Anda di halaman 1dari 43

BRONKOPNEUMONIA DAN

KEJANG DEMAM

ANDINI PUSPITA SARI, S.KED

PEMBIMBING:
DR. HUSHAEMAH SYAM, SP.A
BRONKOPNEUMONIA
PENDAHULUAN

 Infeksi saluran nafas bawah masih merupakan


masalah utama dalam bidang kesehatan baik di
negara yang sedang berkembang maupun yang
sudah maju.
 WHO (1999) : Penyebab kematian tertinggi akibat
penyakit infeksi di dunia adalah infeksi saluran nafas
akut (influenza dan pneumonia).
 Pneumonia memberikan gambaran yang berbeda
dari pneumonia bakterial akut dan dapat terjadi di
lingkungan masyarakat ataupun di rumah sakit.
Keadaan ini terjadi karena latar belakang
patofisiologinya berbeda dengan pneumonia
bakterial akut.
 Pada masa lalu pneumonia dikenal sebagai
pneumonia tipikal yang disebabkan oleh Str.
Pneumoniae dan atipikal yang disebabkan oleh
kuman atpik seperti misalnya M. Pneumoniae. Tapi
istilah tersebut tidak lagi dipergunakan. Pada
perkembangannya pneumonia saat ini dikenal atas 2
kelompok utama yaitu pneumonia di rumah
perawatan atau nosokomial (PN) dan pneumonia
komunitas (PK) yang didapat di masyarakat.
Disamping kedua bentuk utama ini terdapat pula
pneumonia bentuk khusus yang masih sering
dijumpai.
Identitas Pasien

 Nama : An. A
 Tanggal Lahir : 17/06/2013
 Umur : 4 tahun 6 bulan
 Jenis Kelamin : Laki-laki
 Alamat : Jln. Tinumbu Lr. 142/3
 Agama : Islam
 Ruangan : Dahlia
Anamnesis

 Keluhan Utama :Demam


 Riwayat Penyakit Sekarang :
 Pasien masuk rumah sakit Pelamonia dengan
keluhan Demam (+) sejak tadi pagi, mual (+), muntah (-
), kejang (+) dirumah sekitar jam 14.30, frekuensi 2kali
dengan durasi sekitar 5 menit, flu (+), batuk (+) sejak 2
hari, lendir (+), sesak (-). Riwayat kejang pada usia 1,5
tahun dan usia 1 tahun.
 Selera makan : kurang
 Selera minum : kurang
 BAB : Baik
 BAK : Lancar
Pemeriksaan fisik

 Status Present
 K.U : Sakit Sedang/Gizi Baik/
Composmentis
 BB : 20 kg
 PB : 109 cm
 Tanda Vital
 Tekanan Darah : 100/70 mmHg
 Suhu : 38,9 0C
 HR : 125x/menit
 RR : 36x/menit
FOLLOW UP
07/12/2017

S : Pasien masuk rumah sakit Pelamonia dengan keluhan Demam (+)


