Anda di halaman 1dari 75

Materi Perkuliahan :

Hukum Pembuktian
Program Strata Satu
Fakultas Hukum
Universitas Muhammadiyah Jakarta

Prof. Dr Syaiful Bakhri, SH.MH.


MAKNA HUKUM PEMBUKTIAN
DALAM ISTILAH

• Merujuk kepada makna


Berasal fisik seperti:
dari • Barang bukti, Alat Bukti,
“evidence” Bukti

Evidence Law
(Hukum Pembuktian)
• Merujuk kepada kesimpulan
Berasal atas keseluruhan makna fisik
dari alat bukti
• Merujuk kepada proses
“Proof” hukum dalam sistem
peradilan
MAKNA HUKUM PEMBUKTIAN
MENURUT AHLI

Menurut Ian Dennis


“Evidence is Information. It is information that provides
grounds for belief that a particular fact or set of fact is true.
Proof is a term with a variable meaning. In legal discourse it
may refer to the outcome of the process of evaluating
evidence and drawing inferences from it, or it may be used
more widely to refer to the process itself and/or to the
evidence which is being evaluated”

Menurut Lilik Mulyadi


Pembuktian adalah perbuatan membuktikan
dengan memberi atau memperlihatkan bukti,
melakukan sesuatu sebagai kebenaran,
melaksanakan, menandakan, menyaksikan dan
meyakinkan
MAKNA HUKUM PEMBUKTIAN
DALAM ISTILAH

Menurut R Subekti
Membuktikan ialah meyakinkan hakim tentang
kebenaran dalil atau dalil-dalil yang dikemukakan
dalam suatu persengketaan.

Menurut Yahya Harahap


Pembuktian sebagai ketentuan-ketentuan yang
berisi penggarisan dan pedoman tentang tata cara
yang dibenarkan undang-undang membuktikan
perbuatan yang dinyatakan bertentangan dengan
hukum
MAKNA HUKUM PEMBUKTIAN
DALAM ISTILAH

Menurut Bambang Poernomo


Keseluruhan hokum atau perundang-undangan mengenai
kegiatan untuk merekonstruksi suatu kenyataan yang benar
pada setiap kejadian masa lalu yang relevan dengan
persangkaaan terhadap orang yang diduga melakukan
perbuatan pidana.

Menurut Syaiful Bakhri


Penggarisan dan pedoman tentang cara-
cara yang dibenarkan undang-undang,
untuk membuktikan kesalahan yang
didakwakan
MAKNA HUKUM PEMBUKTIAN
DALAM ISTILAH

Menurut Phyllis B. Gerstenfeld


Aturan yang menentukan dapat
diterimanya semua bentuk bukti di
pengadilan.

Menurut Eddy OS Hiraej


Ketentuan yang meliputi alat bukti, barang
bukti, cara mengumpulkan dan memperoleh
bukti sampai pada penyampaian bukti
dipengadilan serta kekuatan pembuktian dan
beban pembuktian
ARTI PENTING HUKUM
PEMBUKTIAN

Membenarkan Hubungan hukum

Membuktikan Bantahan

Mendapatkan kebenaran atas


perbuatan/peristiwa hukum
Asas-Asas Pembuktian secara
Umum
Due Process of law
• Seperangkat prosedur yang disyaratkan oleh
hukum sebagai standar beracara yang
berlaku universal (contoh: Miranda Warning)

Presumption of Innocence
• Praduga bahwa seseorang harus dianggap
tidak bersalah kecuali mampu dibuktikan
sebaliknya oleh pengadilan
Asas-Asas Pembuktian secara
Umum
Asas Legalitas
• Seseorang tidak dapat dinyatakan telah melakukan
perbuatan melanggar hukum tanpa adanya hukum
yang telah mengatur perbuatan itu terlebih dahulu
(nullum delictum noela poena sine preavia lege
poenali)
Adversarial Principles
• Setiap pihak berhak mengajukan bukti-bukti yang
berlawanan satu sama lain yang dimaksudkan
mematahkan dalil lawan (peradilan seimbang)
Asas-Asas Pembuktian secara
Umum
Clear and Convincing Evidence
• Bahwa para pihak yang berperkara berhak
menilai kekuatan pembuktian dan nilai
pembuktian yang diajukan oleh pihak lawan

Beyond a Reasonable Doubt


• Bahwa hakim harus dapat memutus
perkara tidak boleh dalam keragu-raguan
meskipun alat bukti telah dinyatakan cukup
Asas-Asas Pembuktian secara
Umum
Judex ne procedat ex officio
• Bahwa hakim bersifat pasif, tanpa adanya
penggugat atau penuntut maka tidak ada
hakim

Actus Dei Nemini Facit Injuriam


• Tidak seorang pun dapat dipertanggung
jawabkan atas kerugian akibat kecelakaan
yang tidak dapat dihindari
Asas-Asas Pembuktian secara
Umum
Negativa non sunt probanda
• Bahwa pembuktian negative adalah
pembuktian yang sangat sulit

Unus testis Nullus Testis


• Satu saksi bukanlah saksi, dan tidak
memiliki kekuatan pembuktian yang
meyakinkan
Asas-Asas Pembuktian secara
Umum
Persona Standi Injudicio /legal standing
• Orang yang berwenang memohon atau mengugat
adalah orang yang mempunyai kerugian atas yang
dimohonkan atau sebab akibat (causal verband)

Plaintiff
• Bahwa pihak yang dapat memohonkan ganti
kerugian harus pihak yang telah factual
mengalami kerugian
Asas-Asas Pembuktian secara
Umum
Discovery
• Bahwa para pihak yang berperkara harus
mengungkapkan hubungan hukum pada pihak
sebelum berperkara dipengadilan

Directed Verdict
• Bahwa putusan dijatuhkan hakim karena
ketidakmampuan salah satu pihak untuk
menyodorkan bukti-bukti yang cukup untuk
mendukung posisinya.
Asas-Asas Pembuktian secara
Umum
Unlawful Legal Evidence
•Bahwa alat bukti haruslah dilakukan
secara sah dan legal

Probatio Piena
•Bahwa pembuktian perdata
dilakukan secara formil
Asas-Asas Pembuktian secara
Umum

Audi et alteram partem


•Bahwa hakim harus
mendengar kedua belah
pihak secara adil sebelum
mengambil keputusan
Asas-Asas Pembuktian secara
Umum
Ius curia novit
• Bahwa hakim tidak boleh menolak suatu
perkara dikarenakan alasan tidak ada
hukumnya

Presumtio iustae cause


• Bahwa suatu peraturan atau perundang-
undangan dianggap sah selama belum
dinyatakan sebaliknya oleh pengadilan
Asas-Asas Pembuktian secara
Umum
Normative Constitutional Theory
• Bahwa undang-undang telah menentukan
terlebih dahulu kepada pihak mana yang
dibebankan pembuktian

