Anda di halaman 1dari 18

Fraud pada

lembaga
pemerintahan
daerah
Disusun oleh :
Intan riris
Suryani afrilla
Kasus dugaan suap terkait pengesahan R-APBD Provinsi Jambi
Tahun Anggaran 2018

KPK melakukan operasi tangkap tangan terhadap 16 orang di Jambi


dan Jakarta pada 28 November 2017. Sebagian diantara mereka adalah pejabat
Pemerintah Provinsi Jambi atau anak buah Zumi Zola dan anggota Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah Jambi. Mereka diduga terlibat penyuapan Rp 4,7 miliar untuk
KRONOLOGI persetujuan Rancangan APBD Pemerintah Provinsi Jambi tahun anggaran 2018
KASUS senilai Rp 4,2 triliun.
Esok harinya, KPK menetapkan empat orang sebagai tersangka, yaitu
anggota DPRD Provinsi Jambi periode 2009-2014, Supriono; pelaksana tugas
Sekretaris Daerah Provinsi Jambi, Erwan Malik; pelaksana tugas Kepala Dinas
Pekerjaan Umum Pemerintah Provinsi Jambi, Arfan; dan Asisten Daerah Bidang III
Pemerintah Provinsi Jambi, Saipudin.
Selama dua hari, pada 30 November dan 1 Desember 2017, KPK
melakukan penggeledahan di kantor Gubernur Zumi Zola. Hasilnya, KPK menyita
sejumlah dokumen yang diduga berhubungan dengan kasus suap pengesahan APBD
Provinsi Jambi tahun anggaran 2018.
Zumi Zola menjalani pemeriksaan perdana di KPK sebagai saksi bagi anak
buahnya, Asisten Daerah Bidang III Pemerintah Provinsi Jambi Saipudin pada 5 Januari
2018. Kala itu, Kuasa hukum Saipudin menyatakan ada perintah dari Zumi Zola untuk
menyerahkan sejumlah uang kepada anggota DPRD. Pemeriksaan kedua dengan kasus dan
LANJUTAN… tersangka yang sama dilakukan kembali pada 22 Januari 2018.
Atas permintaan KPK, Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum
dan HAM mengeluarkan pencekalan terhadap Zumi Zola untuk berpergian ke luar negeri.
Pencekalan tersebut dilakukan untuk kebutuhan penyidikan yang sedang dilakukan KPK.
Pencekalan berlaku selama 6 bulan sejak 25 Januari 2018.
KPK menurunkan tim penyidik untuk menggeledah rumah dinas Zumi Zola di
Jambi pada Rabu, 31 Januari 2018. Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengatakan
pemeriksaan itu untuk mencari fakta baru dari kasus dan tersangka yang berbeda. Dri
rumah Zumi, KPK membawa sejumlah dokumen.
KPK akhirnya menetapkan Zumi Zola sebagai tersangka kasus gratifikasi
pada 2 Februari 2018. Ia diduga menerima suap sebesar Rp 6 miliar berkaitan dengan izin
proyek-proyek di Provinsi Jambi, pada 2 Februari 2018. Selain Zumi, pelaksana tugas
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Jambi, Arfan, ditetapkan sebagai tersangka untuk
kasus yang sama. Keduanya diduga menggunakan uang itu untuk menyuap sejumlah
LANJUTAN… anggota DPRD Jambi demi memuluskan pengesahan RAPBD Provinsi Jambi tahun
anggaran 2018.
KPK memeriksa istri Zumi Zola, Sherin Taria sebagai saksi kasus penerimaan
gratifikasi yang menjerat suaminya pada 22 Mei 2018. Selama enam jam diperiksa KPK,
Sherin juga ditanya perihal uang yang disita penyidik di sebuah vila milik Zumi Zola pada
Januari lalu. Esoknya pada 25 Mei, giliran Zulkifli Nurdin, ayah dari Zumi Zola yang
diperiksa KPK. Jubir KPK Febri Diansyah mengatakan institusinya itu sedang mendalami
peran keluarga dalam kasus yang menjerat Zumi tersebut
Zumi Zola, melalui kuasa hukumnya, mengajukan diri menjadi justice
collaborator pada awal Mei. Febri Diansyah mengatakan, KPK akan melihat keseriusan
Zumi Zola untuk menjadi JC, salah satunya dengan mengakui perbuatannya dan
mengungkap keterlibatan pihak lain
KPK kembali menetapkan Zumi Zola sebagai tersangka pada 10 Juli 2018.
Kali ini, ia menjadi tersangka kasus suap pengesahan RAPBD Jambi tahun anggaran 2018.
Ia diduga meminta pelaksana tugas Kepala Dinas PUPR Arfan dan Saipudin, Asisten
Daerah, mencari uang untuk diserahkan kepada anggota DPRD Jambi dan pihak lainnya
untuk pengesahan rancangan Perda APBD 2018. Zumi berhasil mengumpulkan uang Rp
LANJUTAN… 3,4 miliar yang diduga akan dibagikan ke setiap anggota DPRD sebesar Rp 200 juta.
Jaksa Penuntut Umum KPK melimpahkan berkas perkara Zumi Zola ke
Pengadilan Tipikor pada 20 Agustus 2018. Dengan adanya penyerahan itu, artinya kasus
Zumi akan memasuki babak baru. Dalam sidang perdananya, ia akan diadili dalam kasus
gratifikasi dan suap terkait pengesahan RAPBN Jambi tahun anggaran 2018.
Identifikasi
Fraud
Pelaku Fraud :

