Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

HUKUM ACARA PTUN


“ PANGKAL SENGKETA TUN“

Dosen Pembimbing :
Drs. FATKHUROHMAN., SH., MH.

Di susun oleh :
TRIJAKA
GIYANTO
JUBILATE OHAVE
AHMAT SYAFAK
YESIKA
INTAN
REDICA EFRITA GAUTAMA
RAHMA

JURUSAN S1 ILMU HUKUM


FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS WIDYAGAMA MALANG
2018/2019
Latar Belakang
Perbuatan administrasi Negara (TUN) dapat
dikelompokkan ke dalam 3 (tiga) macam perbuatan,
yakni; mengeluarkan keputusan, mengeluarkan
peraturan perundang-undangan, dan melakukan
perbuatan materiil.
Dalam melakukan perbuatan tersebut badan atau
pejabat tata usaha Negara tidak jarang terjadi
tindakan-tindakan yang menyimpang dan melawan
hukum, sehingga dapat menimbulkan berbagai
kerugian bagi yang terkena tindakan tersebut.
Kerugian yang ditimbulkan inilah yang akan
mengakibatkan adanya sengketa TUN.
DARI PENJELASAN DIATAS DAPAT DISIMPULKAN
BAHWA :

Sengketa tata usaha Negara adalah sengketa


yang ditimbul dalam bidang tata usaha Negara
antara orang atau badan hukum perdata dengan
badan atau pejabat tata usaha negara, baik di
pusat maupun di daerah sebagai akibat
dikeluarkannya keputusan, peraturan perundang-
undangan, dan melakukan perbuatan materiil tata
usaha negara.
Pasal 1 angka 4 UU PTUN
menyebutkan sebagai berikut:
“ Sengketa tata usaha Negara adalah sengketa
yang timbul dalam bidang tata usaha Negara antara
orang atau badan hukum perdata dengan badan
atau pejabat tata usaha negara, baik di pusat
maupun di daerah sebagai akibat dikeluarkannya
keputusan tata usaha negara, termasuk sengketa
kepegawaian berdasarkan peraturan perundang-
undangan yang berlaku “.
Lebih Lanjut :
• Berdasarkan pada pengertian di atas, yang menjadi pangkal sengketa
dalam peradilan TUN itu sangat terbatas pada keputusan saja,dan ini
pun dipersempit lagi hanya keputusan TUN yang tertulis saja.
• Hal ini berarti, tidak semua tindakan badan atau pejabat TUN ini
dapat digugat melalui Peradilan TUN. Namun, yang dapat digugat
melalui Peradilan TUN sebatas keputusan TUN saja.
• Tindakan-tindakan badan atau pejabat TUN yang tanpa keputusan
tidak menjadi objek sengketa Peradilan TUN.
• Dari pengertian itu dapat ditarik unsur-unsur TUN adalah sebagai
berikut:
1. Suatu penetapan tertulis,
2. Dikeluarkan oleh badan atau pejabat tata usaha negara,
3. Berisi tindakan hukum tata usaha negara,
4. Bersifat konkret,
5. Individual, dan
6. Final,
7. Menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum
perdata.
Jenis Sengketa TUN
Sengketa Tata Usaha Negara dapat dibedakan menjadi 2 yaitu
sengketa intern dan sengketa ekstern.
Sengketa intern atau sengketa antara administrasi negara terjadi
di dalam lingkungan administrasi Negara (TUN) itu sendiri, baik
yang terjadi dalam satu departemen (instansi) maupun sengketa yang
terjadi antar departemen (instansi).
Sengketa esktern atau sengketa antara administrasi Negara
dengan rakyat adalah perkara administrasi yang menimbulkan
sengketa antara administrasi Negara dengan rakyat sebagai subjek
yang berperkara ditimbulkan oleh unsur dari unsure peradilan
administrasi murni yang mensyaratkan adanya minimal dua pihak
dan sekurang-kurangnya salah satu pihak harus administrasi Negara,
yang mencakup administrasi Negara di tingkat daerah maupun
administrasi Negara pusat yag ada di daerah.
Kedudukan Para Pihak
Dari Penjelasan Pasal 1 angka 4 UUPTUN dapat
diketahui kedudukan para pihak dalam sengketa PTUN
adalah :
1. Orang (person)/Badan Hukum sebagai pihak penggungat.
2. Badan atau pejabat TUN sebagai pihak tergugat.