Affirmative Constitutional Theory


• Bahwa beban pembuktian dipikulkan
kepada pihak yang menyatakan bahwa
suatu peraturan dinyatakan inkonstitusional
Asas-Asas Pembuktian secara
Umum
Beleidheid theory
• Bahwa beban pembuktian diberikan kepada
siapa yang secara patut mempunyai
kedudukan yang lebih kuat
Subjectief theory
• Bahwa siapa yang mengugat atas hak
subjektif, maka dia yang membuktian atas
hak subjektif maupun hak objektifnya
Asas-Asas Pembuktian secara
Umum
Presumption of Constitutionality
• Bahwa semua UU dianggap konstitusional
sebelum dinyatakan sebaliknya oleh
pengadilan

Presumption of liberty
• Bahwa semua peraturan perundang-undangan
diasumsikan membatasi kebebasan kecuali
dibuktikan sebaliknya oleh pengadilan
Membuktikan mengandung beberapa pengertian :

1. Dalam arti logis


Berdasar pada suatu axioma, yaitu asas-asas umum yang dikenal dalam ilmu pengetahuan
dimana dimungkinkan adanya pembuktian yang bersifat mutlak yang tidak memungkinkan
adanya bukti lawan

Axioma dihubungkan dengan ketentuan-ketentuan logika dengan pengamatan yang diperoleh


dari pengalaman sehingga memperoleh kesimpulan yang memberi kepastian yang bersifat
mutlak

2. Dalam arti konvensionil


Conviction intime Kepastian yg didasarkan pd perasaan belaka

Conviction raisoninee Kepastian yg didasarkan pd pertimbangan akal

3. Dalam arti yuridis

1. Tidak menuju pada kebenaran mutlak → bukti lawan


2. Merupakan pembuktian histories → mencoba menetapkan apa yang telah terjadi secara
konkreto
3. Pengamatannya tidak langsung
Karakter Hukum Pembuktian
Tidak ada satu
Hukum pembuktian
kesatuan hukum
Wilayah Kajian yang terikat kasus. Oleh
pembuktian.
luas. Yakni meliputi karena itu
Masing-masing
Pembuktian, perkembangan
cabang dalam kajian
pengumpulan bukti, pembuktian juga
ilmu hukum
penyampaian bukti, dipengaruhi
mempunyai
penilaian bukti, dan perkembangan
mekanisme
beban pembuktian teknologi dan
pembuktian masing-
informasi
masing
Parameter Hukum Pembuktian
• Hukum pembuktian terikat dengan beberapa
parameter yakni:
– Bewijstheorie (teori pembuktian)
• Conviction intime
• Conviction raisonee
• Positief wettelijk
• Negatief wettlijk
• Pembuktian berdasarkan KUHAP
– Bewijsmiddelen (alat bukti)
– Bewijs Voering (penyampaian alat bukti)
– Bewijslast (beban pembuktian)
– Bewijskracht (kekuatan pembuktian)
– Bewijsminimum (alat bukti minimum)
Teori Tentang Beban Pembuktian :

1. Teori pembuktian yang bersifat menguatkan belaka ( bloot affirmative )


Siapa yang mengemukakan sesuatu harus membuktikannya, jadi bukan yang
mengingkari/menyangkalnya

2. Teori hukum subyektif


Siapa yang mengemukakan/mengaku mempunyai suatu hak, harus membuktikannya

Peristiwa Umum Tergugat

Yang menimbulkan hak


Peristiwa (Rechtserzeugende
Tatsachen)

Menghalang-halangi
Peristiwa khusus timbulnya hak
(Rechtshindirnde
Tatsachen)

Membatalkan hak
(Rechtsvernichtende
Tatsachen)
Pembuktian dalam
Peradilan Perdata
PEMBUKTIAN BERDASAR
HUKUM ACARA PERDATA
1. Bersifat Mencari kebenaran formil
2. Tidak disyaratkan adanya keyakinan hakim
3. Alat bukti harus memenuhi syarat formil dan materiil
4. Hakim wajib menerapkan hukum pembuktian

Pasal 163 HIR (Pasal 283 Rbg, Pasal 1865 BW)

“Barang siapa yang mengaku mempunyai suatu hak, atau


mengemukakan suatu peristiwa (keadaan) untuk menguatkan
haknya, atau membantah hak orang lain, maka ia harus membuktikan
adanya hak atau peristiwa itu.”

peristiwa atau hak yang


mengandung sengketa dan relevan
dengan pokok perkara
Hal-hal yang tidak perlu dibuktikan :
1. Peristiwa yang memang dianggap tidak perlu diketahui
a. Tergugat mengakui gugatan;
b. Dilakukan sumpah decisoir;
a. Referte

2. Hakim secara ex officio mengenal peristiwanya


a. Peritiwa notoir

pertiwa yang dapat diketahui dari sumber-sumber yang umum tanpa mengadakan
penelitian yang berarti dan memberi kepastian yang cukup untuk digunakan sebagai
alasan pembenar untuk suatu tindakan yang bersifat kemasyarakatan yang serius

RI merdeka 17 Agustus 1945 hari selasa

b. Peristiwa-peristiwa yang terjadi dipersidangan dimuka hakim yang memeriksa perkara

1) Tergugat tidak datang


2) Tergugat mengakui gugatan

3. Pengetahuan tentang pengalaman


kesimpulan perdasarkan pengetahuan umum.

mobil melaju 100 km/jam tidak dapat dihentikan seketika


Macam kekuatan pembuktian

1. Bukti mengikat dan menentukan


2. Bukti sempurna
3. Bukti bebas
4. Bukti Permulaan
5. Bukti bukan bukti

1. Bukti mengikat dan menentukan

sekalipun hanya ada satu alat bukti, telah cukup bagi hakim untuk memutus
perkara berdasarkan alat bukti tersebut tanpa membutuhkan alat bukti lain

tidak dapat dilumpuhkan dengan bukti lawan

sumpah decisoir (Pasal 156 HIR, Pasal 183 Rbg), sumpah dilatoir (Pasal
177 HIR, Pasal 183 Rbg), Pengakuan (Pasal 174 HIR, Pasal 311 Rbg)
2. Bukti sempurna

meskipun hanya ada satu alat bukti, telah cukup bagi hakim untuk
memutus perkara

kecuali jika dapat dibuktikan sebaliknya

a. akta otentik (Pasal 165 HIR, Pasal 285 Rbg),


b. Pasal 1394 BW (apabila tergugat dapat menunjukkan tiga kwitansi
pembayaran tiga bulan berturut-turut, maka angsuran yang
sebelumnya harus dianggap telah lunas),
c. Pasal 1965 BW (itikad baik selamanya harus dianggap ada,
sedangkan siapa yang menunjuk pada itikad buruk diwajibkan
membuktikan)
3. Bukti bebas
Hakim bebas untuk menilai sesuai dengan pertimbangan yang logis
a. saksi yang disumpah (Pasal 172 HIR, Pasal 307 Rbg), meskipun ada 10 orang
saksi, jika hakim ragu-ragu, maka hakim tidak terikat atau wajib mempercayai
saksi-saksi tersebut.
b. Saksi ahli (Pasal 154 HIR, Pasal 181 Rbg),
c. Pengakuan di luar sidang (Pasal 175 HIR, Pasal 312 Rbg)

