Anda di halaman 1dari 23

Kelompok 1

Anggota :
Asni Tunjung A. (06)
Atika Widyaningrum (07)
Muhamad Ma’Arif (16)
Tamim Mujadid M. (25)
Wulandari (28)
Yessy Ratna S. (29)
DEKRIT PRESIDEN 5
JULI 1959
Latar Belakang
Dekrit Presiden 5 Juli 1959

1. Kegagalan Konstituante Merumuskan UUD baru


pengganti UUDS 1950.
2. Dikeluarkan nya Konsepsi Presiden Soekarno.
KRONOLOGIS DEKRIT
10 November 1959
• Dewan Konstituante bersidang untuk membuat
Undang-undang baru.
• Dua tahun bersidang tanpa hasil, dengan kondisi
partai politik terpecah dalam berbagai idiologi.
21 Februari 1957
• Suasana politik tidak stabil dan terjadi
pemberontakan di berbagai daerah.
• Presiden Soekarno menyampaikan “Konsepsi
Presiden”
Isi Konsepsi Presiden :
1. Sistem Demokrasi Liberal akan diganti dengan
Demokrasi Terpimpin.
2. Dibentuk “KABINET GOTONG ROYONG”
yang menteri- menteriflya terdiri atas orang-orang
dan empat partai besar (PNI, Masyumi, NU, dan
PKI)
3. Dibentuk “DEWAN NASIONAL” yang terdiri atas
golongan- golongan fungsional dalam masyarakat.
Dewan ini bertugas memberi nasihat kepada kabinet
baik diminta maupun tidak.
PENOLAKAN
“KONSEPSI PRESIDEN”
Partai-partai yang menolak “KONSEPSI PRESIDEN” :

1. Masyumi
2. Nadatul Ulama
3. PSII
4. Partai Katolik
5. Partai Rakyat Indonesia
Alasan Penolakan
“Konsepsi Presiden”
1. Hak mengubah tata negara secara radikal ada
pada Dewan Konstituante
2. Secara prinsipial partai-partai menolak Konsepsi
Presiden karena PKI diikutsertakan dalam
pemerintahan
22 April 1959
• Dihadapan Dewan Konstituante Presiden Soekarno
menganjurkan untuk kembali kepada UUD 1945.

30 Mei 1959
• Diadakan 3 kali pemungatan suara untuk menetapkan
UUD 1945 sebagai UUD RI.
Hasilnya ?

Lebih banyak yang memilih


kembali kepada UUD 1945

(tetapi tidak sampai 2/3 suara)


Tanggal 1 dan 2 Juni 1959
• Pengambilan suara kembali diadakan tetapi gagal
menghasilkan keputusan.

3 Juni 1959
• Setelah 3 kali pengambilansuara gagal konstituante
mengadakan reses (istirahat).
• Ternyata itu reses untuk selamanya.
KESIMPULAN :
1. Selama 3 tahun Partai-partai yang tergabung
dalam Dewan Konstituante hanya berdebat tidak
menentu dan tidak menghasilkan apa – apa (Tidak
dapat merumuskan UUD Baru).
2. Dewan Konstituante tidak juga mengambil
keputusan untuk kembali kepada UUD 1945.
5 Juli 1959
• Berdasarkan Keputusan Presiden Republik
Indonesia No. 75 / 1959

DEKRIT PRESIDEN 5 JULI 1959


Dekrit Presiden 5 Juli 1959
Alasan:
1. Kegagalan konstituante dalam menetapkan undang-
undang dasar sehingga membawa Indonesia ke
jurang kehancuran sebab Indonesia tidak
mempunyai pijakan hukum yang mantap.
2. Situasi politik yang kacau dan semakin buruk.
3. Konflik antar partai politik yang mengganggu
stabilitas nasional.
4. Banyaknya partai dalam parlemen yang saling
berbeda pendapat.
5. Masing-masing partai politik selalu berusaha untuk
menghalalkan segala cara agar tujuan partainya
tercapai.
6. Undang-undang Dasar yang menjadi pelaksanaan
pemerintahan negara belum berhasil dibuat
sedangkan Undang-undang Dasar Sementara
(UUDS 1950) dengan sistem pemerintahan
demokrasi liberal dianggap tidak sesuai dengan
kondisi kehidupan masyarakat Indonesia.
7. Terjadinya sejumlah pemberontakan di dalam negeri
yang semakin bertambah gawat bahkan menjurus
menuju gerakan sparatisme.
Tujuan Dekrit Presiden 5 Juli 1959
Tujuan dikeluarkan dekrit Presiden, ialah :
Untuk Menyelesaikan Problem atau masalah
yang menimpa negara Indonesia semakin tidak
menentu dan tak terkendali bertujuan
menyelamatkan negara.
ISI DEKRIT

1. Pembubaran Badan Konstituante.


2. Berlakunya kembali UUD 1945 dan tidak
berlakunya UUDS 1950.
3. Membentuk MPRS dan DPAS.
Tindakan Lanjut Setelah Dekrit Presiden
A. Pembentukan kabinet kerja yang disebut Tri
Program, yang isinya:
• Memperlengkapi pangan rakyat.
• Menyelenggarakan keamanan rakyat dan negara.
• Melanjutkan perjuangan menentang imperealisme
untuk mengembalikan untuk mengembalikan Irian
Barat.
B. Penetapan DPR hasil pemilu 1955 menjadi DPR
tanggal 23 Juli 1959
C. Pembentukan MPRS dan DPAS
D. MPRS dan DPAS juga dibentuk BPK dan MA
E. Pembentukan DPR
F. Pembentukan Dewan Perancang Nasional
(Depernas) dan Front Nasional.
G. Penetapan GBHN
Pendukung Dekrit :
1. Makamah Agung
2. DPR (hasil Pemilu 1955)
3. KSAD
4. Berbagai golongan masyarakat
Dampak Dekrit Presiden 5 Juli 1959
A. Dampak Positif Adapun dampak positif
dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli, ialah :
1. Memberikan pedoman yang jelas, yaitu UUD 1945
bagi kelangsungan negara.
2. Menyelamatkan negara dari perpecahan dan krisis
politik berkepanjangan.
3. Merintis pembentukan lembaga tertinggi negara,
yaitu MPRS dan lembaga tinggi negara berupa
DPAS yang selama masa Demokrasi Parlemen
tertertunda pembentukannya.
B. Selain adanya dampak positif dari dekrit Presiden,
terdapat pula dampak negatif dikeluarkannya Dekrit
Presiden 5 juli 1959, yaitu :
1.Memberi kekeuasaan yang besar pada presiden,
MPR,dan lembaga tinggi negara. Hal itu terlihat pada
masa Demokrasi terpimpin dan berlanjut sampai Orde
Baru.
2.Memberi peluang bagi militer untuk terjun dalam
bidang politik. Sejak Dekrit, militer terutama Angkatan
Darat menjadi kekuatan politik yang disegani. Hal itu
semakin terlihat pada masa Orde Baru dan tetap terasa
sampai sekarang.
3. Ternyata UUD 1945 tidak dilaksanakan secara
murni dan konsekuen. UUD 45 yang harusnya
menjadi dasar hukum konstitusional
penyelenggaraan pemerintahan
pelaksanaannya hanya menjadi slogan-slogan
kosong belaka.