Dua kondisi diatas tidak mungkin berubah dan menjadi


konsekwensi logis karena hanya Badan atau pejabat TUN
yang dapat mengeluarkan Keputusan, Kebijakan, maupun
peraturan-peraturan yang berkaitan dengan Tata Usaha
Negara begitu pula orang (person)/ Badan Hukum yang akan
menerima imbas dari kebijakan yang dikeluarkan.
PIHAK-PIHAK DALAM SENGKETA TUN

1. Pihak Penggugat.
2. Pihak tergugat.
3. Pihak Ketiga yang berkepentingan.
• Pihak Penggugat.
Yang dapat menjadi pihak penggugat dalam perkara di Pengadilan
Tata Usaha Negara adalah :
1. setiap subjek hukum,
2. orang maupun badan hukum perdata.
yang merasa kepentingannya dirugikan dengan dikeluarkannya
keputusan Tata Usaha Negara oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha
Negara di Pusat maupun di Daerah (Pasal 53 ayat (1) jo Pasal 1 angka 4
UU no. 5 tahun 1986).
Dalam prakteknya masih dimungkinkan BUMN atau Pejabat Tata
Usaha Negara bertindak sebagai penggugat, namun setelah berlakunya
Undand-undang Nomor 5 tahun 1986, hal itu tidak dimungkinkan lagi
kecuali adanya alasan khusu yaitu terkait Sertipikat tanah, hak dari
gugatan adalah hak keperdataan dari BUMN tersebut.
3. BUMN dalam hal adanya unsur kepentingan menjadi pokok
persoalaannya sebagaimana pasal 53 ayat (1).
• Pihak tergugat.

Pihak tergugat adalah Badan atau Pejabat Tata


Usaha Negara yang mengeluarkan keputusan
berdasarkan wewenang yang ada padanya atau yang
dilimpahkan kepadanya (Pasal 1 angka 6 UU no. 5
tahun 1986). Yang dimaksud wewenang tersebut
adalah berdasarkan peraturan perundang-undangan
yang berlaku. Wewenang tersebut bisa berasal dari
Atribusi, Delegasi, atau Mandat.
• Pihak Ketiga yang berkepentingan.
Selama pemeriksaan berlangsung (pasal 83):
1. setiap orang
2. Yang berkepentingan dalam sengketa pihak lain
3. Yang sedang diperiksa oleh Pengadilan,
4. Baik atas prakarsa sendiri dengan mengajukan permohonan,
maupun atas prakarsa Hakim dapat masuk dalam sengketa Tata
Usaha Negara, dan
5. Bertindak sebagai: pihak yang membela haknya; atau peserta yang
bergabung dengan salah satu pihak yang bersengketa.
Apabila pihak ketiga yang belum pernah ikut serta atau diikut
sertakan selama waktu pemeriksaan sengketa yang bersangkutan, pihak
ketiga tersebut berhak mengajukan gugatan perlawanan terhadap
pelaksanaan putusan pengadilan tersebut kepada Pengadilan yang
mengadili sengketa tersebut pada tingkat pertama (pasal 118 ayat 1).
Alur penyelesaian sengketa Tata
Usaha Negara adalah sebagai berikut:

1. Upaya Administratif.
a. Keberatan.
b. Banding Administratif.
2. Gugatan Melalui Pengadilan Tata Usaha
Negara.
Upaya Administratif
Upaya administratif adalah suatu prosedur yang dapat ditempuh
oleh seorang atau badan hukum perdata apabila ia tidak puas
terhadap suatu Keputusan Tata Usaha Negara. Prosedur tersebut
dilaksanakan di lingkungan pemerintahan sendiri dan terdiri atas
dua bentuk:
a. Keberatan
Penyelesaian sengketa Tata Usaha Negara yang dilakukan
sendiri oleh Badan/Pejabat Tata Usaha Negara yang
mengeluarkan Keputusan Tata Usaha Negara.
b. Banding Administratif
Penyelesaian sengketa Tata Usaha Negara yang dilakukan
oleh instansi atasan atau instansi lain dari Badan/Pejabat Tata
Usaha Negara yang mengeluarkan Keputusan Tata Usaha
Negara, yang berwenang memeriksa ulang Keputusan Tata
Usaha Negara yang disengketakan .
Gugatan Melalui Pengadilan Tata Usaha Negara
Pada pokoknya upaya Pengadilan Tata Usaha Negara, baru
berwenang memeriksa, memutus dan menyelesaikan sengketa Tata
Usaha Negara jika seluruh upaya administratif sudah digunakan.
Apabila peraturan dasarnya hanya menentukan adanya upaya
administratif berupa pengajuan surat keberatan, maka gugatan
terhadap Keputusan Tata Usaha Negara yang bersangkutan
diajukan kepada Pengadilan Tata Usaha Negara.
Namun, jika peraturan dasarnya menentukan adanya upaya
administatif berupa pengajuan surat keberatan dan/atau
mewajibkan pengajuan surat banding administratif, maka gugatan
terhadap Keputusan Tata Usaha Negara yang telah diputus dalam
tingkat banding administratif diajukan langsung kepada
Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara dalam tingkat pertama yang
berwenang.
DEMIKIAN
DAN
TERIMAKASIH