Anda di halaman 1dari 63

PROSES FISIOLOGI PADA LINGKUNGAN

TERBATAS

YAYA HASANAH
PENDAHULUAN
• Faktor lingkungan akan mempengaruhi fungsi fisiologis tanaman 
respons  penampilan tanaman.
• Faktor lingkungan terkadang berubah cukup drastis sehingga
membuat tumbuhan menjadi tercekam  berpengaruh buruk pada
fisiologis tumbuhan dan kelangsungan hidup tumbuhan
• Peningkatan gas-gas rumah kaca saat ini berpengaruh besar
terhadap sektor pertanian
CEKAMAN
 Cekaman  faktor lingkungan biotik dan abiotik yang dapat
mengurangi laju proses fisiologi.
 Tanaman mengimbangi efek merusak dari cekaman melalui
berbagai mekanisme yang beroperasi lebih dari skala waktu yang
berbeda, tergantung pada sifat dari cekaman dan proses
fisiologis yang terpengaruh.
 Respon ini bersama-sama memungkinkan tanaman untuk
mempertahankan tingkat yang relatif konstan dari proses
fisiologis, meskipun terjadinya cekaman secara berkala dapat
mengurangi kinerja tanaman tersebut.
 Jika tanaman akan mampu bertahan dalam lingkungan yang
tercekam, maka tanaman tersebut memiliki tingkat resistensi
terhadap cekaman.
 Contoh cekaman  peningkatan CO2, kelebihan logam berat,
kekeringan dan genangan, kelebihan garam dan naungan oleh
tanaman lain.
HUKUM TOLERANSI SHELFORD
 Keberhasilan organisme dapat dikendalikan oleh
kekurangan atau kelebihan secara kualitatif dan
kuantitatif dari salah satu faktor yang mendekati batas
toleransi organisme tersebut.
 Konsep hukum toleransi Shelford :
Setiap organisme mempunyai batas maksimum dan
minimum ekologis yang merupakan batas-batas dari
kisaran toleransinya.
PENINGKATAN KADAR CO2
 Tanaman dipengaruhi peningkatan
CO2 di atmosfer  penghubung
pertama secara molekuler antara
atmosfer dan biosfer.
 Gas CO2  potensi untuk
mempengaruhi proses anatomi
hingga fisiologi utama yaitu
fotosintesis, transpirasi dan respirasi
 Perubahan terhadap konsentrasi
CO2 udara akan berpengaruh terhadap
proses-proses tersebut sebagai suatu
bentuk adaptasi tanaman.
PENINGKATAN KADAR CO2
 Peningkatan kandungan CO2 udara  efek
positif maupun negatif terhadap metabolisme
tanaman.
 Peningkatan CO2 diprediksi dapat menstimulasi
produksi pangan  'CO2 Fertilization'.
 Penelitian terhadap pengaruh peningkatan
kandungan CO2 udara terhadap berbagai jenis
tanaman menunjukkan efek yang beragam 
positif, negatif maupun tidak berpengaruh sama
sekali terhadap kondisi tanaman.
Pengaruh Konsentrasi CO2 terhadap sintesis biomass
pada C3 dan C4
PENGARUH PENINGKATAN CO2 TERHADAP ANATOMI
TUMBUHAN
 Pengamatan dengan menggunakan mikroskop
elektron menunjukkan adanya penipisan pada
dinding bundle seath cell pada tanaman yang ditanam
pada konsentrasi CO2 700 μl l-1 dibandingkan dengan
tanaman yang ditanam pada kosentrasi 350 μl l-1.
 Hal ini diakibatkan oleh penurunan jumlah suberin
pada dinding sel dan menyebabkan terjadinya
peningkatan permeabilitas bundle seath cell terhadap
CO2.
 Peningkatan konsentrasi CO2 tidak menunjukkan
perubahan nyata pada jumlah stomata serta panjang
sel penjaga (Walting et al., 2000).
PENGARUH PENINGKATAN CO2 TERHADAP
MORFOLOGI TUMBUHAN
 Luas daun kacang tanah meningkat
ketika ditanam pada kandungan
CO2 yang tinggi (800 μmol) pada suhu
25/15oC dibandingkan dengan tanaman
yang ditanam pada lingkungan dengan
kandungan CO2 sebesar 400 μmol,
 Kondisi tersebut tidak terjadi pada suhu
yang lebih tinggi (Pilumwong et al.,
2007).
Leaf cross
section
Vein

