Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN MANAJEMEN

“P2 TB Paru”

Oleh :
NURFITRIANI ABDILLAH
N 111 17 092

PEMBIMBING KLINIK:
Drg. Elli Yane Bangkele, M.Kes
dr. Nur Indriyani
LATAR BELAKANG
 Tuberkulosis merupakan salah satu masalah kesehatan di dunia,
termasuk Indonesia
 Menurut World Health Organization (WHO) pada tahun 2014
menyatakan bahwa Indonesia menempati urutan ke-3 terbanyak kasus
TB di dunia setelah India dan Cina, dengan perkiraan prevalensi TB
sebesar 680.000 dan 460.000 kasus baru per tahun
 Tuberkulosis masih menjadi masalah kesehatan yang menimbulkan
kesakitan, kecacatan, dan kematian yang tinggi

2
PUSKESMAS WANI

Puskesmas Wani merupakan puskesmas yang berada di wilayah kerja


Kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala dengan luas wilayah 302,64
Km2. Wilayah kerja puskesmas wani terdiri dari 10 desa, yaitu desa wani II,
wani I, Wani III, Wani Lumbumpetigo, Nupabomba, Guntarano, Bale, Wombo
Mpanau, Wombo Induk dan desa Wombo Kalonggo.
.

Jumlah Penduduk wilayah kerja UPTD Puskesmas 16.104 Jiwa, yang terdiri
dari laki-laki 8094 Jiwa dan perempuan 7158 Jiwa.

3
UPAYA PENGENDALIAN TB PARU

Strategi DOTS :
– Komitmen politis, dengan peningkatan dan kesinambungan pendanaan.
– Penemuan kasus melalui pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya.
– Pengobatan yang standar, dengan supervisi dan dukungan bagi pasien.
– Sistem pengelolaan dan ketersediaan OAT yang efektif.
– Sistem monitoring, pencatatan dan pelaporan yang mampu memberikan penilaian
terhadap hasil pengobatan pasien dan kinerja program.

4
STRATEGI STOP TB
Mencapai, mengoptimalkan dan mempertahankan mutu DOTS.

Merespon masalah TB-HIV, MDR-TB dan tantangan lainnya.

Berkontribusi dalam penguatan system kesehatan.

Melibatkan semua pemberi pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta.

Memberdayakan pasien dan masyarakat.

Melaksanakan dan mengembangkan penelitian.

5
STRATEGI PROGRAM PENANGGULANGAN TB PARU
DI PUSKESMAS Wani
• Menemukan Penderita
• Memberikan Pengobatan
• Penanganan Logistik

6
IDENTIFIKASI MASALAH
• Pencapaian target pelaksanaan dan penyelenggaran program
penanggulangan TB Paru di Puskesmas Wani yang ditentukan.
• Bagaimana pelaksanaan dan penyelenggaraan program penanggulangan
TB Paru
• Bagaimana kendala-kendala yang dihadapi selama pelaksanaan program
penanggulangan TB Paru di Puskesmas Wani.

7
PEMBAHASAN
Bagaimana pelaksanaan dan penyelenggaraan program penanggulangan TB Paru di Puskesmas Wani
?

Kegiatan pada Program Penanggulangan (P2) Tuberkulosis Paru, yaitu kegiatan pokok dan kegiatan
pendukung. Kegiatan pokok mencakup kegiatan penemuan penderita (case finding) pengamatan dan
monitoring penemuan penderita didahului dengan penemuan tersangka Tuberkulosis Paru. Kegiatan
pendukung mencakup kegiatan penanganan logistik, yaitu penanganan tersedianya OAT (Obat Anti
Tuberkulosis) dan penanganan tersedianya reagen di laboratorium. Setiap orang yang datang ke unit
pelayanan kesehatan dengan gejala utama yang dianggap suspek tuberkulosis atau tersangka
Tuberkulosis Paru dengan pasive promotive case finding (penemuan penderita secara pasif dengan
promosi yang aktif).

