Anda di halaman 1dari 86

SEMINAR

PEMERIKSAAN SISTEM SARAF OTONOM

Oleh:
dr. Prysta Aderlia Sitanggang

Pembimbing:
dr. I. A. Sri Wijayanti, M. Biomed, Sp.S
PEMERIKSAAN SISTEM SARAF OTONOM
• REVIEW ANATOMI SISTEM SARAF
• PEMBAGIAN SISTEM SARAF OTONOM
• PEMERIKSAAN SISTEM SARAF OTONOM
REVIEW ANATOMI SISTEM SARAF

SISTEM SARAF

SISTEM SARAF SISTEM SARAF


PUSAT PERIFER

12 PASANG 31 PASANG
MEDULA
OTAK NERVUS NERVUS
SPINALIS
KRANIALIS SPINALIS
SISTEM SARAF OTONOM DI PERIFER
SISTEM SARAF
TEPI

SENSORIK MOTORIK

SOMATIK OTONOM

SIMPATETIK PARASIMPATETIK
SISTEM SARAF OTONOM DARI PUSAT
PERBEDAAN SISTEM SARAF SOMATIK DAN
OTONOMIK
KARAKTERISTIK SISTEM SARAF OTONOM

1 2 3

• Mempersarafi • Bersifat • Memiliki 2


opot polos, involunter untai neuron
otot jantung, • Neuron
dan kelenjar preganglionik
organ internal. • Neuron post
ganglionik
lokal
Homeostasis adalah keseimbangan dinamis antara
tiap cabang otonom.

anabolik
REAKSI MASSAL

sekretorik

reproduktif
DIAGRAM
SKEMATIK
SISTEM SARAF
SIMPATIS DAN
PARASIMPATIS
SISTEM SARAF
PARASIMPATIS

Campbell, William W. 2013


SISTEM SARAF SIMPATIS

Campbell, William W. 2013


SISTEM SARAF OTONOM DAN FUNGSINYA

Autonomic Nervus System,2008,http://image.google.co.id.image


Efek simpatis dan parasimpatis pada organ tubuh
Efek simpatis dan parasimpatis pada organ tubuh
PEMERIKSAAN
SISTEM SARAF OTONOM

Pemeriksaan
Pemeriksaan Pemeriksaan Pemeriksaan
Anamnesis Khusus
Fisik Umum Neurologis Penunjang
Neurologis

Campbell, William W. 2013


ANAMNESIS

GEJALA YANG TERKAIT HIPOTENSI ORTOSTATIK


• Apakah anda sering pusing atau kepala terasa ringan yang diperberat
saat berdiri?
• Apakah anda pernah merasa akan pingsan atau pingsan sebelumnya?
• Apakah gejala tersebut disertai dengan jantung berdebar-debar, gemetar,
lemas sekujur tubuh, bingung, dan bicara kurang jelas (slurred speech)?
• Apakah gejala tersebut muncul terjadi setelah makan, mandi air hangat,
atau berolahraga?
GANGGUAN BERKERINGAT
• Apakah ada bagian tubuh anda yang kering secara abnormal atau justru
berkeringat berlebih dibanding area tubuh lainnya? tunjukkan!

Campbell, William W. 2013


ANAMNESIS
DISFUNGSI Parasimpatetik nervus VII
• Apakah anda mengalami mata kering akibat kurang
nya produksi air mata?
• Apakah anda merasa mulut kering dan kurangnya
produksi dari air liur?

DISFUNGSI GASTRO INTESTINAL


• Apakah ada gangguan defekasi? Susah BAB, sulit
menelan, cepat kenyang, diare, berat badan turun.
ANAMNESIS

DISFUNGSI TRAKTUS URINARIUS


• Apakah anda terkadang sulit miksi? (retensi)
• Apakah anda sering merasa tak mampu menahan
dorongan untuk miksi?(urgency)

DISFUNGSI SEKSUAL
• Pada laki-laki:
• Apakah anda mengalami gangguan ereksi? Gagal
untuk ejakulasi? Atau ejakulasi dini?

