Anda di halaman 1dari 45

 Nama : Ny.

AD
 Jenis kelamin : Perempuan
 Umur : 28 Thn
 Agama : Kristen Protestan
 Suku : Papua
 Pekerjaan : IRT
 Alamat : Argapura Laut
 Berobat ke IGD : 29 Juni 2017
 Nyeri pada seluruh perut

 Pasien datang ke IGD dengan nyeri seluruh


perut terutama pada perut bagian kanan
bawah, awalnya pasien merasakan nyeri
pada ulu hati sejak beberapa hari yang lalu,
Nyerinya terasa tajam, terus menerus dan
terus bertambah nyeri. Nyeri perut lebih
terasa ketika pasien beraktivitas, bergerak
serta pada saat pasien berubah posisi.
Awalnya pasien hanya merasakan mual dan
nyeri pada ulu hati sejak kemarin, kemudian
nyeri tersebut berpindah ke perut kanan
bawah. lemas dan pusing saat bangun pagi,
pasien mengalami mual-mual, mencret 3x 2
jam SMRS,
 BAB encer, lendir (-), darah (-),
banyaknya sekitar 1 sendok makan tiap
kali mencret. Beberapa jam sebelum
masuk RS Pasien mengeluh nyeri pada
seluruh perut, dan pasien merasa lemas
dan pusing sejak bangun pagi setelah
pasien di rawat di IGD pasien masih
merasa nyeri pada seluruh perut, pasien
tampak pucat. Batuk/pilek (-), penurunan
nafsu makan, Riwayat menstruasinya (+)
lancar, BAK lancar pasien tidak
mengeluhkan keluar batu saat BAK.
 Maag : Pasien menyangkalnya

 NSAID, Asipirin Disangkal oleh pasien

Pasien mengatakan tidak ada riwayat


penyakit yang sama pada keluarga
 Pasien tinggal di daerah pinggiran
pantai, air bersih kadang mengalir
kadang tidak, pasien suka jajan
sembarang, suka makan-makanan yang
rendah serat
1. Kepala
Konjungtiva pucat, sclera tidak ikterik
2. Leher
Tidak ada pembesaran KGB, JVP tidak meningkat.
3. Thorax
Pergerakan dada dan bentuk dada simetris
Paru  sonor, VSB normal kanan=kiri, wheezing -/-,
ronchi -/-
Jantung  Bunyi jantung S1 dan S2 murni, regular,
murmur (-)
4. Abdomen
Inspeksi : datar
Aulkultas : BU (+) menurun
Palpasi : Tegang, Hepar tidak terdapat pembesaran,
Lien tidak teraba pembesaran
Perkusi : Pekak samping (-) , Pekak pindah (-), CVA (-)
5. Ekstremitas : hangat, edema -/- CRT <3”
 a/r ABDOMEN
Inspeksi
› Datar
› Tidak tampak kemerahan/luka/bekas
operasi
Palpasi
› Massa (-)
› Nyeri tekan (+) dan nyeri lepas (+) pada
seluruh lapang perut NT
› Rovsing’s sign (+); psoas sign (+);
obturator sign (+)
› Defense muscular (+)
Pemeriksaan Hasil Nilai rujukan Pemeriksaa Hasil Nilai
n rujukan
WBC 39.100 5.000- MCH 19.2 28,0-36,0
10.000/mm3
RBC 4.73x 10^6 LK:4.500.000- MCHC 31.5 32,0-36,0
5.500.000/mm3
Pemeriksaan Lab

PR:4000.000-
5000.000/mm3
HGB 9.1 LK: 14,0-17,4g/dl RDW 21.7 11,5-14,5
Pr: 12,0-16,0g/dl
HCT 28.9 LK:42-52 MPV 9.0 7,4-10,4
Pr:36-48
PLT 305.000 150.000-450.000 PDW 12.9 10,0-13,0

NEUT 94% 50-70 LYM 1.0x10^3 1.500-


4000/mm3

MCV 61.1 84,0-96,0 MXD 1.5x10^3 3000-


7000/mm3
Jenis Hasil Nilai
Pemeriksaan Rujukan
Kalium 3.1mEq/L 3.5-5.3
Natrium 138mEq/L 135-148
Klorida 105mEq/L 98-106
GDS 130mg/dL 70-200

