Anda di halaman 1dari 251

SAK ETAP

1
Agenda

1. Pendahuluan

2. SAK ETAP

3. Detailed PSAK ETAP

4. Perbandingan SAK ETAP-PSAK

2
Standar Akuntansi ??

• Untuk keseragaman laporan keuangan, laporan keuangan yang relevan dan


reliable (representational faitfullness)
• Memudahkan penyusun laporan keuangan karena ada pedoman baku sehingga
meminimalkan bias dari penyusun
• Memudahkan auditor dalam mengaudit
• Memudahkan pembaca laporan keuangan untuk menginterpretasikan dan
membandingkan laporan keuangan entitas yang berbeda.
• Pengguna laporan keuangan banyak pihak sehingga penyusun tidak dapat
menjelaskan kepada masing-masing pengguna

Laporan Keuangan bertujuan umum yang relevan dan reliable sehingga


dapat digunakan sebagai dasar dalam pengembilan keputusan.

PPL - IAPI 3
Tujuan Laporan Keuangan
• Memberikan infomasi 
– posisi keuangan,
– kinerja
– perubahan posisi keuangan suatu perusahaan
yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan
keputusan ekonomi
• Laporan keuangan menunjukkan apa yang telah dilakukan
manajemen (stewardship), dan pertanggung jawaban
sumber daya yang dipercayakan kepadanya
• Memenuhi kebutuhan sebagian besar pemakai.
• Menyediakan pengaruh keuangan dari kejadian di masa lalu
dan tidak diwajibkan menyediakan informasi non keuangan.

PPL - IAPI 4
Empat Pilar Standar Akuntansi Indonesia

 Pernyataan Standar Akuntansi


Keuangan
 Standar Akuntansi Keuangan Entitas
Tanpa Akuntabilitas Publik signifikan -
SAK-ETAP
 Standar Akuntansi Syari’ah – SAK
Syariah
 Standar Akuntansi Pemerintahan - SAP

 IFRS hanya diadopsi PSAK


 SAK ETAP diluncurkan pada tanggal 17 July 2009
 Instansi Pemerintah menggunakan Standar Akuntansi
Pemerintahan PP 71 tahun 2010

PPL - IAPI 5
AKUNTABILITAS PUBLIK SIGNIFIKAN

• Harus menggunakan PSAK – IFRS based


• Namun, dapat menggunakan SAK ETAP jika ada regulasi yang mengijinkan
penggunaan SAK ETAP  BPR sesuai dengan SE BI No.11/37/DKBU tahun 2009

• Karakteristik IFRS :
– IFRS menggunakan “Principles Base “ :
• Lebih menekankan pada intepretasi dan aplikasi atas standar sehingga
harus berfokus pada spirit penerapan prinsip tersebut.
• Standar membutuhkan penilaian atas substansi transaksi dan evaluasi
apakah presentasi akuntansi mencerminkan realitas ekonomi.
• Membutuhkan profesional judgment pada penerapan standar
akuntansi.
– Banyak menggunakan fair value dalam penilaian, jika tidak ada nilai pasar
aktif harus melakukan penilaian sendiri (perlu kompetensi) atau
menggunakan jasa penilai
– Mengharuskan pengungkapan (disclosure) yang lebih banyak baik kuantitaif
maupun kualitatif

6
SAK – ETAP: Why?

• PSAK – IFRS based sulit diterapkan bagi perusahaan menengah


kecil mengingat penentuan fair value memerlukan biaya yang
tidak murah.
• PSAK – IFRS rumit dalam implementasinya seperti kasus PSAK 50
dan PSAK 55 meskipun sudah disahkan tahun 2006 namun
implementasinya tertunda bahkan 2010 sudah keluar PSAK 50
(revisi).
• PSAK – IFRS menggunakan principle based sehingga
membutuhkan banyak professional judgement.
• PSAK – IFRS perlu dokumentasi dan IT yang kuat
• SAK ETAP sebagai solusi utk SME (ETAP)

PPL - IAPI 7
Sejarah Standar Akuntansi

Efektif Efektif
1 Januari 2012 1 Januari 2015

Pra PAI Konvergensi Konvergensi


IFRS 2008- IFRS 2012-
1973 2012 2015

8 Desember 2008
Komitmen mendukung IFRS
sebagai standar akuntansi
PAI Harmonisasi keuangan global
IAS 1994-
1973 2007

8
Roadmap IFRS di Indonesia
FASE 1 FASE 2

Efektif Efektif Efektif Efektif Efektif


< 2010 2011 2012 2013 2014&2015

• 3 PSAK • 16 PSAK • 11 PSAK • 22 PSAK • 4 PSAK


• 9 Revisi PSAK
• 1 ISAK • 6 ISAK • 12 ISAK • 1 ISAK • 4 ISAK (2014)
• 1 PPSAK (2014)
• 9 PPSAK • 1 PPSAK • 3 PPSAK • 2 PPSAK • Penyesuan SAK
• 1 PISAK

Diskusi IFRS
IAS / IFRS dalam proses adopsi: a. IFRS 4 Insurance Contract
a. IAS 41 Agriculture b. IFRS Revenue from Contract with
b. IFRIC 21 Levies Customers
c. IFRS 9 Financial Instrument c. Leases
d. Conceptual Framework –
Reporting Entity
9
PSAK 2013 & 2014
NO IFRS STATUS
1 IFRS 10: Consolidated Financial PSAK 65: Laporan Keuangan Konsolidasian [1
Statements Jan 2015]
2 IFRS 11: Joint Arrangements PSAK 66: Pengaturan Bersama [1 Jan 2015]
3 IFRS 12: Disclosure of Interests in PSAK 67: Pengungkapan Kepentingan dalam
Other Entities Entitas Lain [1 Jan 2015]
4 IFRS 13: Fair Value Measurement PSAK 68: Pengukuran Nilai Wajar [1 Jan
2015]
5 IFRIC 18: Transfer of Assets from ISAK 27: Pengalihan Aset dari Pelanggan [1
Customers Jan 2014]
6 IFRIC 19: Extinguishing Financial ISAK 28: Pengakhiran Liabilitas Keuangan
Liabilities with Equity Instruments dengan Instrumen Ekuitas [1 Jan 2014]
7 IFRIC 20: Stripping Costs in the ISAK 29: Biaya Pengupasan Lapisan Tanah
Production Phase of a Surface Mining tahap Produksi pada Pertambangan Terbuka
[1 Jan 2014]

10
PSAK 2013 & 2014
NO IFRS STATUS
1 IAS 1: Presentation of Financial PSAK 1: Penyajian Laporan Keuangan [1 Jan 2015]
Statements
2 IAS 19: Employee Benefits PSAK 24: Imbalan Kerja [1 Jan 2015]
3 IAS 27: Separate Financial Statements PSAK 4: Laporan Keuangan Tersendiri [1 jan 2015]

4 IAS 28: Investments in Associates and PSAK 15: Investasi pada Entitas Asosiasi dan
Joint Ventures Ventura Bersama [1 Jan 2015]
5 IAS 32: Financial Instruments: PSAK 50: Instrumen Keuangan: Penyajian
Presentation [Disahkan pada 29 April 2014, berlaku 1 Jan 2015]
11
PSAK non IFRS

1. PSAK 28: Akuntansi Kontrak Asuransi Kerugian;


2. PSAK 36: Akuntansi Kontrak Asuransi Jiwa;
3. PSAK 38: Akuntansi Restrukturisasi Entitas Sepengendali;
4. PSAK 34: Kontrak Konstruksi
5. PSAK 44: Pendapatan Real Estate
6. PSAK 45: Pelaporan Keuangan Entitas Nirlaba;
7. ISAK 25: Hak atas Tanah

12
Perkembangan Setelah 1 Januari 2015

IFRS terbaru:
• IFRS 9 Financial Instruments (efektif 1 Januari 2018)
• IFRS 14 Regulatory Deferral Accounts (efektif 1 Januari 2016)
• IFRS 15 Revenue from Contracts with Customers (efektif 1
Januari 2017)
• IFRIC 21 Levies (efektif 1 Januari 2014) – dalam pertimbangan
DSAK IAI
• Amandemen IAS 41 Agriculture (efektif 1 Januari 2016)

Pembahasan IASB:
• Amandemen IFRS 4 Insurance Contracts
• IFRS on Leases
• Amandemen dan penyesuaian IFRS lain

13
Public Hearing 30 Juni 2015

ISAK 30 Pungutan

Amandemen PSAK 1 : Prakarsa Pengungkapan

• Amandemen IAS 1 Disclosure Initiative

Amandemen PSAK 16 dan PSAK 19: Klarifikasi yang Diterima


untuk Penyusutan dan Amortisasi
• Amandemen IFRS 4 IAS 16 dan IAS 38

Amandemen PSAK 24: Program Manfaat Pasti Kontribusi


Pekerja
• Amandemen IAS 19 Defined Plans: Employee Contributions

14
Public Hearing 21 September 2015

PSAK 69 Agrikultur

ISAK 31 Interpretasi atas Ruang Lingkup Properti Investasi

Amandemen PSAK 4 : Metode Ekuitas dalam Laporan Keuangan


Tersendiri
Amandemen PSAK 15, 65 dan 67 : Entitas Investasi Penerapan
Pengecualian Konsolidasi
Amandemen PSAK 66: Akuntansi Akuisisi Kepentingan dalan
Operasi Bersama

Amandemen PSAK 16: Agrikultur Tanaman Produktif

15
PSAK 69

• Aktivitas agrikultur (agricultural activity) adalah manajemen transformasi


biologis dan panen aset biologis oleh entitas untuk dijual atau untuk
dikonversi menjadi produk agrikultur atau menjadi aset biologis tambahan.
• Aset biologis (biological asset) adalah hewan atau tanaman hidup.
• Produk agrikultur (agricultural produce) adalah produk yang dipanen dari aset
biologis milik entitas.
• Aset biologis diukur pada saat pengakuan awal dan pada setiap akhir periode
pelaporan pada nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual, kecuali untuk kasus
yang dideskripsikan dalam paragraf 30 dimana nilai wajar tidak dapat diukur
secara andal.
• Aset biologi yang menghasilkan (bearer asset) merupakan aset tetap yang
pembebanannya akan dilakukan dengan proses amortisasi.
• Produk agrikultur yang dipanen dari aset biologis milik entitas diukur
pada nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual pada titik panen.
Setelah panen  biaya perolehan persediaan.

16
SAK ETAP

17
SAK ETAP

• SAK ETAP: Standar akuntansi keuangan untuk entitas tanpa


akuntabilitas publik
• Digunakan untuk entitas tanpa akuntabilitas publik.
• ETAP adalah entitas yang:
– Tidak memiliki akuntabilitas publik signifikan; dan
– Menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum
(general purpose financial statement) bagi pengguna
eksternal.
– Contoh pengguna eksternal adalah pemilik yang tidak
terlibat langsung dalam pengelolaan usaha, kreditur, dan
lembaga pemeringkat kredit.

18
SAK ETAP

• Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik


signifikan.
• PSAK yang disederhanakan:
– Pilihan pada alternatif standar yang lebih sederhana
– Penyederhaaan pengakuan dan pengukuran
– Mengurangi pengungkapan
– Penyederhanaan
• Merupakan standar yang berdiri sendiri secara keseluruhan
(stand alone)

19
Manfaat SAK ETAP

• Diharapkan dengan adanya SAK ETAP, perusahaan kecil,


menengah, mampu untuk
– menyusun laporan keuangannya sendiri,
– dapat diaudit dan mendapatkan opini audit,
sehingga dapat menggunakan laporan keuangannya untuk
mendapatkan dana (misalnya dari Bank) untuk
pengembangan usaha.
• Lebih sederhana dibandingkan dengan PSAK – IFRS sehingga
lebih mudah dalam implementasinya
• Tetap memberikan informasi yang handal dalam penyajian
laporan keuangan.

20
SAK ETAP

• Disusun dengan mengadopsi IFRS for SME dengan modifikasi


sesuai kondisi di Indonesia dan dibuat lebih ringkas.
• SAK ETAP masih memerlukan professional judgement namun
tidak sebanyak untuk PSAK – IFRS.
• Dalam beberapa hal tidak ada perubahan signifikan
dibandingkan dengan PSAK lama: contoh PSAK 16 (1994).
Namun ada beberapa hal yang dimodifikasi dari IFRS/IAS.

21
IFRS for SMEs

• IFRS for SMEs, merupakan “mini” Full IFRS


– Terdapat pengurangan opsi dan pengungkapan
– Tidak terdapat pengakuan dan pengukuran yang berbeda
dengan Full IFRS, kecuali
– “borrowing cost” dibebankan langsung dan tidak
dikapitalisasi, dan
– terdapat pengaturan mengenai “ekuitas”
• Target dari IFRS for SMEs adalah perusahaan
menengah ke bawah.

22
ISI SAK ETAP
BAB ISI BAB ISI
1 Ruang Lingkup 16 Aset Tidak Berwujud
2 Konsep dan Prinsip Pervasive 17 Sewa
3 Penyajian Laporan Keuangan 18 Kewajiban Diestimasi dan Kontijensi
4 Neraca 19 Ekuitas
5 Laporan Laba Rugi 20 Pendapatan
6 Laporan Perubahan Ekuitas 21 Biaya Pinjaman
7 Laporan Arus Kas 22 Penurunan Nilai Aset
8 Catatan atas Laporan Keuangan 23 Imbalan Kerja
9 Kebijakan Akuntansi, Perubahan Kebijakan 24 Pajak Penghasilan
Akuntansi dan Koreksi Kesalahan
10 Investasi pada Efek Tertentu 25 Mata Uang Pelaporam
11 Persediaan 26 Transaksi dalam Mata Uang Asing
12 Investasi pada Entitas Asosiasi dan Entitas Anak 27 Peristiwa setalah Akhir Periode Pelaporan
13 Investasi pada Joint Venture 28 Pengungkapan Pihak-pihak yang Mempunyai
Hubungan Istimewa
14 Properti Investasi 29 Ketentuan Transisi
15 Aset Tetap 30 Tanggal Efektif
Daftar Istilah

23
Ruang lingkup

• SAK ETAP, dimaksudkan untuk digunakan oleh Entitas Tanpa Akuntabilitas


Publik (ETAP), yaitu entitas yang:
 Tidak memiliki akuntabilitas publik signifikan; dan
 Menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum bagi pengguna
eksternal
• Entitas dengan akuntabilitas publik signifikan
 Telah mengajukan pernyataan pendaftaran, atau sedang dalam proses
pengajuan pendaftaran, pada otoritas pasar modal atau regulator lain
untuk tujuan penerbitan efek di pasar modal; atau
 Menguasai aset dalam kapasitas sebagai fidusia untuk sekelompok besar
masyarakat, seperti bank, entitas asuransi,pialang dan atau pedagang
efek, dana pensiun, reksa dana dan bank investasi.
• Entitas yang memiliki akuntabilitas publik signifikan dapat menggunakan SAK
ETAP jika otoritas berwenang membuat regulasi mengizinkan penggunaan SAK
ETAP. Contoh: Bank Perkreditan Rakyat (BPR)

PPL - IAPI 24
Apakah memiliki akuntabilitas publik?

• Perusahaan kecil yang memiliki saham di pasar modal.


• Perusahaan manufaktur besar (bukan emiten).
• Bank umum besar (bukan emiten).
• Entitas yang bisnis satu-satunya adalah pendapatan bunga
atas uang yang dipinjamkan kepada nasabah. Entitas ini
memperoleh semua dana dari seorang pemilik yang
milyuner.

25
BAB 2
Konsep dan
Prinsip
Konsep dan Prinsip Pervasif
Pervasive

• Konsep dan prinsip pervasif merupakan KDPPLK (Kerangka Dasar Penyajian


dan Pengukuran LK) untuk ETAP
• Tujuan Laporan Keuangan  menyajikan informasi yang bermanfaat bagi
sebagian besar pengguna untuk pengambilan keputusan ekonomi
• Karakteristik kualitatif informasi dalam laporan keuangan
– Dapat dipahami
– Relevan
– Materialitas  jika mempengaruhi keputusan
– Keandalan
– Substansi mengungguli bentuk  substansi ekonomi lebih diutamakan
dibandingkan dengan bentuk hukum contoh sewa pembiayaan
– Pertimbangan sehat
– Kelengkapan
– Dapat dibandingkan
– Tepat waktu
– Keseimbangan antara biaya dan manfaat

26
BAB 2
Konsep dan
Prinsip
Konsep dan Prinsip Pervasif
Pervasive

• Posisi keuangan
– Aset  manfaat ekonomi di masa depan
– Kewajiban  kewajiban untuk mengorbanan manfaat ekonomi di masa depan
– Ekuitas  hak residual
• Kinerja keuangan
– Pendapatan
– Beban
• Pengakuan
– Kemungkinan manfaat ekonomi ekonomi masa depan mengaliir ke entitas
– Nilai dan biaya yang dapat diukur dengan andal
• Pengukuran unsur-unsur laporan keuangan : biaya historis dan nilai wajar
• Prinsip pengakuan dan pengukuran berpengaruh luas (Pervasif) : dalam hal tidak
ada pengaturan tertentu dalam SAK ETAP mengikuti aturan hirarki.
• Dasar akrual  kecuali untuk arus kas
• Saling hapus tidak diperkenankan  kecuali dipersyaratkan / diijinkan: penyisihan,
penjualan aset.

27
BAB 3
Penyajian
Laporan Penyajian Laporan Keuangan
Keuangan

• Penyajian wajar : posisi keuangan, kinerja keuangan dan arus


kas dengan pengungkapan tambahan jika diperlukan.
• Kepatuhan SAK: Entitas yang menggunakan SAK ETAP harus
secara eksplisit menyatakan secara penuh atas kepatuhan
terhadap SAK ETAP dalam catatan laporan keuangan.
• Kelangsungan usaha : Entitas harus menilai kelangsungan
usaha pada saat menyusun laporan keuangan
• Frekuensi pelaporan - Entitas menyajikan laporan keuangan
minimal satu kali dalam setahun.