Mesophyll

CO2 O2
Stomata
PENGARUH PENINGKATAN CO2 TERHADAP FOTOSINTESIS
 Fungsi gas CO2 :
 Komponen penting fotosintesis
 Substrat untuk asimilasi karbon pada
fotosintesis
 Tanaman C3  respons (+) terhadap
peningkatan CO2 hingga kadar
tertentu, karena CO2 meningkat
mengurangi aktivitas enzim Rubisco.
 Tanaman C4  hanya menunjukkan
sedikit perubahan dalam
fotosintesis/tidak menunjukkan
perubahan  karena jalur C4 tidak
dihambat oleh O2 dan tidak dijenuhi
oleh CO2 secara total.
 Tanaman C4 bisa
mengabaikan respons
fotosintesisnya terhadap
kenaikan CO2  siklus C4
akan meningkatkan
konsentrasi CO2 dalam sel-
sel seludang pembuluhnya ke
titik dimana fotorespirasi
sangat kecil dalam siklus
Calvin-Benson CO2 hampir
mencapai konsentrasi
jenuhnya.
TANAMAN C3
 Pada tanaman C3, RuBp (RuBp merupakan subtrat untuk
pembentukan karbohidrat dalam proses fotosintesis) dalam
proses awal asimilasi mampu mengikat CO2 dan pada saat
yang bersamaan juga dapat mengikat O2 untuk proses
respirasi, sehingga terjadi kompetisi antara CO2 dan O2
dalam penggunaan RuBp.
 Jika konsentrasi CO2 ditingkatkan, hasil kompetisi CO2
akan lebih menguntungkan sehingga fotorespirasi dapat
dikurangi dan asimilasi akan bertambah besar.
 Contoh tanaman C3 adalah kedelai, padi, kacang tanah,
kentang.
 Fotosintesis pada tanaman C3 mengalami peningkatan
dengan bertambahnya konsentrasi CO2 di udara.

 Aktivitas Rubisco pada mesofil mengalami peningkatan yang


cukup tinggi sebagai respon dari peningkatan CO2 udara.

 Beberapa penelitian menggunakan tanaman C3 (padi, dan


kedelai) menunjukkan adanya peningkatan total fotosintesis
dan hasil pada kondisi CO2 yang ditingkatkan (elevated
CO2) dibandingkan dengan ambient CO2 (dapat diartikan
sebagai kondisi normal CO2 di atmosfir)
 Peningkatan konsentrasi CO2, menstimulasi
peningkatan asimilasi CO2, pertumbuhan serta
hasil tanaman C3 melalui penurunan aktivitas
fotorespirasi serta peningkatan fiksasi CO2 oleh
Rubisco.
 Cheng et al., (2000) menyebutkan bahwa
tanaman bunga matahari yang ditumbuhkan
pada kondisi elevated CO2  peningkatan GPP
(Gross Primary Product) yaitu total CO2 yang
digunakan dalam fotosintesis, serta NPP (Nett
Primary Product) yaitu GPP – respirasi.
 GPP dan NPP mengalami peningkatan hingga 43 hst
dan kemudian mengalami penurunan seiring dengan
penutupan kanopi.
 Hal ini menunjukkan bahwa penambahan biomasa pada
elevated CO2 berbeda tergantung pada fase
pertumbuhannya.
 Root : Shoot ratio pada tanaman bunga matahari yang
ditanam pada elevated CO2 lebih tinggi dibandingkan
pada kondisi ambient CO2.
 Hal ini menunjukkan bahwa pada kondisi elevated
CO2 tanaman lebih banyak mengalokasikan fotosintat ke
daerah perakaran atau bagian bawah tanaman.
 Namun tidak demikian pada tanaman C4, dimana rubisco
terletak pada bundle seath cell yang memiliki konsentrasi
CO2 3 – 6 kali lipat dibandingkan dengan udara
sekitarnya.
Pengaruh peningkatan CO2
pada tanaman
 Pada tumbuhan C3 seperti kapas (Gossypium
hirsutum L.) dan kedelai dengan meningkatkan luas
daun dan fotosintesis per satuan luas daun.

