Anda di halaman 1dari 20

TEORI TEST KLASIK

Astika Kemala Amd.Keb


Cahyaa Masyithah Amd.Keb
Ruthmaita.P Amd.Keb
Sandra Natalia Amd.Keb
TEORI TES KLASIK
Salah satu teori pengukuran yang tertua didunia
pengukuran behavioral adalah classical true-
score theory. Teori ini sering disebut dengan
teori tes klasik.
Teori tes klasik merupakan sebuah teori yang
mudah dalam penerapannya serta model yang
cukup berguna dalam mendeskripsikan
bagaimana kesalahan dalam pengukuran dapat
mempengaruhi skor amatan.
Inti teori klasik adalah asumsi-asumsi yang
dirumuskan secara sistematis serta dalam jangka
waktu yang lama. Dari asumsi-asumsi tersebut
kemudian dijabarkan dalam beberapa
kesimpulan. Ada tujuh macam asumsi yang ada
dalam teori tes klasik ini. Allen & Yen
menguraikan asumsi-asumsi teori klasik sebagai
berikut:
1. Asumsi pertama teori tes klasik adalah bahwa terdapat
hubungan antara skor tampak (observed score) yang
dilambangkan dengan huruf X, skor murni (true score)
yang dilambangkan dengan T dan skor kasalahan
(error) yang dilambangkan dengan E.

Menurut Saifuddin Azwar (2001:30) yang dimaksud


kesalahan pada pengukuran dalam teori klasik adalah
penyimpangan tampak dari skor harapan teoritik yang
terjadi secara random. Hubungan itu adalah bahwa
besarnya skor tampak ditentukan oleh skor murni dan
kesalahan pengukuran. Dalam bahasa matematika dapat
dilambangkan dengan X = T + E.
2. Asumsi kedua adalah bahwa skor murni
(T) merupakan nilai harapan є (X). Dengan
demikian skor murni adalah nilai rata-rata
skor perolehan teoretis sekiranya dilakukan
pengukuran berulang-ulang (sampai tak
terhingga) terhadap seseorang dengan
menggunakan alat ukur.
3. Asumsi ketiga teori tes klasik menyatakan
bahwa tidak terdapat korelasi antara skor
murni dan skor pengukuran pada suatu tes
yang dilaksanakan (ρet = 0). Implikasi dari
asumsi adalah bahwa skor murni yang
tinggi tidak akan mempunyai error yang
selalu positif ataupun selalu negatif.
4. Asumsi keempat meyatakan bahwa korelasi
antara kesalahan pada pengukuran pertama dan
nol (ρe1e2 = 0). Artinya bahwa skor-skor
kesalahan pada dua tes untuk mengukur hal yang
sama tidak memiliki korelasi (hubungan).
Dengan kesalahan pada pengukuran kedua
adalah nol (demikian besarnya kesalahan pada
suatu tes tidak bergantung kesalahan pada tes
lain.
5..Asumsi kelima menyatakan bahwa jika terdapat
dua tes untuk mengukur atribut yang sama maka
skor kesalahan pada tes pertama tidak
berkorelasi dengan skor murni pada tes kedua
(ρelt2). Asumsi ini akan gugur jika salah satu tes
tersebut ternyata mengukur aspek yang
berpengaruh terhadap teradinya kesalahan pada
pengukuran yang lain.
6. Asumsi keenam teori tes klasik adalah
menyajikan tentang pengertian tes yang pararel.
Dua perangkat tes dapat dikatakan sebagai tes-
tes yang pararel jika skor-skor populasi yang
menempuh kedua tes tersebut mendapat skor
murni yang sama (T = T’ ) dan varian skor-skor
kesalahannya sama (se 2=se’2). Dalam
prakteknya, asumsi keenam teori ini sulit
terpenuhi.
7. Asumsi terakhir dari teori tes klasik menyatakan
tentang definisi tes yang setara (essentially t
equivalent). Jika dua perangkat tes mempunyai
skor-skor perolehan dan Xt1 dan Xt2 yang
memenuhi asumsi 1 sampai 5dan apabila untuk
setiap populasi subyek X1 =X2 + C12, dimana C12
adalah bilangan konstanta, maka kedua tes
disebut tes yang pararel.
FORMULA PENTING YANG DISARIKAN
DARI TEORI TES MOD.ERN
Daya Beda
Daya beda (diskriminasi) suatu butir tes adalah
kemampuan suatu butir untuk membedakan antara
peserta tes yang berkemampuan tinggi dan
berkemampuan rendah.
Adapun fungsi dari daya pembeda adalah mendeteksi
perbedaan individual yang sekecil-kecilnya diantara
para peserta tes.
.
 Efektivitas Distraktor
Setiap tes pilihan ganda memiliki satu pertanyaan serta beberapa
pilihan jawaban. Diantara pilihan jawaban yang ada, hanya
satu yang benar. Selain jawaban yang benar ada juga Jawaban
yang salah atau distractor (pengecoh). Dengan demikian,
efektifitas distraktor adalah seberapa baik pilihan yang salah
tersebut dapat mengecoh peserta tes yang memang tidak
mengetahui kunci jawaban yang tersedia. Semakin banyak
peserta tes yang memilih distraktor tersebut, maka distaktor itu
dapat menjalankan fungsinya dengan baik.
TEORI TES MODERN