Campbell, William W. 2013


PEMERIKSAAN FISIK UMUM

Keadaan umum

Vital Sign

• tensi, nadi, respirasi, suhu, skala nyeri

Pemeriksaan Generalis :

• Inspeksi, perkusi, palpasi, auskultasi


• Paru, jantung, abdomen, ekstremitas
Campbell, William W. 2013
Tes dasar otonom fungsi kardiovaskular

Diambil saat pasien terlentang dan setelah berdiri.

Periode bervariasi; Biasanya, BP ditentukan pada 1, 3,Dan 5 menit setelah berdiri.

Tekanan darah sistolik (SBP) Pada posisi berdiri tidak berkurang lebih dari 20 mmHg,
dan tekanan darah diastolik (DBP) dengan tidak Lebih dari 10 mmHg  normal

penurunan 30 poin SBP atau Penurunan 15 poin dalam DBP hipotensi ortostatik

Campbell, William W. 2013


Tes dasar otonom fungsi kardiovaskular
• Postural tachycardia syndrome
• Denyut nadi meningkat lebih dari 30 denyut perMenit di atas garis dasar atau
lebih dari 120 denyut permenit.
• Resting tachycardia
• takikardia saat istirahat merupakan tanda disfungsi parasimpatis

Campbell, William W. 2013


PEMERIKSAAN
SISTEM SARAF OTONOM

Pemeriksaan
Pemeriksaan Pemeriksaan Pemeriksaan
Anamnesis Khusus
Fisik Umum Neurologis Penunjang
Neurologis

Campbell, William W. 2013


ANAMNESIS

GEJALA YANG TERKAIT HIPOTENSI ORTOSTATIK


• Apakah anda sering pusing atau kepala terasa ringan yang diperberat
saat berdiri?
• Apakah anda pernah merasa akan pingsan atau pingsan sebelumnya?
• Apakah gejala tersebut disertai dengan jantung berdebar-debar, gemetar,
lemas sekujur tubuh, bingung, dan bicara kurang jelas (slurred speech)?
• Apakah gejala tersebut muncul terjadi setelah makan, mandi air hangat,
atau berolahraga?
GANGGUAN BERKERINGAT
• Apakah ada bagian tubuh anda yang kering secara abnormal atau justru
berkeringat berlebih dibanding area tubuh lainnya? tunjukkan!

Campbell, William W. 2013


ANAMNESIS
DISFUNGSI Parasimpatetik nervus VII
• Apakah anda mengalami mata kering akibat kurang
nya produksi air mata?
• Apakah anda merasa mulut kering dan kurangnya
produksi dari air liur?

DISFUNGSI GASTRO INTESTINAL


• Apakah ada gangguan defekasi? Susah BAB, sulit
menelan, cepat kenyang, diare, berat badan turun.
ANAMNESIS

DISFUNGSI TRAKTUS URINARIUS


• Apakah anda terkadang sulit miksi? (retensi)
• Apakah anda sering merasa tak mampu menahan
dorongan untuk miksi?(urgency)

DISFUNGSI SEKSUAL
• Pada laki-laki:
• Apakah anda mengalami gangguan ereksi? Gagal
untuk ejakulasi? Atau ejakulasi dini?

Campbell, William W. 2013


PEMERIKSAAN FISIK UMUM

Keadaan umum

Vital Sign

• tensi, nadi, respirasi, suhu, skala nyeri

Pemeriksaan Generalis :

• Inspeksi, perkusi, palpasi, auskultasi


• Paru, jantung, abdomen, ekstremitas
Campbell, William W. 2013
Tes dasar otonom fungsi kardiovaskular

Diambil saat pasien terlentang dan setelah berdiri.

Periode bervariasi; Biasanya, BP ditentukan pada 1, 3,Dan 5 menit setelah berdiri.

