Anda di halaman 1dari 20

Disusun oleh

Hafizhah Harjiati Rahmandini

16360179

PEMBIMBING
Dr. Hj. Hervina, Sp.KK

DEPARTEMEN/SMF ILMU PENYAKITKULIT & KELAMIN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MALAHAYATI BANDAR LAMPUNG
RSUD DR R.M DJOELHAM BINJAI
SUMATERA UTARA
2018
1. Definisi

Miliaria adalah suatu kelainan kulit yang timbul


akibat tersumbatnya saluran-saluran kelenjar
keringat, ditandai dengan adanya vesikel milier.

Sinonim : - Biang keringat atau Keringat buntet

Ada 3 bentuk miliaria


 Miliaria Kristalina
 Miliaria Rubra
 Miliaria Profunda
Gejala Klinis

• Vesikel 1-2 mm pada badan setelah banyak berkeringat


• Vesikel bergerombol tanpa tanda radang
Miliaria • Tanpa keluhan, sembuh -> sisik yang halus
Kristalina

• Lebih berat dari miliaria kristalina


• Terdapat pada badan yang terkena tekanan atau gesekan
Miliaria • Papul merah atau vesikuler ekstrafolikular yang sangat gatal dan
Rubra pedih

• Jarang terjadi, kecuali pada daerah tropis


• Papul putih, keras, 1-3mm
Miliaria • Terutama pada badan dan ekstremitas, tidak gatal dan tidak
Profunda terdapat eritema
Miliaria Kristalina Miliaria Rubra

Miliaria Profunda
2. Etiologi
 Kelenjar keringat yang belum berkembang sempurna
- Bayi baru lahir belum memiliki kelenjar keringat yang
berkembang sempurna sehingga mudah pecah bila berkeringat dan
menyebabkan miliaria
 Perubahan iklim
- Miliaria sering terjadi pada orang yang berpindah dari iklim
dingin ke tropis
 Aktivitas
- Aktivitas yang menyebabkan keluarnya keringat dapata
menjadi faktor pencetus
 Obat-obatan
- Bethanecol, obat yang menyebabkan timbulnya keringat
- Isotretionis, obat yang menyebabkan folikular diferensiasi
 Staphylococcus diyakini berhubungan dengan miliaria
3. Epidemiologi

 Miliaria terjadi pada semua usia dan frekuensi


yang sama pada laki-laki dan perempuan.
 Paparan panas dalam jangka waktu lama,
lingkungan yang lembab, seperti terdapat pada
daerah tropis dan pekerjaan yang berhubungan
dengan hal itu, memungkinkan untuk terkena
miliaria
 Penelitian di Indonesia terdapat 282 kasus
(22,79%) dari 8919 kasus anak menderita
penyakit kulit miliaria.
 Insidens ini meningkat pada musim panas
4. Faktor Resiko

 Jenis kelamin : terjadi pada semua usia,


umumnya sering terjadi pada bayi dan anak-
anak
 Daerah : daerah yang panas dengan
kelembaban yang tinggi
 Musim/ Iklim: insidens lebih tinggi pada musim
panas/ iklim tropis
 Kebersihan : miliaria juga dipengaruhi oleh
faktor kebersihan. Jika kotor, mudah mengalami
infeksi sekunder
 Lingkungan : frekuensi yang lebih tinggi pada
tempat tinggal atau kerja yang panas.
5. Diagnosis

5.1 Anamnesa
Dari anamnesa didapatkan keadaan umum baik,
kadang terasa gatal terutama pada saat
berkeringat banyak dan cuaca panas.
5.2 Pemeriksaan Dermatologi
• Vesikel berukuran 1-
Miliaria 2 mm
Kristalina • Vesikel bergerombol
tanpa tanda radang
• Papul vesikular
ekstrafolikular
Miliaria Rubra • Sangat gatal dan
pedih
• Papul putih, keras,
Miliaria berukuran 1-3 mm
Profunda • Tidak terdapat eritam
dan tidak gatal
5.3 Pemeriksaan Penunjang