4. Bukti Permulaan

sekalipun alat bukti tersebut sah dan dapat dipercaya kebenarannya, tetapi belum
mencukupi syarat formil sebagai alat bukti yang cukup

perlu (harus) ditambah dengan alat bukti lain

hakim bebas dan tidak terikat dengan alat bukti tersebut

a. saksi yang terdiri dari satu orang (Pasal 136 HIR, 306 Rbg), sehingga harus
ditambah dengan alat bukti lain seperti sumpah supletoir,
b. akta di bawah tangan yang dipungkiri tanda tangan dan isinya oleh yang
bersangkutan (Pasal 165 HIR, Pasal 289 Rbg)
5. Bukti bukan bukti

sekalipun suatu alat bukti tampak memberi keterangan yang mendukung


kebenaran suatu peristiwa, tetapi alat bukti tersebut tidak memenuhi syarat
formil sebagai alat bukti yang sah

tidak mempunyai kekuatan pembuktian

saksi yang tidak disumpah (Pasal 145 (4) HIR, 172 Rbg), saksi yang
belum cukup umur 15 tahun, foto-foto, rekaman kaset/ video, kesaksian
tak langsung (Pasal 717 HIR, Pasal 308 Rbg)
ALAT-ALAT BUKTI
1. ALAT BUKTI TERTULIS
DASAR HUKUM :
Pasal 138, 165, 167 HIR, Pasal 164, 285-305 Rbg, S 1867 no 29 dan Pasal 1867-
1894 BW, Pasal 138-147 RV
akta yang dibuat oleh atau di hadapan pejabat yang diberi wewenang
untuk itu dan dalam bentuk menurut ketentuan yang ditetapkan untuk
itu, baik dengan maupun tanpa bantuan dari yang berkepentingan, di
tempat di mana pejabat berwenang menjalankan tugasnya
(Pasal 1868 BW).

Kekuatan pembuktiannya telah melekat pada akta itu secara


sempurna.

bukti sempurna
akta yang dibuat oleh para pihak dengan sengaja untuk pembuktian,
tatapi tanpa bantuan dari seseorang.
Pasal 286 sampai dengan Pasal 305 Rbg, Pasal 1874 – 1180 BW

baru mempunyai kekuatan bukti materiil jika telah dibuktikan kekuatan


formilnya dan kekuatan formilnya baru terjadi setelah pihak-pihak yang
bersangkutan mengakui akan kebenaran isi dan cara pembuatan akta
tersebut, dan bagi hakim merupakan bukti bebas.
Perbedaan antara Akta Otentik dan Akta Di Bawah Tangan

1. Akta otentik merupakan suatu akta yang sempurna, sehingga mempunyai bukti baik
secara formil maupun materiil. Kekuatan pembuktiannya telah melekat pada akta itu
secara sempurna. Jadi bagi hakim akta otentik merupakan bukti sempurna. Sedang akta
di bawah tangan baru mempunyai kekuatan bukti materiil jika telah dibuktikan kekuatan
formilnya dan kekuatan formilnya baru terjadi setelah pihak-pihak yang bersangkutan
mengakui akan kebenaran isi dan cara pembuatan akta tersebut, dan bagi hakim
merupakan bukti bebas.

2. Untuk akta otentik kerap terjadi grosse akta yang mempunyai kekuatan eksekutorial,
sama dengan putusan hakim. Sedang akta di bawah tangan tidak pernah.

3. Akta otentik mesti terdaftar pada register untuk itu dan tersimpan pada pejabat yang
membuatnya/dibuat dihadapannya, sehingga kemungkinan akan hilangnya akta sangat
kecil. Sedangkan akta di bawah tangan tidak terdaftar, sehingga kemungkinan hilangnya
lebih besar.

4. Akta otentik mempunyai tanggal pasti. Sedangkan akta di bawah tangan tidak selalu
demikian.
2. Saksi
Pasal 168-172 HIR(165-179 Rbg)
orang yang memberikan keterangan di muka sidang dengan memenuhi syarat-syarat
tertentu, tentang suatu peristiwa atau keadaan yang saksi lihat, dengar dan saksi alami
sendiri, sebagai bukti terjadinya peristiwa atau keadaan tersebut.

Syarat formil saksi :


1. berumur 15 tahun ke atas;
2. berakal sehat
3. tidak ada hubungan keluarga sedarah dan keluarga semenda dari salah satu pihak
menurut keturunan yang lurus, kecuali undang-undang menentukan lain;
4. tidak ada hubungan perkawinan dengan salah satu pihak, meskipun sudah bercerai
(Pasal 145 ayat (1) HIR);
5. tidak ada hubungan kerja dengan salah satu pihak dengan menerima upah (Pasal
144 ayat (2) HIR), kecuali undang-undang menentukan lain;
6. menghadap di persidangan (Pasal 141 ayat(2) HIR)
7. mengangkat sumpah sesuai dengan agama yang dianut (Pasal 147 HIR);
8. berjumlah sekurang-kurangnya dua orang untuk kesaksian suatu peristiwa, atau
dikuatkan dengan alat bukti lain (Pasal 169 HIR);
9. dipanggil masuk ke ruang sidang satu demi satu (Pasal 144 ayat (1)HIR);
10.memberi keterangan secara lisan (Pasal 147 HIR)
Syarat materiil untuk menjadi saksi :
1. menerangkan apa yang dilihat, didengar dan dialami
sendiri (Pasal 171 HIR, Pasal 308 Rbg);
2. diketahui sebab-sebab saksi mengetahui peristiwanya
(Pasal 171 ayat (1) HIR, Pasal 308 (1) Rbg);
3. bukan merupakan pendapat atau kesimpulan saksi
sendiri (Pasal 171 ayat (2) HIR, Pasal 308 ayat (2) Rbg);
4. saling bersesuaian satu sama lain (Pasal 170 HIR);
Setiap Orang Wajib Menjadi Saksi, Dengan Ancaman Sanksi Pidana
Bagi Yang Tidak Bersedia Menjadi Saksi (Pasal 224 KUHP)

