Anda di halaman 1dari 30

Capaian Program Bebas Pasung 2010-2015

Dr. dr. Fidiansjah, SpKJ. MPH

Direktorat Pencegahan & Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza,


Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Pasung

Pemasungan adalah suatu tindakan berupa


pengikatan dan atau pengekangan mekanis/fisik
lainnya dan atau penelantaran dan atau
pengisolasian sehingga merampas kebebasan
dan hak asasi seseorang, termasuk hak untuk
mendapatkan pelayanan kesehatan.
PROGRAM INDONESIA BEBAS PASUNG

Merupakan serangkaian upaya yang dilakukan untuk


mencegah pemasungan Orang Dengan Gangguan Jiwa
(ODGJ), melepaskan dan memberikan layanan
kesehatan (jiwa), serta mencegah terjadinya
pemasungan kembali.

Mewujudkan tugas negara untuk menghargai, melindungi


dan memenuhi (to respect, to protect and to fulfill)
kewajiban atas hak asasi kesehatan jiwa seluruh masyarakat
tanpa kecuali.
Dasar Hukum

 Undang-Undang RI No.39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi


Manusia
 Undang-Undang RI No.36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
 Undang-Undang RI No.18 Tahun 2014 tentang Kesehatan
Jiwa
 Undang-Undang RI No.23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah
 Undang-Undang RI No.8 Tahun 2016 tentang Disabilitas
 Perpres RI No.75 Tahun 2015 tentang RANHAM 2015-
2019
TUJUAN PROGRAM BEBAS PASUNG

Mencapai masyarakat Indonesia yang bebas dari


pemasungan terhadap ODGJ melalui:
 Peningkatan pengetahuan dari seluruh pemangku
kepentingan
 Pelayanan kesehatan jiwa yang berkualitas di tiap tingkat
 Skema pembiayaan yang memadai untuk semua bentuk
upaya kesehatan jiwa
 Kerja sama dan koordinasi lintas sektor di bidang upaya
kesehatan jiwa
 Terselenggaranya sistem monitoring dan evaluasi
Pasung di Indonesia menjadi perhatian Internasional

HUMAN RIGHTS WATCH


Apa Kemungkinan
Solusi Kita?

IRIN NEWS
Gangguan Jiwa Berat:
Kelompok Rentan Mengalami Pemasungan
DATA EPIDEMIOLOGI &
LAPORAN KASUS PASUNG

 Gangguan jiwa berat (psikotik): 1.7/1000 atau >400.000


penduduk*
 Sebanyak 14,3% (>57.000) dari penduduk yang
mengalami gangguan jiwa berat, mengatakan pernah
dipasung.
Riset Kesehatan Dasar, 2013

Cat: Estimasi jumlah penduduk tahun 2015 berdasarkan BPS: 250 juta
penduduk
Riskesdas 2013
Terbatasnya Akses Layanan & Dampak terhadap
Kesenjangan Pengobatan (Treatment Gap)
Gangguan Jiwa di Indonesia

Di negara-negara
berpenghasilan rendah-
menengah termasuk
Indonesia, kesenjangan
pengobatan gangguan
jiwa dapat mencapai
>85%
 baru sekitar 15% orang
dengan gangguan jiwa
diterapi di fasilitas
Kohn, Saxena, Levav, Saraceno; 2004 kesehatan
REKAPITULASI DATA PASUNG DI INDONESIA
No Tahun Kasus Penemuan Kasus Penanganan
1. 2009 213 170

2. 2010 218 210

3. 2011 1258 1117

4. 2012 1582 1205

5. 2013 1783 1711

6. 2014 1637 1571

7. 2015 1999 1977

Total 8690 7961

Laporan Dinkes Provinsi, 2015

Kriteria Eksklusi: (1). Pindah ke provinsi lain; (2). Meninggal setelah ditemukan dan
belum sempat mendapatkan pelayanan kesehatan jiwa; (3). Penolakan dari keluarga
atau masyarakat
Tantangan dalam mengatasi pemasungan (1)

• Belum meratanya fasilitas pelayanan kesehatan rujukan


yang menyelenggarakan layanan kesehatan jiwa
– RSU dengan layanan jiwa: n=269 atau 60% of 445
– RSJ n=48 di 26 dari 34 provinsi
• Masih kurangnya SDM kesehatan terlatih keswa, distribusi
tidak merata, banyak di kota besar
– Profesional kesehatan jiwa: 3 per 100,000 populasi
• Psikiater: 839 (0.3 per 100,000 populasi)
• Psikolog klinis: 451 (0.19 per 100,000 populasi)
• Perawat jiwa: 6500 (2 per 100,000 populasi)
Data tahun 2014
Peta Sebaran RSJ di Indonesia