28
BAB 3
Penyajian
Laporan
Penyajian Laporan Keuangan
Keuangan

• Penyajian yang konsisten: Penyajian dan klasifikasi pos-pos harus


konsisten, kecuali:
– Terjadi perubahan signifikan operasi entitas atau perubahan tersebut
menghasilkan penyajian yang lebih andal dan relevan.
– SAK ETAP mensyaratkan perubahan penyajian
– Reklasifikasi harus dilakukan retrospektif, kecuali tidak praktis dapat
secara prospektif.
– Jika prospektif: diungkapkan sifat reklasifikasi dan jumlah pos yang
direklasifikasi serta alasannya.
• Informasi komparatif : informasi harus diungkapkan komparatif dengan
periode sebelumnya kecuali dinyatakan lain oleh SAK ETAP.
• Material dan Agregasi: pos yang material disajikan terpisah, yang tidak
material digabungkan dengan yang memiliki sifaf dan jenis yang sama.

29
BAB 3
Penyajian
Penyajian laporan keuangan
Laporan
Keuangan

• Laporan keuangan lengkap


− Neraca (Bab 4)
− Laporan laba rugi (Bab 5)
− Laporan perubahan ekuitas (Bab 6)
− Laporan arus kas (Bab 7)
− Catatan atas laporan keuangan (Bab 8)

30
BAB 3
Penyajian
Laporan
Keuangan
Penyajian Laporan Keuangan

• Jika entitas hanya mengalami perubahan ekuitas yang berasal


dari
• laba rugi,
• pembayaran dividen,
• koreksi kesalahan periode lalu dan
• perubahan kebijakan akuntansi
• maka entitas dapat menyajikan Laporan laba rugi dan saldo
laba sebagai pengganti Laporan laba rugi dan Laporan
perubahan ekuitas.

31
BAB 3
Penyajian
Laporan
Laporan Keuangan
Keuangan

SAK ETAP PSAK 1 (Revisi 2013)

• Neraca • Laporan posisi keuangan


– Kewajiban (neraca)
• Laporan laba rugi – Liabilitas
• Laporan laba rugi dan
• Laporan perubahan
penghasilan komprehensif lain
ekuitas
• Laporan perubahan ekuitas
• Laporan arus kas
• Laporan arus kas
• Catatan atas laporan • Catatan atas laporan
keuangan keuangan

32
Penyajian Laporan Keuangan

• Identifikasi secara jelas setiap komponen laporan keuangan.


• Informasi berikut, jika perlu, pada setiap halaman:
– Nama entitas pelapor dan perubahan dalam nama tersebut sejak
laporan periode terakhir
– Tanggalatauperiodeyang dicakupolehlaporankeuangan, manayang lebihtepatbagi
setiap komponenlaporankeuangan;
– Matauangpelaporan, sepertididefinisikandalamBab25 Mata UangPelaporan;
– Pembulatan angka yang digunakan dalam penyajian laporankeuangan.
• Catatan laporan keuangan:
– Domisili, bentukhukumdanalamat kantoryang terdaftar
– Penjelasan sifat operasi dan aktivitas utama

33
BAB 4
Neraca Neraca

• Penyajian
– Klasifikasi aset lancar dan aset tidak lancar
– Klasifikasi kewajiban jangka pendek dan
kewajiban jangka panjang

• Kecuali jika memberikan informasi yang andal


dan relevan dapat berdasarkan likuiditas

34
Neraca
• Menyajikan aset, kewajiban dan ekuitas pada tanggal tertentu.
• Minimal mencakup pos-pos:
– kas dan setara kas,
– piutang usaha dan piutang lain-lain,
– persediaan,
– properti investasi,
– aset tetap,
– aset tidak berwujud,
– utang usaha dan utang lainnya,
– aset dan kewajiban pajak,
– kewajiban diestimasi
– ekuitas.
• Urutan dan format pos tidak ditentukan oleh SAK ETAP

35
Aset Lancar

• Entitas mengklasifikasikan aset sebagai aset lancar jika:


– diperkirakan akan direalisasi atau dimiliki untuk dijual atau
digunakan, dalam jangka waktu siklus operasi normal entitas;
– dimiliki untuk diperdagangkan;
– diharapkan akan direalisasi dalam jangka waktu 12 bulan
setelah akhir periode pelaporan; atau
– berupa kas atau setara kas, kecuali jika dibatasi
penggunaannya dari pertukaran atau digunakan untuk
menyelesaikan kewajiban setidaknya 12 bulan setelah akhir
periode pelaporan.
• Aset lainnya diklasifiaksikan tidak lancar

36
Kewajiban Jangka Pendek
 Entitas mengklasifikasikan kewajiban sebagai kewajiban jangka
pendek jika:
 diperkirakan akan diselesaikan dalamjangka waktu siklus
normal operasi entitas;
 dimiliki untuk diperdagangkan;
 kewajiban akan diselesaikan dalamjangka waktu 12 bulan
setelah akhir periode pelaporan; atau
 entitas tidak memiliki hak tanpa syarat untuk menunda
penyelesaian kewajiban setidaknya 12 bulan setelah akhir
periode pelaporan.
 Entitas mengklasifikasikan semua kewajiban lainnya sebagai
kewajiban jangka panjang.

37
Informasi disajikan di Neraca atau CALK

• kelompok aset tetap;


• jumlah piutang usaha, piutang dari pihak-pihak yang
memiliki hubungan istimewa, pelunasan dipercepat
dan jumlah lainnya;
• Rincian persediaan
• Kewajiban imbalan kerja dan kewajiban diestimasi
lainnya

38
Contoh Klasifikasi Aset dan Kewajiban

• Aset lancar • Kewajiban jangka pendek


– Kas dan setara kas – Utang bank jangka pendek
– Piutang usaha – Utang usaha
– Persediaan – Utang pajak
– Biaya dibayar dimuka – Biaya yang masih harus
– Pajak dibayar dimuka dibayar

• Aset tidak lancar • Kewajiban jangka panjang


– Properti investasi – Utang bank jangka panjang
– Aset tetap – Kewajiban imbalan
– Aset tidak berwujud pascakerja
– Aset lainnya

39
Ekuitas

• Ekuitas terdiri dari:


• Modal disetor
• Tambahan modal disetor
• Saldo laba
• Pendapatan dan beban yang langsung diakui ke ekuitas
• Entitas yang berbentuk PT, juga mengungkapkan:
• jumlah modal dasar
• jumlah saham yang diterbitkan dan disetor penuh
• nilai nominal saham
• ikhtisar perubahan jumlah saham beredar

40
BAB 5
Laporan Laba
Rugi Laporan Laba Rugi

• Menyajikan laporan laba rugi suatu periode tertentu


yang menunjukan kinerja keuangan selama periode
tersebut.
• Pos minimal:
• Pendapatan
• beban keuangan
• bagian laba atau rugi investasi (metode ekuitas)
• beban pajak
• laba atau rugi bersih
• Pos luar biasa tidak diperkenankan

41
Laporan Laba Rugi

Entitas dapat menyajikan beban berdasarkan


 Sifat beban  Fungsi beban
 beban bahan baku  beban pokok penjualan
 beban tenaga kerja  beban pemasaran
 beban penyusutan  beban umum dan
 beban sewa ruangan administrasi
 beban listrik  beban operasi lainnya

 beban operasi lainnya

42
BAB 6
Laporan
Perubahan
Alternatif Penyajian
Ekuitas

• Entitas dapat menyajikan:


– Laporan perubahan ekuitas
– Laporan laba rugi dan saldo laba
• jika perubahan pada ekuitas hanya berasal dari laba atau rugi,
pembayar dividen, koreksi kesalahan periode lalu dan perubahan
kebijakan akuntansi.
• Menyajikan:
– Laba rugi tahun berjalan
– Pendapatan dan beban yang diakui langsung dalam
ekuitas
– Pengaruh perubahan kebijakan akuntansi dan koreksi
kesalahan.
– Rekonsiliasi jumlah tercatat awal dan akhir periode dari
komponen ekuitas.
43
Contoh

Modal Tambahan Laba Belum Saldo Jumlah


Disetor Modal Direalisasi Efek Laba Ekuitas
Disetor Tersedia Dijual
Saldo awal 500.000 150,000 65.000 256.000 971.000
Pengeluaran saham
150.000 (150,000)
baru
Rugi belum direalisasi (35.000) (35.000)
Dividen kas (125.000) (125.000)
Laba bersih tahun
154.000 154.000
berjalan
Saldo akhir 650.000 - 30.000 285.000 965.000

44
Contoh

2015
Pendapatan 500.000.000
Beban pokok penjualan 150.000.000
Laba kotor 350.000.000
Beban usaha 65.000.000
Laba usaha 285.000.000
Beban bunga 15.000.000
Laba sebelum pajak 270.000.000
Pajak 75.600.000
Laba bersih 194.400.000

Saldo laba awal tahun 225.000.000


Laba bersih tahun berjalan 194.400.000
Dividen tunai (75.000.000)
Saldo laba akhir tahun 344..000

45
BAB 7
Laporan Arus
Kas Laporan Arus Kas

• Menyajikan informasi arus kas dari aktivitas operasi, aktivitas investasi dan
aktivitas pendanaan.
• Aktivitas operasi hanya dapat disajikan secara tidak langsung.
• Bunga dan dividen harus diungkap secara terpisah secara konsisten sebagai
aktivitas operasi, investasi atau pendanaan.
• Pajak penghasilan diungkapkan terpisah sebagai aktivitas operasi kecuali
dapat secara spesifik diidentifikasi sebagai aktivitas investasi atau
pendanaan.
• Transaksi non kas tidak dapat disajikan dalam laporan arus kas.

46
Klasifikasi arus kas

• Aktivitas operasi adalah aktivitas penghasil utama pendapatan


(principal revenue-producing activities) dan aktivitas lain yang
bukan merupakan aktivitas investasi dan aktivitas pendanaan.
• Aktivitas investasi adalah perolehan dan pelepasan aktiva jangka
panjang serta investasi lain yang tidak termasuk setara kas
• Aktivitas pendanaan (financing) adalah aktivitas yang
mengakibatkan perubahan dalam jumlah serta komposisi modal
dan pinjaman perusahaan

47
Bunga dan Dividen

• Arus kas bunga dan dividen diungkapkan secara terpisah dan


diklasifikasikan secara konsisten.
• Bunga
– Beban bunga dapat disajikan sebagai arus kas operasi atau pendanaan
(alternatif)
– Pendapatan bunga dapat disajikan sebagai arus kas operasi atau
investasi (alternatif)
• Dividen
– Dividen yang dibayarkan dapat disajikan sebagai arus kas pendanaan
atau operasi (alternatif)
– Pendapatan dividen dapat disajikan sebagai arus kas operasi atau
investasi (alternatif)
Arus Kas Operasi

• Aktivitas operasi adalah Aktivitas penghasil utama pendapatan entitas


dan aktivitas lain yang bukan merupakan aktivitas investasi dan
pendanaan.
• Indikator utama menentukan apakan operasi dapat menghasilkan kas
untuk melunasi pinjaman dan memelihara kemampuan operasi
entitas, membayar deviden dan melakukan investasi.

Inflows terdiri dari : Outflows terdiri dari:


 Penerimaan dari penjualan  Pembayaran kepada pemasok
barang/jasa, royalti, pendapatan barang dan jasa
lain.  Pembayaran untuk karyawan.
 Penerimaan dari pendapatan sewa,.  Pembayaran klaim (asuransi),
 Penerimaan pendapatan lain-lain pembelian efek (perusahaan
efek), pengembalian kredit
(bank)
 Pembayaran biaya operasi
Aktivitas Operasi – Indirect method
Bunga dan pajak
dengan Metode
Perubahan current asset dan langsung
current liabilities

Laba sebelum Arus kas dari


pajak dan kegiatan
bunga operasi

+ Kerugian dan – + Beban bukan kas


Keuntungan seperti depresiasi dan
kegiatan non amortisasi
operasional

50
Arus Kas Investasi
• Aktivitas investasi adalah perolehan dan pelepasan aset jangka
panjang serta investasi lain yang tidak termasuk setara kas.
• Mencerminkan pengeluaran untuk sumber daya yang
dimaksudkan menghasilkan kas di masa depan

Inflows terdiri dari : Outflows terdiri dari:


 Penerimaan penjualan aset tetap, aset  Pembayaran kas untuk membeli
tidak berwujud dan aset jangka panjang aset tidak tetap, aset tidak
lain. berwujud, biaya pengembangan
 Penerimaan kas dari kontrak future/ dikapiralisasi
forward, future untuk pendanaan  Pembayaran kas dari kontrak future,
 Penerimaan penjualan instrumen utang forward, swap untuk aktivitas
atau kas (selain diperdagangkan) pendanaan.
 Penerimaan kas dari pelunasan uang  Pembayaran untuk membeli
muka dan pinjaman dari pihak lain. instrumen utang/ekuitas/ ventura
selain untuk diperdagangkan
Arus Kas Pendanaan
• Aktivitas pendanaan adalah aktivitas yang mengakibatkan
perubahan dalam jumlah serta komposisi kontribusi modal dan
pinjaman entitas
• Memprediksi klaim atas arus kas masa depan oleh para penyedia
modal entitas

Inflows terdiri dari : Outflows terdiri dari:


 Penerimaan kas dari penerbitan  Pembayaran kas kepada pemiliki
saham. untuk menarik atau menebus
 Penerimaan kas dari penerbitan saham.
obligasi, wesel, pinjaman jangka  Pelunasan pinjaman
pendek dan jangka panjang,  Pembayaran kas oleh lessee untuk
hipotek, mengurangi saldo liabilitas terkait
sewa pembiayaan
BAB 8
Catatan atas
L/K Catatan Atas Laporan Keuangan

• Catatan atas laporan keuangan berisi informasi tambahan,


penjelasan naratif atau rincian jumlah yang disajikan dalam
laporan keuangan.
– Harus mengungkapkan:
• dasar penyusunan laporan keuangan
• kebijakan akuntansi yang signifikan
• informasi tambahan yang tidak disajikan dalam laporan
keuangan, tapi relevan untuk memahami laporan
keuangan
– Disajikan secara sistematis dan merujuk silang ke pos-pos
dalam laporan keuangan.

53
BAB 8
Catatan atas
L/K
Urutan Penyajian

• Pernyataan kepatuhan sesuai SAK ETAP


• Ringkasan kebijakan akuntansi signifikan yang diterapkan
• Informasi yang mendukung pos-pos yang disajikan dalam
laporan keuangan, sesuai dengan urutan penyajian dalam
laporan keuangan
• Pengungkapan lain:
– kejadian setelah tanggal neraca
– standar akuntansi baru
– kondisi ekonomi global
• Informasi tentang sumber utama ketidakpastian estimasi

54
BAB 8
Catatan atas
L/K
Catatan atas Laporan Keuangan
• Merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangn
• Menjelaskan informasi umum tentang perusahaan
• Kebijakan akuntansi yang dipilih oleh perusahaan termasuk metode akuntansi
dan estimasi yang digunakan
• Penjelasan rinci / data detail mengenai angka dalam laporan keuangan
• Informasi tambahan mengenai transaksi atau akun tertentu:
• Utang  tingkat bunga, kreditor, jumlah utang, jatuh tempo, jaminan yang
digunakan
• Aset tetap  jumlah yang diagunkan
• Investasi  nama perusahaan, jumlah kepemilikan, waktu akuisisi, dll
• Pajak  jumlah pajak dibayarkan, utang pajak, koreksi fiskal
• Informasi penting yang diharuskan oleh standar
• Transaksi hubungan istimewa
• Kontijensi
• Kontrak kerjasama

55
BAB 9
Kebijakan
Akuntansi
Kebijakan Akuntansi

• Kebijakan akuntansi adalah prinsip, dasar, konvensi, aturan


dan praktik tertentu yang diterapkan oleh suatu entitas dalam
menyusun dan menyajikan laporan keuangannya.
• Jika SAK ETAP secara spesifik mengatur transaksi, kejadian
atau keadaan lainnya, maka entitas harus menerapkan SAK
ETAP.
• Namun, jika dampak tidak material maka entitas tidak perlu
mengikuti persyaratan dalam SAK ETAP.
• Entitas harus memilih dan menerapkan kebijakan akuntansi
secara konsisten untuk transaksi atau kejadian dan kondisi
lain yang serupa.

56
Tidak Ada Pengaturan Spesifik

– Jika SAK ETAP tidak secara spesifik mengatur suatu transaksi, peristiwa
atau kondisi, maka manajemen menggunakan pertimbangan relevan dan
andal untuk memilih kebijakan akuntansi dengan hirarki:
• persyaratan dan panduan SAK ETAP yang berhubungan dengan isu
serupa atau terkait
• definisi, kriteria pengakuan dan konsep pengukuran sesuai dengan
Bab 2 Konsep dan Prinsip Pervasif.
• persyaratan dan panduan dalam PSAK non-ETAP yang berhubungan
dengan isu serupa atau terkait
• pengaturan terkini dari badan penyusun standar lain yang
menggunakan kerangka dasar yang serupa
• literatur akuntansi dan praktik industri yang berterima umum
sepanjang tidak bertentangan.

57
Perubahan Kebijakan Akuntansi

• Perubahan kebijakan akuntansi hanya jika:


– disyaratkan sesuai SAK ETAP
– menghasilkan informasi yang lebih andal dan relevan
• Penerapan perubahan akuntansi:
– Sesuai dengan ketentuan transisi SAK ETAP
– Jika tidak diatur, maka penerapan secara retrospektif
• entitas menerapkan kebijakan akuntansi baru seolah-
olah kebijakan akuntansi baru telah diterapkan
sebelumnya.
• jika tidak praktis, entitas menerapkan kebijakan
akuntansi baru pada periode sajian paling awal.

58
Estimasi Akuntansi

• Perubahan estimasi akuntansi adalah penyesuaian jumlah


tercatat aset atau kewajiban, atau jumlah konsumsi periodik
suatu aset, yang berasal dari pengujian status sekarang dari,
dan ekspektasi manfaat ekonomi dan kewajiban masa
mendatang.
• Perubahan estimasi akuntansi yang berasal dari informasi baru
atau pengembangan baru dan, oleh karena itu, bukan koreksi
kesalahan.
• Penerapan secara prospektif

59
Perubahan estimasi
• Entitas A membeli aset tetap bangunan yang dibeli 1/1/2X03
sebesar 820 juta. Bangunan disusutkan dengan metode garis
lurus, masa manfaat 20 tahun, nilai sisa 20 juta.
• Pada 1/1/2X13 entitas merubah masa manfaat dari 10 tahun
tersisa menjadi 20 tahun tersisa sehingga total masa manfaat
menjadi 30 tahun.