sejak tadi pagi, mual (+), muntah (-), kejang (+) dirumah sekitar
jam 14.30, frekuensi 2kali dengan durasi sekitar 5 menit, flu (+),
batuk (+) sejak 2 hari, lendir (+), sesak (-). Riwayat kejang pada
usia 1,5 tahun dan usia 1 tahun.
Selera makan : kurang
Selera minum : kurang
BAB : Baik
BAK : Lancar
O : Tekanan Darah : (-)
TD : 100/70 mmHg
Suhu : 38,9 0C
HR : 125 x/menit
RR : 36 x/menit
A : Hyperpirexia
P : Rawat Inap
Terapi Ugd Hasil Laboratorium:
 IVFD Dextrose 5% 20  WBC : 6.41 (10^3/uL)
tpm  RBC : 4.69 (10^6/uL)
 Paracetamol 200mg/8  HGB : 11,5 (g/dL)
jam/drips  HCT : 36.2 (%)
 Inj. Cefriaxone 1,5gr/24
 MCV : 69.7 (fL)
jam/IV
 MCH : 24.5 (pg)
 Luminal 60 mg/12
 MCHC : 31.8 (g/dL)
jam/oral
 PLT : 220 (10^3/uL)
 LED : 10 mm/jam
8/12/2017
S : Demam (+), kejang 2kali  IVFD Dextrose 5% 20 tpm
bersifat umum (+), batuk (+),  Inj.Novalgin 250mg/bolus/IV
sakit menelan (-)  Inj. Dexametasone 1 amp/12
S. makan : kurang jam/IV
S. minum : kurang  Inj. Ceftriaxone
BAB : Tidak BAB hari ini 1,5gr/24jam/NSPB
BAK : Lancar  Paracetamol 200mg/8 jam/drips
O : KU: sakit berat  Diazepam 3 x 2mg
T : 100/70 mmHg  Little U 1x1
N: 120 x/menit
P: 24 x/menit
S : 390C
Kaku kuduk (-)
Tanda rangsang meanings (-)
A : ISPA
P : Kejang Demam
9/12/2017
S : Demam menurun, kejang (-),  IVFD Dextrose 5% 20 tpm
batuk berdahak (+)  O2
S. makan : kurang  Novalgin Syrup
S. minum : kurang  Inj. Dexametasone 1 amp/12
BAB : Biasa jam/IV
BAK : Lancar  Inj. Ceftriaxone
O : KU : Baik 1,5gr/24jam/NSPB
T : 90/60 mmHg  Paracetamol 250mg/8
N : 120 x/m jam/drips
P : 41 x/m  Diazepam 3 x 2mg
S : 36,5 ‘C  Little U 1x1
A :Bronchopneumonia
Kejang Demam
P : Terapi Lanjut
10/12/2017
S : Demam menurun, kejang (-),  IVFD Dextrose 5% 20 tpm
batuk berdahak (+), flu (+)  O2
S. makan : kurang  Novalgin Syrup
S. minum : kurang  Inj. Dexametasone 1 amp/12
BAB : Biasa jam/IV
BAK : Lancar  Inj. Ceftriaxone
O : KU : Baik 1,5gr/24jam/NSPB
T : 100/70 mmHg  Paracetamol 250mg/8
N : 116 x/m jam/drips
P : 30 x/m  Diazepam 3 x 2mg
S : 37,4 ‘C  Little U 1x1
A :Bronchopneumonia
Kejang Demam
P : Terapi Lanjut
11/12/2017
S : Demam (-), kejang (-), batuk  IVFD Dextrose 5% 20 tpm
berkurang  Inj. Dexametasone 1 amp/12
S. makan : Baik jam/IV
S. minum : kurang  Inj. Ceftriaxone
BAB : biasa 1,5gr/24jam/NSPB
BAK : lancar  Paracetamol 250mg/8
O : KU : Membaik jam/drips
T : 100/70 mmHg  Diazepam 3 x 2mg
N :120 x/m  Ambroxol syr 3x1 cth
P : 24 x/m  Little U 1x1
S : 36,5 ‘C
A : Bronchopneumonia
Kejang Demam Sederhana
P : Terapi Lanjut
12/12/2017
S : Demam (+) naik turun, Kejang  IVFD Dextrose 5% 20 tpm
(-), batuk (+) berdahak (+),  Inj. Dexametasone 1 amp/12
muntah (+) jam/IV
S. Makan : kurang  Inj. Ceftriaxone
S. minum : sedikit 1,5gr/24jam/NSPD
BAB : biasa  Paracetamol 250mg/8 jam/drips
BAK : lancar  Diazepam 3 x 2mg
O : KU : Lemah  Little U 1x1
T : 100/70 mmHg
N : 120 x/m
P : 40 x/m
S : 37,1 ‘ C
Paru : Vesikuler
Rh -/- wh-/-
A :Kejang Demam Kompleks
P : Terapi lanjut
Hasil Lab DR : Widal Tes :
 WBC : 2.04 (10^3/uL)  S. Typhi O : 1/40
 RBC : 5.06 (10^6/uL)  S. Para Typhi AO : 1/40
 HGB : 12,2 (g/dL)  S. Para Typhi BO : 1/80
 HCT : 38.9 (%)  S. Typhi H : 1/40
 MCV : 76.9 (fL)
 MCH : 24.1 (pg)
 MCHC : 31.4 (g/dL)
 PLT : 157 (10^3/uL)
 LED : 13 mm/jam
13/12/2017
S : Demam naik turun hari ke-7,  IVFD Dextrose 5% 20 tpm
batuk berdahak (+), sesak (-)  Inj. Dexametasone 1 amp/12
S. makan : kurang jam/IV
S. minum : baik  Inj. Ceftriaxone
BAB : biasa 1,5gr/24jam/NSPB
BAK : lancar  Paracetamol 250mg/8
O : KU : Lemah jam/drips
T : 90/60 mmHg  Diazepam 3 x 2mg
N : 118 x/m  Ambroxol syr 3x1 cth
P : 36 x/m  Little U 1x1
S : 37,4 ‘ C
A :Bronchopneumia
Kejang Demam Sederhana
P :Terapi Lanjut
Hasil Foto Thorax :
Gambaran
Bronchopneumonia
14/12/2017
S : Demam (-), kejang (-), muntah  Cefixime syr 2x1/2 cth
(-), batuk berdahak berkurang  Ambroxol syr 3x1 cth
S. makan : baik  Little U syr 1x1 cth
S. minum : baik  Diazepam 3x2 mg
BAB : biasa
BAK : lancar
O : KU : Baik  BOLEH KRS
T : 90/60 mmHg
N : 110x/m
P : 36x/m
S : 36,7 ‘ C
A : Bronchopneumonia
Kejang demam sederhana
P :Rawat Jalan
Diagnosis Kerja

Berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisis,


dan pemeriksaan penunjang, pasien mengalami :
 Diagnosis Masuk : Hyperpirexia
 Diagnosis Keluar :Bronkopneumonia dan Kejang
Demam
Resume

Pasien masuk rumah sakit Pelamonia dengan


keluhan Demam (+) sejak tadi pagi, mual (+),
muntah (-), kejang (+) dirumah sekitar jam 14.30,
frekuensi 2kali dengan durasi sekitar 5 menit, flu
(+), batuk (+) sejak 2 hari, lendir (+), sesak (-).
Riwayat kejang pada usia 1,5 tahun dan usia 1 tahun.
Selera makan dan minum kurang, BAB biasa,
BAK lancar, status gizi baik, suhu 38,90C, heart rate
125 x/menit, respiratory rate 36 x/menit, keadaan
umum lemas, mata cekung (-), mulut kering (- ),
trugor baik, bunyi pernapasan bronkovesikuler,
bunyi tambahan Rh -/- Wh -/-, peristaltik normal.
Pemeriksaan Darah Rutin Pengobatan

07/21/2017  IVFD Dextrose 5% 20


 WBC : 6.41 (10^3/uL) tpm
 RBC : 4.69 (10^6/uL)
 Paracetamol 200mg/8
 HGB : 11,5 (g/dL)
 HCT : 36.2 (%)
jam/drips
 MCV : 69.7 (fL)  Inj. Cefriaxone 1,5gr/24
 MCH : 24.5 (pg) jam/IV
 MCHC : 31.8 (g/dL)  Luminal 60 mg/12
 PLT : 220 (10^3/uL) jam/oral
 LED : 10 mm/jam
Diskusi
Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil dari anamnesis, tanda
dan gejala klinis serta pemeriksaan penunjang.
Dari hasil anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang dapat disimpulkan bahwa pasien menderita Kejang Demam
Komplikata. Dapat dilihat dari hasil anamnesis pasien awalnya masuk
dengan keluhan demam dengan riwayat kejang dirumah 2kali dan
keluarga pasien juga mengatakan bahwa pasien pernah mengalami
kejang saat usia 1 dan 1,5 tahun, lalu setelah 3 hari pasien mengeluh
batuk berlendir, dan demam naik kembali sesuai dengan gelaja klinis
bronkopneumonia yaitu suhu dapat naik secara mendadak sampai 39-
40C dan mungkin disertai kejang karena demam yang tinggi,anak
sangat gelisah, dispnu, pernafasan cepat dan dangkal disertai
pernafasan cuping hidung dan sianosis di sekitar hidung dan mulut.
Batuk biasanya tidak dijumpai pada awal penyakit,anak akan
mendapat batuk setelah beberapa hari, di mana pada awalnya berupa
batuk kering kemudian menjadi produktif. Dan dari hasil foto thoraks
menunjukkan pasien menderita bronkopneumonia.
Dari pengukuran status gizi , pasien termaksud dalam gizi baik
sesuai dengan score WHO (-2SD - -1SD), dari hasil anamnesis pasien
yang kurang makan dan minum, serta dari penampilan anak yang
terlihat baik.
Etiologi

Bakteri Patogen
 Neonatus
E. Coli, Streptococcus group B, Listeria monocytogenes
Klebsiella sp, Enterobacteriaceae
 1-3 bulan
Chlamydia trachomatis
 Usia prasekolah
Chlamydia pneumoniae, Mycoplasma pneumoniae
Haemophillus influenzae B, Streptococcus pneumoniae
Staphylococcus aureus
 Usia sekolah
Chlamydia pneumoniae, Mycoplasma pneumoniae
Streptococcus pneumoniae
Patofisiologi
Manifestasi Klinis