Saksi :
•Zumi Zola
o Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jambi,
•Tiga dari empat tersangka adalah anak buah Zumi Zola di Agus Herianto
Pemprov Jambi. Masing-masing Erwan Malik, pelaksana oKepala Dinas Perhubungan Jambi, Varial
tugas (Plt) Sekretaris Daerah; Arfan, Plt Kepala Dinas Adi Putra
Pekerjaan Umum; dan Saipudin, Asisten Daerah Bidang III. oseorang kontraktor bernama Endria Putra
Ketiganya menjadi tersangka pemberi suap. oDirektur Utama PT Sumber Farma Nusa,
oJoe Fandy Yoesman alias Asiang
•Sedangkan satu tersangka lain sebagai penerima suap oHardono alias Aliang di Pengadilan
adalah Supriono, Ketua Fraksi PAN di DPRD Provinsi Tipikor
Jambi periode 2009-2014.
MOTIF
TERJADINYA Penyebabnya, kasus pencurian uang rakyat dengan modus suap
FRAUD anggota dewan saat pembahasan APBD 2018, menyeret
namanya. Suap diduga diberikan sebagai "uang ketok" atau uang
pelicin agar anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD)
memuluskan proses pengesahan APBD senilai Rp 4,5 triliun, yang
resmi disahkan pada 27 November 2017 lalu
Fraud yang
dilakukan : Hakim menyatakan Zumi Zola terbukti menerima gratifikasi
yakni uang Rp 37.477.000.000, USD 173.300, dan SGD
100.000. Selain itu, hakim meyakini Zumi menerima satu unit
mobil Toyota Alphard. Zumi Zola juga dinyatakan terbukti
memberikan suap kepada 53 anggota DPRD Jambi periode
2014-2019. Suap dengan total Rp 16,34 miliar diberikan sebagai
duit ketok palu agar DPRD Jambi menyetujui Raperda APBD
tahun anggaran 2017 dan tahun anggaran 2018 menjadi Perda
APBD 2017 dan 2018
Tempat OTT
Salah satu yang digeledah kabarnya adalah rumah milik tim
sukses Gubernur Jambi Zumi Zola. KPK melakukan
penggeledahan di tiga lokasi penggeledahan yakni, rumah dinas
gubernur, vila milik Zumi Zola dan rumah seorang saksi yang
tidak disebutkan namanya
Aset yang
diselidiki saat
OTT tersebut :
KPK menemukan uang pecahan dolar Amerika
Serikat saat menggeledah sejumlah tempat terkait kasus
dugaan gratifikasi Gubernur Jambi Zumi Zola. Penyidik
menemukan uang tersebut dalam sebuah brankas.
Kelanjutan kasus
Fraud
KELANJUTAN KPK menyangka Zumi melanggar pasal 5 ayat (1)
KASUS huruf a atau huruf b atau pasal 13 Undang-undang Tipikor,
juncto Pasal 55 ayat 1 KUHP. Untuk kasus ini, Zumi Zola
disangkakan melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a atau Pasal 5 ayat
1 huruf b atau Pasal 13 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999
tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana
telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55
ayat 1 ke 1 KUH-Pidana, lalu melanggar Pasal 12 B atau Pasal
11 UU no 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU
No 20 tahun 2001 jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP
Zumi Zola dihukum 6 tahun penjara karena terbukti
menerima gratifikasi dan memberikan suap ke DPRD Jambi.
KELANJUTAN "Saya terima keputusan hakim dan menghormati semua proses
KASUS jalannya hukum. Saya berharap JPU juga begitu dan segera
inkracht," ujar Zumi Zola kepada wartawan seusai sidang vonis di
Pengadilan Tipikor, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta, Kamis
(6/12/2018). Zumi Zola menyatakan menerima vonis majelis
hakim. Karenanya, Zumi Zola tidak mengajukan permohonan
banding. Sedangkan jaksa pada KPK menyatakan pikir-pikir atas
putusan hakim. Zumi divonis 6 tahun penjara dan denda Rp 500
juta subsider 3 bulan. Hakim juga menjatuhkan pidana tambahan,
yakni pencabutan hak politik selama 5 tahun sejak Zumi selesai
menjalani hukuman pidana pokok.
SOLUSI PADA
KASUS INI
16

