Anda di halaman 1dari 12

ASKARIASIS

 Infeksi karena menelan telur (stadium infektif)


Ascaris lumbricoides
 Ditransmisikan melalui penelanan telur isi
embryo , fecal oral
 Di Indonesia prevalensi askariasis tinggi,
terutama pada anak. Frekuensinya antara 60-
90%.
 Faktor Risiko
 Kebiasaan tidak mencuci tangan.
 Kurangnya penggunaan jamban.
 Kebiasaan menggunakan tinja sebagai pupuk.
 Kebiasaan tidak menutup makanan sehingga
dihinggapi lalat yang
 membawa telur cacing
MORFOLO
GI
Dewasa :
Jantan : 15-31 cm,ujung posterior
melengkung
Betina : 20-35 cm, ujung lurus
Telur : 4 macam
1. Fertil
2. Infertil
3. Decorticated
4. Embryonated (infektif)
GEJALA KLINIS

• Asimptomatik
• Pada masa inkubasi dan BENTUK • migrasi ke duktus biliaris
pada saat cacing dan pankreatikus dimana
menjadi dewasa di mereka bisa
dalam usus halus  • pulmonary ascariasis menyebabkan
hasil metabolisme • intestinal ascariasis cholecystitis atau
cacing  fenomena pancreatitis. 
sensitisasi : • cacing yang bermigrasi
• urtikaria melalui dinding usus
halus dapat menyebabkan
• asma bronkhial peritonitis.
• konjungtivitis akut
• Fotofobia
MASA
• Hematuria

INKUBASI MIGRASI
• Disebabkan oleh larva yang bermigrasi
ke paru-paru  LOFFLER Syndrome
PULMONAR • Perdarahan kecil di dinding alveolus
 batuk, demam, eosinofilia.
Y • Infiltrat pada foto thoraks yang
menghilang dalam waktu 3 minggu.
ASCARIASIS • Discomport (burning)
• Larva dapat ditemukan dlm sputum /
muntahan

• Gangguan yang disebabkan cacing dewasa


biasanya ringan, tergantung dari banyaknya
cacing yang menginfeksi di usus.
• mual, nafsu makan berkurang, diare, atau
INTESTINAL konstipasi.
• Pada anak dapat terjadi malabsorbsi
ASCARIASIS • Rasa tidak enak di perut
• Kolik akut epigastrium
• Gg selera makan
• Diare
• Dapat diserati demam
• migrasi cacing dewasa ke
berbagai organ :
• Muntah cacing 
penyumbatan saluran
nafas oleh cacing
• Massa cacing di usus
halus  ileus
KOMPLIKAS • Cacing migrasi ke
appendiks  appendisitis
I • TERGANTUNG :
• Jumlah cacing
• Lokasi Obstruksi
• Sifat Obstruksi
• KOMPLIKASI LANJUT:
INTUSUSEPSI,
PERFORASI, ANEMIA
DEFISIENSI BESI
DIAGNOSIS
1. FASE MIGRASI
LARVA : MENEMUKAN
LARVA DLM SPUTUM
1. ANAMNESIS ATAU BILUS LAMBUNG
2. PEMERIKSAAN FISIK 2. FASE INTESTINAL :
3. PEMERIKSAAN MENEMUKAN TELUR
DLM TINJA
PENUNJANG
TATALAKSANA
Kebiasaan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir
Menggunakan sarung tangan jika ingin mengelola limbah/sampah.
Menutup makanan
EDUKASI Masing-masing keluarga memiliki jamban keluarga
Tidak menggunakan tinja sebagai pupuk
Menghindari kontak dengan tanah yang tercemar oleh tinja manusia.
Kondisi rumah dan lingkungan dijaga agar tetap bersih dan tidak lembab.

FARMAKOLOGI

Jika terjadi obstruksi


Albendazole intestinal atau biliari
Mebendazole Pyrantel Pamoate
100 mg (2x1) selama 2 tablet 400 mg atau
10 mg/kg BB/hari
3 hari 20ml suspensi,
atau
Atau dosis tunggal Piperazin 150 mg/kg
Dosis tunggal
Atau 200 mg untuk dilanjutkan dengan 6
500 mg (1x1) Maks 1 g dosis 65 mg/kg setiap
anak usia 1 – 2 tahun
12 jam melalui NGT