Anda di halaman 1dari 20

KELOMPOK 4:

1. SUWANTO
2. TRI YUNI P
3. WAHYUNINGSIH
4. WIDANINGSIH
5. YULIANTI
6. YUSUF EFFENDI
7. TUTUK WIZARIYAH

KONSEP AMI NSTEMI


PROGSUS RSI PATI TAHUN 2018 - 2019
DEFINISI

• NSTEMI adalah adanya ketidakseimbangan


antara pemintaan dan suplai oksigen ke
miokardium terutama akibat penyempitan
arteri koroner akan menyebabkan iskemia
miokardium lokal. Iskemia yang bersifat
sementara akan menyebabkan perubahan
reversibel pada tingkat sel dan jaringan.
(Sylvia, 2006).
PENANDA KLINIS
 Keluhan utama : nyeri dada sentral yang berat , seperti rasa
terbakar, ditindih benda berat, seperti ditusuk, rasa diperas,
dipelintir, tertekan yang berlangsung ≥ 20 menit, tidak berkurang
dengan pemberian nitrat, gejala yang menyertai: berkeringat,
pucat dan mual, sulit bernapas, cemas, dan lemas.
 Nyeri membaik atau menghilang dengan istirahat atau obat
nitrat.
 Kelainan lain: di antaranya atrima, henti jantung atau gagal
jantung akut.
 Bisa atipik:
 Pada manula: bisa kolaps atau bingung.
 Pada pasien diabetes: perburukan status metabolik atau atau
gagal jantung bisa tanpa disertai nyeri dada.
PATOFISIOLOGI
• NSTEMI dapat disebabkan oleh penurunan suplai oksigen dan atau
peningkatan kebutuhan oksigen miokard yang diperberat oleh
obstruksi koroner.
• NSTEMI terjadi karena thrombosis akut atau vasokonstriksi koroner.
Trombosis akut pada arteri koroner diawali dengan adanya ruptur plak
yang tak stabil. Plak yang tidak stabil ini biasanya mempunyai inti lipid
yang besar, densitas otot polos yang rendah, fibrous cap yang tipis dan
konsentrasi faktor jaringan yang tinggi.
• Inti lemak yang yang cenderung ruptur mempunyai konsentrasi ester
kolesterol dengan proporsi asam lemak tak jenuh yang tinggi. Pada
lokasi ruptur plak dapat dijumpai sel makrofag dan limposit T yang
menunjukkan adanya proses imflamasi. Sel-sel ini akan mengeluarkan
sel sitokin proinflamasi , dan IL-6. Selanjutnya IL-6 akan merangsang
pengeluaranaseperti TNF hsCRP di hati. (Sudoyo Aru W, 2006)
PENATALAKSANAAN
Tatalaksana awal pasien dugaan SKA (dilakukan dalam waktu
10 menit):
1. Memeriksa tanda-tanda vital
2. Mendapatkan akses intra vena
3. Merekam dan menganalisis EKG
4. Melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik
5. Mengambil sediaan untuk pemeriksaan enzim jantung,
elektrolit serta pemeriksaan koagulasi.
6. Mengambil foto rongten thorax (<30 menit).
Lanjutan....

• EKG harus dilakukan segera dan dilakukan rekaman EKG berkala


untuk mendapatkan ada tidaknya elevasi segmen ST. Troponin T/I
diukur saat masuk, jika normal diulang 6-12 jam kemudian. Enzim
CK dan CKMB diperiksa pada pasien dengan onset < 6 jam dan
pada pasien pasca infark < 2minggu dengan iskemik berulang
untuk mendeteksi reinfark atau infark periprosedural.
• Tatalaksana awal SKA tanpa elevasi segmen ST di unit
emergency:
1. Oksigen 4 L/ menit (saturasi oksigen dipertahankan > 90%)
2. Aspirin 160 mg (dikunyah).
3. Tablet nitrat 5mg sublingual (dapat diulang 3x) lalu per drip
bila masih nyeri dada.
4. Mofin IV (2,5mg-5mg) bila nyeri dada tidak teratasi dengan
nitrat.
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum
• Pada pemeriksaan keadaan umum, kesadaran klien IMA biasanya baik
atau compos mentis (CM) dan akan berubah sesuai tingkat gangguan
yang melibatkan perusi sistem saraf pusat.
• B1 (Breathing)
Klien terlihat sesak, frekuensi napas melebihi normal dan mengeluh
sesak napas seperti tercekik. Dispnea kardiak biasanya ditemukan.
Sesak napas terjadi akibat pengerahan tenaga dan disebabkan oleh
kenaikan tekanan akhir diastolic ventrikel kiri yang meningkatkan
tekanan vena pulmonalis. Hal ini terjadi karena terdapat kegagalan
peningkatan curah darah oleh ventrikel kiri pada saat melakukan
kegiatan fisik. Dispnea kardiak pada infark miokardium yang kronis
dapat timbul pada saat istirahat.
LANJUTAN...

