Anda di halaman 1dari 25

Fistel Anal

 Fistel anal kondisi yang tidak umum


 ada hubungan antara saluran anus
dengan kulit diluar anus. (Dennis,
2004)
 Prevalensi fistel anal rata – rata:
 8,6 kasus per 100.000 populasi,
 prevalensi terjadinya fistel anal pada laki
– laki sekitar 12,3 kasus per 100.000
populasi
 pada wanita sebesar 5,6 kasus per
100.000 populasi.
 Perbandingan terjadinya fistel anal pada
laki – laki dan wanita sekitar 1,8:1
dengan rata – rata berumur 38 tahun.
Fistel anal  bukan kondisi
serius,perlu pengobatan
 pembedahan.

Infeksi fistel anal kronik


menjadi sumber infeksi
secara sistemik. (Dennis,
2004)
 Angka residif terjadinya fistel anal
meningkat sehingga membuat
frustasi baik bagi penderita
maupun dokter
Anatomi Anus dan Rektum

(Biglobe, 2004) (Morris et al, 2000)


FISTEL ANAL
 Definisi: Hubungan antara anorektum
dan perineum yang mengalami
granulasi
Gejala Klinis
Keluhan:
 Nyeri daerah anus
 Bengkak
 Pernah dilakukan drainase abses
didaerah sekitar anus atau pernah
pula memiliki abses didaerah sekitar
anus yang pecah spontan.
Etiologi fistel anal sebagai berikut:
 Pernah atau sedang menderita
IBD(Inflammatory Bowel Disease)
 Divertikulitis
 Radioterapi untuk kanker prostate maupun
rectum
 Tuberculosis, terapi steroid dan infeksi HIV.
(Dennis, 2004)
 Infeksi kelenjar daerah anus.
 Luka daerah perineum.
 Penyakit daerah
anal:hidradenitis,hemorhoid,operasi daerah
anal.
 Veneral infection.
Klasifikasi Fistel Anal
Menurut Park
1. Interspincteric:
Tipe yang paling
sering
± 70 % dari
semua pasien fistel
anal memiliki tipe
interspincteric

(Morris et al, 2000)


2. Transpincteric
Terdapat ± 25 %
dari semua pasien
fistel anal memiliki
tipe transpincteric
ini. (Dennis, 2004)
3. Supraspincteric
± 5 persen :
muara primer
melalui
interspincterspace
berjalan keatas
otot
puborektalmenuju
fossa ischiorektal
kemudian menuju
ke muara sekunder
di perineum.
(Dennis, 2004)
4. Ekstraspincteric
1 % dari semua pasien fistel anal,
muara sekunder pada perineum
dihubungkan dengan muara primer
pada rectum tanpa melewati melalui
otot – otot spincter langsung melalui
levator ani. (Dennis, 2004)
Goodsall’s Rule
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Penunjang
1. Probing
2. Irigasi
3. Fistulografi
4. Endoanal ultrasonografi
5. MRI
6. CT Scan
Menggunakan Irigasi methylene blue Gambar probe yang di insersikan kedalam traktus fistulosa

(The Wales, 2004)


Fistulografi

(Inceoglu R & Gencosmanoglu R, 2003)


(Elangovan S et al, 2004)
Diagnosis Berdasarkan:
 Keluhan:anal discharge,nyeri anal,bengkak
yang rekuren,perdarahan,pruritus.
 Pemeriksaan fisik: inspeksi ,RT sangat
penting mennemukan internal opening dan
indurasi.
 Goodsall’S rule:external ventral internal
langsung di anus,posterior internal
membentuk curve dd posterior anal .
Penatalaksanaan Fistel Anal
1. Non Bedah: fibrin sealant (barry
plast). Park J J et al 2000
menyebutkan bahwa dari 29 pasien
fistel anal dengan berbagai
penyebab, angka kesuksesan terapi
dengan fibrint sealant sebesar 69
%(17 pasien)
2. Bedah: Fistulotomy, Fistulektomy
dan Pemasangan Seton
Gambar Fistulotomy
Operasi fistulektomy
Kesimpulan
Fistel Anal: yaitu adanya hubungan antara
anorektum dengan perineum yang
mengalami granulasi
Diagnosis Berdasarkan:
 Keluhan:anal discharge,nyeri anal,bengkak
yang rekuren,perdarahan,pruritus.
 Pemeriksaan fisik: inspeksi ,RT sangat
penting mennemukan internal opening dan
indurasi.
 Goodsall’S rule:external ventral internal
langsung di anus,posterior internal
membentuk curve dd posterior anal .
Penatalaksanaan Fistel Anal
 Non Bedah: fibrin sealant (barry
plast). Angka kesuksesan terapi
dengan fibrint sealant sebesar 69
%(17 pasien)
 Bedah: Fistulotomy, Fistulektomy
dan Pemasangan Seton