIL PRODUK FORTIFIKASI
Hasil fortifikasi a.l. :
• Fortifikasi garam dg zat besi
• Fortifikasi garam dg vitamin A
• Fortifikasi terigu dg zat besi dan vitamin A
• Iodisasi garam (KIO3)
• Fortifikasi margarin dengan Vit A, EPA, DHA
• Fortifikasi susu bubuk dengan Vit A, EPA, DHA
• Antioksidan dalam minyak goreng, margarin, mentega

Di beberapa negara :
• Fortifikasi saos ikan dg zat besi
• Fortifikasi kecap dg zat besi
CONTOH APLIKASI
FORTIFIKASI ZAT GIZI
DALAM MAKANAN
Fortifikasi (a.l. Vitamin)
• Berbagai macam bentuk Vit tersedia di pasaran.

• Untuk sebagian besar proyek pengembangan


suatu produk makanan, pemilihan bentuk Vit yg
akan digunakan untuk tujuan fortifikasi, di tentukan
setelah di tetapkan pada tahap produksi mana &
bagaimana caranya Vit tersebut ditambahkan.

• Produk makanan tersebut pertama-tama di buat di


lab dg simulasi proses komersial
Fortifikasi (a.l. Vitamin)
• Selanjutnya contoh produk pangan
tersebut melewati serangkaian
pengujian organoleptik dan pengujian
kestabilan vitamin selama proses
pengolahan dan penyimpanan.

• Hasil yang di peroleh akhimya di


gunakan dalam proses produksi yang
sebenarnya.
Fortifikasi Vit A
• Vit. A Palmitat, bentuk Vit. A yang paling banyak di
gunakan, di sintesis sebagai minyak kental, bersifat mudah
teroksidasi.

• Kestabilan minyak dapat di tingkatkan dengan cara


menambahkan anti oksidan, tetapi perlu atau tidaknya
menambahkan anti oksidan tergantung pada penggunaan.

• Contoh, minyak Vit A Palmitat bersifat stabil dalam


margarin meskipun tanpa penambahan anti oksidan. Tetapi
apabila minyak Vit A Palmitat ini diemulsifikasikan dengan
minyak flavor dan digunakan dalam minuman buah-
buahan, maka anti oksidan perlu ditambahkan.
Fortifikasi Vit A
• Bermacam-2 mkn cair dpt difortifikasi dg Vit A Palmitat
berbentuk kering & stabil yg bersifat dpt terdispersi dlm air.

• Produk Vit A ini merupakan hasil dehidrasi emulsi minyak


dlm air, di mana fase minyaknya mengandung Vit A &
Anti oksidan.

• Fase airnya mengandung Koloid yg terdispersi,


biasanya Gelatin atau Akasia, yang dapat bertindak
sebagai penghalang oksigen (oxygen barrier).

• Vit jenis ini digunakan untuk fortifikasi susu cair, susu


bubuk, maupun ”instant breakfast mixes”.
Fortifikasi Vit D
• Secara komersial, seperti halnya Vit A, Vit D dpt di peroleh
dlm bentuk minyak atau kering.

• Seringkali Vit D difortifikasikan bersama-2 dg Vit A.

• Batas antara kebutuhan tubuh akan Vit D dg dosis


toksiknya tidak terlalu jauh, oleh karena itu jumlah Vit D
yang difortifikasikan harus benar-benar di perhitungkan.

• Pada umumnya sulit untuk memonitor kestabilan Vit D


dalam makanan, karena rendahnya ketepatan metode
analisis yang sekarang biasa di gunakan.
Fortifikasi Vit B
Vitamin B1 (Tiamin)
• Bersifat stabil dalam bentuk kering (dry vitamin premixes)
dan di dalam makanan kering.

• Secara komersial, Vit B1 tersedia dalam bentuk B1


mononitrat  lebih tidak higroskopis, sehingga lebih baik
di gunakan dalam produk kering.

• Vit B1 hidroklorida  lebih larut dalam air (50% vs 2,7%),


sehingga lebih banyak di gunakan dalam makanan cair
atau di gunakan dalam bentuk cairan.

• Contoh, larutan Vit B1 hidroklorida  disemprotkan kepada


serealia sebelum atau sesudah di panggang (toasting).
Fortifikasi Vit B
Vitamin B2 (Riboflavin)
• Bersifat kurang larut dalam air dan kadang-2 menimbulkan
masalah karena warnanya yang sangat kuning.