Jumlah penyusutan per tahun (820-20)/20=40


Penyusutan selama 10 tahun = 400
Nilai buku tersisa 820-400 = 420
Penyusutan baru (420 – 20)/20 = 20

60
Koreksi Kesalahan Periode Lalu

• Kesalahan periode yang lalu adalah kelalaian dan kesalahan pencatatan


dalam laporan keuangan entitas untuk satu atau lebih periode lalu yang
muncul dari kegagalan untuk menggunakan atau kesalahan penggunaan
informasi yang andal, yang:
• tersedia ketika laporan keuangan diterbitkan; dan
• diekspektasi dengan layak seharusnya diperoleh dan dimasukkan dalam
penyusunan dan penyajian laporan keuangan tersebut
• Diterapkan secara retrospektif

61
Koreksi Kesalahan
• Entitas A membeli aset tetap bangunan yang dibeli 1/1/2X09
sebesar 1.200 juta. Gedung disusutkan dengan metode garis lurus,
masa manfaat 20 tahun, nilai sisa 200 juta.
• Pada 31/12/2X13 Entitas menemukan kesalahan bahwa nilai
peralatan tersebut seharusnya 1.400, akibat biaya perolehan yang
tidak dimasukkan. Nilai sisa dan masa manfaat tidak berubah

Koreksi harus dilakukan dari tahun 2X09 sampai dengan 2X13.


Depresiasi lama (1.200-200) / 20 = 50
Depresiasi baru (1.400-20)0 / 20 = 60
Koreksi 1/1/2X09 sampai 31/12/2X13 : 10 x 5 = 50
Aset tetap 200
Saldo Laba 200
Saldo Laba 50
Akumulasi depresiasi 50

Depresiasi 31/12/2X13 menggunakan depresiasi baru


Beban depresiasi 60
Akumulasi depresiasi 60

62
Diskusi Aspek Pajak

• Tidak ada aturan khusus boleh tidaknya koreksi atau perubahan


estimasi / kebijakan Akuntansi diatur.
• Untuk perubahan estimasi, harus dilihat apakah ini terkait dengan
pengakuan beban dan pendapatan yang oleh pajak terdapat
pengaturan khusus (mis depresiasi), jika demikian maka perubahan
tidak diakui menurut pajak.
• Jika perubahan estimasi tidak diatur secara khusus oleh pajak berarti
perubahan ini juga akan diakui menurut pajak. Permasalahannya
bagaimana pengakuan atas koreksi saldo laba, apakah akan dikenakan
pajak juga?
• Beberapa koreksi Akuntansi berakibat pada penyesuaian saldo laba
dai tidak diakui dalam laba rugi. Untuk hal ini, perlu dipertegas
bagaimana pajak atas tambahan ekuitas yang diperoleh dari
restatement  penghasilan adalah kemampuan ekonomis yang
menambah kekayaaan.

63
BAB 10
Investasi
Efek
Investasi Efek Tertentu

• Efek adalah surat berharga utang atau ekuitas


• Klasifikasi pada saat perolehan berdasarkan tujuan manajamen:
– dimiliki hingga jatuh tempo (held to maturity)
– diperdagangkan (trading)
– tersedia untuk dijual (available for sale)
• HTM disajikan sebesar biaya perolehan dikurangi amortisasi
premi atau diskonto
• Trading disajikan sebesar nilai wajar pada tanggal neraca
• AFS dinilai pada nilai wajar pada tanggal neraca.

64
Perubahan Nilai Wajar

Laba rugi belum Laba rugi telah


direalisasi direalisasi

Efek diperdagangkan Laba rugi Laba rugi

Efek tersedia untuk dijual Komponen ekuitas Laba rugi

Laba rugi
Efek dimiliki hingga jatuh tempo -

65
Investasi pada Efek Tertentu

• Penyajian di neraca (classified balance sheet):


– Trading sebagai aset lancar
– HTM dan AFS sebagai aset lancar atau tidak lancar berdasarkan
keputusan manajemen, kecuali akan jatuh tempo pada tahun
berikutnya harus sebagai aset lancar.
• Laporan arus kas:
– Trading: arus kas operasi
– AFS dan HTM: arus kas investasi

66
Aspek Pajak Investasi dalam Efek

• Surat berharga pengenaan pajaknya final atas nilai penjualan bukan dari
selisih keuntungan atau penjualan  dalam perhitungan pajak,
keuntungan atau kerugian investasi akibat perubahan harga bukan
merupakan obyek Pph.
• Dividen dan bunga juga dikenakan pajak final sehingga bukan obyek pajak
juga.
• Dalam laporan keungan untuk pajak atas bunga dan dividen sering
disajikan netto (nilai setelah pajak) sehingga pajaknya dianggap nol.
• Perlu dipastkan konsistensi pencatatan perusahaan, sehingga akan diakui
rugi dari transaksi efek padahal pajaknya final.

67
Ilustrasi - HTM
Jurnal
• Pada tanggal 3 Desember 2010, BPR
ABC membeli SBI jangka waktu 3 bulan Pembelian
di pasar sekunder. Nilai nominal SBI Rp SBI - Nominal 500.000.000
500.000.000. Tingkat diskonto 7% SBI – Biaya Transaksi 2.000.000
Jangka waktu 3 bulan SBI – Diskonto 8.599.509
• Nilai tunai = (500.000.000 x 360)/(360 + Kas/ Rekening 493.400.491
(tingkat diskonto x jangka waktu)) =
491,400,491 Amortisasi diskonto dan biaya transaksi Desember
• Nilai diskonto = Nilai nominal – Nilai SBI - Diskonto 2.675.403
tunai = 8,599,509 SBI – Biaya Transaksi 622.222
• Biaya Transaksi = 2,000,000 Pendapatan bunga 2.053.181
• Amortisasi Desember (28/90) Amortisasi diskonto dan biaya transaksi Januari
– diskonto s.d. 31/12/10 = 2,675,403
SBI - Diskonto 2.962.053
Unamortized 5,924,106
SBI – Biaya Transaksi 688.889
– biaya transaksi s.d. 31/12/10
= 622,222 Unamortized Pendapatan bunga 2.273.164
• Amortisasi dilakukan tiap bulan, maka Februari
amortisasi pada Maret 3 hari. Desember
28 hari, Januari 31 dan Februari 28 Pelunasan & amortisasi (3hari) Maret
• Asumsikan SBI diklasifikasikan sebagai SBI - Diskonto 286.650
HTM SBI – Biaya Transaksi 66.667
Pendapatan bunga 219.983
Kas/Rekening 500.000.000
SBI - Nominal 500.000.000
68
Ilustrasi - AFS
• Pada tanggal 3 Desember 2010, BPR Jurnal
ABC membeli SBI jangka waktu 3 Pembelian
bulan di pasar sekunder. Nilai nominal SBI 491.400.491
SBI Rp 500.000.000. Tingkat diskonto Beban Investasi – Biaya Transaksi 2.000.000
7% Jangka waktu 3 bulan Kas/ Rekening 493.400.491
• Nilai tunai = (500.000.000 x 360)/(360
+ (tingkat diskonto x jangka waktu)) = Tanggal 31 Desember penyesuaian nilai
491,400,491 wajar
• Biaya Transaksi = 2,000,000 SBI 2.675.403
• Harga tanggal 31 Desember Laba yang belum direalisasi -ekuitas 2.675.403
494.075.894 Pada 15 Januari dijual dengan harga
• Asumsikan SBI diklasifikasikan sebagai 495.000.000
AFS Kas / rekening 495.000.000
Laba yang belum direalisasi - ekuitas 2.675.403
SBI 494.075.894
Keuntungan penjualan SBI 3.599.509

69
Ilustrasi - Trading
• Pada tanggal 3 Desember 2010, BPR Jurnal
ABC membeli SBI jangka waktu 3 Pembelian
bulan di pasar sekunder. Nilai nominal SBI 491.400.491
SBI Rp 500.000.000. Tingkat diskonto Beban Investasi – Biaya Transaksi 2.000.000
7% Jangka waktu 3 bulan Kas/ Rekening 493.400.491
• Nilai tunai = (500.000.000 x 360)/(360
+ (tingkat diskonto x jangka waktu)) = Tanggal 31 Desember penyesuaian nilai
491,400,491 wajar
• Biaya Transaksi = 2,000,000 SBI 2.675.403
• Harga tanggal 31 Desember Laba yang belum direalisasi - LR 2.675.403
494.075.894 Pada 15 Januari dijual dengan harga
• Asumsikan SBI diklasifikasikan sebagai 495.000.000
AFS Kas / rekening 495.000.000
SBI 494.075.894
Keuntungan penjualan SBI 924.106

70
Ilustrasi saham – tersedia untuk dijual
• Entitas membeli investasi tersedia dijual seharga 100.000 pada 1
Desember 2015. Pada 31 Desember nilainya naik menjadi 115.000.
Inbvestasi ini dijual dengan harga 110.000 pada 1 Maret 2016.
Investasi diakui sebagai tersedia untuk dijual.
• Jurnal saat pembelian
– Aset keuangan – tersedia untuk dijual 100.000
– Kas 100.000
• Jurnal saat penilaian 31 Desember 2015
– Aset keuangan – tersedia untuk dijual 15.000
– Penghasilan komprehensif lain 15.000
• Jurnal saat penjualan 1 Maret 2016
– Kas 110.000
– Penghasilan komprehensif lain 15.000
– Aset keuangan – tersedia untuk dijual 115.000
– Penghasilan penjualan AFS 10.000
Ilustrasi saham - diperdagangkan
• Entitas membeli investasi tersedia dijual seharga 200.000 pada 1
Desember 2015. Pada 31 Desember nilainya naik menjadi 230.000.
Inbvestasi ini dijual dengan harga 220.000 pada 1 Maret 2016.
Investasi diakui sebagai tersedia untuk dijual. Investasi
diklasifiksaikan sebagai diperdagangkan.
• Jurnal saat pembelian
– Aset keuangan – diperdagangkan 200.000
– Kas 200.000
• Jurnal saat penilaian 31 Desember 2015
– Aset keuangan – diperdagangkan 30.000
– Penghasilan investasi saham - diperdagangkan 30.000
• Jurnal saat penjualan 1 Maret 2016
– Kas 220.000
– Kerugian investasi saham - diperdagangkan 10.000
– Aset keuangan – diperdagangkan 230.000
BAB 11
Persediaan Persediaan
• Persediaan:
– Untuk dijual dalam kegiatan usaha normal
– Dalam proses produksi untuk kemudian dijual
– Dalam bentuk bahan atau perlengkapan untuk digunakan dalam
proses produksi atau pemberian jasa
• Biaya perolehan persediaan mencakup seluruh biaya pembelian, biaya
koversi, dan biaya lainnya yang terjadi untuk membawa persediaan ke
kondisi dan lokasi sekarang
• Biaya pembelian persediaan:
– harga beli, bea impor, pajak lainnya (kecuali yang kemudian dapat
ditagih kembali kepada otoritas pajak), biaya pengangkutan, biaya
penanganan, dan biaya lainnya yang secara langsung dapat
diatribusikan pada perolehan barang jadi, bahan, dan jasa. Diskon
dagang, potongan, dan lainnya yang serupa dikurangkan dalam
menentukan biaya pembelian.
• Biaya konversi: overhead produksi tetap dan variabel

73
Pengukuran

• Nilai persediaan diukur pada nilai yang lebih rendah


antara biaya perolehan dan nilai realisasi bersih
– Biaya perolehan
• biaya pembelian
• biaya konversi
• biaya lainnya untuk membawa persediaan ke kondisi
sekarang
– Nilai realisasi bersih
• harga jual dikurangi biaya untuk menyelesaikan dan
menjual

74
Persediaan

• Tidak dapat diakui sebagai biaya persediaan, sehingga harus


menjadi beban tahun berjalan:
– biaya bahan tidak terpakai, tenaga kerja dan biaya
produksi lainnya yang tidak normal;
– biaya penyimpanan, kecuali biaya yang diperlukan dalam
proses produksi sebelum tahap produksi selanjutnya;
– biaya overhead administratif yang tidak berkontribusi
untuk membuat persediaan ke kondisi dan lokasi
sekarang; dan
– biaya penjualan.

75
Persediaan

• Rumus biaya yang dapat dipergunakan:


– Identifikasi khusus (untuk persediaan yang sifatnya
khusus)
– Masuk pertama keluar pertama (MPKP = FIFO)
– Rata-rata tertimbang
• Metode masuk terakhir keluar pertama (MTKP = LIFO) tidak
diperkenankan.

76
Penurunan Nilai

• Pada setiap tanggal pelaporan, entitas harus menilai apakah


persediaan mengalami penurunan nilai, dengan
– Membandingkan jumlah tercatat setiap pos persediaan
dengan harga jual dikurangi biaya untuk menyelesaikan
dan menjual (nilai realisasi bersih = NRV)
– Jika jumlah tercatat > nilai realisasi bersih, maka
persediaan diturunkan nilainya hingga sebesar nilai
realisasi bersih
– Selisih nilai realisasi bersih dan jumlah tercatat diakui
sebagai kerugian penurunan nilai yang merupakan beban
periode berjalan.

77
Metode Average (Weighted)
Data tersedia:
Tanggal Pembelian Unit Biaya
Mei 12 100 unit 10 1.000
Aug 14 200 unit 11 2.200
Sep 18 120 unit 15 1.800
420 unit 5.000

Langkah:
1. Hitung biaya rata-rata per unit : 5.000/420 = 11.905
2. Aplikasikan biaya rata-rata per unit pada jumlah yang terjual
untuk memperoleh HPP: (420-20) x 11.905 = 4.762
3. Aplikasikan biaya rata-rata per unit pada jumlah yang tersisa di
persediaan untuk menentukan Persediaan Akhir: 20 x 11,91 =
238
Metode FIFO

Data diberikan: HPP (FIFO)


Tanggal Pembelian Biaya 1.000 (100 terjual)
Mei 12 100 unit @ 10 1.000 2.200 (200 terjual)
Aug 14 200 unit @ 11 2.200 1.500 (100 terjual; 20 sisa)
Sep 18 120 unit @ 15 1.800 4.700
420 5.000

Biaya Barang
Siap Jual 4.700
HPP

5,000 Persediaan Akhir 20 * $15 = 300


Ilustrasi Nilai Realisasi Bersih

Biaya persediaan barang belum jadi: Rp 8 juta


Harga jual: Rp 12 juta
Biaya untuk menyelesaikan barang: Rp 4.5 juta
Biaya untuk menjual: Rp 500 ribu

Penghitungan Nilai Realisasi Bersih:

Nilai jual persediaan Rp 12 juta


Dikurangi: Estimasi biaya penyelesaian Rp 4.5 juta
Estimasi biaya penjualan Rp 0.5 juta Rp 5 juta
Nilai Realisasi Bersih (NRB) Rp 7 juta

Nilai persediaan (NRB) Rp 7 juta


Biaya Rp 8 juta
Kerugian penurunan nilai persediaan (Rp 1 juta)

80
Penilaian Persediaan
Biaya atau Nilai Realisasi Bersih yang Lebih Kecil

Persediaan Kuantitas Biaya NRV Total Biaya Total NRV Lebih Kecil

A 400 50 60 20.000 24.000 20.000


B 200 120 100 24.000 20.000 20.000
C 500 70 60 35.000 30.000 30.000
D 300 200 220 60.000 66.000 60.000
TOTAL 139.000 134.000 130.000

NRV: Net Realizable Value = harga jual dikurangi biaya untuk menjual.
Penurunan dihitung secara total = 139.000 – 134.000 = 5.000
Penurunan dihitung tiap produk = 139.000 – 130.000 = 9.000
Jurnal COGS* 9.000
Penyisihan penurunan nilai persediaan 9.000
Jika penurunan nilai sifatnya operasional dapat dimasukkan ke COGS, namun jika sifatnya material dan tidak rutin
dimasukkan dalam beban/pendapatan lain-lain (setelah laba operasi)

81
BAB 12
Investasi Investasi pada Asosiasi dan Anak

• Entitas asosiasi: investor mempunyai pengaruh


signifikan
– Biasanya 20% hak suara atau lebih.
• Entitas anak: entitas yang dikendalikan oleh induk.
• Investasi pada entitas asosiasi dicatat dengan
metode biaya (cost method).
• Investasi pada anak dengan metode ekuitas, dan
tidak dibuat laporan konsolidasian.

82
Aspek Perpajakan

• Deviden dari investasi di perusahaan lain > 25% bukan obyek


pajak, sehingga harus dipastikan, penghasilan menurut
Akuntansi telah dikoreksi.
• Investasi antara 50% perlu mendapat perhatian karena di
Akuntansi pengakuannya ekuity, menurut pajak bukan
merupakan penghasilan.
• Obyek pajak adalah dividen dari perusahaan lain bukan
penghasilan. Bagian laba tidak sama dengan dividen. Namun
dividen untuk metode ekuitas bukan merupakan pendapatan
tetapi pengurang investasi.

83
Metode Ekuitas

• Investasi awalnya dicatat sebesar


. harga perolehan
• Laba menambah investasi
• Pengumuman dividen dicatat mengurangi investasi

Mengapa laba bersih Laba bersih akan menambah laba


ditahan perusahaan. Bertambahnya
menambah nilai
laba ditahan, berarti ekuitasnya
investasi? bertambah juga

84
Metode Ekuitas – Anak Perusahaan
Pencatatan Awal investasi
Dalam metode ekuitas, pencatatan pada awal investasi sama dengan
pencatatan yang dilakukan dengan menggunakan metode lainnya.

ILUSTRASI
Tanggal 6 Januari Amazon.com membeli saham 400.000 untuk 60%
dari saham yang dimiliki Drugstore.com.

Jan.6 Investasi jangka panjang 400.000


Kas 400.000
(pembelian investasi saham)

85
Metode Ekuitas – Anak Perusahaan
Pengumuman Laba dan Pembagian Dividen

Pada Metode Ekuitas, Laba bersih yang dimiliki oleh perusahaan investee
akan menambah nilai investasi dari investor.