 Pada tanaman C4 seperti jagung (Zea mays L.) dan


sorgum, peningkatan pertumbuhan adalah hasil
menurunkan konduktansi stomata dan peningkatan
efisiensi penggunaan air (Reeves, 1994).
Peningkatan laju assimilasi tanaman kedelai (C3) dengan
pertambahan PAR pada konsentrasi CO2 berbeda.
Laju assimilasi (m mol CO2 m-2 s-1) tanaman kedelai dengan
meningkatnya CO2 pada suhu berbeda.
 Kalau CO2 di permukaan daun di kurangi, mencapai
suatu titik dimana CO2 yang diserap tanaman sama
dengan yang dihasilkannya, maka titik ini disebut
"CO2 compensation point" (titik kompensasi CO2) G .
 Nilai G adalah sekitar 50 m mol m-2 s-1 pada suhu 25 oC,
dan meningkat dengan meningkatnya suhu permukaan
daun.
 Untuk tanaman kedelai nilai G lebih rendah, yaitu sekitar
40 m mol m-2 s-1 pada 25 oC.
 Nilai ini penting di dalam konteks perubahan iklim yang
berkaitan dengan kenaikan suhu.
 Dengan kenaikan suhu, produksi biomasa akan
berkurang jika CO2 di permukaan daun mencapai titik
kompensasinya (biasa terjadi di siang hari pada saat
matahari terik dan kecepatan angin sangat rendah atau
di bawah kanopi hutan tropis karena nilai G meningkat
 Meningkatnya suhu daun dari 15 oC ke 35 oC
menyebabkan laju asimilasi bertambah besar.
 Meningkatnya asimilasi dengan kenaikan suhu
merupakan fenomena umum, sampai suhu optimum
tercapai, lalu akan terjadi penurunan,
 Adanya kenaikan CO2 di atmosfir akan mengubah
suhu optimum tanaman.
 Untuk tanaman kedelai, kenaikan suhu optimum
mencapai 12 %
 Bertambah besarnya suhu optimum ini
menguntungkan bagi tanaman karena pada saat
konsentrasi CO2 di atmosfir mencapai 2 kali
konsentrasinya saat ini, akan terjadi kenaikan suhu
sampai 5.5 oC.
Suhu optimum untuk proses assimilasi akan berubah
dengan kenaikan CO2 di atmosfir.
TANAMAN C4
 Pada tanaman C4, CO2 diikat oleh PEP (enzym pengikat
CO2 yang tidak dapat mengikat O2 sehingga tidak terjadi
kompetisi antara CO2 dan O2.
 Lokasi terjadinya assosiasi awal ini adalah di sel-sel mesofil
(sekelompok sel-sel yang mempunyai klorofil yang terletak
di bawah sel-sel epidermis daun).
 CO2 yang sudah terikat oleh PEP kemudian ditransfer ke
sel-sel "bundle sheath" (sekelompok sel-sel di sekitar xylem
dan phloem) dimana kemudian pengikatan dengan RuBP
terjadi.
 Karena tingginya konsentasi CO2 pada sel-sel bundle
sheath ini, maka O2 tidak mendapat kesempatan untuk
bereaksi dengan RuBP, sehingga fotorespirasi sangat kecil.
 Contoh tanaman C4 adalah jagung, sorghum, tebu.
TANAMAN C4
 Watling et al., (2000), mengemukakan terjadi
penurunan efektivitas fotosintesis pada tanaman C4
yang ditanam pada kondisi CO2 berlebih, namun
demikian tidak terjadi perubahan pada titik
kompensasi CO2, karena fotorespirasi tanaman C4
sangat rendah.
 Perlakuan dilakukan dengan menanan tanaman
sorghum pada dua tingkat kosentrasi CO2 yaitu 350
dan 700 μl l -1.
 Tanaman C4 yang ditanam pada 700 μl l -1
CO2 mengalami penurunan aktivitas PEP karboksilase
(Phospoenolpyruvat carboxylase) secara nyata
dibandingkan dengan tanaman yang ditanam pada 350
μL/L.
TANAMAN C4
 Jumlah PEP karboksilase menjadi lebih rendah diiringi
dengan penurunan aktivitasnya, namun demikian
tidak terjadi perubahan pada aktivitas Rubisco
di bundle seath cell.