• Analognya, yaitu Riboflavin 5 fosfat bersifat lebih mudah


larut dalam air.

• Riboflavin kurang sensitif terhadap panas dibandingkan


dengan Tiamin, tetapi lebih mudah terdegradasi oleh
cahaya.

• Kestabilannya tinggi dalam cairan ber-pH asam atau netral,


tetapi lebih stabil lagi dalam keadaan kering.
Fortifikasi Vit B
Niasin
• Dapat di peroleh baik sebagai Asam Nikotinat
maupun Nikotinamid (Niasinamid).

• Walaupun Nikotinamid mempunyai flavor pahit,


namun penggunaannya lebih banyak, karena lebih
mudah larut dalam air.
• Kedua bentuk Vit  mempunyai kestabilan yang
tinggi selama pengolahan makanan, sehingga uji
kestabilan Vit ini pada fortifikasi makanan jarang di
perlukan.
Fortifikasi Vit B
Vit. B6 (Piridoksin)
• Piridoksin hidroklorida adalah satu-satunya
bentuk Vit B6 yang terdapat secara komersial.

• Stabilitasnya selama pengolahan makanan sangat


baik.

• Contoh, % Vit B6 yang hilang selama


pemanggangan roti hanya berkisar antara 5 -10 %.
Fortifikasi Vit C
• Vit C (Asam askorbat) seringkali difortifikasikan pd minuman
 banyak juga di tambahkan pd mkn.

• Stabilitasnya kurang baik pada pH 6 s.d. 8 & tdk stabil


terhadap proses pemanasan.

• Oksidasi Vit C pd pH asam maupun netral, dikatalisis oleh


zat besi (Fe) dan tembaga (Cu).

• Vit C dpt bereaksi dengan zat wama Azo maupun Pigmen


antosianin  menyebabkan diskolorisasi.

• Kestabilan Vit C pd mkn kering sangat di pengaruhi oleh


kadar air  lebih stabil pada kadar air yg rendah.
H. HASIL PRODUK SUPLEMENTASI

Suplementasi Pil Besi


Suplementasi Kapsul Vit. A
PELAJARI MATERI “BMC” : Suplementasi Kapsul Yodisum
Suplementasi Kapsul Vit. E
A. Pengertian BMC Suplementasi Vit C
B. Prinsip BMC Energy Drink
dll
C. Syarat BMC
D. Jenis BMC
E. Komposisi / susunan BMC
F. Perhitungan formulasi BMC
G. Susunan BMC dengan bahan baku lokal
H. Rancangan produk makanan dari tepung BMC
CONTOH APLIKASI
PROGRAM SUPLEMENTASI
ZAT GIZI
Program Perbaikan Gizi
Masyarakat
• Melalui Gerakan 1000 HPK dan PerPres 42/2013,
sektor kesehatan harus berfokus pada program
gizi masyarakat untuk memastikan layanan
kesehatan dan gizi terpadu melalui faskes,
posyandu dan layanan outreach

• Fokus pada remaja putri, calon ibu, bumil dan


busi, serta baduta.

• Program Perbaikan Gizi Masyarakat harus


dikoordinasikan dengan program lain, baik
dari sektor kesehatan maupun di luar
kesehatan
Enhance the coverage and quality of an integrated
package of health and nutrition services
activities indicators
1. Advocate with local governments 1. % pregnant women received
2. Utilize the Minimum Service Standards (SPM) of iron-folate supplements
the health sector to build accountability. 2. % of women received two
3. Scale-up enhanced service delivery vitamin A after delivery
mechanisms to reach adolescent girls, women 3. % of children aged 6-23
and children, including vulnerable populations months received 15 sachets
4. Develop/update and roll-out technical of MNPs
guidelines, treatment protocols, in-service 4. % of severely wasted
training packages, and supportive supervision children treated for severe
tools to improve quality of services. wasting
5. Develop and roll-out tools and training courses 5. % of children aged 6-59
to strengthen the management of nutrition months received a vitamin A
services at subnational level. capsule
6. Use nutrition information and data to improve 6. % of children aged 0-59
programme performance months with diarrhea receive
7. Procure nutrition supplements and equipment to zinc supplements
assess nutritional status to equip all health 7. % of pregnant women with
facilities and posyandus. CED receive supplementary
feeding
Promote appropriate health, nutrition,
sanitary, hygiene and parenting behaviours
activity indicators