1. Keluarga sedarah dan keluarga semenda menurut 1. Anak-anak yang belum mencapai umur
keturunan yang lurus dari salah satu pihak (Pasal 145 15 tahun (Pasal 145 ayat (1) sub (3) jo
ayat (1) sub (1) HIR, Pasal 172 ayat (1) sub (1) Rbg, ayat (4) HIR);
Pasal 1910 alinea 1 BW). Dalam hal ini, keluarga 2. Orang gila meskipum kadang-kadang
sedarah dan keluarga semenda menurut keturunan ingatannya terang atau sehat (Pasal
yang lurus dari salah satu pihak tidak boleh ditolak 145 ayat (1) sub 4 HIR, Pasal 172 ayat
sebagai saksi dalam perkara yang menyangkut (1) sub (5) Rbg, Pasal 1912 Bw)
perjanjian kerja, berhubungan dengan pemberian
nafkah dan penyelidikan tentang pencabutan
kekuasaan orang tua dan perwalian.
2. Suami atau isteri salah satu pihak, meskipun sudah tidak perlu disumpah (Pasal 145 ayat (4)
bercerai (Pasal 145 ayat (1) sub (2) HIR, Pasal 172 ayat HIR, Pasal 173 Rbg)
(1) sub (3) Rbg, Pasal 1910 alinea 1 BW)
Pasal 146 HIR (Pasal 174 Rbg, 1909 alinea 2 BW)

segolongan orang yang atas permintaannya dibebaskan dari


kewajiban untuk memberi kesaksian.

1. saudara laki-laki dan perempuan, serta ipar laki-laki dan perempuan dari
salah satu pihak,
2. keluarga sedarah menurut keturunan yang lurus dan saudara laki-laki dan
perempuan dari suami atau isteri salah satu pihak,
3. semua orang yang karena martabat, jabatan atau hubungan kerja yang
sah diwajibkan mempunyai rahasia, akan tetapi semata-mata hanya
tentang hal yang diberitahukan kepadanya karena jabatan, martabat atau
hubungan kerja yang sah saja.
3. Persangkaan

Pasal 173 HIR persangkaan dapat digunakan sebagai alat bukti, yaitu bahwa
persangkaan saja yang tidak disandarkan pada ketentuan
undang-undang hanya boleh diperhatikan oleh hakim pada
waktu menjatuhkan putusan, apabila persangkaan itu penting,
tertentu dan ada hubungan satu sama lain.

Pasal 1915 BW Pasal 1915 BW membedakan persangkaan menjadi dua, yaitu


persangkaan yang didasarkan atas undang-undang dan
persangkaan yang didasarkan atas kenyataan.

kesimpulan yang ditarik dari suatu peristiwa yang sudah dikenal atau dianggap
terbukti ke arah suatu peristiwa yang tidak dikenal atau tidak terbukti, baik
yang berdasarkan undang-undang ataupun kesimpulan yang ditarik oleh hakim.

Setiap peristiwa yang telah dibuktikan dalam persidangan dapat digunakan


sebagai persangkaan
Pasal 1916 BW

persangkaan-persangkaan yang oleh undang-undang dihubungkan dengan


perbuatan-perbuatan tertentu, antara lain :

1. perbuatan-perbuatan yang oleh undang-undang dinyatakan batal,


karena dari sifat dan keadannya saja dapat diduga dilakukan untuk
menghindari ketentuan-ketentuan undang-undang,
2. peristiwa-peristiwa menurut yang undang-undang dapat dijadikan
kesimpulan guna menetapkan hak pemilikan atau pembebasan dari
hutang,
3. kekuatan yang diberikan oleh undang-undang kepada putusan hakim,
4. kekuatan yang diberikan oleh undang-undang kepada pengakuanatau
sumpah salah satu pihak.
Menurut ilmu pengetahuan, persangkaan merupakan
bukti yang tidak langsung dan dibedakan sebagai
berikut :
. Persangkaan berdasarkan kenyataan (feitelijke atau
rechterlijke vermoedens, presumptions facti)

Dalam hal ini, hakimlah yang memutuskan berdasar


kenyataan, apakah mungkin dan sampai seberapa
jauhkah kemungkinan untuk membuktikan suatu peristiwa
tertentu dengan membuktikan peristiwa lain. Berbeda
halnya dengan persangkaan atas undang-undang, dalam
persangkaan atas kenyataan hakim bebas dalam
menemukan persangkaan berdasarkan kenyataan. Setiap
peristiwa yang telah dibuktikan dalam persidangan dapat
digunakan sebagai persangkaan.
2. Persangkaan berdasarkan hukum (wettelijke,
rechtsvermoedens, presumptions juris)

Pada persangkaan berdasarkan hukum, maka undang-undang yang


menetapkan hubungan antara peristiwa yang diajukan dan harus
dibuktikan dengan peristiwa yang tidak diajukan. Persangkaan
berdasarkan hukum, dibedakan lagi menjadi dua, yaitu :

a. presumptions juris tantum, yaitu persangkaan berdasarkan hukum


yang memungkinkan adanya pembuktian lawan.
a. Presumtiones juris et de jure, yaitu persangkaan berdasarkan hukum
yang tidak memungkinkan pembuktian lawan.
Pengakuan
Pasal 174,175, 176 HIR (Pasal 311, 312, 313 Rbg dan Pasal 1923-1928 BW)
Pengakuan di muka hakim dipersidangan (gerechterlijke bekentenis) merupakan
keterangan sepihak, baik tertulis maupun lisan yang tegas dan dinyatakan
oleh salah satu pihak dalam perkara dipersidangan yang membenarkan baik
seluruhnya atau sebagian dari suatu peristiwa, hak atau hubugan hukum yang
diajukan oleh lawannya, yang dapat mengakibatkan pemeriksaan lebih lanjut
oleh hakim tidak perlu lagi

I pengakuan murni Terg mengaku telah membeli rumah dari


L peng Rp. 5 M, spt yg didalilkan Peng
M
U pengakuan dengan kualifikasi
Terg mengaku telah membeli rumah dari
P pengakuan yang disertai dengan peng, ttp tdk Rp. 5 M, spt yg didalilkan
E sangkalan terhadap sebagian Peng melainkan 3 M
N tuntutan
G
E
pengakuan dengan klausul Terg mengaku telah membeli rumah dari
T
peng Rp. 5 M, spt yg didalilkan Peng,
A
Pengakuan yg disertai dg tetapi sudah lunas
H
U keterangan tambahan yg bersifat
A membebaskan
N
pengakuan murni Pengakuan dengan kualifikasi
(gequalificeerde bekentenis)

pengakuan yang sifatnya


sederhana dan sesuai pengakuan yang disertai dengan
sepenuhnya dengan sangkalan terhadap sebagian tuntutan.
tunutan pihak lawan

