Anda di halaman 1dari 37

Sindroma Kompartemen

Hendy Buana Vijaya


Definisi

Tekanan jaringan yang tinggi di dalam ruangan osteo facial yang tertutup.

Perfusi jaringan

Kematian jaringan = necrosis


Klasifikasi:
Akut : fraktur, trauma jaringan lunak, kerusakan arteri, luka bakar.
Kronis: melakunan aktivitas berulang seperti pelari marathon, sepak bola dan militer.
Anatomi

• Kompartemen adalah daerah tertutup yang dibatasi oleh tulang, interosseus


membran, dan fascia, yang melibatkan jaringan otot, syaraf dan pembuluh
darah.
• Berdasarkan letaknya:
• Anggota gerak atas:
• Lengan atas: kompartemen volar, kompartemen dorsal.
• Lengan bawah: kompartemen volar, kompartemen dorsal, dan kompartemen mobile
wad of henry.
Anatomi
Anatomi

Tangan:
• Dorsal interosseus (4
kompartemen).
• Palmar interosseus (3
kompartemen).
• Kompartemen abductor
pollicis.
• Kompartemen thenar.
• Kompartemen hypothenar.
Anatomi

• Anggota gerak bawah:


• Tungkai atas: kompartemen anterior, kompartemen medial, dan kompartemen posterior
• Tungkai bawah:
• Kompartemen anterior, berisi otot tibialis anterior dan ekstensor ibu jari kaki, nervus peroneal profunda.
• Kompartemen lateral, berisi otot peroneus longus dan brevis, nervus peroneal superfisial.
• Kompartemen posterior superfisial, berisi otot gastrocnemius dan soleus, nervus sural.
• Kompartemen posterior profunda, berisi otot tibialis posterior dan flexor ibu jari kaki, nervus tibia.
Etiologi Sindroma kompartemen

Volume kompartemen : Tekanan eksternal :


• Penutupan defek fasia • Balutan yang terlalu ketat
Tekanan internal pada
• Traksi internal yang • Berbaring di atas lengan struktur kompartemen :
belebihan pada fraktur
ekstremitas • Gips • Pendarahan atau Trauma
vaskuler
• Peningkatan
permeabilitas kapiler
• Penggunaan otot yang
berlebihan
• Luka bakar
• Operasi
• Gigitan ular
• Obstruksi vena
Compartment
preassure
Patofisiologi
Venous outflow obstruction
Increase capillary
permeability
Increase
intracompartment
preassure
Deacrease arteriak perusion

Ischemic
Patofisiologi

• Kompensasi tubuh terhadap keadaan ini:


• Mekanisme autoregulasi ( cascade of injury)
• Penurunan resistensi pembuluh darah kapiler.
• Peningkatan ekstraksi oksigen.
• Keadaan ini masih berkelanjutan  tubuh kewalahan:
Keadaan kritis berupa tekanan yang tinggi
Perfusi jaringan ≠,  kematian jaringan
Patofisiologi
Terdapat tiga teori yang menyebabkan hipoksia pada kompartemen sindrom:
• Spasme arteri akibat peningkatan tekanan kompartemen
• Theori of critical closing pressure
Bila tekanan jaringan meningkat atau tekanan arteriol menurun maka tidak
ada lagi perbedaan tekanan  arteriol menutup
• Tipisnya dinding vena
Gejala Klinis

• Pain
• Pallor
• Pulselesness
• Paresthesia
• Paralysis
Diagnosis
• Anamnesa:
• Kecurigaan terhadap sindrom kompartemen
• Riwayat nyeri yang berlebihan, kesemutan dan kelemahan otot

• Pemeriksaan fisik  5P
• Peningkatan tekanan intrakompartemen dengan menggunakan alat pengukur
tekanan kompartemen.
• Pulse exymetry
Diagnosis

• Patut di ingat!!!
• Nadi ”masih teraba” pada sindroma kompartemen akut.

• Perubahan sensory dan paralysis masih belum tampak hingga


terjadi iskemia pada jaringan saraf yang terkena, ± 1 jam.
Diagnosis
• Gejala yang paling penting pada
impending compartment syndrome adalah
Nyeri yang tak sebanding dengan
cedera yang tampak.
Diagnosis Banding
• Diagnosis banding dari sindroma kompartemen antara lain:
• Selulitis.
• Deep Venous Trombosis dan Thrombophlebitis.
• Gas Ganggrene.
• Necrotizing Fasciitis.
• Peripheral Vascular Injuries.
• Rhabdomyolis
Pemeriksaan penunjang

• Laboratorium
Hasilnya ≠ mendiagnosis sindrom kompartemen, tapi berguna untuk menyingkirkan DD:
• Kreatinin fosfokinase dan urin myoglobin
• Serum myoglobin
• Toksikologi urin: dapat membantu menentukan penyebab, tetapi tidak membantu dalam
menentukan terapi pasiennya.
• Urin awal: bila ditemukan myoglobin pada urin, hal ini dapat mengarah ke diagnosis
rhabdomyolisis.
• Protrombin time (PT) dan activated partial thromboplastin ( aPTTT).
Pemeriksaan penunjang

• Imaging
• Rontgen: pada ektremitas yang terkena.
• USG, membantu untuk mengevaluasi aliran arteri dalam memvisualisasi Deep Vein
Thromosis (DVT).(9)
Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan intrakompartemen
Komplikasi