Tekanan darah sistolik (SBP) Pada posisi berdiri tidak berkurang lebih dari 20 mmHg,
dan tekanan darah diastolik (DBP) dengan tidak Lebih dari 10 mmHg  normal

penurunan 30 poin SBP atau Penurunan 15 poin dalam DBP hipotensi ortostatik

Campbell, William W. 2013


Tes dasar otonom fungsi kardiovaskular
• Postural tachycardia syndrome
• Denyut nadi meningkat lebih dari 30 denyut perMenit di atas garis dasar atau
lebih dari 120 denyut permenit.
• Resting tachycardia
• takikardia saat istirahat merupakan tanda disfungsi parasimpatis

Campbell, William W. 2013


PEMERIKSAAN NEUROLOGIS
1. Pemeriksaan Celah Mata
• Normal : Simetris kanan-kiri
• Kelainan :
1. Celah kelopak mata menyempit :
- Ptosis (M. levator palpebrae)
- Enoftalmus & blefarospasmus
2. Celah kelopak mata melebar
- Eksoftalmus & proptosis

Campbell, William W. 2013


2. Pemeriksaan pupil:
• Observasi bentuk, ukuran pupil & posisi pupil
• Perbandingan pupil kanan dan kiri
• Pemeriksaan refleks pupil
- Refleks cahaya langsung
- Refleks cahaya tidak langsung atau konsensuil
- Refleks pupil akomodatif / refleks pupil konvergensi
- Refleks Marcus-Gunn

Campbell, William W. 2013


• Kontraksi pupil mata yang diperiksa (+) :
 refleks cahaya langsung (+)

• Kontraksi pupil mata yang sebelahnya juga (+)


:
 refleks cahaya konsensual (+).

Campbell, William W. 2013


• Dilakukan di ruangan dengan pencahayaan cukup
• Nilai kembali kedua pupil
• Memfiksasi pandangan pasien pada suatu objek
• Berikan rangsangan cahaya pada salah satu mata 
nilai kontraksi pupil pada mata tersebut & nilai
kontraksi pupil mata disebelahnya, dan sebaliknya.

Campbell, William W. 2013


3. Pemeriksaan Glandula Lakrimalis:

• Perhatikan (inspeksi)
• Tanyakan pada pasien bagaimana produksi air matanya (saat
menangis, saat matanya iritasi)
• Schimmer Test : kertas lakmus merah diselipkan di
conjungtival sac.
• Normal : Berubah warna biru, sepanjang 20-30 mm /5mnt.

Campbell, William W. 2013


4. Pemeriksaan Glandula Saliva (Sublingualis,
Submaksilaris, Parotis)
• Perhatikan (Inspeksi)
• Tanyakan pada pasien bagaimana produksi air liurnya (saat makan atau saat
tidak makan), apakah ada keluhan mulut kering.
• Tempelkan jari pada lidah pasien

Interpretasi :
• Normal : Lakrimasi dan sekresi glandula submasilaris, sublingualis,
parotis baik
• Kelainan : Hiperlakrimasi dan Hiposekresi glandula submaxilaris dan
sublingualis
Campbell, William W. 2013
5. PEMERIKSAAN KANDUNG KENCING

Kandung kencing memiliki inervasi :


1.Simpatetik, dari kornu lateralis torako-lumbal (T10-L3), menuju
ganglion mesenterikus inferior  mjd N.hipogastrikus
2.Parasimpatetik, dari kornu lateralis sakralis (S2-S3) yg kemudian
menjadi N. pelvikus
3.Somatik , dari kornu anterior sakralis (S3-S4) yang kemudian
menjadi N.pudendus

Ngurah. 2017. Dasar-dasar Ilmu Penyakit Saraf.


5. PEMERIKSAAN KANDUNG KENCING

PERSARAFAN KANDUNG KENCING

Campbell, William W. 2013


5. PEMERIKSAAN KANDUNG KENCING

• Pengosongan kandung kencing :


kontraksi m.detrusor dan relaksasi m.sfingter
uretra internus (N.pelvikus)
• Supaya air kencing dpt dikeluarkan :
+ relaksasi m.sfingter uretra externus
(n.pudensus)

• Inervasi kandung kencing mengandung 3 busur


refleks :
1. Busur refleks perifer
2. Busur refleks sakral
3. Busur refleks torako-lumbal
Ngurah. 2017. Dasar-dasar Ilmu Penyakit Saraf.
5. PEMERIKSAAN KANDUNG KENCING

• Tipe gangguan fungsi kandung kencing :


1. Lesi akut pada konus
retensio urine  inkontinensia paradoksa 
kandung kencing otomat (mll jalur busur refleks di
pleksus vesikalis) : urine residual 
2. Lesi akut medula spinalis
retensio urine  inkontinensia paradoksa 
kandung kencing otomat (mll jalur busur refleks di
medula spinalis bagian sakral) : urine residual 

Ngurah. 2017. Dasar-dasar Ilmu Penyakit Saraf.