1. Pada inspeksi terlihat setiap nafas terdapat


retraksi otot epigastrik, interkostal, suprasternal,
dan pernapasan cuping hidung.
2. Pada palpasi ditemukan vokal fremitus yang
simetris.
3. Pada perkusi tidak terdapat kelainan
4. Pada auskultasi ditemukan crackles sedang
nyaring.
Diagnosis

Diagnosis ditegakkan bila ditemukan 3 dari 5 gejala


berikut (Bradley et.al., 2011):
1. Sesak napas disertai dengan pernafasan cuping hidung
dan tarikan dinding dada
2. Panas badan
3. Ronkhi basah halus-sedang nyaring (crackles)
4. Foto thorax menunjukkan gambaran infiltrat difus
5. Leukositosis (pada infeksi virus tidak melebihi
20.000/mm3 dengan limfosit predominan, dan bakteri
15.000-40.000/mm3 neutrofil yang predominan)
Pemeriksaan Penunjang

 Pemeriksaan radiologi
 Pemeriksaan laboratorium
Penatalaksaan
1. Penatalaksaan Umum
a. Pemberian oksigen lembab 2-4 L/menit.
b. Pemasangan infus untuk rehidrasi dan koreksi elektrolit.
c. Asidosis diatasi dengan pemberian bikarbonat intravena.
2. Penatalaksanaan Khusus
a. Mukolitik, ekspektoran dan obat penurun panas sebaiknya tidak
diberikan pada 72 jam pertama karena akan mengaburkan interpretasi
reaksi antibioti awal.
b. Obat penurun panas diberikan hanya pada penderita dengan suhu
tinggi, takikardi, atau penderita kelainan jantung
c. Pemberian antibiotika berdasarkan mikroorganisme penyebab dan
manifestasi klinis. Pneumonia ringan  amoksisilin 10-25
mg/kgBB/dosis (di wilayah dengan angka resistensi penisillin tinggi
dosis dapat dinaikkan menjadi 80-90 mg/kgBB/hari).
Komplikasi

Komplikasi biasanya sebagai hasil langsung dari


penyebaran bakteri dalam rongga thorax (seperti
efusi pleura, empiema dan perikarditis) atau
penyebaran bakteremia dan hematologi. Meningitis,
artritis supuratif, dan osteomielitis adalah
komplikasi yang jarang dari penyebaran infeksi
hematologi (Bradley et.al., 2011).
Pencegahan

 Memberikan imunisasi BCG satu kali (pada usia 0-11


bulan), Campak satu kali (pada usia 9-11 bulan), DPT
(Diphteri, Pertusis, Tetanus) sebanyak 3 kali (pada usia
2-11 bulan), Polio sebanyak 4 kali (pada usia 2 -11 bulan),
dan Hepatitis B sebanyak 3 kali (0-9 bulan).
 Menjaga daya tahan tubuh anak dengan cara memberika
ASI pada bayi neonatal sampai berumur 2 tahun dan
makanan yang bergizi pada balita.
 Mengurangi polusi lingkungan seperti polusi udara
dalam ruangan dan polusi di luar ruangan.
 Mengurangi kepadatan hunian rumah
KEJANG DEMAM
Etiologi

 Etiologi dan patogenesis kejang demam sampai saat ini


belum diketahui, akan tetapi umur anak, tingginya dan
cepatnya suhu meningkat mempengaruhi terjadinya
kejang. Faktor hereditas juga mempunyai peranan yaitu
8-22 % anak yang mengalami kejang demam memiliki
orangtua yang memiliki riwayat kejang demam pada
masa kecilnya.
 Kejang demam biasanya diawali dengan infeksi virus
atau bakteri. Penyakit yang paling sering dijumpai
menyertai kejang demam adalah penyakit infeksi saluran
pernapasan, otitis media, dan gastroenteritis.
Patofisilogi
Manifestasi Klinis

 Kejang demam dapat dimulai dengan kontraksi yang


tiba-tiba pada otot kedua sisi tubuh anak.
 Kontraksi pada umumnya terjadi pada otot wajah,
badan, tangan dan kaki.
 Anak dapat menangis atau merintih akibat kekuatan
kontraksi otot.
 Kontraksi dapat berlangsung selama beberapa detik atau
beberapa menit.
 Anak akan jatuh apabila sedang dalam keadaan berdiri,
dan dapat mengeluarkan urin tanpa dikehendakinya.
 Anak dapat muntah atau menggigit lidahnya. Sebagian
anak tidak bernapas dan dapat menunjukkan gejala
sianosis
Klasifikasi Kejang Demam