○ Corporate Governance dilakukan oleh manajemen yang dirancang dalam rangka


mengeliminasi atau setidaknya menekan kemungkinan terjadinya fraud. Corporate
Pencegahan governance meliputi budaya perusahaan, kebijakan-kebijakan, dan pendelegasian
wewenang.
dan
○ Transaction Level Control Process yang dilakukan oleh auditor internal, pada
Pendeteksian dasarnya adalah proses yang lebih bersifat preventif dan pengendalian yang
Fraud bertujuan untuk memastikan bahwa hanya transaksi yang sah, mendapat otorisasi
yang memadai yang dicatat dan melindungi perusahaan dari kerugian.
○ Retrospective Examination yang dilakukan oleh Auditor Eksternal diarahkan untuk
mendeteksi fraud sebelum menjadi besar dan membahayakan perusahaan.
○ Investigation and Remediation yang dilakukan forensik auditor. Peran auditor
forensik adalah menentukan tindakan yang harus diambil terkait dengan ukuran dan
tingkat kefatalan fraud, tanpa memandang apakah fraud itu hanya berupa
pelanggaran kecil terhdaap kebijakan perusahaan ataukah pelanggaran besar yang
berbentuk kecurangna dalam laporan keuangan atau penyalahgunaan aset.
17
Untuk mencegah terjadinya fraud, mengacu pada Albrecht, Albrecht,
Albrecht, dan Zimbelman (2009:109), salah satu cara yang dapat
dilakukan perusahaan yaitu dengan mengurangi peluang
terjadinya fraud dengan memperhatikan hal – hal berikut ini:

Cara Mengatasi
Fraud ○ Memiliki sistem pengendalian yang baik
Berkaitan dengan pengendalian internal, Committee of
Sponsoring Organizations (COSO) mengharuskan perusahaan untuk
memiliki kerangka pengendalian internal sebagai berikut:
a. lingkungan pengendalian yang baik
b. penilaian resiko
c. aktivitas pengendalian yang baik
d. arus komunikasi dan informasi yang baik
e. pengawasan
18

Thanks!
Any questions?