Anda di halaman 1dari 25

REFERAT

Oleh :
Raesya Dwi Ananta
1102013239

Pembimbing :
dr. Danny Bagus, Sp.S
Pendahuluan
• Penyakit yang paling sering mengenai nervus
medianus adalah neuropati tekanan / jebakan
(entrapment neuropathy).
• Pada pergelangan tangan, nervus medianus berjalan
melalui terowongan karpal (carpal tunnel) 
tekanan  Sindroma Terowongan Karpal / STK
(Carpal Tunnel Syndrome / CTS)
• Penelitian pada pekerjaan dengan risiko tinggi pada
pergelangan tangan dan tangan melaporkan
prevalensi CTS antara 5,6% sampai dengan 15%.
Anatomi N.Medianus
Anatomi N.Medianus
Carpal Tunnel Syndrome (CTS)

• Carpal Tunnel Syndrome (CTS) merupakan neuropati tekanan atau cerutan


terhadap nervus medianus di dalam terowongan karpal pada pergelangan
tangan, tepatnya di bawah tleksor retinakulum
Etiologi

Herediter Trauma Pekerjaan Infeksi

Penyakit
Metabolik Endokrin Neoplasia kolagen
Vaskular

Degeneratif Iatrogenik
Patofisiologi

Kompresi mekanik
Insufisiensi mikrovaskular
Teori getaran
Insufisiensi
Kompresi mekanik mikrovaskular
Teori Getaran
• Menurut teori getaran, gejala CTS bisa disebabkan oleh efek dari
penggunaan jangka panjang alat yang bergetar pada saraf median di
karpal tunnel.
• Lundborg mencatat edema epineural pada saraf median dalam
beberapa hari berikut paparan alat getar genggam. Selanjutnya,
terjadi perubahan serupa mengikuti mekanik, iskemik, dan trauma
kimia (Bahrudin, 2011).
Manifestasi Klinis
Diagnosis
Anamnesis

• Gangguan sensorik  memberat  gangguan motorik


• Parestesia
• Baal (numbness)
• Rasa seperti terkena aliran listrik (tingling)
• Kronik : bengkak pergelanga tangan atau tangan, tangan dingin,
gerak jari menurun
• Pada tahap lanjut dapat dijumpai atrofi otot-otot thenar (oppones
pollicis dan abductor pollicis brevis) dan otot-otot lainya yang
diinervasi oleh nervus medianus
Pemeriksaan Fisik
1. Tes Phalen 2. Tes Torniquet
Penderita diminta melakukan fleksi Pada pemeriksaan ini dilakukan
tangan secara maksimal. Bila dalam pemasangan torniquet dengan
waktu 60 detik timbul gejala seperti CTS, menggunakan tensimeter di atas siku
tes ini menyokong diagnosa. Beberapa
penulis berpendapat bahwa tes ini dengan tekanan sedikit di atas tekanan
sangat sensitif untuk menegakkan sistolik. Bila dalam 1 menit timbul gejala
diagnosa CTS. seperti CTS, tes ini menyokong diagnose
Pemeriksaan Fisik
3. Tinel's Sign 4. Flick's Sign
Tes ini mendukung diagnosa bila timbul Penderita diminta mengibas-ibaskan
parestesia atau nyeri pada daerah
distribusi nervus medianus jika dilakukan tangan atau menggerak-gerakkan jari-
perkusi pada terowongan karpal dengan jarinya. Bila keluhan berkurang atau
posisi tangan sedikit dorsofleksi (Katz, menghilang akan menyokong
2011). diagnosa CTS (Katz, 2011).
Pemeriksaan Fisik
5. Thenar Wasting 6. Wrist Extension Test
• Penderita diminta melakukan ekstensi
• Pada inspeksi dan palpasi dapat tangan secara maksimal, sebaiknya
ditemukan adanya atrofi otot-otot dilakukan serentak pada kedua tangan
thenar (Katz, 2011). sehingga dapat dibandingkan. Bila
dalam 60 detik timbul gejala-gejala
seperti CTS, maka tes ini menyokong
diagnosa CTS (Katz, 2011).