6. PEMERIKSAAN REKTUM
• Inervasi rektum :
1. N.pelvikus :
menggiatkan peristaltik rektum dan relaksasi m.sfingter
ani internum
2. N. hipogastrikus :
relaksasi peristaltik rektum dan kontraksi m.sfingter ani
internus
3. N.pudendus :
kontraksi m.sfingter ani eksternus secara volunter

Ngurah. 2017. Dasar-dasar Ilmu Penyakit Saraf.


Persarafan Rektum (Duus, 2016)
6. PEMERIKSAAN REKTUM

• Fase akut lesi konus atau lesi medula spinalis di


atas konus :
Lenyaplah peristaltik rektum
Kontraksi m.sfingter ani internus dan akan
menimbulkan retensio alvi
• Lesi medula spinalis setinggi thorakal X :
Fase syok akan timbul paralisis rektum (ileus
neurologikus)

Ngurah. 2017. Dasar-dasar Ilmu Penyakit Saraf.


6. PEMERIKSAAN REKTUM

• Pemeriksaan Anus :
• Reflek Anal : Gores
disekitar anus
• Dilakukan RT dan rasakan
adanya kontraksi otot
Sphincter internal anus.
• Tes memberikan tekanan
pd penis maka sphincter
Internal anus kontraksi.
7. PEMERIKSAAN GENITALIA

• Inervasi genetalia analog dengan inervasi kandung


kencing dan rektum
1. N.pelvikus : ereksi
2. N.hipogastrikus : kontraksi m.vas deferens dan
vesikula seminalis  terjadilah ejakulasi
3. N.pudendus : kontraksi ritmis m.bulbo-
kavernosus  mengeluarkan semen

Ngurah. 2017. Dasar-dasar Ilmu Penyakit Saraf.


7. PEMERIKSAAN GENITALIA

• Lesi dari konus (konus-kauda) akan menimbulkan


:
ketidakmampuan ereksi dan ejakulasi
• Pemeriksaan Genitalia :
• Inspeksi (urine merembes)
• Lakukan RT kemudian disentuh dan tekan bagian
vesika urinaria maka terlihat keluarnya urine tanpa
dirasakan penderita.

Ngurah. 2017. Dasar-dasar Ilmu Penyakit Saraf.


Pemeriksaan Neurologi
Khusus
• Pengujian tilt-table untuk mengevaluasi integritas
otonom Reflek  sinkop berulang
• kemiringandi kisaran 60 sampai 80 derajat dan untuk
jangka waktu yang berbeda.
• Secara neurokardiogenik(Vasovagal, vasodepressor)
sinkop, atau pingsan,Hipotensi disertai oleh
bradikardia daripada takikardia yang seharusnya
terjadi hal ini karena respon terhadap gangguan
emosional seperti rasa takut, stress, atau melihat
darah; Sesekali berkenaan dengan berkemih
(micturition syncope) atau batuk (batuk sinkop);Dan
terkadang tanpa mengidentifikasikan provokasi.
Campbell, William W. 2013
Pengujian untuk fungsi
thermoregulatory dan sudomotor
• Termasuk respon kulit simpatik (SSR), QSART
(Kuantitatif Sudomotor Axon Reflex Test), jejak
keringat, dan keringat termoregulatori Tes (TST).
• SSR menilai simpati perifer Berfungsi dengan
mendeteksi perubahan ketahanan kulit di Respon
terhadap pemakaian sudomotor.
• TST menilai Baik komponen simpul sentral maupun
periferal Dengan menganalisis respons berkeringat
terhadap kenaikan suhu tubuh.