Baik pengakuan dengan kualifikasi dan pengakuan dengan klausul


harus diterima secara bulat dan tidak boleh dipisah-pisahkan dari
keterangan tambahan

menolak sama sekali pengakuan


(onsplitbaar aveu) itu seluruhnya dan
penggugat memberi pembuktian sendiri

membuktikan bahwa keterangan tambahan


pada pengakuan tersebut adalah tidak benar.

pengakuan tergugat menjadi pengakuan Pasal 1924 BW hakim tidak boleh


biasa menolak permohonan penggugat
tersebut.
Suatu pengakuan juga dapat diberikan di luar sidang

keterangan yang diberikan oleh salah satu pihak dalam suatu


perkara perdata di luar persidangan untuk membenarkan
pernyataan-pernyataan yang diberikan oleh pihak lawannnya.

harus dibuktikan di persidangan


5. Sumpah
Pasal 155-158, 177 HIR, Pasal 182-185, 314 Rbg, Pasal 1929-1945 BW

suatu pernyataan yang khidmat yang diberikan atau diucapkan pada waktu
memberi janji atau keterangan dengan mengingat sifat Maha Kuasa Tuhan dan
percaya, bahwa siapa yang memberi keterangan atau janji yang tidak benar
akan dihukum oleh Tuhan

tindakan religius yang digunakan dalam proses peradilan

sumpah premissoir sumpah confirmatoir atau sumpah assertoir

sumpah untuk melakukan atau meneguhkan suatu peristiwa


tidak melakukan sesuatu, yang atau hak
diucapkan sebelum memberi
keterangan atau melakukan
sesuatu
HIR

sumpah pelengkap sumpah pemutus yang sumpah penaksiran


(suppletoir) bersifat menentukan (aestimtoir)
(decicoir)

sumpah yang sumpah yang


diperintahkan oleh diperintahkan oleh
hakim karena hakim karena
jabatannya kepada jabatannya kepada
salah satu pihak yang penggugat untuk
bersengketa untuk menentukan jumlah
melengkapi uang ganti kerugian.
pembuktian atas
peristiwa yang menjadi
sengketa untuk
digunakan sebagai
dasar putusan hakim
Sumpah Pemutus Yang Bersifat Menentukan (Decicoir)
dapat dilakukan pada setiap saat selama pemeriksaan persidangan (Pasal 156
HIR, Pasal 183 Rbg, Pasal 1930 BW).

sumpah yang dibebankan atas permintaan salah satu pihak yang bersengketa.

Menolak untuk mengucapkan sumpah decicoir akan mengakibatkan


dikalahkannya pihak yang harus disumpah (delaat).

Siapa yang dibebani sumpah decicoir tetapi menolak dan tidak juga
mengembalikan sumpah kepada deferent atau siapa yang memerintahkan
pihak lawan untuk bersumpah, tetapi dikembalikan oleh delaat, kemudian
deferent menolak untuk bersumpah, haruslah dikalahkan (Pasal 156 HIR, 183
Rbg, Pasal 1932 BW)

Sumpah decicoir baru dapat dikembalikan oleh delaat apabila sumpah


tersebut bagi deferent berhubungan dengan perbuatan yang dilakukan sendiri
dan bukan dilakukan bersama-sama dengan pihak lawan (Pasal 1933 BW)
Pembuktian di Luar Ketentuan Pasal 164 HIR
pemeriksaan mengenai perkara oleh
hakim karena jabatannya yang dilakukan
di luar gedung atau tempat kedudukan
Pemeriksaan pengadilan, yang ditujukan agar hakim
setempat (descente) dapat melihat sendiri dan memperoleh
gambaran atau keterangan yang
memberi kepastian tentang peristiwa-
peristiwa yang disengketakan

atas perminataan salah satu pihak atau


karena jabatan hakim, pengadilan dapat
Keterangan ahli (expertise) mengangkat seorang ahli. Keterangan
ahli adalah keterangan pihak ketiga yang
obyektif yang bertujuan untuk membantu
hakim dalam pemeriksaan guan
menambah pengetahuan hakim
PUTUSAN HAKIM
pernyataan hakim sebagai pelaksana kekuasaan Kehakiman yang
melaksanakan tugas Kekuasaan Kehakiman yang diucapkan di persidangan
dan bertujuan untuk menyelesaikan suatu sengketa atau perkara.

Belum
mempunyai
P Putusan (dalam arti luas) kekuatan Hukum
U tetap (Vonnis)
T
U
sudah berkekuatan
S
hukum tetap
A
N

H
A
K Penetapan
dalam arti sempit
I (beschikking)
M
Jenis Putusan :

a. Condemnatoir
b. Declaratoir
c. Constitutif
d. Contradictoir
1. Putusan akhir e. Verstek
f. uit voerbaar bij
voorraad - SEMA No.3
tahun 2000
g. Putusan perdamaian

a. Putusan Insidentil
b. Preparatoir
2. Putusan sela c. Interlocutoir
d. Provisionil
PUTUSAN AKHIR
1. Putusan declaratoir

Putusan yg sifatnya memberikan suatu pernyataan atau menetapkan suatu


keadaan hk.

Mis : Oleh hakim ditetapkan bhw seseorang anak tertentu adalah anak sah,
atau bahwa sebidang tanah tertentu adalah milik Penggugat

2. Putusan constitutief
ptsn yg sifatnya menghapuskan atau menciptakan keadaan hukum baru.

Mis : Ptsn perceraian atau putusan pernyataan pailit


3. Putusan Condemnatoir
ptsn yg sifatnya menjatuhkan hukuman kepada salah satu atau kedua
pihak yg berperkara
Mis : Menghukum tergt utk mengembalikan sesuatu barang kpd
Penggt, atau utk membayar kpdnya sejlh uang tertentu sbg
pembayaran hutang.
4. Putusan contradictoir
Putusan yg diambil dlm hal terggt pernah
datang menghadap di persidangan.

5. Putusan verstek
Putusan yg diambil dlm hal terggt tdk pernah
datang dipersidangan, meskipun telah
dipanggil dg sepatutnya utk menghadap.