7. Pemeriksaan Sensibilitas
• Bila penderita tidak dapat
membedakan dua titik (two-point
discrimination) pada jarak lebih
dari 6 mm di daerah nervus
medianus, tes dianggap positif dan
menyokong diagnose (Katz, 2011).
Pemeriksaan Fisik
7. Luthy's Sign (Bottle's 8. Pemeriksaan Fungsi
sign) Otonom
• Penderita diminta melingkarkan ibu • Pada penderita diperhatikan apakah
jari dan jari telunjuknya pada botol ada perbedaan keringat, kulit yang
atau gelas. Bila kulit tangan penderita kering atau licin yang terbatas pada
tidak dapat menyentuh dindingnya daerah innervasi nervus medianus. Bila
dengan rapat, tes dinyatakan positif ada akan mendukung diagnosa CTS
dan mendukung diagnose (Katz, 2011). (Katz, 2011).
Pemeriksaan Penunjang

• Pemeriksaan Neurofisiologi (Elektrodiagnostik)


Pemeriksaan EMG dapat menunjukkan
adanya fibrilasi, polifasik, gelombang positif dan
berkurangnya jumlah motor unit pada otot-otot
thenar.

• Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan sinar-X terhadap pergelangan
tangan dapat membantu melihat apakah ada
penyebab lain seperti fraktur atau artritis. USG
dilakukan untuk mengukur luas penampang dari
saraf median di carpal tunnel proksimal yang
sensitif dan spesifik untuk carpal tunnel
syndrome.
Pemeriksaan Penunjang

• Pemeriksaan Laboratorium
Bila etiologi CTS belum jelas, misalnya pada penderita usia muda
tanpa adanya gerakan tangan yang repetitif, dapat dilakukan
beberapa pemeriksaan seperti kadar gula darah, kadar hormon
tiroid ataupun darah lengkap (Rambe, 2004).
Penatalaksanaan

Medikamentosa

• Injeksi Kortikosteroid Lokal


• Vitamin B6 (Piridoksin)
• Obat Antiinflamasi Non-Steroid (NSAID)

Non-Medikamentosa

• Terapi konservatif
• Terapi operatif
Prognosis
• Pada kasus CTS ringan, dengan terapi konservatif umumnya prognosa
baik. Bila keadaan tidak membaik dengan terapi konservatif maka
tindakan operasi harus dilakukan.
• Secara umum prognosa operasi juga baik, tetapi karena operasi hanya
dilakukan pada penderita yang sudah lama menderita CTS
penyembuhan post operatifnya bertahap (Bahrudin, 2011).
Komplikasi

• Komplikasi yang dapat dijumpai adalah kelemahan dan hilangnya


sensibilitas yang persisten di daerah distribusi nervus medianus.
• Komplikasi yang paling berat adalah reflek
sympathetic dystrophy yang ditandai dengan nyeri
hebat, hiperalgesia, disestesia, dan gangguan trofik.
KESIMPULAN
Carpal Turner Syndrome adalah sindroma Gejala Carpal Turner Syndrome yaitu kaku pada
dengan gejala kesemutan dan rasa nyeri pada bagian-bagian tanggan sakit seperti tertusuk
pergelangan tangan terutama tiga jari utama atau nyeri menjalar dari pergelangan tangan
yaitu ibu jari telunjuk dan jari tengah terjadi sampai kelengan, kelemahan pada satu atau dua
akibat N. Medianus tertekan di dalam Carpal tangan, nyeri pada telapak tangan, pergelangan
Tunnel (terowongan karpal) di pergelangan jari tidak terkoordinasi, sensasi terbakar pada
tangan, sering dialami pekerja industri. jari-jari.

Penatalaksanaan CTS tergantung pada etiologi,


durasi gejala, dan intensitas kompresi saraf.
Terapi medika mentosa meliputi pemberian
Prognosis CTS baik jika terapi konservatif dan
injeksi kortikosteroid lokal, vitamin B-6, NSAID.
atau terapi operatif berhasil, dan buruk jika
Terapi non medika mentosa yaitu terapi
telah dilakukan terapi operatif namun tidak
konservatif, meliputi istarahat, pemasangan
membaik.
bidai, nerve gliding, dan fisioterapi, dan terapi
operatif yang dilakukan jika penyakit tidak
mengalmi perbaikan dengan terapi konservatif.
DAFTAR PUSTAKA
American Academy of Orthopaedic Surgeons. Clinical Practice Guideline on the Treatment of Carpal Tunnel Syndrome. 2008.