Tanggal 31 Desember Drugstore melaporkan adanya laba bersih yang


dihasilakan oleh perusahaan sebesar 100,000. dan membagikan dividen
80.0000

Des.31 Investasi jangka panjang 60.000


Pendapatan Investasi 60.000
(pengumuman laba bersih, 100,000 x 0.6)
Des.31 Kas 48.000
Investasi Jangka Panjang 48.000
(pengumuman dividen = 80,000 x 0.6)

86
Metode cost - Asosiasi

• CV. Melati membeli kepemilikan PT. Mawar sebanyak 40%


secara tunai 100.000 pada 1 Januari 20x1
• PT. Mawar selama tahun 20X1 melaporkan laba sebesar
20.000 dan membagikan dividen 12.000

 Investasi pada perusahaan asosiasi 100.000


Kas 100.000
 Kas 4.800
Pendapaan investasi pd perusahaan asoasiai 4.800

87
BAB 13
Joint Venture Investasi Pada Joint Venture

• Joint venture: perjanjian kontraktual antara beberapa pihak


untuk menjalankan aktivitas ekonomi
• Pengendalian bersama: kesepakatan kontraktual untuk
bersama-sama mengendalikan suatu aktivitas ekonomi
sehingga keputusan strategis diambil bersama-sama.
• Tipe:
– PBO (Pengendalian Bersama Operasi)
– PBA (Pengendalian Bersama Aset)
– PBE (Pengendalian Bersama Entitas)

88
Investasi pada Joint Venture - PBO

• PBO:
– Masing-masing venturer menggunakan aset tetapnya, dan
mengelola sendiri persediaannya.
– Masing-masing venturer juga memikul pengeluarannya,
menyelesaikan kewajibannya serta mencari sumber
pendanaan untuk aktivitasnya sendiri.
– Aset, kewajiban dan beban sendiri dicatat masing-masing
– Perjanjian mengatur pembagian pendapatan dan beban
bersama.

89
Investasi pada Joint Venture - PBA

• PBA:
– Para venturer melakukan pengendalian bersama
dan kepemilikan bersama atas satu atau lebih
aset yang diserahkan oleh venturer, atau dibeli
untuk digunakan dalam melaksanakan kegiatan
joint venture.
– Pengendalian bersama dan kepemilikan bersama
atas satu atau lebih aset
– Setiap venturer membukukan bagian aset,
kewajiban, bagian pendapatan dan beban

90
Investasi Pada Joint Venture

• PBE:
– Joint venture yang melibatkan pendirian suatu
perusahaan, persekutuan atau entitas lain dimana
setiap venturer memiliki bagian.
– Entitas beroperasi dengan cara yang sama
dengan entitas lain, kecuali adanya perjanjian
kontraktual antar venturer untuk membuat
pengendalian bersama atas aktivitas ekonomi
tersebut.
– Investor mencatat investasi pada PBE pada biaya
perolehan dikurangi akumulasi rugi penurunan
nilai.

91
Aplikasi Akuntansi

• Pencatatan untuk PBA dan PBO tidak terlihat dalam


pembukuan perusahaan namun akan diungkapkan bentuk
kerjasama yang dilakukan.
• Beberapa secara sukarela menyajikan pengungkapan atas
bentuk pengendalian bersama yang dilakukan.
• Untuk PBE mencatatan dengan menggunakan metode biaya,
sehingga pengakuan penghasilan berasal dari pembagian
dividen.
• Akuntansi memperkennankan penurunan nilai atas investasi
dalam PBE, menurut pajak penurunsan nilai bukan merupakan
pengurang penghasilan.

92
BAB 14
Properti Properti Investasi

• Properti Investasi adalah tanah dan atau bangunan yang


dikuasai pemilik atau lessee sewa pembiayaan yang
disewakan atau untuk kenaikan nilai dan bukan untuk
digunakan untuk proses produksi atau penyediaan jasa atau
tujuan administasi atau dijual dalam kegiatan sehari-hari.
• Dicatat pada nilai perolehan yaitu harga pembelian dan setiap
pengeluaran yang dapat diatribusikan secara langsung.
• Setelah perolehan awal maka properti investasi dicatat pada
nilai perolehan dikurangi akumulasi penyusutan dan kerugian
penurunan nilai (cost model).

93
BAB 15
Aset Tetap Aset Tetap

• Aset tetap:
– aset berwujud yang dimiliki untuk digunakan
dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa,
untuk disewakan ke pihak lain atau untuk tujuan
administratif dan
– diharapkan digunakan lebih dari satu periode.
• Diakui sebagai aset jika memenuhi prinsip pengakuan.

94
Unsur Biaya Perolehan

• Pada saat perolehan, aset tetap dicatat sebesar biaya


perolehan:
– harga beli,
– biaya-biaya yang dapat diatribusikan secara
langsung atas perolehan aset tetap dan
– estimasi awal biaya pembongkaran aset, biaya
pemindahan dan biaya restorasi lokasi.

95
Pengukuran Biaya Perolehan

• Jika pembayaran atas perolehan aset ditangguhkan maka


diakui setara nilai tunainya dan diakui beban keuangan.
• Aset tetap setelah perolehan awal dicatat pada biaya
perolehan dikurangi akumulasi penyusutan dan kerugian
penurunan nilai.
• Revaluasi aset tetap sesuai dengan ketentuan pemerintah
diperkenankan
• Pengeluaran setelah perolehan awal diakui bila
memperpanjang umur manfaat, meningkatkan kapasitas,
mutu, standar kinerja atau manfaat ekonomi lainnya.

96
Pengeluaran setelah Perolehan Aset
• Pengeluaran yang dilakukan untuk mengakuisisi aset tetap
baru atau menambah aset tetap baru belanja modal =
capital expenditure.
• Pengeluaran akan dicatat menambah nilai aset jika sesuai
dengan definisi aset tetap yaitu memiliki manfaat ekonomi di
masa depan dan nilainya dapat diukur dengan andal

• Pengeluaran untuk memperbaiki atau


memelihara aset tetap yang tidak memberikan
manfaat di masa mendatang disebut belanja
pendapatan = revenue expenditure.
• Pengeluaran akan diklasifikasikan sebagai beban
pemerliharaan
Penyusutan

• Beban penyusutan diakui dalam laporan laba rugi kecuali sebagai bagian
perolehan aset.
• Beban penyusutan dihitung berdasarkan alokasi sistematis jumlah yang
dapat disusutkan selama umur manfaat.
• Metode penyusutan harus mencerminkan ekspektasi pola penggunaan
manfaat ekonomi masa depan aset.
• Metode penyusutan antara lain garis lurus, saldo menurun atau jumlah
unit produksi.
• Jika terdapat indikasi terjadi perubahan signifikan manfaat ekonomi atau
pola penggunaan manfaat ekonomi masa depan  telaah ulang 
mengubah masa manfaat atau metode  perubahan estimasi

98
Penjualan

• Saat aktiva tetap dijual, pemilik bisa untung, rugi, atau impas.
– Jika harga jual sama dengan nilai buku, tidak ada untung atau rugi
(impas).
– Jika harga jual lebih kecil dari nilai buku, menderita rugi sebesar
selisihnya.
– Jika harga jual lebih besar dari nilai buku, mendapat untung sebesar
selisihnya.
• Untung dan rugi akan dilaporkan pada laporan laba rugi
sebagai pendapatan atau kerugian lainnya.

99
Penurunan Nilai dan Penghentian Pengakuan

• Penurunan nilai diakui pada saat terjadinya.


• Penurunan nilai sebesar nilai tercatat dikurang dengan nilai
wajar dikurangi dengan biaya penjualan.
• Aset tetap dihentikan pengakuannya pada saat dilepaskan atau
tidak ada manfaat ekonomi di masa depan yang diekspektasi
dari penggunaan atau pelepasannya.
• Pada saat pelepasan enitas mengakui keuntungan atau
kerugian dari pelepasan sebesar perbedaan hasil penjualan
neto dengan jumlah tercatat.

100
Pengungkapan

• Entitas mengungkapkan untuk setiap kelompok aset:


– Dasar pengukuran untuk menentukan nilai tercatat
– Merode penyusutan; umur manfaat dan tarif penyusutan
– Jumlah tercatat bruto dan akumulai penyusutan, akumulai
penurunan nilai pada awal dan akhr periode
– Rekonsiliasi jumlah tercatat awal dan akhir periode:
penambahan, pelepasan, kerugian penurunan nilai /
pemulihan, penyusutan dan perubahan lain,
• Entitas juga harus mengungkapkan: keberadaan dan
kumlah pembatasan hak milik dan aset dijaminkan;
jumlah komitmen kontrak untuk memperoleh aset
tetap.

101
Aspek Perpajakan

• Pajak menggunakan metode depresiasi yang berbeda. Untuk


itu perlu dipastikan jumlah koreksi fiskal yang dilakukan
apakah benar sehingga jumlah beban depresiasi telah
dikurangkan dari penghasilan sebesar depresiasi menurut
pajak.
• Karena metodenya koreksi maka harus dapat dipastikan
depresiasi menurut Akuntansi telah dilakukan dengan benar.
• Identifikasi tidak adanya nilai sisa dalam perhitungan fiskal.
• Jumlah yang disusutkan telah benar menurut aturan pajak 
kapitalisasi bunga menurut SAK ETAP tidak diperkenankan.

102
Ilustrasi Biaya Perolehan
Contoh
Berikut ini biaya yang dikeluarkan PT. Kenanga dalam rangka
perolehan mesin baru untuk produk barunya:
1. 5 milyar untuk pembelian mesin
2. 50 juta biaya tenaga kerja untuk merubah interior pabrik
agar sesuai dengan penggunaan mesin.
3. 100 juta untuk penyiapan lokasi pabrik
4. 80 juta untuk pengiriman mesin Diskusikan
5. 500 juta PPN dan 500 juta bea masuk. mana yang
6. Biaya promosi produk baru 400 juta merupakan
7. Biaya instalasi mesin sebesar 120 juta biaya
perolehan??
8. Biaya pengetesan awal 50 juta
9. Biaya grand opening 150 juta
10. Biaya tenaga enginering yang melakukan pengetesan dan
instalasi 30 juta
11. Biaya administrasi yang dimasukkan dalam biaya overhead
50 juta

103
Pengukuran Awal
Example

• Biaya dari pembukaan pabrik tersebut sebesar


5.000+50+100+80+500+500+120+50+30= 6,430 milyar
• Biaya yang tidak berhubungan langsung dengan
perolehan dan pemasangan mesin pabrik tersebut
tidak boleh diakui.
• Biaya yang tidak boleh dimasukkan adalah:
1. Biaya grand opening 150 juta
2. Biaya promosi produk baru 500 juta
3. Biaya administrasi yang dimasukkan dalam biaya overhead 50
juta

104
Ilustrasi Pembayaran Tangguhan
• PT. Mulia membeli mesin pabrik dengan melalui angsuran. Uang
muka yang dibayarkan sebesar 500 juta, angsuran 5 tahun yang
dibayarkan 200juta per tahun.
• Tingkat bunga yang berlaku 12%
• Nilai tunai mesin tersebut adalah PVA i=12%, n=5. Nilai tunai
angsuran = 720,95
• Nilai mesin pabrik 730,95+500 = 1.230,95
Jurnal perolehan
 Mesin 1.230,95
Kas 500
Utang 720,95
Pembayaran angsuran 1
 Utang 113,49
Beban bunga 86,51
Kas 200
105
Penyusutan
Sebagian besar perusahaan
di USA menggunakan
metode garis lurus / Lainnya
straight line Unit Produksi
8% 5%
4%
Saldo Menurun

83%
Garis Lurus
Sumber: Accounting Trends & Techniques, edisi 56, American Institute of
Certified Public Accountants, New York, 2002.
Data

Biaya Awal.....……………………….... 2.400.000


Masa manfaat dalam tahun……….. 5 tahun
Masa manfaat dalam jam…............ 10.000
Nilai sisa........................................ 200.000
Metode Penyusutan Garis Lurus

Biaya – Nilai Sisa


= depresiasi tahunan
Masa Manfaat
2.400.000 – 200.000
= 440.000 depresiasi tahunan
5 tahun
440.000
= 18.3%Tingkat depresiasi
2.400.000 garis lurus
Metode Garis Lurus

Akum. Depr. Nilai Buku Nilai buku


pada awal pada awal Beban pada akhir
Tahun Biaya tahun tahun Depr. tahun

1 2.400.000 2.400.000 440.000 1.960.000


2 2.400.000 440.000 1.960.000 440.000 1.520.000
3 2.400.000 880.000 1.520.000 440.000 1.080.000
4 2.400.000 1.320.000 1.080.000 440.000 640.000
5 2.400.000 1.760.000 640.000 440.000 200.000
Beban
Biaya (2.400.000) – Nilai Sisa (200.000) Depresiasi
Estimasi Masa Manfaat 5 thn)
=
tahunan (440.000)

109
Metode Unit Produksi

Biaya – Estimasi nilai sisa


= Depresiasi per unit, jam,
Estimasi masa manfaat dalam unit, jam, dsb.
dsb.

2.400.000 – 200.000
= 220 per jam.
10,000 jam

Metode unit produksi lebih sesuai


dibandingkan dengan metode garis lurus saat
jumlah penggunaan aset tetap bervariasi dari
tahun ke tahun.
Metode Saldo Menurun

Tahap 1 2.400.000 – 200.000


= 480.000
5 tahun
Mengabaikan nilai sisa,
menghitung tingkat 480.000
garis lurus = 20%
2.400.000
Tahap 2
Cara mudahnya dengan
membagi satu dengan
Tingkat garis lurus dikali dua. jumlah tahun (1 ÷ 5 = .20).
0.20 x 2 = .40
Untuk tahun pertama, biaya dari aset dikalikan dengan 0.40. Setelah tahun
pertama, nilai buku yang menurun dari aset dikalikan dengan 0.40.
111
Tabel Perhitungan Saldo Menurun

Tahap 3
Akumulasi
Nilai Buku Depresiasi Depresiasi Nilai Buku
Tahun Awal Tahun Tingkat Tahunan Akhir Tahun Akhir Tahun
1 2.400.000 40% 960.000 960.000 1.440.000
2 1.440.000 40% 576.000 1.536.000 864.000
3 864.000 40% 345.600 345.600 518.400
4 518.400 40% 207.360 207.360 311.040
5 311.040 111.040 111.040 200.000

311.040 – 200.000 Nilai Buku akhir


yang diinginkan
Ilustrasi Penghentian Pengakuan
Kasus

Pada 1 Jan 2006 PT Kicir membeli Pada 31 Des 2007, penggantian


mesin cetak laser seharga Rp50 juta motor dari mesin laser diperlukan
Mesin tersebut digunakan selama 5 setelah 400 jam operasi.
tahun (umur maksimum) kemudian Nilai tercatat motor pada tanggal
dihapusbukukan tanpa nilai sisa tersebut senilai Rp2 juta.
[Rp10 juta – (Rp10 juta  500 x
Motor mesin tersebut dapat 400)]
beroperasi selama 500 jam, setelah Biaya perolehan dari motor baru
melewati waktu operasi tersebut, tersebut seharga Rp 8 juta.
perusahaan membeli bagian dari
laser baru.
Biaya dari motor baru sebesar Rp10 Jika motor laser diganti, maka motor
juta tanpa nilai sisa. yang dahulu, yakni senilai Rp 2 juta
harus dihapuskan.
Motor laser baru senilai Rp8 juta
harus diakui.

113
Ilustrasi Penghentian Pengakuan
Jurnal

Dr. Akumulasi Penyusutan Rp 8 juta


Dr. Rugi Rp 2 juta
Cr. Aset Tetap Rp 10 juta

Dr. Aset Tetap Rp 8 juta


Cr. Kas Rp 8 juta

114
Ilustrasi Penjualan Aset

Penjualan Aset
PT. Kelud memilik mesin yang dibeli 1 Juli 2X07 dengan harga 20.000.000.
Depresiasi sebesar 2.400.000 per tahun, jurnal depresiasi dilakukan setiap
akhir tahun. Pada 1 September 2X11 mesin dijual dengan harga 10.000.000.
Buatlah jurnal untuk mencatat penjualan tersebut.
Mencatat depresiasi 3 bulan
Beban depresiasi 1.600.000
Akumulasi depresiasi 1.600.000
Jurnal penjualan
Akumulasi depresiasi 10.000.000
Kas 10.500.000
Mesin 20.000.000
Akumulasi depresiasi 5.000.000
Nilai akumulasi depresiasi 1 September 2X11
4.167 tahun x 2.400.000 = 10.000.000

115
Ilustrasi Penurunan Nilai
Contoh: Misalkan PT Anggrek melakukan uji penurunan nilai terhadap
parbik yang dimilikinya. Nilai tercatat dari peralatan sebesar Rp 200
milyar, nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual Rp180 miliar. Buatlah
jurnal yang dibuat perusahaan

Dr. Kerugian penurunan nilai Rp20 miliar


Cr. Akumulasi depresiasi Rp16 miliar
BAB 17
Aset tidak
Berwujud Aset Tidak Berwujud

• Aset tidak berwujud: aset non moneter yang dapat


diidentifikasi dan tidak mempunyai wujud fisik.
• Syarat identifikasi:
– Dapat dipisahkan dari aset lainnya atau terbagi
terpisah atau dapat dijual, dialihkan, dilisensikan,
disewakan atau ditukarkan baik invidual atau
bersama.
– Muncul dari hak kontraktual atau hak hukum
lainnya.

117
Pengakuan dan Pengukuran

• Dapat diakui jika memenuhi prinsip pengakuan.


• Aset tidak berwujud pada saat perolehan diukur pada biaya
perolehannya.
• Aset tidak berwujud dihasilkan secara internal tidak diakui
dan pengeluaran tersebut dicatat sebagai beban.
• Pengeluaran yang awalnya diakui sebagai beban tidak boleh
diakui sebagai bagian perolehan aset tidak berwujud
dikemudian hari.
• Aset tidak berwujud setelah perolehan diukur pada nilai
perolehan dikurangi akumulasi amortisasi dan rugi penurunan
nilai.

118
Umur Manfaat dan Metode Amortisasi

• Semua aset tidak berwujud diakui sebagai aset dengan umur manfaat
terbatas
• Umur manfaat aset tidak berwujud yang berasal dari hak kontraktual atau
hak hukum lainnya tidak boleh melebihi periode hak kontraktual atau hak
hukum.
• Jika entitas tidak mampu mengestimasi umur manfaat suatu aset tidak
berwujud, maka umur manfaatnya dianggap 10 tahun.
• Nilai residu dianggap nol, kecuali dalam kondisi tertentu.
• Metode amortisasi dipilih, jika tidak dapat dilakukan secara andal maka
menggunakan metode garis lurus.
• Telaah ulang atas umur dan metode amortisasi dilakukan pada saat
terdapat indikasi perubahan terkait dengan aset
– Jika berubah maka mengikuti perubahan sebagai estimasi akuntansi.

119
Ilustrasi Amortisasi Aset Tak Berwujud

Membayar Rp80 juta untuk hak paten. Umur paten 6


tahun dan dikeluarkan 2 tahun sebelum pembelian.