6. Ptsn yg dpt dilaksanakan lebih dahulu


(uit voerbaar bij voorraad) SEMA No.3
tahun 2000
Di PT dan PN ada juga penetapan lebih bersifat tindakan hukum acara
dan administrasi :

1. Penetapan penunjukan Majelis hakim


2. Penetapan hari sidang
3. Penetapan pemanggilan pihak-pihak
4. Penetapan pemeriksaan setempat/ahli
5. Pengunduran sidang
6. Pemanggilan saksi
7. Penetapan sita (sita jaminan,revindikasi Eksekusi)dan pencabutan sita
tersebut.
8. Perintah pemberitahuan putusan Verstek
9. Pengosongan
UPAYA HUKUM
Merupakan suatu perbuatan hukum yg dilakukan oleh subyek hukum sebagai
akibat perbuatan hukum atau perbuatan melawan hukum yang dilakukannya
atau dilakukan subyek hukum lain, secara litigasi maupun non litigasi

Upaya HUKUM BIASA :


1. Perlawanan terhadap Putusan
Verstek (Verzet)
2. Banding
3. Kasasi
UPAYA HUKUM Upaya HUKUM LUAR BIASA
A. Perlawanan pihak Ketiga(derden
verzet):
1. Eksekuasi
2. Sita Jaminan (Conservatoir
Beslaag)
3. Revindicatoir beslaag
B. Peninjauan Kembali (request civil)
Perlawanan Terhadap Putusan Verstek
(Verzet)

Dasar hukum :
Pasal 125 ayat 3 jo.Pasal 129 HIR/pasal 149 ayat 3 jo.Pasal 153 rbg

Tergugat yang diadili dengan putusan Verstek dan tidak menerima


putusan itu,dapat mengajukan perlawanan (verzet)terhadap
putusan tersebut

Kedudukan para pihak :

Pelawan, semula Tergugat


Terlawan, semula Penggugat
DERDEN VERZET
(plwn pihak 3/bantahan pihak 3)

Perlawanan pihak ke tiga terhadap sita jaminan atau sita eksekusi

Ps.195(6) dan (7) H.I.R Ps.207 & 208 HIR

1. Perlawanan thdp sita 1. Cara mengajukan plwn lisan


eksekutorial. /tertulis.
2. Yg diajkn olh yg terkena 2. Kpd siapa/KPN dimana pkr
eksekusi/tersita plwn hrs diajkn
3. Yg diajukan oleh phk ketiga ats 3. Azas perlawanan tdk
dsr Hak milik. tangguhkan eksekusi.
4. Plwn diajukan ke KPN yg 4. Kemungkinan utk ajukan
melaksanakan eksekusi. permhnn banding
5. Adanya kewajiban KPN yg
memeriksa/mts plw mlpr ke
KPN yg memerintahkan
eksekusi
Putusan Peradilan Tingkat banding
Menurut persepsi pada hakekatnya putusan peradilan tingkat banding dapat berupa

a.Menyatakan bahwa permohonan banding tidak dapat diterima


b.Menguatkan putusan Pengadilan Tkt.I.
c.Membatalkan putusan Pengadilan Tkt. I .
d.Memperbaiki putusan Pengadilan Tkt .I

KASASI
UU No.14 Tahun 1985 jo.UU No.5 tahun 2004 Tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 14
Tahun 1985 Tentang Mahkamah Agung jo. UU No. 3 Tahun 2009 ttg Perubahan Kedua Atas
Undang-undang Nomor 14 Tahun 1985 Tentang Mahkamah Agung

Alasan Kasasi (Pasal 30)

a. Tidak berwenang atau melampau batas wewenang;


b. Salah menerapkan atau melanggar hukum yang berlaku;
c. Lalai memenuhi syarat-syarat yang diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan yang
mengancam kelalaian itu dengan batalnya putusan yang bersangkutan.
Alasan Kasasi diluar pasal 30

Psl.52 Ps.23(1)
UU No.14 tahun 1985 jo.UU UU No.14 tahun 1985 jo.UU No.5
No.5 tahun 2004 jo jo. UU No. 3 tahun 2004 jo jo. UU No. 3 Tahun
Tahun 2009 2009

Dalam mengambil putusan,


Mahkamah Agung tidak terikat
pada alasan-alasan yang Segala putusan Pengadilan selain
diajukan oleh pemohon kasasi harus memuat alasan-alasan dan
dan dapat memakai alasan- dasar-dasar putusan itu , juga harus
alasan hukum lain. memuat pula pasal-pasal tertentu dari
peraturan yang bersangkutan atau
sumber hukum tak tertulis yang
dijadikan dasar untuk mengadili.

Motivering yg tidak cukup(


onvoldoende gemotiveerd)

Putusan tsb dapat dibatalkan dalam pemeriksaan tingkat Kasasi


Putusan MA menyangkut motivering
(vormverzuim)

1. Tiap penolakan atas st petitum hrs disertai pertimbangan mengapa


ditolak (MA No.698K/Sip/1969 ttgl 18 Des.1970.)
2. Ptsn PT hrs dibatalkan krn kurang cukup dipertimbangkan (niet
voldoende gemotiveerd) dan terdpt ketidak tertiban dlm beracara (MA
672 K/Sip/1972 ttgl 18 Okt 1972)
3. Pertimbangan PT yg isinya hanya menyetujui dan menjadikan sbg
alasan sendiri hal-hal yg dikemukakan pembanding dlm memori
bandingnya, seperti halnya kalau PT menyetujui ptsn PN , adalah tdk
cukup
4. Dari pertimbangan-pertimbangan PT secara terperinci MA harus
mengerti hal-hal apa dlm ptsn PN yg tdk dpt dibenarkan oleh PT (MA
No.9K/Sip/1972 ttgl 19 Agustus 1972)
5. Ptsn PT dan PN kurang tepat dan tdk terperinci harus dibatalkan ( MA
No. 588K/Sip/1975 ttgl 13 Juli 1976).
ISI PUTUSAN HAKIM
Pasal 184(1)HIR
“Keputusan harus berisi keterangan ringkas, tetapi yang jelas gugatan dan jawaban,
serta dasar alasan-alasan keputusan itu: begitu juga keterangan , yang dimaksud
pada ayat ke empat pasal 7 . Reglemen tentang Aturan Hakim dan Mahkamah
Agung serta Kebijaksanaan kehakiman di Indonesia akhirnya keputusan Pengadilan
Negeri tentang pokok perkara dan tentang banyaknya biaya, lagi pula pemberitahuan
tentang hadir tidaknya kedua belah pihak pada waktu mengumumkan keputusan itu.”