 Leakey et al (2006), dalam penelitiannya


menunjukkan terjadi penurunan baik pada aktivitas
PEP karboksilase juga rubisco pada tanaman jagung
yang ditanam pada kosentrasi CO2 yang tinggi. \

 Tidak terjadi peningkatan karbohidrat pada tanaman


jagung yang ditanam dalam kosentrasi CO2 yang
tinggi.
 Tanaman sorghum yang ditumbuhkan pada CO2 tinggi
mengalami penipisan dinding bundle sheath cell.
 Perubahan anatomi ini semakin menguatkan
terjadinya penurunan efisiensi fotosintesis pada
tanaman tersebut, karena terjadi peningkatan
konduktansi dinding bundle seath cell terhadap CO2.
 Kebocoran pada bundle sheath cell antara 24-33 % 
mengurangi efisiensi penggunaan cahaya oleh
tanaman C4, karena CO2 yang bocor atau keluar
dari bundle seath cell kemungkinan akan hilang atau
terfiksasi kembali oleh PEP karboksilase.
 Hal ini meningkatkan energi yang diperlukan untuk
kembali memfiksasi CO2.
 Tanaman yang ditumbuhkan pada kosentrasi CO2 tinggi
mengalami penurunan aktivitas PEPC seiring dengan
terjadinya penurunan jumlah PEP pada mesofil daun.
 Hal ini menyebabkan penurunan fotosintesis, sebab
level CO2 di bundle sath cell menurun untuk aktivitas
dengan rubisco.
 Hasil penelitian  PEP pada tanaman yang
ditumbuhkan pada kondisi konsentrasi CO2 tinggi lebih
rendah 51% dibanding tanaman dalam kondisi normal.
 Namun demikian tidak terjadi perubahan pada
kandungan N daun serta klorofil total pada tanaman
 Peningkatan hasil pada tanaman C3 pada kondisi
elevated CO2 adalah 10 – 50 %
 Tanaman C4 hanya 0-10 % dari kondisi normal.
AKUMULASI KARBOHIDRAT
 Akumulasi karbohidrat dalam daun dan organ
tanaman lainnya dalam bentuk pati, karbohidrat
terlarut  tergantung spesies.
 Peningkatan akumulasi karbohidrat terutama di
daun menunjukkan bahwa tanaman tidak
sepenuhnya dapat menyesuaikan diri dengan CO2
yang tinggi.
 Hal ini mungkin karena tanaman yang
mendapatkan CO2 yang tinggi tidak memiliki sink
yang memadai atau tidak memiliki kapasitas
floem yang memuat dan mentranslokasi
karbohidrat terlarut ke semua bagian tanaman.
 Laju respirasi per unit area diperkirakan
akan meningkat dengan peningkatan
kapasitas fotosintesis, laju pertumbuhan
dan tingkat substrat karena biomassa yang
tinggi  memerlukan suplai energi lebih
besar untuk pemeliharaan pertumbuhan.
 Laju respirasi spesifik mungkin menurun
akibat paparan jangka pendek terhadap
peningkatan CO2
 Peningkatan CO2 akan menurunkan
konduktansi stomata pada kebanyakan
spesies  penurunan kemampuan transpirasi
per unit area daun.
 Penurunan 40% konduktansi stomata  yg
diinduksi oleh kenaikan 2x lipat CO2 sering
terjadi pada  10% penurunan kadar air
kanopi daun pada kondisi lapang  ILD
mungkin meningkat.
 Stomata mempunyai fungsi sebagai "pintu
gerbang" masuknya CO2 dan keluarnya uap
air ke/dari daun.
 Besar kecilnya pembukaan stomata
merupakan regulasi terpenting yang
dilakukan oleh tanaman, dimana tanaman
berusaha memasukkan CO2 sebanyak
mungkin tetapi dengan mengeluarkan H2O
sesedikit mungkin, untuk mencapai effisiensi
pertumbuhan yang tinggi.
 Daya ikat yang tinggi terhadap CO2 pada tanaman C4,
menyebabkan perbandingan antara pemasukan CO2 dan
konduktivitas stomata (kemampuan stomata menyalurkan H2O
persatuan waktu) optimum.
 Artinya, tanaman-tanaman C4 mempunyai efisiensi penggunaan
air yang tinggi  jumlah air yang dikeluarkan untuk sejumlah CO2
yang dimasukkan jauh lebih sedikit pada tanaman C4
dibandingkan dengan tanaman C3.
 Pada tanaman C3, daya ikat yang rendah terhadap CO2
menyebabkan tanaman ini boros dalam penggunaan air.
 Jika CO2 di atmosfir meningkat, tanaman tidak membutuhkan
pembukaan stomata maksimum untuk mencapai konsentrasi CO2
optimum di dalam daun, sehingga laju pengeluaran H2O dapat
dikurangi. Gambar 3 berikut menunjukkkan bagaimana stomata
mengecil dengan meningkatnya CO2.
Kenaikan CO2 di atmosfir menyebabkan pembukaan stomata mengecil
(ditunjukkan dengan menurunnya konduktivitas stomata) sehingga
transpirasi dari permukaan daun menurun.
 Kenaikan CO2 dari 350 ( kondisi normal di atmosfir saat ini) ke700
m bar, konduktivitas stomata menurun sebesar 32 %,
menghasilkan penghematan air sebesar 28 %.