Intensify the use of multiple 1. % infants aged less than six


communication channels to reach months who are exclusively
the public with information and breastfed
counselling services 2. % infants aged 6-23 months
who fed a minimum acceptable
diet (adequate diversity,
adequate frequency, and milk)
3. % household members aged at
least 10 years who practice
hand washing.
4. % households that consume
iodized salt
Strengthen competencies of nutritionists and
health workers providing nutrition services
activities indicators
1. Update nutrition service standards 1. Nutrition service standards for the health
for the health system that reflect system established that reflect current
current and emerging population and emerging population needs to
needs to improve nutrition improve nutrition.
2. Standardize job descriptions of 2. Standardized job descriptions of
nutritionist and other health workers nutritionist and other health workers
providing nutrition services providing nutrition services are available.
3. Update and standardize the 3. Competencies and pre-service curricula
competencies and pre-service of nutritionists and other relevant health
curricula of nutritionists and other workers are standardized.
relevant health workers.
4. System for accreditation of courses for
4. Accredit courses for pre-service pre-service training of nutritionists
training of nutritionists 5. % nutritionists and other relevant health
5. Conduct in-service training on workers who have received in-service
nutrition to refresh and update training on nutrition in the last two years.
knowledge and skills of nutritionists
and other relevant health workers
Strengthen the design, implementation and monitoring
of laws, regulations and standards for nutrition
activities indicators
1. Revise the legislation on the Legislation in place that complies
marketing of breastmilk substitutes with all provisions of the
to comply with all provisions of the International Code on the
International Code on the Marketing of Breastmilk
Marketing of Breastmilk Substitutes and subsequent
Substitutes and subsequent resolutions.
resolutions
2. Develop/update standards for Laws, regulations and
processed commercial sJumlahtandards in place for
complementary foods and processed commercial
mandatory fortified foods. complementary foods, mandatory
3. Monitor laws, regulations and fortified foods, and other
standards for BMS, fortified foods processed foods for the general
and processed foods high in population.
saturated fats, trans fatty acids,
free sugars, or salt
LANGKAH-2 NUTRIFIKASI
No Langkah
1. Melakukan analisis situasi klien /pasien/
kelompok klien yang membutuhkan
modifikasi resep/ formula
2 Melakukan modifikasi resep/makanan
formula untuk mencapai kebutuhan gizi
dan diet khusus pada klien/pasien atau
kelompok klien
3 Mendokumentasikan hasil modifikasi
resep/makanan formula
LANGKAH-LANGKAH
NUTRIFIKASI
LANGKAH : 1. Melakukan analisis situasi klien /pasien/
kelompok klien yang membutuhkan modifikasi resep/
formula
Langkah Indikator
1. Melakukan 1.1.Kondisi yang biasa
analisis situasi ditemukan (kebutuhan gizi
klien /pasien/ dan diet khusus) pada
kelompok klien klien/pasien atau kelompok
yang klien yang membutuhkan
membutuhkan modifikasi diet/formula
modifikasi resep/ 1.2. Ketidak seimbangan gizi
formula yang diakibatkan oleh gaya
hidup yang berhubungan
dengan penyakit-penyakit
dan kelainan-kelainan.
1.3.Pedoman diet yang ada
LANGKAH : 2. Melakukan modifikasi resep/makanan
formula untuk mencapai kebutuhan gizi dan diet khusus
pada klien/pasien atau kelompok klien