Tanggal Uraian Debit Kredit


Des. 31 Beban Amortisasi 20 juta*
Paten 20 juta

*6 tahun – 2 tahun = 4 tahun


( Rp 80 juta/ 4 tahun) = Rp 20 juta per tahun

120
Penurunan Nilai dan Penghentian Pengakuan

• Rugi penurunan nilai diakui pada saat terjadinya.


• Aset tidak berwujud dihentikan pada saat dilepaskan
atau tidak ada lagi manfaat ekonomi masa depan
atas penggunaan atau pelepasan.

121
BAB 17
Sewa Sewa

• Klasifikasi sewa tergantung pada substansi transaksi


dan bukan bentuk hukumnya.
• Sewa pembiayaan jika sewa mengalihkan secara
substansi seluruh manfaat dan risiko kepemilikan aset
kepada lessee, jika tidak maka sebagai sewa operasi.
• Klasifikasi sewa dilakukan pada awal sewa dan tidak
berubah selama masa sewa kecuali lessee dan lessor
sepakat mengubah persyaratan sewa sehingga
klasifikasi sewa harus dievaluasi ulang.

122
Sewa
• Sewa Pembiayaan jika memenuhi salah satu:
– sewa mengalihkan kepemilikan aset pada lessee pada akhir masa
sewa
– lessee mempunyai hak opsi untuk membeli aset pada harga yang
cukup rendah dibandingkan nilai wajar pada tanggal opsi mulai
dapat dilaksanakan
– masa sewa adalah sebagian besar umur ekonomis aset yaitu sama
atau lebih dari 75% umur ekonomis aset sewaan.
– pada awal masa sewa nilai kini pembayaran sewa minimum sama
atau lebih dari 90% nilai wajar aset sewaan
– aset sewaan bersifat khusus dan dimana hanya lessee yang dapat
menggunakannya tanpa perlu modifikasi secara material.

123
Sewa Pembiayaan– Laporan Keuangan Lessee

• Mencatat aset dan kewajiban sebesar nilai tunai pembayaran


sewa ditambah nilai residu
• Mencatat depresiasi selama umur manfaat aset atau masa
sewa. Bila tidak ada pengalihan: yang lebih rendah antara masa
sewa dan umur manfaatnya
• Pembelian aset sewaan sebelum berakhirnya masa sewa
menyebabkan keuntungan atau kerugian
• Tingkat diskonto: tingkat bunga yang dibebankan lessor atau
tingkat bunga yang berlaku pada awal sewa
• Mencatat pembayaran minimum
– Pelunasan kewajiban
– Beban keuangan

124
Sewa Pembiayaan– Laporan Keuangan Lessor

• Menyewakan aset dan mencatat penanaman


neto sewa
• Penanaman neto sewa = jumlah piutang sewa
+ nilai residu – pendapatan sewa belum diakui
• Mencatat pendapatan sebagai tingkat
pengembalian berkala atas penanaman neto
sewa

125
Sewa Operasi

• Lessee:
– Tidak mencatat aset sewaan
– Mencatat beban sewa secara straight line
• Lessor:
– Mencatat aset sewaan (termasuk depresiasi)
– Mencatat penerimaan secara straight line

126
Transaksi Jual dan Sewa Balik

• Harus diperlakukan sebagai dua transaksi terpisah, yaitu:


– transaksi jual dan
– transaksi sewa
• Selisih harga jual dan nilai tercatat aset yang dijual
harus:
– diakui sebagai keuntungan atau kerugian ditangguhkan
– diamortisasi secara proporsional dengan beban
penyusutan (jika sewa balik merupakan sewa
pembiayaan) atau beban sewa (jika sewa balik merupakan
sewa operasi)

127
Sewa

Data
• Entitas melakukan leasing 1 Januari 2010
• Masa Manfaat aset 5 tahun, aset didepresiasi 5
tahun dengan metode garis lurus.
• Sewa merupakan bentuk kontrak yang dapat
dibatalkan dengan jangka waktu 5 tahun.
• Kontrak tahunan yang dibayarkan 2.505 setiap
akhir tahun.
• Bunga 8 % per tahun
Sewa - Lease

Skedul Leasing

Pokok awal Bunga dan Pokok dari MLP Utang Akhir


Tahun
tahun Bunga Pokok Total Tahun
2010 10.000 800 1.705 2.505 8.295
2011 8.295 664 1.841 2.505 6.454
2012 6.454 517 1.988 2.505 4.466
2013 4.466 358 2.147 2.505 2.319
2014 2.319 186 2.319 2.505 (0)
2.525 10.000 12.525
Jurnal - Lease

• Operating Lease
Biaya sewa 2.505
Kas 2.505

• Capital / Finance Lease


Aset leasing 10.000
Utang Leasing 10.000
Utang Leasing 1.708
Beban bunga 800
Kas 2.505
Beban Depresiasi 2.000
Akumulasi Depresiasi 2.000
Jurnal - Lessor

• Operating Lease
Kas 2.505
Pendapatan sewa 2.505
Beban Depresiasi 2.000
Akumulasi Depresiasi 2.000

• Capital / Finance Lease


Piutang Leasing 10.000
Aset 10.000
Kas 2.505
Piutang Leasing 1.708
Pendapatan bunga 800
Kas
Sewa

Perbandingan Sewa Operasi dan Sewa Pembiayaan

Sewa Operasi Sewa Pembiayaan

Bunga dan Pokok dari MLP


Tahun Sewa per tahun
Bunga Depresiasi Total
2010 2.505 800 2.000 2.800
2011 2.505 664 2.000 2.664
2012 2.505 517 2.000 2.517
2013 2.505 358 2.000 2.358
2014 2.505 186 2.000 2.186
12.525 2.525 10.000 12.525
Sewa
Dampak pada Laporan Keuangan Lease

Tanggal Cash Lease Aset Lease Liability Equity

01/01/2010 - 10.000 10.000 -


31/12/2010 (2.505) 8.000 8.295 (2.800)
31/12/2011 (5.010) 6.000 6.454 (5.464)
31/12/2012 (7.515) 4.000 4.466 (7.981)
31/12/2013 (10.020) 2.000 2.319 (10.339)
31/12/2014 (12.525) - (0) (12.525)
Sewa

Dampak pada Laporan Keuangan Lessor


Interest Akumulasi Pengurang
Tanggal Cash Piutang Equity
Revenue Interest Pokok
01/01/2010 - 10.000 -

31/12/2010 2.505 800 800 1.705 8.295 2.800

31/12/2011 5.010 664 1.464 1.841 6.454 5.464

31/12/2012 7.515 517 1.981 1.988 4.466 7.981

31/12/2013 10.020 358 2.339 2.147 2.319 10.339

31/12/2014 12.525 186 2.525 2.319 (0) 12.525


Ilustrasi – Lessee
• PT DEF (Lessee) menandatangani perjanjian sewa 10 unit kapal
ikan dengan PT XYZ (Lessor) pada tanggal 1 Januari 2009 senilai Rp
50 milyar
• Masa sewa selama lima tahun. Umur ekonomis kapal lima tahun.
• Angsuran sewa, dibayar setiap 1 Januari dimulai saat perjanjian
ditandatangani, yaitu sebesar Rp 12.033.002.023 per tahun
• Disepakati ada nilai residu yang dijamin sebesar Rp 2.500.000.000.
• Suku bunga implisit yang dikenakan oleh PT XYZ adalah 12%.
• PV anuitas dimuka (5 ,12%) = 4.037349347. PV single sum (5, 12%)
= 0.567426856
• Penyusutan dilakukan dengan menggunakan metode garis lurus.
Solusi - Lessee
 Sewa diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan
 MLP = PV Angsuran sewa + PV guaranteed RV
= 48,581,432,860 + 1,418,567,140
= 50,000,000
 Jurnal pencatatan sewa pembiayaan (1 Jan 09):
dr. Kapal Ikan Rp50,000,000
cr. Liabilitas Sewa Rp50,000,000
 Jurnal penerimaan piutang sewa ke-1 (1 Jan 09):
dr. Liabilitas Sewa Rp 12.033.002.023
cr. Kas Rp 12.033.002.023
 Jurnal atas Penyusutan (31 Desember 09):
dr. Penyusutan Rp 9,500,000,000
cr. Akumulasi Penyusutan Rp 9,500,000,000
{(50 M – 2.5 M)/5}
Solusi - Lessee

Pembayaran Beban
Date tahunan Keuangan Pengurangan Liabilitas Sewa Liabilitas Sewa
1-Jan-09 50,000,000,000

1-Jan-0912,033,002,023 0 12,033,002,023 37,966,997,977

1-Jan-1012,033,002,023 4,556,039,757 7,476,962,266 30,490,035,711

1-Jan-1112,033,002,023 3,658,804,285 8,374,197,738 22,115,837,974

1-Jan-1212,033,002,023 2,653,900,557 9,379,101,466 12,736,736,507

• Jurnal penerimaan piutang sewa ke-2 (1 Jan 10):


dr. Liabilitas Sewa Rp 7,476,962,266
dr. Beban Keuangan Rp 4,556,039,757
cr. Kas Rp 12,033,002,023

137
BAB 18
Diestimasi
dan
Kewajiban Diestimasi
Kontijensi

• Kewajiban diestimasi adalah kewajiban yang waktu dan jumlahnya belum


pasti.
• Entitas mengakui kewajiban diestimasi jika:
– terdapat kewajiban kini sebagai hasil dari
peristiwa masa lalu
– kemungkinan (lebih mungkin dibandingkan tidak
mungkin) terjadi arus keluar manfaat ekonomis
pada saat penyelesaian
– jumlah kewajiban dapat diestimasi secara andal
• Jumlah kewajiban diestimasi ditelaah setiap tanggal pelaporan dan
melakukan penyesuaian untuk mencerminkan estimasi terbaik.

138
Kewajiban Kontinjensi

• Kewajiban kontinjensi merupakan


– kewajiban potensial yang belum pasti; atau
– kewajiban kini yang tidak diakui karena mungkin
terjadi, tapi tampaknya tidak, atau jumlahnya
tidak dapat diestimasi secara andal
• Kewajiban kontinjensi tidak diakui, tapi
pengungkapan diperlukan.

139
Contoh

Kewajiban diestimasi atau


Peristiwa
kontinjensi
Kemungkinan besar salah satu kelompok
produk akan mengalami kerugian operasi -
selama beberapa tahun di masa depan
Kontrak memberatkan – biaya yang tidak
dapat dihindarkan untuk memenuhi kewajiban Kewajiban diestimasi
kontrak lebih besar dari manfaat ekonominya.
Garansi produk – garansi untuk memperbaiki Kewajiban diestimasi,
atau mengganti kesalahan produksi dalam 3 sebesar estimasi terbaik
tahun sejak penjualan (data historis)

140
Contoh

Kewajiban diestimasi
Peristiwa
atau kontinjensi

Penutupan suatu divisi – komunikasi Kewajiban diestimasi


dan rencana implementasi sebelum sebesar biaya yang
akhir periode pelaporan mungkin terjadi

Kasus pengadilan – pengacara


Kewajiban kontinjensi,
memberikan opini kemungkinan entitas
dengan pengungkapan.
diputuskan tidak bersalah.

Kewajiban diestimasi,
Kasus pengadilan – pengacara
sebesar estimasi
memberikan opini kemungkinan entitas
terbaik untuk
diputuskan bersalah.
penyelesaian kewajiban
141
Ilustrasi Kewajiban Diestimasi – Garansi

Biaya garansi terestimasi:


3% dari 20,000 unit @Rp 150 ribu = Rp 90 juta

Ayat jurnal penyesuaian:


Dr. Biaya garansi Rp 90 juta
Cr. Kewajiban terestimasi (garansi) Rp 90 juta

Misal pada 2012: (200 unit diperbaiki Rp 150 ribu)


Dr. Kewajiban terestimasi (garansi) Rp 30 juta
Cr. Persediaan Rp 28 juta
Cr. Gaji terutang Rp 2 juta

142
BAB 19
Ekuitas
Bentuk Hukum Entitas

• Entitas Perorangan
• Persekutuan Perdata
• Firma
• CV
• Perseroan Terbatas
• Koperasi

143
Badan usaha PT

• Modal saham meliputi:


– saham preferen
– saham biasa
– tambahan modal disetor
• Antara lain: agio saham , sumbangan , tambahan
modal dari penjualan kembali saham diperoleh
kembali dengan harga di atas jumlah yang dibayarkan
pada saat perolehannya

144
Penyajian ekuitas

Ekuitas
Modal saham – modal dasar 10.000 lembar saham dengan nilai
nominal Rp 1000.
Modal saham disetor penuh – 5.000 lembar saham dengan
5.000.000
nilai nominal Rp 1.000
Tambahan modal disetor 1.000.000
Jumlah modal saham 6.000.000
Saldo laba 2.450.000
Jumlah ekuitas 8.450.000

145
Pembagian dividen

• Kewajiban entitas untuk membagi dividen timbul


pada saat pengumuman pembagian dividen
• Bentuk dividen:
– dividen kas
– dividen saham
• berasal dari saldo laba yang diinvestasikan kembali oleh
pemegang saham dalam bentuk moda disetor
• dicatat berdasarkan nilai wajar saham

148
Saham Diterbitkan dengan Sekuritas Lain
Metode Proporsional

PT DEF menerbitkan 500 lembar saham biasa dengan nilai par Rp


100 dan nilai wajar Rp 600, serta 200 lembar saham preferen dengan
nilai par Rp 200 dan nilai wajar Rp 1.000 yang dijual dengan lump
sum Rp 400.000.

Jumlah saham Nilai Total %


Saham biasa 500 x Rp 600 = Rp 300.000 60%
Saham Preferen 200 x 1.000 200.000 40%
Nilai pasar Rp 500.000 100%

Alokasi: Biasa Preferen


Harga penerbitan Rp 400.000 Rp 400.000
Alokasi % 60% 40%
Total Rp 240.000 Rp 160.000
Saham Diterbitkan dengan Sekuritas Lain
Metode Proporsional

PT DEF menerbitkan 500 lembar saham biasa dengan nilai par Rp


100 dan nilai wajar Rp 600, serta 200 lembar saham preferen dengan
nilai par Rp 200 dan nilai wajar Rp 1.000 yang dijual dengan lump
sum Rp 400.000.

Kas 400.000
Saham preferen (200 x Rp 200) 40.000
Agio saham preferen (160.000 – 40.000) 120.000
Saham biasa (500 x Rp 100) 50.000
Agio saham biasa (240.000 – 50,000) 190.000

13
Saham Diterbitkan dengan Sekuritas Lain
Metode Penambahan

PT DEF menerbitkan 500 lembar saham biasa dengan nilai par Rp


100 dan nilai wajar Rp 600, serta 200 lembar saham preferen dengan
nilai par Rp 200 dan nilai wajar tidak diketahui yang dijual dengan
lump sum Rp 400.000.

Kas 400.000
Saham preferen (200 x Rp 200) 40.000
Agio saham preferen (100.000 – 40.000) 60.000
Saham biasa (500 x Rp 100) 50.000
Agio saham biasa (300.000 – 50,000) 250.000
Saham Treasuri (contoh)

PT JKL menerbitkan 20.000 lembar saham biasa dengan nilai


par Rp 200 pada harga Rp 500 per share. Sebagai tambahan,
perusahaan juga memiliki laba ditahan sebesar Rp20.000.000.
Ekuitas
Saham biasa, Rp 200 par, 20.000 lembar diisukan dan
Rp 4.000.000
beredar
Agio saham biasa 6.000.000
Laba ditahan 20.000.000
Total ekuitas 30.000.000
Saham Treasuri (contoh)

Kemudian pada tanggal 2 Februari, PT JKL melakukan reakuisisi


saham sebanyak 5.000 lembar saham dengan harga Rp 700.

Saham treasuri 3.500.000


Kas 3.500.000

Saham biasa, Rp 200 par, 20.000 lembar diisukan dan 15.000


Rp 4.000.000
beredar
Agio saham biasa 6.000.000
Laba ditahan 20.000.000
Dikurangi: biaya saham treasuri (5.000 lembar) (3.500,000)
Total ekuitas 26.500.000
Saham Treasuri (contoh)
Tanggal 2 Maret, PT JKL menjual kembali saham treasurinya
sebanyak 500 lembar dengan harga Rp 1.000

Kas 500.000
Saham treasuri 350.000
Agio saham treasuri 150.000

Tanggal 2 April, PT JKL menjual kembali saham treasurinya


sebanyak 500 lembar dengan harga Rp 600.
Kas 300.000
Agio saham treasuri 50.000
Saham treasuri 350.000

Agio Saham Treasuri


2 April 50.000 2 Maret 150.000
Saldo 100.000
Saham Treasuri (contoh)

Tanggal 2 Mei, PT JKL menjual kembali saham treasurinya


sebanyak 1.000 lembar dengan harga Rp 550.

Kas 550.000
Agio saham treasuri 100.000
Laba ditahan 50.000
Saham treasuri 700.000
Dividen Kas - contoh

Tanggal 2 Juni PT PQR mengumumkan pembayaran kas


dividen Rp 200 atas 200.000 saham yang terutang pada tanggal
12 Juli kepada semua pemegang saham yang tercatat pada
tanggal 22 Juni.

Tanggal pengumuman (2 Juni)


Laba ditahan 40.000.000
Utang dividen 40.000.000
Tanggal pencatatan (22 Juni) No entry
Tanggal pembayaran (12 Juli)
Utang dividen 40.000.000
Kas 40.000.000

35
Dividen Properti (contoh)

PT QRS melakukan transfer kepada pemegang saham beberapa investasinya dalam


bentuk sekuritas senilai Rp 300.000.000 dengan mengumumkan dividen properti
tanggal 12 Desember 2012, untuk didistribusikan tanggal 22 Januari 2X13 kepada
pemegang saham yang tercatat pada 2 Januari 2013. Pada tanggal pengumuman,
sekuritas tersebut memiliki nilai wajar Rp 200.000,000.

Tanggal pengumuman (12 Desember 2012)


Unrealized Holding Gain or Loss—Kerugian 100.000.000
Investasi ekuitas 100.000.000
Laba ditahan 200.000.000
Utang dividen properti 200.000.000

Tanggal distribusi (22 Januari 2013)


Utang dividen properti 200.000.000
Investasi ekuitas 200.000.000
Dividen Likuidasi – Agio saham

PT RST menerbitkan sebuah “dividen” kepada pemegang saham


biasa sebesar Rp 220.000.000. Pengumuman menyebutkan bahwa
pemegang saham harus mempertimbangkan Rp 100.000.000 sebagai
pendapatan dan sisanya sebagai pengembalian modal.