Penjelasan Ps.184(1) HIR

Isi Putusan Hakim:


A . Suatu keterangan singkat tetapi jelas dari isi gugatan
B. Jawaban tergugat atas gugatan itu,
C. Alasan-alasan keputusan
D. Keputusan Hakim tentang pokok perkara dan tentang ongkos perkara,
E. Keterangan apakah pihak-pihak yg berperkara hadir pada waktu keputusan itu dijatuhkan.
F. Kalau keputusan itu didasarkan atas suatu UU ini harus disebutkan,
G.Tanda tangan Hakim dan Panitera
Putusan Peradilan Tingkat Kasasi

1. Permohonan kasasi tidak dapat diterima


2. Permohonan kasasi ditolak
3. Permohonan kasasi dikabulkan
Peninjauan Kembali
(Request Civil)
Alasan Peninjauan Kembali (Request Civil)
a. Apabila putusan didasarkan pada suatu kebohongan atau tipu muslihat pihak
lawan yang diketahui setelah perkaranya diputus atau didasarkan pada bukti
yang kemudian oleh hakim pidana dinyatakan palsu.
b. Apabila setelah perkara diputus ,ditemukan surat-surat bukti yang bersifat
menentukan yang pada waktu perkara diperiksa tidak dapat ditemukan (NOVUM)
c. Apabila telah dikabulkan suatu hal yang tidak dituntut atau lebih dari pada
yang dituntut
d. Apabila mengenai sesuatu bagian dari tuntutan belum diputus tanpa
dipertimbangkan sebab-sebabnya
e. Apabila antara pihak-pihak yang sama mengenai suatu soal yang sama,atas
dasar yang sama oleh Pengadilan yang sama atau sama tingkatanya telah
diberikan putusan yang bertentangan satu dengan yang lain
f. Apabila dalam suatu putusan terdapat suatu kekhilafan Hakim atau suatu
kekeliruan yang nyata
Putusan Peninjauan Kembali

Pada dasarnya putusan peradilan terhadap peninjauan


kembali dapat diklasifikasi ke dalam 3 golongan yaitu :

1. Putusan yang menyatakan bahwa permohonan


peninjauan kembali tidak dapat diterima
2. Putusan yang menyatakan bahwa permohonan peninjauan
kembali ditolak
3. Putusan yang menyatakan bahwa permohonan peninjauan
kembali dikabulkan
Pembuktian dalam
Peradilan Pidana
PEMERIKSAAN DI PERSIDANGAN

Pembuktian (Psl. 183 s.d 189 KUHAP)


Menurut doktrin dikenal ada empat sistem atau teori pembuktian, yaitu :
– Sistem pembuktian berdasarkan keyakinan hakim belaka
– Sistem pembuktian berdasarkan undang-undang secara positif
– Sistem pembuktian berdasarkan keyakinan hakim atas alasan logis
– Sistem pembuktian berdasarkan UU secara negatif
Adapun sistem yang dianut peradilan pidana Indonesia ialah sistem
pembuktian UU secara negatif, yaitu bersalah tidaknya terdakwa
ditentukan oleh keyakinan hakim yang didasarkan pada cara dan denan
alat bukti yang sah menurut UU.
Adapun alat bukti sah menurut UU, ialah :
1.8.a Keterangan saksi
1.8.b Keterangan ahli
1.8.c Surat
1.8.d Petunjuk, dan
1.8.e Keterangan terdakwa
PEMERIKSAAN DI PERSIDANGAN

1.8.a Keterangan Saksi (pasal 185 KUHAP)


adalah keterangan dari saksi mengenai suatu peristiwa pidana yang ia dengar
sendiri,lihat sendiri danalami sendiri dan dengan menyebutkan alasan
pengetahuannya itu.
Syarat sah keterangan saksi, sebagai berikut :
• Saksi harus mengucapkan sumpah atau janji sebelum memberikan keterangan.
• keterangan diberikan di sidang pengadilan
• Keterangan harus tentang apa yang ia lihat sendiri, alami sendiri, atau ia dengar sendiri dan
harus bisa menyebutkan alasan pengetahuannya itu
• Jawaban atas pertanyaan harus menurut ketentuan undang-undang (tidak boleh dipaksa,
ditekan atau dianjurkan dan tidak boleh diajukan pertanyaan yang menjerat).
• Keterangan seorang saksi saja tidak cukup membuktikan kesalahan terdakwa (unus testis nulus
testis). Tetapi dua orang saksi yang keterangannya bersesuaian satu sama lain dianggap dua alat
bukti. Atau satu keterangan saksi ditambah satu alat bukti lain yang bersesuaian satu dgn yang
lain.
– Keterangan bebrapa orang saksi yang masing-masing berdiri sendiri mengenai suatu hal /
kejadian dapat digunakan sebagai suatu alat bukti asalkan keterangan saksi-saksi itu ada
hubungannya satu dgn yang lain sedemikian rupa sehingga dapat membenarkan adanya
suatu kejadian atau keadaan tertentu.
– Cara menilai kebenaran keterangan seorang saksi, adalah :
• Persesuaian keterangan saksi yang satu dengan yang lain
• Persesuaian keterangan saksi dgn alat bukti yang lain
• Alasan yang dipergunakan saksi untuk membeirkan keterangan tertentu
• Cara hidup dan kesusilaan saksi
PEMERIKSAAN DI PERSIDANGAN

1.8.b Keterangan Ahli (pasal 186 KUHAP)


adalah keterangan yang diberikan oleh seorang yang memiliki keahlian
khusus tentang hal yang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara
pidana guna kepentingan pemeriksaan.
Syarat sah keterangan ahli sebagai alat bukti, adalah :
• Keterangan yang diberikan oleh seorang ahli
• Memiliki keahlian khusus dalam bidang tertentu .
• Menurut pengetahuan dalam bidang keahliannya
• diberikan di bawah sumpah atau janji
– Cara memperoleh keterangan ahli :
• Keterangan ahli yang diberikan di depan penyidik dalam bentuk berita acara atau
bentuk lainnya, sebelum memberikan keterangan wajib bersumpah atau berjanji.
• Keterangan ahli dalam bentuk laporan atas permintaan penyidik atau penuntut
umum dan dibuat dengan mengingat sumpah di waktu menerima jabatan atau
pekerjaan.
• Keterangan seorang ahli yang dinyatakan dalam persidangan, keterangan tersebut
diberikan setelah ia mengucapkan sumpah atau janji di hadapan hakim.
– Tata cara memperoleh laporan ahli sebagai alat bukti adalah :
• Diminta oleh penyidik yang berwenang pada waktu pemeriksaan penyidikan
PEMERIKSAAN DI PERSIDANGAN

Tata cara memperoleh laporan ahli sebagai alat bukti adalah :


1. Diminta oleh penyidik yang berwenang pada waktu pemeriksaan
penyidikan
2. Permintaan secara tertulis dgn menyebutkan secara tegas untuk hal
apa pemeriksaan di lakukan
3. Permintaan disampaikan kepada ahli yang mempunyai keahlian
khusus dalam bidang tertentu (melalui instansi / institusinya)
4. Atas permintaan penyidik, ahli membuat laporan atau pendapat
5. Pendapat / laporan ahli diberikan dibawah sumpah atau dengan
mengingat sumpah jabatan.
Catatan :
Keterangan ahli harus diberikan oleh ahli yang memiliki keahlian khusus.
Contoh :
keterangan yang diberikan ahli kedokteran kehakiman disebut keterangan ahli,
sedangkan keterangan yang diberikan oleh dokter bukan ahli kedokteran
kehakiman disebut keterangan saja.
PEMERIKSAAN DI PERSIDANGAN