• Nekrosis pada syaraf dan otot dalam kompartemen


• Kontraktur volkman
• Trauma vascular
• Gagal ginjal akut
• Sepsis
• Acute respiratory distress syndrome (ARDS).
Penatalaksanaan
• Non operatif:
• Menempatkan kompartemen yang terkena setinggi jantung.
• Pembukaan gips
• Pemberian anti racun pada kasus gigitan ular
• Mengoreksi hipoperfusi  cairan kristaloid dan produk darah
• Pemberian obat diuretik dan manitol
• HBO (hyperbaric oxygen)
Penatalaksanaan
• Operatif:
Fasciotomy
• Gejala klinis jelas
• Peningkatan tekanan
intakompartemen
• Cedera yang beresiko mengalami
kompartemen sindrom
Kontraindikasi :
• Kompartemen sindrom yang
sudah terjadi lebih dari 24 jam
Prognosa

”Baik” jika diagnosa tepat dan penganan cepat.


”Namun”, tergantung dari parah tidaknya cedera.
Pencegahan
• Lakukan pemeriksaan dengan yang ahli dan dipantau perkembangannya.
• Hubungi atau kembali ke rumah sakit bila nyeri terasa berat, kaku, sesasi terbakar, atau
kelemahan pada ekstremitas yang terkena.
• Rujuk bila sindroma kompartemen disertai dengan:
• Ketidakmampuan atau tidak akurat dalam mendiagnosis sindroma kompartemen karena keterbatasa alat atau
diagnostik imaging.
• Penanganan dengan bedah yang tidak memadai.
• Tidak tersedianya fasilitas ICU
Kesimpulan
• Sindrom kompartemen adalah sebuah kondisi emergensi yang mengancam anggota tubuh dan
jiwa yang paling sering terjadi pada daerah tungkai bawah.
• Penyebab sindroma kompartemen yang paling sering adalah cedera, dimana 45% kasus terjadi
akibat fraktur, dan 80% darinya terjadi di anggota gerak bawah.
• Gejala klinis yang terjadi pada sindrom kompartemen dikenal dengan 5-P yaitu: Pain (nyeri) ,
Pallor (pucat), Pulselesness (berkurang atau hilangnya denyut nadi), Parestesia (rasa kesemutan),
Paralysis.
• Tujuan dari penanganan sindrom kompartemen adalah mengurangi defisit fungsi neurologis
dengan lebih dulu mengembalikan aliran darah lokal, melalui bedah dekompresi dan dilakukan
jika tekanan intra-kompartemen mencapai >30 mmHg.
Kesimpulan
• Prognosis ditentukan oleh trauma penyebab. Diagnosis dan pengobatan yang tepat,
umumnya menberikan hasil yang baik dan diagnosis yang terlambat dapat menyababkan
kerusakan saraf yang permanen serta malfungsi dari otot yang terlibat.
• Hal yang paling penting bagi seorang dokter adalah untuk selalu waspada ketika berhadapan
dengan keluhan nyeri pada ekstremitas. Konsekuensi dari terlewatnya pemeriksaan dapat
meningkatkan tekanan intra-kompartemen.
Terima kasih
• Susunan otot manusia terdiri dari kelompokkelompok otot yang dipisahkan
oleh sebuah lapisan tebal yang disebut fascia.
• Tungkai bawah terbagi menjadi 4 kompartemen yang dibentuk oleh otot dan
fascia. Fascia merupakan lapisan jaringan fibrosa yang membungkus otot.
Fascia ini membagi otot pada tungkai bawah menjadi 4 kelompok, yaitu
kumpulan otot bagian depan (kompartemen anterior), kumpulan otot bagian
samping (kompartemen lateral), dan kumpulan otot bagian belakang
(kompartemen posterior) yang terbagi menjadi bagian dalam (deep posterior
compartment) dan bagian luar (superficial posterior compartment
Etiologi
Peningkatan volume intra-kompartemen dengan luas ruang kompartemen tetap; dapat disebabkan oleh
• Fraktur yang menyebabkan robekan pembuluh darah, sehingga darah mengisi ruang intra-kompartemen
• Trauma langsung jaringan otot yang menyebabkan pembengkakan
• Luka bakar yang menyebabkan perpindahan cairan ke ruang intrakompartemen
Penurunan luas ruang kompartemen dengan volume intra-kompartemen yang tetap
• Kompresi tungkai terlalu ketat saat imobilisasi fraktur
• Luka bakar yang menyebabkan kekakuan/ konstriksi jaringan, ikat sehingga mengurangi ruang kompartemen
Penatalaksanaan
• Prinsip utama penanganan sindrom kompartemen tungkai bawah adalah dekompresi. Dekompresi dengan tujuan
menurunkan tekanan dalam kompartemen dapat dilakukan dengan cara:
• Lepaskan semua plaster yang mengikat tungkai bawah
• Letakkan tungkai pada posisi sejajar dengan jantung, karena posisi lebih tinggi dari jantung dapat menurunkan aliran darah
arterial ke otot dan akan memperburuk keadaan iskemia.
• Lakukan imobilisasi fraktur dengan posisi paling relaks; dengan menyangga kaki dalam posisi sedikit fleksi plantaris (kaki
condong ke arah bawah)
• Lakukan tindakan fasiotomi (pemotongan fascia) apabila ada indikasi. Banyak peneliti menyatakan indikasi dekompresi
dengan fasiotomi adalah apabila tekanan kompartemen naik menjadi 30 mmHg