Campbell, William W. 2013


• QSART menilai postganglionik Sudomotor berserat dengan mengukur
keringat Output dalam menanggapi iontophoresis ke dalam kulit Dari
asetilkolin
• SebuahTSTbisa dikombinasikan dengan tes fungsi postganglionik
proses anhidrosis.
• Jika tes fungsi postganglionik tidak normal, Penyebabnya adalah
postganglionik. Tapi kalau postganglionik Tes normal dan TST tidak
normal, penyebabnya adalah Preganglionik;

Campbell, William W. 2013


Test Perspirasi (Vasomotor,
Pilomotor, sudomotor)
• Siapkan ruangan, alat-alat dan bahan-bahan.
• Bahan-bahan: solusio yodium dan tablet paracetamol dan
tepung amilum.
• Badan pasien dilumuri dgn yodium 2%
• Setelah kering lalu ditaburi tepung amilum seluruh tubuh

Campbell, William W. 2013


PEMERIKSAAN GANGGUAN KERINGAT
• Palpasi: bagian tubuh yang terkena gangguan kulit akan terasa kering
dan kasar. Pada gangguan medula spinalis kita lakukan tes
keringat/tes lugol (perspirasi test) untuk mengetahui batas lesi

Bachrudin, 2009 Pemeriksaan Klinis Neurologi


Cara pemeriksaan
Setengah jam sebelum dilakukan pemeriksaan penderita disuruh
minum obat antipiretik (parasetamol/asam salisilat (Aspirin) 1000 mg)
a. Penderita ditidurkan berbaring (terlentang)
b. Bagian tubuh yang akan diperiksa, dibersihkan dulu dengan alkohol
70% lalu dikeringkan
c. Bagian yang sudah dibersihkan tadi diolesi dengan larutan lugol
(iodin 7-10%) kemudian ditaburi dengan amilum (tepung kanji).
d. Kemudian penderita dimasukkan ke dalam cerobong yang diberi
lampu 75 What empat buah
e. Kurang lebih 1 jam di evaluasi
Bachrudin, 2009 Pemeriksaan Klinis Neurologi
Interpretasi
• Bila bagian yang ditaburi amilum berubah warna menjadi biru
kehitaman berarti normal (karena terdapat keringat) dan bila bila
warna amilum tidak berubah tetap putih berarti ada gangguan
(karena tak ada keringat)
• Normal : tes negatif
• Ada keringat: tes negatif

Bachrudin, 2009 Pemeriksaan Klinis Neurologi


2. PEMERIKSAAN AREKTOR PILORUM

• Bila terjadi lesi lintang secara mendadak pada


medula spinalis, fase syok (diaskhiziz) akan
tampak lesi :
1. Paraplegia flaksid
2. Gangguang sensibilitas
3. Gangguang miksi, defekasi dan gangguan
fungsi genetalia
4. Dan terdapat pula vasodilatasi, anhidrosis,
tidak terdapat piloereksi

Ngurah.2017Dasar-dasar Ilmu Penyakit Saraf


• Bila fase syok sdh berlalu  fase menahun, maka fungsi vegetatif dpt
pulih dan akan timbul :
1. Vasokonstriksi
2. Hiperhidrosis
3. Bulu-bulu mudah berdiri

Ngurah.2017. Dasar-dasar Ilmu Penyakit Saraf


Tes Farmakologis
• Tes cocaine : cocaine 4 atau 10% akan mencegah
reuptake norepinephrine pada ujung terminal
neuron orde ke III dan menyebabkan midriasis
jika sistem simpatik masih intak

• Tes hidroxiamphetamine atau pholedrine : zat ini


mengakibatkan release norepinephrine pada
ujung terminal neuron orde ke III. Jika terjadi
kerusakan neuron orde ke III maka tidak akan
ada produksi norepinephrine. Pupil tidak
mengalami midriasis jika ditetesi zat ini
Ngurah. 2017. Dasar-dasar Ilmu Penyakit Saraf.
Tes Farmakologis

(Lee JH, 2007)