 Besarnya penurunan ini tergantung dari respon asimilasi


tanaman terhadap peningkatan CO2 yang berkisar dari 0 % pada
tanaman C4 sampai 40 % pada tanaman C3 .

 Efisiensi penggunaan air (ratio antara CO2 yang diikat tanaman


dengan jumlah air yang dikeluarkan), baik pada tanaman C3
maupun C4 akan meningkat dengan bertambah besarnya CO2.

 Pada tanaman C3, peningkatan ini disebabkan oleh


meningkatnya asimilasi dan menurunnya transpirasi, sedang
pada pada tanaman C4 hanya disebabkan oleh menurunnya
transpirasi.
 Perubahan aktual evapotranspirasi diatur oleh
keseimbangan energi, dimitigasi oleh :
 Konduktansi stomata
 Indeks luas daun
 Struktur tanaman
 Perubahan iklim
 Stomata di bawah daun lebih sensitif pada
pengayaan CO2 dibandingkan stomata diatas daun
pada tanaman padi.
 Peningkatan CO2  perubahan anatomi
secara signifikan.
 Penggunaan TEM (transmission electron
microscope)  peningkatan nyata
terhadap ketebalan epidermis, ukuran sel
mesofil, akumulasi pati (ukuran dan
jumlah granula pati per kloroplas)
tanaman Brassica juncea yang
ditumbuhkan pada kondisi CO2 tinggi.
(Uprety et al. 2001).
 Peningkatan jumlah dan ukuran sel palisade
bersamaan dengan peningkatan jumlah
kloroplas per daun  berlebihnya tempat
penyimpanan pati pada kondisi stres.
 Pengaruh buruk dari struktur kloroplas
(karenan cekaman air dan pemuatan
kloroplas yang berlebih) bisa dikurangi
dengan peningkatan CO2.
 Anatomi daun mencerminkan optimasi
strategi akibat tingkat CO2 yang tinggi
 pemuatan kloroplas dengan pati
yang berlebih  mengurangi efek
merugikan dari kekeringan pada daun B.
juncea.
 Rasio C/N pada daun tanaman umumnya
meningkat dalam kondisi kadar CO2 yang tinggi.
 Tanaman mampu mengaklimatisasi
peningkatan CO2 melalui pengurangan
kebutuhan enzim Rubisco dan perlengkapan
yang menyebabkan rendahnya kandungan N.
 Paparan CO2 tinggi jangka panjang 
pengurangan kapasitas daun gandum untuk
berfoto asimilasi NO3 pada setiap konsentrasi
CO2
 Kandungan N per satuan berat kering daun
tidak mengalami perbedaan baik pada daun
bagian atas maupun bagian bawah.
 Peningkatan fotosintesis ternyata lebih tinggi
pada daun bagian atas dibandingkan dengan
bagian bawah kanopi dengan peningkatan
CO2 daun bagian atas memiliki 68 % berat
kering per unit area, 63% N dan 27% klorofil
yang lebih banyak dibandingkan dengan daun
bagian bawah.
 Laju asimilasi bersih pada daun bagian atas
lebih tinggi daripada bagian bawah pada
peningkatan CO2 pada bulan Juni.
 Respon ini diperkirakan dipengaruhi oleh aktivitas
Rubisco.
 Perbedaan ini kemungkinan diakibatkan oleh
jumlah N per unit luas daun pada daun bagian atas
lebih besar dibandingkan dengan daun bagian
bawah.
 Percobaan ini menunjukkan bahwa daun bagian
atas lebih banyak mengambil CO2 dibandingkan
dengan daun bagian bawah.
 Pada bulan Juni pengambilan CO2 pada daun
bagian atas sebanyak 79 % dan daun bagian bawah
49 %.
 Tingkat bikarbonat yang tinggi dapat menekan
translokasi NO2 ke dalam kloroplas daun gandum
dan pea.
 Oleh karena itu, peningkatan CO2 
menghambat foto asimilasi NO3  ketika
tanaman menerima NO3 sebagai sumber N 
peningkatan CO2 mengakibatkan hambatan
pertumbuhan pucuk hanya setengahnya dan
adanya penghambatan terhadap protein di pucuk
menjadi 2x lipat.
 Implikasi  pada CO2 tinggi, gandum harus
memiliki kemampuan yang tinggi dalam
menggunakan NO3 sebagai sumber N
PAPARAN CO2 JANGKA PENDEK