Tanggal pengumuman
Laba ditahan 100.000.000
Agio saham biasa 120.000.000
Utang dividen 220.000.000

Tanggal pembayaran
Utang dividen 220.000.000
Kas 220.000.000
Dividen Saham - contoh

PT UVW memiliki 2 juta lembar saham biasa beredar dengan nilai par Rp 200
dan laba ditahan sebesar Rp 700 juta. Jika PT UVW mengumumkan 10 persen
dividen saham, maka perusahaan menerbitkan 200 ribu lembar saham
tambahan kepada pemegang saham. Jika nilai wajar saham saat itu adalah Rp
300 per lembar, maka pencatatannya adalah:
Tanggal pengumuman
Laba ditahan 60 juta
Saham biasa yang dapat didistribusikan 40 juta
Agio saham biasa 20 juta

Tanggal distribusi
Saham biasa yang dapat didistribusikan 40 juta
Saham b 40 juta
Dividen Saham - contoh

PT UVW memiliki 2 juta lembar saham biasa beredar dengan nilai par
Rp 200 dan laba ditahan sebesar Rp 700 juta. Jika PT UVW
mengumumkan 30 persen dividen saham, maka perusahaan
menerbitkan 600 ribu lembar saham tambahan kepada pemegang
saham. Jika nilai wajar saham saat itu adalah Rp 300 per lembar, maka
pencatatannya adalah:

Tanggal pengumuman
Laba ditahan (600 ribu x Rp 200) 120 juta
Saham biasa yang dapat didistribusikan 120 juta

Tanggal distribusi
Saham biasa yang dapat didistribusikan 120 juta
Saham biasa 120 juta
Share Split

 Untuk mengurangi nilai pasar saham.


 No entry untuk pencatatan share split.
 Mengurangi nilai pasar dan meningkatkan jumlah
saham.

Ekuitas sebelum 2-for-1 split Ekuitas sesudah 2-for-1 split

Saham biasa, 2 juta lembar Saham biasa, 4 juta lembar


Rp 400 juta Rp 400 juta
dengan nilai par Rp 200 dengan nilai par Rp 100

Laba ditahan Rp200 juta Laba ditahan Rp200 juta


Rp 600 juta Rp 600 juta
Perbandingan Dividen Saham, Share Split, dan Dividen
Kas

Pengumuman dan distribusi


Pengumuman Pembayaran
Dampak pada Dividen Dividen Share
dividen kas dividen kas
saham kecil saham besar split
Laba ditahan Berkurang Tetap Berkuranga Berkurangb Tetap

Modal saham Tetap Tetap Bertambahb Bertambahb Tetap

Agio saham Tetap Tetap Bertambahc Tetap Tetap

Jumlah ekuitas Berkurang Tetap Tetap Tetap Tetap

Working capital Berkurang Tetap Tetap Tetap Tetap

Jumlah aset Tetap Berkurang Tetap Tetap Tetap

Jumlah saham beredar Tetap Tetap Bertambah Bertambah Bertambah

aHarga pasar bNilai par/dinyatakan cNilai lebih harga pasar dengan nilai par

44
BAB 20
Pendapatan
Jenis-jenis pendapatan

– Penjualan barang
– Penyediaan jasa
– Kontrak konstruksi
– Penggunaan aset entitas oleh pihak lain:
• bunga
• royalti atau
• dividen

163
Pengukuran pendapatan

• Entitas harus mengukur pendapatan berdasarkan nilai


wajar atas pembayaran yang diterima atau masih harus
diterima.
• Untuk pembayaran tangguhan, jika merupakan transaksi
keuangan,
– maka nilai kini dari seluruh pembayaran diakui sebagai
pendapatan
– selisih nilai kini dan nilai nominal pembayaran diakui
sebagai pendapatan bunga

164
Penjualan barang

• Pendapatan diakui jika semua kondisi berikut telah terpenuhi:


– Entitas telah mengalihkan risiko dan manfaat yang
signifikan dari kepemilikan barang kepada pembeli;
– Entitas tidak mempertahankan mengendalian efektif atas
barang yang terjual;
– Jumlah pendapatan dapat diukur secara andal;
– Ada kemungkinan besar manfaat ekonomi yang
berhubungan dengan transaksi akan mengalir masuk ke
dalam entitas; dan
– Biaya yang telah atau akan terjadi sehubungan dengan
transaksi dapat diukur secara andal

166
Ilustrasi Penjualan Barang

Sebuah toko bernama “Terang Jaya” menjual peralatan


elektronik, salah satunya televisi. Pada tanggal 6 Maret 2012,
seorang pelanggan membeli satu unit televisi untuk dipasang di
rumahnya seharga Rp 3.000.000,-

Terang Jaya mengakui pendapatan pada saat televisi diterima


oleh pelanggan sebesar Rp 3.000.000,- oleh karena proses
instalasi televisi tidak rumit.

167
Penyediaan jasa

• Entitas harus mengakui pendapatan sesuai dengan tahap


penyelesaian dari transaksi pada akhir periode pelaporan
(biasanya disebut metode persentase penyelesaian).
• Hasil suatu transaksi dapat diestimasi secara andal apabila
memenuhi semua kondisi berikut:
– Jumlah pendapatan dapat diukur secara andal;
– Ada kemungkinan besar bahwa manfaat ekonomis akan mengalir
kepada entitas;
– Tingkat penyelesaian transaksi pada akhir periode pelaporan dapat
diukur secara andal; dan
– Biaya yang terjadi dalam transaksi dan biaya penyelesaian transaksi
dapat diukur secara andal.

168
Bunga, royalti dan dividen

• Entitas harus mengakui pendapatan yang


muncul dari penggunaan aset oleh entitas
yang lain yang menghasilkan bunga, royalti
dan dividen ketika:
– ada kemungkinan besar bahwa manfaat ekonomis
yang berhubungan dengan transaksi akan
mengalir kepada entitas;
– jumlah pendapatan tersebut dapat diukur secara
andal.

169
Pengakuan bunga, royalti dan dividen

– Bunga harus diakui secara akrual;

– Royalti harus diakui dengan menggunakan dasar


akrual sesuai dengan substansi dari perjanjian
yang relevan; dan

– Dividen harus diakui ketika hak pemegang saham


untuk menerima pembayaran telah terjadi.

170
Kontrak Koonstruksi

 Jika hasil konstruksi dapat diestimasi secara handal mengakui


pendapatan dan beban berdasarkan progress penyelesaian konstruksi
bukan berdasarkan billing yang ditagihkan.
 Progres penyelesaian didasarkan pada
 Prosentasi biaya yang telah dikeluarkan
 Survey pekerjaan yang diselesaikan
 Progress fisik
 Entitas harus mengakui beban dan semua biaya yang tidak mungkin
dipulihkan.
 Jika kontrak konstruksi tidak dapat diestima secara andal, maka entitas:
 Mengakui pendapatan hanya sebesar bagian kontrak yang dapat dipulihkan
 Mengakui biaya kontrak sesuai periode terjadinya.

171
Ilustrasi Bunga, Royalti, dan Dividen

Pada tanggal 11 November 2011, Reva menyerahkan draft buku


yang baru selesai ditulisnya kepada penerbit “Jendela Pustaka”.
Setelah melalui tahap pemeriksaan dan uji kelayakan, pada tanggal
11 Desember 2011, pihak penerbit mengirimkan pemberitahuan
kepada Reva untuk menandatangani kontrak penerbitan dan
distribusi buku.
Kontrak telah ditandatangani kedua belah pihak pada tanggal 13
Desember 2011 dengan nilai Rp 200 juta.

Reva mengakui pendapatan royalti senilai Rp 200 juta pada tanggal


13 Desember 2011, karena kejadian acuan (penandatanganan
kontrak) telah terjadi.

172
Presentase Penyelesaian: Contoh Soal

Data: Harga kontrak: 4,500,000 Estimasi Biaya: 4,000,000


Tgl mulai: July, 2007 Selesai: October, 2009
Tanggal neraca : Dec. 31

Data: 2007 2008 2009

Biaya hingga tanggal ini 1,000,000 2,916,000 4,050,000


Estimasi biaya hingga selesai 3,000,000 1,134,000 -0-
Termin selama thn berjalan 900,000 2,400,000 1,200,000
Kas tertagih selama tahun
Berjalan 750,000 1,750,000 2,000,000

Berapa presentase selesai, pendapatan dan laba kotor


yang diakui setiap tahun?
Presentase Penyelesaian: Contoh

Percentage Completion Completion


2007 2008 2009 2009
% 1,000,000 = 25% 2,916,000 = 72% 100% 100%
penyelesaian 4,000.000 4,050.000
Pendapatan 4,500.000*25% = 4,500.000*72% - 4,500.000 - 4,500,000
yang 1,125,000 1,125,000 = 3,240,000 =
Diakui 2,115,000 1,260,0
Beban yang 1,000,000 1,916,000 1,134,000 450,000
diakui
Laba kotor 1,125,000 – 2,115,000 – 1,260,000 – 450,000
yang 1,000,000 = 1,916,000 = 1,134,000 =
daikui 125,000 199,000 126,000
Kontrak Penyelesaian: Jurnal

Jurnal pada tahun 2009


Penagihan atas Konstruksi dalam proses 4.500.000
Pendapatan dari kontrak jk.panjang 4.500.000

Biaya konstruksi 4.050.000


Konstruksi dalam proses 4.050.000
Contoh – Penentuan Pendapatan & Beban

 Suatu kontraktor konstruksi mempunyai kontrak harga tetap sebesar


Rp9.000 untuk mendirikan sebuah jembatan.
 Jumlah pendapatan semula yang disetujui dalam kontrak adalah
Rp9.000.
 Biaya kontrak menurut estimasi kontraktor semula adalah Rp8.000.
 Akan memakan waktu 3 tahun untuk mendirikan jembatan tersebut.
 Dalam tahun 2, pelanggannya menyetujui suatu penyimpangan yang
menghasilkan peningkatan dalam pendapatan kontrak sebesar Rp200
dan biaya kontrak tambahan yang diestimasi sebesar Rp150.
 Pada akhir tahun 2, biaya yang terjadi meliputi Rp100 untuk bahan
standar yang disimpan pada lokasi untuk digunakan dalam tahun 3 untuk
menyelesaikan proyek tersebut.

176
Contoh – Penentuan Pendapatan & Beban

Tahun Tahun Tahun


1 2 3
Jumlah semua pendapatan yang
disetujui dalam kontrak 9.000 9.000 9.000
Penyimpangan - 200 200
Total pendapatan kontrak 9.000 9.200 9.200
Biaya kontrak yang terjadi saat ini 2.093 6.168 8.200
Biaya kontrak untuk menyelesaikan 5.957 2.032 -
Total estimasi biaya kontrak 8.050 8.200 8.200
Estimasi laba 950 1.000 1.000
Tahap penyelesaian 26% 74% 100%

177
Contoh – Penentuan Pendapatan & Beban

Diakui Diakui
Saat ini sebelumnya sekarang
Tahun 1
Pendapatan (9.000 x 26%) 2.340 - 2.340
Beban (8.050 x 26%) 2.093 - 2.093
Laba 247 - 247
Tahun 2
Pendapatan (9.200 x 74%) 6.808 2.340 4.468
Beban (8.200 x 74%) 6.068 2.093 3.975
Laba 740 247 493
Tahun 3
Pendapatan (9.200 x 100%) 9.200 6.808 2.392
Beban 8.200 6.068 2.132
Laba 1.000 740 260

178
BAB 21
Biaya
Pinjaman
Biaya Pinjaman

• Biaya pinjaman adalah bunga dan biaya lainnya yang timbul


dari kewajiban keuangan suatu entitas
• Termasuk:
– Bunga cerukan bank dan pinjaman jangka pendek dan panjang
– Amortisasi diskonto atau premium pinjaman
– Amortisasi biaya tambahan pinjaman
– Beban pembiayaan sewa pembiayaan
– Perbedaan nilai tukar dari pinjaman mata uang asing yang
dianggap sebagai penyesuaian terhadap biaya bunga.
• Entitas harus mengakui seluruh biaya pinjaman sebagai
beban pada laporan laba rugi di periode terjadinya

179
BAB 22
Penurunan
Nilai Penurunan Nilai
• Kerugian penurunan nilai terjadi jika nilai tercatat melebihi nilai yang dapat
diperoleh kembali
• Penurunan nilai pinjaman dan piutang dinilai sebesar estimasi kerugian yang
tidak dapat ditagih.
• Persediaan:
– Penurunan terjadi sebagai konsekuensi penilaian berdasarkan harga jual dikurangi biaya
menyelesaikan dan menjual.
– Pemulihan penurunan nilai diakui maksimal sebesar rugi yang telah diakui.
• Aset lain:
– Entitas harus menilai pada setiap tanggal laporan apakah terjadi indikasi bahwa ada aset yang
turun nilainya.
– Kerugian penurunan nilai dan pemulihan kerugian diakui dalam laporan laba rugi (selisih nilai
tercatat aset dengan nilai wajar dikurangi biaya menjual)
– Jika ada indikasi entitas harus mengestimasi nilai wajar aset dikurangi biaya untuk menjual aset
tersebut
– Pemulihan penurunan nilai tidak boleh melebihi niliai yang ditentukan
– Indikasi: sumber informasi eksternal atau sumber informasi internal.

180
BAB 23
Imbalan
Kerja
Imbalan Kerja
• Imbalan kerja adalah semua bentuk imbalan yang diberikan
entitas sebagai pertukaran jasa yang diberikan oleh pekerja,
termasuk untuk direktur dan manajemen.
• Klasidikasi ada 4 lihat gambar: imbalan kerja jangka pendek,
panjang, paskakerja dan pesangon
• Entitas mengakui biaya atas seluruh kewajiaban imbalan kerja
yang menjadi hak pekerja akibat jasa yang diberikan kepada
entitas selama periode pelaporan:
– Sebagai kewajiban setelah dikurangi jumlah yang dibayar, atau aset
dibayar dimuka jika terdapat kelebihan pembayaran
– Sebagai beban kecuali dipersyaratkan oleh PSAK lain

181
Ruang Lingkup Imbalan Kerja

Imbalan Kerja

Imbalan Kerja
Imbalan Kerja Imbalan Paska
Pesangon Jangka Panjang
Jangka Pendek Kerja
Lainnya

ImbalanJangka Bagi hasil Kontribusi Manfaat


Pendek atau Pasti Pasti
Absen Bonus

Past service Current


cost Service Cost

182
Pengakuan dan Pengukuran Imbalan Jangka Pendek

Diakui saat
pekerja telah Liabilitas jangka pendek sebagai:
memberi jasa
Liabilitas setelah dikurangi yang
telah dibayar, beban dibayar dimuka
jika terjadi kelebihan pembayaran

Beban atau pernyataan lain


membolehkan sbg biaya perolehan

Boleh diakumulasi  diakui pada saat


Cuti berimbalan pekerja memberikan jasa
jangka pendek
cuti berimbalan yang tidak boleh
diakumulasi  diakui saat cuti terjadi
183
Ilustrasi

• PT. A memiliki 5 karyawan yang diberikan cuti berimbalan


sebesar Rp 100.000 untuk 5 hari kerja. Selama tahun
2012, karyawan yang cuti 5 hari 1 orang sedangkan
sisanya cuti 3 hari kerja.
• JIKA TIDAK DIAKUMULASI
Beban cuti berimbalan 1.700.000 (5+(4x3)x100.000)
Kas 1.700.000
• JIKA DIAKUMULASI
Beban cuti berimbalan 1.700.000 (5+(4x3)x100.000)
Kas 1.700.000
Beban cuti berimbalan 800.000 (4x2)x100.000)
Utang gaji 800.000

184
Program Bagi Laba dan Bonus

Syarat pengakuan biaya pembayaran bagi laba dan bonus

Ada kewajiban hukum atau kewajiban konstruktif


sebagai akibat dari peristiwa masa lalu

Dapat diestimasi secara andal

Kewajiban kini timbul jika, dan hanya jika, entitas tidak


mempunyai alternatif realistis lainnya kecuali melakukan
pembayaran.

185
Imbalan Paska Kerja

EMPLOYER PENSION FUND EMPLOYEE


CONTRIBUTIONS BENEFIT

Defined
Contribution DEFINED VOLATILE
Plans
RISK LIMIT

Defined
VOLATILE DEFINED
Benefit Plans
RISK LIMIT

186
Dana Pensiun

• Undang-undang No.11 tahun 1992 tentang Dana Pensiun  Program


pascakerja dilakukan dengan pemupukan dana yang dikelola secara
terpisah dari kekayaan pendiri, tidak diperkenankan membentuk
cadangan dalam perusahaan untuk pembayaran imbalan kerja.
• Program yang “didanai” atau funded  perusahaan menyediakan
dana untuk pembayaran pensiun.
• Dana pensiun :
– Dana Pensiun Pemberi Kerja (DPPK) khusus untuk perusahaan pendiri atau
mitra pendiri.
– Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK)  dibentuk oleh bank atau
perusahaan asuransi jiwa  program pensiun iura. Peserta karyawan dari
berbagai perusahaan (multi pemberi kerja) ataupun perorangan.

187
Jenis Program

Program Iuran Pasti


Risiko aktuaria ditanggung peserta

Kewajiban hukum terbatas pada jumlah Bentuk Program


yang disepakati sebagai iuran yang terpisah.  Program Multipemberi
kerja
 Program Jaminan Sosial
Program Manfaat Pasti  Program imbalan pasti
yang Membagi Risiko
Perusahaan wajib menyediakan imbalan antara Entitas
yang dijanjikan kepada pekerja maupun Sepengendali
 Imbalan yang dijamin
mantan pekerja.
Resiko investasi dan aktuaria menjadi
tanggungan perusahaan
Program Multipemberi Kerja
Program multipemberi kerja adalah program iuran pasti atau program imbalan pasti (selain
program nasional jaminan sosial) yang:
a. menyatukan aset yang dikontribusi dari beberapa entitas yang tidak sepengendali; dan
b. menggunakan aset tersebut untuk memberikan imbalan kepada para pekerja dari lebih
satu entitas, dengan dasar bahwa tingkat iuran dan imbalan ditentukan tanpa
memperhatikan identitas entitas mempekerjakan pekerja tersebut.