• B2 (Blood)
Inspeksi
Inspeksi adanya jaringan parut pada dada klien. Keluhan lokasi nyeri biasanya di
daerah substernal atau nyeri atas pericardium. Penyebaran nyeri dapat meluas
di dada. Dapat terjadi nyeri dan ketidakmampuan menggerakkan bahu dan
tangan.
Palpasi
Denyut nadi perifer melemah. Thrill pada IMA tanpa komplikasi biasanya tidak
ditemukan.
Auskultasi
Tekanan darah biasanya menurun akibat penurunan volume sekuncup yang
disebabkan IMA. Bunyi jantung tambahan akibat kelainan katup biasanya tidak
ditemukan pada IMA tanpa komplikasi
Perkusi
Batas jantung tidak mengalami pergeseran
LANJUTAN...

• B3 (Brain)
Kesadaran umum klien biasanya CM. Pengkajian objektif
klien, yaitu wajah meringis, menangis, merintis,
merenggang, dan menggeliat yang merupakan respons dari
adanya nyeri dada akibat infark pada miokardium. Tanda
klinis lain yang ditemukan adalah takikardia, dispnea pada
saat istirahat maupun saat beraktivitas.
• B4 (Bladder)
Pengukuran volume output urine dengan intake cairan
klien. Oleh karena itu, perawat perlu memonitor adanya
oliguria pada klien dengan IMA karena merupakan tanda
awal syok kardiogenik.
LANJUTAN...