Jenis Hasil Nilai


Pemeriksaan Rujukan
Warna Kuning Kuning muda-
kuning
Kekeruhan Agak Keruh Tidak ada
pH 6 4.6-8.5
Berat Jenis 1.030 1002-1030
Protein +3
Darah +1 Tidak ada
 IVFD RL 1000 cc guyur lanjut 20 tpm macro
 OMZ inj. 2 x 1 vial
 Ranitidine 2x1amp iv
 Inj. Antrain 3 x 1 amp
 Inj. Ceftriaxone 2x1gr
 Drip Metronidazole 3 x 500 mg
 Sucralfat syr 2x40 cc
 Sulcolon 3x1 tab

 Obs. Tanda-tanda akut abdomen


 Cek DL, UL
 O2 nasal kanul
 S : Mual, muntah, nyeri pada seluruh perut, tidak
dapat bangun ataunpun duduk, mencret 10x (+),
wrna coklat, lender (+), bau (+), Pusing (+)
 O : KU  Tampak Lemas, pucat Kes  CM
› Ttv : N 97x/m, TD 90/50 mmHg, RR32x/m, SB36.C
› K/L : CA +/+
› Abdomen : Nyeri Tekan (+) regio Abdomen
 St. Lokalis  Regio Abdominal, tampak luka bekas
operasi 10 jahitan (drain: 100 cc/24 jam, Serous),
30 Juni 2017

terbalut kasa, Bleeding (-)


 A : Abdominal pain ec suspek colitis dd app akut
+hipokalemi
› P: O2 nasal 1-2lpm
› IVFD RL 20 tpmm makro
› Inj. Ceftriaxone 2x1 gram diganti Ceftazidime 2x1 gr
› Inj. Metronidazol 500mg 3x 1 vial
› Inj. OMZ 2x 1amp
› Inj. Antrain 3 x 1 amp
› Surcralfat syp 2x40cc (p.o)
› Sulcolon 3x1 tab (p.o)
› Transfusi PRC 250 cc
 S : Nyeri pada Luka Post Op
 O : KU  TSS Kes  CM
› Ttv : N 61x/m, TD 90/50 mmHg, RR21x/m,
N 75x/m, SB  36.7
› Abdomen : Nyeri Tekan (+) regio Umbilikus +
regio supra pubis
1 Juli 2017

 A : Peritonitis generalisata ec app


supuratif +PID post laparatomy + post
apendiktomi H1
› P: Inj. Ceftazidine 2x1 gram
› Inj. Metronidazol 500mg 3x 1 vial
› Inj. Ranitidin 2x 1amp
› Inj. Antrain 3 x 1 amp
› Diet lunak
› Off NGT/DC
› Mobilisasi
 S : Nyeri pada Luka Post Op
 O : KU  Tampak Lemas Kes  CM
› Ttv : N 63x/m, TD 100/70 mmHg, RR20x/m,
SB36.8C
› Abdomen : Nyeri Tekan (+) regio Umbilikus + regio
supra pubis
 St. Lokalis  Regio Abdominal, tampak luka
2 Juli 2017

bekas operasi 10 jahitan (drain: 100 cc/24


jam, Serous), terbalut kasa, Bleeding (-)
 A : Peritonitis generalisata ec app supuratif
+PID post laparatomy + post apendiktomi H2
 P : IVFD RL : D5 : Amofluid (2:1:1)
› Inj. Ceftizidine 2x1 gram
› Inj. Metronidazol 500mg 3x 1 vial
› Inj. Ranitidin 2x 1amp
› Inj. Antrain 3 x 1 amp
› Rawat luka operasi
› Diet TKTP
› Mobilisasi duduk
 S : Nyeri pada Luka Post Op
 O : KU  TSS Kes  CM
› Ttv : N 58x/m, TD 110/70 mmHg, RR20x/m
› Abdomen : Nyeri Tekan (+) regio Umbilikus +
regio supra pubis
 A : Peritonitis generalisata ec app
supuratif +PID post laparatomy + post
3 Juli 2017