Klasifikasi Program Iuran Pasti


Sesuai ketentuan
program Program Imbalan Pasti

• melaporkan bagian proporsionalnya atas kewajiban imbalan pasti, aset


program dan biaya yang terkait dengan program tersebut dengan cara yang
sama dengan program imbalan pasti lainnya; dan
• mengungkapkan informasi yang dipersyaratkan.
• Jika informasi memadai tidak tersebut  iuran pasti
Program Jaminan Sosial

Program Jaminan Sosial


• cara yang sama seperti program multi-
pemberi kerja
• Umumnya program iuran pasti

Dicirikan sebagai imbalan pasti atau


iuran pasti berdasarkan kewajiban
entitas dalam program.
Program Iuran Pasti

Pengakuan dan Pengukuran Pengungkapan


• jumlah yang diakui
Diakui sebagai beban sebagai beban
untuk program
iuran pasti.
Diakui liabilitas (beban terakru) • Informasi program
setelah dikurangi dengan iuran iuran pasti untuk
telah dibayar atau aset personel
(pembayaran dimuka jika terdapat manajemen kunci
kelebihan).

Jika iuran tidak jatuh tempo


seluruhnya dalam 12 bulan ->
didiskonto

191
Iuran Pasti

• Misal Juni 20X5, iuran pensiun yang harus dibayar oleh PT ABC
untuk bulan tersebut Rp 5.000.000. Jika iuran tersebut dibayar
semua maka jurnal yang dibuat adalah:
Beban Rp 5.000.000
Kas Rp 5.000.000
• Jika baru Rp 3.000.000 dibayar, sisanya belum dibayar sampai
akhir Juni 20X0. Maka jurnalnya adalah :
Beban Rp 5.000.000
Kas Rp 3.000.000
Liabilitas jk pendek Rp 2.000.000

192
Program Manfaat Pasti
• Perusahaan memiliki kewajiban hukum dan konstrukstif
untuk memenuhi pembayaran imbalan setelah pekerja
pensiun.
• Mungkin tidak didanai, seluruhnya atau sebagian didanai
• Imbalan dihitung dengan asumsi aktuarial  asumsi
demografi dan keuangan.
• Dana diakumulasikan dalam Aset Program
• Risiko atas manfaat pasti:
– Risiko aktuarial  jumlah kewajiban imbalan pasti berbeda dari yang
diharapkan karena perubahan asumsi aktuaria
– Risiko investasi  hasil investasi atas aset program berbeda dari yang
diharapkan.
RISIKO MENIMBULKAN KEUNTUNGAN/KERUGIAN AKTUARIAL

193
Program Manfaat Pasti
• Beban tersebut dihitung sebesar nilai neto dari :
– Biaya Jasa, yang mencakup Biaya Jasa Kini,
– Biaya Jasa Lalu, dan Keuntungan atau kerugian atas penyelesaian
(settlement).
– Ditambah Beban bunga dan dikurangi (Pendapatan) Investasi diskonto
obligasi.
• Neraca – liabilitas atau aset tergantung mana yang lebih
besar dari keduanya
– Jika muncul aset hanya diakui sebesar surplus yang dapat dipulihkan
melalui pengurangan iuran masa depan atau pengembalian program.
• Keuntungan dan kerugian aktuaria
– Mengakui seluruhnya alam laporan laba rugi
– Mengakui seluruhnya dalam ekuitass

194
Program Manfaat Pasti
Faktor-faktor:
Biaya Jasa:
• Biaya Jasa Kini
• Biaya Jasa Lalu
Nilai Kini Kewajiban
• Keuntungan (kerugian) atas
Imbalan Pasti (NKKIP)
Penyelesaiaan
• Biaya Bunga
• Remeasurement (Keuntungan
dan kerugian aktuarial)

• Pendapatan Bunga
• Iuran atau Penarikan Nilai Wajar Aset Program
• Remeasurement (Keuntungan dan (NWAP)
kerugian aktuarial)

195
Laporan Posisi Keuangan

Liabilitas Imbalan Pasti (di Neraca)


+/+ Nilai kini kewajiban imbalan pasti
-/- Nilai wajar aset program yang digunakan untuk
menyelesaikan kewajiban secara langsung

Ekuitas (di Neraca)


+/- Pendapatan atau kerugian aktuaria program
manfaat pasti

196
Ilustrasi 1 – PSAK 24 (Revisi 2013)

• Imbalan kerja perusahaan:


Nilai Kini Kewajiban Imbalan Pasti - Awal 20X0 200.000
Nilai Wajar Aset Program - Awal 20X0 200.000
Biaya Jasa Kini 30.000
Tingkat Diskonto dan imbal hasil investasi 10%
Iuran 24.000
Imbalan 16.000
Nilai Kini Kewajinan imbalan akhir 20X0 250.000
Nilai wajar aset akhir 20X0 222.000

197
Ilustrasi 1 – PSAK 24 (Revisi 2013)

JURNAL UMUM MEMO


Nilai Kini
Beban Kas Bagian Ekuitas Liabilitas Kewajiban Aset
Saldo awal (200.000) 200.000
Biaya jasa kini 30.000 (30.000)
Biaya bunga 20.000 (20.000)
Pendapatan bunga (20.000) 20.000
Iuran (24.000) 24.000
Imbalan 16.000 (16.000)
Rugi Aktuaria Liabiilitas 16.000 (16.000)
Rugi Aktuaria – Aset Program 6.000 (6.000)
Amortisasi biaya jasa lalu
Kerugian (keuntung) akturial
Jml tahun berjalan 30.000 (24.000) 22.000 (28.000) (250.000) 222.000
Saldo Akhir 22.000
Kerugian

198
Jurnal
Beban pensiun 30.000
Rugi akturia – ekuitas 22.000
Kas 24.000
Liabilitas 28.000

Liabilitas
Kewajiban manfaat Pensiun 28.000
Ekuitas
Kerugian aktuaria kerugian 22.000
Notes
Nilai kini Kewajiban 250.000
Aset Program 222.000
Net Liabilitas manfaat pensiun 28.000

199
Ilustrasi 1 – Manfaat Pasti

JURNAL UMUM MEMO


Aktuaria Nilai Kini
Beban Kas gain/loss Liabilitas Kewajiban Aset
Saldo awal (200.000) 200.000
Biaya jasa kini 30.000 (30.000)
Biaya bunga 20.000 (20.000)
Pendapatan bunga (20.000) 20.000
Iuran (24.000) 24.000
Imbalan 16.000 (16.000)
Rugi Aktuaria Liabiilitas 22.000 16.000 (16.000)
Rugi Aktuaria – Aset Program 6.000 (6.000)
Amortisasi biaya jasa lalu
Kerugian (keuntung) akturial
Jml tahun berjalan 52.000 (24.000) 22.000 (28.000) (250.000) 222.000
Saldo Akhir 22.000
Kerugian

200
Jurnal
Beban pensiun 30.000
Kerugian aktuaria - LR 22.000
Kas 24.000
Liabilitas 28.000

Liabilitas
Kewajiban manfaat Pensiun 28.000

Notes
Nilai kini Kewajiban 250.000
Aset Program 222.000
Net Liabilitas manfaat pensiun 28.000

201
Ilustrasi 2 – Manfaat Pasti

• Imbalan kerja perusahaan:


KETERANGAN
Nilai Kini Kewajiban Imbalan Pasti - Awal 20X1 250.000
Nilai Wajar Aset Program - Awal 20X1 222.000
Rugi Aktuaria Ekuitas – Awal 20X1 22.000
Biaya Jasa Kini 34.000
Tingkat Diskonto dan hasil investasi 10%
Iuran 26.000
Imbalan 20.000
Nilai Kini Kewajinan imbalan – Akhir 20X1 279.500
Nilai wajar aset – Akhir 20X1 276.600

202
Ilustrasi 2 – Manfaat Pasti

JURNAL UMUM MEMO


Bagian Keweajiban Aset
Beban Kas Ekuitas Liabilitas Program Program
Saldo awal 22.000 (28.000) (250.000) 222.000
Biaya jasa kini 34.000 (34.000)
Biaya bunga 25.000 (25.000)
Pendapatan bunga (22.200) 22.200
Iuran (26.000) 26.000
Imbalan 20.000 (20.000)
Penurunan (kenaikan) kewajiban (9.500) 9.500
Selisih aktuaria Aset Program (26.400) 26.400
Amortisasi biaya jasa lalu
Kerugian (keuntungan) akturial
36.800 (26.000) (35.900) 25.100
(13.900) (2.900) (279.500) 276.600

203
Jurnal
Beban pensiun 36.800
Liabilitas manfaat pensiun 25.100
Kas 26.000
Keuntungan aktuaria – ekuitas 35.900

Liabilitas
Liabilitas manfaat pensiun 2.900
Ekuitas
Keuntungan aktuaria - ekuitas 13.900
Notes
Nilai kini Kewajiban (279.500)
Aset Program 276.600
Net Liabilitas manfaat pensiun (2.900)

204
Ilustrasi 2 – Manfaat Pasti

JURNAL UMUM MEMO


Loss /(Gain) Keweajiban Aset
Beban Kas aktuaria Liabilitas Program Program
Saldo awal (28.000) (250.000) 222.000
Biaya jasa kini 34.000 (34.000)
Biaya bunga 25.000 (25.000)
Pendapatan bunga (22.200) 22.200
Iuran (26.000) 26.000
Imbalan 20.000 (20.000)
Penurunan (kenaikan) kewajiban (9.500) 9.500
Selisih aktuaria Aset Program (26.400) 26.400
Amortisasi biaya jasa lalu
Kerugian (keuntungan) akturial
36.800 (26.000) (35.900) 25.100
(2.900) (279.500) 276.600

205
Jurnal
Beban pensiun 36.800
Liabilitas manfaat pensiun 25.100
Kas 26.000
Keuntungan aktuaria – LR 35.900

Liabilitas
Liabilitas manfaat pensiun 2.900

Notes
Nilai kini Kewajiban (279.500)
Aset Program 276.600
Net Liabilitas manfaat pensiun (2.900)

206
Contoh
• Perusahaan menjanjikan pembayaran pesangon kepada karyawannya
pada saat berhenti bekerja di usia pensiun normal sebesar 200.000.000.
• Karyawan memiliki masa kerja sampai pensiun selama 20 tahun.
• Berdasarkan metode Projected Unit Credit (asumsi diabaikan), unit
menurut periode jasa = 200.000.000/20 = 10.000.000.
• Sehingga pengakuan di laba rugi dan neraca sebagai berikut:
Tahun Beban tahun berjalan Kewajiban akhir tahun
1 10,000,000 10,000,000
2 10,000,000 20,000,000
3 10,000,000 30,000,000
dst
20 10,000,000 200,000,000

Laporan keuangan dalam juta


Tahun 1 Tahun 2 Tahun 3 Tahun 4
Beban Imbalan Kerja (10) (10) (10) (10)

Kewajiban imbahan kerja 10 20 30 40

207
Projected Unit Credit
• Pengakuan dan Pengukuran diperlukan :
– Nilai Kewajiban Imbalan Pasti
– Biaya Jasa Kini
• Metode yang digunakan : Projected Unit Credit
– Metode ini sering disebut sebagai metode imbalan yang diakru yang
diperhitungkan secara prorata sesuai periode jasa
– Sebagai metode imbalan dibagi tahun jasa
– Menganggap setiap periode jasa akan menghasilkan satu unit
tambahan imbalan dan mengukur setiap unit secara terpisah untuk
menghasilkan kewajiban final.
• Metode ini akan mengalokasikan imbalan ke:
– Periode berjalan untuk menentukan Biaya Jasa Kini
– Periode berjalan dan periode-periode lalu untuk menentukan Nilai Kini
Kewajiban.

208
Metode dan Asumsi Aktuaria
• Untuk melakukan perhitungan aktuaria digunakan asumsi-asumsi aktuarial.
• Asumsi Aktuarial tidak boleh bias dan cocok satu dengan yang lain (mutually
compatible).
• Asumsi Aktuarial terdiri dari:
– Asumsi Demografis mengenai karakteristik masa depan dari pekerja dan
mantan pekerja (dan tanggungan mereka) yang berhak atas imbalan
• Mortalitas selama dan sesudah masa kerja
• Tingkat perputasan pekerja, cacat dan pensiun dini
• Proporsi dari peserta program dengan tanggungannya
• Tingat klait program kesehatan
– Asumsi keuangan, berhubungan dengan:
• Tingkat diskonto
• Tiingkat gaji dan imbalan masa datang
• Jaminan kesehatan, biaya kesehatan di masa datang dan biaya administrasi
• Tingkat hasil yang diharapkan atas aktiva program

209
Perhitungan Aktuaria

Kewajiban Kini (Present Value of Obligation (PBO) :

• Nilai sekarang Manfaat Imbalan kerja yang akan dibayarkan


pada yang akan datang (PVFB) untuk masa kerja yagn telah
dilalui:
• PBO = PVFB x masa kerja lalu / total masa kerja

Biaya saat kini (Current Service Cost / CSC):

• Kenaikan nilai kewajiban kini atas jawa pekerja dalam periode


berjalan
• CSC = PVFB / Total Masa Kerja

210
Perhitungan Aktuaria
Future Benefit

X=20 tahun X=30 tahun


Usia X=55 tahun
Usia Usia
masuk pensiun Valuasi
Pensiun

• Manfaat : 2x masa kerja x gaji pada saat pensiun


• Usia masuk : 20 tahun
• Usia pensiun : 55 tahun
• Usia valuasi : 30 tahun
• Gaji Valuasi : 2.000.000
• Asumsi : tingkat diskonto 10%, tingkat kenaikan gaji 6%
• Asumsi aktuaria: tingkat mortalita, pengunduran diri dan catatan diabaikan
untuk mepermudah pemahaman.

211
Perhitungan Aktuaria
• Manfaat : 2x masa kerja x gaji pada saat pensiun
• Usia masuk : 20 tahun
• Usia pensiun : 55 tahun
• Usia valuasi : 30 tahun
• Gaji Valuasi : 2.000.000
• Asumsi : tingkat diskonto 10%, tingkat kenaikan gaji 6%
• Asumsi aktuaria: tingkat mortalita, pengunduran diri dan catata diabaikan
untuk mepermudah pemahaman.

• Future Benefit : 2 x 35 x 2.000.000 x (1+6%) ^ 25 = 600.861.900


• PVFB : 600.861.900 / (1 + 10% )^25 = 55.457.148
• PBO : 55.457.148 x 10 / 35 = 15.844.899
• CSC : 55.457.148 x 1 / 35 = 1.584.489

212
Perhitungan Aktuaria
• Manfaat : 2x masa kerja x gaji pada saat pensiun
• Usia masuk : 20 tahun
• Usia pensiun : 60 tahun
• Usia valuasi : 35 tahun
• Gaji Valuasi : 5.000.000
• Asumsi : tingkat diskonto 10%, tingkat kenaikan gaji 5%
• Asumsi aktuaria: tingkat mortalita, pengunduran diri dan catata diabaikan
untuk mepermudah pemahaman.

Gaji 5,000,000 5% 10%


Manfaat 60 35 20 2
FV 1,354,541,976.36
PVFB 125,018,803.78
PBO 46,882,051.42
CSC 3,125,470.09

213
Perhitungan Aktuaria
• Manfaat : 2,5 x masa kerja x gaji pada saat pensiun
• Usia masuk : 31 tahun
• Usia pensiun : 56 tahun
• Usia valuasi : 35 tahun
• Gaji Valuasi : 2.698.500
• Asumsi : tingkat diskonto 12%, tingkat kenaikan gaji 10%
• Probabilita : 0,81476

Gaji 2,698,500 10% 12%


Manfaat 56 35 31 3
Probabilita 0.81476
Gaji saat pensiun 19,969,574.47
FV 1,248,098,404.66 1,248,098,404.66 TAMB
PVFB 115,523,503.67 49,923,936.19 SUM
PBO 18,483,760.59 0.092560 Pv
CSC 3,764,957.19 3,764,957 CSC
Liability awal 11,294,871.58
Liability akhir 15,059,829

214
Imbalan Kerja sesuai UU 13 / 2003

• UPH = Uang Penghargaan Masa Kerja


• Besaran UPH = 15% x (Uang Pesangon + Penghargaan Masa kerja)
• Untuk karyawan yang berhenti kerja karena mencapai usia pensiun
normal dengan masa kerja minimal 24 tahun maka besaran imbalan
yang menjadi haknya adalah:
• P : 9 upah
• PMK : 10 upah
• UPH : 15 % x (2P + 1 PMK
• Besaran manfaat pensiun = 2P + PMK + UPH = 2 x 9 + 10 + 4,2 = 32,2

215
Imbalan Kerja sesuai UU 13 / 2003

• Jika Manfaat Pensiun yang diberikan perusahaan > manfaat pensiun


yang dihitung menurut UU 13 maka kewajiban pemberi kerja hanya
sebesar iurang pemberi kerja
(2 x 35) x 80% > 32.2 G
56 G > 32.2 G

• Jika manfaat pensiun yang diberikan oleh pemberi kerja < manfaat
pensiun yang dihitung menurut UU 13 maka selisihnya merupakan
kewajiban pemberi kerja
(1, x 20) x 80% > 32.2 G
24 G > 32.2 G
Kewajiban = 32.2 G – 24 G

216
Imbalan Kerja sesuai UU 13 / 2003
Tabel uang pesangon, jasa, uang penggantianhak (usia pensiun, PHK dan meninggal
dunia) = 2 PS + 1 PMK + UPH

217
Imbalan Kerja sesuai UU 13 / 2003
Tabel uang pesangon, jasa, uang penggantianhak (sakit berkepanjanga, cacat
total/tetap) = 2 PS + 2 PMK + UPH

218
BAB 24
Pajak
Penghasilan Pajak Penghasilan

• Pajak penghasila termasuk seluruh pajak domestic dan luar


nigari sebagai dasar perhitungan penghasilan kena pajak.
• Entitas mengakui kewajiban pajak periode berjalan dan
periode sebelumnya yang belum dibayar.
– Pajak terutang tahun fiskal menurut SPT
– Pajak final
• Jika terdapat kelebihan bayar maka diakui sebagai aset.
• Entitas mengungkapkan secara terpisah komponen-
komponen utama beban pajak penghasilan.
• Pajak tangguhan tidak diatur.