• B5 (Bowel)
Klien biasanya mengalami mual dan muntah. Pada palpasi
abdomen ditemukan nyeri tekan pada keempat kuadran,
penurunan peristaltic usus yang merupakan tanda utama IMA.
• B6 (Bone)
 Aktivitas klien biasanya mengalami perubahan. Klien sering
merasa kelemahan, kelelahan, tidak dapat tidur, pola hidup
menetap, dan jadwal olahraga teratur. perubahan postur
tubuh.
 Kaji higienis personal klien dengan menanyakan apakah klien
mengalami kesulitan melakukan tugas perawatan diri.
Dx.Keperawatan
1. Nyeri yang berhubungan dengan ketidakseimbangan suplai darah dan
oksigen dengan kebutuhan miokardium akibat sekunder dari
penurunan suplai darah ke miokardium, peningkatan produksi asam
laktat.
2. Gangguan perfusi jaringan jantung berhubungan dengan iskemik,
kerusakan otot jantung, penyempitan / penyumbatan pembuluh darah
arteri koronaria.
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara
suplai dan kebutuhan oksigen ditandai dengan kelemahan dalam
aktivitas.
4. Ansietas berhubungan dengan ancaman kehilangan / kematian
ditandai dengan ketakutan, gelisah dan perilaku takut.
5. Resiko tinggi menurunnya curah jantung yang berhubungan dengan
perubahan frekuensi, irama, konduksi elektrikal.
Intervensi Dx.Kep. 1
1. Catat karakteristk nyeri, lokasi, intensitas, lamanya, dan
penyebaran.
2. Anjurkan kepada klien untuk melaporkan nyeri dengan
segera.
3. Lakukan manajemen nyeri keperawatan :
- Istirahatkan klien
- Berikan oksigen tambahan dengan kanula nasal atau masker
sesuai dengan indikasi
4. Manajemen lingkungan: lingkungan tenang dan batasi
pengunjung.
5. Ajarkan teknik relaksasi pernapasan dalam pada saat nyeri.
Intervensi Dx.Kep. 2
1. Observasi tanda-tanda vital tiap 1-4jam, status hemodinamika
2. Monitor tanda dan gejala penurunan perfusi (nyeri dada,
disritmia, takikardia, takipnea, hipotensi dan penurunan curah
jantung)
3. Monitor bunyi dan irama jantung secara kontinue, catat adanya
denyut prematur ventrikel kontraksi
4. Palpasi denyut nadi perifer guna mengkaji adanya denyutan
prematur.
5. Observasi adanya tanda dan gejala penurunan curah jantung
(pusing, pucat, diaforesis, pingsan, akral dingin)
6. Monitor tanda dan gejal gangguan perfusi renal (produksi urin <
30 ml/jam, peningkatan BUN dan kreatinin, edema perifer, tidak
adanya reaksi diuretik).
Lanjutan ...
1. Monitor tanda dan gejala yang menujukkan penurunan perfusi
jaringan (kulit dingin, pucat, lembab, berkeringat, sianosis,
denyut nadi lemah, edema perifer).
2. Atur posisi baring setiap 2 jam, menggerakkan kaki dan tangan
secara aktif dan pasif setiap 1 jam
3. Monitor tanda dan gejala yang menunjukkan penurunan perfusi
otak (gelisah, bingung, apatis, somnolen).
4. Rekam pola EKG secara periodik selama periode serangan dan
catat adanya disritmia atau perluasan iskemia atau infark
miokard.
5. Kolaborasi tim medis untuk terapi dan tindakan.
6. Pertahankan intake cairan maksimal 2000 ml/ 24 jam (bila tidak
ada edema).
Intervensi Dx.Kep. 3
1. Pantau pasien terhadap tanda intolenransi aktivitas, dan minta
pasien untuk merentang aktivitas dan yang diprogramkan.
2. Laporkan gejala-gejala curah janutng menurun atau gagal
jantung : TD menurun, ekstremitas dingin, oliguria, nadi perifer
menurun.
3. Palpasi nadi perifer pada interval sering. Waspadai
ketidakteraturan dan penurunan amplitude, yang merupakan
sinyal gagal jantung.
4. Berikan O2 dan obat-obatan sesuai program.
5. Bantu pasien melakukan latihan rentang gerak pasif atau
dibantu seperti ditentukan oleh toleransi aktivitas dan
keterbatasan aktivitas.
6. Pastikan pasien menjalani istirahat tanpa gangguan ≥90 menit
Intervensi Dx.Kep. 4
1. Identifikasi dan ketahui persepsi pasien terhadap
ancaman/situasi.
2. Catat adanya kegelisahan, menolak dan menyangkal
mengikuti program medis.
3. Mempertahankan kepercayaan.
4. Kaji tanda verbal/nonverbal kecemasan dan tinggal dengan
pasien.
5. Anjurkan pasien atau orang terdekat untuk
mengkomunikasikan dengan seseorang, berbagi
pertanyaan dan masalah.
6. Dukung keputusan tentang harapan setelah pulang
Intervensi Dx.Kep. 5
1. Ukur tekanan darah. Bandingkan tekanan darah
kedua lengan, ukur dalam keadaan berbaring, duduk,
atau berdiri bila memungkinkan
2. Evaluasi kualitas dan kesamaan nadi
3. Pantau frekuensi jantung dan irama
4. Berikan makanan dengan porsi sedikit tapi sering dan
mudah dikunyah, batasi asupan kafein.
5. Kolaborasi dengan tim medis dan pemberian terapi
sesuai program
BELAJAR KASUS NON STEMI
Perempuan, 62 tahun
• Faktor Risiko PJK
Hipertensi > 10 thn, kontrol dan minum obat tidak rutin •
Menopause • Riwayat kolesterol tinggi • Diabetes •
Obesitas
Riwayat Penyakit Sekarang
Sejak + 3 hr terakhir mengeluhkan rasa berat di dada dan
ulu hati, hilang timbul, yang dianggap pasien sebagai
‘maag yang kambuh’ • Nyeri dada hebat disertai sesak
nafas, mual-muntah dan keringat dingin 4 jam
sebelumnya
Algoritma Pendekatan
Terhadap SKA