Pemeriksaan Penunjang
 Laboratorium : Darah Lengkap, Urine Lengkap,
 ECG
Neuroimaging :
1. Rontgent Lumbosakral,
2. CT Scan kepala,
3. MRI Lumbosakral
Daftar Pustaka
• Duus,P. 2016. Diagnosis Topik Neurologi; Anatomi, Fisiologi, Tanda,
Gejala, edisi 4. (Alifa Dimanti, Pentj). Jakarta.
• Ngurah. 2017. Dasar-dasar Ilmu Penyakit Saraf. Denpasar: Udayana
University Press
• Campbell, William W. 2013. Dejong’s the Neurologic Examination
seventh edition. Philadelphia
TERIMAKASIH
Vasomotor Adrenergic Autonomic Testing
VEGETATIF
A. SINDROM HORNER
B. GANG FUNGSI KANDUNG KENCING
C. GANG FUNGSI DARI REKTUM
D. GANG FUNGSI DARI GENETALIA
E. GANG SUDOMOTORIK
F. GANG AREKTOR PILORUM

Ngurah.1991. Dasar-dasar Ilmu Penyakit Saraf


A. SINDROM HORNER
Sentrum Siliospinale (C8-T2)
• Mengatur vasokonstriksi, sekresi keringat dan piloarektor dari
separo kepala dan leher di sisi ipsilateral
• Menginervasi bbrp otot polos dari mata yg ipsilateral
• Kerusakan  sindrom horner

Ngurah.1991. Dasar-dasar Ilmu Penyakit Saraf


• Blokade
aktivitas simpatetik :
miosis, ptosis,
enoftalmus, anhidrosis
• Ada 3 tipe
1. Sentral
2. Praganglionik
3. Postganglionik
(Agarwal, 2008)
Diagnosis Klinis
• Miosis : paresis M. dilatator pupillae
• Ptosis : paresis M. tarsalis posterior
• Enopthalmus : paresis M. orbitalis
• Anhidrosis

Ngoerah IGNG. Dasar-dasar Ilmu Penyakit Saraf, 1991


68
Pemeriksaan Neurologis
• Pemeriksaan Celah Mata (NIII)
• Normal : Simetris kanan-kiri
• Kelainan :
1. Celah kelopak mata
menyempit :
- Ptosis
- Enoftalmus &
blefarospasmus
2. Celah kelopak mata
melebar
- Eksoftalmus & proptosis
Tes Farmakologis

(Lee JH, 2007)


Pemeriksaan Neurologis
Pemeriksaan pupil (N II dan N III):
• Observasi bentuk, ukuran pupil & posisi pupil
• Perbandingan pupil kanan dan kiri
• Pemeriksaan refleks pupil
- Refleks cahaya langsung
- Refleks cahaya tidak langsung atau konsensuil
- Refleks pupil akomodatif / refleks pupil konvergensi
- Refleks Marcus-Gunn
Pemeriksaan Neurologis
• Dilakukan di ruangan dengan
pencahayaan cukup
• Nilai kembali kedua pupil
• Memfiksasi pandangan pasien pada
suatu objek
• Berikan rangsangan cahaya pada
salah satu mata  nilai kontraksi
pupil pada mata tersebut & nilai
kontraksi pupil mata disebelahnya,
dan sebaliknya.
Pemeriksaan Neurologis
• Kontraksi pupil mata yang diperiksa (+) :
 refleks cahaya langsung (+)

• Kontraksi pupil mata yang sebelahnya juga (+) :


 refleks cahaya konsensual (+).
Pemeriksaan Neurologi
• Pemeriksaan Glandula Lakrimalis:
• Perhatikan (inspeksi)
• Tanyakan pada pasien bagaimana produksi air matanya
(saat menangis, saat matanya iritasi)
• Schimmer Test : kertas lakmus merah diselipkan di
conjungtival sac.
• Normal : Berubah warna biru, sepanjang 20-30 mm /5mnt.
Pemeriksaan Neurologi
• Pemeriksaan Glandula Saliva (Sublingualis, Submaksilaris, Parotis)
• Perhatikan (Inspeksi)
• Tanyakan pada pasien bagaimana produksi air liurnya (saat makan atau saat
tidak makan), apakah ada keluhan mulut kering.
• Tempelkan jari pada lidah pasien
Pemeriksaan Neurologi
Interpretasi :
• Normal : Lakrimasi dan sekresi glandula
submasilaris, sublingualis, parotis baik
• Kelainan : Hiperlaksimasi dan Hiposekresi
glandula submaxilaris dan sublingualis
B. GANG FUNGSI KANDUNG KENCING