Paparan CO2 jangka pendek 


pengalihan reduktor fotosintesis
dari NO3- menjadi NO2-
reduksi menjadi bentuk CO2.
PENGARUH PENINGKATAN CO2 TERHADAP
RESPIRASI
 Ada asumsi bahwa peningkatan CO2 di atmosfer akan
menurunkan pengambilan O2 oleh tanaman,
 Penelitian dengan 600x pengukuran pada 9 jenis
tanaman yang dilakukan di Illinois terhadap
peningkatan konsentrasi CO2 dalam jangka waktu
yang panjang  tidak adanya penurunan
pengambilan O2 respirasi tanaman (Davey et al.,
2004).
 Penurunan konduktansi stomata yang terjadi pada
konsentrasi elevated CO2 hanya merupakan adaptasi
sementara namun tidak terjadi dalam jangka panjang.
 Beberapa penelitian  tidak terjadi
perubahan pada karakteristik stomata.
 Respirasi tidak mengalami perubahan pada
konsentrasi CO2 yang ditingkatkan hingga
2x lipat dari kondisi normal.
 Peningkatan CO2 di lingkungan diiringi
dengan peningkatan suhu sebagai efek
berantai dari keberadaan gas rumah kaca
tersebut.  asumsi mengenai peningkatan
CO2 dapat memicu peningkatan hasil harus
dikaji melalui penelitian dengan
mempertimbangkan berbagai faktor lain
yang berubah.
EFISIENSI PENGGUNAAN AIR
 Cekaman air  faktor pembatas dalam pertumbuhan
dan produksi tanaman.
 Pada serelia  bertahan hidup pada cekaman air di
fase vegetatif.
 Adaptasi beberapa tanaman terhadap kekurangan air :
 Memperpendek siklus hidup
 Kemampuan dalam meningkatkan pertumbuhan akar
peningkatan serapan akar
 Kondisi CO2 tinggi  perlu waktu yang lebih lama
bagi tanaman untuk mengalami kekeringan karena
konduktansi stomata yang rendah dan laju transpirasi
yang tinggi.
EFISIENSI PENGGUNAAN AIR
 Potensial osmotik menurun tajam pada kondisi
CO2 tinggi dibanding kondisi pada konsentrasi
ambien CO2 yang menyebabkan tekanan turgor
dapat dipertahankan  pertumbuhan tetap
berlanjut pada kondisi defisit air.
 Tanaman yang tumbuh pada CO2 tinggi :
 Menggunakan air lebih sedikit,
 Lebih efisien dan lebih toleran terhadap
kekeringan
 Selain pengaruh positif terhadap proses
fotosintesis, kenaikan CO2 juga akan mempunyai
pengaruh positif terhadap penggunaan air oleh
tanaman.
 Stomata mempunyai fungsi sebagai "pintu
gerbang" masuknya CO2 dan keluarnya uap air
ke/dari daun.
 Besar kecilnya pembukaan stomata merupakan
regulasi terpenting yang dilakukan oleh tanaman,
dimana tanaman berusaha memasukkan
CO2 sebanyak mungkin tetapi dengan
mengeluarkan H2O sesedikit mungkin, untuk
mencapai effisiensi pertumbuhan yang tinggi.
 Daya ikat yang tinggi terhadap CO2 pada tanaman
C4, menyebabkan perbandingan antara
pemasukan CO2 dan konduktivitas stomata
(kemampuan stomata menyalurkan H2O
persatuan waktu) optimum.
 Tanaman C4 mempunyai efisiensi penggunaan air
yang tinggi.
 Jumlah air yang dikeluarkan untuk sejumlah
CO2 yang dimasukkan jauh lebih sedikit pada
tanaman C4 dibandingkan dengan tanaman C3.