Elemen Indikator
2. Melakukan 2.1.Hasil analisis, tujuan modifikasi resep/ makanan
modifikasi formula
resep/makana 2.2.Resep atau makanan formula yang akan
n formula dimodifikasi untuk klien/pasien atau kelompok klien
untuk 2.3.Rancangan hasil modifikasi resep/ makanan formula
mencapai 2.4.Uji coba modifikasi resep/ makanan formula
kebutuhan gizi 2.5.Formulir penilaian resep /makanan formula secara
dan diet organoleptik organoleptik
khusus pada 2.6.Perbaikan hasil modifikasi resep/ makanan formula
klien/pasien kemudian ditetapkan sebagai standar resep
atau kelompok 2.7.Standar Resep / makanan formula hasil modifikasi
klien dihitung biayanya sesuai dengan alokasi dana
2.8.Perhitungan mutu protein hasil modifikasi/
makanan formula (mis BMC dll)
LANGKAH-3: Mendokumentasikan
hasil modifikasi resep / makanan
formula
Langkah Indikator
3. Mendokumentasikan 3.1. Pencatatan sistematik
hasil modifikasi proses modifikasi
resep/makanan resep/ formula
formula 3.2. Isi / susunan
dokumentasi dan
laporan dalam bentuk
SOP standar resep/
formula yang
dimodifikasi
KRITERIA UNJUK KERJA (KUK)  Mengawasi
No Elemen Kriteria Pencapaian Kompetensi
1. Melakukan analisis 1.1.Kondisi yang biasa ditemukan (kebutuhan gizi dan diet
situasi klien /pasien/ khusus) pada klien/pasien atau kelompok klien yang
kelompok klien yang membutuhkan modifikasi diet/formula
membutuhkan 1.2. Ketidak seimbangan gizi yang diakibatkan oleh gaya
modifikasi resep/ hidup yang berhubungan dengan penyakit-penyakit dan
formula kelainan-kelainan.
1.3.Pedoman diet yang ada
2 Melakukan modifikasi 2.1.Hasil analisis, tujuan modifikasi resep/ makanan formula
resep/makanan formula 2.2.Resep atau makanan formula yang akan dimodifikasi
untuk mencapai untuk klien/pasien atau kelompok klien
kebutuhan gizi dan diet 2.3.Rancangan hasil modifikasi resep/ makanan formula
khusus pada 2.4.Uji coba modifikasi resep/ makanan formula
klien/pasien atau 2.5.Formulir penilaian resep /makanan formula secara
kelompok klien organoleptik organoleptik
2.6.Perbaikan hasil modifikasi resep/ makanan formula
kemudian ditetapkan sebagai standar resep
2.7.Standar Resep / makanan formula hasil modifikasi
dihitung biayanya sesuai dengan alokasi dana
2.8.Perhitungan mutu protein hasil modifikasi/ makanan
formula (mis BMC dll)
3 Mendokumentasikan 3.1.Pencatatan sistematik proses modifikasi resep/ formula
hasil modifikasi 3.2. Isi/susunan dokumentasi dan laporan dalam bentuk
resep/makanan formula SOP standar resep/ formula yang dimodifikasi
TEORI :
EVALUASI
• Jelaskan Pengertian Nutrifikasi
• Jlaskan Prinsip Nutrifikasi
• Uraikan Syarat Nutrifikasi
• Uraikan Cara Nutrifikasi
• Uraikan Tujuan Nutrifikasi
• Sebutkan Contoh hasil produk Nutrifikasi
• Uraikan MEKANISME MODIFIKASI / FORMULASI :
 Lakukan analisis situasi klien /pasien/ kelompok klien yang
membutuhkan modifikasi resep/ formula
 Lakukan modifikasi resep/makanan formula untuk mencapai
kebutuhan gizi dan diet khusus pada klien/pasien / kelompok klien
 Dokumentasikan hasil modifikasi resep/makanan formula

PRAKTIKUM (di Lab) :


 Lakukan analisis situasi sasaran
 Lakukan modifikasi resep / makanan formula
 Dokumentasikan hasil modifikasi resep/makanan formula
TUGAS IKUTI ... ACARA di Media Elektronik / cetak
(periode 1 minggu kedepan setelah materi ini diberikan)
1. IKLAN KOMERSIAL PRODUK PANGAN
2. IKLAN LAYANAN MASYARAKAT (KESEHATAN)

1. Lakukan kajian / analisa, termasuk katagori


“Nutifikasi” yang mana iklan-iklan tsb ?
2. Tuliskan hasil kajian / analisa tersebut dalam 1 format
dan dikumpulkan pada saat UTS
3. Format
No Iklan tentang Suplementasi (v) Fortifkasi (v)
BM Zat Gizi 1 2 3 4 5 6

1. Restorasi
2. Dosis tinggi
3. Utk membuat makanan bergizi lengkap
4. Utk meningkatkan kesehatan masyarakat
5. Utk memperkaya (Enrichment)
6. Utk tujuan teknologi