apendiktomi H3
 P : IVFD RL : D5 : Amofluid (2:1:1)
› Inj. Ceftriaxone 2x1 gram
› Inj. Metronidazol 500mg 3x 1 vial
› Inj. Ranitidin 2x 1amp
› Inj. Antrain 3 x 1 amp
› Rawat luka operasi
› Produksi drain 0 cc
› Mobilasi duduk
› Transfusi PRC 230 cc
 S : Nyeri pada Luka Post Op
 O : KU  Tampak Lemas Kes  CM
› Ttv : N 54x/m, TD 100/70 mmHg, RR18x/m, SB35.3C
› Abdomen : Nyeri Tekan (+) regio Umbilikus + regio supra pubis
 St. Lokalis  Regio Abdominal, tampak luka bekas operasi
4 Juli 2017 10 jahitan (drain: 100 cc/24 jam, Serous), terbalut kasa,
Bleeding (-)
 A : Peritonitis generalisata ec app supuratif +PID post
laparatomy + post apendiktomi H4
 P : IVFD RL : D5 : Amfifolid  2:1:1
› Inj. Ceftasidine 1 amp/12jam (iv) h-4
› Inj. Ranitidine 1 amp/12 jam
› Inj. Antrain 1 amp/8jam
› Drip metronidazole 500 gr/8jam (iv) H-5 (STOP!!)
› Diet TKTP & mobilisasi duduk

 S : Nyeri pada Luka Post Op


 O : KU  TSS Kes  CM
› Ttv : N 58x/m, TD 110/70 mmHg, RR20x/m
› Abdomen : Nyeri Tekan (+) regio Umbilikus + regio supra pubis
5 Juli 2017

 A : Peritonitis generalisata ec app supuratif +PID post


laparatomy + post apendiktomi H5
 P : IVFD RL : D5 : Amfifolid  2:1:1
› Inj. Ceftasidine 1 amp/12jam (iv) h-4
› Inj. Ranitidine 1 amp/12 jam
› Diet TKTP & mobilisasi duduk
› Aff drain
 S:-
 O : KU  TSS Kes  CM
› Ttv : N 55x/m, TD 100/70 mmHg, RR18x/m
› Abdomen : Nyeri Tekan (+) regio Umbilikus + regio
supra pubis
A : Peritonitis generalisata ec app supuratif
6 Juli 2017


+PID post laparatomy + post apendiktomi H6
 Plan
› BPL, Kontrol Poli
› GV sebelum Pulang
› Cefixime 2 x 1
› As. Mefenamat 3x1
› Ranitidin 2x1
Faktor
Epidemiologi
Faktor Etiologi
Epidemiologi:
 Pada semua umur
 Insidens teringgi kelompok umur 20-30 tahun
 Insidens laki-laki= perempuan, kecuali pada umur 20-
30 tahun laki-laki > perempuan

Etiologi
 Obstruksi lumen merupakan penyebab utama
appendicitis.
 Erosi membran mukosa appendiks dapat terjadi
karena parasit seperti Entamoeba histolytica,
Trichuris trichiura, dan Enterobius vermikularis
Obstruksi lumen (fekalit, tumor, dll)

Mukus yg diproduksi akan mengalami


bendungan

Peningkatan tekanan intra lumen/


dinding apendiks

Aliran darah berkurang

Apendisitis akut
fokal Edema dan ulserasi mukosa
Nyeri epigastrium
(+)
Obstruksi vena, edema bertambah dan
bakteri menembus dinding

Peradangan peritoneum

Aliran arteri terganggu

Apendisitis Infark dinding apendiks


supuratif
Nyeri pada daerah
kanan bawah (+)
Gangre
• Infiltrat
Infiltrat
apendikularis

• Apendisitis
Perforasi
perforasi
Rasa sakit di daerah epigastrum,
periumbilikus, di seluruh abdomen atau Pemeriksaan Fisik
di kuadran kanan bawah  Inspeksi: perut kembung(+)
Penonjolan perut kanan
bawah pada massa atau
Demam tidak tinggi
abses periapendikuler.
Anoreksia, mual, (kurang dari 380C),  Palpasi: Mc Burney Sign ,
dan muntah kekakuan otot, dan Rovsing sign, Blumberg sign
konstipasi.  Perkusi: Pekak hati
menghilang pada perforasi
 Auskultasi: Normal,
peristaltik (-) pada
peritonitis generalisata
akibat apendisitis perforata
 Rectal Toucher
Characteristic Score
 Uji Psoas M = Migration of pain to the 1
 Uji Obturator RLQ
A = Anorexia 1
 Alvarado Score
N = Nausea and vomiting 1