 Pada tanaman C3, daya ikat yang rendah terhadap
CO2 menyebabkan tanaman ini boros dalam
penggunaan air.
Kenaikan CO2 di atmosfir menyebabkan pembukaan stomata mengecil
(ditunjukkan dengan menurunnya konduktivitas stomata) sehingga
transpirasi dari permukaan daun menurun.
PENINGKATAN PRODUKTIVITAS TANAMAN
 Peningkatan CO2 diprediksi akan mempengaruhi
produktivitas tanaman  peningkatan suhu rata2
di permukaan dan jumlah CO2 yang tersedia untuk
fotosintesis.
 Ketika suhu tetap  kenaikan 2x lipat CO2 
meningkatkan hasil padi.
 Terdapat variasi hasil terkait pengaruh perubahan
iklim terhadap produktivitas padi.
 Variasi yang luas dalam produksi padi yang
diantisipasi karena adanya perubahan iklim
PENINGKATAN PRODUKTIVITAS TANAMAN
 Penelitian yang dilakukan oleh
(Pilumwong et al., 2007) pada tanaman
kacang tanah menunjukkan bahwa
peningkatan kandungan CO2 lingkungan
dapat meningkatkan hasil secara signifikan
pada suhu 25/15oC,
 Hal tersebut tidak terjadi pada suhu yang
lebih tinggi yaitu 35/25oC.
 Pada tanaman C4  suhu tinggi
menyebabkan penurunan hasil biji pada
jagung dan sorgum  dimitigasi oleh
kenaikan CO2 dan presipitasi yang naik.
 Efek mitigasi lebih terlihat pada sorgum.
 Perlu penelitian lanjutan, bahwa tanaman
C4 tidak mengalami perubahan jika
dibandingkan dengan ditumbuhkan pada
kondisi normal.
Terima
Kasih
Perbedaan C3 C4 CAM
Anatomi daun Sel fotosintesis yang Sel seludang berkas Biasanya tidak ada sel
tidak punya berkas tertata dengan baik, kaya palisade, vakuola besar
yang jelas organel di sel misofil
Enzim karboksilasi Rubisko (RuBp) PEP karboksilase, lalu Gelap: PEP
rubisco karboksilase
Terang: terutama
rubisko
Keb. Energi teori 1:3:2 1:5:2 1:6, 5:2
(CO2:ATP:NADPH)
Nisbah transpirasi (g 450-950 250-350 18-250
H2O/g peningktn bobot
kering)
Klorofil a/klorofil b 2.8±0.4 3.9±0.6 2.5-3.0
Keb. Na sbg mikrohara Tidak Ya Ya
Titik Kompensasi 30-70 0-10 0-5 saat gelap
CO2 (μmol/mol CO2)
Fotosintesis dihambat Ya Tidak Ya
oleh O2
Fotorespirasi Ya Hanya di seludang berkas Ada di petang hari
Suhu optimum bagi 15-25 30-47 35
fotosintesis (0C)
Produksi bahan kering 22±0.3 39±17 Rendah dan sangat
(ton/ha/thn) beragam
Maksimum yang tercatat 34-39 50-54
No Sifat-sifat C3 C4

1 Jalur utama fiksasi CO2 C3 C3 + C4


2 Hasil pertama fiksasi CO2 PGA Oksaloasetat
3 Molekul penerima CO2 RuBP PEP
4 Enzim pada fiksasi CO2 RuBP karboksilase PEP karboksilase
5 O2 sebagai penghambat Ya Tidak
fotosintesis
6 Fotorespirasi tinggi Rendah
7 Fotosintesis maksimum 10 – 40 ppm 30 – 90 ppm
8 Suhu opt. Fotosintesa 15 – 30 oC 30 – 45 oC
9 Kebutuhan cahaya untuk 10 –40 % cahaya Cahaya matahari
fotosintesis matahari penuh penuh
10 Reaksi stomata thd CO2 Kurang peka Lebih peka
 Termasuk golongan CAM adalah Crassulaceae,
Cactaceae, Bromeliaceae, Liliaceae, Agaveceae, Ananas
comosus, dan Oncidium lanceanum.