Kandung kencing memiliki inervasi :


1.Simpatetik, dari kornu lateralis torako-lumbal
(T10-L3), menuju ganglion mesenterikus inferior
 mjd N.hipogastrikus
2.Parasimpatetik, dari kornu lateralis sakralis (S2-
S3) yg kmd mjd N.pelvikus
3.Somatik , dari kornu anterior sakralis (S3-S4) yg
kmd mjd N.pudendus

Ngurah.1991. Dasar-dasar Ilmu Penyakit Saraf


• Pengosongan kandung kencing :
kontraksi m.detrusor dan relaksasi m.sfingter
uretra internus (N.pelvikus)
• Supaya air kencing dpt dikeluarkan :
+ relaksasi m.sfingter uretra externus (n.pudendus)

• Inervasi kand kencing mengandung 3 busur refleks :


1. Busur refleks perifer (vesikalis)
2. Busur refleks sakral
3. Busur refleks torako-lumbal
Ngurah.1991. Dasar-dasar Ilmu Penyakit Saraf
C. GANG FUNGSI DARI REKTUM
• Inervasi rektum :
1. N.pelvikus :
menggiatkan peristaltik rektum dan relaksasi
m.sfingter ani internum
2. N. hipogastrikus :
relaksasi peristaltik rektum dan kontraksi m.sfingter
ani internus
3. N.pudendus :
kontraksi m.sfingter ani eksternus secara volunter

Ngurah.1991. Dasar-dasar Ilmu Penyakit Saraf


• Fase akut lesi konus atau lesi medula spinalis di
atas konus :
Lenyaplah peristaltik rektum
Kontraksi m.sfingter ani internus dan akan
menimbulkan retensio alvi
• Lesi medula spinalis setinggi thorakal X :
Fase syok akan timbul paralisis rektum

Ngurah.1991. Dasar-dasar Ilmu Penyakit Saraf


Pemeriksaan Neurologi
• Pemeriksaan Anus :
• Reflek Anal : Gores
disekitar anus
• Dilakukan RT dan rasakan
adanya kontraksi otot
Sphincter internal anus.
• Tes memberikan tekanan
pd penis maka sphincter
Internal anus kontraksi.
D. GANG FUNGSI DARI GENITALIA

• Inervasi genetalia analog dg inervas kandung


kencing dan rektum
1. N.pelvikus : ereksi
2. N.hipogastrikus : kontraksi m.vas deferens dan
vesikula seminalis  terjadilah ejakulasi
3. N.pudendus : kontraksi ritmis m.bulbo-
kavernosus  mengeluarkan semen

Ngurah.1991. Dasar-dasar Ilmu Penyakit Saraf


E. GANGGUAN SUDOMOTORIK
Pemeriksaan Neurologi Khusus
• Test Perspirasi (Vasomotor, Pilomotor, sudomotor)
• Siapkan ruangan, alat-alat dan bahan-bahan.
• Bahan-bahan: solusio yodium dan tablet paracetamol dan
tepung amilum.
• Badan pasien dilumuri dgn yodium 2%
• Setelah kering lalu ditaburi tepung amilum seluruh tubuh
• Penderita minum paracetamol
• Dimasukan pada alat khusus selama 60 mnt
• Interpretasi :
• Normal : berubah warna menjadi ungu
• Terganggu : Tidak terdapat perubahan warna.
• Pada perbatasan warna putih dan ungu adalah topik
lesinya
F. GANG AREKTOR PILORUM
• Bila terjadi lesi lintang secara mendadak pada
medula spinalis, fase syok (diaskhiziz) akan
tampak lesi :
1. Paraplegia flaksid
2. Gangguang sensibilitas
3. Gangguang miksi, defekasi dan gangguan
fungsi genetalia
4. Dan terdapat pula vasodilatasi, anhidrosis,
tidak terdapat piloereksi

Ngurah.1991. Dasar-dasar Ilmu Penyakit Saraf


Pemeriksaan Penunjang
• Laboratorium : DL, UL,
• ECG
• Neuroimaging : Ro Lumbosakral, CT Scan kpl, MRI Lumbosakral