• 33 RS Jiwa Pemerintah dan 1 RSKO di 27 Prov (34 Prov) di Indonesia


• 8 Provinsi tidak mempunyai RSJ yaitu : Kep Riau, Banten, Gorontalo, Kaltara,
NTT, Sulbar, Malut dan Papua Barat
• 3 Provinsi yang tidak memiliki psikiater: Kepri, Malut dan Papua Barat
Tantangan dalam mengatasi pemasungan (2)

• Masih besarnya stigma dan kurangnya pemahaman


masyarakat terhadap gangguan jiwa
• Kurangnya koordinasi lintas sektor di lapangan
• Masih diperlukan regulasi/dasar hukum dalam
pelaksanaan
• Masih diperlukan penataan sistem informasi/data
2016
2015 - Perbaikan
sistem
2014 Mapping
Monev ulang untuk monev
2013 program kebijakan - Data dan
selanjutnya informasi
- Penguatan bebas terpadu
sarana - Review dan
2012 pasung
- Obat - penyempurnaan
- Penguatan - Pemberdayaan NSPK
SDM masyarakat - Penyusunan
2011 - Membangun regulasi turunan
- Penyediaan
komitmen LP-LS UU
- Sosialisasi obat2an - Memperkuat
- Penyediaan - Membangun kerjasama LS
Peraturan komitmen LP-LS
- Mapping
kasus
Upaya yang telah dilakukan
dalam kurun waktu 2010-2015

A. Kebijakan dan regulasi


 Undang-Undang No. 18/2014 tentang Kesehatan Jiwa
dan proses penyusunan regulasi turunan UU (RPP,
Perpres)
 Mengintegrasikan kebijakan yang mendukung Program
Bebas Pasung masuk dalam kebijakan nasional bidang
kesehatan (RPJMN/RKP, Renstra, Peta Strategi
Keswamas, indikator Keluarga Sehat, RAN HAM)
 Review dan penyempurnaan draft Pedoman
Pencegahan dan Penanggulangan Pemasungan pada
ODGJ
B. Pembiayaan yang mendukung Program Bebas Pasung
 Di tingkat pusat mengalami peningkatan, ± 10
provinsi secara konsisten menganggarkan program
kesehatan jiwa
 Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) keswa masuk
dalam JKN
 Keswa dapat menggunakan dana BOK (bagi Upaya
Kesehatan Masyarakat/UKM)
 Penyediaan dana dekonsentrasi bagi provinsi
C. Advokasi dan sosialisasi yang intensif kepada LPLS
Pusat dan Daerah
D. Organisasi layanan
– Mengintegrasikan kesehatan jiwa dalam layanan primer
– Penguatan sistem rujukan
– Mengintegrasikan dan memperbaiki layanan kesehatan jiwa
dalam asuransi nasional/JKN.
– Kolaborasi dengan sektor sosial dalam layanan kesehatan jiwa
– Meningkatkan peran serta masyarakat dengan melibatkan
keluarga dan ODGJ
– Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat melalui
kampanye publik
E. Pengembangan SDM keswa
– Pelatihan bagi tenaga kesehatan non-spesialis (dokter,
perawat, bidan)
– 700 dokter dan perawat dari 350 PKM di 15 prov telah dilatih
sejak tahun 2011
– 355 dokter dan perawat RSU telah dilatih tahun 2010-2014
– Workshop/sosialisasi bagi kader dan consumer groups
– tahun 2011-2014: sekitar 750 orang
– Akreditasi kurikulum dan modul pelatihan

F. Infrastruktur dan sumber daya lain


menambahkan obat psikofarmaka dalam daftar obat esensial
nasional, penyediaan obat program (injeksi long acting)
Evaluasi Program Bebas Pasung: Regulasi

• Pemerintah Daerah yang telah memiliki Regulasi yang


Mendukung Program Bebas Pasung
PROVINSI JENIS REGULASI KABUPATEN/KOTA JENIS
REGULASI
NAD Dalam Perda Kesehatan Kab. Hulu Sungai SK Bupati
Jatim Dalam Perda Kesehatan Selatan (Kalsel)

Jateng Peraturan Gubernur


DIY Peraturan Gubernur
NTB Peraturan Gubernur
Babel Peraturan Gubernur
Sumsel Peraturan Gubernur
Jambi SK Gubernur

Provinsi yang sedang berproses dalam regulasi: Jawa Barat dan Banten
Evaluasi Program Bebas Pasung