Teori tes modern sering juga disebut Latent Trait Theory


yaitu performance subjek dalam suatu tes yang dapat
diprediksi dari kemampuannya yang bersifat laten.
Atau lebih dikenal dengan Item Response Theory (IRT)
yaitu respon subjek terhadap item yang menunjukkan
kognitifnya. Kelebihan kinerja subjek dapat dilihat
dengan Item Characteristic Curve (ICC). Artinya
semakin baik performance subjek akan semakin banyak
respon (jawaban pada aitem tes) yang benar.
Unsur teori dalam tes modern meliputi:
 Butir (item tes)
 Subjek (responnya)
 Isi respon subjek
ASUMSI-ASUMSI DALAM TES MODERN:

1. Parameter butir soal dan kemampuan adalah (Invariant).


Artinya soal yang dibuat memiliki korelasi positif
dengan kemampuan yang diukur.
2. Unidimensionality, artinya 1 item mengukur satu
kemampuan. Asumsi ini kurang terbukti karena pada
dasarnya antara item 1 dengan lainnya saling
melengkapi.
3. Local independence, artinya respon terhadap suatu item
tidak akan berpengaruh terhadap item lainnya.
TEORI RESPON BUTIR

Teori Responsi Butir (Item Response Theory


disingkat IRT) dinamai juga sebagai Teori Ciri
Laten (Latent Trait Theory disingkat LTT) atau
Lengkungan Karakteristik Butir (Item
Characteristic Curve disingkat ICC). Untuk
memudahkan pengertian, di sini hanya
digunakan istilah IRT.
ASUMSI TEORI REPONSI BUTIR

Menurut Hambleton (1991: 9) asumsi untuk model


teori responsi butir secara mendalam digunakan,
sehingga hanya satu kemampuan yang diukur
dengan butir-butir tes tersebut. Hal ini
dinamakan unidimensi. Suatu konsep yang
menghubungkan keunidimensian adalah apa
yang disebut dengan independensi lokal (local
independence) yang akan didiskusikan
berikutnya.
Menurut Hambleton (1991: 9) asumsi untuk model
teori responsi butir secara mendalam digunakan,
sehingga hanya satu kemampuan yang diukur
dengan butir-butir tes tersebut. Hal ini
dinamakan unidimensi. Suatu konsep yang
menghubungkan keunidimensian adalah apa
yang disebut dengan independensi lokal (local
independence) yang akan didiskusikan
berikutnya.
MODEL RESPON BUTIR
Ada empat macam model IRT
(1) Model satu parameter (Model Rasch), yaitu untuk
menganalisis data yang hanya menitikberatkan pada parameter
tingkat kesukaran coal.
(2) Model dua paremeter, yaitu untuk menganalisis data yang
hanya menitikberatkan pada parameter tingkat kesukaran dan daya
pembeda soal.
(3) Model tiga parameter, yaitu untuk menganalisis data yang
menitikberatkan pada parameter tingkat kesukaran soal, daya
pembeda soal, dan menebak (guessing).
(4) Model empat parameter, yaitu untuk menganalisis data yang
menitikberatkan pada parameter tingkat kesukaran soal, daya beda
soal, menebak, dan penyebab lain (Hambleton dalam Depdiknas,
2010: 18).
TERIMA
KASIH