 Pemeriksaan Histopatologi
a) Miliaria kristalina : terlihat gelembung
intra/subkorneal.
b) Miliaria rubra : gelembung terjadi pada
stratum spinosum sehingga menyebabkan
peradangan pada kulit dan perifer kulit di
epidermis.
c) Miliaria profunda : tampak saluran kelenjar
keringat yang pecah pada dermis bagian atas
dengan atau tanpa infiltrasi sel radang.
6. Patogenesis
Jika kondisi lembab dan panas bertahan, individu terus
memproduksi keringat berlebihan, tetapi dia tidak dapat
mengeluarkan keringat ke permukaan kulit karena penyumbatan
duktus. Sumbatan ini menyebabkan kebocoran keringat dalam
perjalanannya ke permukaan kulit, baik di dalam dermis atau
epidermis, dengan anhidrosis relatif.
Ketika titik kebocoran di lapisan korneum atau hanya di
bawahnya, seperti dalam Miliaria kristalina, akan ada sedikit
peradangan yang menyertai, dan lesi tidak menunjukkan gejala.
Sebaliknya, pada Miliaria rubra, kebocoran keringat ke lapisan
subkorneal menghasilkan vesikula spongiotik dan sel inflamasi kronis
periduktal yang menginfiltrasi di papiler dermis dan epidermis bawah.
Pada Miliaria profunda, keluarnya keringat ke dermis papiler
menghasilkan suatu substansial, menginfiltrasi limfositik periduktal dan
spongiosis dari duktus intra epidermis.
7. Patofisiologi
Panas, lembab berlebihan

Keringat berlebih

Oklusi permukaan kulit karena pakaian dll

Keringat tertahan di stratum korneum

Duktus kelenjar keringat ekrin tersumbat

Jika persisten, akan terjadi kebocoran keringat di epidermis/dermis dari duktus

Miliaria kristalina Miliaria rubra Miliaria Profunda

Kebocoran di S.korneum di subkorneal di papilla dermis


8. Diagnosa Banding
1. Prurigo

2. Insect Bite

3. Folikulitis
9. Penatalaksanaan

9.1 Non Farmakologi


 Jangan minum alkohol, atau makanan yang
pedas
 Pakaian harus tipis dan yang dapat
menyerap keringat
 Dianjurkan bekerja dalam ruangan dengan
ventilasi yang baik
 Hindari makanan siap saji
9.2 Farmakologi
 Terapi Topikal
- Antibiotik Topikal
Losion faberi dapat pula diberikan, dengan
komposisi :
Acid. Salicylic. 1 %
Talc. venetum 10 %
Oxyd. Zinc. 10 %
Amyl. Oryzae 10 %
Spiritus ad. 200 cc
- Bedak salisil 2% + mentol ¼ - 2 %
 Terapi Sistemik
- Antihistamin
cetirizin 1 x 1 tab
- Antibiotik
9.3 Edukasi
 Menghindari kegiatan yang mengeluarkan
banyak keringat
 Memakai pakaian yang tipis dan dapat
menyerap keringat
 Menghindari paparan kondisi panas
 Menjaga kebersihan kulit
 Pilih lingkungan yang sejuk dan sirkulasi
udara baik
10. Komplikasi

Komplikasi miliaria adalah dari infeksi


sekunder dan intoleransi panas.
1) Infeksi sekunder dapat muncul sebagai
impetigo atau multiple diskret abses yang
dikenal sebagai Periporitis Staphylogenes
2) Intoleransi terhadap suhu lingkungan yang
panas terjadi ditandai dengan tidak
keluarnya keringat bila terpapar suhu
panas, lemah, fatigue, pusing bahkan
pingsan.
11. Prognosis

Umumnya baik dan sebagian penderita


dapat sembuh dalam beberapa miggu setelah
pindah ke lingkungan yang lebih sejuk.