• Dari pengumpulan data evaluasi pasung yang terkumpul ada


beberapa hal yang perlu dicermati, yaitu:
– Sebagian provinsi telah mengalokasikan anggaran (APBD)
dalam mendukung Program Bebas Pasung, sebagian besar
untuk pertemuan/sosialisasi, pelatihan, bimtek monev  belum
difokuskan pada upaya promotif preventif dan pemberdayaan
masyarakat.
– Masih diperlukan perbaikan dan perubahan dalam instrumen
utk pencatatan dan pelaporan data pasung mengingat
kebutuhan data yang lebih kompleks.
– Masih belum terlaksananya kegiatan kerjasama lintas sektor
dalam penanggulangan pemasungan.
Evaluasi Program Bebas Pasung:
PKM yang menyelenggarakan upaya keswa
sesuai kriteria

• Indikator PKM yang menyelenggarakan upaya keswa


kurun waktu 2015-2019 mengalami peningkatan standar
dalam definisi operasional sesuai kebutuhan layanan di
masyarakat. Banyak PKM yang tidak dapat terhitung
dalam target karena tidak sesuai kriteria walaupun
melakukan layanan keswa.
• Terdapat ketidaksinambungan ketersediaan obat jiwa di
puskesmas
• Tenaga kesehatan terlatih cepat berpindah lokasi
kerja/mutasi
Indikator yang mendukung peningkatan akses
layanan kesehatan jiwa dalam Matriks K/L RPJMN
2015-2019 & Rencana Kerja Pemerintah 2016
PROGRAM/ INDIKATOR TARGET
KEGIATAN

2015 2016 2017 2018 2019

Integrasi Jumlah Kab/Kota yang memiliki 80 130 180 230 280


keswa di PKM yang menyelenggarakan
layanan upaya kesehatan jiwa
primer
Kriteria:
• Nakes terlatih
• Melakukan upaya promotif
preventif
• Melakukan deteksi dini dan
tata laksana
Indikator yang mendukung peningkatan akses
layanan kesehatan jiwa dalam perubahan
Renstra Kementerian Kesehatan 2015-2019
PROGRAM/ INDIKATOR TARGET
KEGIATAN 2015 2016 2017 2018 2019
Integrasi Jumlah Kab/Kota yang memiliki 20% 80 130 180 230 280
keswa di PKM yang menyelenggarakan upaya
layanan kesehatan jiwa
primer Kriteria:
• Nakes terlatih
• Melakukan upaya promotif
preventif
• Melakukan deteksi dini dan
tata laksana

Provinsi Jumlah Provinsi yang - 5 10 15 20


yang menyelenggarakan program bebas
menyeleng- pasung:
garakan • Memiliki kebijakan dan perencanaan
program keswa dlm program bebas pasung
bebas • Memiliki tim koordinasi keswamas
pasung (LPLS)
Potensi dalam Perbaikan dan Akselerasi
Program Bebas Pasung (1)

• Kesadaran akan pentingnya kesehatan jiwa semakin


meningkat di lintas sektor dan pemda – membuka peluang
terbentuknya kebijakan dan regulasi yang mendukung
koordinasi upaya keswa dalam penanggulangan
pemasungan
• Alokasi anggaran bagi program kesehatan jiwa semakin
meningkat
• Masih ada SDM yang dapat ditingkatkan perannya secara
optimal, a.l: petugas promosi kesehatan, peneliti,
masyarakat
Potensi dalam Perbaikan dan Akselerasi
Program Bebas Pasung (2)

• Kesempatan untuk melakukan perbaikan dalam sistem


monitoring dan evaluasi
– instrumen yang jelas dan mampu laksana
– Implementasi secara rutin
• Keswa terintegrasi dalam sistem informasi terpadu
– Kesehatan jiwa masuk dalam Sistem Pencatatan dan Pelaporan
Tingkat Puskesmas (SP2TP)
• Kerjasama dengan sektor swasta dalam pelaksanaan
kampanye publik yang lebih masif kepada masyarakat
RENCANA KE DEPAN

• Memperbaiki sistem monitoring dan evaluasi, data dan


informasi
• Melengkapi pedoman yang dibutuhkan dalam implementasi
program/layanan keswa dalam mendukung program bebas
pasung
• Meningkatkan pengetahuan/keterampilan keswa (klinis dan
manajemen) yang berkesinambungan dan supervisi
• Meningkatkan fasilitas dan sarana prasarana layanan keswa
• Edukasi dan peningkatan peran serta masyarakat
• Membuat regulasi dan kebijakan yang mendukung
kolaborasi lintas sektor