T = Tenderness in RLQ 2

R = Rebound pain 1

E = Elevated temperature 1

L = Leukocytosis 2

Note :
S = Shift of WBC to the left 1
Dinyatakan appendisitis akut bila skor
> 6 poin Total 10
Pemeriksaan Pemeriksaan
Laboratorium: Radiologi:
 Pemeriksaan darah  Foto polos
 Pemeriksaan urin abdomen
 USG
 Barium enema
 CT-Scan
 Laparoscopi
Perawatan Tindakan Operasi:
Kegawatdaruratan:  Apendiktomi
 Pemasangan infus  (pemotongan
terapi kristaloid. apendiks)
 Pasien dipuasakan  Laparotomi jika
 Analgesik dan
apendiks mengalami
antiemetik parenteral perforasi
untuk kenyamanan
pasien.
 Antibiotik intravena
spektrum luas untuk
gram negatif dan
anaerob diindikasikan.
Massa
periapendikuler

Apendisitis
Peritonitis
perforasi
Inflamasi pada peritoneum, suatu membran serosa
yang melapisi dinding abdominopelvik serta organ-
organ di dalamnya.
Peritonitis termasuk kasus gawat abdomen (akut
abdomen) yang memerlukan penanganan segera dan
biasanya berupa tindakan bedah.
 Infeksi intraabdominal
› Penyebab morbiditas & mortalitas yg penting
› Era antibiotika : Mortalitas 10 – 20 %.
› Di Indonesia : Penyebab tersering: perforasi
appendisitis, perforasi typhus abdominalis, trauma
organ hollow viscus.
Primer

Klasifikasi
Sekunder
Peritonitis

Tersier
36

 Pemeriksaan Fisik :
• Tampak sakit ringan - berat
Anamnesis : • Penurunan kesadaran
› Onset akut • Terlihat menahan sakit
› Nyeri bersifat tumpul, • Demam dapat mencapai > 38
0

C (tetapi harus waspada


tidak jelas  tajam, pasien sepsis, suhunya
terlokalisir mungkin hipotermia)
› Demam • Takikardia, takipneu
› Anoreksia • Abdomen: distensi abdomen,
nyeri tekan, nyeri lepas,
› Mual, Muntah defance muscular, tanda-
› Perut kembung tanda ileus paralitik : bising
usus menurun.
› Sulit BAB, flatus
• Colok Dubur: Sphincter
› Riwayat Mentruasi?? lemah, nyeri tekan.
• Produksi urin berkurang.
 Lab 37

› Hemoglobin : Mungkin anemi


› Leukositosis (>11.000)/leukopenia
› Shift to the left
› Kultur : cairan peritoneum/ pus (abses/peritonitis
tersier)
 X ray
› Foto 3 posisi: Free air, dilatasi, preperitoneal fat
kabur (-), penebalan dinding usus, adanya eksudasi
cairan ke rongga peritoneum
 USG
› USG = koleksi cairan (abses)
 Prinsipnya terbagi menjadi dua:
a. Terapi umum
Terapi suportif seperti :
oksigenisasi jaringan,
dekompresi, resusitasi cairan dan
elekrolit.
b. Terapi khusus
Terbagi menjadi dua yaitu terapi
non bedah dan terapi bedah.
Prinsip penatalaksanaan:
(1) mengontrol sumber infeksi
non
(2)menghilangkan bakteri dan toksinnya
operatif (3) menstabilkan fungsi system tubuh
(4) mengontrol proses inflamasi

Terapi non operatif termasuk;


(1) pemberian antimikroba sistemik,
(2) perawatan intensif,
(3) pemberian nutrisi yang cukup,
(4) terapi modulasi respon inflamasi
Prinsip I : Repair
Kontrol sumber infeksi
Principle 2: Purge
Evakuasi inokulasi bakteri, pus, dan adjuvants
(peritoneal “toilet”)
 ILEUS OBSTRUKTIF
 KET
 Peritonitis et causa perforasi gaster
 Infeksi Saluran Kemih
› Awalnya nyeri pada ulu hati, beberapa saat
kemudian Nyeri perut berpindah di perut bagian
kanan bawah, nyeri semakin bertambah lalu
beberapa hari kemudian pasien merasa nyeri pada
seluruh perut.
› Demam
› Mual, muntah, Napsu makan turun
› Mencret
1. Leukositosis
2. Shift to the left