1.8.c Alat Bukti Surat (pasal 186 KUHAP)


Ada dua jenis surat, yaitu :
1. Surat Autentik atau surat resmi, yaitu surat yang dibuat oleh pejabat umum, atau
pejabat yang berwenang atau oleh seorang ahli, atau yang dibuat menurut
ketentuan perundang-undangan
2. Surat biasa / surat pribadi / surat di bawah tangan
Yang mempunyai nilai pembuktian sebagai alat bukti surat hanya surat resmi
atau surat otentik.
Jenis-jenis surat resmi / otentik :
• Berita Acara atau surat lain dalam bentuk resmi. (contoh Akta Notaris)
• Surat dibuat menurut ketentuan perundang-undangan atau dibuat oleh pejabat
mengenai hal yang termasuk dalam tata laksana yang menjadi tanggung jawabnya
dan peruntukan bagi pembuktian suatu hal atau suatu kejadian . Dibuat atas sumpah
jabatan (contoh : SIM, Akta Kelahiran, Ijazah dll)
• Surat keterangan dari seorang yang memuat pendapat berdasarkan keahliannya
mengenai suatu hal atau suatu keadaan yang diminta secara resmi dari padanyanya,
dibuat atas sumpah jabatannya (contoh : visum et repertum). Jadi suatu laporan ahli
dapat juga disebut sebagai alat bukti surat dan dapat juga dikatakan sebagai
keterangan ahli
• Adapun surat biasa atau surat lainnya bukan merupakan alat bukti surat, baru dapat
berlaku sebagai alat bukti petunjuk apabila isi surat itu ada hubungannya dengan
alat bukti lainnya (contoh : Kwitansi, Surat Perjanjian di bawah tangan, visum et
repertum yang dibuat dokter umum)
PEMERIKSAAN DI PERSIDANGAN

1.8.d Keterangan Terdakwa (pasal 189 KUHAP)


• Adalah apa yang terdakwa nyatakan di sidang pengadilan tentang
perbuatan yang ia lakukan atau yang ia ketahui sendiri atau yang ia
alami sendiri. Jadi bukan / tidak bolah dalam bentuk pendapat,
kesimpulan, rekaan atau yang diketahui dari orang lain.
• Dalam hal terdakwa menyangkal di ruang sidang pengadilan, maka
keterangan terdakwa yang diberikan di luar sidang dapat digunakan
untuk membentu menemukan bukti di sidang, asalkan keterangan di
luar sidang tadi didukung oleh suatu alat bukti sepanjang mengenai hal
yang didakwakan kepadanya. Jadi kalau disidang terdakwa menyangkal,
akan tetapi apa yang sangkal tersebut diakui dalam berita acara
pemeriksaan di penyidikan, maka kalau keterangannya dalam BAP
bersesuaian dgn keterangan saksi atau alat bukti lainnya maka
keterangan terdakwa dalam BAP dapat diterima sebagai alat bukti
petunjuk.
• Keterangan terdakwa saja sekalipun bersifat pengakuan, tidak cukup
untuk membuktikan bahwa ia bersalah melakukan perbuatan yang
didakwakan kepadanya melainkan harus disertai dengan alat bukti
yang lain.
PEMERIKSAAN DI PERSIDANGAN

1.8.e Petunjuk (pasal 188 KUHAP)


• Alat bukti yang paling lemah adalah petunjuk, ia bukan alat bukti yang berdiri
sendiri seperti halnya alat bukti yang lain, ia baru ada apabila diperoleh dari
alat bukti lain melalui suatu proses analisa.
• Petunjuk adalah perbuatan, kejadian atau keadaan yang karena
persesuaiannya baik antara yang satu dengan yang lainnya, maupun
bersesuaian dengan tindak pidana itu sendiri, menandakan bahwa telah terjadi
suatu tindak pidana dan dan siapa pelakunya. Harus diperoleh dari alat bukti
yang sudah ada, baik dari keterangan saksi, keterangan ahli, surat ataupun dari
keterangan terdakwa sendiri.
• Hakim harus secara arip dan bijaksana dan dengan penuh kecermatan dan
keseksamaan berdasarkan hati nuraninya untuk melakukan penilaian kekuatan
pembuktian suatu petunjuk.
• Contoh petunjuk :
• Keterangan saksi yang tidak disumpah, bersesuaian dgn keterangan saksi yang
disumpah di pengadilan
• Visum et repertum yang dibuat dokter umum, bersesuaian dgn alat bukti lain.
• BAP terdakwa yang disangkal di sidang, tapi isi BAP bersesuaian dgn keterangan
saksi-saksi.
• Barang bukti yang diajukan disidang dibenarkan saksi atau diakui oleh terdakwa.
• Dan lain-lain.
PEMERIKSAAN DI PERSIDANGAN

1.8.f Pemeriksaan dinyatakan selesai.


• Apabila pemeriksaan alat bukti sudah tidak ada lagi maka pemeriksaan dinyatakan selesai
dan penuntut umum mengajukan tuntutannya pada hari sidang berikutnya .
• Setelah itu terdakwa/pansehat hkum mengajukan pembelaan yag dapat dijawab oleh
Penuntut Umum dengan ketentuan bahwa terdakwa atau penasehat hukum selalu
mendapat kesempatan terakhir.
• Tuntutan atau Requsitor, pembelaan atau Pledoi, jawaban Penuntut Umum atau Replik
dan jawaban terdakwa /pensehat hukum atau Duplik harus diajukan secara tertulis dan
setelah dibacakan diserahkan kepada Hakim Ketua sidang dan turunannya kepada pihak
yang berkepentingan
1.8.g Pemeriksaan dinyatakan Ditutup.
• Setelah acara jawab menjawab, hakim ketua sidang menyatakan sidang ditutup, sengan
ketentuan dapat dibuka sekali lagi degan maksud untuk menampung bahan tambahan
untuk keperluan musyawarah hakim, baik satas kehendak hakim, penuntut umum atau
terdakwa / penasehat hukum.
• Setelah itu Hakim bermusyawarah untuk mencapai mufakat,secara bulat, baik dilakukan
di dalam sidang maupun diluar sidang. Jika mufakat tidak dicapai, maka berlaku
ketentuan :
• putusan diambil dengan suara terbanyak
• Kalau tidak juga dicapai, maka yang diambil adalah pendapat hakim yang paling menguntungkan
terdakwa.
• Putusan bisa dijatuhkan pada hari itu juga, tapi pada umumnya dijatuhkan pada hari lain
dengan dihadiri oleh penuntut umum, terdakwa dan penasehat hukum.