Kejang demam sederhana


 Kejang berlangsung singkat < 15 menit
 Kejang umum tonik dan atau klonik
 Akan berhenti sendiri
 Tanpa gangguan fokal atau berulang dalam waktu 24 jam
Kejang demam kompleks
 Kejang lama > 15 menit
 Kejang fokal atau parsial 1 sisi (kejang umum didahului
kejang parsial)
 Berulang atau lebih dari 1 kali dalam 24 jam.
Diagnosis

Anamnesis
 Kesadaran sebelum dan sesudah kejang (menyingkirkan diagnosis
meningitis encephalitis)
 Riwayat gangguan neurologis (menyingkirkan diagnosis epilepsi)
 Riwayat demam (sejak kapan, timbul mendadak atau perlahan, menetap
atau naik turun)
 Menentukan penyakit yang mendasari terjadinya demam (infeksi saluran
napas, otitis media, gastroenteritis)
 Waktu terjadinya kejang, durasi, frekuensi, interval antara 2 serangan
kejang
 Sifat kejang (fokal atau umum)
 Bentuk kejang (tonik, klonik, tonik-klonik)
 Riwayat kejang sebelumnya (kejang disertai demam maupun tidak disertai
demam atau epilepsi)
 Riwayat keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan
 Trauma
Pemeriksaan Fisis
 Temperature tubuh
 Pemeriksaan untuk menentukan penyakit yang
mendasari terjadinya demam (infeksi saluran napas,
otitis media, gastroenteritis)
 Pemeriksaan reflex patologis
 Pemeriksaan tanda rangsang meningeal
(menyingkirkan diagnosis meningitis, encephalitis)
Pemeriksaan Penunjang
 Pemeriksaan elektrolit, pemeriksaan fungsi hati dan ginjal untuk
menyingkirkan gangguan metabolisme yang menyebabkan perubahan
homeostasis apabila pada anamnesis ditemukan riwayat muntah, diare,
gangguan asupan cairan, dan gejala dehidrasi.
 Pemeriksaan Cerebro Spinal Fluid (CSF) untuk menyingkirkan diagnosis
meningitis encephalitis apabila anak berusia kurang dari 12 bulan,
memiliki tanda rangsang meningeal positif, dan masih mengalami kejang
beberapa hari setelah demam
 CT Scan cranium pada umumnya tidak diperlukan pada kejang demam
sederhana yang terjadi pertama kali, akan tetapi dapat dipertimbangkan
pada pasien yang mengalami kejang demam kompleks untuk menentukan
jenis kelainan struktural berupa kompleks tunggal atau multipel.
 EEG pada kejang demam tidak dapat mengindentifikasi kelainan yang
spesifik maupun memprediksikan terjadinya kejang yang berulang, tapi
dapat dipertimbangkan pada kejang demam kompleks.
Tatalaksana

Antipiretik dan Antibiotik


Antipiretik diberikan sebagai pengobatan
simptomatis terhadap demam. Dapat diberikan
paracetamol dengan dosis untuk anak yang
dianjurkan 10-15 mg/kgBB/hari tiap 4-6 jam atau
ibuprofen 5-10 mg/kgBB/hari tiap 4-6 jam.
Antibiotik untuk mengatasi infeksi yang menjadi
etiologi dasar demam yang terjadi
Kesimpulan

Bronkopneumonia merupakan radang dari saluran


pernapasan yang terjadi pada bronkus sampai dengan
alveolus paru. Saluran pernapasan tersebut tersumbat oleh
eksudat yang mukopurulen, yang membentuk bercak-bercak
konsolidasi di lobulus yang berdekatan. Penyakit ini bersifat
sekunder yang biasanya menyertai penyakit ISPA (Infeksi
Salurann Pernapasan Atas), demam infeksi spesifik dan
penyakit yang melemahkan daya tahan tubuh. Sebagai infeksi
primer biasanya hanya dijumpai pada anak-anak dan orang
tua.
Insiden penyakit ini pada negara berkembang hampir
30% pada anak-anak di bawah umur 5 tahun dengan resiko
kematian yang tinggi, sedangkan di Amerika pneumonia
menunjukkan angka 13% dari seluruh penyakit infeksi pada
anak di bawah umur 2 tahun.
TERIMA KASIH