Petugas pelaksana program Tuberkulosis Paru di Puskesmas adalah seluruh petugas yang sudah dilatih
tentang program penanggulangan Tuberkulosis Paru, yaitu dokter, perawat, dan tenaga laboratorium

8
Prosedur program penanggulangan TB Paru

INPUT

Penemuan Subjek

Pengobatan
Diagnosis
• Secara pasif, • Anamnesis • Pasien yang
pasien (Batuk lama terdiagnosis
ditemukan lebih dari 3 dengan TB
karena datang minggu) paru maka
ke puskesmas • Pemeriksaan akan diterapi
atas kemauan fisik dengan
PROSES sendiri atau • Pemeriksaan pemberian
saran orang laboratorium obat anti
lain dan (dahak) Tuberkulosis,
dicurigai yang terdiri
sebagai dari dua
penderita TB tahap, yaitu
OUTPUT paru. tahap intensif
dan lanjutan

9
Bagaimana kendala-kendala yang dihadapi selama pelaksanaan program
penanggulangan TB Paru di Puskesmas Wani ?

Faktor pengetahuan masyarakat, antara lain :


– Pengetahuan masyarakat masih rendah mengenai penyakit tuberkulosis
sehingga kesadaran untuk melakukan pengobatan masih rendah.
– Pengetahuan mengenai pentingnya lingkungan yang bersih dan sehat serta
penularan tuberkulosis juga masih rendah.
– Penyuluhan secara berkala oleh petugas kesehatan untuk memberi
pengetahuan mengenai pentingnya hidup bersih dan sehat serta mengenai
penyakit tuberkulosis kepada masyarakat.

10
• Sasaran/pasien yang terindikasi/suspek TB masih banyak yang belum
memeriksakan diri dan lebih memilih mengunjungi penyedia layanan
kesehatan lain.
• Efek samping obat yang membuat penderita TB tidak mau melanjutkan
pengobatannya.
• Metode penyuluhan tidak menggunakan seperti pamflet dan poster
bergambar sehingga masyarakat kurang tertarik untuk menyimak penyuluhan
yang dilakukan oleh petugas.
• Sebagian anggota keluarga menolak untuk diperiksa disebabkan tidak ada
gejala.

Pereda Nyeri untuk Persalinan dan Kelahiran 11


• Kepatuhan pasien untuk teratur meminum obat sesuai dengan dosis. Hal ini
diatasi dengan mengedukasi pasien mengenai pentingnya pengobatan
tuberkulosis serta cara penularan tuberkulosis sejak awal pasien didiagnosis
menderita tuberkulosis dan juga memberitahu keluarga pasien ataupun tokoh
masyarakat disekitar rumah pasien yang disegani untuk selalu mengingatkan
pasien untuk teratur meminum obat.

Pereda Nyeri untuk Persalinan dan Kelahiran 12


• Kendala lainnya yaitu kurangnya staf di Puskesmas Waniyang membantu
pelaksanaan program penanggulangan TB Paru. Dimana staf yang bekerja di juga
menjalankan program lainnya untuk penanggulangan penyakit-penyakit. Serta
belum ada jadwal yang dibuat untuk melakukan penyuluhan tentang TB paru secara
berkala. Sehingga terkendala dalam mengutamakan program yang akan
dilaksanakan.

Pereda Nyeri untuk Persalinan dan Kelahiran 13


KESIMPULAN

• Masalah yang ditemui pada manajemen program P2 TB paru yaitu kwalitas SDM
sehingga pelaksanaan program belum maksimal.
• Kurangnya penyuluhan mengenai TB paru sehingga pengetahuan masyarakat masih
kurang mengenai TB paru sehingga masih timbul stigma dalam masyarakat terhadap
penderita TB paru dan beberapa keluarga pasien TB paru menolak untuk dilakukan
pemeriksaan sputum.
• Permasalahan yang didapat selama pelaksanaan program antara lain yaitu masih
banyak nya pasien yang tidak mengantar pot dahak yang diberikan oleh petugas
kesehatan sehingga banyak pasien suspek yang belum diperiksa sputum

14
SARAN PROSES

INPUT OUTPUT

Untuk kendala SDM, • Penyuluhan kesehatan


sebaiknya pihak mengenai TB Paru harus lebih
sering dilakukan untuk
puskesmas memberikan Dari aspek output, melihat
meningkatkan kunjungan
pelatihan dan terus masyarakat ke puskesmas dari indikator keberhasilan,
memberikan follow up sehingga angka penemuan angka capaian penemuan
kasus bisa dideteksi lebih kasus TB BTA (+) di antara
sesuai SOP pada staf
cepat. suspek adalah 56% hal ini
pelaksana program TB • Monitoring dan evaluasi dapat di tingkatkan
paru sehingga pemeriksaan maupun keberhasilanya jika dari aspek
pelaksanaan program TB pengobatan TB Paru harus input dan prosesnya sudah
paru dapat dilakukan lebih ketat sehingga
berjalan dengan baik.
penjaringan pasien suspek TB
semaksimal mungkin. Paru akan lebih baik.

15
TERIMA KASIH

16