219
Pajak kini
• Perusahaan memperoleh PKP sebesar 4 milyar. Termasuk dalam penghasilan tersebut penghasilan
dari LN sebesar 500 juta yang telah dikenakan pajak sebesar 40%. Jumlah pajak yang telah
dipotong oleh pihak lain adalah:
– PPh 21 atas gaji dan honor sebesar 500juta dan PPh 26 sebesar 100 juta atas gaji expat yang bekerja di
perusahaan.
– PPh final sebesar 60 juta,
– PPh 23 tidak final sebesar 120 juta
– PPh 24 sebesar 200 juta
– PPh 25 sebesar 500 juta
– PPh 22 sebesar 100 juta
– Pajak kini anak perusahaan 300 juta
Perusahaan mencatat pembayaran pajak dibayar dimuka
baik final maupun tidak final sebagai pajak dibayar dimuka. PKP 4 milyar pajaknya = 1000 juta
Kredit PPh 22 100 jt
Beban pajak 1.000 jt Kredit PPh 23 120 jt
Pajak dibayar dimuka PPh 22 100 Kredit PPh 24 125 jt
Pajak dibayar dimuka PPh 23 120 Pph 25 500 jt
Pajak dibayar dimuka PPh 24 125 PPh 29 sebesar 155 jt
Pajak dibayar dimuka PPh 25 500
Utang PPh 29 155 Beban pajak kini parent :
Beban pajak 135 jt 1.135 = (1.000 + 60 + 75)
Pajak dibayar dimuka PPh final 60 Beban Pajak kini konsolidasian =
Pajak dibayar dimuka PPh 24 75 1135 + 300 = 1.435 juta

220
Pajak kini
• Entitas pada tahun 2015 membayar PPh 25 sebesar 2.000juta sebagai beban
pajak penghasilan. Entitas mengakui PPh 22 dan PPh 23 sebagai pajak dibayar
dimuka masing-masing sebesar 100 dan 200 juta. Menurut perhitungan fiskal
pajak terutang satu tahun fiskal sebesar 2.500juta. Selama tahun 2015 pajak
final yang telah dibayar entitas sebesar 300juta, entitas mencatatnya sebagai
beban pajak final.
• Buat jurnal penyesuaian dan nilai beban pajak dalam laporan keuangan.

Beban pajak 500 jt


Pajak dibayar dimuka PPh 22 100
Pajak dibayar dimuka PPh 23 200
Utang PPh 29 200
Laporan kerunagan:
Beban pajak:
Pajak penghasilan 2.500
Pajak penghasilan final 500
Total beban pajak 3.000

221
BAB 25
Mata Uang
Pelaporan Mata Uang Pencatatan dan Pelaporan

• Menggunakan mata uang rupiah.


• Entitas dapat menggunakan mata uang lain sepanjang
memenuhi sebagai mata uang fungsional.
• Mata uang pencatatan harus sama dengan mata uang
pelaporan.
• Mata uang fungsional: indikator arus kas, indikator harga jual,
indikator biaya.
• Penentuan saldo awal untuk pencatatan akuntansi dilakukan
dengan mengukur seolah-olah mata uang fungsional telah
digunakan sejak terjadinya transaksi.

222
BAB 26
Transaksi
Mata Uang
Asing
Transaksi dalam Mata Uang Asing

• Transaksi dalam mata uang asing dicatat pada pengakuan awal


dengan menggunakan kurs tunai pada tanggal transaksi.
• Pada akhir periode pelaporan, entitas harus melaporkan:
– pos moneter dengan kurs tanggal neraca
– pos moneter yang diukur dengan biaya perolehan historis
dengan kurs pada tanggal transaksi
– pos non moneter yang diukur pada nilai wajar dengan kurs
pada tanggal nilai wajar.
• Keuntungan atau kerugian diakui pada beban tahun berjalan dan
keuntungan atau kerugian yang terkait langsung dengan transaksi
ekuitas dibebankan ke ekuitas.

223
BAB 27
Tgl Setelah
Pelaporan Peristiwa setelah Akhir Periode Pelaporan

• Dua jenis peristiwa setelah tanggal neraca


– Peristiwa setelah tanggal laporan yang memerlukan penyesuaian
– Peristiwa yang tidak memerlukan penyesuaian.
• Peristiwa yang memerlukan penyesuaian adala peristiwa ya
yang menkonfirmasi keadaan atau nilai yang telah ada pada
tanggal akhir pelaporan:
– Pelanggan pailit  penurunan nilai piutang
– Tuntutan hukum yang telah ada di tanggal pelaporan dan setelah
tanggal pelaporan dipastikan nilai kerugiannya.
• Dividen yang diumumkan setelah tanggal laporan tidak boleh
diakui sebagai kewajiban pada akhir perode laporan.

224
BAB 27
Tgl Setelah
Pelaporan Peristiwa setelah Akhir Periode Pelaporan

Identifikasi beberapa peristiwa berikut apakah perlu


penyesuaian atau tidak
• Gudang perusahaan pada 25 Januari 2016 terbakar yang
menghabiskan hampir semua persediaan perusahaan.
Diperkirakan kerugian perusahaan sebesar 300milyar.
• Pengadilan memutuskan perusahaan bersalah dan harus
membayar ganti rugi sebesar 100milyar atas kerugian yang
telah dilakukan oleh perusahaan. Kasus tuntutan tersebut
telah diproses oleh perusahaan sejak 1 Oktober tahun
sebelumnya.
• Pada

225
BAB 28
Hubungan
Istimewa
Pihak Hubungan Istimewa

• Pengungkapan hubungan termasuk hubungan entitas induk


dengan anak.
• Pengungkapan kompensasi personel manajemen kunci
• Pengungkapan transaksi pihak yang mempunyai hubungan
istimewa.
• Entitas tidak boleh menyatakan bahwa transaksi tersebut
dilakukan setara dengan pihak yang faham dan berkeingingan
untuk melakukan transaksi kecuali syarat tersebut dapat
dibenarkan.

226
BAB 28
Hubungan
Istimewa
Aplikasi

• Pengungkapan hubungan istimewa :


– Penyebutan pihak yang memiliki hubungan istimewa, nama
manajemen kunci.
– Anak perusahaan atau pihak asosiasi atau entitas lain yang memiliki
hubungan istiwewa
• Pengungkapan nilai akun yang berasal dari hubungan
istimewa misalnya kas, piutang dijelaskan yang berada atau
berasal dari pihak yang memiliki hubungan istimewa.
• Pengungkapan transaksi dengan pihak yang memiliki
hubungan istimewa dan informasi apakah transaksi tersebut
diberikan perlakuan khusus.

227
BAB 28
Hubungan
Istimewa
Aspek Pajak

• Mengidentifikasi pihak yang kemungkinan memiliki hubungan


istimewa dalam pajak.
• Perlu dilakukan pendalaman apakah transaksi telah dilakukan
dengan menggunakan nilai wajar menurut ketentuan pajak.

228
BAB
29&30
Transisi
Tgl Efektif
Ketentuan Transisi dan Tanggal Efektif

• SAK ETAP diterbitkan tahun 2009 berlaku efektif 1 Januari 2011


dan dapat diterapkan lebih awal yaitu 1 Januari 2010.
• Diterapkan secara retrospektif, jika tidak praktis diperkenankan
prospektif.
• Prospektif:
– Mengakui semua aset dan kewajiban sesuai SAK ETAP
– Tidak mengakui aset dan kewajiban jika tidak diijinkan oleh SAK
ETAP
– Mereklasifikasi pos-pos yang berdasarkan kerangka pelaporan
sebelumnya menjadi pos-pos sesuai SAK ETAP
– Menerapkan pengukuran aset dan kewajiban yang diakui sesuai
SAK ETAP.

229
Ketentuan Transisi dan Tanggal Efektif

• ETAP dapat memilih tetap menggunakan SAK atau menggunakan


SAK ETAP.
• ETAP yang tetap memilih menggunakan SAK tidak boleh di
kemudian hari berubah menggunakan SAK ETAP.
• Entitas dengan akuntabilitas publik yang kemudian telah memenuhi
persyaratan sebagai ETAP dapat menggunakan SAK ETAP dengan
mengikuti ketentuan transisi secara retrospektif kecuali tidak praktis
dapat secara prospektif.
• ETAP yang kemudian berubah menjadi bukan ETAP maka harus
menggunakan SAK dan tidak boleh lagi menggunakan SAK ETAP

230
Ketentuan Transisi dan Tanggal Efektif

231
PERBEDAAN PSAK & SAK ETAP

232
Perbedaan Pokok PSAK dan SAK ETAP

• SAK ETAP tidak mengatur pajak tangguhan


• SAK ETAP hanya menggunakan metode tidak langsung untuk laporan arus
kas.
• SAK ETAP menggunakan metode biaya untuk investasi ke asosiasi dan
menggunakan metode ekuitas untuk anak perusahaan.
• SAK ETAP tidak secara penuh menggunakan PSAK 50/55.
• SAK ETAP hanya menggunakan model biaya untuk aset tetap, aset tidak
berwujud dan properti investasi. PSAK-IFRS boleh memilih model biaya
atau model reavaluasi.
• Beberapa pengaturan yang tidak dalam PSAK ETAP : penggabungan usaha,
derivatif, hedging

PPL - IAPI 233


Rerangka konseptual

KDPPLK SAK ETAP


Tujuan laporan keuangan Sama

Karakteristik kualitatif laporan keuangan Sama

Unsur-unsur laporan keuangan Sama – nama berbeda

Konsep pengakuan Sama


Konsep pengukuran: Konsep pengukuran:
 biaya historis  biaya historis
 biaya kini  nilai wajar
 nilai realisasi bersih
 nilai sekarang
Konsep pemeliharaan modal Tidak ada

234
Penyajian Laporan Keuangan

SAK UMUM SAK ETAP


Kepatuhan terhadap SAK Kepatuhan terhadap SAK ETAP
Pengungkapan atas PSAK “misleading”

Komponen laporan keuangan: Komponen laporan keuangan:


 Lap posisi keuangan/neraca  Neraca
 Lap laba rugi komprehensif  Lap laba rugi
 Lap perubahan ekuitas  Lap perubahan ekuitas
 Lap arus kas  Lap arus kas
 Catatan atas laporan keuangan  Catatan atas laporan keuangan

Tanggung jawab atas lapkeu Tidak ada

Dasar akrual & kelangsungan usaha Sama

PPL - IAPI 235


Penyajian Laporan Keuangan (2)

SAK UMUM SAK ETAP

Neraca Neraca
• Pos minimal yang disajikan banyak • Pos minimal yang disajikan lebih sedikit
• Urutan penyajian • Sama
• Pengungkapan banyak • Pengungkapan lebih sederhana

Laporan laba rugi komprehensif Laporan laba rugi


• Laba rugi dan pendapatan komprehensif • Laba rugi
lain
• Pos minimal • Pos minimal lebih sedikit

PPL - IAPI 236


Penyajian Laporan Keuangan (3)
SAK UMUM SAK ETAP
Laporan perubahan ekuitas Laporan perubahan ekuitas
 Pos minimal  Pos minimal lebih sedikit
 Pengungkapan distribusi dividen dan  Tidak ada
dividen per saham
 Tidak diperkenankan  Laporan perubahan ekuitas dan saldo
laba dapat menggantikan lap laba rugi
dan lap perubahan ekuitas
Laporan arus kas Laporan arus kas
 Arus kas operasi disajikan dengan metode  Arus kas operasi disajikan dengan
langsung atau tidak langsung metode tidak langsung
 Arus kas valas, bunga & dividen, pajak  Arus kas bunga & dividen, pajak
penghasilan, investasi pada entitas anak, penghasilan, dan transaksi nonkas
ventura bersama & entitas asosiasi,
perubahan kepemilikan, dan transaksi
nonkas
 Kas yang dibatasi  Tidak ada

237
Penyajian Laporan Keuangan (4)

SAK UMUM SAK ETAP


Catatan atas laporan keuangan Catatan atas laporan keuangan
 Kebijakan akuntansi  Kebijakan akuntansi
 Sumber estimasi ketidakpastian  Sumber estimasi ketidakpastian
 Modal
 Dividen dan informasi umum
entitas

PPL - IAPI 238


Laporan Keuangan Konsolidasian

SAK UMUM SAK ETAP


Laporan keuangan konsolidasian Tidak menyusun laporan keuangan
konsolidasian

Laporan keuangan tersendiri (lampiran


dari laporan keuangan konsolidasian)

Konsolidasi entitas bertujuan khusus

PPL - IAPI 239


Kebijakan Akuntansi, Estimasi Akuntansi dan Kesalahan

SAK UMUM SAK ETAP


Kebijakan akuntansi Kebijakan akuntansi
 Pemilihan kebijakan akuntansi  Pemilihan kebijakan akuntansi
 PSAK serupa  Bagian SAK serupa
 Conceptual framework  Conceptual framework
 Other pronouncements, literatur  SAK umum
dan praktik  Other pronouncements, literatur
 Dampak penerapan PSAK yang dan praktik
akan berlaku  Tidak ada

Estimasi akuntansi Sama

Kesalahan Sama

240
Instrumen Keuangan

SAK UMUM SAK ETAP

Instrumen keuangan Efek yang diperdagangkan (marketable


securities)
 Diukur pada nilai wajar melalui  Diperdagangkan
laporan laba rugi  Tersedia untuk dijual
 Tersedia untuk dijual  Dimiliki hingga jatuh tempo
 Dimiliki hingga jatuh tempo
 Pinjaman yang diberikan dan
piutang

Maksud dan kemampuan Maksud

PPL - IAPI 241


Persediaan

SAK UMUM SAK ETAP

Biaya perolehan atau nilai realisasi Sama


neto (mana lebih rendah)

FIFO dan rata-rata tertimbang Sama

Persediaan pialang-pedagang komoditi Tidak ada


menggunakan fair value

Persediaan pemberi jasa Sama

PPL - IAPI 242


Investasi pada Entitas Asosiasi

SAK UMUM SAK ETAP


Pengaruh signifikan Pengaruh signifikan
•Faktor kuantitatif dan kualitatif •Faktor kuantitatif
•Hak suara potensial •Tidak ada

Metode ekuitas Metode biaya

Investasi pada entitas asosiasi yang Tidak ada


tersedia untuk dijual

243
Investasi pada Joint Venture

SAK UMUM SAK ETAP


Pengendalian bersama operasi Pengendalian bersama operasi

Pengendalian bersama aset Pengendalian bersama aset

Pengendalian bersama entitas Pengendalian bersama entitas


• Metode ekuitas atau proporsional • Metode biaya
konsolidasi

244
Investasi pada Entitas Anak

SAK UMUM SAK ETAP


Pengendalian, termasuk entitas Pengendalian, tidak mengatur entitas
bertujuan khusus bertujuan khusus

Metode ekuitas dan harus Metode ekuitas dan tidak


dikonsolidasikan dikonsolidasikan

Transaksi pelepasan kepemilikan tetapi Tidak ada


tidak menyebabkan hilangnya
pengendalian (transaksi ekuitas)

PPL - IAPI 245


Properti Investasi dan Aset Tetap

SAK UMUM SAK ETAP

Properti investasi Properti investasi


• Model biaya • Model biaya
• Model nilai wajar

Aset tetap Aset tetap


• Model biaya • Model biaya (revaluasi harus ada izin
• Model revaluasi pemerintah)

246
Aset Tidak Berwujud

SAK UMUM SAK ETAP

Berasal dari internal dan eksternal Berasal dari eksternal

Umur manfaat terbatas dan tidak Umur manfaat terbatas


terbatas

Goodwill Tidak ada

Model biaya dan model revaluasi Model biaya

PPL - IAPI 247


Sewa
SAK UMUM SAK ETAP
Perjanjian sewa dan perjanjian mengandung sewa Perjanjian sewa

Klasifikasi sewa: indikator dan situasi yang Klasifikasi sewa: indikator yang tidak
memerlukan judgment. perlu judgment:
Sewa modal jika terjadi perpindahan risiko dan  pengalihan aset
manfaat.  opsi beli
 min 75% umur ekonomis
 min 90% nilai wajar
 aset bersifat khusus)
Jual dan sewa-balik (sale and leaseback) Tidak ada
Sewa dan sewa lanjut (lease and sublease) Tidak ada

PPL - IAPI 248


Kewajiban Diestimasi (Provisi) dan Kontinjensi, Ekuitas, dan
Pendapatan

SAK UMUM SAK ETAP


Kewajiban diestimasi (provisi), aset Sama
kontinjensi, dan kewajiban kontinjensi

Ekuitas Sama

Pendapatan penjualan barang dan jasa Sama

Penggunaan istilah yang berbeda, dalam SAK ETAP masih menggunakan


Kewajiban diestimasi bukan provisi seperti dalam PSAK 57.

249
Biaya Pinjaman dan Penurunan Nilai

SAK UMUM SAK ETAP


Biaya pinjaman dikapitalisasi Biaya pinjaman dibebankan
Penurunan nilai Penurunan nilai
 Instrumen keuangan: incurred loss  Pinjaman yang diberikan dan
piutang: expected loss (aging
schedule)

 Goodwill dan aset tidak berwujud  Diamortisasi


dengan umur manfaat tidak terbatas
 Persediaan  Selisih nilai buku dan nilai realisasi
bersih
 Aset lain  Selisih nilai buku dan nilai jual
dikurangi dengan biaya menjual

PPL - IAPI 250


Imbalan Kerja

SAK UMUM SAK ETAP


Imbalan kerja jangka pendek Imbalan kerja jangka pendek
Imbalan pasca kerja Imbalan pasca kerja, perhitungan lebih
sederhana

Imbalan kerja jangka panjang lainnya Imbalan kerja jangka panjang lainnya
Pesangon pemutusan kerja Pesangong pemutusan kerja
Imbalan berbasis saham Tidak ada

PPL - IAPI 251


Pajak Penghasilan

SAK UMUM SAK ETAP


Konsep pajak tangguhan (deferred tax Konsep pajak terutang (tax liability
concept) concept)

Laba fiskal dan laba akuntansi Laba fiskal


Aset dan liabilitas pajak tangguhan Utang pajak

PPL - IAPI 252


Mata Uang Pelaporan dan Transaksi Valas

SAK UMUM SAK ETAP


Mata uang pelaporan: rupiah atau Mata uang pelaporan: rupiah atau
mata uang asing mata uang asing

Transaksi valas: kurs tanggal transaksi Transaksi valas: kurs rata-rata bulanan
(mingguan)

PPL - IAPI 253


Profesi untuk
Mengabdi pada
TERIMA KASIH Negeri
Dwi Martani
081318227080
martani@ui.ac.id atau dwimartani@yahoo.com
http://staff.blog.ui.ac.id/martani/