Bahrudin, Mochamad. Carpal Tunnel Syndrome. Malang: FK UMM. 2011. Vol.7 No. 14. Diakses melalui: http://ejournal.umm.ac.id/index.php/sainmed /article/view/1090 (diakses 27 Oktober 2014).

Campbell, William W. DeJong's The Neurologic Examination, 6th Edition. Philadelpia: Lippincott Williams & Wilkins. 2005.

Darno. 2011. Hubungan Karakteristik Pekerja dan Gerakan Berulang dengan Kejadian CTS pada Pemetik Daun Teh di PT. Rumpun Sari Kemuning. Surakarta : UNS. Skripsi.

George, Dewanto. Riyanto, Budi. Turana, Yuda, et al. Panduan Praktis Diagnosis dan Tatalaksana Penyakit Saraf. 2009;h.120-123

Gilroy J. Basic Neurology. 3rd ed. New York: McGraw-Hill ; 2000.p.599-601.

Gorsché, R. Carpal Tunnel Syndrome. The Canadian Journal of CME. 2001, 101-117.

Gunderson CH. Quick Reference to Clinical Neurology. Philadelphia: JB Lippincott Co; 1982. p. 370-371.

Jagga, V. Lehri, A. et al. 2011. Occupation and its association with Carpal Tunnel syndrome- A Review. Journal of Exercise Science and Physiotherapy. Vol. 7, No. 2: 68-78.

Katz, Jeffrey N., et al. 2011. Carpal Tunnel Syndrome. N Engl J Med. Vol. 346, No. 23.

Kurniawan, Bina, et al. Faktor Risiko Kejadian Carpal Tunnel Syndrome (CTS) pada Wanita Pemetik Melati di Desa Karangcengis, Purbalingga. Jurnal Promosi Kesehatan Indonesia. Vol. 3, No. 1. 2008.

Kurniawan Bina, jayanti Siswi, Setyaningsih Yuliani. Faktor Risiko Kejadian CTS pada Wanita Pemetik Melati di Desa Karangcengis, Purbalingga. Kesehatan dan Keselamatan Kerja FKM UNDIP. Jurnal Promosi Kesehatan Indonesia Vol. 3/No. 1/ Januari. 2008

Latov, Norman. Peripheral Neuropathy. New York: Demos Medical Publishing. 2007.

Lindsay KW, Bone I. Neurology and Neurosurgery Illustrated. 3rd ed. New York: Churchill Livingstone ;1997.p.435.

Lusan Maria, Pudjowidyanto Handojo. Karakteristik Penderita Sindrom Terowong Karpal (STK) di Poliklinik Instalasi Rehabilitasi Medik Rs Dr. Karyadi Semarang 2006. Media Medika Indonesia Vol. 43, No.1, 2008

Mumenthaler, Mark. Et al. 2006. Fundamentals of Neurologic Disease. Stuttgard: Thieme.

Pecina, Marko M. Markiewitz, Andrew D. 2010. Tunnel Syndromes: Peripheral Nerve Compression Syndromes Third Edition. New York: CRC PRESS.

Rambe, Aldi S. 2008. Sindroma Terowongan Karpal. Bagian Neurologi FK USU.

Rosenbaum R. Occupational and Use Mononeuropathies. Dalam Evans RW, editor. Neurology and Trauma. Philadelphia: WB Saunders Co; 1996. p. 403-405.

Rosenbaum R. Carpal Tunnel Syndrome dalam Johnson RT dan Griffin JW Current Therapy in Neurologic Disease. 5th ed. St.Louis: Mosby; 1997. p. 374-379

Rusdi Yusuf, Koesyanto Herry. Hubungan Antara Getaran Mesin pada Pekerja Bagian Produksi dengan Carpal Tunnel Syndrome Industri Pengolahan Kayu Brumbung Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah. Jurnal KEMAS 5(2) (2010) 89-94.

Salter, R. B. 2009. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskeletal System. 2nd ed. Baltimore: Williams&Wilkins Co; p. 274-275

Tana, Lusianawaty et al. Carpal Tunnel Syndrome Pada Pekerja Garmen di Jakarta. Buletin Peneliti Kesehatan. 2004. vol. 32, no. 2: 73-82.

Verina YD. 2006. Hubungan Karakteristik Pekerja, Frekuensi Gerakan berulang dan Faktor Kesehatan dengan Kejadian Carpal Tunnel Syndrome pada Pemetik Melati. Semarang: UNDIP.